Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rating: M

Lanjutan Kakashi No Hatsukoi (Kakashi- sensei First Love)


:

::

:::

Kakashi x Hanare

Naruto x Hinata

Sai x Ino

Sasuke x Sakura

Shikamaru x Temari

:::

::

:

Kakashi mengumpulkan Naruto, Sakura, Sai, Shikamaru, dan Hinata di ruangannya

"Misi kalian adalah menyelamatkan Hyuga Hanabi yang baru saja diculik. Kalian berempat akan bekerja sebagai satu tim yang diketuai oleh Shikamaru. Aku juga akan mengabulkan permintaan Hinata untuk masuk ke tim ini."

"Terima kasih banyak." sahut Hinata.

"Shikamaru, keluarkan tanganmu." perintah Kakashi.

"Huh? Kenapa?" tanya Shikamaru, namun ia tetap menurutinya.

Tiba-tiba muncul sebuah lingkaran bercahaya yang sekelilingnya terdapat huruf-huruf dengan latar warna kuning yang berpendar. "Apa ini?" tanya Shikamaru.

"Jam paling rahasia yang hanya dimiliki oleh kelima Kage." sahut Kakashi.

"Jam macam apa ini?" tanya Naruto.

"Jam itu menghitung waktu sampai saat kehancuran bumi." jelas Kakashi.

Kelima shinobi muda dihadapannya terkejut mendengar penuturan Kakashi.

"Aku tidak mengerti, kenapa ini diperlukan dalam misi penyelamatan Hanabi?" tanya Shikamaru sambil menjulurkan telapak tangannya menghadap Kakashi.

"Toneri, orang yang menculik Hanabi. Bisa saja orang yang memanipulasi bulan." Kakashi kembali menjelaskan.

"Apa dasarnya?" tanya Sai.

"Ini hanya sebuah firasat." jawab Kakashi lambat dan penuh penekanan.

.
.

Sai menciptakan empat choujuu giga untuk ditunggangi masing-masing rekannya, dan membawa mereka ke lokasi terakhir ia kehilangan jejak penculik Hanabi malam lalu. Hinata terbang bersama Naruto dengan satu choujuu giga.

Mereka menelusuri jejak-jejak yang bisa mereka peroleh dan juga dengan bantuan mata byakugan Hinata. Gadis Hyuga itu menuntun teman-temannya menuju sebuah mata air yang bersinar di dasar gua. Mata air itu tidak membuat objek yang mengenainya menjadi basah. Namun ketika Naruto dan yang lainnya menyelam ke dalamnya, mereka justru mendapati alam bawah sadar menguasai pikiran mereka dengan berbagai kenangan yang berarti bagi mereka.

Tubuh mereka mengambang lurus di dalam air ajaib itu. Pikiran mereka tenggelam dalam kenangan masing-masing. Naruto tengah membayangkan masa kecilnya di akademi, begitu juga sebagian besar teman-temannya. Tapi ada sebuah kenangan kuat yang memiliki arti sangat besar dari satu-satunya gadis Hyuga disana. Hyuga Hinata sedang hidup dalam setiap kenangannya bersama seorang pemuda pirang dengan netra sapphire yang telah dipujanya sejak masa kanak-kanak.

Memori Hinata terus berputar dalam alam bawah sadarnya layaknya film. Ketika sebuah kenangan ketika dirinya nekat menantang Pain demi Naruto, tubuh Naruto yang juga sedang mengambang di sampingnya tiba-tiba saja mendekat pada tubuh Hinata seperti tertarik gravitasi. Kemudian entah bagaimana syal merah yang Hinata buat khusus untuk Naruto namun belum sempat dan belum berani diberikannya merambat keluar dari dalam ransel Hinata menuju tubuh Naruto. Syal merah itu menghubungkan tubuh kedua shinobi Konoha itu layaknya benang merah.

Dalam kenangannya, Naruto kembali dalam memori sebelumnya ketika di kelas guru Iruka semasa di akademi. Namun kini tubuh dewasanya yang sekarang, juga berada dalam memori tersebut dan bisa melihat dari sudut pandang dirinya yang sekarang, bukan dari sudut pandang Naruto kecil.

Naruto tersenyum kecil melihat kekonyolannya sendiri saat dengan keras kepala mendebat pertanyaan guru Iruka mengenai perumpamaan apabila bumi berakhir dan bulan jatuh. Guru Iruka memberikan pertanyaan pada anak-anak, siapa yang akan mereka ajak di hari terakhir mereka bersama. Namun bukannya menuliskan jawabannya di kertas yang telah diberikan padanya, Naruto kecil justru membuat pesawat kertas dengan kertas itu dan menerbangkannya di dalam kelas. Saat guru Iruka memarahinya, Naruto dewasa mendengar suara kecil dari samping kiri tempatnya berdiri. Ternyata itu adalah suara Hinata kecil yang sedang tersenyum memandangi tulisannya di kertas. Naruto melirik kertas itu, dan merasa bingung sekaligus terkejut mendapati namanya lah yang ditulis Hinata pada kertas itu.

