Hahahahah...! Idemu bagus juga, bocah Uchiha. Tapi ada satu hal yang perlu kau tahu
Aku, adalah jiwa dari pulau ini. Perintah dan peraturanku adalah mutlak. Dan kalian, para lalat-lalat penghuni pulau hanya akan menjadi mainanku saja.
Nah...! Karena sekarang kalian sudah mengerti peraturannya, kita akan mulai permainannya.
Chapter 03
Island of Truth
The Hidden Player
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Sci-fi, Romance, Angst, Crime, Adventure
Suasana di pantai itu terlihat sangat hening dengan kesepuluh orang yang masih bungkam layaknya seseorang yang sudah menjahit mulut mereka. Sepuluh pasang mata itu menatap dengan tatapan waspada dan ekspresi yang menahan untuk berbicara. Sasuke juga masih berdiri di samping Hinata dengan tatapan datar ke arah langit, mencoba untuk memikirkan kata-kata yang dilontarkan oleh Shiro tadinya.
Wah...! Lihat akibat perbuatanmu, bocah Uchiha. Permainan jadi tidak seru lagi nih.
Suara yang keluar entah darimana itu terdengar merajuk dengan ucapannya layaknya seorang anak kecil yang dilarang bermain permainan barunya. Sasuke menelan ludahnya mendengar suara tersebut.
"Orang ini terlalu kekanak-kanakan, dan dia yang memegang pulau berbahaya ini dan bisa membunuh seseorang yang dia mau hanya dengan berpikir bahwa kepalanya akan meledak. Ditambah lagi dia bisa membaca pikiran orang yang ada disini. Apa yang akan dia lakukan kali ini?" Batin Sasuke dengan raut wajah yang sedikit khawatir.
Hahah...! Baiklah, agar permainan menjadi lebih seru lagi, aku akan memberikanmu pertanyaan bocah Uchiha.
Dan kau harus menjawabnya dengan waktu kurang dari sepuluh detik.
Atau kau akan mati
Sasuke tercekat mendengar suara tadi. Wajahnya yang tadinya khawatir berubah menjadi wajah orang yang sedang tertekan setelah mendengar ucapan tersebut. Kesembilan orang lainnya tampak masih diam dalam ketakutan. Mereka semua tampak takut setelah melihat kematian Hidan dan Kisame dan tidak berani membela Sasuke. Bahkan mungkin saja dalam hati, mereka semua merasa senang kalo bukan mereka yang diberi pertanyaan oleh makhluk yang menyebut dirinya Shiro itu sehingga yang bisa mereka lakukan hanyalah berpura-pura melihat ke arah lain sambil acuh tak acuh dengan keadaan Sasuke.
Tapi, cewek berambut indigo yang dari tadi berdiri di sebelah Sasuke juga memperlihatkan wajah khawatir dan menatap ke arah Sasuke dengan tatapan lembutnya.
"Umm...! Ano..." Bibir mungil itu tampak akan mengeluarkan suara sebelum Sasuke menaruh telunjuknya di depan bibir tersebut.
"Diam saja, Hinata" Kata Sasuke sambil menatap lembut ke arah Hinata. Seorang cowok berambut merah acak-acakan yang sedang melihat adegan tersebut hanya berdecak kesal melihatnya.
"Dasar, cepat mati saja sana" Batin pemuda tersebut dalam hati meskipun dia masih belum mengatakannya. Pandangan sinisnya beralih ke arah lain seolah tak tahan dengan adegan tersebut.
Hahaha...! Menarik sekali.
Tapi, nona kecil yang ada disana, meski bagaimapun kau berusaha, kau tidak akan mampu melawan kehendakku.
"Sudahlah, kalo mau tanya tanya saja. Urusanmu denganku kan?" Kata Sasuke dengan suara lantang setelah mendengar suara tersebut. Pemuda berambut merah itu sekali lagi mengeluarkan decihan pelan melihat Sasuka berkata lantang seperti itu.
Hooo...! Baiklah, bocah Uchiha. Jawab pertanyaan ini atau kau akan mati.
