Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Rating: M

Lanjutan Kakashi No Hatsukoi (Kakashi- sensei First Love)


Setelah mereka semua yang pulang dari Negera Sunyi kembali ke Konoha, Kakashi memberikan libur bagi Shikamaru dan Sai untuk memulihkan tubuh, pikiran, dan hati mereka.

Kakashi mengutus Naruto dan Sakura untuk membereskan permasalahan di Negeri Sunyi dari semua yang telah dimulai oleh Gengo. Kemudian Kakashi juga memberikan Ino dan Chouji sebuah misi sepulangnya mereka dari Negeri Sunyi, ia sengaja melakukannya untuk menjauhkan gadis pirang itu dari Sai yang masih butuh sendiri.

Yamato dan Sakura mengatakan padanya bahwa Sai mengalami guncangan batin yang cukup berat, namun ia akan dapat mengatasinya sendiri dengan dibiarkan sendiri. Sai butuh waktu untuk memulihkan akal sehatnya dan menemukan dirinya sendiri yang masih terombang-ambing.

Suatu malam, beberapa hari setelah kepulangan Shikamaru dan yang lainnya ke desa, Kakashi pulang terlambat seperti biasanya. Namun istrinya masih terjaga dan menunggunya di meja makan. Seperti biasa, Hanare menyambutnya dengan senyum manis dan langsung berlari ke kamar mandi menyiapkan air hangat untuknya mandi. Saat selesai mandi dan berpakaian, ia telah ditunggu oleh istrinya di meja makan yang berisi beberapa jenis makanan yang telah dihangatkannya.

Hanare menungguinya makan sambil mengajaknya mengobrol soal kegiatannya dan Kazu. Hanare bercerita kalau sore tadi sepulangnya ia dari pasar, ia bertemu dengan Shikamaru yang sedang berjalan dengan seorang gadis cantik bermata hijau.

"Kelihatannya mereka sedang berkencan Anata!" Hanare terkikik gemas saat menceritakan pertemuannya dengan Shikamaru dan seorang gadis pada suaminya.

"Hn? Bermata hijau?" tanya Kakashi yang direspon dengan anggukan istrinya. "Sakura?" sambungnya.

Hanare memutar bola matanya. "Tentu saja bukan! Aku kenal betul Sakura-chan!" Hanare menggembungkan pipinya, membuat Kakashi tersenyum miring.

"Rambutnya pirang."

"Ah, mungkin itu Nona Sabaku Temari. Putri dari desa Sunagakure." gumam Kakashi setelah menelan katsunya.

"Benarkah?! Saudari dari Kazekage itu?" Hanare membulatkan matanya.

"Ya, mereka memang dekat. Tapi aku tak tahu apakah mereka memiliki hubungan romantis atau tidak." jawab Kakashi tak acuh, masih sibuk memakan masakan istri tercintanya.

"Hn, kau ini memang pria hentai yang tidak peka Anata!" dengus Hanare. "Mereka terlalu jelas terlihat memiliki ketertarikan satu sama lain."

Kakashi tersedak saat Hanare mengatainya Hentai. Ia langsung meminum air putih yang disodorkan sang istri. "Pelan-pelan saja makannya." Hanare menepuk-nepuk punggung suaminya.

"Hmm, jadi dia putri dari Sunagakure ya, pantas saja cantik." Hanare masih belum bosan membahas Shikamaru rupanya.

"Konoha juga punya hime yang tak kalah cantik dan sexy." ujar Kakashi dengan mulut penuh dengan nasi.

"Apa kau bilang?! Siapa?! Wanita simpananmu hah?!" bentak Hanare tiba-tiba.

Kakashi tak terpengaruh dengan omelan Hanare, ia masih mengunyah makanannya dengan santai namun matanya menatap Hanare yang wajahnya sudah merah karena marah. "Bukan hanya cantik dan sexy, dia juga jago masak dan pandai membuatku klimaks berkali-kali dalam satu malam. Hime-nya ada di hadapanku sekarang." Kakashi masih menatap datar Hanare, namun bibir tipisnya sedikit menyungingkan senyum geli melihat wajah merah istrinya yang masih bertahan, namun kali ini karena malu.

