"Untuk sementara ini, istirahatlah dulu di punggungku" Gumam Sasuke lirih. Wajah tampan itu juga tampak pucat, bibirnya pun mulai membiru. Garis-garis air yang jatuh dari helaian raven miliknya tampak seperti tetesan air mata yang menghiasi wajahnya yang tampak sedih. Biji onyx yang biasanya tajam itu sekarang mulai tampak suram dan di penuhi oleh keputusasaan.

Tapi, bunyi gigi yang bergemertak di bibirnya menggambarkan betapa kuat tekadnya untuk melindungi gadis berambut indigo yang sekarang sedang pingsan di punggungnya.

"Semoga ucapan Sasori benar"

Chapter 05

Island of Truth

Nightmare

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Sci-fi, Romance, Angst, Crime, Adventure

Langit masih gelap, guyuran hujan juga tak kunjung berhenti, suara petir juga terdengar bersahut-sahutan menggelegar diatas langit yang tampak murka. Angin yang bertiup kencang seolah-olah akan menumbangkan pohon yang berdiri tegak menjulang itu melengkapi suasana badai besar di sebuah pulau yang nampak kelam. Bahkan bila tidak dilihat dengan seksama, pulau itu benar-benar tersamarkan dari pandangan semua orang yang melintas diatasnya.

Dengan kaki penuh luka, seorang pria berambut raven sedang berlari sekuat tenaga. Tampak dibelakangnya, seorang wanita tua dengan seringai kejamnya sedang mengejar pria tersebut. Berbekal lentera yang tampak bersinar redup dengan api yang terombang-ambing seirama dengan goyangan lentera, dan pisau daging mengkilat yang berbau anyir setelah memotong kepala salah seorang peserta permainan maut ini.

Siapakah perempuan tua itu? Apakah dia juga seorang penguji untuk para peserta? Ataukan dia penduduk asli sini, atau malah dia juga terjebak disini selama bertahun-tahun?

Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk didalam kepala pria berambut raven yang sekarang tengah berlari tanpa mengenal lelah. Memang benar kata orang, kekuatan dari ketakutan dan keterdesakan itu memang tidak main-main. Tapi, meskipun begitu, kekuatan tubuh untuk menghasilkan energi terbatas, dan sialnya, batas itu sudah berada tepat dimata pria tersebut.

Brukh...! Suara menyedihkan itu pun terdengar ketika kaki pria tersebut tidak kuat lagi menahan beban tubuhnya yang sudah mulai sempoyongan. Apalagi ditambah dengan seorang gadis dengan bibir membiru dan mata tertutup yang sekarang sedang berada diatas punggungnya. Wajah gadis itu tampak pucat dengan ekspresi kaku, dan terlihat cemas meskipun sekarang dia pingsan.

Hosh...! Hosh...! Hosh...!

Nafas pria itu terengah-engah dan dengan terburu-buru menghisap udara hutan yang basah oleh air hujan ketika dia terduduk lemas dibawah sebuah pohon besar. Gadis yang tadinya berada dipunggungnya sekarang didudukkannya di sebelah kanannya.

Tiba-tiba kepala pria itu tersentak kebawah seolah ada yang memukul belakang kepalanya, tenggorokannya terasa kering, perutnya sakit seperti terlilit tali yang tidak terlihat dan...

Hoekkkk...!

Tidak keluar apapun. Hanya air liur kental yang keluar dari sudut bibirnya yang menetes bersamaan dengan air hujan yang menuruni wajah tampannya. Bibirnya pun mengatup ketika menyadari tidak ada muntahan yang keluar dari mulutnya.

"Oi...! Apakah memang sudah tidak ada apa-apa lagi didalam perutku yang bisa dibakar untuk lari?" Batinnya sambil menarik bibirnya membentuk segaris senyuman tipis. Senyuman pasrah dan putus asa.

