"Ini adalah last boss bukan?"
"Hahaha...! Kau hebat sekali bisa membuat permainan seperti ini"
"Tapi, apakah kamu yakin si rambut merah itu akan mati?"
"Aku yakin sekali, karena dia tidak pernah gagal dalam misinya"
"Bukankah ada si bocah Uchiha itu?"
"Tidak, tidak, apapun yang dikatakan oleh bocah uchiha itu tidak akan mempengaruhinya"
"Dasar...! Apakah kau sudah mencuci otak anakmu itu"
"Mungkin saja begitu"
Chapter 11
Island of Truth
Illusion
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Sci-fi, Romance, Angst, Crime, Adventure
RnR Please
Happy Read ^_^
Sasuke's POV
Dengan tenang dan pelan, pria berambut senada denganku itu turun. Seperti dewa yang sedang menaiki piring terbang tak terlihat, mata hitam miliknya terlihat sangat lembut di mataku. Ekspresi kelembutannya masih membekas padaku setelah dia meninggalkanku dalam keterpurukan beberapa tahun yang lalu. Air mataku meleleh begitu saja tanpa bisa kubendung dari biji onyxku begitu melihat sosok tersebut turun dari persegi.
"Itachi..."
"Nii-san" Kataku dengan bibir sedikit bergetar. Sosok tersebut, sosok yang telah melindungiku dari kesepian. Sosok yang telah menghiburku selama beberapa tahun setelah ditinggal oleh kedua orang tuaku. Sosok yang selalu melindungiku. Setelah menghilang selama beberapa tahun diambil oleh malaikat maut dia kembali di hadapanku.
Malaikat maut? Tidak, tidak, kematiannya pasti hanyalah mimpi. Itachi-nii hanya pergi sebentar malam itu untuk bekerja, aku tidak sabar untuk membayangkan bagaimana wajahnya ketika dia mengetahui bahwa aku sudah bekerja dan hidup berkecukupan. Pasti dia akan senang sekali mendengarnya, dan mungkin setelah itu dia akan mencari calon istri dan tidak perlu mengkhawatirkan adik kecilnya ini lagi.
Tunggu, tunggu, tapi aku masih ingin sedikit bermain-main dengan Itachi-nii. Mungkin dia harus sedikit menunda pernikahannya dulu.
Hei...! Kau tidak lupa hal itu kan? Coba tengok ke arah sekelilingmu
Sebuah suara bergema dari seluruh sudut pikiranku. Berisik, kau urus saja urusanmu sendiri.
Lihat dulu. Atau aku yang akan...
Baiklah, setelah itu diam di dalam. Bukankah kau juga merindukan Itachi-nii?
Kuputar kepalaku ke kanan dan ke kiri, menuju ke arah Tobi-san dan Nagato-san yang masih berdiri di sampingku dengan ekspresi terkejut. Aku tidak bisa melihat ekspresi apa yang ada ada wajah Tobi-san yang tertutup topeng, tapi mata merah milik Tobi-san tampak menatap tajam ke arah Itachi-nii. Nafasnya terdengar sedikit memburu, seperti orang yang berusaha untuk menahan kesabaran.
Sementara Nagato-san sedang menatap Itachi-nii dengan tatapan penuh amarah. Mata ungu miliknya dipenuhi dengan kebencian pada Itachi-nii. Hei..! Ayolah, dia itu orang baik kok. Kenapa kalian menganggapnya sebagai musuh kalian? Mungkin saja dia kesini untuk menyelamatkan kami.
Tidak, bodoh. Hal itu tidak mungkin, apa kau lupa tentang hal yang kita diskusikan kemaren?
Mataku pun membelalak mendengar ucapan dari dalam pikiranku tersebut. Tidak, tidak, tidak mungkin. Kenapa mereka melakukan hal ini? Mereka benar-benar kejam.
Wussss...!
Sebuah kilatan merah melaju kencang dari belakangku. Jangan-jangan...
End of Sasuke's POV
Tobi's POV
Bocah berambut jingga jabrik itu tersenyum sinis kepadaku. Senyuman meremehkan yang telah dia sunggingkan selama banyak tahun, bahkan aku sendiri pun sudah melupakan kapan dia mulai tersenyum seperti itu. Kami pertama kali bertemu saat tes menjadi tentara, dan dia selalu berada di dekatku untuk menjatuhkanku. Busuk bukan?
