Chapter 4
Jangan Pakai Hati
Author : Xnapoenya
Cast(s) : Oh Sehun, Kim Jongin, Xi Luhan, Kim Minseok, Byun Baekhyun and others
Rate : T
A/N : Terima kasih untuk yang komen, fav dan follow . Apa yang tertulis disini semata-mata hanya imajinasi saya saja, terinspirasi dari kisah nyata disekitar saya. Kritik dan saran sangat diterima^^
Maaf kalau chap ini jaraknya jauh dari yang kemarin, aku tuh tipe orang yang moody jadi ya gitu mau nulis ya nulis kalau enggak mau ya lari ke baca, keseringan lari ke baca sih-,-
Oh ya, kalian bisa panggil aku Eonnie/Noona Xe bcs I'm absolutely older than all of you if you are under 91line. Terdengar aneh kalau kalian manggil aku thor.
Di chap kemarin aku buat typo yang fatal and it seems that no one realized it,kkkk
Jongdae is Sena's bf on prolog but I make him as barista on third chap, mianhae,,hehe
Terima kasih untuk semua kritik, saran dan kata-kata manis dari kalian.
Selamat menikmati akhir cerita ini^^
.
.
.
Jongin itu manja. Menjadi Putra tunggal seorang pengusaha sukses membuat apa saja yang dia mau bisa didapatkan. Ayahnya memang bisa memberikan semuanya tapi dia tak mau Jongin menjadi pemalas jadi dia membatasi permintaan Jongin. Ada yang bisa diwujudkan tapi ada yang tidak. Hitung-hitung mengajarkan padanya kalau didunia ini ada yang tak bisa dia miliki.
Meskipun dia hanya punya Ayahnya tapi dia tidak kekurangan Kasih sayang. Ada bibi jung dan paman jung sepasang suami istri yang bekerja pada ayahnya dan sangat menyayangi Jongin. Bibi Jung tidak bisa punya anak itulah kenapa dia menganggap Jongin seperti anaknya sendiri.
Walaupun Ibunya sudah meninggal tapi dia merasakan Kasih sayang dari bibi Jung tanpa melupakan ibu kandungnya.
Jongin memang manja tapi dia bukan pengecut.
Setelah insiden dikafe Chanyeol, dia tidak menghindar. Dia tetap masuk kuliah seperti biasanya walau matanya bengkak yang mengundang pekikan dari Baekhyun.
Jongin menceritakan semuanya dengan airmata yang sepertinya tak akan habis. Luhan yang paling ingin memukul Sehun saat itu juga tapi sampai jam mata kuliah selesai Sehun tak datang.
"Dasar pengecut." begitu kata Luhan.
Jongin tidak suka memdiamkan masalah tanpa menyelesaikannya. Dia tipe orang yang tidak suka membuang-buang waktu, pengecualian untuk mengejar cinta Sehun.
Hari kedua dia masih menunggu Sehun. Dia sudah ikhlas kalau semisal Sehun meminta putus. Jongin bertekad dia tidak akan meminta putus karena bagaimanapun sikap Sehun padanya dia tidak akan bisa melepas Sehun.
"Kau gila Jong, Sehun itu sudah keterlaluan." Jongin hanya memberikan senyum tipis untuk ucapan Baekhyun.
Tapi seperti hari pertama, hari kedua Sehun juga tidak datang.
"Sebenarnya maunya apa sih." sepetinya Luhan semakin emosi.
Disamping rasa kesal tapi rasa khawatir Jongin lebih besar. Ini pertama kalinya Sehun membolos lebih dari dua hari. Jongin takut kalau terjadi sesuatu pada Sehun.
Hari ketiga Jongin semakin was was. Dia terus berdoa dalam hati agar Sehun muncul. Tak apa kalau Sehun mengacuhkannya seperti biasa yang penting Sehun ada dalam jangkauan mata Jongin.
Tapi harapan tinggal harapan. Sehun tak muncul lagi.