"Yah...! Memang mustahil untuk berlari sepanjang 6 kilometer bagi hikikomori sepertiku. Apa yang sedang kupikirkan ya?" Perlahan kelopak matanya turun menutupi biji onyx yang sekarang tengah menatap putus asa ke arah pepohonan yang berada di depannya.

"Pandanganku mulai kabur. Kuharap disaat seperti ini akan ada sosok laki-laki dengan ekspresi dingin dan pedang yang tajam datang menolongku" Pikirannya mulai berkembang ke arah yang tidak jelas seiring dengan turunnya kelopak mata itu.

"Sa... suke...-san" Kelopak mata yang turun itu tersentak keatas ketika mendengar rintihan dari rubuh yang terkulai lemas di samping kanannya. Mata yang tadinya kehilangan cahaya harapan itu tampak mulai bersinar ketika tatapannya secara tidak sengaja terbentur pada sebuah lubang yang menganga lebar yang tampak tersembunyi beberapa puluh meter di depannya sebelah kanan. Bagai mendapat energi baru, pria yang dipanggil Sasuke itu pun dengan kakinya yang sudah penuh luka segera berdiri dan menarik tubuh mungil wanita yang memanggilnya tadi dan menggendongnya di punggung.

"Aku menemukan sebuah gua. Kupikir kita akan aman disana" Bisik Sasuke lirih sebelum akhirnya dia melesat menuju ke arah gua tersebut.

Perlahan-lahan, tempat istirahat Sasuke itu tampak sedikit lebih terang ketika cahaya redup dari lentera menerangi tempat itu seperginya Sasuke. Wanita tua yang mengejarnya tadi tampak menoleh ke kanan dan ke kiri di tengah kegelapan yang mencekam. Seringaian bengis tampak di wajahnya ketika dia menemukan gua yang terletak tak jauh dari situ. Dengan langkah perlahan dan pasti, seperti seorang psikopat yang telah menemukan mangsanya yang baru, dia berjalan menuju goa tersebut.

Didalam goa...

Tangan putih pucat itu bergetar sambil memeluk lengan kekar pria yang berada di sampingnya. Wajah yang terlihat lemas itu tampak nyaman bersandar pada dada bidang pria tersebut, terlepas dari situasi hidup mati yang mengancam mereka berdua.

Pria itu juga tampak tenang, sambil menyandarkan punggungnya sembari melihat ke atas dengan tatapan mata bahagia, meskipun ada sedikit gurat keputusasaan di matanya. Tangannya mengelus puncak kepala indigo yang sekarang sedang bersandar pada dadanya.

"Yah…! Aku juga bakalan mati kalo lari lagi, mari kita bertaruh" Kata Sasuke dengan wajah tenang. Hidungnya kembang kempis, seolah menarik nafas adalah hal yang berat bagi tubuhnya. Tetapi, mata onyx yang tadinya terlihat putus asa itu menjadi tatapan tajam dan waspada seperti burung pemangsa yang mendengar suara musuhnya ketika berada di sarang.

Tangannya yang tadinya mengelus puncak kepala gadis itu dengan lembut, sekarang terkepal erat di samping tubuhnya.

"Sasuke..." Belum sempat gadis itu protes dengan kelakuan Sasuke yang tiba-tiba berubah, pria itu mendekap pundak Hinata erat sambil membekap mulutnya.

"Jangan berisik, Hinata. Ada yang datang"

-0-

Cahaya yang datang dari luar itu semakin mendekat ke arah mulut goa, bagaikan cahaya kematian yang siap menerkam sepasang muda-mudi yang sekarang tengah meringkuk ketakutan di sudut mati goa. Tapi, hewan buas mana yang berjalan setenang itu tetapi tidak tahu dimana mangsanya bersembunyi? Perlahan-lahan sosok manusia dengan pisau besar di wajahnya itu pun terlihat. Seringaian bengis tampak di wajah kumalnya yang pucat. Dengan perlahan-lahan, dia mengarahkan lentera yang dibawanya ke arah kanannya, mencoba untuk memberikan beban mental kepada mangsa yang sekarang tengah meringkuk ketakutan di sudut goa.

