"Tidak apa-apa kan. Toh, ada yang terbunuh" Jawab seorang pemuda dengan santainya. Suasana di ruangan tersebut mulai ricuh dengan ucapan dari pemuda tersebut. Ada yang setuju, ada yang menolak mentah-mentah.

"Diamlah, kalian semua" Sebuah suara yang dingin mulai terdengar di seluruh penjuru ruangan tersebut. Perlahan suara ricuh itu pun mulai tenggelam ditelan suara dingin itu.

"Kali ini, biarkan aku memakai nama itu..."

"Shiro"

Chapter 08

Island of Truth

Truth of Shiro

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Sci-fi, Romance, Angst, Crime, Adventure

RnR Please

Happy Read ^_^

Mentari pagi yang tadinya menghangatkan kulit dan menguatkan tulang, sekarang mulai berbalik menyerang. Panasnya semakin terik ketika sang surya mulai bergerak semakin tinggi dari ufuk timur. Bayangan pepohonan semakin memendek, menunjukkan waktu tengah hari pada jam matahari sederhana.

Di sebuah gubuk kecil, dua orang sedang bercengkrama. Dengan raut wajah yang sama seriusnya, tetapi jika diperhatikan, mereka berdua benar-benar berbeda. Salah seorang dari mereka berwajah tampan dengan ekspresi lembut. Meskipun onyx hitam legam itu nampak setajam elang, tetapi pandangannya tidak menyiratkan kehausan darah sang predator udara. Sedangkan yang satunya lagi juga tidak kalah tampannya, hanya saja dia hampir tidak memiliki ekspresi. Mata ungunya nampak datar dan kosong, seperti seorang pembunuh yang tanpa ekspresi, alias dewa kematian.

Jika kita masuk kedalam, kita juga akan melihat orang ketiga. Gadis dengan rambut indigo yang indah terurai sampai di punggungnya. Mata lavendernya tampak sedikit mencuri pandang pada cowok berambut raven yang sedang duduk diatas lantai bersama dengan cowok berambut merah darah di sisi dalam jendela. Beberapa saat kemudian, gadis itu pun mengalihkan pandangannya sambil memainkan jari telunjuknya.

"Kita berangkat setelah matahari tergelincir kan?" Tanya Nagato sambil menatap ke luar jendela.

"Uh...! I..iya, Nagato-san" Jawab Hinata dengan gugup. Sasori, Tobi, dan Kurozetsu sedang menyiapkan rute perjalanan mereka dan mencari perbekalan yang dibutuhkan untuk menuju ke pusat pulau. Kelihatannya mereka benar-benar tidak punya waktu senggang untuk bercengkrama secara santai semenjak mereka datang ke pulau ini.

Bayangkan saja, kemarin mereka baru saja di kejar oleh penyihir kelaparan, lalu Deidara dan Kakuzu yang tiba-tiba menghilang, ditambah dengan kejadian Orochimaru yang dikejar lebah. Mungkin tidak berlebihan apabila kita katakan bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat kuat dalam menghadapi segala macam marabahaya seperti diatas. Belum lagi tekanan dari Shiro bahwa mereka bisa saja terbunuh dengan kepala hancur apabila mereka menentang sang ruh pulau ini. Bahkan seorang perwira militer pun mungkin akan jadi gila jika dihadapkan dengan situasi seperti ini.

"Apa kau sudah mempersiapkan semua barang bawaanmu, Hinata?" Tanya Sasuke sambil menoleh ke arah Hinata. Hinata langsung cepat-cepat mengalihkan pandangannya dari Sasuke ketika dia kepergok sedang mencuri pandang.

"Ha...hai...! Su...sudah, Sasuke...-kkkun" Jawabnya semakin gugup. Sasuke hanya bisa mengangkat alisnya heran dengan kegugupan Hinata, sebelum akhirnya dia kembali menolehkan kepalanya keluar jendela.

"Apa yang sedang kau pikirkan, Sasuke-kun? Tak biasanya kau diam seperti ini. Apa kau sudah..."

