"Tidak pernah kuduga bahwa kami menangkap pembunuh berantai yang sedang buron, Kakuzu. Yah…! Tapi, sudah tidak ada gunanya lagi menyerahkannya ke polisi bukan?" Kata lawan bicaranya sambil sedikit terkekeh.

"Yap…! Lagipula, bukannya kamu gak penasaran dengan anak berambut merah yang tiba-tiba membuat si pembunuh berantai itu mengikuti strateginya?" Lanjut orang yang membawa tablet sambil masuk kedalam sebuah ruangan.

"Yap…! Tapi, mereka semua memang licik ya? Tidak seperti si rambut ayam itu"

Chapter 05

Island of Truth

Confession

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Sci-fi, Romance, Angst, Crime, Adventure

RnR Please

Happy Read ^_^

Langit tampak berwarna biru cerah, tanpa ada sedikit pun mendung di atas angkasa. Bahkan diatas laut dengan permukaan air yang begitu luas, menyumbang segala macam uap air di udara pun tidak bisa membendung birunya langit dan cerahnya sinar matahari yang menghangatkan pagi ini. Mengapa gerangan? Sosok berambut raven yang berada di bawah rupanya juga penasaran dengan cerahnya pagi ini, meskipun sekarang dia masih tidak bisa memikirkan apapun selain teman rambut pirangnya yang menghilang semalam.

Kaakkk...! Kaakkk...! Kaakkk...!

Oleh karena itu, cowok itu tak bisa menahan rasa terkejutnya ketika dia menemukan sekumpulan burung gagak yang sedang berkerumun. Firasatnya mengatakan hal yang buruk meskipun perasaannya berusaha keras untuk menolak hal buruk yang meracuni pemikirannya semenjak dia datang ke pulau ini. Cowok itu pun membungkuk begitu melihat genangan cairan kental berwarna merah bekas kerumunan gagak yang sekarang sedang terbang itu.

"Apakah dia Deidara?" Tanya Tobi ketika Sasuke sudah membungkuk di depan jasad yang ditemuinya di jalan setapak itu. Jasad itu hanya berupa tubuh saja dengan kepala hancur, tapi dari baju yang dipakainya besar kemungkinan itu adalah Deidara.

"Ini sekitar satu kilo dari gubuk itu ya?" Tanya Sasuke. Tobi pun mengedarkan pandanganya untuk mencari arah dari gubuk tersebut dan kemudian mengangguk pelan setelah memperkirakan jaraknya dari gubuk.

"Kupikir begitu. Apa dia mau kabur dari komplotan? Dimana Kakuzu?" Tanya Sasuke sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.

"Apakah mungkin dia menuju ke arah sebaliknya?" Kata Orochimaru yang baru saja sampai. Tobi menggeleng pelan mendengar spekulasi dari Orochimaru.

"Tidak. Dia tidak mungkin menuju arah sebaliknya. Dia akan mati apabila kita keluar dari gubuk" Kata Tobi. Sasuke mengangguk pelan mendengar ucapan Tobi.

"Selain itu, dari kepalanya yang hencur ini, bisa dipastikan bahwa dia melewati batas satu kilo yang sudah di tentukan oleh Shiro" Timpal Sasuke. Pria berambut raven yang masih tampak penasaran dengan jasad yang sudah tidak utuh lagi itu tampak menyentuh sedikit dibagian tengkuknya. Ekspresinya tetap datar, meskipun ada segurat rasa sedih di mata onyxnya yang kelam.

"Hahhhh...!" Pekik seorang wanita tertahan ketika melihat jasad tersebut. Sasuke pun menoleh mendengar suara yang sudah dikenalnya sejak kemarin sedang memekik kaget. Dia pun melepaskan mainannya tadi dan berjalan mendekati Hinata yang nampak menutupi mulutnya dengan ekspresi shock.

"De...deidara-san? Kalo begitu, Ka-kaku..."

"Tidak, kita belum bisa menyimpulkannya" Potong Sasuke ketika mendengar ucapan gugup dari Hinata. Hinata tampak mengangguk mengerti dengan ucapan Sasuke dan kemudian kembali tenang, meskipun rupanya hidungnya sudah mengeluarkan semacam cairan dan biji lavendernya yang berkaca-kaca.

"Itu Deidara?" Tanya Nagato yang saat itu baru saja datang dari belakang Hinata. Sasuke pun menoleh kearah cowok berambut merah yang dengan ekspresi datarnya melihat ke arah jasad yang tengah terbaring mengenaskan disana. Cowok bertopeng spiral itu pun melirik Nagato dengan tatapan tajam, seolah tidak percaya.