Naruto kembali berputar dalam memori, namun kini bukanlah memorinya sendiri. Secara ajaib Naruto dibawa ke dalam memori Sakura. Sakura memasukki alam bawah sadar Naruto dan menunjukkan kenangannya pada Naruto untuk membuka mata Naruto tentang Hinata yang telah menyukainya sejak lama. Sakura membeberkan segala apa yang diketahuinya mengenai perasaan Hinata dan apa yang telah Hinata lakukan untuk Naruto tanpa diketahui oleh dirinya sendiri, salah satunya mengenai kenyataan sebenarnya tentang syal merah yang selalu dibawa Hinata kemana-mana.

Perkataan Hinata mengenai perasaan cintanya yang pernah dinyatakannya saat melawan Pain untuk Naruto kembali terngiang dibenak pemuda Uzumaki itu sebelum bayangan Sakura berlari padanya dan menariknya menuju kesadaran sesungguhnya. Saat terbangun, Sakura ternyata sedang mengaplikasikan chakranya pada tubuhnya. Dan keempat rekannya yang lain termasuk Hinata, telah terbangun lebih dulu.

"Apakah ini perangkap yang dipasang musuh?" Sai bersuara.

"Ya. Ini adalah perangkap untuk penyusup dalam genjutsu. Dengan menghentikan mereka dalam sebuah dunia ingatan. Ini adalah penjara kurungan ingatan. Terima kasih pada Sakura yang menahan genjutsu dari kita."sahut Shikamaru.

"Terima kasih Sakura. Aku bersenang-senang dalam mimpi bersama kakakku. Aku menghargainya karena kau membuyarkannya." sindir Sai.

Shikamaru tertawa, "Itu tidak terdengar seperti terima kasih."

Setelah kembali berpijak, mereka kembali berdapan dengan mata air lainnya. Karena di dalam sana byakugan Hinata tidak bekerja, maka Shikamaru yang merupakan ketua tim memimpin mereka untuk kembali menyelam. Otak Naruto masih saja sibuk memikirkan mengenai memori yang tadi diselaminya berkat genjutsu. Hinata yang hendak ikut melompat ke mata air, mengurungkan niatnya karena melihat Naruto yang tengah melamun.

"Ada apa?" tanya Hinata menoleh pada Naruto.

"Tentang mimpi genjutsu tadi." gumam Naruto.

"Huh? Ada apa?"

"Tidak. Jangan dipedulikan." elak Naruto. Kemudian ia melompat memasuki mata air itu meninggalkan Hinata.

Hinata baru saja akan menyusulnya melompat, namun tiba-tiba suara seseorang memanggil namanya. Hinata menolehkan kepalanya dan mendapati Toneri lah yang sedang bicara padanya dan berdiri di belakangnya.

"Aku bilang aku akan datang padamu untuk mengajakmu ikut denganku." ucap Toneri.

"Dimana Hanabi?!" seru Hinata sambil memasang kuda-kudanya.

"Jangan khawatir. Dia tertidur di kastilku." Toneri mendekat pada Hinata dan berdiri tepat di hadapan gadis Hyuga itu.

"Kembalikan Hanabi!"

"Itu tergantung pada pertanyaannmu Putri Byakugan."

"Putri Byakugan?" tanya Hinata dengan wajah heran.

"Hinata, menikahlah denganku." kata Toneri.

"Menikah? Apa yang kau katakan?! Bebaskan Hanabi!"

Tiba-tiba Hinata dan Toneri dilingkupi kegelapan yang melingkari mereka. Pemandangan sekitar mereka yang semula, berubah menjadi seperti layar film. Toneri menunjukkan kondisi Hanabi yang kini sedang berada di kastilnya. Toneri yang berada dalam layar mengaku bahwa ia telah mengambil byakugan Hanabi.

"Kau mengerikan!" desis Hinata.

"Maafkan aku. Itu hak dari Dekrit Samawi." kata Toneri yang berada dalam layar.

"Hamura?" gumam Hinata.