Itulah Yahiko. Haters abadi yang menjadi rivalku sejak menjadi seorang tentara. Demi menjadi anjing yang dipiara oleh pemerintah, dia rela menghalalkan segala cara untuk memperolah gelar 'anjing terbaik' yang setiap tahun di anugerahkan kepada kumpulan anjing yang selalu menggogong minta makan. Militer hanya kumpulan orang busuk?
Tanyakan kepada jenderal negara ini, apakah mereka mampu melawan pasukan tempur seorang diri? Apakah mereka bisa memenangkan pertempuran tanpa kaki tangan mereka? Mungkin kebanyakan hanya akan lari kepada musuh dan menawarkan kerja sama. Lihat...! Lalu apa artinya bintang di dada dan jabatan di pundak mereka itu? Mereka bahkan hanya bisa mengendalikan pion-pion mereka dan duduk dengan tenang di kursi kepala sembari menerima penghargaan diatas banyaknya darah yang mereka tumpahkan.
Kugenggam erat pedang suci yang berada di tangan kananku, mencoba menahan hasrat untuk tidak merobek mulutnya yang sedang menyeringai sinis tersebut. Mulutku kukunci rapat-rapat, mencoba menahan semua amarah yang mungkin saja akan keluar meskipun kubuka hanya sedikit saja. Orang ini yang telah membuatku mengeluarkan sumpah serapahku di belantara dunia maya sehingga membuatku terdampar di pulau kebenaran ini.
Memang aku tidak bisa menjamin jika dia tidak datang dalam hidupku, semua orang yang ada disini akan terus hidup, tapi paling tidak aku tidak akan mengalami pertarungan psikopat semacam ini.
Mulutku tetap diam selama aku menimbun setiap butir amarahku pada pria bermata hitam ini. Seperti biasanya, aku akan tetap diam meskipun dia memprovokasi ku bersama dengan teman-temannya di akademi militer. Aku tetap diam meskipun aku dijatuhkan tepat didepan senior. Aku akan tetap diam meskipun...
Tanpa sadar, genggamanku mulai mengerat. Pedang putih itu pun terangkat dengan sendirinya membentuk kuda-kuda menebas musuh. Cahaya putih mulai keluar dari bilah pedang tersebut.
Bukankah ini... cahaya yang keluar ketika aku menggunakan pedang milikku tadi? Apakah kakiku akan bergerak dengan sendirinya lagi?
Ah...! Bagaimana pun juga dia memang pantas kubunuh.
Dengan langkah cepat, tanpa terlihat oleh mata, sesuatu menekan tanganku. Cahaya putih tadi menghilang di sambar oleh bayangan merah yang melaju dengan cepat dari belakangku.
End of Tobi's POV
~o0o~
Island of Truth
~o0o~
Nagato's POV
Keparat...! Keparat...! Keparat...!
Apa kau belum puas mengacaukan hidupku...! Apa aku masih terlihat kurang menderita dimatamu?
Apakah kau tidak puas menyakiti seorang anak kecil dengan mendorong ayahnya dari lantai dua puluh tepat di depan matanya? Apa kau sudah gila...!
Flashback
"Nagato...-san, benar?" Kubalas senyuman ramah tersebut dengan senyuman dingin dari wajahku. Dahi pria berambut coklat itu tampak sedikit berkerut ketika melihat riwayat hidup yang ku serahkan padanya.
Ini adalah sesi interview. Lamaranku kemarin sudah diterima dan aku dipanggil untuk interview dengan personalia perusahaan besar. Namaku Nagato, saat ini aku baru berumur 22 tahun dan lulus S1 dengan gelar sarjana komputer. Lulusan sarjana komputer memang terbilang banyak, tapi karena IPK milikku yang hampir sempurna, aku diterima di perusahaan besar ini meskipun wajahku terlihat pucat dan tidak ramah. Tapi, rambutku tidak kusut, merah lurus, dan tampak seperti tersisir rapi.
"IPK anda bagus sekali, bagaimana anda bisa mendapat yang seperti ini?" Tanya personalia tersebut. Aku hanya mengangkat bahuku, seperti orang tidak tahu, sambil mengalihkan pandanganku ke arah lain.