"Ada apa, Tobi-san? Pandanganmu benar-benar tidak mengenakkan. Apa ada yang salah dengan ucapanku tadi?" Tanya Nagato masih dengan nada datar.

"Yap...! Aku hanya heran kenapa kau bisa mengetahuinya hanya dengan melihat dari arah sana. Seharusnya Sasuke-kun dan Hinata-san menutupi pandanganmu kan?" Tanya Tobi sambil berjalan dan menatap serius ke arah Nagato. Cowok itu tidak bergeming dari tempat berdirinya, tidak tampak seperti pelaku pembunuhan yang ketahuan dengan cara dia melakukan pembunuhan.

Kriuukkkk...!

"Kupikir aku..."

"Kau juga, Kurozetsu-san. Kupikir kalian berdua memang terlalu mencurigakan" Kata Tobi sengit. Nagato masih tampak datar sedangkan Kurozetsu hanya terkekeh pelan mendengar ucapan Tobi tadi. Sasuke tampak menghela nafas panjang mendengar tuduhan dari Tobi tadi.

"Sudahlah, kalian bertiga. Bagaimana kalo Kurozetsu-san berjalan dengan Tobi-san dan Sasori-san untuk mencari makanan. Sisanya akan mencari Kakuzu-san" Kata Sasuke memecah keheningan yang tadinya dibumbui oleh tawa mengerikan dari Kurozetsu.

"Kurasa itu ide bagus. Sasugaa, Sasuke-kun. Mereka berdua mungkin tidak boleh dibiarkan bersama" Kata Tobi sambil menghela nafas.

"Kita jadikan mayat Deidara sebagai tempat pertemuan, dan tolong jangan terlalu jauh, mungkin radius 450 meter saja dari sini" Sasuke tampak memberi peringatan. Ingatan tentang pengejaran penyihir yang sudah dibunuhnya tadi malam sekilas menghantui Sasuke. Nampaknya bocah berambut raven ini sudah mengerti akan bug dari rencananya kemaren, meskipun perasaannya masih berusaha untuk mengalihkan tuduhan dari Nagato.

"Baiklah"

Tobi and Kurozetsu….

"Mungkin kita bisa mencoba mencari buah-buahan" Tanya Sasori pada Tobi yang sedang berjalan di depannya. Tobi tampak melirik ke belakang sebentar sebelum akhirnya menghembuskan nafasnya pelan.

"Sebenernya kali ini aku gak mood untuk makan. Aku lebih tertarik dengan penjelasan dari Kurozetsu-san tentang kematian ini" Jelas Tobi blak-blakan. Kurozetsu tampak terkekeh pelan dengan suara yang mengerikan. Bahu hitam lebarnya tampak bergetar ketika suara mengerikan itu keluar dari pangkal tenggorokannya.

"Nampaknya kau sangat tertarik dengan pembunuhan, Tobi-kun? Apakah tidak lebih mudah kalo kita anggap Deidara melarikan diri dari gubuk untuk bunuh diri" Kata Kurozetsu dengan nada sinis. Tobi menggeleng pelan sembari menebas semak belukar yang ada di depannya dengan tangannya.

"Hal itulah yang membuatku sedikit curiga. Kenapa dia bunuh diri seperti itu?" Kata Tobi sambil menatap Kurozetsu penuh dengan kecurigaan. Kurozetsu hanya mengangkat bahunya tidak tahu.

"Mungkin dia ingin membuktikan ucapan Shiro" Kata Kurozetsu.

"Atau mungkin saja karena kau begitu terobsesi dengan pembunuhan, kau menjadi tidak sadar bahwa kau telah membunuh Deidara" Kata Kurozetsu sambil menyeringai. Tobi pun terkejut mendengar ucapan dari Kurozetsu yang mungkin hanya terdengar tidak serius di telinga Sasori, tapi bernada menuduh di telinga Tobi.

"Oi...! Apakah yang seperti itu mungkin?" Tanya Sasori dengan nada tidak tertarik. Bocah berambut merah acak-acakan itu nampaknya lebih tertarik pada pepohonan di sekitarnya untuk mencari buah yang bisa dimakan.

"Sering terjadi kan, dalam drama misteri dimana ternyata seorang detektif itu menjadi pembunuh tanpa sadar dan mengejar bayangannya sedniri" Kurozzetsu terus memanas-manasi Tobi yang masih terdiam dan berjalan di depan.

