"Katakan yang sebenarnya. Kenapa kau membatalkan jadwal melarikan diri kita menjadi besok pagi? Apakah kau berniat melakukan hal menjijikkan malam ini" Tanya Tobi sambil berjalan meju menuju Sasuke yang masih merangkul Hinata yang shock. Sosok bertopeng itu mencengkeram kerah Sasuke, meskipun dia masih membiarkan Sasuke untuk menapak di tanah kali ini, tidak mengangkatnya seperti yang dilakukan Nagato tadi siang.

Cratt...! Arrggghhhh...!

Genangan darah Sasori pun mulai terlihat penggumpalan, kali ini ada darah yang lebih pekat yang bercampur.

Chapter 09

Island of Truth

Killer of Serial Killer

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Sci-fi, Romance, Angst, Crime, Adventure

RnR Please

Happy Read ^_^

Suasana malam yang cerah, bulan purnama bersinar terang tanpa ada yang menyaingi di langit yang gelap. Banyak yang mengatakan bula begitu curang, karena meskipun bukan merupakan cahaya miliknya sendiri, tetapi dia bisa menerangi malam sendirian, mengalahkan miliaran bintang yang berpijar.

Tapi, suasana masih terasa gelap di sebuah gubuk di tengah lautan tempat pembunuhan massal berlangsung. Sosok dengan tubuh hitam tampak merayap dengan susah payah, menyebrangi lautan merah pekat yang menggenang di lantai gubuk. Beberapa saat kemudian dia berbalik ketika sudah sampai di sisi buntu ruangan, bersama dengan empat orang yang masih berdiri dengan tatapan terkejut, dan seorang lagi yang tampaknya sudah tewas tidak bernyawa dengan kepala yang hilang.

Orang bertubuh hitam itu berdiri dengan nafas terengah-engah sambil memegangi pundaknya yang ngilu. Mata kuningnya melebar begitu melihat apa yang ada di hadapannya. Makhluk berkaki empat itu tampak menatapnya dengan mata merah menyala, suara gemerisik seperti suara desisan serangga terdengar dari mulutnya yang menyerupai taring laba-laba. Hewan itu tampak seperti serangga tanpa sayap berkaki empat dengan rangka luar yang dilapisi sedikit daging dengan cairan seperti darah yang menetes-netes, hampir seperti kucing yang sudah dikelupas kulitnya.

Tapi, bukan hal itu yang mengejutkan cowok berkulit hitam itu.

Seonggok tangan tampak kaku tak bergerak di mulut makhluk tersebut. Dari kulitnya, benar-benar tidak salah lagi... dengan wajah tak karuan sosok bertubuh hitam itu pun mengangkat tangan kirinya.

"Arrrggghhhh...!"

Hilang...! Tangan kiriku, hilang. Mungkin seperti itulah yang ingin dikatakan oleh sosok tersebut, tapi yang keluar hanya jeritan memilukan dari mulutnya. Darah luka tersebut mengucur semakin deras, menambah banyak genangan merah yang sudah mulai mengental dalam ruangan tersebut. Sasuke dengan sigap langsung merobek lengan kaosnya dan mengikat bahu Kurozetsu untuk menahan denyut nadi di daerah ketiaknya agar Kurozetsu tidak mati kehabisan darah.

Sedangkan sisanya, melihat makhluk tersebut dengan tatapan waspada. Mata merah menyala makhluk tersebut seakan mengetahui maksud dari tatapan waspada tersebut, ikut membalasnya dengan tatapan mengancam sambil menggigit (jika bisa disebut menggigit) tangan Kurozetsu di mulutnya.

Mereka semua terpojok, hanya ada satu jalan keluar, yaitu pintu tempat makhluk tersebut masuk yang sekarang sudah dihalangi oleh tubuh makhluk tersebut. Mereka juga tidak tahu, seburuk apakah makhluk yang sudah membuat seorang serial killer macam Kakuzu lari tunggang langgang sampai ajal kematiannya. Diam adalah pilihan terbaik bagi mereka.

"Grrrhhhh...!" Suara geraman mirip anjing tampak keluar dari makhluk tersebut. Taring yang mengapit tangan tadi mulai terbuka dan menjatuhkan bangkai tangan kulit hitam itu diatas genangan darah. Nampaknya makhluk tersebut benar-benar sudah tidak tahan dengan tatapan waspada mereka.