"Hamura Otsutsuki. Penemu shinobi dari bulan. Mungkin ini akan lebih mudah dimengerti jika kukatakan dia adalah adik dari Rikudou Sennin, penemu shinobi dari bumi. Kaum Hyuga-mu menerima warisan darah Hamura. Ceritanya kembali pada beribu-ribu tahun yang lalu. Faktanya, Rikudou Sennin sang kakak merasa khawatir. Dia takut jika juubi dengan chakra terbesar dan kekuatan tak terhingga akan membawa bencana pada dunia, jadi ia mengekstrak chakra juubi dan membaginya pada sembilan monster berekor untuk melemahkan kekuatannya. Lalu menyegel juubi yang chakra-nya diekstrak, dinamakan patung Gedo dan disembunyikan di bulan, agar juubi tidak akan pernah bangkit lagi."

"Hamura memutuskan untuk tinggal di bulan demi menjaga patung Gedo. Rikudou Sennin menjadi penemu shinobi dari bumi. Namun Hamura ragu terhadap dunia yang dibuat kakaknya. Jadi, jika dunia yang dibuat kakaknya menjadi sesat dari jalan shinobi, dia mempercayakan keturunannya untuk menghancurkannya. Waktu telah berganti, pertarungan antara shinobi tidak pernah berhenti. Mereka terus menggunakan chakra sebagai senjata, mencuri patung Gedo, bahkan membangkitkan juubi. Klan kami akhirnya menyimpulkan bahwa shinobi dari bumi akan menghancurkan kedamaian dan ketentraman dunia."

"Dunia yang dibuat Rikudou Sennin adalah sebuah kegagalan.Jadi menurut Dekrit Samawi dari Hamura, aku akan menghancurkan dunia yang dibuat Rikudou Sennin. Saat byakugan murni ini bersinergi dengan chakra-ku, itu akan berubah menjadi Tenseigan. Dengan kekuatan mata, aku mengamibil debu dari bumi dan menciptakan dunia baru."

"Aku tidak percaya ceritamu, dan aku akan menyelamatkan Hanabi!" potong Hinata.

"Bahkan saat kau tidak tahu dimana istana itu berada?" ejek Toneri.

Seketika layar itu menghilang digantikan dengan pemandangan tempat Hinata berada sesungguhnya.

"Aku akan kembali untuk jawabanmu." kata Toneri yang berada di hadapannya.

Naruto tidak mendapati Hinata berada di belakangnya, maka langsung kembali ke permukaan untuk mengeceknya. Ia menemukan Hinata sedang berhadapan langsung dengan Toneri di atas sana. Naruto meluncur keatas dan langsung berdiri membentengi Hinata.

"Jangan mendekati Hinata!" bentak Naruto pada Toneri.

"Kau lagi. Kau menghalangiku, minggir!" usir Toneri dengan suara datar.

"Dimana Hanabi!" seru Naruto sambil mulai menyerang Toneri.

Mereka bertarung dengan sengit hingga satu pukulan telak dari Naruto berhasil melempar tubuh Toneri dengan keras. Namun saat itu pula Naruto sadar bahwa apa yang baru saja dihancurkannya hanyalah sebuah boneka, bukan Toneri yang asli.

"Pukulanmu tidak akan pernah bisa mencapaiku. Tidak akan pernah." itulah perkataan terakhir Toneri sebelum boneka yang menyerupai tubuhnya itu ambruk dan hancur di hadapan Naruto dan Hinata.

.
.

Shikamaru, Sai, dan Sakura yang telah lebih dulu tiba di permukaan lain dari mata air itu diserang oleh penjaga gerbang yang berwujud seekor kepiting raksasa. Mereka berpencar dan saling bekerja sama untuk melawan monster kepiting itu.

Sai menyapukan kuas lukisnya di atas gulungan dan berhasil menciptakan beberapa harimau tinta yang akhirnya gagal menahan serangan kepiting raksasa. Namun tak berselang lama, Sai kembali menciptakan Fujin dan Raijin dengan tintanya. Kedua sosok raksasa mirip jin itu bersama-sama menyerang kepiting raksasa dan berhasil melumpuhkannya.

Setelah kepiting itu tumbang untuk sesaat, Shikamaru melancarkan jurus bayangannya dan berhasil menahan pergerakan sang kepiting. Setelah memberikan aba-aba pada Sakura, ninja medis berkekuatan super itu dengan cepat dan terukur menyerang tubuh kepiting itu dari atas dengan satu pukulan keras yang sangat menghancurkan.

Kepiting itu tewas seketika dalam keadaan hancur lebur.

.
.

Naruto dan yang lainnya tiba di sebuah tebing dengan lautan luas di hadapan mereka, namun ada sebuah pulau yang tampak mengapung nun jauh disana. Mereka bergegas kesana dengan menunggangi choujuu giga.