"Berpikir logis, mungkin. Bukankah seorang programmer dituntut untuk selalu berpikir logis?" Kataku balik bertanya. Personalia itu pun mengangguk-angguk paham. Sepertinya dia paham dengan ucapanku, tapi jujur saja aku tidak yakin dengan ekspresinya itu. Personalia dari psikologi kan?
"Bisa saya tes sedikit soal pengetahuan anda tentang logika pemrograman?" Tanyanya. Aku pun hanya mengangguk pelan sambil tetap berpose tegak seperti yang dicontohkan oleh buku panduan interview kerja di perusahaan besar. Pria berambut coklat itu pun membolak-balikkan buku besar berisi nota banyak orang sambil menjilati jempolnya ketika merasa sedikit seret dengan lembaran buku tersebut. Beberapa kali kacamata bulatnya melorot dari hidung mancungnya sebelum dia dengan sigap mengangkatnya kembali. Beberapa saat kemudian badannya kembali tegak dan mengarahkan pandangannya ke layar monitor yang berada di sampingnya dan mengetikkan beberapa perintah sebelum akhirnya dia menunjukkan layar tersebut kepadaku.
"Bagaimana menurut anda?" Katanya sambil memperlihatkan layar tersebut padaku. Aku pun sedikit mendekatkan wajahku terhadap layar tersebut dan kemudian memicingkan mataku untuk melihat tulisan kecil-kecil yang tercetak didalam layar tersebut. Ah...! Soal ini, cara untuk menyeimbangkan Binary Tree.
"Ada banyak cara sih untuk meneimbangkan BST, tapi yang biasa saya lakukan mirip dengan AVL tree, yaitu putar kanan putar kiri dari bawah. Costnya cukup lumayan" Jawabku singkat. Penguji tersebut tampak manggut-manggut mendengar jawabanku.
"Bagaimana anda tahu kalo itu belum seimbang?" Lanjutnya memberi pertanyaan baru.
"Proses rekursif untuk melihat keseimbangan sebuah BST. Lihat apakah tinggi pohon kanan dan kirinya sama" Jawabku.
"Melihat tinggi pohon menggunakan banyak cost kan? Berarti untuk data yang besar anda akan kesulitan dengan cara anda yang seperti itu bukan?" Tanya personalia tersebut seperti memojokkanku. Aku pun hanya angkat bahu mendengarnya.
"Kita tinggal lakukan itu setiap kali kita insert suatau data. Pohon akan terus seimbang dan melakukan tiap pengecekkan dengan kompleksitas log n. Berarti untuk semua data kita punya n log n.. Sedangkan jika kita ingin mengecek suatu saat nanti, artinya kita ingin melakukan insert dengan kompleksitas log n. Artinya secara default, penggunaan AVL tree adalah yang terbaik jika keperluannya adalah untuk penyeimbangan pohon" Sahutku. Kepala pewawancara itu pun tampak mengangguk-angguk mengerti mendengar ucapanku tadi. Dia pun menuliskan sesuatu di kertas yang berisi berkas lamaranku sambil manggut-manggut.
Tak kuduga sebelumnya, sebuah tangan coklat kekar tiba-tiba datang dari atas dan mengambil berkas tersebut dari tangan personalia. Personalia yang kaget itu pun mendongakkan kepalanya dan terkejut melihat siapa yang datang. Aku pun tidak bisa menahan keterkejutanku melihat orang tersebut. Rambut putih panjang, dagu runcing, mata hitamnya yang terlihat ramah menatap berkas lamaran tersebut. Irisnya bergerak kekiri dan kekanan dengan cepat sebelum akhirnya tangannya menurunkan berkas tersebut sedikit untuk mengintipku. Beberapa saat kemudian dia kembali berkutat pada berkas lamaranku tersebut.
Apa yang orang ini lakukan disini?
"Ahahah...! Pak direktur, apakah bapak ingin mengecek adanya tindakan KKN disini. Tidak, tidak, kami para personalia disini sudah disumpah sedemikian rupa untuk tidak menerima penyuapan ataupun memasukkan saudara kami secara spontan..."
"Masukkan dia" Potong orang yang dipanggil tersebut sambil menyerahkan berkas milikku ke atas meja di depannya.
"M...maksud bapak? Bukankah itu tindakan KKN?" Tanya personalia tersebut. Orang itu pun hanya mengangkat bahu lebarnya.
