Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rating: M
Lanjutan Kakashi No Hatsukoi (Kakashi- sensei First Love)
.
.
Ino, Chouji, Sakura, Temari, Rou, dan Soku berlari menaiki tangga spiral untuk menyusul Shikamaru.
Chouji berhasil mencapai satu-satunya ruangan di ujung tangga lebih dulu, dan dengan segera ia membuka pintu yang menghalangi ruangan itu hingga gagang pintu itu rusak ditangannya. "Apa kau baik-baik saja Shikamaru?!" panggil Chouji.
Ino dan yang lainnya menyusul di belakang Chouji dan mendapati pemandangan dalam ruangan yang cukup mengerikan. Ada beberapa bercak tetes darah di lantai, pakaian Shikamaru yang cukup berantakan dan beberapa sayatan di wajah dan tubuhnya, bekas darah di hidungnya saat jatuh dari serangan Temari juga belum sepenuhnya menghilang. Di belakangnya, Gengo sedang membungkuk memegang hidungnya yang mengucurkan darah lumayan banyak.
"Persiapkan jutsu-mu Ino!" teriak Shikamaru.
Dibelakangnya, Shikamaru membuat sinyal dengan tangannya yang ia tahu Ino akan mengerti. Tim 10 telah bekerjasama selama bertahun-tahun. Komunikasi mereka sangat sempurna.
"Mengerti!" Balas Ino.
"Hingga aku memberi sinyal, jangan ada yang membuat pergerakan apapun untuk ikut terlibat." Ucap Shikamaru.
Darah yang mengalir dari dahinya menghalangi penglihatannya. Ia menggunakan telapak tangan untuk mengusapnya, dan menggapai bagian dalam rompinya untuk mengambil hitai-ate Konoha-nya yang tersimpan dengan aman di dalam pakaiannya. Ia mengikatnya dengan kuat di sekitar dahinya. Ia tak terlalu khawatir tentang seberapa efektif benda itu dalam menghentikan pendarahannya.
"Mengapa kau bertingkah terlalu tenang?" geram Gengo, ia mengayunkan pedangnya di udara dengan matanya yang merah. "Shikamaru!"
Jari Shikamaru bergerak cepat membuat segel tangan. Bayangannya mulai memanjang dari kakinya, menuju ke arah Gengo.
"Aku bukan orang tolol yang akan tertangkap oleh trik murahanmu," ucap Gengo, melompat menjauh sebelum bayangan Shikamaru dapat mencapai kakinya.
Gengo mendarat dan menerjang Shikamaru tanpa jeda, pedangnya terayun dengan kilat untuk memotongnya.
Shikamaru terbelah menjadi dua dari dahi ke bawah. Namun tubuhnya kehilangan warnanya, menjadi hitam, dan kemudian menghilang.
"Itu hanya kagebunshin." Geram Gengo.
Di belakangnya, Shikamaru menuju ke arahnya dengan kunai di tangannya.
Kunai itu memotong melewati tengkuk Gengo. Gengo menghindari serangan itu dengan sangat brilian, contoh yang baik dari pembawaan teknik pedang Kirigakure. Saat Gengo menghindar, ia menggeser tubuhnya, menekuk lututnya dan mengayunkan pedangnya secara horizontal.
Perut Shikamaru tertembus.
Namun Shikamaru yang ini juga kehilangan warnanya. Kagebunshin yang lain.
"Kau anak kurang ajar…" Geram Gengo.
"Persiapan selesai!" Panggil Ino.
"Baiklah."
Rencana Shikamaru juga telah selesai. Bagian terbesar dari rencana itu bergantung pada kesuksesan aplikasi jutsu Ino. Ino berdiri beberapa jarak dari Gengo, kedua tangannya terangkat, telapak tangan terbuka. Kedua ibu jari dan telunjuknya dipertemukan untuk membuat formasi seperti segitiga, dan ia membidik tepat ke arah Gengo.
"Ninpou, shintenshin no jutsu."
Gengo segera melompat ke sisi lain, menghindari bidikan Ino. Melihatnya menghindar, Ino tersenyum pada diri sendiri. Dan dia menggeser telapak tangannya, hanya sedikit, untuk mengarah ke target yang sebenarnya, Shikamaru.
Tubuh Shikamaru membeku.
Ia tahu Ino telah memasuki pikirannya. Jutsu itu hanya berlangsung sekejap. Dalam hitungan satu tarikan nafas, dan mungkin ditambah satu hembusan nafas, jutsu itu sudah terlepas.