Tempat itu begitu tenang dan mencurigakan. Mereka mendirikan sebuah tenda di tengah hutan dan tidur di luar tenda saat hari telah gelap. Naruto yang belum bisa tidur dan sedang berbaring di atas batang pohon besar dekat tenda melihat Hinata yang sedang berjalan pelan menuju bagian lain hutan. Naruto mengikutinya dan mendapati Hinata sedang duduk di sebuah batu sambil merajut syal merah yang selalu berada di tas ranselnya. Syal merah yang khusus dibuatkan Hinata untuk dirinya.

Mata Naruto menjadi sendu melihat betapa besar perasaan Hinata padanya, dan dia menyesali kebodohannya sendiri yang secara tidak disengaja telah menyakiti Hinata.

.
.

"Aku bisa melihat kota sekitar 20 km/jam di depan." seru Hinata dari atas choujuu giga.

Shikamaru kemudian memimpin mereka semua menuju kota yang dimaksudkan oleh Hinata.

Mereka tiba di sebuah tempat tak berpenghuni yang dipenuhi bangunan tua. Mereka berpencar untuk mencari petunjuk disana. Naruto dan Hinata menyusuri puing-puing dan masuk ke dalam salah satu bagian bangunan yang masih tersisa.

"Apakah ada perang zaman dulu?" gumam Naruto saat melihat bagian dalam bangunan yang hancur.

Di belakangnya, Hinata melihat-lihat bagian lain ruangan dan menghilang di balik tembok sebelum sebuah pekikan dari dirinya berhasil menyentakkan Naruto. Naruto langsung berlari menghampiri asal suara dan ternyata mendapati Hinata sedang terduduk bersimpuh sambil membersihkan jaring laba-laba yang menempel di rambut panjangnya. Ternyata gadis itu hanya terkejut karena terkena jaring laba-laba.

"Kau bisa melihat kejauhan menggunakan byakugan-mu, tapi kau berjalan lurus menuju sebuah jaring laba-laba. Kau sangat lucu" goda Naruto.

Tangan Naruto membantu Hinata untuk menyingkirkan jaring laba-laba dari surai indah milik gadis itu. Naruto melakukannya dengan sangat lembut dan berhasil membuat Hinata membeku mengatur detak jantungnya.

Mereka kembali berjalan keluar bangunan dan menyusuri tempat lain. Saat melihat ada sebuah air mengalir dari dinding batu salah satu bangunan, Naruto berhenti sejenak dan meminum air itu langsung melalui telapak tangannya.

"Naruto." panggil Hinata.

"Ya?"

"Apa yang terjadi dengan syal-mu?"

Naruto terkekeh sejenak sebelum menjawab. "Oh, itu. Saat berada di bawah tanah, hawanya hangat jadi aku lepas."

Naruto menjulurkan kedua telapak tangannya yang dipenuhi air pada Hinata. Hinata kemudian meminum air itu. Hinata dan Naruto kembali masuk menuju bangunan lainnya.

"Aku merasa sedikit dingin." kata Hinata.

"Aku bertaruh kau memang kedinginan dengan pakaian seperti itu." lirik Naruto pada tubuh Hinata.

Hinata memalingkan wajahnya malu. Melihat itu, Naruto ikut menjadi canggung dan memandang ke arah lain sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.

"Ini memang perlengkapan misi-ku."

Mereka memasuki sebuah ruangan berbentuk melingkar yang dindingnya membentuk lubang-lubang di sepanjang sisinya. Hinata memasak air di tengah ruangan itu untuk menyeduh ramen instan. Naruto makan dengan cepat dan setelah kenyang, ia berdiri untuk berkeliling melihat-lihat bangunan itu. Ia berjalan dengan menoleh ke belakang hingga wajahnya menabrak jaring laba-laba yang melintang di hadapannya.

Naruto yang terkejut berteriak dan bergerak-gerak heboh hingga akhirnya terjatuh dengan keras ke dasar tangga.

"Naruto!" panggil Hinata.

"Jaring laba-laba." erang Naruto masih dalam posisi terkapar.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Hinata sambil berlutut di samping Naruto.

"Ya." Naruto bangkit duduk dan merintih merasakan sakit pada punggungnya.

"Ada apa?"

"Kurasa aku melukai punggungku."

Hinata memapah Naruto untuk kembali ke ruangan sebelumnya tempat mereka makan. Hinata memberikan sebuah salep pada Naruto untuk dioleskan pada punggungnya.

"Terima kasih." ucap Naruto.

Naruto membuka salep itu dan mencoba mengoleskannya pada bagian punggungnya yang sakit. Namun setelah berusaha keras hingga membungkuk seperti udang dengan wajah bodoh, akhirnya Naruto menyerah. Ia tidak dapat menjangkau punggungnya.