Sasuke pun berdiri ketika telah selesai mengurus luka Kurozetsu. Pemuda hitam itu tampak masih shock kehilangan tangannya, meskipun sekarang dia sudah berdiri sambil memegangi pundaknya yang ngilu. Makhluk mirip kucing itu tampaknya punya insting cukup tajam untuk menangkap mangsa. Dengan sigap, hanya dengan menekuk sedikit lutut kaki belakangnya, dia melompat langsung ke arah Kurozetsu.

Buagh...!

"Cepat lari"

Bocah berambut hijau kekuningan itu tampak sedikit pusing, mungkin dia sudah kehilangan banyak darah. Apalagi Tobi menariknya dengan kasar dan kemudian melempar tubuhnya ke arah pintu masuk sehingga makhluk tersebut hanya menabrak dinding yang tadi membatasi mereka. Nagato pun mengikuti Kurozetsu yang berjalan terseok-seok sementara makhluk tersebut masih mengibas-ngibaskan kepalanya, seolah mengusir rasa pusing yang dirasakannya ketika menabrak dinding. Hinata menyusul Nagato dengan Sasuke yang memegang pundaknya di belakang. Sedangkan Tobi berada di dalam dengan berjalan mundur mengawasi makhluk tersebut.

"Grrrhhh...!" Tampaknya makhluk itu sudah memperoleh kembali kesadarannya yang hilang sementara. Dia menatap marah kepada Tobi yang dengan seenaknya mencuri mangsanya yang paling lemah. Makhluk itu pun dengan cepat melompat ke arah Tobi.

Bruak...!

"Argh...! Sial...!" Umpat Tobi sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya di depan pintu yang sudah terjepit. Tidak ada waktu untuk mengkhawatirkan jari tangannya, meskipun sekarang jari tangannya sudah bengkok ke arah yang salah, tapi pemuda bertopeng itu dengan cepat langsung mengibaskan tangannya ke arah Sasuke dkk untuk segera lari. Sementara itu makhluk itu tampaknya sedikit pusing lagi setelah menabrak pintu yang di tutup oleh Tobi tadi. Pemuda itu masih mencoba untuk mencari-cari sesuatu yang bisa digunakan untuk senjata sebelum akhirnya Sasuke menarik kerahnya ke belakang.

"Kita harus lari. Untuk saat ini, kita harus lari ke gua tempatku bersembunyi bersama Hinata kemaren. Disitulah pusat pulaunya" Kata Sasuke. Mata yang tertutup topeng itu masih tampak terkejut dengan ucapan Sasuke.

"Apa aku bisa mempercayaimu?" Tanya Tobi penuh rasa curiga. Cowok berambut raven itu hanya bisa mengangkat bahu sambil memutar biji onyxnya.

"Itu sih masalahmu, Tobi-san. Aku dan Nagato sudah mengungkap hampir semua hal yang ada disini. Hanya ada satu yang mengangguku" Kata Sasuke dengan nada dingin, tapi sedetik kemudian senyuman hangat terukir di wajah tampan yang tampak kelelahan tersebut.

"Tapi, sudahlah. Yang penting setelah ini tidak ada yang mati, jadi kita harus tetap bersama" Kata Sasuke. Mata onyx tersebut menatap dengan tatapan hangat kepada Tobi.

"Jangan-jangan dia..."

-0-

"Bukankah lebih baik mati seperti yang lain daripada harus membunuh dulu lalu mati?" Tanya Sasuke kepada pemuda bertopeng tersebut sambil terengah-engah setelah dia menjelaskan setiap spekulasi nya tentang pulau ini dan juga tentang Shiro. Pemuda itu tampak mengerutkan dahinya mendengar penjelasan dari Sasuke yang terdengar seperti kisah fantasi sains di film-film superhero.

"Untuk sekarang mungkin aku bisa..."

Krashhhh...!

"Hua...!" Pekik Sasuke dengan nada terkejut. Pohon yang tadinya Sasuke lewati sekarang sudah tersisa setengah batang setelah taring makhluk tersebut menancap di batang pohon.