Siapa nama orang yang kau harapkan untuk menghilang dari dunia ini. Dan beritahu alasannya.
Raut wajah Sasuke pun berubah setelah mendengar suara tersebut. Di depan matanya, tulisan pesan dari facebook Ino mulai melayang-layang dan berbicara dengan nada meremehkan kepadanya. Mata onyx miliknya jatuh menunduk ke bawah sembari menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi seperti orang depresi berkepanjangan. Kedua tangannya terkepal di samping badannya sampai-sampai tubuh pria itu bergetar saking kuatnya dia mengepalkan tangannya. Beberapa saat kemudian dia pun mengendurkan kepalannya dan tenang kembali. Wajah tampannya itu pun kembali terangkat menantang langit cerah dengan kegelapan onyx tajam milikya.
"Yamanaka Ino. Aku menulis Yamanaka Ino ketika aku melihat iklan tersebut. Dia adalah perempuan yang membuangku" Kata Sasuke dengan wajah yang sedikit lesu mengatakan hal tersebut. Hinata tampak terkejut dengan ucapan Sasuke sebelum akhirnya dia menundukkan kepalanya mendengar ucapan tersebut. Sedangkan yang lainnya hanya bertindak tidak peduli apa pun yang di ucapkan oleh Sasuke karena mereka semua juga mementingkan keselamatan mereka sendiri.
Bagus. Kau sudah jujur. Sekarang selanjutnya, ka dNagato, Uzumaki Nagato. Siapa yang kau tulis?
Seorang cowok berambut merah panjang tampak menatao tajam ke arah langit dengan ekspresi datar miliknya. Mata ungunya melirik ke kanan dengan ekspresi dingin ketika mendengar suara tersebut, dimana seorang cewek berambut biru keunguan sedang berdiri dengan wajah cemas. Biji kuning keemasan itu tampak cemas ketika mendengar bahwa pertanyaan selanjutnya diarahkan pada cowok berambut merah itu aka Nagato.
"Konan. Aku menulis nama Konan waktu itu. Aku ingin wanita yang menghalangi hidupku itu menghilang" Kata Nagato dengan wajah dingin. Wanita berambut biru itu pun membuka mulutnya dengan ekspresi keterkejutan yang luar biasa dan mundur secara perlahan dari Nagato dengan tangan bergetar.
"Bohong" Gumamnya lirih meskipun masih cukup terdengar oleh semua orang yang berada disitu. Wajahnya yang semula menggambarkan kecemasan itu sekarang berubah menjadi ketakutan. Pupil hitam dalam biji kuning keemasan itu tampak melebar ketika menyadari bahwa Nagato tidak juga meraung kesakitan seperti Kisame dan Hidan. Artinya dia mengatakan yang sebenarnya. Perempuan itu pun berhenti dengan tubuh yang bergetar begitu mengetahui kebenaran yang di ucapkan oleh Nagato.
"Kenapa..." Gumam perempuan itu sambil menahan perasaan yang mau tumpah dari pelupuk matanya. Dia pun berlari menuju ke arah Nagato dan mencengkeram kerah baju pria tersebut dengan kuat. Saking kuatnya, pria itu tampak sedikit tercekik dengan keadannya.
"Kenapa kau menulis namaku, baka...! Aku mengorbankan semuanya untukmu, bahkan aku menulis nama ayahku, seseorang yang menghalangi hubungan kita agar kita bisa bebas menikah di hari ulang tahunku. Kenapa? Jawab Nagato" Teriak perempuan yang ternyata bernama Konan, nama yang ditulis oleh Nagato sebelum dia di kirim disini. Pria berambut merah panjang itu hanya menatap datar ke arah cewek yang sekarang sedang mencengkeram kerah bajunya tersebut.
