"Wow...! Mereka berdua benar-benar mengerikan. Aku sampai bergidik membayangkan krisis mental apa yang dialami oleh bocah Uchiha itu"

"Tapi, bukankah dia sudah menginjak ranjau mematikan"

"Haha...! Benar-benar deh. Bila mereka berdua mati, bukankah game ini tidak akan ada seru-serunya? Orang bodoh itu rupanya mengacaukan permainan ini"

"Yah...! Apa boleh buat, mungkin kita bisa bermain sedikit unfair disini, demi keseruan permainan ini"

"Yap...! Selagi orang itu tidak melihatnya. Persetan dengan aturan Shiro"

Chapter 07

Island of Truth

Return Point

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Sci-fi, Romance, Angst, Crime, Adventure

RnR Please

Happy Read ^_^

Langit biru cerah itu tampak tidak ternodai oleh awan sedikit pun, tetapi rimbunnya pepohonan nampaknya menghalangi sang mentari untuk memanaskan bumi yang berada di bawahnya. Kumpulan burung gagak berwarna hitam yang sedang berteriak-teriak, seolah senang dengan kematian sang pembunuh, juga bahaya yang kini mengancam sang pemain.

Brukkkk...! Nguuunnngg...!

Benda bulat tak beraturan itu jatuh begitu saja, tanpa ada peringatan ataupun reaksi dari empat orang yang masih berdebat tentang kematian sang pembunuh. Cairan kental berwarna coklat bening kekuningan mengalir dari salah satu lubang segi enam yang terlihat ketika kulit lilin itu mengelupas. Tak lama kemudian ratusan, tidak, mungkin jumlahnya sudah mencapai ribuan serangga dengan racun penyengat yang sudah siap di perutnya keluar. Ketiga orang itu jelas tidak mengetahui apakah pasukan lebah itu sedang marah atau kesal dengan mereka, tapi yang jelas itu bukanlah ajakan untuk bekerja sama.

Naas bagi pria berambut hitam panjang yang posisinya berada paling dekat dengan sarang lebah yang jatuh tersebut, kerumunan itu secara tiba-tiba langsung mengerubunginya.

"Arrrgghhhh...!" Jerit Orochimaru. Nampaknya dia sudah mulai disengat oleh koloni lebah yang marah itu. Secara refleks dia melarikan diri, lari meninggalkan tiga orang yang dalam keadaan aman hanya berdiri dan melihatnya.

"Orochimaru-san, jangan lari terlalu jauh. Itu bahaya" Seru Sasuke sambil mengejar Orochimaru, tapi sebuah tangan memegang bahunya. Sasuke pun menoleh ke arah pemuda berambut merah yang sekarang sedang memperhatikan sarang lebah yang tergeletak tak berdaya di atas tanah.

"Itu lebah persilangan antara lebah Eropa dan Afrika. Lebah paling ganas yang pernah diketahui hingga saat ini" Kata Nagato.

"Ti... tidak mung...kin" Gumam Hinata lemah mendengar ucapan Nagato. Sasuke pun mengibaskan tangan Nagato yang berada di pundaknya dan menatap datar ke arah Nagato.

"Bagaimanapun ganasnya, kita harus tetap menyelamatkan Orochimaru-san" Kata Sasuke dengan nada tajam. Nagato masih tampak terdiam dengan ucapan dari Sasuke, meskipun dalam hatinya ada sedikit perasaan dongkol juga menghadapi sifat Sasuke. Betapa tidak, dia telah menjebaknya untuk berbohong beberapa kali.

"Apa-apaan ini, dia benar-benar manusia yang aneh" Batin Nagato ketika mengetahui bahwa taktiknya kali ini tidak berhasil. Bagaimanapun baiknya seorang manusia, dia pasti akan lebih mementingkan dirinya sendiri daripada orang lain, bahkan meskipun tindakannya sendiri mencerminkan bahwa dia peduli terhadap orang lain, apakah hatinya juga berpikir demikian? Bila tidak, bukankah dia juga termasuk berbohong?