"Haha...! Rupanya dia meninggalkanmu disini sebagai umpan" Katanya dengan ekspresi psikopat begitu melihat mangsanya ketakutan.

"Kyaaaaa...!" Jeritan melengking keluar dari mulut Hinata ketika dia dihadapkan pada malaikat maut yang membawa lentera dan pisau daging besar.

Uaghhhhh...! Mata Hinata melotot ketika merasakan sesuatu yang asin di mulutnya, aroma anyir tiba-tiba menyeruak di rongga hidungnya ketika cairan berwarna merah menyembur di mulutnya. Biji lavender itu pun melirik ke arah dalam goa, dimana seseorang yang dikenalnya sedang memicingkan mata, menatap dengan tatapan sinis.

Tubuh malaikat maut yang membawa pisau itu pun jatuh tanpa ada teriakan kesakitan karena sebuah benda lancip menancap tepat ditenggorokannya.

"Aku mencium bau kapur. Jadi kupikir akan banyak stalagtit dan stalagmit disini" Kata sosok yang berdiri di dalam goa tadi. Perlahan-lahan sosok itu mulai terlihat jelas, senyuman hangat yang menenangkan itu membuat hati Hinata merasa lega, meskipun dia tidak kuasa lagi menahan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya. Dia pun berlari dengan berurai air mata dan memeluk tubuh tersebut erat-erat.

"Jangan tinggalkan aku, Sasuke-san"

Deidara's POV

Sasuke-san nampaknya belum datang ya?

Berkali-kali aku menengok ke arah jendela yang terbuka di gubuk yang sempit, namun sarat akan barang-barang yang khusus untuk perjuangan hidup (mungkin bisa disebut dengan kegiatan survival). Semua orang sudah berkumpul disini, lengkap dengan berbagai peralatan yang akan digunakan untuk menangkap si penyihir itu. Mayat dari Shirozetsu-san sudah di bereskan oleh Kakuzu-san dan Nagato-san. Aku tidak tahu mereka membereskannya dimana. Hanya memikirkannya pun membuatku ingin muntah.

Sebenarnya, aku juga tidak yakin bahwa Sasuke-san dan Hinata-san akan kembali hidup-hidup setelah aku mengikuti rencana dari Nagato-san yang akan membunuh anggota secara acak.

Aku tidak bersalah kan? Jujur saja, aku benar-benar tidak tahu kalo Nagato-san semengerikan itu. Dia bisa memikirkan strategi untuk pembunuhan acak dalam waktu singkat ketika Sasuke-san menjelaskan strategi pelariannya. Memikirkannya saja membuat diriku tidak bisa duduk dengan tenang. Bagaimana jika aku ditinggalkannya?

Kakuzu-san dan Kurozetsu-san juga tampaknya sangat licik. Mereka bertiga pasti akan melakukan hal itu lagi apabila Tobi-san dan Orochimaru-san berniat untuk mencari Sasuke-san.

Dan jika mereka terus melakukannya, itu artinya...

Oh...! Tuhan, tolong aku. Tidak, tidak, mungkin akan lebih baik jika aku menyingkirkan mereka terlebih dahulu. Tapi, bagaimana caranya? Jika aku memberitahu tentang kebusukan tiga orang itu pada Orochimaru-san, maka aku akan menang empat lawan tiga, artinya mereka tidak akan mampu melakukan apa-apa padaku.

Tetapi...

Kulirik wajah datar Nagato-san yang sedang berfokus pada pintu depan dengan ekspresi tenangnya, tetapi aku merasakan adanya aura membunuh yang kuat dari dalam dirinya. Sepertinya Kurozetsu-san dan Kakuzu-san yang berada di sampingnya tidak merasakannya? Apakah ini karena dia menunjukkan aura membunuh itu padaku saja?