"Karena aku ingin balas dendam kepada ayahmu tentang kematian ayahku. Tapi, kau menghalangiku dengan mengajakku kencan dan membuat ayahmu ketakutan ketika menyadari bahwa aku adalah putra dari seseorang yang di bunuhnya. Kau cuma penghalang, aku ingin kau menghilang sekaligus agar ayahmu bisa merasakan kehilangan orang yang dicintainya sebelum hidupnya berakhir" Jawab Nagato dengan nada datar. Konan pun melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah baju Nagato dan menatap mata ungu milik Nagato dengan biji kuning keemasan yang sudah lembab oleh air mata.
"Kau yang terburuk. Aku membencimu, Nagato" Katanya dengan nada penuh dengan kebencian. Pria berambut merah itu pun mengangkat tangan putih pucat miliknya dan meletakkan telapak tangan yang luas itu diatas puncak kepala Konan.
"Ini, adalah perang" Kata Nagato sambil mencengkeram kepala Konan. Tak berapa lama kemudian, gadis berambut ungu kebiruan itu mencengekeram kepalanya setelah Nagato melepaskan cengkeraman tangannya. Tubuhnya berlutut di tanah dengan ekspresi kesakitan yang amat sangat, tetapi mata kuning keemasan itu masih tidak mau beralih dari wajah datar milik Nagato.
"Jadi... beginikah akhirnya..." Terlihat bibir dari gadis itu bergerak sebentar sebelum kepalanya pecah berhamburan, meledakkan sejumlah darah merah yang mengotori baju hitam milik Nagato. Pria berambut merah senada dengan darah itu hanya terdiam dengan ekspresi datarnya meskipun tubuhnya sekarang di penuhi oleh darah mantan kekasihnya.
Meski bagaimanapun juga, aku tetap mencintaimu, Nagato.
"Hidoi..." Gumam Hinata sambil menutup mulutnya sementara Sasuke hanya menatap adegan tersebut dengan tatapan datar miliknya. Yang lainnya tampak tidak peduli dengan Konan.
"Jadi, begitu..." Batin Sasuke sambil menatap ke arah Nagato yang sedang berlumuran darah.
Selanjutnya, Hinata.
Sasuke terkesiap sejenak begitu mendengar nama gadis berambut indigo itu di sebut oleh suara barusan. Onyx miliknya melirik ke arah Hinata yang masih shock dengan kejadian Konan. Gadis itu tampak bingung dan gugup menolehkan kepalanya ke segala arah dengan ekspresi ketakutan.
Siapa nama margamu? Kenapa cuma Hinata saja?
Sasuke yang mendengar suara tersebut nampak mendesah lega dengan pertanyaan yang tergolong mudah itu. Tapi, ada sesuatu yang aneh di wajah tampan pemuda berambut raven itu. Ada sesuatu yang nampak ganjil disini.
"Uhmm...! Aku juga tidak tahu, etto, sejak kecil aku selalu dipanggil dengan nama itu. Um..., etto, etto, aku... aku ditinggal orang tuaku ketika aku masih kecil jadi..." Hinata tampak terbata-bata menjawab pertanyaan dari suara tersebut. Sasuke pun menepuk pelan pundak Hinata ketika dia sedang blank.
"Jawab seperlunya aja, kalo kamu gak tau, bilang aja gak tau" Kata Sasuke dengan nada lembut. Hinata pun memandang Sasuke dengan tatapan polos sebelum akhirnya mengangguk sambil menunduk malu.
Sepertinya kamu tidak berbohong tentang margamu. Jadi...
Apakah ada orang yang menarik bagimu disini?
"Heh...!" Hinata tampak kaget dengan pertanyaan yang di ajukan oleh suara tersebut. Wajahnya memerah dan sekarang malah menunduk lebih dalam.
"Umm…! Sebenernya etto…! , aku tertarik dengan Sa…Sasuke-san" Kata Hinata dengan wajah tertunduk sambil memainkan jarinya di depan dadanya.
"Bukankah dijawab dengan 'ada' saja sudah cukup" Kata Sasuke dengan nada datar. Tapi, kalian tahu apa yang ada di dalam hati Sasuke yang saat ini sedang patah hat? Yups...! Dia sedang melompat kegirangan mendengar ucapan Hinata tadi, meskipun ini bukanlah saat yang tepat untuk girag. Tetapi, di dunia ini, bukankah berbohong berarti mati? Artinya Hinata mengatakan yang sebenarnya kan? Dia harus menjaga perasaan tertarik daari Hinata agar bisa menjadi suka kepadanya.