Hinata masih diam, sepertinya dia mulai tergantung pada Sasuke, bahkan ketika mengambil keputusan krusial semacam ini. Apakah Sasuke terlalu memanjakannya? Mungkin tidak...

"Ano...! Sasuke-kun, bagaimana sarang lebah itu bisa begitu saja jatuh dari pohon?" Tanya Hinata. Sasuke pun terdiam sejenak mendengarkan ucapan Hinata, sedangkan Nagato menyipitkan matanya, menatap sinis kepada Hinata yang seolah-olah memancing Sasuke untuk memikirkan hal sepele seperti itu. Ada apa dengan gadis indigo pemalu ini? Apakah dia tahu sesuatu meskipun dia pendiam?

"Hinata-san, apakah kau tahu sesuatu yang penting?" Kata Nagato dengan nada penuh ancaman. Hinata menyembunyikan diri dibalik bahu lebar Sasuke ketika mendengar ucapan Nagato. Biji lavender miliknya menatap wajah sinis Nagato dengan penuh ketakutan, seperti seekor anjing yang berhadapan dengan monster buas yang belum pernah di temuinya.

"Apa maksudmu? Meskipun sekarang kau tahu kebenaran dari aturan pertama, kau tidak bisa seenaknya menuduh orang, Nagato-san" Sergah Sasuke. Nagato menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman meremehkan kepada Sasuke.

"Apakah pikiranmu telah dibutakan oleh cinta? Bukankah kemaren kau bilang bahwa kau ingin cewek yang menolakmu menghilang, sehingga kau menuliskannya di halaman online?" Tanya Nagato dengan nada meremehkan kepada Sasuke. Beberapa saat kemudian wajahnya berubah datar, nada suaranya dingin, tanpa perasaan.

"Jika kau berharap demikian pada cewek yang menolakmu, bagaimana jika cewek yang berada di belakangmu itu mengkhianatimu?" Ucapan Nagato meluncur masuk kedalam telinga Sasuke. Otak cemerlangnya kini hanya tertuju pada ucapan tersebut. Persetan dengan Orochimaru yang sedang lari terbirit-birit dikejar koloni lebah entah kemana. Sasuke hanya memikirkan ucapan Nagato tadi.

"Sasuke-kun, mu...mungkin, kita... harus selamatkan Orochimaru-san terlebih dahulu" Kata Hinata dengan nada yang sedikit gugup bercampur gemetar.

"Mau mengelak, eh?" Sergah Nagato sambil menyeringai ke arah Hinata. Cewek indigo itu hanya menunduk pelan sambil menarik-narik lengan Sasuke, tapi sepertinya bocah Uchiha itu mulai termakan hasutan Nagato. Dia pun membalikkan badannya dan meletakkan tangannya diatas pundak Hinata. Wajah cantik cewek itu tampak meringis menghadapi cengkraman lengan kuat Sasuke.

"Sa...suke...-kun" Rintihnya pelan sambil menatap wajah Sasuke yang berada di atasnya. Mata onyx kelam itu tidak lagi dipenuhi dengan kehangatan seperti biasanya. Mata itu jauh lebih kelam, dingin dan terlihat keras.

"Hinata, kemaren aku menanyakan hal ini padamu, tapi tampaknya aku hanya menuntut saja. Untuk kali ini..." Dengan penuh percaya diri, cowok berambut raven itu mengelus pelan belakang kepala Hinata sambil tetap menatap mata lavender yang masih terlihat meringis itu. Hanya dalam waktu sehari, dia melupakan peristiwa penolakan yang membuatnya masuk kedalam masalah pulau ini, dan membiarkan Hinata masuk kedalam kehidupannya. Mungkin ini yang dinamakan dengan takdir kan? Kita tidak tahu apa yang menunggu di depan kita.

Untuk saat ini, cowok berambut raven itu sudah cukup percaya diri dengan perasaan Hinata padanya. Bagaimana dia bersikap ketika bersama dengannya? Bagaimana dia yang juga mati-matian berlari terus bersamanya meskipun ada opsi untuk menghindar? Dan, bagaimana dia berani menggendongnya ketika dia sangat kelelahan setelah membunuh penyihir itu?

