"Mereka berdua benar-benar menarik. Pedang Excalibur yang selama ini tersimpan disitu pun tak luput dari perhatian mereka"
"Tapi, mereka sepertinya tahu tentang permainan ini. Apa tidak berbahaya?"
"Pengetahuan itu hanya akan menjadi sampah yang membusuk di dalam otak mereka yang tak lama lagi akan hancur. Tapi, aku mau satu bocah Uchiha itu. Dari awal permainan dia terlihat aneh"
"Baiklah, jadi kita tidak membutuhkan bocah berambut merah itu?"
"Tidak, kau sudah bisa membunuhnya"
Chapter 10
Island of Truth
Last Boss
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Sci-fi, Romance, Angst, Crime, Adventure
RnR Please
Happy Read ^_^
Kegelapan malam semakin pekat, meskipun warna merah fajar sudah tampak di ufuk timur, tapi warna biru tua langit malam dengan bintang-bintang yang masih setia menghiasi langit. Rembulan pun masih memancarkan cahaya keperakan di ufuk barat, menandakan sebentar lagi akan menghilang ditelan cahaya emas sang mentari.
Sosok berkaki empat dengan cairan seperti darah yang menetes dari sekujur badannya tampak berjalan dengan hati-hati. Mulut yang seperti mulut serangga itu tampak menunduk, hampir menyentuh tanah, seolah-olah dia sedang melacak seperti anjing polisi. Mata merah tersebut tampak sedikit menyeringai ketika dia melihat sebuah gua dengan cahaya jingga yang keluar dari mulut gua tersebut. Dengan perlahan, makhluk itu pun berjalan masuk kedalam gua tersebut, berusaha untuk tidak terdeteksi oleh orang di dalam goa.
Suara benturan keras berkali-kali keluar, menggema di dalam goa tersebut, seolah-olah sedang terjadi longsor secara berurutan. Tapi, sebenarnya bukan itu yang terjadi di dalam, hanya sebuah pertarungan kecil antara mantan jendral dengan makhluk dari dunia lain.
"Cih...!" Tobi berdecih kesal ketika melihat lemparan batu miliknya meleset. Makhluk babi-armadillo buta sebelah itu tampak masih bernafsu untuk mencabik-cabik bocah bertopeng yang sudah membutakan sebelah matanya dengan stalagtit yang masih menancap di matanya. Meskipun hanya dengan satu mata, tampaknya akurasi jarak serang mekhluk tersebut masih termasuk cukup tinggi.
Sedangkan di sudut goa, duduk dua orang yang masih meringkuk ketakutan. Mungkin karena makhluk ini sudah benar-benar murka dengan jendral sehingga dia tidak bisa melihat mangsa yang lebih empuk di sudut goa. Seorang cewek dengan rambut indigo panjang yang tergerai ndah dan seorang cowok dengan kulit hitam dan hanya punya setengah tangan.
Tanpa mereka bertiga ketahui, makhluk yang tadi mengejar mereka diam-diam memasuki goa, mengincar mangsa empuknya yang tadinya dibawa kabur oleh teman-temannya. Perlahan tapi pasti, makluk itu pun mendekati cowok tanpa tangan tersebut. Dengan sedikit tekukan pada kaki belakangnya, makhluk itu melompat dengan cepat.
Crattt...!
Kejadian itu terjadi begitu cepat, tanpa peringatan sebelumnya, kepala Kurozetsu tiba-tiba langsung menghilang dalam satu kedipan mata.
Mata lavender tersebut tampak memandang cowok di sebelahnya dengan pandangan ngeri. Ekspresi kengerian benar-benar tergambar di wajah cantik tersebut ketika dia menerima cipratan darah yang berbekas di pipi putihnya. Darah kembali bermuncratan dari kepala si cowok, atau bisa kita bilang 'bekas' kepala Kurozetsu yang sudah menghilang.
"Kyaaa...!" Jerit Hinata ngeri sambil memegangi kepalanya dan sedikit mundur. Jasad hitam tanpa itu pun roboh menuju ke arah Hinata. Darah yang keluar dari lehernya semakin deras,warna merah kembali menyelimuti tanah kapur gua tersebut, membuat cewek berambut indigo itu mundur dengan ekspresi takut.
"Awas...! Hinata" Seru Tobi sambil melemparkan tombak stalagtit miliknya. Makhluk berkaki empat yang berencana untuk menerkam Hinata tadi tampak tersungkur di dinding goa, dengan lendir yang tampaknya adalah sumsum tulang belakang Kurozetsu yang masih menempel di mulut serangganya. Kepala cowok malang tersebut tampak menggelinding di belakang Hinata. Tampaknya hewan tadi menerkam kepalanya untuk mencari sumsum tulangnya dan melepaskan kepalanya begitu saja ketika dia sudah berganti mangsa.