"Tidak, tidak, buat dia mengalami masa percobaan sebagai kadiv bagian pengembangan software. Orang yang seenaknya menggurui personalia semacam ini pastilah bukan orang yang mau diremehkan kelebihannya. Artinya, dia pasti punya harga diri yang tinggi yang terbentuk dari bagaimana lingkungan itu mempengaruhinya" Kata orang tersebut sok diplomatis. Aku pun menatap tajam mata hitam orang tersebut. Apa yang dia rencanakan?
Jiraiya, nama orang tersebut. Perusahaan besar tempatku melamar ini adalah perusahaan bentukan dari Jiraiya dan ayahku, sampai suatu saat ketika sebuah acara perusahaan, ayahku di dorong oleh bajingan berambut putih ini agar dia bisa menguasai perusahaan yang tengah berkembang itu sendirian. Waktu itu, aku langsung melarikan diri begitu melihat Jiraiya sampai aku di pungut oleh yayasan yatim piatu. Disitu aku mengenal banyak hal dengan menyimpan kebencianku pada bajingan itu, sampai saat aku sudah lulus menjadi sarjana, aku pun melamar pekerjaan pada Jiraiya dengan niat membalas dendam.
Pertanyaannya sekarang, dia memasukkanku kesini dengan alasan tidak jelas semacam itu, apakah dia sudah mengenailku dan menyesali perbuatannya sehingga dia bermaksud memasukkanku kedalam perusahaannya tanpa test? Mata unguku terbentur pada sosok anggun berambut biru yang sedang memakai sebuah almamater kuning dengan tulisan Universitas Konoha di dada kirinya. Gadis bermata kuning itu berdiri dan kemudian tersenyum sedikit ketika berbicara dengan Jiraiya. Seulas senyum pun kusunggingkan dari bibir pucatku. Aku akan membuatmu menyesal hal ini lebih dari kau bisa menyesali apapun.
"Jiraiya..."
End of Flashback
Rencanaku untuk memanfaatkan Konan gagal setelah mengetahui bahwa Konan memiliki tingkat kedewasaan yang kurang sehingga membuatku tidak bisa bekerja optimal pada perusahaan. Dia selalu menggunakan posisinya sebagai putri dari Jiraiya untuk menyuruh-nyuruh karyawanku untuk bisa menyelesaikan tugas secara lebih baik, dan menyeretku kedalam rencana kencannya yang menjijikkan.
Hal itu membuatku muak dan menulis Konan yang menghalangi rencana balas dendamku pada sebuah website. Dan itu, membuatku terperangkap di pulau busuk ini.
Bersama dengan keparat ini...
Bagaimana pun juga, aku harus membunuh sang keparat Jiraiya yang sekarang tengah tersenyum keji di depanku. Cahaya keperakan muncul dari pedang putih yang dibawa oleh makhluk bertopeng di depanku, apakah dia ingin menyerang Jiraiya juga? Kau sungguh keterlaluan Jiraiya, bahkan jenderal itu pun juga menaruh dendam kepadamu.
"Tapi, aku yang akan menghabisimu..." Kupacu kakiku untuk berlari menuju ke arah Tobi dan kemudian merebut pedangnya. Pedang yang masih bercahaya itu sepertinya memiliki kekuatan magis untuk menggerakkan siapap pun yang memegangnya. Kakiku bergerak sendiri sambil memegang pedang tersebut menuju ke arah Jiraiya.
"Mati kau...!"
End of Nagato's POV
Kilatan merah bergerak dengan cepat menuju bayangan orang yang tidak jelas turun dari persegi tersebut.
"Nagato-san, jangan lakukan itu. Ingat hal yang kita bicarakan kemaren? Itu hanyalah ilusi..." Ucapan Sasiuke terputus begitu saja tanpa bisa di dengar oleh Nagato yang sudah kalap oleh dendam. Pedang putih tersebut menyabet sosok ilusi tersebut. Gelombang kejutnya menimbulkan getaran yang bahkan sanggup meruntuhkan dinding goa. Debu tebal mulai menutupi ketiga orang yang tampak terkejut dengan tindakan Nagato tersebut. Sasuke yang sudah memperingatkan Nagato tampak sedikit waspada dengan debu yang semakin menebal ini.
Yap...! Itu semua hanyalah ilusi, ilusi dan cerminan dari sifat mereka.