"Aku yang akan memulai duluan. Aku menyukaimu, bagaimana perasaanmu padaku?" Tanya Sasuke lancar. Dalam hatinya, dia benar-benar yakin bahwa Hinata akan menerimanya. Tak ada ketakutan, tak ada keraguan, yang ada hanya harapan untuk bersama dengan gadis yang mencintainya sepenuh hati. Bahkan bila mati hari ini sekalipun Sasuke tidak akan keberatan, karena dia sangat yakin bahwa Hinata akan mati bersamanya.

"Mencari gadis yang baik itu mudah, tetapi gadis yang bersedia mati untukmu..."

Mata lavender Hinata menatap kosong, entah karena bingung mau menjawab apa, atau terkejut dengan ucapan Sasuke tadi. Beberapa saat kemudian, wajah polos gadis itu berubah menjadi wajah terkejut ketika melihat sesuatu di atas Sasuke.

"Sasuke-kun..." Gumam Hinata lirih. Tangan mungilnya yang tadinya memegang lengan Sasuke, mencoba untuk melepaskan cengkeramannya, kini menunjuk ke atas. Sasuke pun mengangkat pandangannya ke ranting pohon yang terletak cukup tinggi diatasnya, begitu pula dengan Nagato yang tadinya hanya diam menyaksikan drama di depannya.

Benda bulat tak beraturan itu menggantung di atas mereka bertiga, tepatnya di dahan pohon yang dekat dengan Nagato. Beberapa lebah tampak beterbangan di sekitar benda tersebut, seolah berjaga-jaga bila ada musuh yang menginvasi sarang yang sudah dibuat dengan susah payah itu.

"Itu... lebah Asia" Celetuk Sasuke. Nagato pun hanya mengangguk mendengar ucapan Sasuke, mereka berdua sama-sama terkesiap sejenak melihat sarang lebah itu menggantung di dekat sarang lebah hybird Eropa-Afrika tanpa berperang satu sama lain.

"Kau pasti memikirkan hal yang sama kan?" Tanya Sasuke. Nagato masih terdiam dan mengangguk pelan.

"Tapi, apakah ini tidak terlalu berbahaya?" Tanya Nagato.

"Tidak, ratu mereka pasti akan menjaga telur lebah di dalam sarang, sedangkan lebah juga memiliki hasrat yang tinggi untuk berperang" Jelas Sasuke. Nagato tampak tersenyum miris mendengar ucapan Sasuke.

"Sama seperti manusia. Tapi, apakah kau yakin mereka tidak akan menyerang kita?" Kata Nagato sedikit ragu-ragu.

"Tidak…! Tidak salah lagi, ini pasti di sediakan untuk hal itu. Selain itu…." Sasuke terdiam ketika akan melanjutkan kalimatnya. Pemuda berambut merah panjang yang berada di sampingnya itu pun melirik ke arah Sasuke dengan tatapan datar dan ekspresi tidak tertarik.

"Bukankah aneh apabila ada benda yang jatuh dari pohon hanya karena kau berjalan ke dekatnya?" Pertanyaan Sasuke sontak langsung membuat pandangan Nagato berubah. Pria berambut panjang itu pun mengalihkan pandanganya ke depan.

"Aku dulu juga kuliah di fakultas ilmu komputer kau tahu. Sudah kuduga bahwa hal metafisika seperti ruh pulau itu tidak ada" Kata Nagato dengan ekspresi sinis.

"Baiklah, mungkin kita harus mencobanya terlebih dahulu. Coba jatuhkan sarang lebah itu, berjalanlah ke dekat pohon yang ada di belakangmu" Nagato pun berjalan dengan tenang seperti yang diperintahkan oleh Sasuke. Tanpa ada aba-aba sama sekali, sarang lebah Asia yang berada jauh diatas pohon itu pun jatuh. Kerumunan lebah yang sama banyaknya dengan lebah Afrika-Eropa pun keluar dari retakan yang timbul akibat jatuh tadi, tapi anehnya kerumunan itu malah terbang menuju ke arah sarang lebah Afrika-Eropa yang dijatuhkan oleh Orochimaru tadi.