Oh...! Shit, aku benar-benar menyesal telah menuliskan nama orang itu tanpa pikir panjang ketika aku menemukan sebuah iklan di internet.

Mungkin apabila aku memohon kepada Shiro kalo aku hanya salah ketik nama, dan pemikiranku tentang 'akan kubawa kau keneraka' itu cuma khilaf, dia mungkin akan memaafkanku dan mengeluarkanku dari pulau terkutuk ini.

Astaga...! Semua pemikiran masuk kedalam otakku. Apakah ini yang dirasakan oleh seseorang ketika tahu kalo ajalnya mendekat?

Krieeetttt...! Suara daun pintu yang terbuka langsung membuyarkan semua lamunan yang menggangguku barusan. Apakah itu si penyihir? Semua orang langsung bersiap menerkam ke arah pintu ketika sebuah suara lembut dan serak menghentikan kami...

"Ini kami..." Dengan wajah penuh air mata, Hinata-san masuk sambil merangkul Sasuke-san yang sedang tidak sadarkan diri. Tubuhnya bersimbah darah, kaki mereka berdua benar-benar kotor oleh luka dan lumpur akibat hujan badai di luar. Tak berapa lama kemudian tubuh lemah wanita itu pun ambruk di depan pintu. Benar-benar menyedihkan.

Kulirik ke arah Nagato-san yang nampaknya masih memandang mereka berdua dengan tatapan datar. Tidak ada penyesalan di wajahnya. Sementara Orochimaru-san dan Tobi-san sibuk untuk mengurus pasangan yang baru datang itu, aku pun sibuk tenggelam dalam pikiranku sendiri.

Kenapa tidak ada penyesalan di wajahnya? Apakah artinya dia hanya mencoba teknik itu sebagai pembunuhan acak kecil-kecilan? Dan dia memiliki sesuatu yang lebih besar untuk membasmi kita semua?

End of Deidara's POV

~o0o~

Island of Truth

~o0o~

Sasuke's POV

"Hinata, apakah sarapannya sudah siap?" Eh...! Suaraku? Kenapa aku disini?

"Ini..." Kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan ini. Aneh, mataku seperti tidak mengikuti pikiranku. Ayolah, bola mata, fokuskan onyxmu itu untuk melihta ruangan ini. Oh, benar juga, aku kenal banget dengan ruangan ini. Ini adalah kamar kerjaku, kamar dimana aku biasanya menikmati masa damai dengan mencari sasaran di interner untuk ajang mencari kepuasan hacking. Tapi, kenapa aku tadi memanggil Hinata? Pandangan mataku pun mengarah kebawah dimana beberapa butir pil dengan warna merah keputihan berserakan disana, Ada juga selembar kertas kecil seperti yang biasa di beri oleh dokter ketika memberi obat serbuk kepada pasiennya.

Oh, morphin. Tunggu dulu, bukannya aku sudah memutuskan untuk berhenti mengonsumsi obat terlarang itu? Kenapa sekarang ada di atas mejaku? Kalo dilihat lebih jelas lagi, ada beberapa serbuk yang masih tersisa di kertas tersebut. Apakah aku baru saja mengonsumsinya? Dan berkhayal bahwa Hinata ada di rumahku? Uh, oh...! Yang benar saja. Tanganku pun bergerak menuju ke arah tablet kecil tersebut dan bersiap untuk menumbuknya.

"Mo, Sasuke-kun. Bukannya kau sudah melewati dosismu sehari ini?" Sebuah tangan yang halus menampar tanganku untuk menjauhkannya dari pil yang ku ambil tadi. Pandanganku beralih kepada sosok dengan rambut panjang yang terurai indah tersebut.