Hanare mencubit pinggang Kakashi dengan kejam sebelum berlari ke kamar mereka karena tak kuat menahan malu pada suaminya.

.

.

Musim dingin sudah tiba, sudah masuk pertengahan bulan desember. Kakashi sedang libur dan memilih untuk memanfaatkan waktu liburannya yang sangat langka ini untuk mengajak Putra dan Istrinya jalan-jalan.

Kazu yang kini telah lancar berjalan, menggenggam erat tangan kedua orang tuanya yang berjalan mengiringinya di kanan dan kiri. Salju yang masih tipis tidak menghambat langkah kaki kecilnya yang dilapisi sepatu boot biru cerah senada dengan mantel musim dinginnya.

"Ayah, bolehkah Kazu memiliki set pelmainan ninja untuk kado natal?" tanya Kazu sambil mendongak ke arah ayahnya yang menjulang di sampingnya.

"Tentu." Kakashi tersenyum hangat dan mengangguk setuju pada putra semata wayangnya. "Tapi kau harus berjanji untuk menggunakannya dengan hati-hati." lanjutnya.

"Kazu janji." angguk Kazu setuju. "Nanti Kazu akan belatih dengan giat, agal Kazu bisa menjadi shinobi yang hebat sepelti ayah. Dan Kazu juga akan menjadi hokage." cerocos Kazu penuh antusias.

Kakashi mengacak surai keperakan milik putranya dan melirik istrinya yang tak hentinya tersenyum mendengarkan pembicaraan mereka.

"Ayah, apakah nanti Kazu akan setinggi ayah saat sudah besal?" Kazu kembali bersuara.

"Kau mungkin bisa lebih tinggi dari ayah Nak." Kakashi tersenyum dari balik maskernya.

"Benalkah?!" senyum lebar terpatri di bibir pink Kazu.

"Hm." Kakashi mengangguk.

"Ayah, bisakah kita makan lamen? Aku ingin makan lamen hangat paman Ichilaku. Aku juga ingin beltemu Naluto-jisan, pasti dia sedang makan lamen disana sekalang!" Kazu tampak lebih bersemangat saat mengungkit soal Naruto.

Kakashi terkekeh, bahkan anaknya yang belum genap berusia tiga tahun saja sudah menjadi salah satu fans Naruto. Kini banyak gadis yang berusaha menarik perhatian putra Hokage keempat itu. Murid kuningnya yang satu itu memang memiliki kharismanya sendiri. Ia bahkan menyadarkan sahabatnya Uchiha Obito. Kakashi merasa bangga telah menjadi guru Naruto. Ia bangga karena bisa mendidik anak dari gurunya, Namikaze Minato. Ia juga bangga dengan kedua muridnya yang lain, yaitu Sakura dan Sasuke.

Sakura kini telah menjadi seorang ninja medis yang hebat dibawah didikan hokage kelima, Putri Tsunade. Sedangkan Sasuke, walaupun dia sempat menjadi buronan kelas kakap, namun dia telah berubah dan mengambil jalannya sendiri. Jalan menuju kebaikan yang berhasil disadarinya karena Naruto.

Sasuke merupakan pahlawan perang bersama kedua muridnya yang lain yaitu Naruto dan Sakura. Sekali lagi, Kakashi benar-benar bangga telah menjadi guru mereka. Namun walau Sasuke sudah membantu Naruto dalam perang, masih banyak yang belum bisa mempercayai Sasuke. Tapi Kakashi sebagai gurunya tahu bahwa anak itu perlu diberi kesempatan. Jadi ketika ia meminta Kakashi untuk mengizinkannya menjalani misi dan perjalanan panjang untuk menebus dosanya, Kakashi dengan yakin mewujudkan permintaan pemuda Uchiha terakhir itu.

Tanpa terasa, Kakashi dan keluarga kecilnya telah sampai di kedai ramen paman Ichiraku. Dan benar saja perkiraan putranya bahwa Naruto memang ada disana, di kelilingi beberapa gadis yang berusaha mencari perhatiannya.

"Naluto-jisan!" teriak Kazu sambil berlari merentangkan tangannya ke arah Naruto.