Ratusan lebah itu mulai menginvasi sang ratu dan lebah pekerja yang ditinggalkan oleh tentaranya. Dengungan demi dengungan bersahut-sahutan mengisyaratkan genderang perang lebah yang ditabuh oleh ketiga orang yang kebingungan tadi. Ratusan lebah yang tadinya pergi mengejar Orochimaru pun segera bergegas kembali mempertahankan sarangnya dari invasi sang rival, perang besar-besaran pun tidak dapat dielakkan lagi.

Diantara suara dengungan yang bergemuruh, tiga orang manusia berlari menuju ke arah berlarinya Orochimaru tadi. Lebah Eropa-Afrika memang ganas, tetapi mereka tidak akan bisa membunuh seorang manusia hanya dengan sengatannya saja. Mereka yakin bahwa Orochimaru masih hidup, selama dia tidak melewati batas satu kilo dari Tobi dkk.

Tetapi, ternyata kejadiannya lain...

"Astaga...!" Seru Sasuke setelah melihat apa yang terjadi dengan Orochimaru. Tapi, kali ini tidak ada kesedihan atau ekspresi pilu mengetahui keadaan Orochimaru. Hinata masih tampak terdiam, tidak menunjukkan wajah shocknya ketika melihat kondisi Orochimaru yang mengenaskan, sedangkan Nagato masih tetap seperti biasanya.

Tubuh pria itu masih bisa dikenali sebagai tubuh seorang manusia, kepalanya pun masih utuh, tapi yang mengenaskan adalah bekas sengatan lebah yang membengkak, seperti orang terkena penyakit kaki gajah. Wajahnya tampak membeku dalam kesakitan, dengan ukuran kepala yang menyerupai orang berpenyakit hydrocephalus, tetapi tidak bulat rata. Badannya membengkak, dan ada beberapa luka yang mengeluarkan nanah di sekujur tubuhnya. Beberapa bagian tubuhnya juga terlihat mengeluarkan darah segar. Sepertinya pria ini lari tanpa pandang bulu sehingga mendapati banyak luka ringan di sekujur tubuhnya.

"Bahkan jika itu adalah lebah hybird Eropa-Afrika, kurasa sengatannya tidak akan separah ini" Gumam Sasuke sambil memeriksa jasad Orochimaru.

"Yap...! Itu pasti menguatkan dugaan kita. Aku akhirnya mengerti kenapa mereka melakukan system bohong seperti itu" Sahut Nagato. Hinata pun menoleh ke arah Nagato dengan wajah heran.

"Apa maksudnya, Sasuke-kun?" Tanya Hinata dengan nada sedikit penasaran. Sasuke pun sedikit mengangkat alisnya dengan ekspresi heran. Bukankah yang menjelaskan adalah Nagato, tetapi kenapa yang ditanyakan Sasuke?

"Intinya, sistem bohong yang ada dalam pulau ini adalah ketidakcocokan antara apa yang ada di dalam pikiran berbeda dengan apa yang diucapkan. Kamu bisa berkata 'aku tidak akan mengatakannya' bila kamu sedang dipaksa untuk mengatakan kebenaran. Selain itu..." Onyx milik Sasuke nampak bergerak menyamping, mengerling kearah Nagato yang masih berdiri dengan wajah datar di sebelah mereka berdua.

"Ini hanya dugaan saja, jadi mungkin aku tidak bisa mengatakannya" Kata Sasuke. Hinata tampak memiringkan kepalanya dan menatap Sasuke dengan ekspresi heran di wajah polosnya.

"Kenapa?" Tanyanya.

