Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rating: M
Lanjutan Kakashi No Hatsukoi (Kakashi- sensei First Love)
.
.
Sakura, Ino, dan Chouji berjalan menyusuri lorong untuk menuju ruangan Hokage. Langkah mereka terdengar teratur.
"Sakura, apa kau tahu kira-kira kenapa kita bertiga dipanggil ke ruangan Hokage?" tanya Ino.
"Aku tidak tahu Ino. Mungkin ada misi penting untuk kita." sahut Sakura.
"Apa mungkin ini soal Shikamaru?" timpal Chouji disela-sela mengunyah keripik kentangnya.
"Chouji, sebaiknya kau sudahi dulu makanmu. Kita akan segera menghadap Kakashi-sensei." tegur Sakura halus.
.
.
.
"Jadi Shikamaru sedang menjalankan misi pembunuhan?!" pekik Ino yang hanya direspon dengan anggukan kepala oleh Kakashi.
"Tapi jika dia bebas memilih anggotanya, kenapa dia tak memilih kami?" tanya Chouji.
"Kurasa Shikamaru tak ingin membahayakan kalian, karena dia tahu seberapa seriusnya bahaya dalam misi ini." Sakura menyampaikan pendapatnya.
"Tapi kami sudah banyak melewati semua hal yang lebih membahayakan dari ini bersama Sakura!" sanggah Ino tak terima.
"Ehm." dehaman Kakashi berhasil menarik atensi ketiga muda mudi di hadapannya.
"Kukira sebagian pendapat Sakura memang benar, tapi Shikamaru punya alasan lain yang lebih masuk akal untuk tak membawa kalian dalam misi ini. Dia membutuhkan seseorang dengan kemampuan memodifikasi chakra untuk menyamarkan chakra mereka dan teknik membunuh yang sangat ampuh, oleh karena itu ia memintaku untuk mencari anbu yang tepat sebagai anggotanya." jelas Kakashi.
"Aku telah memberitahu hal ini pada Naruto dan Sabaku Temari. Aku telah memberikan izinku padanya untuk mengerahkan shinobi Sunagakure untuk mengirimkan bala bantuan ke Negeri Sunyi."
"Kakashi-sensei memberitahu Naruto soal ini? Apa tidak apa-apa?" tanya Sakura khawatir.
"Aku sudah membuat perjanjian dengannya, aku melarangnya untuk ikut serta ke Negeri Sunyi jika dia tak bersikap baik dan berusaha mengontrol emosinya." ucap Kakashi.
"Jadi apa Anda akan mengirim kami juga untuk ke Negeri Sunyi Kakashi-sensei?" tanya Ino
"Ya, bukan hanya Shikamaru yang perlu kalian selamatkan, tapi juga Sai dan shinobi Konoha lainnya."
"Jadi Sai juga berada disana?" tanya Sakura.
Kakashi lagi-lagi hanya menganggukan kepalanya dan menjulurkan dua buah gulungan yang merupakan surat dari Sai dan Shikamaru pada Sakura, Ino, dan Chouji. Mereka membacanya bergantian.
"Mungkin akan ada banyak yang terluka saat kalian sampai disana, oleh karena itu aku mengirimmu Sakura." Kakashi memandang netra hijau Sakura, dan kemudian beralih pada Ino dan Chouji. "Dan aku tahu kehadiran kalian akan sangat membantu rencana Shikamaru nanti."
"Ha'i." jawab mereka bertiga serempak.
"Ah, Ino. Kau sudah membaca surat dari Sai. Kelihatannya dia sudah termakan pengaruh Gengo, dia tampak hilang arah." Ino hanya mengangguk menunggu kelanjutan ucapan Kakashi. "Aku berpikir kalau Sai masih sehat dan menjadi bawahan Gengo saat ini. Jutsu-mu akan sangat berguna untuk menyadarkannya." Kakashi tersenyum dari balik maskernya.
"Ha'i." Ino menganggukan kepalanya mantap.
"Bersiaplah, kalian akan berangkat besok siang setelah aku memberikan aba-aba pada Sabaku untuk bergerak lebih dulu."
.
.
.
Temari telah membuat perencanaan sebelumnya dengan desanya, sehingga bala bantuannya dapat segera berangkat jika dibutuhkan. Segera setelah mendapat izin Kakashi, Temari mengirimkan pesan ke desanya, dan segera berangkat menuju Negeri Sunyi. Dalam perjalanan ia bertemu kelompok shinobi Sunagakure yang dipimpin oleh Gaara.