"Hyung.." Jongin menatap Minseok sambil menggigit bibirnya. Baekhyun yang menyaksikan itu langsung memeluk Jongin. Diikuti Luhan dan Minseok. Tangisan Jongin teredam oleh kalimat menenangkan dari ketiga sahabatnya.
Jongin bersyukur disaat seperti ini masih ada orang yang menopang tubuhnya. Dia tidak sendirian menghadapi masalah ini.
"Kau yakin tak mau ikut kami?" tanya Luhan dari dalam mobilnya. Saat ini ketiga temannya akan bertemu dengan keluarga Luhan sebelum mereka kembali ke China tapi Jongin menolak untuk ikut.
"Aku ada acara dengan ayahku hyung." meskipun umur Jongin yang paling muda tapi dia jarang sekai memanggil dengan embel-embel, seringnya hanya pada Minseok. Tapi belakangan dia jadi memanggil Luhan dan Baekhyun dengan hyung dibelakangnya. Terdengar aneh yang semakin membuat Jongin terlihat tidak baik-baik saja.
Jongin melambaikan tangannya pada mobil Luhan yang melesat pergi meninggalkan dia dihalaman kampus. Dia mulai berjalan tanpa tahu mau kemana karena kenyataannya dia tidak ada janji dengan ayahnya.
Dia bohong karena dia tidak mau membuat teman-temannya khawatir.
Langit sudah hampir gelap tapi dia tidak ingin pulang. Jongin berhenti didepan sebuah iklan film Thailand berjudul "Runpee/Senior" sebuah film horor romantis yang ada dalam list nontonya. Sebenarnya dia ingin mengajak Sehun tapi...
Akhirnya dia memutuskan untuk mencari bioskop terdekat.
Jongin keluar dari bioskop pukul 9 malam karena dia mendapat tiket pukul 7. Selama film diputar dia lebih banyak melamun sambil memakan popcornnya. Matanya memang kelayar tapi pikirannya entah kemana. Bahkan saat penonton lain menjerit ketakutan ketika hantu muncul Jongin tetap diam, asyik memakan popcornnya.
Dia kemudian naik bus untuk membawanya kesuatu tempat.
Handphonenya sedari tadi mati, sengaja karena tak mau diganggu. Dia hanya meninggalkan pesan untuk ayahnya yang mengatakan dia akan menginap ditempat Chanyeol.
Jongin segera turun dari bis begitu tujuanya sudah terlihat. Dia langsung memasuki bangunan itu lalu mencari lift untuk membawanya menuju lantai 15. Suasana ditempat ini begitu sepi seakan mengerti suasana Jongin yang tak ingin diganggu.
Ting.
Jongin langsung keluar lalu mencari pintu dengan no 708 didepannya.
Tok tok.
Tak ada yang menjawab.
Tok tok.
Jongin masih menunggu tapi tetap tak ada jawaban.
Dengan terpaksa dia memencet beberapa tombol sebagai kombinasi password. Dia bisa saja langsung masuk tapi dia menghargai privasi sang pemilik rumah.
Begitu masuk Jongin disambut oleh kegelapan.
Klik.
Saat lampu menerangi ruangan dia tidak menemukan siapa-siapa. Semua sepi seperti berhari-hari tidak terjamah oleh orang.
Jongin membuka sepatunya dan langsung menuju satu-satunya kamar disana. Tanpa rasa malu dia melepas semua pakaiannya hingga menyisakan underwaer saja. Kemudian dia mencari pakaian dilemari dan memutuskan untuk memakai satu kemeja yang dirasa cukup kebesaran dibadannya.
Tanpa menunggu lama dia memejamkan mata dikasur empuk yang bukan miliknya. Airmatanya mengalir begitu aroma itu masuk kedalam hidungnya.
"Aku merindukanmu." ucapnya sebelum mimpi menjemputnya.
.
.
.
Jongin terbangun merasakan panas sinar matahari yang masuk melalui kaca jendela. Dia membutuhkan waktu beberapa menit untuk mengingat bagaimana dia bisa sampai dikamar ini.