Hahah...! Menarik sekali, bocah Uchiha.
Kupikir akan ada lebih banyak korban lagi di game pertanyaan ini. Tapi, waktu telah habis. Kalian harus segera mencari gerbang di pusat pulau ini jika kalian ingin keluar.
Ingat...! Aku selalu mengawasi kalian.
Dan suara terakhir dari Shiro itu menghilang ditiup hembusan angin laut yang mulai bertiup dari arah lautan yang luas. Angin kencang itu meniup helaian raven Sasuke cukup keras sehingga lelaki berambut raven itu cukup kesulitan untuk menahan angin tersebut dengan tangannya.
"Badai akan segera datang"
~o0o~
Island of Truth
~o0o~
Angin laut mulai berhembus kencang menuju ke arah pesisir dimana sepuluh orang yang tersisa di dalam pulau tersebut. Suasana hening masih terasa mencekam di antara kesepuluh orang yang terdiam dan menatap satu sama lain dengan tatapan curiga. Meskipun begitu, sepasang manusia berbeda jenis kelamin malah menunjukkan ekspresi yang berbeda dari delapan orang sisanya.
Gadis berambut indigo sedang menatap yang lainnya dengan tatapan cemas sambil berkali-kali menoleh ke arah cowok berambut raven yang sedang berdiri dan menatap yang lainnya dengan tatapan peduli.
"Hei...! Apa kalian tidak mendengarku? Badai akan segera datang. Kita akan tersapu ombak bila kita masih berada disini" Kata Sasuke sambil menatap bingung ke arah delapan orang yang masih terdiam seolah tidak mendengar ucapannya tadi.
"Ayolah...! Kita harus bekerja sama untuk pergi dari sini sebelum badai datang" Semua mata kemudian memandang Sasuke seolah dia adalah seonggok sampah ketika mendengar ucapan Sasuke tadi. Tetapi, mereka masih terdiam takut untuk berkata-kata.
"Kenapa kau tidak mati? Kau juga berpikiran sama dengan orang bernama Kisame itu kan?" Sahut seseorang dengan rambut merah acak-acakan menatap sinis kepada Sasuke. Bocah berambut raven itu tampak terkejut dengan ucapan blak-blakan dari cowok berambut merah itu. Tapi, dia cukup maklum karena mereka tidak bisa berbohong demi keselamatan mereka sendiri. Sedangkan Hinata yang berada di samping Sasuke tampak menutup mulutnya mendengar ucapan cowok tadi.
"Hi...hidoi" Suara lembut gadis itu terdengar. Bocah berambut merah itu tampaknya tidak menggubris suara milik Hinata dan hanya menatap Sasuke dengan tatapan sinis.
"Apa? Aku benar kan? Atau jangan-jangan kau tidak mati karena kau yang merencanakan semua ini? Kau yang pertama kali menemukan bahwa Kisame berbohong bukan?" Semua mata langsung tertuju pada Sasuke begitu mendengar provokasi dari cowok berambut merah yang sekarang sedang menyeringai senang tersebut.
"Dia benar juga. Mencurigakan" Sahut seseorang dengan kulit hitam, seolah dia sudah berjemur di bawah matahari selama bertahun-tahun. Suaranya serak seolah orang tersebut sudah menghisap jutaan batang rokok ke dalam paru-parunya.
"Mungkin dia menggunakan semacam remote control untuk meledakkan otak para korban tadi dan menyembunyikan speaker di salah satu sudut pesisir ini" Sekarang giliran pria berkulit putih pucat dengan suara yang kekanak-kanakan langsung menunjuk Sasuke dengan jari lentiknya yang bagaikan manekin.
"Bagaimana kalo kita ikat saja dia dan geledah, dan sebagian lagi cari speaker yang dia sembunyikan" Provokasi pun semakin menjadi-jadi setelah pria berambut pirang ikut serta dalam mengusulkan penggeledahan badan Sasuke.
