Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rating: M
Lanjutan Kakashi No Hatsukoi (Kakashi- sensei First Love)
:
::
:::
Kakashi x Hanare
Naruto x Hinata
Sai x Ino
Sasuke x Sakura
Shikamaru x Temari
:::
::
:
Di suatu tempat, Hyuga Hiashi yang telah diserang oleh pasukan Toneri di malam yang sama saat Hanabi diculik telah berjalan terhuyung-huyung dengan pakaian yang compang camping. Sekujur tubuhnya penuh dengan memar dan wajahnya terlihat lelah dan kesakitan.
Ia tersandung dalam langkahnya dan kemudian jatuh terjembab mencium tanah di bawahnya. Terdengar suara langkah kaki berjalan mendekat ke arahnya, lalu berhenti beberapa meter di hadapannya. Kemudian detik selanjutnya terdengar suara deruman keras dari arah langit yang semakin jelas terdengar menuju bumi, bersamaan dengan itu sekelebat cahaya kuning tertangkap indera penglihatannya yang setengah terbuka. Dentuman keras di belahan bumi lainnya menggema mengakhiri kilatan cahaya kuning tadi.
.
.
Naruto dan yang lainnya telah berhasil menyerbu masuk benteng istana Toneri. Mereka berpencar menjadi dua. Sakura dan Sai menuju menara tempat Hanabi berada, sedangkan Naruto dan Shikamaru beranjak menuju dimana Hinata dan Toneri berada.
Hinata baru saja akan mengambil kepingan kue dari bibir Toneri dengan bibirnya sebelum Naruto tiba-tiba meneriakan namanya dengan keras sambil menyeruak masuk melewati pintu raksasa di tengah aula tempatnya berada.
"Dasar bajingan!" pekik Naruto melayangkan tinjunya yang langsung dihalangi oleh pengawal Toneri yang berjubah hitam.
Selagi Naruto bertarung, Toneri menarik Hinata untuk pergi dari ruangan itu dan mengikutinya ke tempat dimana Tenseigan berada. Shikamaru yang baru tiba mengambil alih seluruh lawan Naruto dengan jutsu-nya dan menyuruh Naruto untuk pergi menyusul Hinata.
.
.
Kekacauan terus terjadi di seluruh bagian bumi. Masing-masing Kage melindungi desanya. Gaara menggunakan Pasir Tembok Penjaga untuk melindungi Sunagakure dari hujaman meteorid. Sedangkan di Konoha, Rock Lee membantu Kakashi yang masih mengawasi pergerakan bulan dengan mengeluarkan Formasi Sayap Bangau. Sekujur tubuh Rock Lee diliputi cahaya hijau, ia juga membuat beberapa bunshin dirinya agar dapat membentuk perlindungan yang menyeluruh. Ino mendampingi Kakashi untuk menghubungkannya dengan kelima Kage lainnya.
Perlidungan yang dilancarkan Lee sangat hebat, namun serangan yang datang terlalu besar, bahkan sangat besar dan mengerikan, hingga Lee tak mampu mengatasi serangan itu sampai tuntas.
Perlindungan yang dilakukan Lee hanya berhasil membelah dan memusnahkan sebagian kecil hantaman bola api raksasa dari langit itu. Setengah pecahan bongkahan bola api raksasa itu meluncur cepat menuju bumi. Lee mengumpat dan melihat ke bawahnya bersiap menyaksikan desanya rata dengan tanah.
Bola api raksasa itu meluncur tepat menuju ke arah tempat Kakashi berada. Sang Hokage tetap diam di tempatnya dan membelalakan mata melihat pemandangan mengerikan di hadapannya. Ia sepertinya sudah sangat siap menerima hal ini.
Namun belum sampai bola api tersebut mencapai tanah ataupun dirinya, Kakashi menangkap sekelebat bayangan hitam melintas tepat di hadapannya. Dan detik itu juga sebuah kilatan perak kebiruan melesat ke arah bola api dan menjalari seluruh permukaannya dengan bunyi seperti cicitan burung atau lebih tepatnya seperti bunyi petir raikiri miliknya. Kemudian akhirnya bola api raksasa itu hancur berkeping-keping.