Tapi, hal itu justru membuat pertahanan sang jendral menjadi lemah. Dan, itu tentunya tidak disia-siakan oleh hewan buas yang lainnya. Dengan akselerasi seperti singa, dan kekuatan seperti truk, babi-armadillo itu menerkam Tobi.
"Tobi-san..."
-0-
Kekacauan di luar tampaknya tidak menimbulkan pengaruh yang signifikan pada dua orang yang berada di daerah terdalam goa. Dua orang tersebut tampak seperti terhipnotis oleh keindahan pedang yang baru saja mereka temukan di dalam sebuah peti tadi.
"Apa kau merasakan sedikit kekuatan magis, Sasuke-kun?" Tanya Nagato sambil mengamati bilah pedang bersinar tersebut.. Bocah berambut raven yang nampaknya juga terpesona dengan pedang tersebut hanya sedikit mengangguk pelan mendengar ucapan Nagato.
"Tampaknya memang benar, meskipun aku tidak percaya jika ada kekuatan magis" Jawab Sasuke dengan nada datar dan tatapan dingin.
"Bagaimana kalo kita mencobanya pada makhluk itu?" Kata Nagato.
"Ide bagus. Tapi, mungkin aku harus latihan dulu dengan pedang ini" Kata Sasuke sambil memegang gagang pedang tersebut dengan kedua telapak tangannya. Dengan ekspresi serius, pria berambut raven itu menatap ke depan sambil menyerongkan pedangnya ke arah depan.
"Aku pernah melihat ini di dalam film yang kutonton" Jelas Sasuke sambil tersenyum mengejek kepada Nagato. Sasuke pun mengangkat kedua tangannya di atas kepala dengan perlahan, seperti sedang menemukan posisi yang pas untuk menyerang. Beberapa saat setelah itu, tampak cahaya keperakan keluar dari pedang indah tersebut, seolah-olah pedang itu adalah lampu neon yang bersinar merespon pergerakan dari Sasuke.
"Oh, man" Gumam Nagato dengan wajah terkejut ketika melihat sesuatu muncul dari persegi diatas kolam magma tersebut. Sasuke pun mengurungkan niatnya untuk mencoba pedang tersebut dan melihat ke arah yang dilihat oleh Nagato. Onyx miliknya melotot keluar begitu melihat pemandangan yang cukup mengerikan.
Dari persegi yang berada di sudut yang paling dekat dengan mereka berdua, terlihat rambut hijau tua sedang berusaha keluar dari dalam persegi tersebut. Rambut hijau jabrik itu semakin lama semakin membesar sambil menggeliat-geliat, berusaha untuk keluar dari persegi tersebut. Kepala hitam miliknya mulai tampak di bawah rambut tersebut, diiringi dengan mata kuning yang tampak berekspresi datar.
"Itu..."
"Kurozetsu. Apa ini artinya..." Sahut Nagato.
Wusss...!
Tanpa aba-aba, cowok berambut raven itu langsung melesat melewati Nagato yang hanya terdiam dengan kata-kata yang terputus. Bocah berambut merah itu hanya menghela nafas pelan melihat Sasuke yang tiba-tiba saja melesat seolah-olah kakinya bergerak sendiri.
"Sebenarnya kau ini apa, Sasuke-kun? Bertindak seolah-olah kau mencurigai Hinata, tetapi kau masih sempat untuk menyelamatkannya. Tidak masuk akal" Gumam Nagato sambil menoleh ke atas dimana sekarang wajah Kurozetsu sudah terpampang dengan jelas di sudut persegi besar.
"Tinggal 3 lagi ya"
~o0o~
Island of Truth
~o0o~
"Tobi-san..."
Teriak Hinata yang melihat makhluk babi-armadillo itu menerjang ke arah Tobi.
"Tidak, tidak akan sempat" Batin Tobi ketika melihat jarak yang sudah benar-benar dekat tersebut. Dengan tekad yang bulat, sang jendral mengeraskan tubuhnya untuk menahan laju dari makhluk tersebut. Tetapi, tampaknya ekspresi pria bertopeng itu masih terlihat putus asa. Matanya terpejam, seperti menunggu benturan keras menghantam topengnya dan berharap kematian segera menjemputnya.
Benar juga kata Sasuke. Lebih baik kau mati karena melindungi orang lain, daripada kau membunuh temanmu yang ada disini hanya untuk dibunuh ketika keluar dari pulau ini.