Dia belum ingin bangun, masih ingin merasakan kenyamanan kamar ini. Sebenarnya tak ada yang istimewa dengan kamar ini. Bahkan kamarnya lebih luas dan lebih Bagus dari kamar ini sayangnya dikamarnya dia tak menemukan aroma dikamar ini. Aroma dari orang yang dia rindukan.
Merasa perutnya perlu diisi karena sejak semalam dia belum makan apa-apa selain popcorn membuat Jongin memutuskan untuk bangun. Dia mengabaikan kenyataan kalau pahanya terekspos karena dia tak memakai celana, hanya kemeja kotak-kotak (yang dipakai pas foto bareng itu loh, yg couplelan sama Sehun) yang menutupi tubuhnya bagian atasnya.
Jongin terdiam menemukan seseorang didapur sedang sibuk dengan penggorengan.
Jadi semalam itu bukan mimpi?
Dia merasa semalam seseorang memeluknya dan menciumi wajahnya. Dia pikir semua hanya mimpi karena tak menemukan siapa-siapa saat dia bangun.
Tanpa pikir panjang Jongin langsung memeluk punggung namja itu.
"Hunna, maafkan aku." tangis Jongin pecah lagi. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada Sehun. "Maafkan aku, kau boleh pergi dengan wanita itu tapi kumohon jangan tinggalkan aku."
Kalau ketiga temannya mendengar apa yang baru saja dikatakan Jongin pasti Jongin sudah dicemooh. Dia akan dikatakan bodoh dan idiot karena mau diduakan oleh Sehun.
Tapi apa Jongin peduli?
Tidak, nyatanya berpisah dengan Sehun selama 3 hari sudah merupakan penderitaan untuknya. Dia tidak mau membayangkan kalau Sehun pergi selama-lamanya.
Sehun perlahan membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan wajah Jongin yang basah.
Rasa bersalah itu datang lagi. Seharusnya dia yang meminta maaf pada Jongin bukan sebaliknya. Seharusnya dia yang mendatangi Jongin bukan sebaliknya. Dia benar-benar beruntung mendapatkan Jongin.
"Jangan menangis." selama ini tidak ada yang mampu menembus tembok pertahanan yang Sehun bangun. Semua cinta yang ditawarkan dari fans-fansnya dia tolak karena dia tidak membutuhkanya. Bagi Sehun cinta itu hanya membuat luka. Dia tidak mau terluka seperti ayahnya dan juga Sena.
Hingga Jongin datang.
Tak ada cinta, semuanya murni karena dia kasihan melihat Minseok yang terus-terusan ditekan oleh Luhan. Selama ini hanya Minseok yang begitu baik dengannya, yang menganggapnya ada. Dia tidak tega melihat Minseok menangis untuk kesekian kalinya karena Luhan yang tak percaya dengan perasaannya.
Sehun menemukan cara.
Dia menggunakan Jongin. Sehun tahu kalau Jongin menyukainya seperti yang lain tapi ternyata Jongin berbeda. Biasanya kebanyakan orang akan meninggalkannya karena sikap Sehun yang terlampau acuh namun Jongin justru makin mendekat. Pelan tapi pasti menyita perhatian Sehun.
Hingga Sehun menghancurkan semuanya dengan menampar Jongin.
Sehun kira Jongin akan meninggalkannya tapi lihatlah sekarang. Namja tan itu malah datang kepada Sehun untuk meminta cintanya. Cinta dari Sehun orang yang telah menyakitinya.
"Maafkan aku Jong." Sehun tau dia egois. Dia tahu kalau Jongin bisa mendapatkan yang lebih baik darinya tapi dia tidak akan melepaskan namja itu untuk orang lain. "Jangan tinggalkan aku."
Keduanya berpelukan dalam tangis. Hingga tak ada jarak lagi. Saling menghirup aroma masing-masing yang terasa begitu menenangkan sambil mendengarkan detak jantung yang menyatu membentuk suatu irama.