Siluet seorang laki-laki yang mengenakan sorban dan poncho berdiri tegap di hadapannya dengan posisi membelakangi dirinya.
"Kau adalah..." gumam Kakashi.
"Jika dia tidak ada di sekitar sini, hanya satu yang bisa melindungi desa." suara bariton meluncur memasuki indera pendengaran Kakashi. Kemudian laki-laki bersorban pemilik suara itu memutar sedikit tubuhnya untuk menatap langsung pada Kakashi dan melanjutkan "Yaitu Aku." pria itu kemudian menghilang setelah mengucapkan dua kata terakhirnya.
"Sasuke." gumam Kakashi.
"Tuan hokage!" panggil salah seorang shinobi yang mendampinginya.
"Ada apa?" Kakashi berbalik cepat dan mendapati Hyuga Hiashi berada di pangkuan shinobi itu dalam keadaan tak sadarkan diri.
.
.
Toneri mengendalikan tubuh Hinata untuk menyerang Naruto. Namun setelah Naruto berkali-kali menghindari serangan Hinata dan berusaha untuk tidak menyakiti Hinata, Toneri kembali menarik Hinata pada dirinya. Naruto terus berusaha mengambil kembali Hinata dan akhirnya ia berhasil mengembalikan kesadaran Hinata. Naruto lantas menarik Hinata untuk melarikan diri bersamanya setelah Toneri tiba-tiba tumbang akibat serangan sakit yang terasa di matanya karena Tenseigan. Hinata membimbing Naruto menuju tempat Tenseigan berada dan kemudian mencoba menghancurkannya dengan jutsu andalan klan Hyuga pemilik byakugan murni, namun usahanya gagal.
Naruto terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya meminta Hinata untuk memasukan chakra miliknya ke dalam tubuh Naruto, agar mereka dapat menghancurkan Tenseigan.
Dengan anggukan mantap, kemudian Hinata dan Naruto serempak mengkombinasikan chakra mereka. Kedua tubuh mereka seketika diselimuti warna ungu dan orange yang berasal dari chakra mereka masing-masing. Mereka kemudian menggabungkan jutsu Hinata dengan rasengan milik Naruto dan bergerak menyerang bersamaan ke arah Tenseigan.
Kilat ungu menyelubungi permukaan Tenseigan sebelum akhirnya bola besar itu hancur menjadi bola-bola kecil yang ternyata adalah gugus dari Byakugan.
Begitu Tenseigan hancur, seluruh pasukan Toneri yang hanya merupakan boneka yang dikendalikan oleh Tenseigan itu sendiripun ikut lumpuh dan mati. Bulan pun juga telah berhenti mendekati bumi.
.
.
"Tuan Hokage! Bulan sudah berhenti mendekat!" lapor asisten berkacamata Kakashi.
Kakashi tersentak dan segera menatap telapak tangannya yang terpasang jam istimewa milik lima kage. Cahaya kuning pada huruf terakhir pada jam tersebut berhenti berkedip dan cahayanya redup.
Persiapan meriam milik Raikage sudah mencapai 100%, dan mereka langsung melancarkan serangan meriam yang pertama. Perhatian Kakashi yang sedang memandang kilatan sinar yang berasal dari meriam milik Raikage beralih ke Ino yang mengatakan bahwa ada pesan untuknya dari Desa Awan.
"Kelima Kage sedang mengadakan sidang puncak." tukas Ino.
Kakashi segera beranjak melihat keempat layar di hadapannya yang menampakan masing-masing wajah dari keempat Kage lainnya.
"Semua meteorid telah dihancurkan." Raikage menginformasikan.
"Jadi kau punya senjata macam itu secara rahasia? Kelihatannya kita tak bisa terlalu berhati-hati padamu Raikage." Tsuchikage berbicara.
