Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rating: M
Lanjutan Kakashi No Hatsukoi (Kakashi-sensei First Love)
.
.
Suara gemerisik dari tirai putih yang berkibar karena dihembus angin malam mewarnai suasana kamar temaram dengan pencahayaan sangat minim itu. Sang pemilik kamar sengaja membuka jendela kamarnya lebar-lebar di tengah malam dingin itu untuk menenangkan hatinya yang terasa risau, padahal di luar sana salju sedang turun. Beberapa kali sosok dalam kamar itu membolak-balikan tubuhnya di atas ranjangnya, mencoba mendapatkan posisi yang nyaman. Sesekali ia bahkan bangkit untuk meringkuk dan bersandar di kepala ranjang yang terasa terlalu lenggang tanpa sosok yang beberapa tahun ini sering absen menjadi penghuni ranjang itu.
Rasanya ia ingin menangis karena rasa rindu yang meluap-luap, tapi ia tak pernah punya rencana dalam hidupnya untuk menjadi wanita lemah. Jadi pada akhirnya ia hanya bergerak-gerak gelisah hingga seprai ranjangnya kusut akibat gerakan brutalnya.
Wanita dengan rambut hijau kotor ini tak biasanya berlaku seperti saat ini hanya karena orang itu tak ada di ranjang bersamanya. Wanita cantik ini bersikap seperti itu karena pembicaraan dua orang kunoichi yang tak sengaja tertangkap indera pendengarannya siang tadi saat berbelanja di pasar.
.
.
Kakashi Rokudaime
.
Keluarga Hokage Keenam
.
.
'Sreekk...' Pintu kamar gelap yang dipenuhi angin malam itu bergeser terbuka, menampakan sosok tinggi tegap yang berdiri di ambang pintu.
Seorang pria.
Tubuh tegapnya dibalut jubah putih dengan aksen huruf kanji merah yang bertuliskan Rokudaime, rambut mencuatnya tampak mempesona diterpa cahaya bulan yang masuk melalui jendela kamar yang terbuka lebar tepat dihadapannya.
Pria itu mengerutkan alisnya bingung menatap jendela yang terbuka dan sosok yang sedang meringkuk membelakanginya secara bergantian. Dengan pandangan sayu dan kelewat tenang Pria itu menutup kembali pintu kamar gelap itu dan melangkah lurus menyeberangi kamar menuju jendela yang terbuka lebar untuk menutupnya.
Setelah jendela tertutup, pria itu menyalakan lampu, dan memandang wanita cantik yang sedang meringkuk diatas ranjang besarnya dengan mata terpejam.
"Aku tahu kau belum tidur." Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada.
Tak mendapatkan respon berarti, pria itu kembali bersuara "Salju sedang turun di luar, kenapa kau membuka jendela kamarmu lebar-lebar?"
Tanpa diduga wanita yang menjadi lawan bicaranya membuka matanya nyalang dan mendecih. "Kamarku ya? Ya ini memang 'KAMARKU', jadi untuk apa kau kemari eh?!" sang wanita menekankan kata 'Kamarku' dalam kalimatnya dan segera membalikan tubuhnya kearah lain setelah selesai menyelesaikan kata-katanya.
Sang pria menghela napas berat sambil memejamkan matanya lelah. Ia kemudian duduk ditepi ranjang dan mengelus surai hijau kotor milik sang wanita dengan lembut.
"Aku tahu kau kesal karena aku benar-benar jarang pulang dan kelewat sibuk selama beberapa tahun ini karena pekerjaanku." Pria itu berkata lembut sambil terus mengelus helaian wanitanya penuh sayang, dan wanita yang sedang diajaknya bicara perlahan merileks-kan otot-ototnya yang menegang karena marah, setelah disentuh begitu lembut oleh prianya. Sentuhan laki-laki itu memang selalu berhasil membuatnya tenang dan merasa aman.
"Kau tahu bagaimana abdiku pada desa. Aku menghabiskan hampir seumur hidupku untuk melindungi desa, bahkan sampai aku tidak pernah memikirkan cinta lain selain cinta terhadap Konoha. Beruntung aku bisa memilikimu sejak beberapa tahun lalu, hingga aku akhirnya dapat kembali memiliki rasa lain selain rasa cinta terhadap desa, teman-teman, dan murid-muridku. Cinta yang kau bawa melengkapi hidupku, Hanare."