"Karena dia masih ragu, dia menghindari resiko untuk berbohong. Bukankah ketika kamu ragu, kamu masih akan mencari bukti untuk membenarkan pendapatmu? Ketika kamu menemukan fakta yang bertolak belakang dengan pendapatmu, kamu pasti akan berbohong" Sahut Nagato menjawab pertanyaan Hinata. Senyuman sinis terdengar dari mulut pemuda berambut raven tersebut setelah mendengar jawaban dari Nagato.

"Huh...! Manusia memang menjijikkan bukan? Bahkan ketika mereka diancam akan mati ketika berbohong, mereka masih tetap ngotot untuk berbohong" Kata Sasuke sambil tersenyum sinis.

"Yap...! Manusia memang makhluk pembohong kan, Hinata-san?" Ucap Nagato penuh penekanan. Hinata hanya terdiam mendengar ucapan Nagato yang seolah terdengar menyudutkannya itu. Beberapa saat kemudian, sebuah lengan yang hangat melingkari leher jenjang gadis berambut indigo tersebut dan merangkulnya dengan penuh perasaan.

"Mungkin kesimpulan yang bisa kudapat adalah, bagaimanapun kita akan mendeteksi kebohongan tersebut, manusia pasti akan tetap berbohong" Kata Sasuke sambil tersenyum. Kali ini bukan senyuman sinis sepeti tadi, senyumannya penuh dengan kehangatan.

"Untuk apa kita susah-susah mendeteksi kebohongan, bukankah kita hanya harus saling mempercayai? Tidak harus dengan semua orang, karena satu orang yang bisa kau percaya itu lebih dari cukup" Kata Sasuke sambil menatap gadis yang berada didalam rangkulannya tersebut dengan tatapan lembut. Gadis itu masih terdiam dalam rangkulan hangat Sasuke, sebelum akhirnya dia mendekatkan diri pada tubuh pria tersebut.

"Ano, sebenarnya, Sasuke-kun..." Dada Sasuke berdetak kencang mendengar suara gugup Hinata. Apakah ini... apakah Hinata akan memberikan jawabannya sekarang?

"Aku..."

"Orochimaru-san..." Suara seruan keras terdengar dari belakang tiga orang tersebut. Sasuke pun berbalik dan melihat makhluk bertopeng yang sudah berdiri di belakangnya.

"Apa yang terjadi disini?"

~o0o~

Island of Truth

~o0o~

Kepulan asap berwarna hitam tampak mengudara dari sebuah gubuk terpencil di tengah sebuah pulau yang tampak tidak berpenghuni tersebut. Tetapi, mustahil gubuk tersebut tidak berpenghuni apabila gubuk tersebut sudah mengeluarkan kepulan asap sepekat itu, bukan? Di dalamnya, duduk dengan formasi melingkar, enam orang yang sudah berhasil selamat dari ganasnya pulau, dan kejamnya kebohongan manusia. Suasana hening dan kelam, meskipun ini tidak sekelam keadaan sebelumnya ketika melihat teman mereka mati.

Makanan sederhana tampak terhidang dengan cukup rapi di tengah-tengah orang tersebut. Meskipun makanan sederhana itu bahkan tidak akan menarik perhatian orang miskin sekalipun, tetapi lain halnya dengan orang yang tidak punya pilihan. Betapa tidak, mereka merebus lebah korban peperangan tadi dengan menggunakan santan dan mencampurnya dengan parutan kelapa yang mereka campurkan dengan rempah-rempah seadanya. Beberapa potong daging panggang tanpa bumbu tersedia hanya cukup untuk porsi enam orang tersebut. Tempurung kelapa juga berjejer di depan setiap orang dan berisi air kelapa, sedangkan tempurung kelapa tua mereka gunakan untuk menampung air yang mereka dapat dari sungai di hilir.

Kebanyakan sungai di hilir memang terasa payau, tetapi Kurozetsu memberanikan dirinya melewati batas hilir untuk mencari air yang tawar. Sasori memanjat pohon kelapa untuk mencari buah kelapa di dekat pesisir sambil mengawasi daerah sekitar. Menurutnya, pulau itu berbentuk elips dan gubuk itu sedikit berada di titik fokusnya, artinya mereka harus berjalan lurus menjauhi pesisir dari gubuk tersebut. Dan, mereka merencanakan untuk melakukannya malam ini. Sedangkan Tobi secara tidak sengaja menemukan rusa yang sedang enak ngemil dedaunan dan memanfaatkan kelengahan rusa tersebut untuk membunuhnya dengan menggunakan batu runcing.