"Benar-benar mengerikan. Aku bahkan belum pernah bertemu dengan hewan seperti itu sebelumnya" Kata Tobi dengan nada yang sedikit angkuh. Mungkin insting jendral hebatnya kembali bangkit dalam dirinya setelah bertemu dengan makhluk seperti ini.

"Memangnya itu hewan?" Tanya Sasuke. Nafas pemuda rambut raven itu tampaknya sudah mulai habis. Tapi dia benar-benar terkejut karena dia bisa berlari sampai sejauh ini. Jika di dunia nyata mungkin dia sudah jatuh pingsan sambil muntah darah.

"Apa maksudmu?" Tanya Tobi dengan nada heran.

"Ada satu lagi dugaan ku yang masih meragukan. Tapi dengan makhluk ini, perang lebah tadi siang, dan penyihir kemarin, semuanya menjadi jelas. Kita sebenarnya berada di..."

Bruak...!

"Whoaaa...! Tobi-san" Sasuke pun sebenarnya terkejut dengan saya kejar dari makhluk yang hampir tak kenal lelah tersebut. Tapi, hal itu malah menguatkan dugaannya tentang pulau ini.

"Kita bicarakan nanti" Kata Tobi sambil sedikit mengusapkan telapak kakinya yang berlumuran lendir makhluk tersebut diatas rumput hutan sebelum akhirnya mereka berdua melanjutkan larinya mengejar tiga orang di depan mereka.

Makhluk itu pun segera sadar setelah terbentur batang pohon ketika kaki Tobi bersarang di perutnya. Dengan cepat makhluk tesebut kembali mengajar dua ekor mangsa nya.

"Apakah masih jauh?" Tanya Tobi. Sasuke menggeleng dengan cepat, seperti berusaha memaksakan tubuhnya agar jangan pingsan di tempat seperti ini.

Nampaknya Sasuke benar, tidak jauh dari situ gunung menjulang tinggi dengan banyak sekali batuan kapur.

"Kau yakin ini tempatnya? Kau tidak tersesat karena dikejar penyihir kan?" Tanya Tobi dengan nada yang sedikit curiga. Pasalnya dia tiba-tiba saja dibawa menuju tempat seperti ini oleh Sasuke. Tapi kecurigaan itu terjawab ketika pemuda itu melihat siang pemuda berambut merah yang sedang memberikan isyarat pada mereka berdua.

"Apa kau masih belum percaya pada cerita ku?" Tanya Sasuke sambil berhenti berlari di depan Nagato. Pemuda berambut merah itu pun langsung masuk kembali ke dalam gua bersama dengan dua orang yang baru datang tadi. Di dalam sana, seorang yang sedang duduk sambil terengah-engah menyandar di dinding gua bersama seorang lagi yang nampaknya sedang menunggu sesuatu dengan gugup.

"Sasuke-kun..." Kata Hinata dengan ekspresi lega begitu melihat pemuda berambut raven tersebut masuk ke dalam gua.

"Kalian bisa tunda reuninya setelah kita keluar dari pulau ini. Makhluk itu mungkin saja sudah sampa di dekat sini, apakah kita akan masuk ke dalam gua kapur ini?" Tanya Tobi sambil melongok ke dalam gua. Hanya kegelapan pekat yang menunggunya disana, apakah mereka benar-benar yakin akan masuk kedalam gua tersebut? Nagato dan Sasuke saling berpandangan sejenak, sebelum akhirnya mereka menganggukkan kepala mereka bersama-sama seolah sepakat dalam sesuatu.

"Sebenarnya..."

Groaarrhhh...!

Raungan keras memotong ucapan Sasuke yang sepertinya ingin membicarakan sesuatu, membuat pemuda tersebut mengurungkan niatnya dan mengalihkan pandangannya ke dalam gua tempat raungan tersebut berasal. Tobi, dengan insting tentara miliknya mencoba untuk berjalan pelan, perlahan melewati Sasuke untuk memeriksa makhluk apa yang menunggu di dalam kegelapan tersebut. Nagato juga tampak sibuk untuk melepaskan stalagtit yang berada di atasnya yang bisa di gunakannya untuk membela diri, sedangkan yang lainnya hanya terdiam membeku. Beberapa saat kemudian, cahaya jingga menyebar keluar dari dalam gua, seolah ada seseorang yang tiba-tiba menyalakan api unggun dalam gua tersebut.