Sret...! Bruak...!
Tak dapat dilihat, hanya dengan satu kedipan mata, arena pertarungan dalam goa itu berubah total. Kilat berwarna keperakan tiba-tiba melesat maju menerjang makhluk tersebut dan melemparnya ke dinding goa, dengan keadaan terbelah dua.
Tepat di depan Hinata, kilat keperakan tadi berhenti dan berubah menjadi seseorang yang familiar dengan mata lavendernya. Mata seindah bulan itu pun melebar melihat penampakan cowok berambut raven yang sedang berlutu di depannya. Pedang putih bercahaya perak tampak menancap di tanah di depan pria tersebut.
"Hosh...! Hosh...!" Desahan nafas kasar seolah ingin menelan seluruh oksigen yang berada di dalam goa tersebut keluar dari mulutnya. Sekujur tubuhnya mengeluarkan uap air dari pori-porinya yang terlihat jelas saat cuaca dingin malam hari.
"Ah...kuh, tihh...dak akan meh.. lah... melahkuh...kan hal i..nih lagi" Keluh Sasuke dengan nafas yang tersenggal-senggal. Sekujur tubuhnya serasa mati rasa, seperti seorang cacat yang dipaksa menyelesaikan marathon bolak-balik selama satu hari. Ototnya terasa nyeri, bahkan bernafas pun sudah terasa sakit bagi Sasuke saat ini. Bocah berambut raven itu pun terjatuh kebelakang ketika dia melepaskan genggamannya dari pedang tersebut.
"Pedang itu meningkatkan agilityku terlalu tinggi" Sahut Sasuke dengan nafas yang masih terengah-engah. Onyx miliknya terpejam, seolah ingin segera merasakan tidur nyenyak setelah keluar dari pulau ini.
Grrhhhh...!
Kelopak mata itu tersentak membuka ketika mendengar suara geraman pelan yang mendekati keduanya. Onyx tajamnya tampak mengintip dari kelopak yang sekarang terbuka lebar tersebut, dengan gerakan yang kaku karena nyeri, kepala Sasuke menoleh ke arah suara tersebut. Mata merah menyala kembali menyambutnya, kali ini dia berada di belakang Hinata.
"Hi...na...ta..." Teriak Sasuke putus-putus mencoba untuk memperingatkan Hinata yang tampaknya masih tidak sadar akan kehadiran makhluk tersebut. Seperti harimau yang akan menerkam mangsanya secara diam-diam, makhluk tersebut menekuk kaki belakangnya dan melompat ke arah Hinata. Bocah berambut raven itu masih mati-matian menggerakkan ototnya yang sudah mati rasa akibat memaksakan gerakan cepatnya ketika menyerang makhluk besar tadi, tapi nampaknya tubuhnya sudah mencapai batasnya.
Sret...!
Pedang yang tadinya menancap di depan Sasuke kini menghilang seperti kilat. Sedetik kemudian makhluk tersebut sudah jatuh bersimbah darah di belakang Hinata. Mata lavender itu bergetar ketika merasakan cipratan darah hangat di punggungnya. Dengan tubuh bergetar, cewek tersebut berusaha untuk melihat bagian belakangnya dimana makhluk tersebut sudah tersungkur dengan badan terbelah di belakangnya.
"Hinata-san, meskipun dalam situasi seperti ini, kau harus lebih waspada sedikit dengan sekitarmu" Kata Tobi dengan nada tajam sambil menurunkan pedang tersebut di samping badannya. Hinata hanya menunduk mendengar ucapan Tobi barusan. Badannya bergetar cukup hebat, samar-samar suara isakannya terdengar di telinga Tobi meskipun Hinata sudah menahannya dengan menggigit bibir bawahnya.
Bocah bertopeng itu tampak sedikit melunak mendengar isakan Hinata. Mata merah miliknya berbalik menuju ke arah Sasuke yang terbaring di tanah. Pria berambut raven yang tadi sempat menyelamatkannya itu sedang memejamkan matanya dengan ekspresi damai. Tobi pun menghela nafas pelan melihat Sasuke yang nampak sangat kelelahan tersebut.
"Mungkin aku sudah cukup keras pada Hinata-san" Batin Tobi. Petualangan mematikan dan pembunuhan beruntun selama dua hari ini benar-benar menekan mental seseorang, apalagi untuk cewek yang lebih sensitif. Hinata mungkin bisa shock, depresi dan ingin bunuh diri daripada harus berhadapan dengan permainan konyol macam ini. Tapi, kehadiran Sasuke yang selalu menenangkannya, melindunginya pasti membuat cewek berambut indigo ini selalu optimis dan berharap bahwa Sasuke akan menyelamatkan mereka semua dari pulau mematikan ini.