"Huaaa...!" Mata ungu itu pun menoleh kearah suara pekikan pelan yang berada di belakangnya.

Krosak...! Sssss...!

"Go...gomenasai. Akan kubereskan" Seru Hinata sambil membungkukkan badannya. Api yang tadinya menyala di perapian tempat mereka memanaskan air, kini sudah tinggal abunya saja. Gadis berambut indigo itu dengan cepat mulai mengisi ketel yang ditumpahkannya tadi. Sedangkan dua orang sisanya hanya duduk sambil menghela nafas. Oi...! Oi...! Oi...! Apa kalian tidak kasihan sama tuh cewek?

"Kukira kau juga sedang memikirkan dugaan kita kan? Memang benar, ada yang aneh dengan pulau ini" Kata Nagato membuka pembicaraan. Sasuke hanya mengangguk pelan sambil tetap memfokuskan matanya kearah luar jendela.

"Tidak ada hewan buas, kawanan herbivora, dan hewan melata" Lanjut Sasuke.

"Hmmm...! Selain itu, kau juga bisa lihat kan pola kayu yang digunakan untuk membuat rumah dan pohon yang ada disini pun kebanyakan serupa" Kata Nagato sambil menunjuk ke garis-garis kayu yang berada di bingkai jendela tempat mereka duduk. Sasuke hanya terdiam sejenak sambil terus menatap lembut ke arah luar jendela. Beberapa saat kemudian dia pun menegakkan punggungnya dan menghela nafas berat.

"Jangan terlalu banyak dibicarakan. Bisa saja Shiro mendengar ucapan kita" Sahut Sasuke sambil sedikit tersenyum lemah kepada Nagato. Onyx hitamnya kemudian berubah menjadi tajam, senyumannya hilang entah kemana.

"Kau pernah bilang jika kau tidak percaya dengan Shiro kan? Menurutmu Shiro itu siapa? Kenapa mereka menggunakan nama itu?" Tanya Sasuke sambil menatap tajam ke arah Nagato. Pria berambut merah itu pun mengalihkan pandangannya dari jendela dan menatap Sasuke dengan tatapan sedikit heran dengan pertanyaan tiba-tiba dari Sasuke.

"Entahlah, aku tidak punya pendapat tentang itu. Mungkin dia semacam orang yang membuat permainan ini" Kata Nagato.

"Tujuannya?" Tuntut Sasuke.

"Aku tidak tahu. Lagipula, apa fungsinya kau mau mengetahui seseorang itu berbohong atau tidak? Mungkin tujuan mereka adalah..." Nagato yang sedikit frustasi menjawab Sasuke dengan sedikit keras. Tetapi, beberapa saat kemudian ucapannya terputus ditengah jalan, seolah dia menemukan sesuatu. Sasuke pun nampaknya juga sedikit terkejut dengan ucapan Nagato barusan.

"Apa yang kau lakukan pada penyihir kelaparan yang mengejar kita kemaren?" Tanya Nagato mengubah arah pembicaraan. Ekspresi Sasuke pun berubah, dia menggeleng pelan sambil mengangkat bahunya. Sejenak kemudian dia tampak teringat sesuatu tentang penyihir yang mengejarnya kemaren.

"Mungkin kita harus mengeceknya juga kan?" Tanya Nagato sambil berdiri dari duduknya. Onyx Sasuke berkilat mendengar ucapannya, dia pun ikut berdiri dan kemudian dengan cepat dia berjalan keluar dari gubuknya.

"Hinata, aku pergi dulu. Aku akan pulang sebelum kita berangkat" Pamit Sasuke pada gadis berambut indigo yang sedang memasak air tersebut.

"Um...! Hati-hati, Sasuke-kun" Jawab Hinata dengan riang.

"Ada yang tidak beres dengannya"

~o0o~

Island of Truth

~o0o~

Terik matahari yang menyengat tidak menurutkan niat kedua pemuda itu untuk berjalan menuju ke gua tempat sepasang muda mudi kemaren sempat hampir menumbalkan nyawanya. Memang tidak begitu jauh, tetapi cukup untuk membuat dua pemuda itu mandi keringat.

