Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rating: M
Lanjutan Kakashi No Hatsukoi (Kakashi- sensei First Love)
.
.
Kikikkan tawa balita laki-laki menggema di ruang keluarga kediaman Hokage keenam. Balita bersurai perak itu terus tertawa sampai air liurnya mengalir dari bibir merah jambunya. Ia tampak senang saat mengangkat kakinya dengan berat untuk melangkah perlahan menuju ibunya yang tengah merentangkan tangan di hadapannya, menunggu pelukan dari tangan mungil miliknya.
Ketika kedua tangannya telah berhasil menggapai sang ibu, ia lantas memeluknya dengan manja sambil tertawa lepas. Sangat ceria.
Sang ayah yang sejak beberapa menit lalu baru selesai mandi dan berpakaian di kamarnya sudah bersandar di pintu ruang keluarga sambil mengamati putra semata wayangnya belajar berjalan. Lantas ia menepukan kedua telapak tangan kekarnya karena melihat putra tampannya berhasil berjalan dan menjangkau ibunya.
Ia menghampiri anak dan istrinya dengan senyum miring. Mengecup singkat bibir istrinya sebelum akhirnya mengelus kepala putranya dengan sayang. Direngkuhnya tubuh mungil itu dan diciumnya lama pipi gembul sang anak yang hanya tertawa-tawa sambil mengoceh khas anak-anak.
"Kau lihat? Kazu yang tampan dan imut ini sudah bisa berjalan." kikik Hanare saat melihat dua pria kesayangannya yang sangat identik itu sedang saling bermanja-manja.
"Anak ayah memang hebat." gumam Kakashi masih sambil menempelkan bibirnya gemas pada pipi gembul Kazu.
"Ya...h... yaya..h..." gumam Kazu masih sambil cekikikan.
"Hn? kau bilang apa Kazu? kau memanggil ayah hmm?" Kakashi menyeringai menatap putranya yang sedang menepuk-nepuk pipinya.
"Coba katakan sekali lagi Kazu." bujuk ibunya sambil tersenyum manis.
"Yah... ya..yah..." jerit Kazu girang.
Kakashi dan Hanare lantas ikut tertawa melihat kelincahan putra mereka. "Bagaimana dengan ibu? Ayo... coba katakan Iii...Buuu..." bujuk Hanare.
"Bbuuu... buu..." cicit Kazu dengan patuh, membuat ibunya memekik senang.
"Kakashi-kun. Sudah malam, sebaiknya kau istirahat. Kau terlihat lelah akhir-akhir ini. Biar aku yang menemani Kazu, sebentar lagi dia pasti akan kelelahan dan tidur." Hanare meraih Kazu dari gendongan ayahnya.
"Kutunggu di kamar kalau begitu." Kakashi mengecup kening Kazu dan Hanare dengan penuh sayang sebelum masuk ke kamarnya.
.
Jam menunjukan pukul 2 pagi, Kakashi ketiduran sebelum Hanare masuk ke kamar. Wanitanya telah terlelap disisinya dengan kedua tangan yang memeluk lengannya.
Sedikit gerakan yang dibuat Kakashi berhasil membangunkan sang istri yang sebagai mantan kunoichi hebat tentunya memiliki reflek dan insting yang peka. "Kau terbangun Kashi-kun? Ada apa? Mimpi buruk?" tanya Hanare perhatian masih dengan setengah mengantuk.
Kakashi yang melihat istrinya seperti itu merasa kasihan telah membuatnya terbangun di pagi buta seperti ini. "Tidak. Tidurlah kembali." Kakashi mengusap pelan lengan telanjang istrinya agar tenang dan kembali tidur, namun Hanare yang begitu pengertian terhadap dirinya menolak.
"Kau ada masalah sayang?" tanya Hanare kelewat lembut.
"Kita bisa bicara besok pagi." Kakashi tak mengelak namun menolak untuk bercerita di pagi buta seperti itu.
"Kau takkan bisa tidur kembali bila masih gelisah begitu Kashi-kun. Tolong jangan buat aku khawatir, berbagilah denganku."
Kakashi tahu kalau akan percuma saja jika terus mengelak dari Hanare, jadi ia hanya menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya menceritakan masalahnya mengenai kedatangan Naruto dan Temari ke kantornya beberapa waktu lalu.
"Naruto mendatangiku tepat dua hari setelah kepergian Shikamaru menuju Negeri Sunyi, aku khawatir anak itu akan tahu dan berbuat nekat hingga tak bisa mengendalikan chakranya."