Tapi, sekarang Sasuke sedang tak sadarkan diri, dan Tobi dengan seenaknya memarahi Hinata atas kecerobohannya. Di dorong oleh perasaan tidak enak, pria bertopeng itu pun berlutut dan mengelus puncak kepala Hinata.
"Gomen, Hinata-san. Sejujurnya, aku hanya khawatir tentang keselamatanmu, aku tidak bermaksud..." Ucapan Tobi terputus ketika Hinata tiba-tiba mendongakkan kepalanya. Mata lavender tersebut basah oleh air mata sebelum akhirnya tangan mulus Hinata menyeka air matanya sambil berusaha untuk tersenyum.
"Ti..tidak apa-apa, Tobi-san. Mungkin aku terlalu bergantung pada Sasuke-kun selama ini" Jawab Hinata sambil berusaha untuk tersenyum. Bocah bertopeng itu pun menghela nafas lega mendengar Hinata yang tampak begitu optimis itu.
"Ngomong-omong soal Sasuke, darimana dia dapat benda ini?" Tanya Tobi sambil menunjukkan pedang yang berada di tangannya. Hinata hanya mengangkat bahunya tidak tahu.
"Aku belum pernah melihat pedang setajam ini. Bagaimana dia bisa membelah armadillo itu dengan sekali tebas? Selain itu..." Tobi tampak masih bingung menjelaskan apa yang dia rasakan pada Hinata. Dia tetap menimang-nimang pedang tersebut sambil mencoba mencari kebenaran.
"Tubuhku terasa bergerak sendiri ketika aku memegang gagangnya" Kata Tobi sambil sedikit menggenggam tangannya di depan wajahnya, seolah merasakan kembali apa yang dia rasakan ketika memegang pedang itu tadi.
"Ngomong-omong, Nagato-san masih di dalam kan? Apa tidak sebaiknya kita susul saja?" Tanya Hinata mencari topik pembicaraan lainnya. Tobi pun menoleh ke arah dalam gua yang masih bersinar jingga terang, tempat Sasuke dan Nagato masuk tadi.
"Hmmm, itu ide yang bagus. Aku juga penasaran dengan darimana asal pedang ini. Tapi..." Ucapan Tobi terputus sambil melihat ke arah bawah, dimana Sasuke masih pingsan dengan nyenyaknya di atas tanah.
"Mungkin kita harus menggendongnya" Saran Hinata. Tobi tampak mendesah pelan mendengar saran dari Hinata sebelum akhirnya dia berlutut dan menampar pipi Sasuke pelan, berusaha untuk membangunkannya.
"Oi...! Bangun. Atau kau akan kami tinggal disini" Kata Tobi sambil terus-menerus menampar pipi pucat Sasuke. Kelopak matanya pun akhirnya bergerak-gerak, berusaha untuk membuka. Dengan berat hati, onyx tersebut tampak mengintip dari balik kelopak mata yang masih terbuka separuh tersebut.
"Ayo, kubantu kau untuk berdiri" Kata Tobi sambil mengulurkan tangan kanannya. Tapi, sepertinya Sasuke masih belum sadar sepenuhnya dengan ucapan Tobi sehingga mata onyx itu terus saja menatap mata Tobi dengan tatapan penasaran.
"Geez" Keluh Tobi sambil meraih tangan kanan Sasuke dan menariknya untuk berdiri. Perlahan tapi pasti, Sasuke mulai sadar dan berusaha untuk berdiri sendiri, tapi apa daya, tubuhnya masih lemah setelah berlari sekuat tenaga tadi.
"Jangan memaksakan dirimu dulu" Nasehat Tobi, tapi tampaknya Sasuke masih bersikeras untuk berdiri sendiri.
"Aku, sudah, menemukan, portalnya" Kata Sasuke terpatah-patah. Tobi tampak sedikit terkejut dengan ucapan Sasuke, tapi kemudian dia tersenyum kecil melihat Sasuke masih berusaha untuk menyelamatkan mereka dengan tenaganya yang tersisa.
"Ya sudah, ayo kita berjalan menuju portal"
-0-
"Tidak ada lagi yang mati kah?" Gumam Nagato pelan sambil melihat ke arah langit-langit tempat kepala peserta yang sudah mati itu bergelantungan di atas sana. Mata ungunya kemudian menoleh ke arah belakang dimana Sasuke berlari meninggalkannya tadii.