Keheningan menyelimuti kedua pemuda pendiam itu. Mereka berdua sibuk dengan spekulasi dan tebakan mereka masing-masing tentang apa yang terjadi dengan pulau ini. Mungkin ada baiknya jika kita menyibak pemikiran salah seorang dari kedua pemuda tersebut.

Sasuke's POV

Mengejutkan...! Benar-benar mengejutkan.

Sekarang aku bekerja sama dengan orang yang membuatku jijik bahkan ketika aku pertama kali bertemu dengan dirinya saat di pantai itu. Apakah ini yang disebut dengan karma? Hmm...! Mungkin saja.

Tapi, aku benar-benar terkejut ketika dia memikirkan hal yang sama denganku. Tentang peperangan lebah, kematian Deidara-san dan Kakuzu-san, juga tentang strategiku kemaren. Sekarang pertanyaannya, apakah dia juga sedang memikirkanku saat ini?

Tidak, tidak, bukan begitu maksudku. Aku masih suka sama cewek, yah...! Sebut saja Hinata. Tapi, aku penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh orang ini tentang diriku? Apakah dia ingin menjatuhkanku? Ataukan dia malah ingin mengajakku bekerja sama?

Jika dia memang memiliki pemikiran yang sama denganku, mungkin dia bisa jadi partner yang bagus untuk keluar dari sini dan membungkam 'Shiro'. Tetapi, jika melihat dari sifatnya, pastinya dia ingin menyingkirkanku segera setelah dia bisa selamat dari sini.

Tapi, hal yang sama bisa kulakukan juga kan jika kami memiliki pemikiran yang sama?

Tentu saja aku tidak bisa melakukan hal keji seperti itu. Pemikiran kami memang sama, tetapi sifat, kepribadian, dan perasaan kami berbeda bukan?

Eh...! Apa aku memang sudah bisa membaca sifatnya? Dia memang telah membunuh cewek berambut biru itu, dan telah berteori tentang trik pembunuhan di pulau ini, tapi apa aku memang sudah mengenalnya? Bagaimana jika dia melakukannya karena terdesak situasi?

Hmmm...! Apa yang harus kulakukan?

End of Sasuke's POV

"Sasuke-kun, bukannya kau juga menyadari kalo ada yang aneh dengan mayat Deidara?" Tanya Nagato. Sasuke yang tadinya sibuk dengan pemikirannya pun langsung menoleh kepada Nagato.

"Hmm...! Benar juga. Sumsum tulang belakangnya sepertinya hilang, seolah ada yang menghisap melalui tulang lehernya" Kata Sasuke. Oh, itulah mengapa Sasuke memeriksa mayat Kakuzu waktu itu, mungkin untuk memeriksa sumsum tulang belakangnya juga

"Tapi, mayat Kakuzu masih tetap ada sumsumnya kan?" Tanya Nagato yang hanya dijawab dengan anggukan pelan oleh Sasuke.

"Jika dilihat dari jarak kematian Kakuzu yang cukup jauh dengan Nagato, itu artinya mereka sedang dikejar oleh sesuatu"

"Yup...! Kau tidak penasaran apa sesuatu itu?" Tanya Nagato sambil sedikit mengangkat sebelah alisnya. Sasuke menggeleng pelan.

"Tidak. Bukankah hal itu juga menguatkan dugaan kita? Sekarang kita hanya perlu melihat mayat si penyihir itu untuk mengetahui apa sebenarnya tujuan dari permainan ini" Jelas Sasuke. Nagato tampak terkekeh pelan mendengar keseriusan Sasuke.

"Yups...! Apakah dia itu juga seorang survivor seperti kita ataukah..."

"Bukan, sepertinya dia bukanlah manusia seperti yang kita kira sebelumnya" Kata Sasuke ketika dia sampai di mulut gua tempatnya bersembunyi bersama dengan Hinata kemaren. Masih terbayang dalam ingatannya, sosok wanita mengerikan yang membawa pisau daging besar sedang mengejarnya yang waktu itu sudah hampir mati kehabisan tenaga bersama dengan Hinata. Darah segar yang menyiprat ketika dia menusuk lehernya dengan stalaktit yang dia temukan saat dia mencium aroma kapur yang sangat kental di dalam gua tersebut. Bahkan aroma itu pun sekarang masih tersisa begitu jelas di rongga hidungnya, bersama dengan bau anyir darah yang memancar dari urat nadi penyihir tersebut.