Naruto menoleh cepat ke arah Kazu dan menangkap tubuh mungil Kazu yang melompat lincah dalam pelukannya. "Hahaha... wah wah... keponakan jisan satu ini sudah semakin besar yaa... Kau pasti rindu padaku kan?" Naruto mengacak surai perak bocah dalam pelukannya.

"Hm." Kazu menganggukan kepala kecilnya sambil tersenyum lucu. "Kazu kangen Naluto-jisan! Apa jisan mau makan lamen?"

"Tentu sajaa... hahaha... kau juga mau makan ramen kan Kazu? Ayo kalau begitu kita makan bersama." Naruto menggendong tubuh kecil Kazu dan membawanya masuk ke kedai ramen diikuti Kakashi dan Hanare.

Naruto memanggil Ayame dan menyerukan pesanannya yang seperti biasa. Kemudian dengan wajah memerah, Ayame melirik Kakashi untuk menanyakan pesanannya. Hanare yang menyadari ekspresi Ayame mengangkat sebelah alisnya dan berbisik pada suaminya setelah Ayame pergi untuk membawakan pesanan mereka.

"Kenapa nona Ayame tersipu begitu saat melihatmu Anata?" bisik Hanare.

Kakashi menatap istrinya bingung dan hanya mengedikan bahunya tak acuh. Naruto yang mendengar bisikan Hanare terkikik jahil. "Dulu itu Kakashi-sensei pernah memperlihatkan wajahnya tanpa masker saat sedang makan ramen di hadapan Nona Ayame, dan kelihatannya sampai saat ini dia belum bisa melupakannya saking terpesonanya Hanare-san." ujar Naruto.

"Ah aku ingat, Sakura dan kau pernah menceritakannya padaku saat hari pernikahan kami." timpal Hanare. "Baru melihat sekali saja sudah begitu, bagaimana jika dia jadi aku yang melihatmu setiap hari tanpa masker."

"Apa wajah Kakashi-sensei tampan Hanare-san?" bisik Naruto iseng, sedangkan yang dibicarakan sweatdrop.

"Eh? Te-tentu saja! Kakashi-kun sangat tampan Naruto-kun." sahut Hanare dengan semburat merah muda tipis di kedua pipinya.

"Ayah tampan kok jisan. Milip Kazu. Hihihi..." kikik Hatake Kazuto pada Naruto yang sedang menyeringai lebar padanya.

"Kakashi-sensei, malam minggu nanti aku, Sakura, dan yang lainnya akan mengadakan kumpul-kumpul dengan teman-teman yang lainnya, apakah kau bisa datang?" tanya Naruto.

"Hmm, bagaimana ya..." gumam Kakashi.

"Ayolah senseeii... Yamato-sensei juga akan datang loh! Bahkan Lee juga sudah berjanji akan mengajak Guy-sensei bersamanya. Kalian berdua kan sudah lama tidak bersaing, ya kaaan? Hehehe..." bujuk Naruto.

"Hmm, baiklah. Aku akan usahakan untuk datang." putus Kakashi.

"Yeaayy! Asiiik!" pekik Naruto girang.

.

.

.

Sabtu malam, kelima kage mengadakan rapat penting mengenai posisi bulan yang semakin mendekati bumi. Suasana serius dan sedikit mencekam mewarnai ruangan rapat yang berbentuk melingkar itu. Kelima kage memasang wajah serius dengan dahi berkerut karena berpikir keras.

Bulan mulai Jatuh

"Bulan sudah jelas mulai mendekati bumi." ujar Raikage.

"Itu sebabnya tidak ada meteorit akhir-akhir ini."

Seorang wanita dengan rambut perak dan berkacamata yang sejak awal berdiri di belakang Kakashi maju ke samping Kakashi "Biar kujelaskan. Sebagai dua tubuh samawi yang saling berdekatan satu sama lain, gravitasi mereka akan mulai menariknya. Saat jarak tertentu sudah tercapai, permukaan bulan akan mulai untuk saling berpisah. Aku percaya bagian dari permukaannya sudah mulai jatuh ke bumi."

"Dan apa yang akan terjadi?" tanya Raikage.

"Bulan dengan sepenuhnya akan hancur. Dan pecahannya akan menghujani di setiap permukaan bumi. Jika semuanya sudah selesai, giliran umat manusia..." Wanita itu menggantung kalimatnya.

