Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Rating: M

Lanjutan Kakashi No Hatsukoi (Kakashi- sensei First Love)


.

.

Berdiri di depan Shikamaru, dua wajah baru berwarna putih: kucing dan kera.

Tentu saja, kedua wajah hewan itu hanyalah topeng, dan dari leher ke bawah berbentuk manusia. Mereka menggunakan seragam hitam pekat yang melekat pada kulitnya, begitu juga jaket pelindung Konoha yang baru didesain ulang.

Jaket pelindung yang lama memiliki saku di kedua sisinya pada bagian dada agar shinobi dapat menyimpan gulungan atau peralatan ninja, namun desain yang baru sudah tidak menggunakannya lagi dan membuatnya lebih sederhana. Ini merupakan efek samping dari era perdamaian yang telah terwujud setelah perang berakhir.

Dimana terlukis mata di topeng kedua Anbu tersebut, terdapat lubang seperti goa yang dalam dan gelap. Pada kedua topeng itu terlukis mulut yang tipis, melengkung dari pipi ke pipi. Pada topeng kucing terlukis garis tipis berwarna merah di bawah matanya. Pada topeng kera terlukis alis merah tebal yang membuatnya terlihat seperti sedang marah. Kedua Anbu itu mengaitkan tangannya dibalik punggungnya, dan celah mata pada topeng mereka membuat Shikamaru merasa sedang diawasi.

"Ini mereka berdua, aku rasa mereka bisa melakukan segala yang kau harapkan." ucap Kakashi dari tempat duduk di balik mejanya.

Dari tempat Shikamaru berdiri, Anbu bertopeng kucing berada di kanan, dan yang bertopeng kera berada di kiri. Kedua Anbu itu memiliki berbedaan tinggi yang sangat jauh. Si Kera 176 cm, sedikit lebih tinggi dari Shikamaru, sedangkat Si Kucing tingginya hanya sepundak Shikamaru.

Jadi, yang bertopeng kera adalah pria, dan yang bertopeng kucing adalah wanita… Meskipun tanpa perbedaan tinggi, struktur tubuh mereka sangatlah jelas.

"Kalian berdua, lepaskan topeng kalian." Instruksi Kakashi.

Tangan kedua Anbu itu terangkat mencapai topeng mereka sesuai perintah Kakashi, perlahan menurunkannya untuk memperlihatkan wajah mereka yang sebenarnya.

Memang sebuah ciri khas seorang Anbu untuk memakai topeng dengan wajah hewan. Karena mereka biasanya berurusan dengan misi gelap sepeti pembunuhan atau menyebabkan kekacauan di negara luar, mereka tidak mau membiarkan orang lain mengetahui identitas mereka. Bahkan masyarakat Konoha sendiri tidak mengetahui siapa yang merupakan Anbu, siapa yang bukan.

'Orang-orang yang datang dan pergi dari desa tanpa memakan apapun adalah Anbu.' Banyak sekali beredar rumor dan spekulasi seperti itu.

"Pria ini adalah Rou, dan anak perempuan ini adalah Soku."

Kedua Anbu itu membungkuk memberi salam pada Shikamaru saat Kakashi memperkenalkan mereka.

"Memiliki perempuan yang sangat muda di Anbu…"

"Tidak terpikirkan, kan?" Soku memotong gumaman Shikamaru.

"Tapi di dunia Shinobi, kemampuan adalah segalanya, dan aku memasuki Anbu dengan membuktikan nilai dari kemampuanku, kau tahu." lanjut gadis kecil itu.

"Dia benar." Kakashi setuju dengan Soku.

Shikamaru tak bisa memungkiri keterkejutannya. Soku masih sangat muda. Ia paling tidak lebih muda 5 atau 6 tahun dari Shikamaru, dan pasti baru saja lulus dari akademi. Ia memiliki pipi kemerahan yang chubby, namun juga memiliki bibir tipis membentuk rengutan yang memancarkan tekad. Alis tipisnya melengkung dan matanya memancarkan kepercayaan diri.

Sesuatu darinya membuat Shikamaru merasa seperti inilah bentuk Temari saat kanak-kanak.

"Hinoko diakui kemampuannya dan direkrut ke Anbu ketika ia baru saja lulus dari Akademi. Meskipun usianya baru 14 tahun, ia telah menyelesaikan misi dengan jumlah besar." jelas Kakashi. "Ia sangat diandalkan dalam Anbu."