"Hentikan" Hinata langsung berlari ke depan Sasuke sambil merentangkan kedua tangannya seolah melindungi Sasuke.
"Cih" Decih cowok berambut merah tadi ketika dia melihat Hinata melindungi Sasuke.
"Sa-sasuke-san ti-tidak mungkin seper-seperti itu kan? Dia o-orang baik kok" Kata Hinata dengan wajah gugup. Empat orang yang memprovokasi dan terprovokasi tadi tampak diam saja. Yah...! Siapa coba yang mau menyerang gadis polos macam Hinata.
"Mah...! Tenanglah kalian semua" Sebuah suara tenang terdengar barisan belakang yang tidak ikut terprovokasi tadi. Semuanya menoleh pada suara yang berasal dari pria berambut hitam panjang ang berjalan menuju ke arah Sasuke. Mata kuning itu tampak berkilat ketika dia menatap Sasuke dengan senyuman lebar layaknya seorang guru menghadapi murid nakalnya.
"Namaku Orochimaru. Dan aku adalah seorang psikolog" Kata pria tersebut memperkenalkan diri. Sasuke nampak menatap Orochimaru dengan tatapan heran. Kenapa dia tiba-tiba memperkenalkan dirinya seperti itu?
"Ahahahh...! Aku yakin kalian bertanya-tanya kenapa aku memperkenalkan diriku seperti itu. Tidak ada motif tersembunyi, aku hanya mau membanggakan gelar S3 ku di universitas tokyo" Kata Orochimaru tersenyum canggung sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Cih...! Aku selalu membenci orang yang membanggakan gelar pendidikannya" Kata cowok pirang tadi.
"Maaf soal itu, aku hanya tidak mau mati karena berbohong seperti pria tadi" Jawab Orochimaru enteng.
"Nah...! Biarkan aku menjelaskan sebentar" Orochimaru pun berjalan menuju ke arah Sasuke dan menatap onyx miliknya dengan teliti sambil memegang leher Sasuke, tepatnya di bagian urat nadinya. Hinata secara refleks ingin mencegah orang yang tampaknya mau mencekik Sasuke tersebut, tapi Sasuke menahannya dengan tangannya.
"Tenanglah nona kecil. Aku tidak berniat jahat pada orang ini kok" Kata Orochimaru sambil sedikit tersenyum pada Hinata. Beberapa saat kemudian dia pun menghembuskan nafas lega dan melepaskan leher Sasuke.
"Menurut analisis dari pergerakan pupil, ritme pernafasan, dan denyut nadi, bisa dipastikan bahwa bocah ini tidak berbohong" Kata Orochimaru mengumumkan.
"Tapi, kelihatannya kau memiliki kepribadian yang baik. Kau mengajak kami semua bekerja sama dan memberitahukan kebenaran tentang Kisame dan Hidan. Lalu, kenapa kau mengharapkan cewek yang menolakmu untuk menghilang dari dunia ini?" Tanya Orochimaru. Sasuke tampak angkat bahu dengan pertanyaan dari Orochimaru tersebut.
"Mungkin pengaruh morphin" Jaab Sasuke asal saja.
"Ah...! Sou ka" Kata Orochimaru mendesah lega. Dia pun berbalik menuju ke arah lainnya.
"Nah...! Dia tidak ada maksud tersembunyi lain. Apakah kalian akan menerima tawarannya untuk bekerja sama?" Tanya Orochimaru. Keempat orang yang memprovokasi tadi tampaknya sedang berpikir.
"Pasti ada alasannya kan?" Sahut seseorang dengan suara yang serak, meskipun tidak seserak orang hitam tadi. Suara itu berasal dari seorang pria tua yang sedang berdiri di barisan belakang dengan masker yang menutup separuh wajahnya. Sasuke hanya mengangguk pelan mendengar pertanyaan tersebut.