Sang wanita yang dipanggil Hanare itu tak terasa menitikan air mata, ia menangkap tangan pria yang sedang membelai rambutnya dan kemudian membalikan tubuhnya, berbaring miring menatap pria bermasker dihadapannya. "Aku tak pernah seperti ini sebelumnya." gumam Hanare sambil menunduk memandang jemari panjang prianya yang sedang dimainkannya.
Pria itu mengangguk dan menghapus jejak air mata di pipi wanitanya. "Aku tahu, oleh karena itu aku berasumsi ada yang tidak biasa denganmu. Apa yang terlewat olehku hmm?"
Hanare bangkit untuk duduk dan menarik lepas masker sang pria. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher pria yang ternyata sangat tampan itu dan kemudian mengecup bibir si pria dengan ringan namun berkali-kali. Sang pria membalasnya dengan sangat lembut, tangannya telah melingkar di pinggang sang wanita.
"Aku menginginkan suamiku sekarang juga, benar-benar tak tertahankan rindu yang ada disini." bisik Hanare sendu sambil menepuk pelan dadanya.
"Percayalah, ketika aku kembali padamu, saat itu aku juga teramat sangat menginginkanmu istriku. Dan kau sepenuhnya dapat memilikiku." bisik pria perak itu sensual.
Hanare tersenyum mendengar kalimat suaminya, dan seketika gairahnya menggelora. Ia melepas jubah suaminya dengan perlahan, karena ia tahu suaminya sangat menghormati jubah yang melambangkan jabatannya di desa saat ini, jubah Hokage.
Ya, suaminya adalah seorang Hokage, tepatnya dia adalah Rokudaime, Hokage keenam yang menjabat setelah Putri Tsunade. Suaminya seorang ninja yang sangat hebat, dan murid dari Hokage keempat sekaligus guru dari team 7 yang anggotanya merupakan pahlawan perang dunia Shinobi. Dialah si copy ninja, putra dari si Taring Putih Konoha yang juga pernah mendapat julukan 'Kakashi si Sharingan'.
Mereka telah menikah dua setengah tahun yang lalu, beberapa bulan sebelum Kakashi mendapatkan gelarnya sebagai Rokudaime. Diawal pernikahan, mereka menghabiskan waktu lebih banyak dibandingkan ketika Kakashi menjabat sebagai Hokage. Satu setengah tahun setelah pengangkatannya menjadi Hokage keenam, Hanare melahirkan anak pertama mereka yang diberi nama Hatake Kazuto.
Hanare menarik dan membanting tubuh suaminya ke ranjang setelah selesai melepas jubah hokage milik suaminya dengan selamat dan melemparnya sembarangan ke lantai. Membanting tubuh suaminya yang cukup berat bukan hal yang sulit untuk dilakukan oleh Hanare. Jangan lupakan kalau Hanare adalah mantan kunoichi pelarian dari desa kunci yang bahkan tak kenal takut ataupun rasa sakit walau harus disiksa sekalipun demi menjaga rahasia desanya. Sedikit banyak hal itu menjadi salah satu point kesamaan pribadi mereka yang membuat mereka serasi, yaitu keberanian dan kesetiaan pada desa. Walau pada akhirnya Hanare harus menjadi ninja pelarian dari desanya sendiri, itu dia lakukan karena desa yang dibelanya selama ini ternyata hanya memperalatnya saja untuk tujuan yang curang.
Kehausan akan sosok keluarga yang mereka alami selama hidup, juga menjadi unsur kesamaan yang mempersatukan mereka untuk saling melengkapi dan mengisi kekosongan dan rasa haus akan keluarga itu, sehingga mereka membuat keluarga kecil sendiri dan menumpahkan seluruh kasih sayang orang tua yang kurang mereka dapatkan dulu kepada putra semata wayang mereka Hatake Kazuto.
Kakashi sedikit terkejut mendapati istrinya yang begitu liar, dia mulai memikirkan kira-kira apa yang menyebabkan istrinya yang pemalu dan manja itu menjadi sedikit nakal dan beringas seperti saat ini.
Hanare menggenggam kerah kemeja kakashi dan menciumi leher suaminya hingga menghasilkan beberapa kissmark disana. Kakashi masih bergelut dalam analisisnya sambil memeluk pinggang Hanare di sebelah tangan dan tangan satunya lagi membelai lembut rambut istrinya.
"Enghh..." lenguh Kakashi saat Hanare menggigit lehernya terlalu kencang karena terlalu bersemangat.
"Sepertinya aku perlu menyakitimu dulu agar kau mau bersuara atau sekedar merespon seranganku hmm?" bisik Hanare sensual tepat di telinga kiri suaminya.