"Tidak baik menilai kemampuan seseorang hanya dari penampilannya saja, kau tahu." gerutu Soku, menggembungkan pipinya sedikit. "Dan Tuan Hokage, aku terus-menerus memberitahumu untuk tidak memanggilku dengan nama asli, kau tahu."

"Hinoko… Nama yang sangat bag-"

Dalam sekejap, Soku telah hilang dari pandangan Shikamaru dan sebelum ia menyadarinya, sebuah jari dengan sinar oranye berchakra ditekankan ke arah dahinya.

"Aku benci dipanggil dengan nama asliku, kau tahu. Jadi berhati-hatilah, jangan menggunakannya." ancam gadis cilik itu.

Shikamaru dapat merasakan sejenis percikan muncul dari ujung telunjuk Soku. Tampak seperti versi kecil dari raikiri Kakashi.

Chakra meletup dari ujung jari Soku…

"Berhenti sekarang juga, Soku." tegur pria yang membawa topeng kera. Kakashi memperkenalkannya sebagai Rou. Ia memiliki alis yang tebal, rahang yang kuat dan tegas, kelopak mata segaris yang menatap kearah Soku menunjukkan ketidaksetujuannya.

"Aku harus memperjelas hal ini dari awal, kau tahu." Soku membalas. "Aku tidak terima dipandang rendah sebagai anak kecil, kau tahu."

"Salahku. Aku akan berhati-hati kedepannya." Shikamaru memberikan permintaan maaf sederhana. Tidak perlu memperburuk situasi, dan ia tidak punya waktu untuk berurusan dengan emosi gadis muda itu.

Soku mengalihkan pandangannya dari Rou dan kembali ke Shikamaru. "Selama kau mengerti, kau tahu." Ia berbalik dan kembali ke tempatnya, mengembalikan posisinya ke posisi yang sama dengan tangan dibalik punggungnya.

"Rou dapat dengan bebas memanipulasi kualitas dan kuantitas chakra; baik miliknya sendiri atau milik siapapun yang ia jadikan target dan kenali." Ucap Kakashi, Rou memberikan anggukan kecil.

"Apa itu berarti kau juga bisa meningkatkan chakra?" Tanya Shikamaru.

"Pertanyaan yang pintar." Komentar Kakashi.

"Chakra yang dapat kuubah hanyalah chakra yang dirasakan oleh orang lain." sahut Rou. "Untuk menjelaskannya, jika saya meningkatkan chakra Anda, Shikamaru-san, saya tak akan bisa mengubah potensi pertempuran pada akhirnya. Chakra anda hanya akan tampak lebih besar dalam persepsi orang lain. Dengan kata lain, jurus saya tidak akan efisien untuk mengelabui jika subjek dari manipulasi chakra tidak berpartisipasi dalam pengelabuan."

Rou memiliki gaya bicara yang sangat kuno, dan ditambah dengan penampilannya yang berperawakan besar, tampak lebih seperti samurai daripada ninja. Shikamaru memberikan pria itu anggukan untuk menunjukkan bahwa ia mengerti akan penjelasannya, dan membuka mulutnya untuk berbicara lagi.

"Saat kau mengatakan bahwa kau dapat mengubah kuantitas chakra yang dirasakan, apakah itu berarti kau dapat menghapusnya juga?"

Bagaimanapun caramu melihatnya, Rou jelas terlihat berada di usia empat puluhan. Ia paling tidak berusia dua puluh tahun lebih tua dari Shikamaru.

"Itu pasti mungkin. Saya dapat membuat chakra dari target manapun menghilang seperti yang Anda telah deskripsikan, sementara Anda dapat melacak mereka, Shikamaru-san."

Dengan cara bicara pria itu yang kuno, Shikamaru setengah mengira kata 'mengikuti jejak' daripada 'melacak', dan merasa sedikit ragu dengan kata modern yang tidak teratur.

"Aku rasa jurusnya sangat cocok untuk tugas ini, menurutmu bagimana?" Tanya Kakashi.

"Itu akan bekerja. Dan si kecil?" Shikamaru bertanya, mengalihkan pandangannya ke arah Soku. Alis gadis itu berkedut karena dipanggil 'Si Kecil'. Anak itu tampaknya tak menyadari bahwa ia masih anak-anak. Shikamaru belum yakin apakah hal yang bagus atau tidak kegunaan gadis itu dalam misi.