"Untuk pertama, kita tidak boleh sendiri-sendiri dalam menemukan gerbang itu. Jika kita terpisah maka akan ada yang mati. Selain itu, aturan juga menyebutkan bahwa tidak boleh membunuh dan berbohong. Hal ini menunjukkan bahwa kita bisa mempercayai semua yang diucapkan oleh kalian semua" Jawab Sasuke dengan nada tegas.
"Hmm...! Sepertinya masuk akal. Tapi, kurasa ada sedikit keterkaitan antara aturan tidak boleh terpisah dan tidak boleh berbohong. Jika kalian semua berpisah disini, meskipun tidak saling membunuh, kalian tidak akan bisa berbohong bukan? Artinya permainan ini memang ditujukan agar kita semua tetap bersama. Apakah kau mau mengikuti aliran permainan Shiro?" Tanya pria bermasker itu sambil menatap tajam Sasuke dengan mata kuning miliknya.
"Itu merupakan opsi yang lebih baik daripada kita mencarinya sendiri-sendiri dan berguguran ketika telah terpisah sejauh satu kilometer. Daripada opsi tersebut, mungkin akan lebih baik jika kita menggunakan peluang yang meskipun hanya sepersekian persen untuk bisa keluar bersama dari pulau ini" Jawab Sasuke mantap.
"Jika seseorang tidak bisa membunuh, bagaimana jika seseorang memaksamu berbohong?" Balas pria tadi.
"Bagaimana kau bisa memaksaku berbohong?" Tanya Sasuke. Pria itu pun mendekat dengan ekspresi datar ke arah Sasuke, eh...! Ternyata dia berhenti tepat di depan Hinata. Gadis berambut indigo itu pun hanya bisa menunduk dengan ekspresi gugup begitu melihat ada seorang dengan aura yang cukup menyeramkan sedang berdiri di depannya. Pria itu pun merendahkan kepalanya sedikit sampai mulutnya berada di dekat telinga Hinata.
"Apakah kau menyukai bocah uchiha itu?" Suaranya benar-benar menggambarkan aura jahat yang sebenarnya sampai-sampai Sasuke merinding ketika mendengar suaranya.
"Mah...! Mah...! Pertanyaanmu tidak mutlak seperti pertanyaannya Shiro kan. Dan ingat aturannya, kau bisa berbicara hanya pada orang yang kau percayai. Jadi, jangan merasa marah apabila kalian sering dicuekin oleh orang lain. Apakah kau clear dengan itu?" Tanya Orochimaru memisahkan antara Hinata dan pria tadi.
"Mungkin solusimu bisa membantu" Sahut seseorang yang lagi-lagi dari arah barisan belakang dimana tempatnya orang yang tidak terprovokasi tadi. Kali ini yang menyahut adalah Nagato. Sasuke nampak sedikit kurang nyaman dengan cowok berambut merah darah ini. Maklum sih, beberapa waktu yang lalu dia nampak seperti membunuh kekasihnya sendiri bagi Sasuke, meskipun itu juga atas perintah dari Shiro, tapi setidaknya dia berimprovisasi sendiri kan?
"Baiklah. Meskipun aku tidak begitu suka dengan tindakanmu yang seperti 'menjerumuskan' kekasihmu tadi, tapi aku hargai pendapatmu. Ada yang masih keberatan?" Kata Orochimaru sambil menatap tajam ke arah Nagato. Pria berambut merah itu hanya tersenyum pasrah sambil mengangkat bahunya. Sedangkan keempat orang yang memprovokasi tadi tampak terdiam.
"Huh...! Ternyata kalian berempat cuma bisa omong doang. Bahkan rencana kecil seperti itu aja tidak mengerti. Aku ikut" Sekali lagi, seseorang menyahut dari barisan belakang. Kali ini wajahnya tidak terlihat karena dia memakai topeng dengan motif spiral yang menutupi wajahnya.
"Apa kau bilang?" Pria berkulit pucat tadi tampak berang ketika di hina oleh bocah bertopeng itu.
"Sebenarnya aku juga memikirkan hal yang sama tadi. Tapi, aku masih belum yakin mau mengatakan hal itu pada orang-orang disini" Kata cowok bertopeng. Sasuke tampak terkejut mendengar ucapan cowok tadi sebelum akhirnya tersenyum lega.