Hinata? Ini beneran Hinata? Mata lavendernya yang indah tampak tertutup, bibirnya yang merah mengulum sebuah senyuman bahagia. Apakah ini mimpi? Ah, iya benar, ini mimpi ya? Lalu, apakah ini Lucid Dreaming (bener ga sih namanya) ? Dimana aku bisa mengendalikan mimpiku sesukaku?

Sebentar-sebentar, bila ini adalah Lucid Dreaming, itu artinya aku bisa melakukan 'itu' bersama Hinata, kan? Eh, tunggu dulu. Apa yang terjadi dengan tubuh asliku jika aku melakukannya didunia mimpi? Apakah aku akan mendesah dan mimpi basah? Oh, tidak, tidak, itu pasti akan memalukan. Tapi, jika aku menahannya, maka tidak jadi memalukan kan.

"Ne, kalo kamu masih bersikeras untuk mengonsumsinya, aku ada ide yang lebih bagus?" Kata Hinata sambil beralih dan kemudian duduk di pangkuanku. Kurasakan kehalusan tangan putih itu ketika dia membingkai lembut wajahku sambil menatapku dalam-dalam dengan seulas senyuman yang tidak lepas dari bibir indahnya. Ide bagus? Apakah...

Hei...! Kenapa tubuhku tidak merespon? Aduh, sial banget, jika ini mimpiku seharusnya aku bisa mengaturnya sedemikian rupa sesukaku kan? Tetapi, apa ini? Bibir Hinata sudah sedemikian dekat dengan wajahku, tapi aku tidak bisa men... ah, sudahlah. Tubunnya juga sedemikian dekat denganku, sampai-sampai aku bisa mencium parfumnya yang menggoda, tapi tanganku tetap diatas meja tidak bergerak.

"Penelitian menunjukkan bahwa, mata seseorang memiliki efek yang lebih besar daripada narkoba apapun kan?" Semakin dekat, wajahnya semakin dekat. Mata lavender yang indah itu seakan-akan ingin segera mengurung onyxku dalam tatapan lembutnya. Tanganku bergerak sendiri dan mengusap pipi chubby itu dengan lembut. Apa ini? Apa ini semacam insting hewan saat bercinta?

"Kau boleh menatap mataku sepuasmu, Sasuke-kun" Kata Hinata sambil tersenyum. Kurasakan otot-otot dalam diriku menegang, menarik wajah cantik itu untuk mendekat. Mata lavender itu tampaknya menepati janjinya jika aku boleh menatap matanya sepuasku sehingga aku tidak berkeinginan untuk menutup mataku. Meskipun ini memalukan...

Tok...! Tok...! Tok...!

Suara apa itu? Persetan dengan hal itu, aku akan membukanya ketika aku sudah selesai dengan mainanku.

Tok...! Tok...! Tok...!

Cup...!

"Kelihatannya itu penting, aku akan menunggumu disini" Kata Hinata sambil meletakkan jari telunjuknya di bibirku tepat sebelum kedua bibir kami bersentuhan. Dia pun melepaskan tangannya dari wajahku dan dengan lembut menurunkan tanganku yang masih menempel di wajahnya. Dia pun turun dari pangkuanku dan kemudian duduk diatas meja yang berada di depanku, memberikanku ruang untuk keluar. Aku pun berdiri dan berjalan menuju ke arah pintu depan yang sudah sangat kuhafal sekali.

Tok...! Tok...! Tok...!

Suara ni, entah kenapa mengingatkanku pada bahaya yang mengancam.

Spoiler Ino

Apa dia sedang sakit? Aku pun dengan tergesa-gesa membuka pintu tersebut.

Krieeetttt...! Brukghh...! Tanpa kuduga sebelumnya, Ino langsung menubrukku dan menindihku. Bau mulutnya benar-benar tidak karuan. Ada apa dengan gadis ini? Aku tidak tahu jika dia mengidap epilepsi. Pemikiran tentang epilepsi menurunkan kewaspadaanku tentang serangan yang akan terjadi. Tanpa kuduga sebelumnya, Ino meninggalkan sebuah gigitan di leherku.