"Binasa." lanjut Raikage melengkapi.

"Apa ini kejadian yang natural? Atau ini adalah serangan dari manusia?" tanya Mizukage, Mei Terumi.

"Pertanyaan yang bagus." timpal Kakashi.

.

.

.

"Lee tidak bisa datang, katanya kakinya sedikit cedera saat latihan sore tadi." ujar Chouji sambil mengunyah ramennya.

"Kau bilang kau mengundang Kakashi-sensei juga kan Naruto?" tanya Sakura.

"Hehem. Tapi sepertinya dia tidak bisa datang, atau mungkin dia akan datang dua jam lagi dan mengatakan kalau dia baru saja bertemu nenek-nenek tua dan kemudian dia tersesat di jalan yang bernama kehidupan." dengus Naruto malas.

Sakura, Ino, dan Chouji tertawa mendengar perkataan Naruto. Sedangkan Shikamaru hanya tersenyum tipis menanggapinya, sebelum membuka suara. "Kakashi-san tidak bisa datang karena kelima kage sedang mengadakan rapat penting malam ini."

"Benarkah? Rapat tentang apa?" tanya Naruto.

"Sepertinya mengenai bulan. Posisi bulan saat ini terlalu dekat dengan bumi seakan-akan hendak jatuh. Mereka sedang mendiskusikan sekiranya apa yang terjadi dengan fenomena ini, dan apa yang mungkin terjadi selanjutnya." jelas Shikamaru.

Naruto baru saja akan membuka mulutnya untuk menimpali ucapan Shikamaru, sebelum Sakura memanggil seseorang di belakangnya.

"Hinata! bergabunglah, Naruto sedang senang, jadi dia yang akan membayar semuanya." ajak Sakura ceria.

Naruto mengalihkan pandangannya dari Sakura ke gadis indigo yang dipanggilnya. "Hinata-chan! Ayo kemari, pesan saja apa yang kau mau, aku yang traktir." seru Naruto dengan cengiran rubahnya.

Dengan kepala sedikit menunduk dan wajah malu-malu berhias semburat merah muda, Hinata maju dan duduk di antara Sakura dan Naruto.

"Naruto-senpaaai!" suara beberapa gadis menghampiri mereka.

"Ah, kalian... terima kasih ya hadiahnya." kata Naruto ramah.

"Sama-sama Naruto-senpaaii..." sahut gadis-gadis itu ceria.

"Ayo duduklah, pesan yang kalian mau. Aku yang traktir." ajak Naruto.

"Waah... arigatou senpai..."

"Hinata, kau juga pesanlah apa yang kau mau." kata Naruto sambil kembali ke kursinya di samping Hinata.

Namun dengan cepat Hinata justru bangkit dari kursinya dan berjalan menjauh sambil memunggungi semua orang kemudian berkata bahwa ia tidak lapar. Segera setelah mengatakan hal itu, Hinata berlari pergi dari kedai ramen Ichiraku.

"Kenapa kau tak mengantar Hinata pulang Naruto?!" bentak Sakura.

"He? Memangnya kenapa aku harus mengantar Hinata-chan pulang?" Naruto menggaruk begian belakang kepalanya.

"Tak baik membiarkan seorang gadis pulang malam sendirian." omel Sakura.

"Tapi Hinata-chan itu kuat, lagipula tak ada yang mau berurusan dengan Hyuga kan." sahut Naruto tidak peka.

"Dasar bodoh!" Sakura memukul lengan atas Naruto, sebelum akhirnya berlari mengejar Hinata.

.

.

.

Sai sedang duduk di puncak bukit di antara pepohonan. Ia menggoreskan tintanya di atas kertas gambarnya sambil memandangi bulan yang tampak lebih besar dari biasanya.

Tiba-tiba sekelebat bayangan hitam melintas di hadapannya. Mata onyx Sai memicing dan melihat dengan jelas bahwa bayangan itu merupakan burung hitam besar yang ditunggangi oleh seorang berjubah. Namun yang membuatnya membelalakan mata adalah seseorang yang berada dalam dekapan pria tersebut.

"Hanabi-sama!"

.

.

.

To Be Continue