"Rou, Soku," Ino memanggil mereka berdua segera setelah ia melepas jutsunya.
Semuanya berjalan sesuai rencana…
Shintenshin jutsu yang dapat memasuki hati seseorang juga mampu melakukan satu hal lagi, yaitu berbagi informasi.
Shikamaru mengambil keuntungan itu. Rencana yang ia rancang dengan hati-hati di kepalanya telah ditransmisikan pada Ino. Dan Ino mentransmisikannya pada Rou dan Soku. Shikamaru telah memutuskan untuk mengalahkan bajingan ini dengan Rou dan Soku. Mereka bertiga akan melakukannya bersama.
"Ayo!" Shikamaru memanggil mereka berdua.
Rou dan Soku mengangguk. Shikamaru berlari ke arah Gengo, sedangkan Rou dan Soku berlari ke arah ujung ruangan yang berlawanan, berhenti kemudian menghadap satu sama lain dari posisi pararel mereka.
"Apapun yang kalian lakukan, semuanya tidak berguna." Ucap Gengo.
"Oh ayolah." Ucap Shikamaru. "Ini merupakan pertarungan terakhir kita, jadi nikmati saja."
Kunai dan pedang beradu di udara. Terdapat perbedaan yang besar antara massa kedua senjata mereka. Shikamaru terdorong mundur karena kekuatan pedang Gengo, terjatuh ke lantai. Pedang Gengo menuju ke arahnya, menyayat dadanya.
Namun itu merupakan kagebunshin yang lain.
"Berapa lama kau ingin terus bermain?!" Gengo geram, ludah tersembur dari mulutnya.
Shikamaru menyerang Gengo dari atas, menargetkan kepalanya. Gengo mengayunkan pedangnya lagi ke arahnya. Itu hanyalah bunshin yang lain.
Dan yang lainnya. Dan yang lainnya, yang lainnya, yang lainnya, yang lainnya, yang lainnya, yang lainnya…
Pedang Gengo telah membelah dua Shikamaru berkali-kali. Namun tak peduli bagaimana ia menyayat dan mengayun membabi-buta, semua Shikamaru yang diserangnya hanyalah kagebunshin, menghilang seketika setelah mereka terluka.
"Dimana kau bersembunyi, Shikamaru?!" Shikamaru sudah lama menghilang dari pandangan Gengo.
Tidak, Shikamaru yang sebenarnya, faktanya, berdiri tepat di belakangnya. Tanpa disadari Gengo.
"Skakmat." Gumam Shikamaru.
Gengo menghentakkan kepalanya melihat dari pundaknya, wajahnya memucat. Bagaimanapun, ia sudah terlambat.
Bayangan Shikamaru telah merayap dari kakinya dan menghubungkannya dengan tubuh Gengo. Shikamaru telah membuat kagebunshin yang tak terhitung jumlahnya, dan kemudian jutsu Rou membuat penampilan mereka tampak memiliki chakra yang sangat tebal dan padat. Pikiran Gengo secara natural mulai menangkap chakra bunshin itu, dan kemudian, setelah menyerang bunshin demi bunshin, ia secara tak sadar mulai mencari, menghalangi indra lain untuk mengawasi jejak chakra yang spesifik itu. Dan kemudian Shikamaru yang sebenarnya jejak chakranya telah dihapus oleh jutsu Rou, dan diam-diam menyelinap ke belakang Gengo.
Gengo telah diserang tepat dari titik butanya. Hingga Shikamaru telah menguncinya dengan bayangan, pria itu tak sama sekali menyadari apa yang sedang terjadi.
"SHIKAMARU, KAU BAJINGAAAAAAAAAAAAAAAAAN!" Teriak Gengo, memutar kepalanya memuntahkan kalimat pedasnya pada Shikamaru.
Saat menjerit dan kemarahannya memuncak, lidahnya mengeluarkan cairan crimson pekat di dalam mulutnya.
"Hinoko." Shikamaru memanggil dengan tenang.
"Aghhhh!" Saat ia mengumpulkan chakranya di jari telunjuknya, gadis itu menjerit hingga hampir memecahkan gendang telinga Shikamaru. "Aku terus mengatakan padamu untuk tidak menyebut namaku kau tahuuuuuuuuuuuuu!"
Mata Shikamaru dengan jelas menangkap cahaya oranye dari kilat chakra Soku melayang ke arah Gengo dan melewati lidahnya.
"Ga-gaaah?" Gengo membuat suara nafas yang kering.