"Tuan Tsuchikage, mari lupakan sarkasme." tegur Mizukage.
"Selanjutnya adalah Meriam Transportasi Chakra. Kami akan meledakan bulan." lanjut Raikage tak mempedulikan perdebatan kedua Kage lainnya.
Kakashi berjengit "Meledakan bulan?"
"Terlalu bahaya meledakan bulan." komentar Mizukage.
"Selama ada sebuah bom yang disebut bulan, bumi tidak akan aman." sanggah Raikage.
"Sekarang, ayo bicarakan ini dengan santai." lerai Kakashi. "Untuk sekarang, bulan sudah berhenti mendekat."
"Belum. Bulan belum berhenti." sanggah Tsuchikage.
"Apa?!" Kakashi menatap telapak tangannya lagi. Kini huruf terakhir pada jam itu kembali berkedip.
.
.
Toneri telah memiliki Tenseigan seutuhnya, jadi jam milik lima Kage dan Shikamaru kembali berdetak. Naruto dan Toneri kembali bertarung di atas permukaan bulan. Naruto menggunakan mode Kyuubi untuk melawan Toneri yang mendapat kekuatan dari mata tenseigan. Mereka bertarung dan saling beradu dengan pergerakan yang sangat cepat hingga terlihat seperti kilatan cahaya berwarna orange dari tubuh Naruto berpadu dengan cahaya berwarna toska dari yang berasal dari chakra milik Toneri.
Di sisi lain, Kurama juga ikut andil dalam pertarungan sengit ini untuk melawan monster milik Toneri. Berkali-kalipun Kurama menghancurkan monster itu, tubuh monster itu akan kembali ke bentuk semula dan kembali menyerang Kurama. Kurama terus menghindar dan melancarkan serangan setiap ada kesempatan.
.
.
"Tuan Hokage, Hyuga Hiashi ingin bicara dengan Anda." panggil asistennya.
"Hiashi?" tanya Kakashi. Ia langsung bergerak ke ruang rawat tempat Hiashi mendapatkan pertolongan medis.
"Jangan hancurkan bulan." pinta Hiashi. "Aku yakin kalau Hanabi dan Hinata sedang berada di bulan."
"Apa maksudmu?" seru Kakashi.
"Kabar buruk!" asisten Kakashi masuk dengan wajah panik.
"Ada apa?" tanya Kakashi.
"Kyuubi berada di permukaan bulan."
"Apa?!" Kakashi tak bisa lebih terkejut dari ini.
.
.
Kakashi masih terdiam mengamati bulan. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Ia bukan sedang berpangku tangan. Walau tubuhnya tak bergerak sama sekali, namun otaknya bekerja sangat keras untuk mencari jalan keluar atas keputusan yang harus diambilnya. Di seberang sana, tepatnya di Kumogakure, sang Raikage sedang mempersiapkan senjata pamungkas mereka untuk memusnahkan bulan. Senjata itu akan mampu menyelamatkan bumi ini dan seluruh isinya sebelum bulan benar-benar menyentuh bumi sepenuhnya.
Namun disana, di permukaan bulan itu sendiri. Naruto dan yang lainnya sedang berjuang menyelamatkan nyawa Hyuga Hanabi. Ternyata benar firasat Kakashi yang meyakini kalau Toneri merupakan dalang dibalik semua ini, dan Kakashi juga percaya bahwa Naruto dan yang lainnya akan mampu membereskan semua kekacauan ini langsung dari sumbernya disana. Tapi lagi-lagi kenyataan yang ada menghambat semuanya, waktu pada jam rahasia milik kelima kage yang ada di telapak tangannya menunjukan waktu kehancuran bumi semakin dekat.