Mereka sampai tepat sepuluh hari sejak keberangkatan Shikamaru ke Negeri Sunyi. Mereka menyusup ke dalam istana Negeri Sunyi dengan perisai pasir yang diciptakan Gaara. Temari memimpin armada kecilnya menuruni koridor, menjatuhkan para penjaga sebelum mereka dapat mengirim alarm peringatan, dan perlahan menyelinap menuju aula utama. Semua berlangsung pada waktu yang tepat, tepat saat Shikamaru hampir menyerahkan kesetiannya pada Gengo.
Pada detik Temari melihat Shikamaru, ia seperti dipengaruhi oleh ucapan Gengo tentang shinobi yang memimpin dunia, ia kehilangan seluruh kontrol dirinya.
Shikamaru bukan jenis pria yang akan tergoyahkan oleh sampah seperti itu!
Tubuh Temari bergerak tanpa perintah otaknya, Putri Sunagakure itu men-summon anginnya untuk menerbangkan pintu aula dan menyerbu ke dalam. Ia dipenuhi oleh kemarahan. Mendengar bahwa itu semua hanya merupakan genjutsu, berhasil membuatnya merasa lega…
Shikamaru terlempar jauh akibat angin yang dihasilkan kipas Temari dan punggungnya menghantam langit-langit dengan keras, sebelum akhirnya tubuhnya jatuh berdebam di lantai aula. Setelah terbangun, Shikamaru kembali menjadi pria yang dikenalnya. Ia menghadapi Gengo dengan hidung yang berdarah dan mata malasnya, hanya melihatnya sudah cukup membuat Temari merasa semua ini tidak sia-sia.
"Kau tidak seharusnya begitu pelupa disaat seperti ini."
Seorang shinobi Konoha yang mengatakannya, dengan senyum kaku di wajahnya. Kuas yang tergenggam di tangannya telah mengidupkan harimau serta serigala yang tak terhitung jumlahnya. Saat ini, ia men-summon seekor harimau putih yang menyeramkan. Diantara semua hewan tinta yang telah di-summon-nya, yang satu ini terlihat paling ganas. Jika ia mengingatnya dengan benar, pria ini bernama Sai… Teman satu tim Naruto dan Sakura.
"Pelupa? Aku tidak melakukan serangan yang sama berkali-kali." Temari bergumam pelan, dan mengayunkan kipas perangnya, seluruh tubuhnya memutar mengikuti gerakannya.
Angin dari kipasnya berubah menjadi seekor musang bersabit: Kamatari. Ia (Kamatari) memutar dan menggerakkan tubuhnya mengikuti arah angin, menerjang ke arah harimau itu dan menyayat lehernya dengan sabitnya. Harimau Sai kembali menjadi tinta tak bernyawa, jatuh ke tanah.
"Sungguh mengagumkan bagaimana kau tidak memiliki sedikitpun keraguan." komentar Sai.
Temari berbalik ke arah suara itu datang.
Menghilang!
Kapan dia menghilang, dan kemana?
Ia bahkan tak memiliki waktu untuk mengikuti gerakan Sai dengan matanya…
"Shinobi yang dapat melihat ke dalam Jutsu Teleportasi Tinta... tak pernah ada." Sai telah berteleportasi tepat dibelakangnya.
Ia pasti akan bergerak untuk menikamnya.
Pertarungan sengit terus terjadi antara Sai dengan Temari, Shikamaru dengan Gengo, begitu juga dengan pasukan shinobi Sunagakure dengan para Kakusha.
Namun…
"Guh!" Temari terjatuh tepat dimana ia berdiri, nyeri yang tajam menembus melewati perutnya.
"Manipulasi chakra… Itu merupakan keahlianku." Ucap Sai dengan suara yang hampa dan tak bersalah. Kunai yang dipegangnya telah menembus langsung kipas perang Temari dan mencapai perutnya.
Ada sesuatu yang samar-samar melingkar disekitar senjata itu, seperti kabut.
Chakra. Ia mengelilingi kunainya dengan chakra yang sangat tebal hingga kau dapat melihatnya. Kekuatan dan ketajaman pisau itu pasti telah meningkat sepuluh kali lipat…
"Tak peduli seberapa keras kalian melawan, tak satupun dari kalian yang dapat menandingi Gengo-sama." Ucap Sai. "Pada akhirnya, kami para Kakusha lah yang akan mengendalikan dunia ini."