"Sebuah demostrasi akan bagus, bukankah begitu?" tanya Kakashi pada Soku.

Gadis itu mengangguk dan berbalik. Iya merentangkan tangan kirinya sehingga menghadap ke jendela yang terbuka sepanjang ruangan Kakashi. Pada arah yang ia tunjuk, Shikamaru dapat melihat burung walet sedang terbang di luar.

"Jurusku adalah jarum chakra, kau tahu…" Soku bergumam, dan sebuah kilat chakra oranye meletup dari jari telunjuknya.

Saat itu, burung wallet yang dikejutkan oleh suara keras dengan cepat menukik untuk bersembunyi di balik pilar di luar.

Jika Soku menembakkan chakranya pada saat seperti ini, tak mungkin ia dapat mengenai target. Chakranya akan mengenai pilar dan hanya meninggalkan goresan di pilar itu.

Tapi…

Tak ada satupun goresan di pilar itu, dan dari luar walet itu mengeluarkan suara yang tajam dan melengking. Shikamaru segera mengarah ke jendela. Mengeluarkan dan memutar lehernya, matanya mencari-cari dimana burung walet yang terbang tadi, dan menemukan burung itu di tanah. Jelas-jelas terlihat mati.

"Aku tidak ingin kau salah paham, kau tahu. Aku menentang pembunuhan tanpa arti." Soku berbicara dibelakangnya.

Ketika ia berbicara, Shikamaru memandang ke arah walet yang kembali seperti biasa, menggoyang kakinya dan bangkit. Kemudian, terbang kembali, bahkan lebih tinggi dari sebelumnya.

"Aku membuat chakraku berevitalisasi ketika menembus target barusan, jadi burung walet itu mungkin merasa lebih berenergi dari sebelumnya, kau tahu." jelas Soku.

"Bagaimana kau bisa melewati pilar itu?" Tanya Shikamaru, melepaskan tangannya dari ambang jendela dan berbalik menghadap Soku.

Anak perempuan itu mengeluarkan tawa, menjulurkan lidahnya sebagai ejekan yang kekanak-kanakan. "Sekali aku telah membidik targetku, tak peduli ia berada dalam pandanganku atau tidak, jarum chakraku akan mengikutinya kemanapun, kau tahu. Jarumku tidak akan berhenti dari jalurnya hingga ia mengenai targetnya."

Jadi...

Jurus Rou dapat menghilangkan keberadaan chakra mereka, dan membuat mereka dapat menyusup tanpa terdeteksi. Saat mereka mencapai keberadaan Gengo, Shikamaru akan menggunakan kagemane-nya untuk menahannya. Dan serangan mematikan akan dilontarkan dengan mudah oleh jarum chakra Soku.

Semuanya akan baik-baik saja..

Mereka benar-benar dapat melakukannya…

"Bolehkah aku bertanya satu hal?" tanya Shikamaru.

"Tentu saja, kau tahu." Soku memberikan senyumnya yang penuh kepercayaan diri.

"Bisakah kau berhenti menambahkan kata 'kau tahu' pada setiap akhir kalimatmu?"

.

.

.

Keesokan harinya Kakashi sudah berada di kantornya untuk melepas kepergian Shikamaru, Rou, dan Soku tanpa sepengetahuan mereka. Mereka bertiga akan berangkat ke Negeri Kunci melalui gerbang belakang yang tertutup. Gerbang itu tersembunyi diantara pepohonan di dasar bukit Monumen Hokage dimana wajah seluruh generasi Hokage terpahat.

Kakashi menuju bukit yang berada tepat di belakang kantor hokage itu dan mengawasi pembicaraan strategi ketiganya dengan cermat. Hingga kemudian mereka bertiga pergi dan menghilang dibalik gerbang yang terlihat lembab dan suram.

.

"Hey Sakura-chan, apa kau mendengar?" Naruto bertanya dengan kesal, menyandarkan sikunya pada tumpukan buku yang menumpuk setinggi dadanya. Ia sedang berbicara pada punggung Sakura saat ia sedang bergegas menelusuri rak buku yang memanjang menutupi dinding.