"Kenapa Naruto tiba-tiba berinisiatif mendatangimu untuk menanyai Shikamaru?" tanya Hanare.
"Dia mendapat pertanyaan itu awalnya dari Sabaku Temari. Kemudian karena dia sendiri mengaku bahwa ia merasakan firasat tidak enak, maka ia menuruti saran Temari untuk bertanya padaku."
Hanare masih diam.
"Firasat buruk Naruto yang lebih peka dari firasat orang lain karena pengaruh bijuu pada dirinya membuatku tambah merasa khawatir dengan kondisi Shikamaru dan yang lainnya." Hanare mulai mengelus lengan suaminya dengan lembut, berusaha menenangkan kekhawatirannya.
Kemudian kemarin gadis Suna itu yang giliran mendatangiku langsung dan bersikap sama keras kepalanya dengan Naruto. Dia bahkan menyampaikan pesan Gaara bahwa Suna siap memberikan bantuan pasukan apabila Shikamaru dalam bahaya. Itu... itu cukup menambah kecemasanku."
"Seharusnya kau membaginya denganku sejak awal Kashi-kun. Pekerjaanmu akan kacau jika kau memutar otakmu dan khawatir sendirian. Diskusikanlah dengan penasehat hokage, atau paling tidak denganku. Apa Shikamaru sudah pernah memberikan kabar padamu sejak kepergiannya?" tanya Hanare lembut, masih sambil mengelus lembut lengan besar Kakashi.
"Ya, tadi pagi atau lebih tepatnya kemarin pagi, sehari setelah Temari mendatangiku." Kakashi mengerutkan keningnya dan menerawang ke langit malam di balik jendela kaca kamar mereka, namun mulutnya kembali bicara.
"Dalam suratnya, Shikamaru mengatakan bahwa saat ia sampai di Negeri Sunyi, mereka bertemu dengan salah satu anbu Konoha yang telah dinyatakan hilang saat perang. Mereka disana, dan mengabdi pada Gengo dengan sangat loyal. Bahkan mereka mencoba bunuh diri saat Shikamaru berhasil mengorek informasi secara paksa darinya." Kakashi melirik sejenak wajah istrinya yang sedang menatapnya sambil mengerutkan alis, tampak sedang menganalisis.
"Dari mantan anbu itu, Shikamaru mendapatkan informasi bahwa mereka yang hilang memang sebagian besar berada disana dan menamakan diri mereka sebagai Kakusha." Hanare mengangkat tangan kanannya menginterupsi kalimat Kakashi.
"Boleh aku membaca surat dari Shikamaru?" pinta Hanare.
Kakashi menatap sejenak wanita di sampingnya sebelum mengangguk dan beranjak ke laci meja kerjanya untuk mengambil surat tersebut. Tanpa kata, diserahkannya surat itu pada Hanare yang langsung membacanya dalam diam.
Kepada Hokage Keenam,
Aku telah sampai disini sejak dua hari lalu. Aku, Rou, dan Soku bertemu salah seorang anbu Konoha yang telah dinyatakan hilang dalam perang lalu.
Aku berhasil memaksanya bicara dengan sedikit usaha. Namanya Minoichi, dia sulit diajak bekerjasama. Dia berusaha menggigit lidahnya sendiri setelah membeberkan semuanya pada kami. Dia hampir mati jika saja Soku tak melumpuhkannya dengan benang chakranya.
Dari informasi yang kami peroleh darinya. Mereka menamakan diri mereka sebagai Kakusha. Para Kakusha mengabdi pada Gengo dan mereka memiliki tujuan untuk menciptakan sebuah revolusi yang sesungguhnya di dunia ini bersama dengan Gengo.
Sampai saat ini aku masih belum mendapatkan informasi mengapa para shinobi ini begitu setia pada Gengo dan berpegang teguh dengan tujuan aneh mereka. Tapi aku punya suatu kesimpulan. Aku berpikir Gengo memiliki sesuatu, seperti... kharisma yang bersifat seperti genjutsu.
Ternyata para shinobi yang hilang dalam perang bukan gugur, tapi mereka semua berada di Negeri ini dan bergabung untuk mencapai tujuan Kakusha, atau lebih tepat kusebut tujuan Gengo.
Satu hal penting lainnya yang perlu Anda ketahui Kakashi-san, dan ini juga menyangkut seluruh negara anggota Persatuan Shinobi.
Negeri Sunyi membuka rute pesan yang unik untuk bisnis / usaha. Mereka menerima permintaan misi dari seluruh bagian kontinen dengan standar harga lebih murah dibanding Persatuan Shinobi.