"Apa itu…benar-benar yang kau inginkan?"
"Ya." Sai membiarkan sebuah senyum menghiasi wajahnya. Ia tak tampak seperti berada dalam genjutsu. Keyakinan yang tak tergoyahkan pada Gengo tergambar dengan jelas di wajah Sai.
Namun…
"Baiklah, lalu…" Ucap Temari susah payah. "Kenapa kau menangis?"
Setetes air mata yang lolos dari mata kanan Sai tak luput dari pengamatan Temari. Di dalam hatinya, Sai berada dalam pertentangan.
"Aku tidak menangis." Sai menggertak, dan mencengkram kunainya lebih erat, bersiap untuk serangan akhir. Temari menahan nafasnya.
"KUATKAN DIRIMU DAN BANGUUUUUUUUUUUUUUUUUUUNNNNNNNNNN!"
Tiba-tiba, Sai terlempar oleh serangan seorang kunoichi. Ia terhempas dari pandangan Temari seluruhnya, kunai yang menusuknya bergemerincing di lantai.
"Apa kau baik-baik saja?" Kunoichi itu bertanya sembari membantu posisi Temari yang tumbang.
"Sa…Sakura?"
"Bertahanlah, jangan bicara sekarang." Ucap Sakura. "Aku akan menutup luka di perutmu."
Chakra mengelilingi tangan Sakura saat ia menekan lembut luka terbuka Temari. Gelombang chakra yang hangat itu dengan lembut menyelimuti perutnya.
"Tunggu…Sai?"
"Tidak apa-apa, pasukan kami yang menanganinya." sela Sakura.
"Eh?" Temari mengalihkan pandangan ke arah Sai yang sedang terlempar.
Seseorang menahan Sai di tempat dimana ia dilempar oleh Sakura.
Raksasa…
Tak salah lagi. Pria raksasa itu adalah sahabat Shikamaru.
"Chouji!" Seorang kunoichi berambut pirang panjang berteriak di belakangnya. "Tetap tahan dia seperti itu!"
"Baiklah! Semuanya sudah siap!" Ino si Kunoichi berambut panjang berteriak pada Chouji, menyatukan telapak tangannya.
Sai berusaha memberontak dibawah tubuh raksasa Chouji, wajahnya penuh hasrat ingin membunuh. Ia menggeram mengeratkan giginya, cahaya bersinar pada gigi taringnya.
"Ninpou – Shintenshin no Jutsu!" Kunoichi berambut pirang panjang itu berteriak.
"Selama jutsu Ino bekerja, semuanya akan baik-baik saja." Gumam Sakura.
Chouji membebaskan Sai, mundur. Sai bangkit. Semua itu terjadi seketika. Seperti kilatan petir, getaran keras memasuki tubuh Sai, dan ia berhenti bergerak. Di hadapannya, dalam satu garis simetris, tubuh Ino juga menjadi kaku.
"Ahh, sudah. Sudah tidak apa-apa sekarang." Sakura perlahan menyingkirkan tangannya.
Rasa sakit di perut Temari sudah menghilang sepenuhnya.
.
.
Kakashi sedikit kerepotan mengurus murid kuning keras kepalanya ini. Sehari seteh keberangkatan Sakura, Ino, Chouji, dan beberapa shinobi tambahan, Naruto mengamuk di kantornya karena dia tak diikut sertakan dengan yang lainnya untuk pergi ke Negeri Sunyi.
Karena khawatir Naruto akan memperluas area amukannya ke seluruh desa dengan bantuan Kyuubi, akhirnya Kakashi mengijinkan Naruto pergi untuk menyusul dengan dikawal oleh Yamato.
.
.
Ino menyelam dalam kegelapan. Lebih dalam dan lebih dalam lagi.
Ia masih belum menemukan Sai. Tak peduli seberapa dalam ia terus menyelam, semua yang mengelilinginya adalah tinta hitam yang pekat.
Bagaimanapun, ini adalah Sai. Pada dasarnya ia tak sepenuhnya menyadari siapa dirinya yang sebenarnya. Ia tak akan mudah ditemukan.
Namun Ino akan menyelamatkannya tak peduli apapun yang terjadi…
Karena jika Ino tak dapat menyelamatkan Sai, maka kedatangannya kesini akan menjadi sia-sia. Ino dengan susah payah terus berusaha keras melewati lapisan-lapisan hati Sai.