Arrrrrggghhhh...!

End of Sasuke's POV

Aaarrrrgghhhh...!

"Hosh...! Hosh...! Hosh...!"

Kriukkkkk...!

Bocah dengan topeng spiral itu pun menoleh sambil memiringkan kepalanya ketika melihat sosok berambut raven yang tidur beberapa meter di sampingnya tiba-tiba terbangun dan mengeluarkan suara aneh. Mungkin sekarang matanya sedang menatap Sasuke dengan tatapan heran dengan kelakuannya tadi.

"Ada apa, Sasuke-kun? Apa kau mengalami mimpi buruk?" Tanya Tobi dengan nada yang masih saja datar. Sasuke masih tampak menunduk sambil memegangi leher bagian kanannya. Perasaan tentang mimpinya tadi benar-benar seperti menusuk daerah itu sampai ke tubuh nyatanya, bahkan kaki yang penuh luka itu pun tidak dihiraukannya. Wajah tampan itu bercucuran keringat, meskipun masih pagi, dan hawa masih cukup dingin.

"Sudahlah, lupakan saja pengalaman merepotkanmu itu. Aku tahu kau trauma dikejar nenek lusuh pembawa pisau besar, tapi tidak ada waktu untuk mimpi buruk" Celetuk Orochimaru yang rupanya juga berada di ruangan itu bersama dengan Sasuke dan juga Tobi. Sasuke hanya memijat keningnya dengan ekspresi lelah. Beberapa saat kemudian, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dengan tatapan cemas. Tetapi, tatapan itu segera berubah menjadi tatapn lega ketika dia menjumpai gadis dengan rambut indigo acak-acakan yang terbaring di sebelahnya.

"Kau mengkhawatirkan Hinata kah?" Tanya Orochimaru sambil terkikik geli. Sasuke tidak merespon apa-apa, melainkan hanya menatap wajah Hinata yang tenang dan damai ketika sedang tidur.

Tatap mataku sepuasmu, Sasuke-kun

Kata-kata itu terngiang-ngiang di benak Sasuke, dan terasa sangat menenangkan jiwanya yang sedikit terguncang akibat mimpi buruknya tadi (atau mimpi indah ya?). Meskipun dia tidak menatap lavender yang sedang tertutup itu, tapi entah kenapa begitu melihat wajah Hinata yang begitu damai, dia benar-benar merasa tenang seolah semua beban itu lepas dari pundaknya.

Kriuuuukkkk...!

"Huh...! Baiklah" Kata Tobi sambil berdiri dari duduknya dan kemudian menghampiri sosok berambut merah acak-acakan yang sedang duduk di pojok ruangan sambil menundukkan kepalanya.

"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Sasuke dengan nada heran.

"Tentu saja membangunkan Sasori-san. Bukannya dia seorang pendaki gunung? Aku akan mengajaknya mencari makanan di hutan ini" Kata Tobi santai. Dia pun mengguncang-ngguncangkan tubuh Sasori dengan cukup kasar.

"Jangan kaget dengan karakterku yang seperti ini, Sasuke-kun. Aku adalah seorang jenderal, jadi aku cukup tegas untuk membangunkan orang yang sedang molor seperti ini" Sergah Tobi sebelum Sasuke sempat menegur cara membangunkan Tobi yang cukup barbar. Sasuke pun mengurungkan niatnya begitu mendengar ucapan Tobi tadi.

"Meskipun begitu..." Gumam Tobi pelan, tetapi masih sedikit terdengar oleh Sasuke yang saat itu sedang duduk di dekatnya. Pemuda berambut raven itu pun sedikit mengangkat kepalanya dengan raut wajah setengah heran dan setengah ingin tahu dengan ucapan Tobi barusan.

"Ah...! Tidak, tidak, Sasuke-kun" Jawab Tobi sambil menggelengkan kepalanya.