Sasuke dan Nagato menceritakan kepada mereka kejadian Kakuzu dan Orochimaru selama perjalanan menuju gubuk. Matahari semakin tinggi, dan perut mereka semakin melilit karena lapar. Meskipun makanan yang berada dihadapan mereka sekarang ini terasa sangat tidak mencukupi, mereka masih tetap lahap memakan makanan sederhana tersebut.

Tak ada yang bicara, tak ada yang mau membuka pembicaraan. Semuanya asyik dengan makanan mereka, seolah mereka sudah melupakan adegan sadis yang menimpa pada teman mereka.

Setelah sarapan….

"Kurozetsu-san, aku mau bertanya tentang sesuatu" Kata Tobi sambil melirik ke sekitar untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengupingnya.

"Ara…! Tobi-kun, aku penasaran dengan apa yang akan kau bicarakan" Jawab Kurozetsu dengan nada enteng, sementara Tobi sudah serius dengan ucapannya tadi.

"Apa pekerjaanmu sebelum ini?"

"Pekerjaanku? Hmmm...! Apa ya? Apakah aku bisa mempercayaimu?" Kata Kurozetsu sambil nyengir kearah Tobi.

"Berhentilah bercanda, Kurozetsu-san. Aku juga benar-benar terkejut mengetahui bahwa Sasuke dan Nagato mengetahui tentang sistem berbohong itu" Kata Tobi sambil duduk di sebelah Kurozetsu. Raut wajahnya terlihat kesal entah pada siapa. Tetapi, bila dilihat dari ucapannya baru saja, sepertinya dia berhasil menguping ucapan Sasuke dan Nagato saat mereka menemukan jasad Orochimaru di hutan. Kurozetsu hanya tersenyum kecil mendengar penuturan Tobi.

"Orang pandai hanya akan mementingkan diri mereka sendiri, hanya orang bodoh yang mementingkan orang lain. Mungkin dia jujur tentang cerita perang lebah itu, tetapi dia tidak menyebutkan bagaimana lebah itu menyerang Orochimaru kan?" Kata Kurozetsu. Tobi tampak terdiam sejenak.

"Mungkin saja aturan kedua soal membunuh itu juga memberlakukan sistem pikiran. Jika kita membunuh seseorang tanpa ada niat membunuh mungkin saja tidak akan disebut dengan pembunuhan bukan?" Kata Tobi yang hanya dijawab dengan anggukan pelan oleh Kurozetsu.

"Aku seorang politisi, Tobi-kun" Kata Kurozetsu. Tobi tampak mengangguk mendengar ucapan dari cowok hitam tersebut.

"Kudengar kau seorang jendral, artinya kau sudah tahu bukan? Kebusukan orang-orang di dalam pemerintahan?" Tanya Kurozetsu.

"Iya, mereka sama busuknya dengan dirimu" Sergah Tobi dengan wajah serius. Kurozetsu tampak terkekeh pelan mendengan ucapan Tobi yang terdengar serius tersebut.

"Seperti yang kuduga dari seorang jendral, kau sama sekali tidak punya bakat untuk melucu. Sekali-sekali kau harus sedikit berhumor agar orang lain tertarik terhadapmu" Kata Kurozetsu.

"Apa mereka juga yang membunuh Kakuzu-san dan Deidara-san?" Tanya Tobi. Kurozetsu hanya angkat bahu mendengar pertanyaan cowok bertopeng itu.

"Aku tidak tahu siapa pembunuhnya, tapi yang pasti bukan mereka. Dari mayat itu sudah bisa terlihat dengan jelas bukan kejadiannya?" Tanya Kurozetsu. Tobi hanya memandang bocah hitam tersebut dengan tatapan heran. Apanya yang jelas dari kematian mereka berdua?