"Itu hanya ada dalam drama" Sanggah Tobi dengan suara yang sedikit keras. Sepertinya bocah bertopeng jingga itu terpancing juga oleh provokasi dari Kurozetsu yang sekarang tampak menyengir senang melihat taktiknya berhasil.

"Yah...! Mungkin itu hanya ada dalam drama dan terkesan tidak nyata. Tapi, bagaimana dengan pembunuh yang menyamar diantara pada sandra" Ucapan Kurozetsu mengalir begitu saja menuju telinga Tobi yang sudah merah padam mendengar ocehannya sejak tadi. Apa yang dimaksudkannya?

"Kau pasti tahu lah apa maksudku?" Kata Zetsu sambil terkikik geli melihat ekspresi Tobi meskipun tertutup oleh topeng jingganya, dia tampak bingung dan bertanya-tanya.

"Seseorang tidak mungkin menjadi baik terus-menerus. Manusia itu terlahir dengan sifat jahatnya, bahkan kebaikan itu hanyala kejahatan yang ditutupi oleh muka yang manis. Bukankah itu kebohongan? Kebohongan juga merupakan kejahatan kan?" Kurozetsu berusaha merecoki otak Tobi untuk mengajaknya masuk kedalam rencana busuknya. Mungkin saja dia juga ingin memanfaatkan mantan jendral itu untuk menghabisi semua pemain dengan rencana pembunuhan matang dari Nagato sebelum akhirnya membuangnya dan keluar dari pulau ini.

"Kau hanya pandai berfilosof" Sanggah Tobi. Meskipun dia menjawabnya dengan sempurna, tapi jawaban itu terdengar kosong. Seperti bukan Tobi yang biasanya, hanya menjawab seperti mesin menjawab.

"Semuanya terserah padamu" Kurozetsu pun mengakhiri hasutannya dan terkekeh pelan. Tobi hanya terdiam sambil terus berjalan.

"Mungkin kita perlu wadah air" Sasori menyahut tanpa mengerti arti pembicaraan dari kedua rekannya tadi sambil melihat kepada Tobi.

"Kita bisa pakai tempurung kelapa"

~o0o~

Island of Truth

~o0o~

Sementara itu, tidak begitu jauh dari perang batin dan mulut yang terjadi antara Tobi dan juga Kurozetsu, kelompok yang lain nampaknya juga terjadi perang dingin. Keheningan menyelimuti empat orang yang sedang berjalan menjauhi mayat Deidara yang bersimbah darah itu. Pria berambut merah dengan ekspresi datar sudah benar-benar menunjukkan bahwa dia tidak banyak bicara dan bisa bertindak seperlunya, gadis berambut indigo itu pun terdiam sambil tetap berjalan disamping pria berambut raven yang tampaknya sedang memikirkan sesuatu. Sementara pria berambut hitam panjang yang berada diantara mereka bertiga tampak menikmati pemandangan alam sekitar, meskipun raut wajahnya menunjukkan bahwa dia sebenernya bosan dan sedikit canggung dengan situasi seperti ini.

"Jadi, apakah kita tidak ada petunjuk sedikit pun tentang Kakuzu?" Akhirnya pria berambut hitam itu pun menyerah dengan situasi hening ini dan mulai membuka suaranya. Ketiga orang itu tampak tidak merespon apa pun, hanya Hinata yang tampaknya mendengar ucapan Orochimaru dan sekarang tengah menatap Sasuke dengan tatapan ingin tahu dan menunggu jawaban dari pria yang sekarang tengah melamun sambil berjalan tersebut.

"Sa...suke...-kun" Panggil Hinata sedikit gugup. Sasuke pun menolehkan kepalanya kepada gadis berambut indigo tersebut dengan ekspresi kosong, tetapi beberapa saat kemudian dia menatap lembut.

"Gagak, kita mengikuti arah burung gagak yang tadinya diusir oleh Sasuke-kun dari mayat Deidara" Sahut Nagato menjawab pertanyaan Orochimaru. Sasuke yang sepertinya berniat untuk menjelaskannya pada Hinata pun mengurungkan niatnya begitu Nagato sudah menyahut porsi penjelasannya. Orochimaru tampak terkejut dengan jawaban dari Nagato.

"Jadi, Kakuzu telah..."

"Hanya spekulasi saja. Kita tidak menemukan Kakuzu-san saat perjalanan tadi, jadi jika dia berlari menuju arah sebaliknya, maka pasti dia akan mati. Yah...! Jika dia belum mati, maka dia harusnya bersembunyi dan mengikuti kita secara diam-diam" Jelas Sasuke.