Di balik wajah datar dan seriusnya Kakashi benar-benar kalut sekarang. Ia tidak mungkin membiarkan Raikage menghancurkan bulan sedangkan anak-anak didiknya sedang berada disana bertaruh nyawa karena perintah darinya. Konoha membutuhkan Naruto. Dunia membutuhkan Naruto. Mereka semua yang masih berada di bulan merupakan aset, dan tak ada yang boleh membunuh mereka seperti ini.
Kakashi telah mengambil keputusan. Ia segera menghubungi Raikage dan ketiga Kage lainnya.
"Kumohon tahan Meriam Chakra-nya. Naruto dan yang lainnya ada di bulan." pinta Kakashi.
"Mereka tidak bisa ditolong. Mereka harus berkorban demi umat manusia dan juga bumi. Kita akan menembak Meriam Transortasi Chakra-nya" Raikage tetap teguh pada pendiriannya.
"Tuan Raikage." panggil Gaara selaku Kazekage.
"Ada apa?" sahutnya
"Aku juga akan berkata padamu. Tunggu selama satu jam." kata Gaara tegas.
"Aku setuju." timpal Mei Terumi selaku Mizukage.
"Mizukage!" gertak Raikage.
"Naruto adalah pahlawan dari perang besar terakhir. Nyawanya pantas dipertahankan." sahut Mizukage.
Raikage bertanya bagaimana pendapat Tsuchikage. Namun kakek tua itu tak berkata apapun dan hanya menganggukan kepalanya.
"Hanya satu jam saja. Tapi bagi mereka, jumlah waktu seharga dengan seumur hidup yang tak akan pernah tergantikan" ujar Kakashi.
"Berdasarkan apakah itu?" tanya Raikage.
"Firasat." jawab Kakashi lambat dan penuh penekanan.
.
.
Toneri mengambil Hinata dari sisi Naruto dan memasukkannya ke sebuah sangkar emas besar yang melayang di atas permukaan bulan. Naruto kembali menyerang Toneri.
Toneri melancarkan serangan luar biasa dahsyat yang berupa pedang panjang berwarna jingga ke arah Naruto, namun kilatan itu justru berhasil membelah badan bulan menjadi dua bagian.
"Apa itu?" tanya Kakashi yang masih mengamati bulan yang bersinar kekuningan.
"Bulan. Bulan telah terbelah!" seru asistennya.
"Apa?!" seru Kakashi dan yang lainnya.
.
.
Toneri berpikir bahwa ia telah menang. Namun tanpa diduga, Naruto bersama puluhan bunshin-nya keluar dari celah bulan yang terbelah.
"Ini semua belum berakhir!" seru Naruto.
Naruto berusaha menyerang Toneri, begitupun sebaliknya. Puluhan bunshin milik Naruto satu per satu hilang karena serangan tersebut. Tapi Naruto yang asli masih berdiri tegak di hadapan Toneri, siap untuk kembali bertarung.
Dengan satu pukulan terakhir yang amat sangat luar biasa kuat, Naruto berhasil mengalahkan Toneri. Ia langsung kehilangan Tenseigan-nya saat itu juga dan mengakibatkan monster miliknya yang sedang menghadapi Kyuubi lenyap.
Hinata telah keluar dari sangkar, kemudian ia maju ke arah Toneri yang sudah sangat lemah untuk mengambil kembali mata Hanabi yang telah diambil Toneri sebelumnya.
"TIDAAAAAAAAAAKKKK!" teriak Toneri marah.
Toneri merasakan chakra-nya kembali. Gugusan mata byakugan yang merupakan komponen tenseigan, memenuhi tubuhnya dan menempelinya seperti gelembung-gelembung. Mata itu menyerap chakra dan energi yang ada di sekitarnya termasuk chakra milik Naruto. Naruto berlutut dan semakin lemah karena chakra-nya terhisap. Hinata kemudian mendekat pada Naruto dan menggenggam tangan Naruto untuk mengalirkan chakra miliknya pada pemuda pirang itu. Chakra mereka kembali bersatu, jingga dan ungu.
"Kau!" geram Toneri marah.