"Ada seseorang" Bisik Sasuke pada Tobi yang berada di depannya, namun mantan jendral itu tetap waspada menatap ke depan meskipun dia sekarang sudah tidak berjalan lagi setelah melihat cahaya jingga tersebut.

Tes...! Tes...!

Beberapa tetesan air jatuh dari langit-langit gua, membasahi tengkuk Sasuke yang terbuka dan langsung mengalir turun melalui punggung tegapnya. Tapi, perasaan aneh apa ini? Bukankah wajah jika ada air yang menetes di gua kapur? Mata onyx itu pun berputar ke atas untuk memastikan sesuatu yang menganggu pikirannya. Sepasang mata besar berwarna merah tampak di langit-langit gua, tapi tentu saja itu tidak menempel disana.

"Tobi-san, diatasmu" Barisan berwarna kuning tidak rata mulai menunjukkan seringaiannya di samping mata tersebut dan meluncur turun.

Bruak...!

Tepat waktu. Pemuda bertopeng itu terlihat menghembuskan nafasnya lega ketika mengetahui bahwa peringatan Sasuke tepat waktu. Dia tidak bisa membayangkan jika Sasuke terlambat sepersekian detik saja, pasti dirinya sudah gepeng di timpa oleh makhluk besar tersebut. Makhluk mirip dengan armadillo berduri tersebut tampak masih menyeringai, menunjukkan barisan taring tajam yang berada di bawah hidung babi raksasa miliknya.

"Cepat tusuk matanya" Tanpa peringatan sama sekali, Nagato melemparkan stalagtit yang dia cabut tadi ke arah Tobi. Pemuda itu tampak sedikit terkejut dengan lemparan dari Nagato, tapi untung saja dia cukup sigap sehingga bisa dengan mudah menangkap tombak batu tersebut dan langsung menancapkannya di sebelah mata makhluk tersebut tanpa memberinya kesempatan melakukan perlawanan.

Groaarrggg...! Makhluk itu pun menggila dengan mata buta sebelah. Pria bertopeng itu dengan gesit menghindari serangan makhluk tersebut, sementara Sasuke yang sepertinya tersadar oleh sesuatu segera memasuki gua lebih dalam menuju ke arah cahaya jingga di dalam gua. Nagato yang rupanya juga terkena imbas dari serangan makhluk armadillo setengah babi itu dengan gesit mengelak. Hinata masih duduk meringkuk sambil melindungi Kurozetsu yang tidak punya tangan. Kemana Sasuke disaat seperti ini?

Nagato terkesiap, mungkin dia juga menyadari sesuatu yang disadari oleh Sasuke beberapa saat lalu. Dia pun berlari menerjang gua yang sepertinya akan runtuh ini menuju ke arah gua yang lebih dalam. Kurozetsu membelalakkan matanya melihat Nagato meninggalkan mereka berdua.

"Oi...! Nagato, jangan bilang kalo kau..."

"Tidak, saat ini aku tidak serendah itu, Kurozetsu. Aku akan menemui seseorang di dalam gua ini" Kata Nagato sambil menoleh ke arah Kurozetsu.

"Seseorang yang seperti last boss dalam permainan ini" Kata Nagato sambil menyeringai kearah KuroHina.

"Orang ini..."

~o0o~

Island of Truth

~o0o~

Malam yang tenang, dalam sekejap menjadi berisik dengan gema dari gua yang runtuh. Pemuda bertopeng itu dengan lincah menghindari setiap serangan dari Babi Armadillo bermata merah tersebut sembari menghujamkan beberapa serangan dengan tombak batu kapur yang dia ambil dari stalagtit di langit-langit gua.

Tobi tampak sangat terlatih sekali dalam bertarung melawan hewan besar yang bahkan tidak pernah dia temui di dunia nyata sebelumnya. Sedangkan dua orang masih meringkuk di pojokan gua sambil melihat Tobi bertarung. Tak ada sepatah keluhan sekalipun keluar dari mulut pemuda bertopeng tersebut bahkan ketika mereka berdua menjadi beban baginya.