"Sasuke-kun juga belum kembali. Apakah mereka masih bertarung?" Lanjutnya. Pria berambut merah itu pun kembali mengalihkan pandangannya menuju kolam magma yang berada di depannya.
Cesss...!
"Hah...! Apa yang terjadi?" Serunya terkejut ketika melihat sebuah gelembung naik ke permukaan sebelum akhirnya meletus, seolah-olah batuan itu mendidih oleh suhu yang sangat panas, bahkan Nagato pun terpaksa memundurkan langkahnya agar tidak terkena hawa panas yang dipancarkan oleh magma tersebut.
Gruduk...! Gruduk...! Gruduk...!
Beberapa batuan dari atas tampak runtuh ketika magma tersebut membludak, seperti bereaksi terhadap aliran magma tersebut. Nagato hanya bisa berdiri disana sambil mewaspadai bebatuan yang jatuh dari atasnya.
"Apa ini ulah seseorang yang mengendalikan Shiro setelah kita mengetahui rahasianya?" Batin Nagato.
"Nagato, apa yang kau lakukan?" Sebuah suara terdengar dari belakang Nagato. Tanpa menoleh sedikit pun, karena sudah familiar dengan suara yang terdengar tegas itu pun Nagato menjawab.
"Aku tidak melakukan apapun disini" Jawab Nagato sambil menghindari batu-batu yang berjatuhan dari atas. Beberapa saat kemudian pria berambut merah itu pun menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria bertopeng sedang merangkul cowok berambut raven yang tampak lemah bersama dengan cewek rambut indigo yang sedang memasang wajah cemas meskipun ada sedikit determinasi dalam raut wajahnya.
"Jangan-jangan..." Nagato pun menoleh ke arah persegi yang berada di atas magma tersebut. Persegi itu tampak bergetar kuat. Dengan mata telanjang sekalipun bisa diketahui kalo di tempat tersebutlah pusat gempa tersebut berasal.
"Eventnya sudah mulai, karena sekarang kita berkumpul disini" Sahut suara lemah yang di rangkul oleh pria bertopeng di belakang Nagato. Pria berambut merah itu pun menoleh ke arah Sasuke dengan tatapan yang sedikit kesal, dan tampaknya wajahnya yang biasanya datar itupun sekarang mulai menampakkan tanda-tanda keluhan.
"Yare yare... Last Boss kah?" Kata Nagato sambil melihat ke arah persegi tersebut. Pusat persegi itu pun mulai menghitam secara berputar, seolah persegi itu adalah pusaran lubang hitam yang menghisap apapun kedalamnya. Setelah seluruh area persegi tadi sudah tertutupi oleh aura hitam, seseorang tampak turun dari dalam lubang tersebut.
Dengan kaki yang melayang bagaikan dewa turun dari langit, sosok tersebut menyeringai kepada empat orang yang berada di depannya saat ini. Semuanya, tanpa terkecuali, hanya bisa menatap sosok tersebut dengan wajah pucat dan keterkejutan yang amat sangat, seolah mereka baru saja melihat akhir dunia. Hanya ada satu gumaman pelan dari Sasuke yang bersuara lemah.
"Itachi..."
-0-
"Ini adalah last boss bukan?"
"Hahaha...! Kau hebat sekali bisa membuat permainan seperti ini"
"Tapi, apakah kamu yakin si rambut merah itu akan mati?"
"Aku yakin sekali, karena dia tidak pernah gagal dalam misinya"
"Bukankah ada si bocah Uchiha itu?"
"Tidak, tidak, apapun yang dikatakan oleh bocah uchiha itu tidak akan mempengaruhinya"
"Dasar...! Apakah kau sudah mencuci otak anakmu itu"
"Mungkin saja begitu"
TBC
Itachi keluar dari sarangnya...! XD
Eh...! Sebentar, ada yang merasa kalo jalan ceritanya jadi aneh gini? Tiba-tiba muncul makhluk aneh, lalu Itachi tiba-tiba muncul entah dari mana, ada pedang Excalibur juga? Ini gimana sih ceritanya?
Gomeennn...! Ini author juga gatau dapet ide darimana (sebenernya idenya dari temen sih, tapi kayanya jadi ga match), tapi sebentar lagi juga abis kok.
Tinggal 2 chapter lagi, dan ternyata author masih belum tega membunuh Nagato di chapter ini. Mungkin chapter depan. Intinya Nagato bakalan mati *tawa jahat*.
Oke deh, mulai saat ini ga ada spoiler. Soalnya idenya juga sedikit berantakan gini sih XD.
Thanks for Read
Don't forget to review….!
