Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rating: M
Lanjutan Kakashi No Hatsukoi (Kakashi- sensei First Love)
.
.
Langit sudah beralih warna menjadi biru gelap dan bulan sudah mulai terlihat dalam bayangan tipis. Dibawah langit malam itu, sang Hokage berlari tanpa suara di atap rumah penduduk. Ia pulang lebih awal hari ini dan memutuskan untuk melewati atap rumah penduduk ketimbang berjalan di jalanan desa yang pasti masih cukup ramai di jam-jam seperti saat ini. Untuk seorang hokage seperti dirinya, berjalan santai di jalan desa yang ramai seperti itu akan sedikit menghambat niatnya untuk segera sampai ke kediamannya dan bertemu dengan istri tercintanya serta jagoan kecilnya.
Kakashi tersenyum kecil saat mengingat wajah mungil putra semata wayangnya. Ia kemudian mempercepat larinya saat matanya telah menangkap pemandangan rumahnya di ujung jalan.
"Tadaima." seru Kakashi.
"Ah, Okaeri Kakashi-kun." Hatake Hanare, istri tercinta sang hokage keenam muncul dari balik dapur sambil menggendong putra mereka di dekapannya dengan senyum dibibir pink-nya.
"Tumben kau sudah pulang jam segini? Aku baru saja selesai memasak, dan akan memandikan Kazu."
"Hn, aku rindu kalian." Kakashi mendekap istri dan anaknya setelah melepaskan sepatunya dan meletakannya di rak sepatu.
Hanare terkekeh "Ah Kashi-kun, aku suka sekali jika kau bersikap manja seperti ini."
Kakashi melepaskan pelukannya sambil tersenyum hangat dibalik masker hitamnya.
"Kau bersedia menungguku memandikan pangeran ini dulu? Kau mau makan atau mandi dulu? Biar kusiapkan setelah Kazu mandi." Hanare meraih masker suaminya dan menariknya lepas hingga menampakan wajah tampan sang hokage keenam.
"Kau sudah mandi?" tanya Kakashi yang dijawab dengan gelengan kepala oleh istrinya.
"Kalau begitu kita mandi bertiga untuk menghemat waktu. Lagipula aku butuh bantuan untuk menggosok punggungku." wajah Hanare merona mendengar ucapan suaminya yang hentai itu.
Dengan seringai yang membelah wajah tampannya, Kakashi berbisik dan menambahkan, "Kau pasti capek seharian mengurus rumah dan Kazu, aku akan memijat tubuhmu di bak mandi nanti. Ayo." Kakashi merangkul Hanare dengan Kazu di pelukannya yang tak hentinya tertawa dan menepuk-nepuk pipi ibunya.
.
.
"Kau sedang sibuk? Mau kubuatkan kopi atau teh?" Tanya Hanare setelah masuk ke kamarnya dan Kakashi.
"Tidak perlu, aku akan tidur sebentar lagi. Apa Kazu sudah tidur?" tanya Kakashi setelah melirik sebentar ke arah istrinya dan kembali berkutat dengan dokumen-dokumen di pangkuannya.
"Sudah, dia aktif sekali malam ini, sepertinya terlalu antusias karena ayahnya pulang lebih awal." tawa merdu Hanare menguar di kamar mereka, membuat Kakashi tersenyum miring.
"Kau ada masalah, maukah kau berbagi denganku?" Hanare duduk di depan meja riasnya sambil menyisir rambut hijaunya, namun matanya tak lepas menatap wajah suaminya dari balik kaca meja rias.
Kakashi masih bungkam dan tetap serius meneliti dokumen-dokumen misi yang sengaja dibawanya pulang agar ia dapat lembur di rumahnya saja daripada di kantor hokage. Hanare menghembuskan nafas keras dan berbalik menuju ranjang mereka.
Hanare melepas jubah tidurnya hingga menyisakan gaun tidur tipis saja, kemudian ia merangkak naik ke ranjang dan dengan lembut menarik dokumen yang sedang digenggam suaminya. Wanita cantik itu dengan cepat merapikan dokumen-dokumen yang berserakan diatas ranjang dan menumpuknya diatas meja samping ranjang.
Kakashi tak lepas memandangi kegiatan istrinya hingga akhirnya wanita itu merangkak kembali ke arahnya dan duduk di pangkuannya.
Kedua paha Hanare mengapit paha Kakashi, sedangkan kedua tangannya mengalung manja di leher sang suami. Dengan lembut Hanare mengecup bibir suaminya dan dibalas dengan lumatan penuh cinta dari sang suami. Kakashi menarik pinggang Hanare untuk lebih menempel pada tubuhnya, hingga dada dan pangkal paha mereka kini telah saling menekan.