Yahiko yang membuat Tobi merasa muak dengan sikapnya yang seolah menjadi tentara hanya karena gelar dan jabatan sehingga ingin membunuhnya.
Jiraiya yang menyulutkan api dendam kepada Nagato kecil dan mendorong Nagato untuk membunuh Konan.
Dan Itachi...
Kenapa bukan Ino? Kenapa harus Itachi yang membuat bocah berambut raven itu depresi setelah kehilangan kakak tercintanya? Kenapa bukan Ino yang membuatnya terjerums jauh kedalam pulau kematian ini?
Tampaknya Sasuke tidak terlalu memikirkan pertanyaan tersebut, karena dirinya pasti sudah mengerti kenapa Shiro tidak menampakkan Ino di depan matanya.
Debu itu pun mulai menipis, pandangan mereka mulai terlihat jelas. Dan, pemandangan yang sudah menunggu mereka benar-benar tidak akan masuk kedalam pemikiran mereka saat itu. Onyx hitam pekat itu pun juga melebar karena terkejut dengan pemandangan yang sekarang berada di depannya.
Tobi ada di kanannya berhadapan dengan dirinya, sementara Hinata ada di sebelah kirinya dengan jarak yang hampir sama. Sasuke benar-benar merasakan bahwa dirinya tidak bergerak selangkah pun dari tempatnya semula, itu artinya dua orang itu yang bergerak ke hadapannya sehingga membentuk sebuah segitiga sama sisi.
Dan, yang paling mengejutkan adalah apa yang berada di pusat segitiga sama sisi tersebut. Pemuda berambut merah yang tadinya menerjang ilusi tersebut dengan pedang yang bercahaya, sekarang tengah terbaring dengan warna merah yang lebih pekat. Pedang yang tadinya berada di tangannya itu sekarang sudah berdiri diatas tubuh pucatnya, dengan mata pedang yang menancap di tenggorokannya.
"Ap...apa-apaan ini?"
Sasuke's POV
Apakah ilus tersebut bisa membunuh seseorang? Ataukah Shiro ingin agar orang yang menyerang ilusi tersebut mati seketika? Tidak, tidak, tidak ada gunanya Shiro melakukan hal itu jika ingin 'melatih' kita untuk menjadi pembunuh profesional. Berarti, Shiro memperlihatkan ilusi tersebut untuk memancing nafsu membunuh dari kami. Tidak heran bila Nagato-san...
Tunggu dulu...
Situasi macam apa ini? Hanya ada Hinata dan Tobi-san di depanku. Jika aku tidak membunuh Nagato-san berarti hanya tinggal mereka berdua.
Bukankah Hinata yang membunuhnya?
Apa yang kau bicarakan? Jelas ini Tobi-san yang membunuh Nagato-san, Hinata tidak mungkin bisa mengangkat pedang sebesar itu.
Pikirkan baik-baik apa yang sudah kau lewati bersama Hinata, Sasuke.
Sudah kupikirkan dengan seksama, baka. Sudahlah, kau diam saja disana, aku yang akan menyelesaikan ini.
Bukankah ini pertarungan hidup dan matimu? Apa kau yakin bahwa Hinata tidak membunuhmu ketika kau sudah membunuh Tobi? Sepertinya kau masih terbayang-bayang dengan penolakan Ino?
Diamlah...! Bukankah kau yang saking takutnya dengan kematian sehingga menghasutku untuk menuduh Hinata yang tidak-tidak. Lagipula, tidak ada jaminan jika Tobi-san tidak akan membunuhku.
Kau sudah memikirkannya dengan jelas kan? Tobi tidak mungkin membunuh temannya sendiri.
Dia memiliki kebencian yang besar pada Nagato. Apa kau tidak merasakannya?
Mungkin itu yang dinamakan semangat rivalitas. Hahaha...!
Diamlah didalam, aku yang akan mengambil alih dari sini.
End of Sasuke's POV
"Apa kau tahu Tobi-san? Aku sudah berusaha menjelaskan hal ini ketika kita berlari bersama waktu itu. Tetapi kau malah menyepelekan hal yang paling penting saat ini" Sasuke berjalan mendekat ke arah tubuh Nagato. Dengan wajah dingin dia mencabut pedang tersebut dari tenggorokan Nagato dan kemudian menghunuskannya dengan dua tangan ke arah Tobi.