Hinata akhirnya mengambil wadah salep itu dari tangan Naruto dan mengoleskannya di punggung Naruto dengan jemarinya. Naruto merasakan hatinya menghangat setelah merasakan sentuhan jemari Hinata yang lembut di atas kulitnya. Ia merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. Perasaan yang sangat nyaman. Ia merasa dicintai dan begitu dipedulikan lebih daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya. Hinata adalah gadis yang baik. Ibunya, Uzumaki Kushina pasti akan sangat menyukai Hinata jika mengenalnya.

"Terima kasih." gumam Naruto sambil menurunkan kaus putihnya setelah Hinata selesai mengoleskan salep pada punggungnya.

Saat membuka ransel untuk meletakakan salepnya kembali, Hinata tanpa sengaja membuat kunai milik Hanabi yang ditemukannya dalam perjalanan, terpental keluar dari ranselnya. Naruto memandang kunai itu dengan pandangan menyesal.

"Kita harus cepat menemukan Hanabi." gumam Naruto.

"Naruto, aku ingin bicara tentang sesuatu padamu."

"Apa itu?"

"Tentang apa yang kau bilang saat boneka Toneri muncul."

"Disini kalian rupanya." Sai muncul tiba-tiba dari balik jendela. "Hinata, kami perlu kau untuk melihat sesuatu."

Sai membawa Hinata dan Naruto menuju sebuah bangunan dengan ruangan besar seperti kuil yang megah dulunya. Disana sudah ada Sakura dan Shikamaru yang sedang meneliti permukaan dinding dan beberapa arca yang ada disana.

"Apa maksud tulisannya?" Sai bersuara.

"Ini beberapa tulisan kuno. Tinju dari mata tensei bulan yang terlahir kembali akan menghancurkan manusia." Shikamaru berkata.

"Apa maksudnya itu?" tanya Sakura.

"Mungkin 'Mata Tensei' yang membuat bulan bergerak." jawab Shikamaru.

"Jadi Kakashi-sensei memang benar. Penculikan Hanabi dan bulannya entah bagaimana berhubungan." Sakura menyimpulkan.

Shikamaru terkekeh, "Yah, sayangnya firasatnya selalu tepat."

Tiba-tiba ruangan gelap yang sedang mereka pijak berguncang. Bersamaan dengan itu sebuah suara berat terdengar. "Putri Byakugan."

"Apa itu?!" seru Shikamaru.

Lantai batu di bawah kaki Sakura bergetar dan membuka tepat setelah Sakura melompat menyingkir dari sana. Lubang yang tercipta di lantai batu itu menampakkan anak tangga untuk menuju ke ruangan bawah tanah. Mereka berlima menuruni anak tangga itu dan mendapati ruangan yang lebih gelap dari sebelumnya. Disana terdapat sebuah lambang ukiran pada dinding batunya. Ukiran itu berbentuk lingkaran dengan bagian tengah yang tampak seperti kelopak bunga dengan lingkaran yang lebih kecil dan menonjol di bagian tengah sebagai pusatnya.

Ketika Shikamaru mengarahkan lenteranya ke arah depan, pemandangan lebih jelas mulai tampak di hadapan mereka berlima. Ruangan itu sangat luas dan dipenuhi dengan batu-batu bundar dengan tiang pancang di masing-masing sisi belakangnya yang berbaris rapi seperti prajurit.

Hinata tersentak, "Ada seseorang."

Shikamaru mengarahkan lenteranya ke sekelilingnya dan berhenti saat cahaya menyinari sesosok laki-laki berambut panjang dengan janggut lumayan tebal di sekeliling dagunya. Pria itu berjalan kaku sambil memejamkan mata, namun mulutnya tetap berkata-kata.

"Byakugan. Aku menginderakan byakugan. Oh, aku bagian dari itu. Oh Putri Byakugan."

"Menjauhlah dari Hinata!" Naruto berdiri di depan Hinata untuk membentenginya dari pria itu.

Pria itu membuka matanya, namun kelopak mata itu hitam kosong. Tak ada bola mata di dalamnya. Kemudian sosok itu bersimpuh dan mulutnya perlahan terbuka lalu mengeluarkan bola cahaya berwarna lavender sebesar bola voli.

Bola cahaya itu melayang dan bersinar sangat terang hingga menyilaukan. Hinata mendapatkan sebuah pengelihatan melalui koneksi antara matanya dengan bola cahaya itu.