"Dia baru saja memotong aliran chakra ke lidahmu." Ucap Shikamaru. "Mulai sekarang, kau terjebak dalam tubuh yang tidak akan membiarkanmu mengeluarkan sepatah kata apapun lagi."
Airmata mengalir dari mata Gengo.
"Aku pasti akan menciptakan dunia tanpa perang, jadi kau harus memaafkanku karena merenggut impianmu." Ucap Shikamaru, dan memberi sinyal pada Rou.
Rou, yang tetap tegar setelah mengalami penyiksaan dan genjutsu, datang berlari dengan segera.
"Tahan dia, dan kawal dia ke Markas Persatuan Shinobi." perintah Shikamaru.
"Dimengerti, Tuan." Rou mengangguk, matanya bersinar penuh rasa kagum.
Shikamaru menggaruk batang hidung menggunakan telunjuknya, mencoba untuk mengabaikan rasa malunya.
Rou melingkari tangan Gengo dengan berlapis-lapis borgol logam dan segel—borgol khusus yang digunakan oleh Anbu. Shikamaru menarik bayangannya dari Gengo. Pria itu telah ditahan sepenuhnya. Shikamaru tiba-tiba menyadari bahwa Soku juga sudah berdiri di belakang Rou.
"Misi sudah selesai, huh." Ucap Shikamaru.
"Tidak berjalan begitu mulus, tapi…" Shikamaru tersenyum pada keduanya, dan wajah Rou dan Soku yang kusut seperti ingin menangis saat mereka mengangguk.
.
.
Setelah menahan Gengo, Shikamaru dan rekan-rekannya menuruni tangga spiral dan melihat bahwa pertarungan antara para Kakusha dan shinobi lainnya telah berakhir. Tampaknya setelah Soku memotong aliran chakranya ke lidah Gengo, genjutsu yang menyelimuti pikiran para Kakusha juga sudah terlepas, dan itu merupakan hal yang sangat membantu untuk mengakhiri pertarungan.
Meskipun pertarungan antara para Kakusha dan shinobi berlangsung sengit, tak ada kerusakan yang terlalu besar seperti yang diperkirakan. Selain beberapa orang yang luka berat, hampir semuanya melalui pertarungan itu dengan luka ringan. Kau dapat mengatakan bahwa itu merupakan keajaiban karena tak ada yang terbunuh, namun itu semua berkat para shinobi Sunagakure yang mematuhi perintah Gaara-"Jangan membunuh kecuali memang dibutuhkan."- saat mereka menyerbu aula itu.
Saat penasihat Gengo menyadari mereka telah dikalahkan dan ditahan, bahu mereka merosot dan keinginan mereka bertarung telah hilang sepenuhnya. Mereka telah sadar dari mimpi ambisius mereka, dan kini mereka tampak sangat putus asa.
Saat Shikamaru dan yang lainnya tiba di aula itu, shinobi Konohagakure dan Sunagakure yang lain sudah menangani para Kakusha dengan baik, menahan mereka dan memberikan pertolongan pertama pada yang lainnya.
"Sai!" Shikamaru memanggil saat ia melihat shinobi itu duduk di antara orang banyak, menerima pertolongan pertama dari shinobi yang lain.
"Shikamaru…" Sai duduk tegak, menatap ke arahnya dengan wajah hampa.
Ino telah memberitahu Shikamaru apa yang terjadi pada Sai saat mereka menuruni tangga. Mungkin karena Sai telah dikeluarkan dari genjutsu berkekuatan besar, mata shinobi itu masih tampak kosong, seperti sebagian dari dirinya masih terombang-ambing.
"Aku sungguh minta maaf." Gumam Sai.
"Jangan khawatirkan itu." Ucap Shikamaru ramah, berjongkok di sebelahnya dan meletakkan tangannya di pundak Sai. "Semua sudah berlalu."
Di balik pakaian hitam yang dikenakan Sai, Shikamaru dapat merasakan pundak shinobi itu sedikit bergetar. Tak ada airmata yang mengalir dari matanya. Namun Sai masih menangis dalam hatinya.
"Aku menyedihkan." Gumam Sai.
"Kau berada di bawah pengaruh kata-kata pria itu." Ucap Shikamaru. "Bahkan aku terjebak di dalamnya. Kau tidak perlu merasa bersalah."
"Tapi…"
"Jangan biarkan hal itu terlalu mengganggumu. Kemampuan untuk terus berjalan dengan hati yang ringan tidak peduli apa yang terjadi adalah salah satu dari sifat-sifat terbaikmu."