"Aku sedang memikirkan kenapa kau bertingkah aneh seperti ini." gumam Kakashi dengan suara melamun sambil menatap langit-langit kamar mereka.
Tampaknya sensei dari Uzumaki Naruto ini masih belum berubah, masih penuh kontrol dan tak mudah terpancing, bahkan oleh istrinya sendiri. Hanare hanya mendengus keras karena kesal serangan yang diberikannya untuk merangsang gairah suaminya gagal total.
"Bagaimana bisa mereka mengatakan kalau kau ini ninja mesum kalau kau saja sulit dibuat terangsang heh?!" kini Hanare telah menghentikan gerakannya dan hanya duduk tenang diatas perut suaminya sambil melipat kedua tangannya di dada.
Kakashi terpaku sesaat setelah mendengar kata-kata istrinya dan akhirnya mendengus tertawa. Hanare mendelikan matanya dan mencubit pinggang suaminya.
"Arghh, ya ya Hanare okay lepaskan cubitanmu atau kau takkan mendapatkan aku malam ini eh?" Kakashi masih terkekeh sambil meringis kesakitan akibat cubitan istrinya.
"Kau tahu kan kalau tak ada yang bisa mengalihkan perhatianku ketika aku sedang memikirkan sesuatu yang serius?" kata Kakashi menarik tangan istrinya, hingga kini tubuh Hanare menindih sempurna tubuh Kakashi.
"Bahkan godaan istrimu sendiri?" rengut Hanare sambil mengerucutkan bibirnya.
"Bahkan godaan istriku sendiri ataupun wanita lain." ulang Kakashi.
"Sejujurnya aku punya banyak hal yang harus aku pikirkan dalam kepalaku mengenai masalah-masalah yang silih berganti datang dan harus dihadapi desa, bahkan seluruh dunia shinobi. Ditambah lagi dengan Sai yang belum juga kembali dari misi yang kuberikan sejak dua bulan yang lalu." Hanare menyandarkan kepalanya di bahu Kakashi dan menenggelamkan wajahnya di lekukan leher sang suami, menghirup dalam-dalam aroma maskulin pria yang sangat dicintainya itu. Ia sangat mengerti bagaimana perasaan suaminya saat ini, pria itu sangat menyayangi murid-muridnya, pasti sangat berat menanggung kenyataan bahwa salah seorang muridnya tidak juga kembali dari misi yang diberikannya sendiri dalam waktu yang cukup lama tanpa kabar. Oleh karena itu, Hanare ingin menghibur suaminya malam ini agar pria itu bisa sedikit tenang dan berpikir lebih jernih setelahnya. Ia juga akan mengesampingkan pemikiran bodohnya mengenai pembicaraan kunoichi tukang gosip tadi siang yang sempat membuatnya uring-uringan.
Namun rencana Hanare untuk mengesampingkan pemikiran bodoh itu hancur sudah saat Kakashi kembali membuka suaranya. "Tapi aku akan membuat pikiranku itu teralihkan sebentar untuk malam ini. Aku ingin kau mengalihkan dan menenangkan pikiranku malam ini. Aku bisa mengatasinya, tapi..." Kakashi menggantung kalimatnya, sedangkan Hanare menatapnya tajam menunggu kelanjutan kalimat suaminya.
"Aku masih penasaran kenapa kau bertingkah aneh dan emosional malam ini?" sebuah seringai memabukan terbentuk di bibir tipis Kakashi.
Wajah Hanare bersemu memandang seringai sexy milik ninja hot sekelas Kakashi, ditambah kenyataan kalau pertanyaan Kakashi akan membawanya pada pengakuan yang mau tak mau harus diungkapkannya pada Kakashi mengenai sikap anehnya malam ini. "Aku... uhm..."
"Kau tahu aku kurang suka menunggu." gumam Kakashi datar.
"Tadi siang aku mendengar dua orang wanita sedang membicarakanmu, mereka mengatakan bahwa kemarin 5 kage datang ke Konoha untuk megunjungi markas Persatuan Shinobi. Dan saat itu, tiba-tiba ada segerombolan orang yang lewat di depan kami, dari seragamnya aku tahu kalau mereka adalah ninja dari desa Kirigakure. Di tengah-tengah mereka ada seorang wanita yang mengenakan topi Mizukage." Hanare diam sejenak dan mengangkat wajahnya untuk melihat reaksi suaminya. Namun ia hanya melihat tatapan datar yang menunggunya melanjutkan ceritanya. Hanare kemudian bangkit dan kembali duduk di atas perut suaminya, ia kembali melanjutkan ceritanya sambil terus menatap mata suaminya dan membaca reaksi wajah sang suami selama dia bercerita.