Tetapi, sekarang, tempat tersebut bersih seperti tidak terjadi apa-apa. Hanya mulut gua yang terbuka lebar, tidak ada bekas darah, mayat yang seharusnya masih tersisa dan sudah hampir membusuk. Ataukah mungkin ada semacam mekhluk pembersih pembunuhan? Entahlah, tapi sepertinya dua orang dengan otak cemerlang itu sekarang sudah mencapai kesimpulan bersama.

"Jadi, tujuan kita berada disini adalah..." Sasuke memandang Nagato dengan tatapan tajamnya.

"Kelinci percobaan yang digunakan untuk mengelabui Shiro" Sambung Nagato. Sasuke hanya menganggukkan kepalanya pelan mendengar ucapan Nagato.

"Penyihir itu bukanlah seorang survivor sebelum kita, dia hanya orang yang dikirimkan untuk membuat kita berada pada situasi hidup dan mati, sehingga tidak ada pilihan lain bagi kita selain membela diri dengan membunuh orang tersebut" Jelas Sasuke. Nagato tampak terkekeh pelan mendengar ucapan Sasuke.

"Ne, Sasuke-kun. Bukankah kau sudah membunuh penyihir itu? Kau tau apa artinya kan?" Kata Nagato sambil menyeringai ke arah Sasuke. Mata hitam Sasuke yang tadinya tajam, sekarang berubah menjadi meluap-luap seperti dikelilingi oleh amarah. Kaki kecilnya sedikit melangkah mundur menjauhi Nagato yang sekarang sedang menyeringai seram kepada Sasuke.

"Tenang saja, Sasuke-kun. Bukankah ini lebih seru? Sistem untuk aturan kedua hampir sama dengan sistem untuk aturan berbohong, kau bisa membunuh jika kau tidak berpikir untuk membunuh, atau jika kau sedang membela diri. Seperti yang biasanya sudah kulakukan" Kata Nagato sambil berjalan mendekati Sasuke dengan mata ungu yang menyala, entah karena semangat atau hawa membunuhnya yang terlalu besar. Sasuke yang bertubuh kecil itu hanya bisa bertingkah seperti makhluk lemah yang tidak bisa membela diri. Melarikan diri pun percuma saja, dia pasti akan tertangkap bagaimana pun caranya.

Tangan kekar Nagato mencengkeram kerah baju Sasuke dan mengangkatnya sedikit lebih tinggi, sampai sejajar dengan matanya. Sasuke hanya bisa meronta-ronta meskipun usahanya hampir sia-sia.

"Lepaskan, bangsat...!" Nagato hanya menyeringai pelan mendengar teriakan Sasuke tersebut.

"Tenanglah, Sasuke-kun. Kau tidak akan berpisah dengan Hinata-san, aku akan segera menyusulkannya untukmu. Bukankah jika spekulasi kita benar, kau bisa segera bertemu dengannya disana?" Nada bicaranya masih saja tenang. Sang pembunuh berdarah dingin telah lahir melalui permainan maut ini, pembunuh yang bahkan bisa membunuh tanpa merangsang detak jantung dan ekspresi wajah mereka.

"Tapi, Sasuke-kun. Sebelum kau mati, mungkin aku harus bertanya kepadamu sedikit. Kenapa kita harus mengelabui Shiro? Bagaimana jika Shiro mendengar pembicaraan kita? Apakah dia akan merubah pemikirannya tentang pembunuhan? Bukankah Shiro juga yang menyuruh kita membunuh satu sama lain agar hanya ada satu dari kita yang selamat?" Pertanyaan Nagato membuat Sasuke sedikit mengernyitkan dahinya heran.