Disana ia melihat sebuah perang antara dua kubu. Salah satu kubu memiliki tenseigan dan menggunakannya untuk menyerang lawan mereka. Dengan sekali tembakkan dari tenseigan, seluruh pasukan lawan tumbang tak bersisa. Sungguh kekuatan yang luar biasa.

Latar berganti, dan Hinata berhadapan langsung dengan ribuan prajurit yang berbaris rapi di depannya. Salah seorang dari mereka yang ternyata adalah pria yang tadi memberikan pengelihatan ini maju mendekat pada Hinata.

"Kami adalah keturunan dari Hamura. Kami termasuk anggota dari keluarga inti kaum Otsutsuki. Kami dimusnahkan oleh keluarga pendamping. Toneri, keturunan dari keluarga pendamping, mencoba untuk membuat bulan jatuh ke bumi dengan menggunakan kekuatan tenseigan. Hanya kau yang bisa menghancurkan tenseigan, Putri Byakugan."

Tiba-tiba para pasukan yang berdiri di belakang pria itu membagi barisan menjadi dua bagian dan berlutut serempak ke arah tengah. Dari tempat itu muncullah sesosok lain yang membuat pria di hadapan Hinata juga ikut membungkuk.

"Kau... Hamura Otsutsuki?" tanya Hinata.

Sosok pria tua dengan rambut putih panjang itu mengangguk kecil dan berkata. "Putri Byakugan, jangan biarkan dunia yang dibuat kakakku berakhir."

Pengelihatan itu lenyap dan Hinata seketika pingsan. Naruto menangkap tubuh Hinata dengan panik.

"Hinata! Apa yang kau perbuat pada Hinata?!" bentak Naruto.

"Tenseigan telah hidup kembali." setelah berkata begitu, tubuh pria itu roboh persis seperti tubuh boneka Toneri yang roboh di hadapan Naruto dan Hinata sebelumnya. Namun saat cairan putih mengalir dari jasadnya, bibir pria itu masih bergumam, "Itu harus dihentikan. Otsutsuki."

.
.

Malam telah datang, Shikamaru dan Sai sedang berdiri di atas salah satu bangunan sambil memandang bulan yang semakin mendekat.

"Orang itu bilang sesuatu seperti Otsutsuki. Itu adalah nama panggilan asli dariRikudou Sennin. Hagoromo Otsutsuki, itu adalah nama Rikudou Sennin sebelum memasuki kependetaan. Dan dia memanggil Hinata dengan sebutan Putri Byakugan. Kelihatannya motif penculikan Hanabi yang dilakukan Toneri berhubungan." Shikamaru menyeruput minumannya.

Sai memandangnya dan kembali menerawang ke langit. Pikirannya mencoba menyambungkan semua hal yang terjadi saat ini.

.
.

Hinata lagi-lagi terjaga di tengah malam dan menyendiri untuk melanjutkan sulaman syal merahnya. Kali ini ia duduk di atas sebuah batu di tengah padang rumput dekat sungai. Kupu-kupu yang bersinar berterbangan di sekitar Hinata, memperindah pemandangan yang terpantul di netra sapphire Naruto yang sedang mengawasinya dari balik pohon.

Naruto berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan Hinata.

"Hinata." sapa Naruto.

"Adikku sedang dalam bahaya, tapi aku disini malah sedang merajut. Aku kakak yang buruk bukan?"

"Itu tidak benar. Kau datang sejauh ini hanya untuk menyelamatkan adikmu. Jangan khawatir, aku akan menyelamatkan Hanabi." hibur Naruto.

"Terima kasih. Kau sungguh baik Naruto."

Naruto sedikit salah tingkah dan menggaruk bagian belakang kepalanya gerogi. "Hei, aku tidak hanya baik hati karena aku mencintaimu atau apapun. Aku hanya khawatir dengan Hanabi."

Hinata tersentak mendengar ucapan Naruto yang mengejutkannya barusan. Ia langsung berdiri di hadapan Naruto.

"Apa yang baru saja kau bilang?" tanya Hinata.

"Huh?"

"Kau tadi bilang sesuatu!"

"Oh ya...? aku lupa." Naruto menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.

Hinata menundukkan kepalanya, pandangannya yang sendu tertangkap oleh Naruto. Suasana menjadi hening. Naruto menguatkan hatinya untuk menyatakan perasaannya pada Hinata, dan akhirnya berhasil.

"Hinata." panggil Naruto.

Gadis anggun keturunan klan Hyuga itu mengangkat kepalanya dan menatap langsung pada mata pemuda pujaan hatinya yang menampakan keyakinan kuat dan keteguhan hati.

"Aku mencintaimu." tembak Naruto langsung.