"Wanita itu sangat cantik, rambut cokelat kemerahannya menjuntai hingga betis. Tubuhnya sangat sexy dan dibalut dengan gaun biru yang sangat pas ditubuhnya." Hanare melirik suaminya yang masih memasang wajah datar.
"Kupikir kau mengenalanya suamiku?" pancing Hanare.
"Ya, dia Mei Terumi, Mizukage kelima dari desa Kirigakure." jawab Kakashi lancar.
"Hnn... Bagaimana menurutmu? Dia cantik sekali kan?" Hanare tersenyum lembut pada suaminya.
Kakashi mengangkat sebelah alisnya. "Dia memang cantik, dan dia belum menikah." Hanare menegang sebentar, namun segera ia kembali bersikap santai.
"Kau sudah mengenalnya lama?" tanya Hanare berusaha menjaga nada bicaranya sebiasa mungkin.
"Ya, sangat lama."
Napas Hanare mulai berat "Kau juga cukup lama melajang kan? Kenapa kau tidak bersama dengannya sebelum kau bertemu denganku? Aku yakin dia pasti juga menyukaimu, takkan ada wanita yang sanggup menolak pesonamu Kakashi-kun."
"Jadi itu yang dikatakan para wanita itu? Mengenai aku dan Mei? Itukah yang membuatmu bertingkah aneh sejak tadi?" Kakashi menggenggam kedua tangan Hanare yang sejak tadi menekan perut atletisnya.
"Dia cantik Hanare, tapi dia bukan kau yang bisa membuat hatiku berdebar seperti ini saat berada di dekatnya." Kakashi meletakan telapak tangan Hanare di dadanya untuk merasakan debaran jantungnya.
"Tapi mereka bilang kalau kalian sangat cocok, kalian sama-sama seorang Kage sekaligus ninja yang sangat hebat. Mereka juga mengatakan kalau jauh sebelum kau menikah denganku pun... kalian pernah dekat." suara Hanare mengecil di kalimat terakhirnya.
Kakashi terkekeh kecil, membuat tubuh Hanare yang berada diatas perutnya bergoyang sedikit. Wajah Hanare memerah karena kesal ditertawakan oleh suaminya.
"Sejak dulu mereka banyak menggosipkan aku dengan banyak kunoichi sayang... kurasa aku tak perlu menyebutkannya karena hanya ada satu kunoichi dalam hatiku, dan sekarang wanita itu sedang mengangkangiku." Kakashi menyeringai melihat sikap istrinya yang mulai kembali seperti semula, Hanare bersemu parah dengan gugup mencoba bangkit dari atas tubuh suaminya.
Kakashi hanya diam namun matanya tak lepas memandang wajah salah tingkah istrinya yang berbaring di sampingnya dengan membelakangi dirinya. Kakashi tau istrinya melakukan itu bukan karena masih marah, tapi lebih tepatnya ia malu dengan sikap cemburunya ditambah dengan kenyataan bahwa dia bersikap sangat liar di depan suaminya saat cemburu.
Kakashi mendekap tubuh istrinya dari belakang, kedua tangannya dilingkarkan di perut rata Hanare. Ditenggelamkannya wajahnya di leher wanitanya dan menghirup aroma segar pinus yang menenangkan. Hanare tak pernah mengenakan parfum, namun Kakashi tak pernah paham mengapa istri cantiknya ini selalu memiliki aroma pinus yang menguar dari dalam tubuhnya. Bagian tubuh Hanare yang paling kuat tercium aroma pinus adalah dibagian yang sedang Kakashi cumbu saat ini, lehernya. Leher jenjang Hatake Hanare tak pernah gagal membuat Kakashi merasa rileks dan tenang, bahkan semua nyeri otot yang dirasakannya karena kurang tidur dan terlalu banyak bekerja bisa hilang begitu saja tak bersisa. Kini semua hal yang membuatnya stress seperti terbawa angin dan meringankan kembali bahunya yang sebelumnya membelenggunya. Harum tubuh Hanare seperti obat penenang baginya. Dulu Kakashi selalu pergi ke hutan untuk menenangkan diri, namun sekarang ia hanya perlu pulang ke rumahnya dan memeluk istri tercintanya untuk membuat dirinya tenang.