Kakashi merebahkan tubuh Hanare tanpa melepaskan ciumannya, ia terus menelusuri rahang, leher dan dada istrinya dengan bibir dan lidahnya. Mengecup dan membuat tanda dimana-mana. Kakashi mengangkat kepalanya dan menatap mata istrinya dalam-dalam. Tangan kanannya mengusap pipi istrinya dan terus menyusuri kulit istrinya dengan ujung jarinya hingga tangannya tiba di dada indah itu dan melakukan sesuatu yang membuat Hanare mengeluarkan lenguhan sensualnya. Masih saling menatap, Kakashi lantas berhenti memainkan jarinya dan langsung menangkup serta memijatnya dengan intens seperti saat di kamar mandi tadi.
"Kakashi-kun." bisik Hanare dengan mata sayu yang membuat Kakashi terangsang.
"Sstt..." Kakashi kembali membungkam bibir istrinya dengan bibirnya dan langsung melucuti sisa pakaian mereka dengan cepat. Setelah tubuh mereka polos tanpa sehelai benangpun, Kakashi langsung menghujamkan serangan utamanya kedalam milik Hanare.
.
.
Peluh yang membanjiri tubuh masing-masing akibat aktivitas malam panas mereka, kini telah hampir mengering seiring dengan hembusan angin malam yang masuk melalui jendela kamar mereka yang sengaja tidak ditutup. Kedua tubuh polos suami istri itu masih saling mendekap. Kakashi masih setia mengelus rambut panjang nan lembut istrinya yang tengah memeluk perutnya dan merebahkan kepalanya di dada bidangnya.
"Jadi... kau mau berbagi masalahmu denganku?" suara feminim milik wanita cantik didekapannya mengalun lembut bersama hembusan angin malam kedalam telinganya.
"Sai." gumam Kakashi dengan suara dalam.
Hanare mengangkat kepalanya untuk menatap wajah suaminya yang sedang menatap bulan sabit dari luar jendela kamar mereka yang terbuka, dagunya ia letakan diatas dada bidang Kakashi. "Dia belum kembali dari misinya?" tebak Hanare yang memang dari awal sudah tahu kalau Kakashi sangat berat melepas salah satu anak didiknya itu untuk misi ke Negeri Sunyi.
Kakashi mengangguk. "Dua hari lalu ia mengirimkanku sebuah gulungan yang menyampaikan informasi bahwa rekan-rekan yang menjalankan misi bersamanya telah menghilang seluruhnya, hingga hanya dia yang tersisa." Kakashi diam sejenak, sedangkan Hanare masih setia menunggu kelanjutan ceritanya.
"Dalam suratnya dia tampak seperti..." kedua alis kelabu Kakashi mengerut memikirkan istilah yang tepat untuk menggambarkannya. "Hilang arah." putusnya.
Kedua netra cokelat Hanare tak lepas memperhatikan mimik wajah suaminya sambil tetap fokus mendengar penuturannya.
"Shikamaru mengetahui kalau Sai mengirimiku gulungan misi, dan ia langsung menyeruak masuk ke ruanganku dan mananyakan kabarnya." jeda lagi, Hanare merasakan dada Kakashi yang membusung dan mengempis menandakan pria itu baru saja menarik napas dalam.
"Kami menganalisa maksud dari surat yang dikirimkan oleh Sai. Kami menyimpulkan bahwa musuh yang sedang kami hadapi bukanlah orang sembarangan, dan Sai berada dalam bahaya yang kami sendiri belum tahu seperti apa bentuk bahaya itu."
"Shikamaru memikirkan hal yang sama denganku." lanjut Kakashi dalam gumaman lirih.
Tanpa sadar Hanare menekan dada dan lengan Kakashi dan mendesis "Kalian berencana untuk menyusul ke Negeri Sunyi dan menghadapi mereka."
Kakashi kembali menghembuskan nafasnya keras dan ia mengangguk. Namun sejenak kemudian ia menggeleng lemah. Hanare mengerutkan keningnya dengan pandangan bertanya.
Kakashi memandang kedua netra teduh istrinya dan melanjutkan.
"Aku memang berencana seperti itu. Aku sangat ingin melakukannya. Kau tahu?" Kakashi memejamkan matanya. "Aku hidup untuk desa ini, untuk murid-muridku, dan kini juga untuk keluarga kecilku." Sentuhan lembut jemari Hanare di pipinya membuat Kakashi kembali membuka mata dan kembali bertukar pandang dengan sang istri.
"Seperti ini semua adalah kesalahanku dan aku harus mengemban semua tugas ini untuk memperbaikinya. Aku tak ingin ada korban lainnya, termasuk anak didik salah satu sahabatku, Asuma." bibir Kakashi sedikit bergetar.