"Artinya, Shiro bukanlah orang yang memiliki kecerdasan. Tidak, tidak, bisa diumpamakan dia itu seperti robot. Robot yang bisa mendeteksi kebohongan dan pembunuhan lalu bereaksi membunuh si pelaku. Dan jika Shiro yang menyuruh kita untuk membunuh satu sama lain, itu artinya ada seseorang yang mengendalikan Shiro" Sasuke mencoba untuk menarik kesimpulan dari pertanyaan Nagato barusan.

"Tepat sekali. Dan, pastinya orang itu sedang mendengarkan pembicaraan kita entah darimana" Kata Nagato sambil melepaskan Sasuke dari cengkramannya.

"Dan, jika dia berani mengirimkan penyihir psikopat itu kesini, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan pada kita berdua"

-0-

Matahari masih mencoba untuk terus memanaskan bumi dengan teriknya ketika sudah hampir tengah hari. Dua orang yang tadinya masih tegang pun sekarang sudah santai kembali setelah menemukan kebenaran tentang Shiro dan tujuan mereka dibawa ke pulau ini.

"Jangan ceritakan ini kepada siapa pun dulu. Selain itu, jika dugaan kita tentang tujuan kita dibawa ke pulau ini adalah untuk mencetak seseorang yang bisa mengelabui Shiro sang robot 'kebenaran' maka artinya seseorang yang lolos menuju pusat pulau akan dimanfaatkan oleh seseorang itu kan?" Kata Sasuke. Nagato hanya mengangguk pelan mendengar ucapan dari Sasuke.

"Oleh karena itu, aku tadi melepaskanmu, Sasuke-kun. Aku masih tidak sudi untuk dikendalikan orang lain, jadi untuk kali ini, mohon bantuannya" Bisik Nagato. Sekarang mereka nampaknya lebih berhati-hati setelah mengetahui kebenaran dari pulau tersebut. Mereka berdua sudah mengerti, bagaimanapun juga, jika kita memberontak pada Shiro, ataupun melakukan apa yang Shiro katakan, semuanya akan mati. Jadi, bukankah lebih baik mati demi melakukan sesuatu yang benar daripada mati karena membunuh teman sendiri?

Oleh karena itu, untuk saat ini, mereka akan meyakinkan diri mereka bahwa tidak boleh ada yang mati.

-0-

"Apa maksudmu dengan kita tunda perjalananya besok? Bukannya sudah tidak ada waktu lagi?" Tanya Tobi dengan ekspresi marah kepada Nagato sekaligus Sasuke saat mereka menjelaskan bahwa rencana kabur diundur menjadi besok pagi. Kurozetsu tampak diam saja mendengar rencana mereka berdua, matanya diam menatap Nagato seolah minta penjelasan. Nagato hanya membalasnya dengan tatapan datar, tapi beberapa saat kemudian dia mengangguk pelan. Mungkin mereka akan bicara disuatu tempat beberapa waktu lagi.

"Sudah kubilang kan, ada sesuatu yang aneh dengan pulau ini. Tobi-san, kau adalah seorang jenderal, apa kau percaya pada takhyul semacam ruh pulau dan bencana besar yang sudah diramalkan? Kukira beberapa bencana besar yang diramalkan tidak juga kunjung datang kan?" Tanya Sasuke. Tobi tampak sedikit terkejut dengan ucapan Sasuke, tapi beberapa saat kemudian dia tampak berdecak kesal.

"Meskipun Shiro mengatakan bahwa ada sesuatu yang bisa menyelamatkan kita di pusat pulau ini, apa ada jaminan bahwa dia tidak berbohong? Bukankah lebih baik mati bersama-sama daripada harus membunuh temanmu untuk mencoba selamat tetapi kau tidak tahu apa yang akan terjadi setelah kau selamat?" Tanya Nagato dengan nada datar. Kurozetsu tampak terkejut dengan ucapan Nagato barusan. Dia benar-benar tidak percaya Nagato bisa menelurkan kata-kata semacam itu.