Sehun mendekatkan wajahnya pada Jongin hingga hidung mereka bersentuhan. Nafas mereka saling menyatu disusul kedua belah bibir. Bibir tipis Sehun melumat lembut bibir tebal milik Jongin. Ini ciuman pertama mereka yang terasa memabukkan. Bibir tebal Jongin begitu pas saat menempel dengan bibir tipis milik Sehun. Keduanya tak ada yang berinisiatif untuk melepas kontak itu melainkan yang ada keinginan untuk melakukan lebih. Ciuman dirasa tidak cukup lalu berlanjut pada lumatan.
Jongin membuka mulutnya mengundang lidah Sehun untuk masuk bertemu dengan lidahnya.
"Mmmhhh." Jongin melenguh merasakan lidah Sehun yang mengeksplor mulutnya membuatnya semakin meremas rambut Sehun.
"Ahh."
Ciuman mereka terputus karena Sehun memberikan kesempatan Jongin untuk bernapas. Dia beralih mengecupi leher jenjang Jongin dengan melukis kissmark disana.
Tangan kiri Sehun masuk kedalam paha dalam Jongin yang tak tertutup apa-apa. Membelainya hingga sampai pada kesejatian Jongin yang terasa menggembung tertutupi underwear. Tangan kanannya meremas pantat sintal milik Jongin.
"Ohhh ahh." Jongin hanya bisa memejamkan mata menikmati semua sentuhan Sehun. Dia membutuhkan Sehun lebih dari ini. Sentuhan tangan tak akan cukup. Dia butuh penyatuan.
"Sehun kau dimana?"
Tangan Sehun semakin berani. Bahkan sekarang sudah masuk kedalam underwear Jongin untuk mengocok..
"OH SEHUN!"
Jongin melotot mendengar teriakan seorang yeoja diapartemen Sehun. Dia mencoba melepaskan kontak dengan Sehun tapi namja itu tak mengijinkannya.
"Sehun kalau kau tak melepaskan Jongin sekarang, noona akan memotong kemaluanmu."
Sehun mengerang mendengar ancaman noonanya, dengan tidak rela dia melepaskan Jongin yang wajahnya memerah semakin membuat Sehun ingin menerkamnya.
"Sehun!"
"Wae?" Sehun menatap noonanya dengan tajam.
"Minggir kau." usir Sena pada Sehun. Dia hanya ingin mengenalkan dirinya secara langsung pada Jongin tapi sepertinya Sehun tak akan mau melepaskan Jongin.
Bukankah dia wanita itu? Jadi aku benar-benar akan dijadikan yang kedua?
Jongin ingin menangis meratapi nasibnya. Dia semakin mendekap pada Sehun begitu wanita itu makin mendekat.
"Hai kau Kim Jongin kan? Aku Oh Sena."
Jongin belum menyambut tangan wanita itu. Dengan tidak sopannya dia malah memperhatikan wajah wanita itu yang terlihat mirip dengan Sehun.
Tunggu Oh Sena? Bukankah itu nama kakaknya Sehun?
Jongin menatap Sehun lalu Sena. Sehun lalu Sena.
Jadi wanita itu kakaknya Sehun dan aku mengatainya wanita jalang?
Jongin menggigit bibirnya, dia merasa malu karena sudah menghina kakak Sehun.
Pantas saja Sehun menamparku.
"Well Jongin ah kau punya kaki yang bagus."
Jongin melotot dia baru sadar kalau sekarang dia tidak memakai celana.
Oh ya Tuhan.
"Apa Sehun sudah membuatmu klimaks?"
Rasanya Jongin ingin mengubur dirinya hidup-hidup sekarang.
Pertama mengatai dia wanita jalang, kedua dengan percaya dirinya dia memamerkan kakinya dan ketiga Jongin lupa kalau tadi Sena melihat dia making out dengan Sehun.
Sudah cukup. Jongin tak kuat. Dia langsung lari kedalam kamar Sehun dan menguncinya.
"Noona!"
Sena tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Jongin. Dia hanya bermaksud menggoda dan sepertinya reaksinya Jongin sangat mengesankan.