Shintenshin no Jutsu dapat membuatmu mampu bergerak dalam tubuh seseorang sesuai keinginanmu sendiri, dan caranya adalah dengan memberikan pengaruhmu dari dalam hati orang tersebut. Saat ujian chuunin. Ino telah menyadari hal ini dengan jelas ketika ia dan Sakura berjuang untuk mengontrol hati yang terlemah.
Saat di Konoha, ia membaca pesan Sai, melihat tulisan tangannya yang berantakan dan kacau, dengan rasa sedih ia tak dapat berharap untuk menggenggamnya. Saat itu, Ino merasakaan penderitaan Sai hingga terasa menyakitkan. Ia telah bertekad pada dirinya bahwa ia harus pergi. Tentu saja, ia juga ingin menyelamatkan Shikamaru, namun yang memicu Ino untuk bergerak adalah pesan Sai yang tampak menderita.
Sai, yang selalu mengkhawatirkan kekosongan hatinya sendiri, merasakan penderitaan lebih dari yang lain di bawah genjutsu Gengo. Tak ada yang dapat menyelamatkan Sai dari sana selain Ino.
Dan itulah mengapa ia bertekad untuk terus menyelam, tak peduli seberapa dalam ia harus pergi.
Ketika kau menyelam jauh ke dalam hati seseorang, hal pertama yang mungkin terjadi adalah kehadiranmu sendiri yang mulai menjadi kabur. Hal terakhir yang mungkin terjadi adalah kesadaranmu akan sepenuhnya hilang di kedalaman itu. Ketika hal itu terjadi, maka tak akan ada jalan untuk kembali. Itu merupakan resiko besar yang harus Ino ambil untuk menyelamatkan Sai.
Ia ingin berbicara dengannya lebih banyak lagi.
Sai, yang selalu memberikan senyuman yang menunjukkan rasa kesepiannya, Ino ingin mengenalnya lebih dan lebih lagi.
Tak mungkin ia meninggalkan Sai di tempat yang penuh kegelapan seperti ini.
Sesaat kemudian, Ino mulai merasakan sesuatu yang hangat datang dari kegelapan. Sebuah cahaya yang redup…
Ia melewati sekumpulan chakra. Gabungan dari chakra banyak orang…
Naruto.
Sakura.
Yamato.
Kakashi.
Semua shinobi Konoha ada disana.
Rasanya seperti kobaran api di tengah badai salju. Ino menyelam sedikit lagi, matanya mengintip ke dalam kekusutan itu, mencari-cari di antara chakra semua orang.
Disanalah dia…
Seseorang yang meringkuk di tengah kehangatan semua orang adalah Sai.
"Sai!" Ino mati-matian menggapainya. "Disini!" Sai melihat ke atas ke arah suara Ino. Kedua matanya merah dan bengkak karena menangis.
"Ayo." Ucap Ino. "Kita keluar dari sini bersama-sama."
"Kau…" sepotong kata yang keluar dari bibir pucat Sai terdengar sangat lirih.
Ino menggapainya, tangannya akhirnya mendarat di pundak Sai, kuat dan meyakinkan. "Ayo." ucapnya.
Tepat pada saat itu, Sai tersenyum. Ino tak pernah melihatnya tersenyum setulus ini sebelumnya.
.
Ino menarik nafas berat dan dalam, seperti baru saja menembus permukaan samudra yang sangat dalam. Ia menghirup udara sebanyak mungkin, tubuhnya benar-benar membutuhkan oksigen.
Kegelapan telah ia tinggalkan di belakangnya, dan kini yang tampak adalah luapan cahaya. Sakura dan Chouji berdiri menjaga mereka. Ino duduk di hadapan Sai yang sedang tertidur.
"Bagaimana, Ino?" Meskipun ia mendengar pertanyaan Chouji, ia terlalu lelah untuk menjawab.
Kepala Sai berada di dekat lutut Ino. Perlahan, ia membuka matanya.
Sebelum Ino menyadari siapa yang pertama kali menggapai, mereka telah menggenggamkan tangan mereka.
"Sai."
"Kau…" Sai bergumam linglung, mengeratkan genggamannya. "Kau yang…"
"Kau bisa berhenti khawatir sekarang." Airmata mulai mengalir dari mata Ino.
"Terima kasih, nona cantik." ujar Sai dengan senyum andalannya.
"Bodoh…" dengus Ino.
Keduanya tersenyum lembut satu sama lain.
.
.
.
To Be Continue