"Katakan itu pada dirimu sendiri, Nagato-san" Sergah Tobi. Pria berambut merah itu hanya mengangkat bahu, seolah tidak peduli dengan apa yang dikatakan Tobi. Sementara, pria berambut merah yang satunya hanya tampak diam sambil menatap tajam Sasuke. Apa yang sedang dipikirkan oleh pria berambur merah acak-acakan itu?

-0-

Malam sudah larut, keheningan menyelimuti kegelapan yang pekat di luar sana. Meskipun bulan sudah menerangi malam kelam itu dengan gagahnya, tanpa mendung sedikit pun, tapi sinar putih lembutnya tidak mampu menembus kasar dan dinginnya hutan belantara di luar sana. Keenam orang yang tadinya berdebat tentang kapan mereka akan keluar dari pulau ini sekarang tengah tertidur lelap, menunggu esok hari yang mungkin saja menjadi hari terakhir mereka di dunia ini. Mereka semua tidur di ruangan terpisah karena saking kecilnya ruangan dari gubuk si penyihir.

Srekkk...! Krieeettt...!

Sosok manusia terdengar membuka pintu sebuah ruangan, dan di dalam ruangan yang sempit itu, dua sosok manusia sedang tertidur lelap dengan posisi bersebelahan. Orang yang masuk itu pun mendekati salah seorang manusia yang tertidur disitu, di bekapnya mulut manusia tersebut pelan sekali dengan tangan kiri agar dia tidak merasa sesak nafas. Tetapi, ternyata ada maksud lain dibalik pembekapan itu. Tangan kanannya mengeluarkan pisau yang terlihat berkilat ditimpa sinar rembulan dan bersiap untuk menusukkan pisau tersebut ke leher orang yang tidur.

Buagh...!

Orang yang tidur di sebelahnya tampaknya masih terjaga sehingga bahaya pun bisa dihindari ketika orang tersebut melayangkan sebuah tendangan keras pada sosok tersebut. Sosok itu pun terhuyung kebelakang dan kemudian menabrak pintu.

"Aku tahu kau membenci Hinata, Sasori-kun. Tapi, aku benar-benar tidak menyangka kau akan melakukan hal sekeji ini" Cahaya lampu minyak yang dinyalakan langsung membuka kedok sosok berambut merah acak-acakan tersebut. Mata hazelnya nampak sedikit ketakutan, meskipun dalam mata tersebut tersimpan kemarahan yang amat besar.

"Pandangan mata yang sama denganku, ketika aku ditolak oleh Ino. Sama sepertiku, kau ingin membunuhnya, ingin dia hilang dari dunia ini" Onyx Sasuke menatap tajam pada sosok berambut merah yang sedang terduduk di depan pintu tersebut. Gadis indigo yang tadinya akan dibunuh itu pun sekarang bangkit dari duduk sambil menatap Sasori dengan tatapan cemas. Melihat gadis tersebut membuat cowok berambut merah itu menatapnya dengan penuh kemarahan.

"Jangan tatap aku dengan tatapan seperti itu, Kau hanyalah pembawa masalah, sama seperti orang itu. Kau hanyalah seorang cewek manja yang hobinya hanya menyusahkan dan memanfaatkan orang lain, aku akan membunuhmu" Kata Sasori sambil menghunuskan pisau yang dibawanya ke arah Hinata. Sosok itu pun berdiri dan mulai menerjang ke arah Hinata, tetapi Sasuke yang berada disana tentu saja tidak tinggal diam.

Pria berambut raven itu menangkap pergelangan tangan Sasori dan menguncinya di atas kepalanya. Pemuda berambut merah itu pun mengangkat kakinya untuk menendang bagian selangkangan Sasuke yang terbuka lebar. Menerima serangan telak seperti itu tentu saja membuat pria berambut raven itu roboh sambil memegangi perutnya yang mual.

"Jangan halangi aku, dasar sampah. Kau benar-benar bodoh mau diperalat olehnya" Kata Sasori sambil menendang Sasuke kesamping seolah Sasuke hanyalah tumpukan sampah ditengah jalannya. Hinata hanya bisa mundur dengan tatapan ketakutan, tetapi bukankah ruangan itu terbatas? Akhirnya, gadis berambut indigo itu hanya bisa meringkuk ketakutan dipojokan ruangan seperti anjing kecil. Sasuke juga tampaknya belum menyerah menghadapi Sasori, pria berambut raven itu pun berdiri dan menerjang Sasori dari belakang. Mereka berdua bergulat cukup lama di depan Hinata. Dan, berakhir dengan Sasuke yang memiting leher Sasori.