'Mengapa Hanare memiliki aroma seperti pohon pinus? Bahkan warna rambutnya yang berwarna hijau kelam itu membuatku merasa sejuk.' pikir Kakashi yang kembali menciumi leher wanita hijau itu sambil tersenyum. Hanare mengusap pelan rambut perak suaminya juga sambil tersenyum.
"Kenapa kau membelakangiku? Kau berubah pikiran?" bisik Kakashi di telinga Hanare, membuat sang wanita meringis geli dan berbalik menghadap suaminya.
Mata mereka bertemu, lama mereka berpandangan dalam diam. "Kau hanya memandangku tapi aku merasa seperti ditelanjangi olehmu." kekeh Hanare.
Tanpa bicara kini Kakashi sudah berada di atas istrinya dan melumat bibir ranum itu, mereka bergelut mesra di atas ranjang. Kakashi menarik tali yang mengikat bagian pinggang jubah tidur istrinya. Perlahan dan tanpa tergesa, mereka saling melucuti pakaian satu sama lain.
Kini tubuh mereka telah polos sepenuhnya. Kakashi menghujani sepanjang leher dan bahu mulus istrinya dengan kecupan-kecupan kecil, tangan kekarnya menyusuri lekuk tubuh Hanare yang selalu berhasil memabukannya. Tangan kanannya mengelus paha bagian dalam Hanare dengan ujung jarinya, membuat Hanare merapatkan kedua kakinya. Kini kepala Kakashi sudah tenggelam diatas dada wanitanya, sedang Hanare terus menekan belakang kepala suaminya agar berlama-lama berada disana untuk memanjakan kedua gundukan miliknya yang sangat merindukan permainan tangan dan lidah suaminya itu.
Hanare melenguh lembut disela-sela perlakuan Kakashi terhadapnya. Ketika Kakashi mengelus bagian sensitifnya dibawah sana yang sudah basah, lenguhan itu berubah menjadi erangan tertahan. Hanare kembali merapatkan kakinya dan sedikit bergelinjang nikmat.
Hanare meraba dada dan perut atletis suaminya, ini selalu menjadi kesukaannya. Mengagumi betapa sempurna suaminya dan di waktu yang sama juga merasa bersyukur karena bisa menjadi satu-satunya wanita yang beruntung dapat melihat wajah tampan dan menjadi istri dari seorang Hokage sexy yang sangat hebat dan fenomenal bernama Hatake Kakashi.
Kakashi menyambar bibir Hanare dan melumatnya penuh gairah. Sedangkan dibawah sana, Kakashi telah memompa dan memasuki Hanare dengan tempo yang mengagumkan. Hanare melenguh di sela-sela ciuman panasnya dengan Kakashi.
Suami Istri ini bergerak dengan brutal berusaha menyatu sedalam-dalamnya. Peluh mereka bercampur menjadi satu. Tidak peduli dengan keadaan di luar yang dingin dan salju yang turun semakin lebat, namun tubuh mereka terasa panas bergelora. Kakashi menggeram tepat setelah mereka mencapai puncak secara bersama-sama.
Ia mencium dahi istrinya yang memeluknya penuh cinta. Kakashi hendak mengeluarkan dirinya dari tubuh Hanare, namun wanita itu masih memeluknya erat. "Biarkan begini dulu, aku masih enggan melepasmu." bisik Hanare.
"Hn, kau... masih ingin... melakukannya?" tanya Kakashi agak ragu.
"Ya, tapi aku tahu kau sedang lelah. Tidurlah dulu, kita bisa melanjutkannya saat kau cukup istirahat." Hanare mengecup bibir suaminya lembut.
Kakashi hendak mengatakan sesuatu sebelum istrinya menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya. "Sstt... aku tahu kau tak punya banyak waktu untuk tinggal. Maka kau harus menyelesaikan urusanmu denganku segera. Jika tidak malam ini, saat kau terbangun di pagi buta, maka aku akan menyerangmu besok pagi sebelum kau berangkat ke kantor Hokage." Hanare menampilkan senyuman nakalnya sambil mengedipkan sebelah matanya genit, hingga Kakashi terkekeh dan mengacak rambut istrinya gemas.
Mereka tidur dengan posisi saling berpelukan dengan bagian tubuh yang menyatu sempurna.
.
.
To Be Contunue...
Selow dulu, pemanasan biar ga tegang ._.v
Thanks to : aandimuhammadbintang, Iranafi29897, lightning69, cloudsye24, dan silent reader lainnya.
Druella Wood