Sehun melotot pada kakaknya yang belum juga berhenti tertawa lalu dia menuju kamarnya dan mengerang begitu tau pintunya dikunci.
"Jong, buka pintunya."
Jongin tak akan membuka pintunya Sehun karena dia sibuk menggali lubang untuk tempat bersembunyi.
.
.
.
Kalau ditanya apa mau Jongin sekarang dia akan mengatakan pulang kerumah ayahnya dan berlindung dibawah selimut tebal bergambar beruang kesayangannya, bukannya duduk berhadapan dengan Sena yang terus-menerus menahan tawa.
"Noona." bahkan peringatan dari Sehun juga tak mempan untuk gadis yang sekarang berusia 26 tahun itu.
Mendengar tawa Sena yang tak bisa dia tahan membuat Jongin semakin menundukan wajahnya malu.
Wajahnya terasa memanas seperti dipanggang ditungku api tinggal menunggu gosong saja.
"Baiklah, baiklah aku berhenti." Sena kasihan sebenarnya dengan Jongin hanya saja namja itu terlalu lucu untuk tidak ditertawakan. Lagipula baru kali ini dia melihat Sehun melotot padanya jadi jahil sedikit tak apalah asal dia bisa melihat ekspresi muka Sehun bukan wajah datarnya.
"Jadi kau Kim Jongin?" Jongin mengangguk. "Pacarnya Sehun?" satu anggukan lagi. "Oh ayolah jangan malu Jongin ahh, bukankah kemarin kau memanggilku wanita jalang."
"Maafkan aku Sena ssi, aku benar-benar tak tahu kalau kau kakaknya Sehun." ucap Jongin dengan wajah semakin menunduk.
Sena berdecak yang membuat Jongin semakin tidak nyaman, "aku tidak menyalahkanmu Jongin bukan salahmu juga kalau kau tak tahu, Sehun kan memang tak memberitahumu." jongin lega mengetahui Sena tidak marah dengan kata-katanya kemarin. "Jadi, apa kau menyukai Sehun?"
Jongin mengangkat kepalanya dan bertemu dengan mata Sena yang menatapnya penasaran, "ani." jawabnya yang langsung membuat Sena melotot.
"Kau tidak menyukai Sehun?" Jongin menggeleng.
"Aku mencintainya bukan menyukainya." Sena tertawa hingga airmatanya keluar.
"Jongin, harusnya kau melihat eskpresi Sehun tadi. Dia seperti mau di eksekusi mati." karena penasaran Jongin menolehkan kepalanya menatap Sehun. "Sehunnie, kau tak apa-apa? Kau pucat sekali."
Sena semakin tertawa mendengar pertanyaan Jongin. Dia tidak tahu kalau Jongin bisa sepolos itu.
"Aigooo,, rasanya aku tak kuat kalau lebih lama disini." ucap gadis itu lalu berdiri dan menampilkan penampilannya. Bagaimanapun dia adalah seorang designer terkenal di Perancis sekarang jadi penampilan sangatlah penting. "Aku pergi dulu Sehun, awas kau kalau menyakiti Jongin lagi." Sehun hanya bisa menggerutu menanggapi ucapan Sena. Kedua namja itu mengantar Sena kedepan pintu.
"Jonginie sayang, bilang saja sama noona kalau Sehun nakal ya. Nanti noona akan beri dia pelajaran." Jongin hanya mengangguk imut, "aigoo lucunya, kenapa bukan kau saja yang jadi adikku ya?"
"Noona!" Sena tertawa lagi melihat Sehun melotot untuk kesekian kalinya hari ini. Rasanya dia melihat Sehun berumur 5 tahun sekarang, dimana Sehun belum mengenal apa itu luka karena ditinggalkan.
"Annyeong Jonginnie, Sehunnie. " Jongin tak sempat melambaikan tangan pada Sena karena Sehun sudah keburu menutup pintunya.
"Yaa, kenapa ditutup Hunna?"
Begitu pintunya ditutup Sehun langsung memenjarakan tubuh Jongin dengan pintu dibelakangnya.