"Diem dulu, botol saos. Sekarang, gw udah tahu tujuan kita kesini. Yang penting nunggu besok aja, jangan mati dulu, bego" Sungut Sasuke. Kenapa bahasanya jadi berubah ya? Persetan dengan semua itu.

"Hoo...! Sepertinya kau sudah benar-benar dibodohi oleh cewek ini. Apa kau mau mati bersamanya juga, Sasuke-kun?" Tanya Sasori dengan nada penuh ancaman. Onyx kelam tajam itu beradu pandang dengan hazel yang dpenuhi dengan amarah.

"Aku bisa saja membunuhmu disini tanpa khawatir akan mati kau tahu. Sekarang lebih baik kau duduk dan tenangkan dirimu" Kata Sasuke dengan nada dingin. Sasori tampak tersenyum sinis meremehkan pada Sasuke.

"Aku akan tenang apabila aku sudah membunuhnya" Kata Sasori sambil menghunuskan pisaunya pada Hinata. Mata lavender itu tampak meringkuk ketakutan melihat pisau daging yang dibawa oleh Sasori.

"Dia hanya makhluk tidak bersalah. Kenapa kau membawa cinta masa lalumu yang kelam itu kesini? Yang berbohong akan mati bukan? Sikap penjilat bermanis muka hanya akan membawamu menuju jurang kematian" Celoteh Sasuke.

"Makanya aku percaya pada Hinata" Lanjut Sasuke. Sasori tampak melotot mendengar ucapan Sasuke tadi dan menatap marah kepada Sasuke.

"Kau hanya orang bodoh, apa yang kau tahu soal ditipu oleh cewek semanis dia? Kau akan tahu sendiri akibatnya nanti. Bahkan di pulau kebenaran seperti ini sekalipun, kalian semua masih bisa berbohong. Tidak ada manusia yang benar-benar baik kau tahu, apalagi wanita yang tiba-tiba saja bertindak menyenangkan kepadamu ketika pertama kali mengenalmu" Kata Sasori sambil meronta-ronta. Tangannya yang membawa pisau tampak masih berusaha untuk menjangkau Hinata yang masih meringkuk di sudut ruangan.

"Kau terlalu trauma dengan masa lalumu. Kau tidak ingin ada orang yang memiliki gadis manis yang bersedia berkorban untuk orang tersebut. Nasibmu yang terlalu malang dalam kisah percintaan membawa kebencian pada orang dengan kisah cinta yang romantis. Terlalu membencikan sampai-sampai kau ingin membunuhnya, apakah begitu, Sasori-kun?" Tanya Sasuke dengan nada dingin. Sasori pun berhenti begitu mendengar ucapan dari Sasuke. Beberapa saat kemudian mulutnya mengeluarkan kekehan terputus-putus.

"Siapa yang bilang begitu? Apakah kau tahu rasanya dikhianati, Sasuke-kun?" Kata Sasori sambil membalik pandangannya menuju ke arah Sasuke. Pisau yang tadinya mengarah ke depan sudah berbalik menuju ke belakang, seolah mau menusuk orang yang berada di belakangnya.

Arrrggghhhh...! Crat...!

Teriakan memilukan kembali terdengar. Kali ini warna merah yang biasanya menghiasi kepala bocah tersebut, semakin pekat. Bahkan beberapa juga mengenai Sasuke yang masih memiting leher yang kosong tanpa kepala tersebut. Kematiannya kali ini begitu mendadak, bahkan tidak ada respon sama sekali dari Sasori bahwa dia akan mati.