Ketika negara-negara besar dan kuat seperti Lima Negara Besar tidak terlalu peduli tentang penurunan harga dibanding kredibilitas, hal itu merupakan suatu keringanan untuk negara-negara kecil di sekitar kontinen yang memiliki sedikit simpanan. Tak heran jika permintaan misi pada Persatuan Shinobi merosot tajam.
Menurut Rou, Shinobi yang memiliki kebencian terhadap dunia shinobi akan melarikan diri ke Negeri Sunyi hanya untuk menerima permintaan misi layaknya yang dilakukan shinobi.
Selanjutnya kami bertiga telah menyusun rencana penyerangan besok ke alun-alun kota. Disana Gengo akan muncul, dan kami akan mengeksekusi rencana kami disana.
Kuharap kami berhasil, dan bila aku belum juga memberi Anda kabar paling tidak dua hari dari sekarang... mungkin itu berarti bahwa aku gagal.
Aku juga akan mencari Sai.
"Apa yang telah kau simpulkan dari surat ini Anata?" tanya Hanare lembut.
"Gengo punya ambisi terhadap dua hal, yaitu kekuasaan dan uang. Ia mencuci otak para shinobi dari desa lain untuk dipimpinnya dan untuk menjalankan misi dibawah pemerintahannya. Ia bermain kotor dengan memberikan harga misi dibawah standar Lima Negara Besar lainnya untuk menarik simpati klien. Tapi aku belum berhasil memecahkan kira-kira apa yang dilakukan Gengo untuk mendapatkan semua itu."
"Aku pernah memata-matai suatu desa kecil di pinggiran Negara Sunyi." gumam Hanare yang berhasil menarik atensi kelabu suaminya.
"Disana aku melihat sesuatu yang aneh, mirip dengan yang terjadi di Negara Sunyi. Sebagian besar penduduk disana menganut paham yang sama dan cenderung terlalu loyal dengan cara yang tidak wajar terhadap seseorang yang mereka sebut sebagai Gengo." Mata Kakashi menyipit selagi menyimak penjelasan istrinya.
"Aku mengamati bagaimana ia berinteraksi dengan orang-orang. Awalnya terlihat normal, tapi aku terus mencari hal ganjil yang mungkin kutemukan." jeda sejenak.
"Shikamaru benar soal kharisma yang dimiliki Gengo, tapi ia berbuat curang dengan mengalirkan chakra pada lidahnya sehingga apa yang dikatakannya akan merasuki hati dan pikiran orang yang mendengarnya secara mendalam hingga tak dapat lagi berpikir logis. Karena apa yang mereka dengar dari mulut Gengo akan terasa sangat benar dan tak terbantahkan. Aku paham sekarang kenapa Sai mengatakan dalam suratnya bahwa ia tak lagi mengenal dirinya. Dia sudah terkena serangan mulut berbisa Gengo." kedua netra berbeda warna milik sepasang suami istri tersebut saling bertukar pandang.
"Bagaimana kau tahu soal itu?" tanya Kakashi.
"Aku memutuskan untuk menyamar sebagai pengamen." Hanare mengedipkan sebelah matanya pada Kakashi.
"Lalu?" Kakashi berdeham dengan semburat merah muda tipis di pipinya.
Hanare terkekeh sebentar sebelum menjawab "Aku sedikit menggodanya, cukup sulit untuk tetap waras di dekatnya karena teknik aliran chakra pada lidahnya hingga aku hampir terbuai oleh kata-katanya."
Geraman rendah Kakashi menghentikan kalimat Hanare sejenak. Hanare tersenyum senang melihat respon yang diberikan Kakashi atas ceritanya yang melibatkan pria lain. Wanita cantik itu malah menggoda Kakashi dengan menempelkan tubuhnya lekat-lekat dengan tubuh Kakashi dan berbisik "Kau juga selalu membuatku kesulitan untuk tetap waras saat berada di dekatmu kau tahu?" Hanare kemudian mengulum telinga kiri Kakashi sebelum akhirnya terkikik pelan karena melihat wajah Kakashi yang semakin merona dibawah sinar bulan. Tampan sekali, jerit Hanare dalam hati.
"Tapi aku tak pernah bisa mengatasi auramu yang menggoda Anata." Hanare terkekeh sesaat dan berdeham kemudian kembali serius "Dan saat jarak kami sudah cukup dekat, aku dapat melihat matanya. Aku membaca semua pikirannya, semua memorinya, semua rahasianya, semua ambisinya, semua visinya, dan segalanya. Dan saat itulah semua buaian kata-katanya tak lagi berlaku untukku. Aku berlagak seakan-akan aku telah dalam pengaruhnya, kemudian wussh... aku pergi dalam damai dengan membawa informasi besar untuk desaku." Hanare tersenyum puas.