"Aku yang mengirim Sai ke Negeri Sunyi, dia anak didikku. Dan kini aku tak bisa turun tangan langsung untuk menyelamatkannya karena tanggung jawabku sebagai hokage." tangannya terkepal dalam gumpalan rambut Hanare yang sedang digenggamnya.
"Shikamaru, Asuma menitipkan ketiga anak didiknya padaku. Anak itu, si jenius dari klan Nara itu. Niatnya untuk menyusul Sai ke Negeri Sunyi sama kuatnya denganku. Aku tak bisa membiarkan anak secemerlang dirinya mengumpankan dirinya Hanare. Desa sangat membutuhkannya."
"Dan desa juga membutuhkanmu, desa membutuhkan kalian semua. Karena kalian semua adalah shinobi hebat. Kakashi-kun, puluhan tahun kau mengabdi untuk desa Konoha di barisan depan sebagai prajurit, kini desa telah mempercayakan dirimu untuk memimpin desa dari dalam, sebagai pusat pemerintahan. Kau perlu mengerti bahwa semua ada masanya, saat ini adalah giliranmu untuk memberikan abdimu dalam bentuk yang berbeda dari masa mudamu. Sekarang adalah kesempatan bagi murid-muridmu untuk belajar apa yang telah dan pernah kau pelajari dan ketahui agar kelak mereka juga bisa memimpin desa seperti dirimu dan hokage terdahulu. Nara Shikamaru adalah shinobi yang hebat, aku tahu betul tentang itu. Aku dan kau percaya bahwa anak itu akan mampu menjalani misi ini dengan baik." Kakashi mengalihkan pandangannya ke arah langit malam dan mulutnya tetap bungkam.
"Kau dan aku sama-sama pernah menjadi senjata desa kita masing-masing. Kita mengabdi dan mempertaruhkan nyawa kita demi desa. Disanalah kita belajar dan mengasah kemampuan kita menjadi seorang ninja yang kuat. Kau harus selalu ingat bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik. Mereka akan berterima kasih padamu atas semua kesulitan yang mereka hadapi di luar karena semua hal itu justru menjadi bahan bakar mereka untuk menjadi semakin kuat." Kakashi masih enggan menatap Hanare.
"Pilihkan Shikamaru anggota terbaik untuknya." kalimat terakhir yang keluar dari bibir Hanare dengan tegas berhasil menarik atensi kelabu Kakashi.
Tanpa mengucapkan apa-apa Kakashi telah membaca maksud pernyataan istrinya dari mata cokelatnya. Memejamkan kedua kelopak matanya, dengan enggan ia mengangguk pasrah terhadap keputusan yang akan ia ambil selanjutnya.
.
.
Jendela yang dibiarkan terbuka di sepanjang ruangan hokage itu memampangkan jalanan Desa Konoha yang tampak bersinar dibawah teriknya matahari pagi. Sapuan angin ringan merasuk kedalam ruangan tersebut dan menyapu surai keperakan sang hokage keenam. Hatake Kakashi.
Tangan sang hokage tak menurunkan kecepatannya saat menandatangani dokumen-dokumen yang menggunung di meja kerjanya. Setelah beberapa saat, akhirnya sang hokage keenam menghentikan gerakan tangannya dan meletakan penanya diatas mejanya. Ia mendongakan kepalanya serta menegakan tubuhnya. Sambil menumpukan kedua sikunya diatas meja, Kakashi menatap lurus kearah pemuda yang sejak beberapa menit lalu telah berdiri di hadapannya.
"Aku sudah membuatmu menunggu." gumam Kakashi. "Ada urusan apa kau kemari?" sambungnya.
"Negeri Sunyi."
"Ah itu ya..." Kakashi memberi jeda sejenak.
"Apa kau benar-benar berniat untuk pergi?" tanya Kakashi.
"Ya."
Kakashi menghembuskan nafas keras mendengar jawaban yakin dari salah satu murid rekannya yang telah gugur dalam perang. "Apa kau benar-benar harus pergi?" Kakashi kembali memastikan.
"Sai sudah tertangkap. Desa kita sudah kehilangan shinobi dengan jumlah yang besar, baik mereka yang hilang saat perang maupun yang hilang setelahnya. Apakah mereka pergi dengan keinginan sendiri atau mereka ditangkap oleh Gengo adalah hal yang harus kita verifikasi." Jelas Shikamaru.
"Tekadmu sudah sangat bulat, huh." Shikamaru mengangguk dalam diam.
Kakashi memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya. Ia kembali melihat ke arah Shikamaru. "Aku mengerti. Aku takkan mengatakan apa-apa lagi. Menurutmu siapa yang akan kau bawa? Kau tidak berencana pergi sendiri kan?"
"Bisakah kau menyiapkan dua orang Anbu untukku?" pinta Shikamaru.