"Se...hun." Jongin hanya bisa menggigit bibir bawahnya melihat tatapan Sehun sekarang.
"Kenapa kau tidur tak memakai celana? mau menggodaku eh?"
Jongin ingat kata Baekhyun kalau dalam hubungannya dengan Sehun dia harus lebih agresif. Dia harus bisa menunjukkan ketertarikannya pada Sehun.
"Kalau iya kenapa?" ucapnya sambil membasahi bibirnya. Dia hanya bisa tersenyum dalam hati melihat tatapan mata Sehun yang berbeda untuknya.
Kena kau.
Jongin sebenarnya bohong, dia memang sudah terbiasa tidur tanpa memakai celana hanya saja dia tidak akan melewatkan kesempatan menggoda Sehun.
"Aku mencintaimu Jong."
Namja tan itu hanya bisa melotot mendengar tiga kata yang keluar dari bibir Sehun. Dia pikir Sehun akan segera menyerangnya mengingat tatapannya sudah dipenuhi nafsu.
Sehun membelai pipi tembem Jongin dengan tangan kanannya, "maaf kalau selama ini aku bersikap brengsek padamu." ucapnya yang diakhiri senyuman dari bibir tipis Sehun.
Jongin tertegun, dia tidak bisa berkutik dalam pesona Oh Sehun. Sebenarnya kalau mau Jongin bisa mendapatkan yang lebih dari Sehun.
Lebih tinggi dan tampan dari Sehun seperti Kris anak bisnis semester 7 yang menembaknya 3 hari setelah dia masuk kampus atau lebih kaya seperti Suho anak kedokteran tapi nyatanya Jongin memilih Sehun. Siswa introvert dengan segala kekurangannya yang berhasil membuat Jongin terpana.
Seperti sekarang.
"Kau bisa tersenyum?" bukan pertanyaan bodoh karena nyatanya Sehun tak pernah menampilkan ekspresi wajahnya.
Sehun tertawa mendengarnya dan Jongin semakin lemas mendengar suara tawa Sehun.
"Aku juga mencintaimu." sebelum dia pingsan (karena Sehun bersikap manis padanya) Jongin memutuskan untuk membalas pernyataan cinta Sehun padanya yah walau Sehun dan seluruh dunia sudah tau bagaimana gilanya Jongin pada Sehun.
Sehun tersenyum untuk kesekian kalinya dan itu sukses membuat Jongin pusing.
"Hunna, bisakah kau bawa aku kekamar?"
"Untuk melanjutkan yang tadi?"
Jongin melotot, tapi Sehun sudah tak bisa dicegah lagi. Jadinya Jongin hanya bisa meronta dalam gendongan seorang Oh Sehun.
Niatnya kekamar kan untuk istirahat bukan untuk yang lain.
Tapi pada akhirnya Jongin menikmati juga.
.
.
.
Baekhyun, Luhan, Minseok, Tao, pokoknya semua penghuni kelas manajemen bisnis semester 5 menatap sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta dibelakang sana.
Kalau Tao dan yang lainnya lebih pada tatapan "itu benar Oh Sehun kan yang biasanya seperti patung, ternyata dia bisa juga cekikikan begitu."
Sementara Baekhyun, Luhan dan Minseok lebih pada tatapan "kapan aku bisa menguliti si Oh itu?".
Saat Sehun masuk kekelas pagi tadi, Baekhyun dan sepasang kekasih LuMin sudah siap untuk menghajar Sehun tapi seperti biasa Jongin membelanya. Jadilah mereka menahan segala macam amarah yang sudah diubun-ubun, bahkan Minseok yang terkenal tenang sangat ingin memukul Sehun karena membuat Jongin menderita.
"Jadi kemana saja kau 3 hari kemarin?" pertanyaan dari Baekhyun yang dijawab enteng oleh Sehun. "Pergi dengan wanitaku." Luhan langsung memukul Sehun dipipi.
"Ya! Kalian kenapa memukulnya. Aiissh, Hunna kau tak apa-apa kan?"