"Hanya saja, aku waktu itu memang salah sih karena naik pangkat lewat dalam ketika masih menjadi letnan dulu. Tapi, aku jujur kok dari bawah sampai atas. Dan ketika itu, letnan sainganku yang juga ingin naik pangkat, membocorkan kecuranganku sehingga aku diturunkan menjadi letnan kolonel" Jelas Tobi setelah sedikit terdiam tadi. Sasuke nampak masih menatap Tobi dengan tatapan datar sementara pemuda bertopeng itu sedang membangunkan Sasori yang waktu itu masih duduk dengan mata setengah terbuka seperti orang ngigo.

"Jadi, setelah itu kau tulis nama sainganmu itu?" Sahut Orochimaru yang rupanya mendengarkan ucapan Tobi. Pemuda itu hanya mengangguk pelan sambil melempar Sasori yang masih betah molor ke arah pintu.

Bruak...!

Pemuda berambut merah acak-acakan itu sontak saja terbangun dengan kelakuan ekstrim dari Tobi. Wajah pemuda bertopeng itu tidak terlihat, namun aura kesal nampak keluar dari tubuhnya. Orochimaru nampak tertawa terbahak-bahak melihat cara membangunkan yang cukup aneh ala Tobi. Sasuke masih saja menatap pintu depan tadi dengan tatapan kosong, entah apa yang dipikirkan oleh pemuda berambut raven itu, tapi tampaknya sekarang dia sedang mengumpulkan nyawanya setelah bangun tidur.

Krieetttt...! Brak...!

Pintu itu pun terbuka dengan pelan, tapi terdengar tegas. Sosok pemuda berambut merah panjang, aka Nagato muncul di balik pintu tersebut bersama dengan pemuda hitam bernama Kurozetsu.

"Deidara dan Kakuzu menghilang" Sontak semua mata memandang pada kedua orang yang tiba-tiba saja membawa kabar buruk tersebut, tak terkecuali Sasuke yang tadinya sedang 'kosong' sekarang menjadi full kembali.

"Kita cari mereka sambil mencari makan"

Meanwhile….

"Aku benar-benar terkejut ketika mengetahu identitasnya yang sebenernya" Kata seseorang dengan rambut gelap panjang sambil membawa tablet. Di layar tablet tersebut tercetak jelas foto seseorang dengan mata gelap sambil memakai masker.

"Tidak pernah kuduga bahwa kami menangkap pembunuh berantai yang sedang buron, Kakuzu. Yah…! Tapi, sudah tidak ada gunanya lagi menyerahkannya ke polisi bukan?" Kata lawan bicaranya sambil sedikit terkekeh.

"Yap…! Lagipula, bukannya kamu gak penasaran dengan anak berambut merah yang tiba-tiba membuat si pembunuh berantai itu mengikuti strateginya?" Lanjut orang yang membawa tablet sambil masuk kedalam sebuah ruangan.

"Yap…! Tapi, mereka semua memang licik ya? Tidak seperti si rambut ayam itu"

TBC

Waduh…! Gomen banget kalo chapter ini terasa mengecewakan. Author juga buru-buru banget sih nyelesainnya (^_^)v

Adegan berdarahnya masih kurang kah? Hahaha, mungkin author ga jago menulis adegan berdarah juga sih. Maunya sih ditulis di detail kematian si penyihir itu, tapi author udah dapet hint baru, jadi ga usah di jelasin deh kematian penyihirnya kaya gimana.

Terus, Deidara sama Kakuzu kemana ya? Hmmmm…! Ada yang punya ide? Oke deh, coba saya kasih spoiler untuk chapter depan.

Yah…! Cuma itu sih spoilernya XD. Hmmm…! Mungkin update selanjutnya dua minggu lagi kali yak? Sekolah udah masuk kan, jadi hari-hari yang tenang kembali menjadi sibuk lagi kali ini XD.

Happy Read.