"Kalo aku jadi dia, pastinya aku akan menemui tiga orang tadi, menjelaskan bahwa aku menemukan cadangan makanan milik seseorang, lalu menggiring mereka sedikit lebih jauh dari kita. Karena kita yang berjalan disini, maka kita pasti akan mati karena kita yang menjauhi mereka. Empat buah burung dalam satu lemparan" Kata Nagato dengan seulas senyuman dingin. Orochimaru menoleh ke arah pemuda berambut merah itu dengan cepat begitu mendengar ucapan dan rencananya yang begitu busuk.

"Kau benar-benar mengerikan" Kata Orochimaru dengan ekspresi jijik bagaikan melihat onggokan sampah hidup di depannya. Nagato hanya mengangkat bahunya, meskipun ekspresinya masih datar saja.

"Tapi, Sasuke-kun, tidakkah kau juga memikirkan hal itu?" Tanya Nagato meminta pendapat pada Sasuke.

"Tidak, hanya orang yang tidak waraslah yang memikirkan hal demikian" Jawab Sasuke dengan nada dingin. Nagato hanya terkekeh pelan. Mungkin ini kali pertama Nagato menunjukkan suara kekehan yang terdengar seperti seorang orang dewasa yang mengajak bercanda.

"Dan, hanya orang tidak waras juga yang menulis orang yang sangat dibencinya di internet agar orang tersebut terbunuh" Seperti memojokkan Sasuke, Nagato kembali berkata dengan nada datar kepada cowok berambut raven ayam itu. Pemuda itu hanya terdiam sambil terus berjalan lurus, meskipun pria berambut panjang di belakangnya sepertinya benar-benar kesal dengan ucapan campur aduk dari Nagato.

"Ne, Sasuke-kun. Apabila spekulasi Tobi-san tentang diriku dan Kurozetsu bekerja sama, bukankah ini mungkin untukku dan Kurozetsu untuk terus-terusan mendorong kalian melewati batas sementara aku dan Kurozetsu hanya berjalan dibelakang sampai batas aman sementara yang lainnya saling menjauhi sehingga kalian semua terbunuh?" Nagato tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.

"Tidak, aku tahu persis berapa batas 450 meter dari mayat Deidara-san. Tobi-san adalah seorang jendral, dia pasti juga tahu persis berapa batas dia bisa menjauh" Sahut Sasuke mantap.

"Bagaimana jika mereka bertiga bekerja sama? Aku disini untuk mengawasi kalian bertiga dan mereka berjalan perlahan menjauh sampai sedikit lebih jauh dari 550 meter, jika kau kemudian menganggap mereka bisa kau percaya dan pergi sejauh 450 meter sampai batas yang kau tentukan, bukankah itu akan membunuhmu? Sementara aku masih berada dalam batas aman karena aku berjalan di belakangmu" Nagato terus saja membicarakan strategi busuknya untuk membunuh orang yang ada disini secara halus. Meskipun dia hanya membicarakan masalah teori doang, tetapi hal itu mungkin membuat kuping Orochimaru panas.

"Jangan berkata apa-apa, Orochimaru-san. Aku hanya berpikir bahwa dia sedang memancing kita untuk berbohong" Cegah Sasuke sebelum Orochimaru mengucapkan sepatah kata sekalipun.

"Bukankah itu mengerikan untuk tidak percaya pada siapapun? Hidup menjadi tidak tenang dan penuh akan kebohongan, tipu daya, dan ketakutan akan kebenaran. Aku hanya menghindari hal tersebut, bukan karena aku sok baik atau apa, tapi karena aku hanya ingin hidup tenang dan menjadi diriku sendiri" Kata Sasuke sambil menatap ke atas.

"Bersama dengan seseorang yang kumengerti dan juga mengerti diriku" Gumam Sasuke melanjutkannya tanpa bisa di dengar oleh siapapun.

"Wow...! Mulia sekali cita-citamu itu, Sasuke-kun" Ejek Nagato sambil bertepuk tangan seadanya dengan nada datar. Mereka berempat menembus semak belukar untuk menemukan apa yang mereka spekulasikan tidak jauh dari saat Nagato bertepuk tangan.

Kaaakkk...! Kakkkk...! Kakkkk...!