Ketiga temanya melotot melihat tingkah Jongin yang masih mengkhawatirkan Sehun padahal jelas-jelas Sehun sudah selingkuh.
"Yang dimaksud wanitanya itu kakaknya, wanita yang kemarin dikafe itu Oh Sena kakaknya Sehun yang di Perancis. Dia pulang meminta bantuan Sehun untuk membangun butiknya disini Hyung."
"Bilang donk dari tadi." kata Baekhyun dengan bibir maju.
Jadilah ketiga temannya tak ada alasan lagi untuk memukul Sehun walau sebenarnya mereka belum terlalu percaya pada Sehun. Takutnya Sehun berulah lagi yang membuat Jongin kembali merana, kan gak cocok.
"Baek, aku seperti melihat kissmark dileher Jongin tapi aku tak yakin karena lehernya tertutupi kerah baju." Baekhyun melotot mendengar bisikan Minseok.
Keadaan kelas sedang fokus memperhatikan dua sejoli itu jadi Minseok tak mau ada yang mendengar prasangkanya. Luhan saja tidak diberitahu.
Baekhyun berjalan kearah dua orang itu. Jongin menempel pada Sehun yang sepertinya sedang membisikkan sesuatu hal kotor hingga membuat wajah Jongin memerah.
Brak.
Seisi kelas melonjak atas tindakan Baekhyun yang tiba-tiba menggebrak meja.
"Baek.. "
"Apa yang Sehun lakukan padamu Jong?"
Sementara Jongin kebingungan dengan pertanyaan Baekhyun, namja Byun itu mengambil kesempatan untuk melihat apa yang ada dileher Jongin. Dia langsung menyingkap kerah baju Jongin dan terkejut menemukan tak hanya satu atau dua tanda merah melainkan banyak.
"Ya ampun Jong lehermu penuh dengan kissmark." teriak Baekhyun yang membuat seisi kelas terkesiap.
Sepertinya Minseok salah memberitau orang tentang kecurigaannya. Harusnya dia memberitau Luhan saja yang akan langsung bertindak dengan tangan bukan Baekhyun yang kebanyakan bekerja dengan mulut.
Seisi kelas langsung berpikir, "Jongin penuh dengan kissmark itu artinya yang melakukannya adalah Sehun. Sehun bisa membuat kissmark?"
Terlalu lama melihat Sehun yang tanpa ekspresi membuat semua orang meragukan kemanusiaannya.
"Bukankah kau bilang kau juga sering memberikannya pada Kyungsoo."
Kalau tadi pernyataan dari Baekhyun hanya membuat seisi kelas kaget sekarang pernyataan dari Jongin membuat seisi kelas kaget setengah mati.
Semua mata, kecuali Luhan dan Minseok tentunya, mengarah pada Baekhyun dan Kyungsoo yang kini menundukkan kepalanya.
Kelas mulai ramai dengan "Baekhyun pacaran dengan Kyungsoo?", "jadi Baekhyun akan jadi menantu dari musuh bebuyutannya?" dan kisah Jongin dan Sehun terlupakan.
Karma is a bitch Baek.
"Byun Baekhyun keruanganku setelah mata kuliahmu berakhir."
Baekhyun menegang, seisi kelas semuanya diam menatap sesosok pria dengan kemeja biru dan dasi biru tua yang begitu mirip dengan Kyungsoo.
"Nde." hanya satu kata itu yang bisa Baekhyun keluarkan begitu melihat wajah dari seorang Do Min Joo. Dia melirik pada Kyungsoo yang masih menundukkan wajahnya.
"Dia siapa Hunna?" tanya Jongin pada Sehun.
"Ayahnya Kyungsoo."
Ohh itu ayahnya Kyungsoo.
Jongin bangun dari duduknya dan mengabaikan tatapan tak suka dari Sehun. Dia menyampirkan tangan kirinya dipundak Baekhyun, "cie cie yang diajak ketemuan sama calon mertua."
Ini Jongin lupa atau dia memang bodoh ya? bahkan Sehun tahu hubungan tak mengenakkan antara Baekhyun dengan Do Min Joo.