Kakashi menatap Hanare dengan pandangan tak terbaca oleh orang lain, namun Hanare dapat membacanya dengan sangat jelas, sejelas membaca buku di tempat terang. Suaminya kagum padanya, dan itu membuat hatinya melompat kegirangan dan menjerit bahagia. Saat secercah senyum terbit di bibir ranum Hanare, Kakashi langsung menerjang bibir kissable istrinya itu dengan rakus hingga mereka terbaring diatas ranjang dengan derit yang terdengar kasar, senada dengan permainan mereka malam itu yang membabi buta.
.
.
.
Kakashi tengah memandangi jalanan desa dari jendela ruangan hokage. Ia melihat Ino dan Chouji sedang berjalan ke arah barat, mereka terlihat sedang melakukan pembicaraan serius dan wajah mereka manampakan guratan kecemasan. Mungkinkah mereka sedang membicarakan Shikamaru? pikir Kakashi.
Sudah lima hari sejak kepergian Shikamaru. Naruto tak pernah bosan menanyakan tentang misi apa yang sedang ditugaskannya pada Shikamaru setiap kali mereka bertemu di jalan. Sedangkan Temari tak pernah lagi mendatangi kantornya ataupun sekedar bertanya tentang Shikamaru.
Ketukan dipintunya membuyarkan lamunannya. Kakashi menyerukan pada pengetuk pintunya untuk masuk. Langsung saja asistennya masuk dan memberitahukan bahwa Naruto dan Putri dari desa Sunagakure datang. Menghembuskan nafas panjang, Kakashi memerintahkan asistennya untuk mempersilahkan kedua orang itu masuk.
"Kakashi-sensei!" lengkingan suara Naruto langsung menyambut pendengaran Kakashi saat murid kuningnya itu melangkahkan kakinya pertama kali di dalam ruangannya.
"Kau tak perlu teriak-teriak Naruto." tegur Kakashi datar.
"Aku tak peduli! Kali ini aku takkan menyerah! Aku takkan pergi dari sini sampai kau memberitahu kami kemana Shikamaru pergi dan apa yang sedang dia lakukan! Kau tahu Kakashi-sensei! Sakura-chan bilang bahwa perasaan tidak enak yang kurasakan itu bisa berarti buruk. Dan sejak hari pertama Shikamaru pergi, aku telah merasakannya." cerocos Naruto.
Kakashi memijat pelipisnya karena pusing dengan kelakuan bar bar Naruto, sedangkan Sabaku Temari yang berdiri tegap disamping Naruto memilih bungkam dan menunggu.
Kakashi sudah memutuskan sejak ia bicara dengan Hanare semalam. Informasi yang diberikan Hanare cukup untuknya memutuskan bahwa keadaan Shikamaru sangat rentan, dan ia takkan membiarkan satu lagi shinobi berbakat Konoha kembali berkurang. Maka ia akan mengambil tawaran bantuan yang diberikan oleh desa Gaara.
"Baiklah Naruto, aku akan memberitahu kalian informasi mengenai Shikamaru dan misi yang sedang dijalankannya. Tapi aku punya syarat, dan itu mutlak harus diikuti." Kakashi mengerling ke arah Temari yang menampakan wajah antusias.
"Aarggghh... tak perlu bertele-tele sensei! Cepat katakan saja!" teriak Naruto tanpa sopan.
Tanpa mempedulikan sikap kurang ajar Naruto, Kakashi melanjutkan, kali ini pandangannya mengarah pada Temari "Aku mengizinkan shinobi Sunagakure untuk bergerak, tapi dengan syarat bahwa kalian tak akan memperburuk situasinya." Temari mengangguk patuh.
"Dan kau Naruto, aku perintahkan kau untuk tetap di desa."
"Apa?! Tapi kenapa?!" pekik Naruto.
"Turuti saja perintahku Naruto. Aku tak mau kau memperburuk keadaan dengan emosimu. Bersikap baiklah sampai waktunya tiba agar aku bisa membiarkanmu ikut kesana, atau kau akan benar-benar kutahan disini."
Naruto hanya menggeram, namun ia berusaha keras menahan emosinya agar Kakashi berubah pikiran. Jadi ia hanya mendengarkan penjelasan Kakashi mengenai Negeri Sunyi dan misi pembunuhan yang sedang dijalani Shikamaru dalam diam.
.
.
.
To Be Continue