Kembali cowok berambut raven itu mengusir kerumunan gagak hitam yang berada di depannya sehingga menyebabkan kawanan burung hitam bagaikan peliharaan malaikat maut itu terbang menyebar sambil mengeluarkan suara melodi kematian yang menyeramkan seolah puas dan senang akan kematian seseorang yang sekarang tengah terbaring bersimbah darah di atas akar pohon yang menjulang tinggi di hutan tersebut.

Sama seperti keadaan Deidara, kepalanya sudah tidak berbentuk lagi, bahkan sudah benar-benar pecah berantakan. Tapi, dari pakaian yang dia kenakan, sudah bisa dipastikan bahwa mayat itu adalah hasil spekulasi dari mereka berempat, Kakuzu.

Hinata secara refleks seperti biasanya, menutup mulutnya yang menganga karena terkejut dengan mayat yang berada di depannya. Hari ini ada dua mayat dengan keadaan yang sama mengenaskannya, Sasuke tampak terdiam sejenak memandangi mayat. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan menenangkan Hinata terlebih dahulu atau menghampiri mayat. Beberapa saat kemudian kakinya bergerak cepat memeriksa mayat Kakuzu sekilas. Seperti tim forensik dari kepolisian, dia memeriksa setiap inchi dari luka yang dialami oleh Kakuzu (jika kalian bisa menyebutnya luka), terutama di bagian tengkuknya. Tanpa rasa jijik sekalipun, Sasuke merogoh tulang leher berwarna merah pekat itu dan kemudian mengeluarkan tangannya yang sudah bersimbah dengan darah Kakuzu. Lalu dia berdiri dan merangkul Hinata menggunakan tangan yang lainnya.

"Ini aneh bukan?" Kata Sasuke entah pada siapa.

"Hmm...! Memang aneh, menurut spekulasiku, Deidara mengejar Kakuzu sambil mengancam akan membunuhnya. Karena ancaman itu Kakuzu melarikan diri dan kemudian melewati batas dan mati. Jika diperkirakan dari jarak antara mayatnya dan batas cukup jauh, artinya dia lari cukup kencang sampai-sampai jasadnya masih berlari meskipun kepalanya sudah hancur. Sedangkan Deidara mati karena mencoba untuk membunuh Kakuzu" Jelas Nagato.

"Aku benar-benar benci mengatakan hal ini, tapi pemikiranku juga sama tidak warasnya dengan pemikiranmu" Kata Sasuke dengan nada datar.

"Well, kita disini memang tidak waras bukan?" Sergah Nagato dengan ekspresi datarnya dan kemudian mengamati jasad Kakuzu seperti Sasuke mengamatinya tadi.

"Tidak ada bekas ikatan atau apapun disini" Gumam Nagato pelan, meskipun akhirnya Sasuke juga mendengar gumaman pelan itu. Alis hitam tipis itu pun sedikit terangkat mendengar ucapan aneh dari Nagato.

"Apa maksudmu dengan bekas ikatan?" Tanya Sasuke tajam. Nagato hanya memutar bola matanya dengan ekspresi bosan melihat reaksi Sasuke.

"Apakah kau tidak menyadarinya juga? Bukankah ada kemungkinan kalo seseorang dari kita membunuhnya?" Tanya Nagato.

"Tidak, apakah kau berpikir bahwa menyeret seseorang sampai batas aman, yaitu satu kilo dari mayoritas rombongan itu berarti bisa membunuh mereka tanpa khawatir akan mati?" Kata Sasuke dengan nada tajam.

"Yap…! Secara teknis begitu, bahkan jika kita pura-pura meninggalkan satu orang yang sudah kita ikat di dalam gubuk, kita bisa saja membunuhnya bukan?" Kata Nagato tetap dengan wajah datar.

"Sepertinya kau pernah berniat melakukannya" Sergah Sasuke tajam. Nagato tampak menyeringai seram ketika dituduh Sasuke seperti itu.

"Saa nee. Bukankah membiarkan temanmu mati itu juga sama dengan membunuhnya?"

"Anggap saja jika aku berspekulasi begitu, menurutmu siapa yang membunuh mereka berdua?" Tanya Sasuke.

"Tentu saja orang yang menemukannya pertama kali kan?" Kata Nagato sambil tersenyum mengerikan. Sasuke masih tampak berwajah datar ketika mendengar ucapan Nagato seperti itu. Entah dia bingung, atau khawatir setelah dipojokkan oleh Nagato sedemikian rupa.

"Tapi, aku sedikit terkejut kau bisa menyimpulkan pemikiran yang sama denganku, Sasuke-kun. Kemana sifat..."