Baekhyun semakin pucat mendengar ocehan Jongin. Dia tidak berani memandang Do Min Joo sekarang.
Sial, kenapa aku lupa kalau dia ada jam hari ini. Umpat Baekhyun dalam hati.
Sehun hanya bisa tersenyum melihat tingkah Jongin yang menurutnya lucu dan begitu polos atau bodoh, terserahlah pokoknya Sehun suka. Dia menggenggam tangan kanan Jongin yang menganggur membuat namja tan itu memandangnya tanpa melepaskan rangkulan dibahu Baekhyun.
Aku mencintaimu, ucap Sehun tanpa suara yang sukses membuat Jongin terbang.
Sehun sekarang paham tak selamanya cinta membawa luka. Dulu dia menganggap cinta itu omong kosong. Kalau cinta itu bukan omong kosong, ibunya tak akan meninggalkan ayahnya dan Jongdae tak akan meninggalkan Sena. Mereka akan bertahan dengan segala macam permasalahan. Bukannya pergi begitu saja dan meninggalkan luka.
Tapi kini Sehun sadar, cinta akan membawa kebahagiaan begitu kau menemukan orang yang tepat, dan bagi Sehun orang itu adalah Jongin.
.
.
"Kenapa kau menyukai Sehun?" Jongin tersenyum karena pertanyaan dari Kyungsoo. Saat ini mereka sedang duduk diperpustakaan yang bisa dibilang sepi. Jongin baru saja melakukan sesi wawancara dengan Kyungsoo tentang Sehun. Menjadi tetangga Sehun dari kecil membuat Kyungsoo tahu banyak tentang namja itu.
Jongin memegang dagunya sambil berpikir,"kenapa ya? dia tampan, putih dan tinggi."
Kyungsoo mendengus, "kalau yang seperti itu kau bisa menerima Kris kemarin bukannya malah menolaknya tapi mengejar Sehun si manusia ansos itu." Jongin tertawa geli, "ternyata kau pintar juga Kyung, tidak seperti si Baekhyun." Jongin sekilas melihat wajah Kyungsoo memerah setelah nama Baekhyun terucap dari bibirnya tapi dia mengabaikan.
"Kalau aku bilang aku menyukai Sehun karena dia satu-satunya yang memalingkan wajah saat perkenalanku dulu, apa kau percaya?"
Kening Kyungsoo berkerut, "maksudmu?"
Jongin memberikan senyuman sebelum menjawab, "kau tahu kan ini bukan pertama kalinya aku pindah sekolah?" Kyungsoo mengangguk, "dan disetiap perkenalan semua murid memperhatikan aku, si murid baru kecuali Sehun. Awalnya memang hanya penasaran tapi lama kelamaan semakin berkembang tanpa aku bisa mencegahnya."
Kini Kyungsoo mengerti, "mau kuberi saran?" Jongin menatapnya antusias sambil mengangguk mantap. "Pasti akan sulit menaklukkan Sehun tapi jangan menyerah untuk membuat Sehun mencintaimu karena sekeras apapun hati manusia pasti akan luluh dengan cinta yang diberikan untuknya."
Jongin tertawa tanpa lupa memukul pelan bahu Kyungsoo, "kata-katamu sama seperti Baekhyun, Kyung." dan kali ini Jongin yakin kalau wajah Kyungsoo memerah mendengar nama Baekhyun disebut.
The End^^
.
.
.
Special thanks to:
Kim Hyomi, ohkim9488, Kim762, Parkchan1027, xiuhan799, alita94, micopark, , kyungni sarang, jongiebottom, bitchykai, dhantieee, ClaraYu, sekaaaaaai, hunkailovers, OhSehunKimJongIn, Jongina88 , 25, jjong86, Arkunakim, asdfghjkl, YooKihyun94, yuviika, Guests dan yang sudah follow sama fav eh ga ketinggalan siders juga,mumumumu:*
Maaf kalau ada bahasa yang kurang berkenan dan ngalay, hehe
Comments are love for me^^