"Huh…" Kakashi menopang dagunya dengan satu tangan, sikunya berada di atas meja. Matanya menampakkan ekspresi serius. "Kenapa tidak Ino dan Chouji?"
"Kombinasi InoShikaChou dapat digunakan untuk serangan diam-diam, namun aku rasa tidak cocok digunakan dalam misi ini." elak Shikamaru.
"Karena ini misi pembunuhan, kan?" tebak Kakashi tepat sasaran.
"Terlebih lagi, penyelinapan adalah hal penting dalam misi ini. Aku butuh orang yang dapat menyembunyikan chakra." Shikamaru memilih mengalihkan pertanyaan Kakashi dengan analisisnya.
"Hmm…" Kakashi memejamkan matanya dan berpikir. Ia memikirkan permintaan Shikamaru dan mencocokkannya dengan beberapa rencana di kepalanya.
"Yang melakukan serangan untuk membunuh bukan kau kan?" tanya Kakashi.
"Aku berniat menggunakan jurusku untuk mengunci target." sahut Shikamaru cepat.
"Kalau begitu kau membutuhkan seseorang yang akan melakukan serangan untuk membunuh." Kakashi menyimpulkannya terlebih dahulu. Ia mengerti apa yang Shikamaru pikirkan.
Dua orang Anbu…
Satu orang yang dapat memanipulasi chakra dan menyembunyikan keberadaan mereka. Satu orang lagi memiliki jurus yang dapat digunakan sebagai serangan untuk membunuh.
"Aku tahu orang-orang yang cocok." Ucap Kakashi.
"Terima kasih." gumam Shikamaru.
"Aku akan mengaturnya."
"Apa kau tidak punya hal lain yang ingin dibicarakan mengenai tugasku?" Tanya Shikamaru.
"Tidak ada tugasmu yang lain yang lebih mendesak dari masalah ini." Ucap Kakashi, dan saat itu kau dapat merasakan bahwa ia benar-benar merupakan seorang Hokage.
Ia memperhitungkan berbagai permasalahan penting dengan tenang, dan membuat keputusan mengenai apa yang akan dilakukan dengan cepat dan tegas . Karena kemampuannya lah shinobi dapat bekerja dibawahnya tanpa khawatir dan memberikan segalanya untuk desa. Shikamaru berpikir mereka mungkin tak akan bisa melakukan apapun tanpanya.
Ia tak pernah berpikir seperti 'aku ingin menjadi Hokage'. Akan tetapi, bohong jika mengatakan bahwa ia tidak merasa sedikitpun termotivasi untuk tumbuh. Di depan pria seperti Kakashi, Shikamaru masihlah muda dan belum berpengalaman, tak bisa dibandingkan dengannya, dan itu membuatnya frustasi.
"Aku akan memerintahkan mereka untuk segera kembali. Kau bisa menunggu sedikit lebih lama kan?" tanya Kakashi memecah keheningan yang sempat tercipta.
"Tolong lakukan secepat mungkin." pinta Shikamaru.
"Aku mengerti." Kakashi tersenyum dibalik maskernya dan berdiri. Ia membelakangi Shikamaru, menerawang ke arah pintu.
"Kau tidak perlu terlalu membebani dirimu sendiri, kau tahu kan." Gumam Kakashi.
Shikamaru tak menjawab.
"Aku ingin memberitahumu apa yang kupikirkan sekarang." Kakashi mengangkat tangan kirinya ke udara, membiarkan sekelibat petir muncul.
"Saat ini, aku sangat ingin mengabaikan semua kewajibanku sebagai Hokage dan pergi ke Negeri Sunyi."
Shikamaru dapat mendengar jelas jeritan frustasi dari hati Kakashi. Bagaimana seorang pria ingin mengabaikan segalanya untuk pergi dan membunuh Gengo dengan kedua tangannya.
Tapi tanggung jawabnya sebagai Hokage tidak bisa ia tinggalkan begitu saja.
"Sejujurnya," ucap Kakashi "Aku merasa…adalah hal yang tidak pantas bagiku untuk membebanimu dengan hal ini."
"Naruto dan aku, dan semua teman-teman sebaya kami, sudah menempati posisi dengan berbagai beban dan tanggung jawab. Kau tak perlu memikulnya sendirian." Shikamaru mencoba meringankan beban pikiran dan jeritan hati Kakashi.
"Apa memang begitu…" Petir ditangan Kakashi lenyap tanpa menjadi apa-apa.
"Shikamaru." Kakashi melirik ke arah pemuda ber-klan Nara itu. "Aku terkadang berpikir apa sebenarnya arti menjadi dewasa."
"Tolong jangan tanyakan padaku jawabannya." Shikamaru menghela nafas.
.
.
.
To Be Continue
Thanks To : Unnihikari, Guest, dan silent reader