Hinata menaikan kedua alisnya dan kedua matanya melebar terkejut. Ia masih mencerna pernyataan Naruto barusan dan belum mampu bereaksi apapun. Gadis pemilik byakugan itu tak pernah menyangka akan mendapatkan pernyataan cinta seperti itu dari pemuda yang telah di pujanya selama lebih dari separuh hidupnya. Selama ini Hinata selalu menjadi pemuja rahasia dan tak berani berharap banyak pada putra Hokage keempat itu. Ia bahkan tidak punya nyali hanya untuk sekedar memberikan syal yang telah dibuatnya khusus untuk pemuda pirang itu. Tapi bagaimana? Bagaimana seorang Uzumaki Naruto bisa menyatakan cinta pada dirinya?

Jantung Hinata berdetak kencang. Bibirnya masih belum sanggup membuka untuk mengatakan sesuatu. Ia sungguh bahagia. Sangat. Tapi... di sisi lain ada hal lain yang mengganggu pikirannya dan merusak kebahagiaannya. Permintaan Toneri untuk menikah dengannya demi adiknya, Hanabi yang sedang diculik di kastil Toneri. Hinata benar-benar tersiksa dalam dilema. Ia baru saja merasakan kebahagiaan yang bahkan belum menjadi nyata, namun hal buruk lain menghancurkan kebahagiaan itu dalam sekejap. Ia bahagia Naruto membalas perasaannya. Tapi karena semua yang telah terjadi, rasanya Hinata lebih memilih agar Naruto tidak memiliki perasaan itu padanya agar Naruto tidak tersakiti nantinya. Karena Hinata, selalu ingin Naruto bahagia. Bukannya malah tersakiti.

"Hinata." gumam Naruto.

Tiba-tiba Toneri datang dari arah bulan menuju padang rumput tempat Naruto dan Hinata berada.

"Toneri! Apa kau juga boneka?! Dimana Hanabi?!" bentak Naruto.

"Diamlah. Aku datang untuk mendengar jawaban Hinata." Toneri mengabaikan Naruto.

"Jawaban? Hinata tidak ingin bilang apa-apa padamu. Jadi dimana Hanabi?!" seru Naruto masih dengan amarahnya.

Hinata berjalan dari balik punggung Naruto dalam diam. Ia berhenti di samping Naruto dan menyerahkan syal merah buatannya yang telah selesai pada pemuda Uzumaki itu. Naruto menerimanya dengan bingung dan matanya terus mengikuti pergerakan Hinata yang seperti robot. Tanpa kata, Hinata kembali berjalan lurus melewati Naruto dan masuk dalam pelukkan Toneri.

"Selamat tinggal Naruto." kata Hinata.

Toneri membawa pergi Hinata menuju bulan.

"HINATAAAAAAA!" suara teriakan Naruto menggema di sepenjuru hutan.

Shikamaru, Sai, dan Sakura terbangun dan langsung menyusul Naruto dengan choujuu giga milik Sai. Naruto mengejar Toneri dan Hinata, namun para penjaga Toneri menghalanginya. Saat Naruto akhirnya memiliki kesempatan berada tepat di belakang Toneri dan Hinata tanpa ada penghalang, Toneri mengatakan bahwa ia dan Hinata akan menikah.

Naruto begitu tercengang dengan kenyataan itu. Toneri memanfaatkan kesempatan itu dengan melancarkan serangan pada naruto melalu tangan kanannya yang memancarkan cahaya kebiruan. Cahaya itu meluncur ke arah Naruto, namun Naruto menahannya dengan pusaran rasengannya. Tanpa diduga, cahaya biru yang berasal dari serangan Toneri bukannya menghilang, tapi justri melebar dan membungkus pusaran rasengan milik Naruto. Pusaran itu telah tertelan sepenuhnya oleh chakra biru milik Toneri, lalu menembus tubuh Naruto dan menyebabkan chakra milik Naruto terkuras habis. Chakra Naruto terbuang sia-sia dalam jumlah besar hingga meledakkan sebagian besar area hutan hingga membuat lubang besar di antara pepohonan. Ledakan itu begitu dahsyat hingga mencapai keluar bumi.

Naruto yang kehabisan chakra ditambah dengan perasaannya yang kosong akibat cintanya yang hilang terjatuh tak berdaya ke dasar hutan yang kini kosong tanpa pepohonan akibat dari ledakan chakra miliknya.

.
.

Pecahan-pecahan bulan sudah mulai menjatuhi bumi dan menghancurkan desa. Senju Tsunade bersama Shizune dan yang lainnya mengevakuasi penduduk desa ke benteng persembunyian bawah tanah yang telah dipersiapkan jauh hari sebelumnya.