"Kau tahu, Sai tidak tampak di sekitar kita sudah sebulan lebih, dan Shikamaru tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin dan kaku terhadapku. Hey, apa kau pikir dia menyembunyikan sesuatu dariku?"

"Aku tidak tahu!" suara jengkel Sakura membuat Naruto mengerenyit.

"Bagaimana dengan misimu?" tanya Sakura.

"Sudah berakhir hari ini."

"Kalau begitu cepatlah pergi ke Ichiraku, makan ramen, pulang, dan tidur!" perintah gadis merah muda tersebut.

"Apaaaaaa, tapi sudah lama kau tidak ke Kediaman Hokage. Akhirnya kau muncul juga… Kau bersikap sangat dingin sebagai anggota tim 7."

Sakura berbalik dengan marah menghadap ke arah temannya yang memasang wajah cemberut.

"Sekarang aku sedang kewalahan bekerja dengan Nona Tsunade dalam mengembangkan sebuah sistem untuk jutsu medis, begitu juga bekerja dalam struktur sistem Persatuan Shinobi. Aku harus mempelajari dokumen yang tersisa dari Nona Tsunade ketika ia masih menjabat sebagai Hokage! Aku tidak punya waktu! Aku tidak bisa mendengarkan gosipmu! Mengerti?"

Terengah, ia berbalik menghadap rak-rak buku.

"Lagipula, belakangan ini kau sering keluar dengan Hinata, kan? Bukankah lebih baik kau pergi dan mengobrol dengannya yang mau mendengarkanmu daripada menggangguku?" lanjut Sakura.

"Apa? Kau cemburu?" tanya Naruto dengan wajah tanpa dosa.

Sakura berbalik dengan ekspresi marah, memberikan tinjunya ke kepala Naruto.

"Tentu saja tidak! Aku memutuskan untuk menunggu Sasuke-kun, kau tahu!" bentaknya.

"I-iya nyonya…" Naruto menjawab. Tiba-tiba matanya menunjukkan keseriusan, dan Sakura yang menyadari, memperhatikan apa yang dikatakannya.

"Tapi belakangan ini, kau tahu, aku punya perasaan yang sangat buruk." gumam Naruto.

"Apa Kyuubi membuat kehebohan?" tanya Sakura.

Kyuubi masih berada dalam tubuh Naruto. Dan juga terdapat sebagian kekuatan dari 8 bijuu di dalam tubuhnya. Maka dari itu, kau bisa mengatakan bahwa ia merupakan pilar dari kekuatan perang lalu, Obito telah menjadi pilar dari Juubi dan memperoleh chakra yang menyaingi Rikudou Sennin. Naruto yang telah mengambil bijuu ke dalam tubuhnya, memiliki sebagian kekuatan Sage hingga kini. 'Perasaan buruk'-nya berbeda dengan manusia normal, dan Sakura juga mengetahui hal itu.

"Apa kau tidak merasa salah menilai?" cecar Sakura sedikit khawatir.

"Kau jahat, tidak percaya sama sekali dengan penilaianku…" Naruto bergumam, menjatuhkan dirinya ke lantai merajuk.

"Karena sudah sepantasnya kau khawatir, makanya tidak ada yang bisa kau lakukan. Baik Sai maupun Shikamaru mereka adalah shinobi yang hebat. Meskipun mereka akhirnya menghadapi situasi dimana mereka membutuhkanmu, mereka akan memintanya. Dan jika tidak, maka Hokage akan memintamu untuk menyelamatkan mereka."

"Ehhh, aku tak yakin Kakashi-sensei tahu kapan saat itu tiba." gerutunya.

"Kau jauh lebih buruk dari dia!" Sakura meledak, menendang tulang keringnya. Naruto menggerakkan kakinya, berusaha menjaga jarak.

"Berhenti membicarakan hal yang tak bisa kau bantu, dan konsentrasilah pada misimu. Itulah yang Sai dan Shikamaru inginkan darimu. Terutama Shikamaru. Ia bekerja keras dalam Persatuan shinobi dan desa agar kau dapat menjadi Hokage! Jangan biarkan semua itu menjadi sia-sia." omel Sakura.

"Aku tau mereka melakukan itu untukku… tapi itulah mengapa aku khawatir, kau tahu."