"Ah...! Aku ingat sekarang" Orochimaru yang sedari tadi diam saja rupanya tidak menjadi pengamat perdebatan sengit antara Sasuke dan Nagato. Pria berambut hitam panjang itu masih mengingat-ingat sesuatu yang berada jauh didalam pikirannya.

"Ada apa, Orochimaru-san?" Tanya Sasuke mendengar seruan Orochimaru tadi. Pria berambut hitam itu pun berjalan menuju ke arah jasad Kakuzu dan menunjuk dadanya. Sebuah gambar ular yang melingkar mengelilingi sebuah paku besar yang ujungnya menusuk kepala ular tersebut membentuk tanda dollar. Rupanya Kakuzu mentato dadanya dengan tato yang kelihatan benar-benar mengerikan.

"Ini, aku pernah melihat berita tentang kumpulan pembunuh bayaran. Rupanya komplotan mereka mempunyai tato seperti ini" Jelas Orochimaru. Tentu saja hal ini membuat Sasuke benar-benar terkejut, bahkan Nagato yang terkesan dingin itu pun melebarkan kedua matanya mendengar berita dari Orochimaru tersebut.

"Kakuzu-san, pembunuh bayaran?" Hinata juga tampak tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. Wajah cantik itu bertambah shock setelah mendengar hal itu, berbanding terbalik dengan wajah Nagato yang kembali datar.

"Aku tidak pernah mendengar pembunuh bayaran semacam itu" Sergah Nagato yang membuat Orochimaru menggaruk-garuk kepalanya sambil mengingat hal yang baru saja dia katakan.

"Oh...! Itu ternyata hanya sebuah film fiksi horror, tapi mungkin saja Kakuzu melakukan kejahatan tiruan yang terinspirasi dengan film itu. Benar kan? Hahahaha...!" Orochimaru pun membenarkan ucapannya tadi sambil sedikit menambahkan sebuah tawa canggung pada akhir kalimatnya. Namun, ekspresi yang berbeda ditunjukkan oleh kedua pria yang sekarang seperti terkesiap oleh hal yang baru saja mereka sadari.

Onyx tajam milik Sasuke dipenuhi perasaan khawatir dan ketakutan yang amat sangat, sementara mata ungu dari Nagato tampak seram dengan seringaian tipis, saking tipisnya bahkan itu tidak bisa disebut dengan seringai. Kedua mata itu pun berbenturan ketika mereka melirik ke arah satu sama lainnya.

"Tobi-san, petunjukmu benar-benar tidak menarik" Batin Sasuke dengan ekspresi wajah khawatir melihat Nagato menyeringai penuh kemenangan.

Brukkkk...! Nguunnnggg...!

Meanwhile….

"Wow...! Mereka berdua benar-benar mengerikan. Aku sampai bergidik membayangkan krisis mental apa yang dialami oleh bocah Uchiha itu"

"Tapi, bukankah dia sudah menginjak ranjau mematikan"

"Haha...! Benar-benar deh. Bila mereka berdua mati, bukankah game ini tidak akan ada seru-serunya? Orang bodoh itu rupanya mengacaukan permainan ini"

"Yah...! Apa boleh buat, mungkin kita bisa bermain sedikit unfair disini, demi keseruan permainan ini"

"Yap...! Selagi orang itu tidak melihatnya. Persetan dengan aturan Shiro"

TBC

Siapakah dua orang yang bercakap-cakap di akhir cerita? Petunjuk apa yang diberikan Tobi sehingga menyulut perang dingin antara Sasuke dan Nagato?

Yah…! Ternyata si Kakuzu ikut mati juga. Siapa yang salah nih? Pembunuh bayaran kok malah dibunuh XD.

Untuk alasan bagaimana mereka bisa sampai di pulau ini tanpa sadar, hmmmm….! Bagaimana ya? Sebenernya author sudah beberapa kali kasih hint (mungkin hampir di tiap chapter ya?), tapi tampaknya petunjuk saya masih samar (atau malah petunjuk saya gak masuk akal nih wkwkwkw….! -_-)

Yosh…! Untuk chapter berikutnya, mungkin update Sabtu depan, dan author juga pengen buat cover story sih. Ada yang punya ide?

Hmmmm….! Jadi untuk pesan akhir gak boleh happy read ya, jadi apa dong (author ga bisa ngarang kata-kata nih).

Ah….! Baiklah, mungkin kasih style yang varokah aja deh :v

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Don't forget to review….!