"Terima kasih, Shikamaru." Setetes airmata lolos dari mata kanan Sai, mengalir ke pipinya.
"Saat kita kembali ke Konoha, ambillah beberapa hari untuk libur. Aku akan bicara pada Kakashi-san."
"Terima kasih …" Saat Sai mengatakan itu, Ino muncul di samping Sai.
"Jaga dia baik-baik." Ucap Shikamaru pada Ino, bangkit berdiri.
Ino memberikan anggukan dalam, matanya mengarah pada Sai. Ia berlutut di sebelahnya tepat setelah Shikamaru pergi. Baru saja Shikamaru mengeluarkan helaan nafas kecil karena semua telah berakhir, suara seorang pria terdengar, meledak-ledak penuh amarah.
"SHI-KA-MA-RUUUUUUUUUUUUU!"
Oh ya, ia benar-benar melupakan pria itu.
Menggaruk tengkuknya, Shikamaru menolehkan kepalanya untuk melihat ke arah pemilik suara itu. Malah yang ia lihat adalah sebuah tinju yang melayang ke wajahnya. Tubuh Shikamaru terlempar ke belakang, berguling di tanah. Pandangannya berubah-ubah dari lantai ke atap ke lantai ke atap.
Enam kali.
Otaknya dengan tenang menghitung berapa kali ia berguling akibat tinju yang sangat kuat itu. Tubuh Shikamaru akhirnya berhenti berguling dengan posisi telungkup. Ia duduk di lantai, matanya menangkap pria pirang yang dengan cepat menuju ke arahnya. Shikamaru menggunakan tangan dan lututnya
untuk bangkit, namun selanjutnya yang ia tahu, seorang pria menaiki punggungnya seperti kuda, menarik bagian belakang kerahnya. Leher Shikamaru tersentak ke atas dan ke bawah, sebuah makian yang tak jelas maksudnya meledak ke telinganya.
"KAU – KENAPA – BERITAHU AKU – SEMUA KAU LAKUKAN SENDIRI – SELALU SEPERTI INI – MEMBUAT SEMUA ORANG – SANGAT KHAWATIR – BAHKAN AKU – GAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH – DASAR ORANG BODOH!"
"Aku benar-benar minta maaf, Naruto." Shikamaru bicara pada pria di punggungnya.
"Kau benar-benar bodoh!" Naruto mengulang kemarahannya.
Kata-kata yang Naruto teriakkan terputus- putus dan tak bisa ditangkap oleh pendengaran Shikamaru, perasaannya menyebabkan kalimat yang disemburkannya tidak terstruktur, namun Shikamaru sangat mengerti seluruh kekhawatiran Naruto padanya terkumpul dalam kata-kata kasarnya. Karena Naruto memiliki kobaran api dalam dirinya maka dia pantas menjadi pemimpin dari desa tersembunyi Negara Api, Konoha.
"Bukankah kau bilang kau akan menjadi penasihatku, huh?" Gumam Naruto.
Si pirang itu tampaknya sudah menjadi agak sedikit tenang setelah permintaan maaf Shikamaru dilontarkan, dan ia telah memastikan bahwa Shikamaru baik-baik saja.
"Mulai sekarang negara ini akan baik-baik saja." Ucap Naruto sungguh-sungguh.
Sakura telah berada di samping mereka tanpa Shikamaru sadari. "Karena para Kakusha yang menguasai negara ini merupakan shinobi, tidak ada satupun penduduk yang tidak mengetahui bahwa Naruto adalah pahlawan dari Perang Dunia Shinobi yang lalu." Ucap Sakura. "Tidak akan ada yang meributkan kejadian ini sekali mereka melihat Naruto di sini. Dan karena genjutsu Gengo sudah dipatahkan, semua hal akan berakhir secepatnya."
Pengaruh Naruto di seluruh dunia shinobi tak terukur kuatnya. Seperti yang Sakura katakan. Tak ada yang berani menentang pahlawan yang telah menyelamatkan dunia.
"Hey, mulai sekarang," ucap Naruto tegas, "Jika sesuatu terjadi, katakan padaku terlebih dahulu."
"Aa." Shikamaru memejamkan matanya dan mengangguk.
Naruto melepaskan bagian belakang kerah Shikamaru dan berdiri. "Ayo." Naruto mengulurkan tangannya.
Shikamaru meraih ulurannya dalam diam.
.
.
TBC
Note : Di chapter ini hampir seluruhnya dari novel hidden, hanya saja telah dirangkum dan telah melewati proses editing.