"Kakuzu adalah pembunuh bayaran. Tidak aneh jika instingnya bangkit. Mungkin saja Deidara di kejarnya sambil membawa batu atau sejenisnya dan memaksanya untuk keluar dari batas satu kilo dan mati disana" Jelas Kurozetsu.

"Tapi, kenapa mayat Kakuzu-san berada puluhan meter di depan Deidara-san? Bukannya yang mengejar adalah Kakuzu-san?" Tanya Kurozetsu.

"Itulah yang menjadi misteri saat ini. Rencana Kakuzu adalah mengejar Deidara, tetapi yang terjadi adalah, mereka berdua dikejar oleh sesuatu. Sesuatu yang menyeramkan, bahkan Kakuzu si pembunuh sekalipun berlari sangat kencang sampai-sampai tubunnya tidak sadar bahwa kepalanya sudah pecah. Kakinya masih tetap berlari sampai beberapa puluh meter di depan Deidara yang langsung tumbang setelah melewati batas satu kilo.

"Sesuatu yang menyeramkan" Gumam Tobi. Tanpa mereka sadari, sepasang biji hazel menatap mereka dari jarak yang cukup untuk menguping pembicaraan mereka. Rambut merah acak-acakan itu pun berjalan berbalik menjauhi kedua orang yang masih berdiskusi itu. Wajahnya merah padam, entah karena marah atau karena malu.

"Bodoh, kau mendekati orang yang salah" Umpatnya entah pada siapa.

Meanwhile…..

"Bagaimana ada koloni lebah Asia disana? Apakah ada yang meletakkannya disana?" Seseorang yang berlagak sebagai bos di tengah-tengah orang dengan warna mata yang sama cerahnya. Mereka semua saling berpandangan satu sama lain.

"Mungkin itu sejenis bug, siapa yang bertugas merancang lingkungan disitu?" Seseorang dengan rambut coklat panjang menyahut.

"Tidak apa-apa kan. Toh, ada yang terbunuh" Jawab seorang pemuda dengan santainya. Suasana di ruangan tersebut mulai ricuh dengan ucapan dari pemuda tersebut. Ada yang setuju, ada yang menolak mentah-mentah.

"Diamlah, kalian semua" Sebuah suara yang dingin mulai terdengar di seluruh penjuru ruangan tersebut. Perlahan suara ricuh itu pun mulai tenggelam ditelan suara dingin itu.

"Kali ini, biarkan aku memakai nama itu..."

"Shiro"

TBC

Akhirnya….

Tobi dan Kurozetsu sepertinya sudah resmi mau bekerja sama nih? Apakah akhirnya Sasuke juga mau bekerja sama dengan Nagato? Sepertinya Sasori juga mengetahui sesuatu tuh, tentang Hinata atau tentang Sasuke?

Ah….! Author kerjanya ngebut nih, kalo ngetik gak dipikir dulu, gomen kalo chapter ini sedikit mengecewakan.

Bahasanya jadi terlalu berat yah? XD. Beberapa hari ini author baca LN Monogatari series, mungkin terpengaruh kali ya *alasan*. Tapi, author akan berusaha buat Bahasa yang sedikit ringan. Tapi, entah janjinya kapan, yang jelas bukan chapter ini, XD.

Untuk yang masih bingung dengan kenapa mereka dibawa ke pulau, nanti akan ada penjelasan di akhir story.

Hinata mau dibuat Dark Hinata? Hmmm…! Kedengarannya menarik tuh, akan author pertimbangkan XD, tapi kan Sasukenya jadi kasihan. Udah dicampakan sama Ino, sekarang dimanfaatin sama Hinata.

Untuk chapter selanjutnya, mmmmm…! Akan author usahakan minggu depan sudah bisa update. Targetnya sih akhir September udah tamat (masih lama yak wkwkwkwk…!)

Author juga punya sedikit unek-unek, mungkin akan buat one shot crossover.

Thanks for Read

Don't forget to review….!