"Manusia memang menjijikkan. Bahkan bila mereka tahu perbuatan mereka menjijikkan, mereka masih saja berbohong pada diri sendiri, mencari alasan yang bisa membenarkan tindakan mereka" Tubuh itu pun ambruk ketika dilepaskan oleh Sasuke yang sudah bersimbah darah. Pancaran cairan merah kental itu keluar dari nadi yang masih berdenyut di leher Sasori dan menyebabkan genangan darah yang tercecer dimana-mana.

"Kau tak apa, Hinata" Tanya Sasuke sambil menghampiri Hinata yang masih terlihat shock. Dia pun duduk di samping Hinata sambil merangkul pundak kecil tersebut, mencoba untuk menenangkan gadis berambut indigo yang shock melihat banyak sekali kematian dalam waktu 24 jam ini.

Srek…! Srek…! Srek…!

Suara mengerikan itu mulai terdengar dari arah luar gubuk. Siapa yang datang? Apakah makhluk yang membuat Deidara dan Kakuzu terbunuh?

Sasuke mulai bersikap waspada. Didekapnya Hinata yang berada di sampingnya dengan erat, mengacuhkan darah yang menggenang dan mulai lengket di sekitarnya.

Krieettt...!

Pintu ruangan tersebut berderit terbuka. Hawa dingin yang menusuk masih kedalam ruangan tersebut. Sosok manusia hitam itu pun memandang Sasuke yang masih bersama Hinata dengan tatapan datar. Dia pun melihat ke bawah, seringaian lebar muncul dari bibirnya, menampakkan sebaris gigi putih yang tampak menyeramkan dalam kegelapan.

"Apa kau membunuhnya, Sasuke-kun? Kau mengerikan" Kata Kurozetsu sambil terkekeh pelan.

"Tidak, dia melanggar aturan pertama" Jawab Sasuke dengan nada datar.

"Tidak ada alasan bagi Sasori-kun untuk berbohong. Apa kau menyembunyikan sesuatu, Sasuke-kun?" Tanya Tobi dengan nada sengit.

"Tidak, aku mengatakan yang sebenernya"

"Katakan yang sebenarnya. Kenapa kau membatalkan jadwal melarikan diri kita menjadi besok pagi? Apakah kau berniat melakukan hal menjijikkan malam ini" Tanya Tobi sambil berjalan meju menuju Sasuke yang masih merangkul Hinata yang shock. Sosok bertopeng itu mencengkeram kerah Sasuke, meskipun dia masih membiarkan Sasuke untuk menapak di tanah kali ini, tidak mengangkatnya seperti yang dilakukan Nagato tadi siang.

Cratt...! Arrggghhhh...!

Genangan darah Sasori pun mulai terlihat penggumpalan, kali ini ada darah yang lebih pekat yang bercampur.

TBC

Wow….! Sasori ternyata tidak cemburu dengan Sasuke, tapi sebaliknya, tampaknya dia kasihan sama Sasuke. Oke, tinggal lima orang lagi. Rencananya sih, mau dibikin 12 chapter (biar mirip anime gitu XD)

Kali ini, ada yang menjerit lagi? Siapakah itu? Hmmm….! Mungkin reader kali ini udah bisa menebak siapa dia?

Sasuke dan Nagato juga sudah menemukan hampir semua teka-tekinya. Tinggal bagaimana cara mereka untuk mengalahkan musuh dalam selimut *ups*, tidak-tidak, musuhnya berada di luar selimut kok XD.

Untuk Mo, ya ya ya, kayak gitu masuk akal juga ya. Bisa dipake tuh ide

Untuk NurmalaPrieska, hmmm…! Gatau ya, selama ini saya hanya buat fic happy end kok ^_^. Etapi, yang crossover minggu lalu itu sad end ya? Hmmm….!

Untuk viryaparamita, detektif yang menyamar ya? Hhmmm…! Gimana ya? Ide bagus juga tuh, kayanya bisa dipake juga (sebenernya mau author apaan sih -_-)

Sorry, untuk minggu depan author ga bisa update, capek banget. Selain itu, ada yang minta alternate ending buat one-shot yang kemaren, jadi author coba buatkan XD. Dan, untuk chapter ini gada spoiler.

Thanks for Read

Don't forget to review….!