"Tidak akan kubiarkan satu orang pun mati kali ini, Sasuke-kun"

Sementara suasana di dalam gua benar-benar mencengangkan. Aura jingga yang menyala tadi menyebarkan hawa panas yang bahkan bisa melelehkan tulang bila terlalu dekat, kulit putih dari pemuda berambut raven itu tampak memerah menahan panas dari aura tersebut. Bahkan wajah pucat Nagato tidak bisa menahan dahsyatnya aura merah yang menggelegak dari batuan yang meleleh di pusat pulau.

"Kukira benar-benar mustahil ada magma yang sampai kesini" Sahut Nagato pada Sasuke yang masih melihat kolam jingga menggelegak tersebut dengan tatapan dinginnya.

"Berarti benar bukan?" Tanya Sasuke dengan wajah yang... sendu? Ada apa dengannya? Diatas kolam magma tersebut, tepat di langit-langit di atasnya, sebaris persegi tampak tergambar dengan jelas di langit-langit. Persegi itu membentuk persegi yang lebih besar lagi seperti mengelilingi kolam magma tersebut dengan setiap sisinya terdiri dari empat persegi.

Yang lebih mengejutkan lagi, dari dalam persegi-persegi kecil tersebut kecuali tiap ujung, keluar berbagai macam kepala. Untuk saat ini ada tujuh kepala, semuanya adalah orang yang familiar bagi mata onyx Sasuke. Ekspresi kepala tersebut kosong, seperti orang yang sedang foto KTP.

"Kisame, Hidan, Konan, Shirozetsu, Deidara, Kakuzu, Orochimaru, dan Sasori. Semuanya disini kan? Jadi mereka butuh jiwa dua belas orang untuk membuka portal ini?" Komentar Nagato sambil menyebutkan identitas kepala yang menggantung di langit-langit tersebut. Sasuke menarik sebelah sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian, da pun menoleh kearah Nagato yang berada di belakangnya.

"Kau benar-benar percaya dengan cerita fantasi seperti game itu?" Ejek Sasuke sambil berjalan menghampiri Nagato dengan seringaian yang tidak lepas dari bibirnya. Pemuda berambut raven itu pun menghampiri sebuah peti yang tersembunyi di dinding di belakang Nagato. Dengan tenaga seadanya dia membuka peti tersebut dan mengambil isinya.

Sebuah pedang yang sangat indah, pedang putih tersebut bergagang emas dengan ukiran bunga matahari di gagangnya. Selain itu, ukiran vignette yang rupanya juga berlapiskan emas menghiasi bilah pedang mengkilap tersebut. Ujung pedangnya tampak bening, seperti berlian yang dipoles, memantulkan cahaya jingga tersebut sehingga tampak berkilauan seperti embun dipagi hari.

"Excalibur, huh...! Bukannya pedang suci itu disimpan di dalam danau setelah dicuri oleh Le Fay?" Cibir Nagato.

"Berarti fantasi sang pembuat game kali ini benar-benar payah"

-0-

"Mereka berdua benar-benar menarik. Pedang Excalibur yang selama ini tersimpan disitu pun tak luput dari perhatian mereka"

"Tapi, mereka sepertinya tahu tentang permainan ini. Apa tidak berbahaya?"

"Pengetahuan itu hanya akan menjadi sampah yang membusuk di dalam otak mereka yang tak lama lagi akan hancur. Tapi, aku mau satu bocah Uchiha itu. Dari awal permainan dia terlihat aneh"

"Baiklah, jadi kita tidak membutuhkan bocah berambut merah itu?"

"Tidak, kau sudah bisa membunuhnya"

TBC

Sasuke sama Nagato udah maen buka-bukaan nih (loh, maksudnya?). Udah ada banyak banget hint loh disini, kayak Excalibur salah tempat, kemudian penyihir yang tiba-tiba ngilang, serta hewan misterius yang tiba-tiba muncul. Kira-kira mereka berlima berada dimana ya?

Kalo mereka mau keluar, mereka mesti ngumpulin dulu kepala teman mereka dan menaruhnya di persegi-persegi di pusat pulau untuk membuka portal kembali. Ada 12 persegi dan 13 peserta, jadi tinggal satu yang bisa selamat, ada yang tahu portal apaan itu XD?

Dan juga, sepertinya Nagato dalam bahaya ya setelah ini XD.

Thanks for Read

Don't forget to review….!