"Ap...apa yang kau lakukan, Sasuke-kun?" Tanya Tobi dengan nada bingung melihat Sasuke. Bocah berambut raven itu hanya memiringkan kepalanya, seperti seorang sadis yang sedang melihat korbannya dengan mata berseri-seri.
"Tidak ada. Jika kau belum tahu, kita semua berada di dunia virtual" Kata Sasuke. Tobi langsung menatap horror kepada Sasuke, apa yang sedang dikatakan oleh si ayam laknat ini? Dunia virtual?
"Lihat pedang ini. Bukankah pedang dengan kekuatan seperti ini hanya ada di dalam game saja. Selain itu, penyihir yang kukejar kemaren juga menghilang entah kemana. Belum lagi makhluk aneh yang mengejar kita saat ini. Lihat...! Kita semua sedang berada dalam game" Seru Sasuke seperti orang kesetanan.
"Ini tidak nyata. Kematian yang ada disini tidak nyata, ini hanya seperti kau log out dari game online yang kau mainkan. Tidak ada orang mati disini" Kata Sasuke. Tobi tampak memicingkan matanya mendengar ucapan Sasuke tersebut.
"Jadi, kau mau membunuhku dengan mengatakan bahwa aku tidak akan mati?" Kata Tobi menarik kesimpulan. Sasuke hanya mengangguk pelan.
"Tidak, Tobi-san. Tolong jangan berprasangka buruk denganku dulu. Jika ini adalah sebuah permainan virtual, pasti ada tujuannya bukan. Pasti ada seseorang yang menikmati ini semua diatas sana, bukankah tidak menarik apabila hanya ada kita bertiga disini?" Tanya Sasuke.
"Jadi, aku bermaksud membuatnya menjadi lebih menarik dengan menambahkan romansa antara diriku dan Hinata, benar kan Hinata?" Kata Sasuke sambil menoleh kepada Hinata yang sedang berdiam di belakangnya. Gadis berambut indigo itu hanya menunduk dalam diam. Mata onyx Sasuke pun beralih pada Tobi yang berada di depannya dan mulai berjalan mendekat dengan pedang terhunus.
"Tapi, bukankah kau bilang bahwa tujuan dari permainan ini adalah untuk mengelabui sang robot pendeteksi pembunuhan Shiro?" Tanya Tobi.
"Yap...! Dan, untuk kali ini aku yang akan mengelabui Shiro dengan melakukan pembunuhan tanpa nafsu membunuh saat ini" Jawab Sasuke mantap. Tobi tampak sedikit takut dengan pandangan kosong dari Sasuke. Pandangan yang mampu menghisap apapun kedalam kegelapan. Inikah diri Sasuke yang sebenarnya?
"Pedang ini akan menghasilkan kekuatan magis apabila di pegang dengan tepat dan akan menggerakkan tubuh kita sesuai dengan teknik pedang yang diaktifkan" Kata Sasuke sambil memasang kuda-kuda serangan cepat. Pedang itu pun bercahaya sejenak sebelum akhirnya hilang ditelan kilat biru kehitaman. Beberapa saat kemudian, cowok berambut raven itu sudah berjongkok di belakang Tobi sambil membawa pedang di tangan kanannya.
Serangan yang benar-benar tidak bisa di lihat oleh mata manusia. Bahkan tak sempat berteriak, tak sempat menjerit, tubuh bagian atas cowok bertopeng itu langsung merosot ke bawah. Bagian bawahnya langsung ambruk ke belakang. Onyx Sasuke yang tadinya kosong, penuh kegelapan itu sekarang menatap tajam ke belakangnya.
"Romansa ya, huh"
Kubilang juga apa, baka.
TBC
Hehehe...! Mati semua deh. Tinggal SasuHina doang, enaknya di apain ya ini? Dijadiin Rate M XD?
Oke, oke, ini ide dari awal untuk menjadikan Hinata menjadi seperti ini. Dia yang membunuh Nagato dan kemudian Sasuke yang membunuh Tobi. Sekarang, apakah Hinata dan Sasuke akan saling bunuh-bunuhan? Ataukah mereka akan saling menyelamatkan?
Besok Last Chapter. Dan karena author agak kurang sehat, mungkin dua minggu lagi, atau bisa juga lebih XD. Last chapternya ga tentu deh pokoknya.
Thanks for Read
Don't forget to review….!
