Title: Sang Masinis

Summary: Aryo Purwadi (Naruto) Seorang Masinis Yang Selalu Menggunakan Bahasa Jawa Nya Dimana Saja, Agung Wijaya (Sasuke) Seorang Assisten Masinis Yang Memiliki Kegemaran Terhadap Hal-Hal Yang Berbau Jepang.
Bagaimanakah Jika Mereka Berdua Disuruh Pergi Ke Jepang Sebagai Wakil Masinis Disana, Apakah Mereka Bisa Melaksanakan Tugasnya Itu Dengan Baik?

Rated: T

Disclaimer: Naruto 100% Milik Masashi Kishimoto

WARNING!: GAJE, OOC, TYPO, Bahasa Jawa daerah Author, Dll

Don't Like Don't Read

Chapter 1: Prolog


12 Agustus 2015, Stasiun Surabaya Gubeng.

Pagi yang cukup sibuk di salah satu Stasiun terbesar Se-Jawa Timur, itulah Stasiun Surabaya Gubeng. Setiap hari nya stasiun ini melayani banyak perjalanan Keretapi dari segala kelas, dari Ekonomi hingga Eksekutif. hari sebuah kereta terparkir di jalur satu Stasiun SGU (A/N: Singkatan dari Surabaya Gubeng ^_^). KA Ekonomi yang paling dikenal oleh seluruh penumpang yang ingin melakukan perjalanan menuju Blitar dan Malang, dan KA itu bernama Penataran Dhoho.

Ya, Penataran Dhoho adalah KA kelas ekonomi yang begitu terkenal oleh kalangan penumpang kelas menengah kebawah, karena harga tiketnya yang begitu murah dan cukup terjangkau hingga membuat kereta ini sangat digemari. Walaupun kereta api ini sering terlambat beberapa menit karena sering mengalah (bersilang) dengan KA Bisnis dan Eksekutif.

Sementara di kabin lokomotive CC201 terlihat seorang pria berambut hitam yang kini sedang memeriksa kondisi lokomotive nya tersebut. Sementara itu orang yang duduk tak jauh disampingnya tengah sibuk dengan Smartphone nya entah apa yang ia lihat.

"Mesin cek, rem oke, deathman pedal ok"Ucap nya sembari memeriksa kondisi Lokomotive

"Oi Gung ojo ndelok anime terus! bar iki sepur iki ape diberangkat'no" (Oi Gung jangan lihat anime terus! sebentar lagi kereta ini akan diberangkatkan).

"Iya bentar, nanggung nih Re Zero nya"Ucap Agung tanpa mengalihkan pandangannya terhadap Smartphone nya itu.

"Karepmu" (Terserahmu)

[Dari jalur satu KA Penataran Dhoho akan diberangkatkan dari Stasiun Surabaya Gubeng, para penumpang diharap segera mempersiapkan diri]

Setelah mendengar pengumuman itu, Aryo segera mempersiapkan CC201 itu sementara Agung masih setia dengan hape nya. dari kejauhan sebuah Semboyan 5 terlihat sudah menyerong keatas, menandakan bahwa jalur yang akan dilewati kereta api sudah aman.

Aryo membuka jendela kabin nya itu, Ia mencoba melihat kebelakang melalui celah jendela kabin. petugas PPKA sudah memberikan Semboyan 40, Tak lama kemudian terdengar siulan panjang (Semboyan 41) yang berasal dari peluit kondektur. Dengan sigap Aryo segera menbunyikan Semboyan 35.

Sfx:*Bunyi Klakson CC201 (Agung: Gak kreatif amat thor/Author: BERISIK)

Aryo segera memposisikan throtle handle yang Ia pegang keposisi angka 8, Dengan pelan CC201 berjalan kedepan dan mulai meninggalkan Stasiun Surabaya Gubeng.

.

.

Sepanjang perjalanan itu Aryo dengan tenang mengawasi jalur rel yang dilewati CC201 kesayangannya itu, berbeda dengan Agung yang masih memandangi smartphone nya dengan serius. Entah apa yang ia lihat tersebut.

"Ora tok endi ae mesti dolanan HP"Batin Aryo. (Tidak dimana saja selalu bermain HP)

Sesekali terlihat kaki kanan Aryo selalu menginjak dan melepas Deathman pedal. Ngomong-ngomong Deathman Pedal adalah sebuah alat mungil yang selalu ada di seluruh lokomotif diseluruh Indonesia, Meskipun terlihat kecil dan tidak berguna namun ingat sebuah pepatah "Jangan menilai dari luarnya". Pedal itu berguna sebagai pengendali kesadaran masinis dan juga kecepatan kereta api. Mengapa benda ini menajdi pengendali kesadaran masinis? Karena pedal itu memiliki waktu set 90/30.