Kelima Kage berkerja sama mengatasi serangan dari serpihan bagian bulan yang berhasil mencapai permukaan bumi dengan jutsu yang mereka kuasai.

Mei Terumi mengeluarkan segenap kemampuan elemen air dan lavanya untuk melenyapkan bongkahan bagian bulan yang hampir menghujam tanah desanya. Begitupun kelima Kage yang lainnya.

.
.

Naruto kehilangan banyak chakranya karena serangan dari Toneri yang saat itu membawa kabur Hinata. Pemuda Uzumaki itu cukup lama tak sadarkan diri dibawah perawatan Sakura.

Hinata berjuang sendirian di istana milik Toneri yang juga merupakan tempat di sanderanya Hanabi. Toneri telah menyiapkan pernikahannya dengan Hinata. Namun selagi menunggu hari pernikahannya tiba, Hinata sudah mendapatkan banyak informasi mengenai rencana buruk Toneri. Ia mendapati bahwa dirinya yang disebut-sebut sebagai putri Byakugan merupakan satu-satunya orang yang mampu menghancurkan Tenseigan yang sedang berusaha dibangkitkan oleh Toneri.

Selagi Sakura memulihkan kondisi Naruto di tempat persembunyian mereka, Shikamaru dan Sai pergi mencari jalan masuk ke tempat Toneri dan Hinata berada.

Sambil tersenyum licik, Shikamaru melemparkan sebuah ledakan ke arah bulan, hingga burung-burung hitam yang menjaga istana Toneri menyeruak keluar. Itu merupakan pancingan dari si jenius Nara Shikamaru.

Setelah mendapatkan apa yang mereka cari, Shikamaru memerintahkan Sai untuk segera mundur dan pergi dari serangan burung-burung penjaga. Mereka kembali ke tempat persembunyian untuk kembali bersiap bersama Sakura dan Naruto yang sudah hampir pulih.

.
.

Di Kumogakure, sang Raikage tengah mempersiapkan sebuah senjata canggih yang tampak berat dan sangat hebat. Benda itu berbentuk seperti meriam.

"Aku tidak pernah membayangkan kalau kemunculannya akan datang setelah perang, saat dunia sudah tentram." Ucap Raikage.

Ia kemudian menjelaskan fungsi dari masing-masing bagian senjata yang sedang dipamerkannya. "Dibawah Meriam Chakra Difusi, kita meluncurkam semua meteorid diatas garis khatulistiwa. Di paling atas adalah Meriam Transportasi Chakra, ini bisa mengirim setiap sasaran ke dimensi lain. Dengan ini, kita akan menghancurkan bulan. Semuanya, siapkan meriamnya secepat mungkin!" perintah sang Raikage.

.
.

Akibat keputusan Hinata untuk mengikuti Toneri, Naruto terpuruk setelah kondisinya kembali pulih. Shikamaru dan Sai membujuknya namun gagal, kemudian pada akhirnya Shikamaru berinisiatif untuk mengejek Naruto hingga membuat emosinya terpancing. Shikamaru akhirnya mengajak Naruto untuk melihat keadaan Sakura yang sangat lemah setelah berusaha keras mentransfer chakra yang dimilikinya untuk membuat Naruto tetap hidup. Naruto meminta maaf pada Sakura dan kemudian mereka berbicara berdua saja. Naruto menceritakan pada Sakura mengenai perasaannya pada Hinata.

"Aku tak menyangka kau mengakui cinta pertamamu. Ingat dulu, saat kau bilang kau mencintaiku?" Sakura terkekeh, sedangkan Naruto tersentak mendengarnya.

"Tapi, bukankah itu karena aku mencintai Sasuke?" Sakura kemudian melirik Naruto dan melanjutkan "Kau tak ingin kalah darinya."

"Hinata adalah orang yang baik. Dia bahkan terlalu baik untukmu." ucap Sakura.

"Tapi sudah selesai. Hinata lebih memilih mengikuti Toneri" gumam Naruto lesu.

"Kau sangat bodoh!" omel Sakura. "Sudah jelas dia punya alasan yang tak bisa dia nyatakan." mata Sakura kemudian menerawang menatap langit-langit tempatnya terbaring.

"Saat seorang gadis benar-benar jatuh cinta, perasaannya takkan berubah dengan mudah. Mereka tidak bisa merubahnya. Aku mengerti bagaimana perasaannya dengan jelas." Sakura memejamkan matanya dan membayangkan wajah pemuda Uchiha yang selalu setia berada dalam hatinya.

.
.

To Be Continue


A/N : Thanks banget ya untuk yang udah berkenan review… apresiasi kalian sungguh bernilai

Druella Wood