"Nah...! Jika tidak ada yang keberatan, mengapa kita tidak menyebutkan nama kita saja. Tidak enak jika hanya menyebut 'kamu' doang kan?" Kata Orochimaru. Semuanya masih tampak terdiam dengan usulan dari Orochimaru tersebut, seolah masih tidak bisa menerima kalau mereka harus menyebutkan nama mereka juga.
"Baiklah. Aku Tobi. Mohon bantuannya, Minna" Kata bocah bertopeng yang bernama Tobi tersebut dengan suara yang riang meskipun mereka masih tidak bsa melihat ekspresi wajah karena terhalang oleh topeng spiral itu.
"Aku Nagato. Kalian sudah kenal kan?" Kata Nagato sambil menarik seulas senyuman tipis. Wajah putih pucatnya sekarang benar-benar tidak menunjukkan bahwa dia sudah 'membunuh' kekasihnya beberapa saat yang lalu.
"Namaku Kakuzu" Kata pria bermasker tadi singkat saja.
"Aku Kurozetsu. Jangan hubungkan namaku dengan warna kulitku, atau kubunuh kalian" Sahut bocah hitam dengan rambut kuning kehijauan tadi dengan suara yang menyeramkan. Mungkin dia termasuk orang yang sensitif dengan warna kulitnya.
"Aku Shirozetsu. Aku kembaran dari Kurozetsu, tapi aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Shiro meskipun aku memiliki nama yang sama" Sahut bocah suara kekanak-kanakan yang menyahut saudara kembarnya.
"Namaku Deidara" Kata cowok pirang dengan poni panjang yang menutup sebelah matanya sambil menolehkan wajahnya ke arah lain. Agaknya Deidara ini masih belum menerima keputusan tadi.
"Aku Sasori" Begitu juga dengan cowok berambut merah acak-acakan yang berdiri di sebelahnya. Mata hazel miliknya tampak masih memandang Sasuke dengan tatapan sinis sambil berdecih pelan beberapa kali.
"Heh...! Ini lebih menarik daripada yang kemaren"
Meanwhile….
"Sugoi….! Ada apa ini? Gelombang otaknya benar-benar tidak menunjukkan tingkat stress yang tinggi. Dan caranya untuk memanipulasi pikiran orang lain benar-benar mengejutkan. Seperti ang diduga dari seorang psikolog" Seseorang dengan rambut coklat kucir dua sedang membawa sebuah tablet dengan foto Orochimaru di layar monitornya beserta beberapa grafik tentang kondisi mental dari Orochimaru.
"Selain itu, bocah Uchiha kemaren juga bisa menyimpulkan dengan tepat apa yang harus di lakukan dalam situasi genting. Dan, bocah berambut merah itu benar-benar memikirkan langkah terbaik untuk membunuh kekasihnya, aku ragu kalo dia bisa diajak bekerja sama setelah aku melihat apa yang dipikirkannya tadi" Celetuk pria disampingnya yang memiliki rambut sedikit lebih panjang.
"Bukankah game kali ini memiliki banyak sekali orang yang menarik, ketua?" Masih tertutup dalam bayangan, sosok yang dipanggil ketua itu masih terdiam sambil mengatupkan kedua tangannya, memikirkan tentang suatu hal sebelum akhirnya dia mendesahkan nafas dengan kasar.
Apa yang dipikirkannya?
TBC
Ternyata lebih panjang dari yang saya duga -_-. Jadi spoilernya tidak begitu kena semua (malah jadi spoiler di chapter selanjutnya).
Dan… mungkin untuk dua chapter selanjutnya ini agak sedikit… sadis sih, jadi author saranin kalo baca jangan sambil makan. Kalo bacanya malem baru boleh sambil makan XD (?).
Minggu depan lebaran ya? Waduh…! Ga kerasa udah hampir sebulan puasa, enaknya lebaran update gak ya XD? Yosh…! Akan author usahain deh minggu depan update lagi.
Happy Read.