Maksudnya berarti pedal itu memiliki set waktu 90 detik diinjak dan 30 detik dilepas, bila para Masinis melanggar hal itu maka benda itu akan mulai berulah yaitu mengatifkan suara alarm di kabin masinis. dan bila itu masih diabaikan maka Pedal itu akan menurunkan kecepatan kereta sampai akhirnya berhenti total.

Kembali ke cerita, setelah perjalanan panjang akhir nya Aryo dan Agung pun telah sampai ke Stasiun Blitar, beberapa meter sebelum memasuki Stasiun Aryo segera mengurangi kecepatan lokomotif nya. Setelah itu Ia segera memposisikan gagang rem ke angka 4, bunyi gesekan roda kereta dengan rel terdengar sedikit nyaring.

Tak lama kemudian KA Penataran Dhoho pun telah berhenti dengan sempurna di Jalur 1 Stasiun Blitar.

"Hah... Akhir'e wes to Stasiun Blitar" (Hah... Akhirnya telah sampai di Stasiun Blitar)

Karena bosan Aryo pun membuka pintu kabin dan turun dari CC201 itu, Ia berjalan kearah tempat yang berjualan jajanan. Disana Ia membeli 2 A*ua besar dan beberapa O*eo untuk perbekalannya nanti, Sesudah itu Aryo berjalan kembali menuju ke CC201 dengan membawa kantong kresek yang dibawanya itu.

Namun langkahnya itu terhenti ketika ada seseorang yang memanggilnya..

"Oi Aryo!"

Aryo menolehkan kepala nya kebelakang untuk melihat orang yang memanggilnya, namun Ia begitu terkejut ketika melihat orang yang memanggilnya itu.

"Kowe toh Yu... Piye kabare?"Ucap Aryo (Kamu toh Yu... Gimana Kabarnya?)

"Baik kok Yo, kamu juga tak berubah sejak SMA dulu"Kata Wahyu

"Opo'ne sing berubah Yu?"Tanya Aryo (Apanya yang berubah Yu?)

"Kamu selalu aja membeli jajan cukup banyak"Ucap Wahyu sambil menatap kantong kresek yang dibawa Aryo.

"Kan iki gawe berbekalan engko to sepur" (Kan ini untuk berbekalan nanti di kereta)

"Hm.. Aryo?"

"Opo?"

"Sebenarnya aku kesini untuk memberitahumu tentang sesuatu"Kata Wahyu sambil menatap Aryo dengan serius.

"Ono opo toh?"Tanya Aryo (Ada Apa toh?)

"Kau dan Asisten Masinis mu disuruh ke Ruangan Kepala Stasiun"

"Lah terus piye KA Penataran sing tak cekel saiki?" (Lah terus gimana KA Penataran yang aku bawa sekarang?)

"Tenang saja... Nanti akan ada orang yang menggantikan tugas mu kok"

"Yo wes ngono... Aku pe nyeluk Agung sek!"Setelah itu Aryo segera berlari menuju ke Lokomotif CC201 untuk menjemput Ahmad. (Ya Susah begitu... Aku akan memanggil Agung dulu!)

.

.

(SKIP~)

( Ruangan Kepala Stasiun Blitar )

Aryo dan Agung kini duduk terdiam didala Ruangan Kepala Stasiun, mereka sekarang cukup bingung mengapa mereka disuruh kesini. Beberapa menit telah mereka habiskan di Ruangan Kepala Stasiun, Aryo terlihat mulai misuh-misuh dalam bahasa jawa karena begitu bosan menunggu. Berbeda dengan Agung yang masih tetap memandangi Smartphone tercinta itu.

Namun perhatian mereka teralih ketika mendengar suara pintu terbuka

KRIIET!

"Maaf telah menunggu"

Aryo dan Agung hanya melebarkan mata nya ketika melihat orang yang membuka pintu itu.

"Anda kan..."Ucap Agung sambil menunjuk orang itu.

.

.

.

.

"BAPAK DIREKTUR!"

TBC


Yo Minna-san Piye kabare?. Bagaimana kah Fic ini baguskah?
Saya sengaja mengubah nama Naruto dan Sasuke dalam fic ini agar lebih pas. Anehkan bila orang indonesia memiliki nama orang Jepang

Ngomong-ngomong Naruto dalam fic ini Rambut dan mata berwarna hitam dan kulit nya berwarna sawo matang.
Mungkin saya beberapa hari kedepan jarang update karena kesibukan karena sekarang saya udah menginjak kelas IX

.

Sekiranya itu aja yang bisa saya Sampaikan

Namikaze Wahyu Log Out~