Sakura menghelas nafas. "Kuatkan dirimu. Mereka adalah teman-teman yang mempercayaimu selama ini, mereka tak akan mati sia-sia."

"Jangan berkata hal yang menakutkan tentang kematian!" seru Naruto.

"Oh, demi apapun! Aku berkata satu hal kau sedih, aku berkata hal lain kau masih sedih! Kau sangat menyusahkan-ttebayo!" Sakura menggunakan frase yang biasa digunakan Naruto padanya. "Pulanglah dan tidur!" Sakura melempar Naruto keluar ruangan.

.

.

Kakashi menatap lurus iris jade di hadapannya dengan datar. Kedua tangannya menopang dagunya. Orang di hadapannya ini telah berada di ruangannya sejak dua jam yang lalu, namun kekeras kepalaannya berhasil menancapkan paku antara kakinya dengan lantai kantor hokage.

"Dua hari yang lalu Naruto datang padaku menanyakan hal yang sama, tapi maaf nona Sabaku, kekeras kepalaanmu yang hampir menyaingi Naruto takkan membuatku membeberkan persoalan internal desa Konoha." papar Kakashi tenang.

"Anda tentunya tak lupa dengan fakta bahwa setiap desa yang berpartisipasi dalam Persatuan Shinobi memiliki kewajiban untuk melaporkan setiap masalah baik di luar maupun di dalam yurisdiksi." tembak Temari tak kalah datarnya.

"Tapi semua hal itu memiliki batas Nona, tak semua urusan internal desa harus disebar luaskan ke seluruh desa anggota Persatuan Shinobi. Masing-masing desa memiliki pemerintahannya sendiri yang tidak dapat dicampuri pihak luar sembarangan." tegur Kakashi.

"Selama urusan tersebut mempengaruhi eksistensi seluruh desa anggota Persatuan Shinobi, itu adalah hal yang wajib dipublikasikan paling tidak pada masing-masing kage di tiap desa." masih dengan kekeras kepalaannya Sabaku Temari mengangkat dagunya.

"Dan darimana kau bisa menarik kesimpulan bahwa 'persoalan' yang kau maksudkan ini mengandung ancaman bagi desa lainnya?" Kakashi menaikan sebelah alisnya.

Dengan lancar, sulung dari Sabaku bersaudara itu menjawab "Shikamaru nyembunyikan sesuatu, aku sudah mengatakannya sejak awal masuk ke ruangan ini. Situasi apapun yang sedang dihadapinya sangat jelas merupakan situasi yang tampaknya mempengaruhi seluruh desa shinobi." Kakashi tak menyahuti perkataan Temari.

Dengan kesal Temari mengepalkan tangannya dan menarik nafas dalam-dalam dan melanjutkan.

"Ia sedang serius menyelidiki shinobi yang hilang dalam perang, dan kasus missing-nin yang baru-baru ini terjadi."

Kakashi mengerling ke arah Temari dan menarik atensinya ke lembaran dokumen di tangannya. Matanya menyusuri tulisan-tulisan dalam dokumen tersebut, namun telinganya tetap fokus mendengar perkataan kakak dari sang Kazekage.

"Mungkin perkiraanku tak sepenuhnya benar, tapi aku yakin bahwa analisisku memiliki bagian dalam persoalan yang sedang coba dibereskan Shikamaru." Temari tak pernah melepas pandangannya dari wajah sang Hokage, berusaha membaca ekspresi copy ninja tersebut.

"Gaara yang memintaku untuk menanyakan hal ini pada Anda Tuan Hokage." Jeda sejenak, kemudian Temari melanjutkan "Gaara mengatakan, jika ternyata Shikamaru sedang berada dalam situasi berbaya, maka kita paling tidak harus mencoba menyelamatkannya dengan segala kekuatan yang kita miliki. Dan jika aku atau Anda merasa membutuhkan shinobi Suna, bawalah mereka sebanyak yang dibutuhkan."

Kakashi mengangkat wajahnya dan kembali menatap lurus kearah jade gadis di hadapannya. Ia menghembuskan nafasnya. "Sampaikan pada Gaara salam terima kasihku untuk semua solidaritas dan bantuan kalian. Aku berjanji akan memberimu kabar secepatnya apabila aku memang benar-benar membutuhkan bantuan kalian." tutup Kakashi.

.

.

To Be Continue


Druella Wood