"Aku juga keturunan Hamura." ucap Hinata.
Chakra Hinata memberikan kekebalan pada chakra milik Naruto dari efek mata byakugan yang menyertai Toneri. Namun tiba-tiba tubuh Toneri yang melayang seperti ditarik oleh magnet. Byakugan itu juga menyerap energi matahari dan tidak kuat menahannya. Tubuh Toneri seperti akan meledak dan semakin melayang menjauh dari permukaan bulan.
Naruto tanpa pikir panjang melompat untuk meraih tubuh Toneri yang melayang kesakitan karena chakra-nya terserap. Shikamaru dan yang lainnya meneriakkan nama Naruto dengan mata membelalak. Mereka tak habis pikir dengan jalan pikiran Naruto. Kenapa dia menolong Toneri dan mempertaruhkan nyawanya?
.
.
Tepat sebelum Raikage menembakkan meriamnya ke arah bulan. Seluruh Kage di masing-masing tempat mendapat laporan bahwa Kurama menuliskan sesuatu di permukaan bulan dengan huruf shinobi yang berarti 'Misi Sudah Selesai'.
Semua orang memandang bulan dengan tersenyum. Mereka mengucap syukur dalam hati dan berterima kasih pada Shikamaru, Sakura, Sai, Hinata, dan Naruto. Bumi dan masa depan bumi sudah aman.
"Firasatku biasanya berakhir dengan terkemuka." gumam Kakashi sambil memandang bulan penuh kelegaan.
.
.
Naruto berhasil menyelamatkan Toneri sebelum mati kehabisan chakra karena terserap matahari. Kini pria itu telah menyadari kesalahannya setelah Hinata menunjukan padanya tempat dimana arwah Hamura menuntunnya. Hinata mengajak Toneri untuk mengikuti mereka ke Bumi dan tinggal disana, tetapi Toneri menolaknya dan memilih untuk menetap di bulan dan menebus dosanya.
Shikamaru, Sai, Sakura, Naruto, dan Hinata pergi meninggalkan bulan melalui jalan masuk yang sebelumnya mereka lewati. Mereka melompati gugusan-gugusan kenangan yang memberikan efek genjutsu saat mereka melewatinya untuk pertama kali. Naruto dan Hinata melompat dari satu gugus ke gugus lain sambil berpegangan tangan. Ketiga rekan mereka beserta Hanabi berlari lebih dulu di depan mereka.
Gugusan di belakang mereka hancur dan terus hancur, semakin cepat mengejar mereka. Karena itulah Naruto meraih tubuh Hinata dan menggendongnya di depan tubuhnya agar mereka bisa keluar dari tempat itu lebih cepat.
"Berpeganganlah yang kuat, dan jangan lepaskan peganganmu Hinata." perintah Naruto.
"Hehem. Aku tidak akan pernah melepaskan peganganku darimu Naruto." sahut Hinata dengan perasaan bahagia yang membuncah dalam dadanya. Naruto mengeluarkan chakra yang besar dari telapak tangannya hingga dirinya dan Hinata meluncur ke atas dengan cepat seperti roket. Mereka bahkan melewati teman-temannya yang menunggunya di permukaan.
"Hei Naruto! Kau bisa menabrak atapnya!" teriak Shikamaru yang melihat Naruto meluncur cepat hingga menjebol langit-langit goa.
"Aku tidak akan berhenti!" teriak Naruto balik.
Naruto melompat keluar dari bulan bersama Hinata dalam pelukannya. Siluet mereka yang melayang tepat di depan badan bulan yang bercahaya terpampang jelas di mata semua orang yang kini sedang tersenyum memandang bulan dan dua pasangan manis itu. Dibawah cahaya bulan dengan bulan sebagai saksinya, Naruto mengecup bibir ranum Hyuga Hinata. Kekasihnya.
Tanpa Naruto ketahui, apa yang sedang terjadi padanya dengan Hinata saat ini, juga pernah dialami oleh kedua orang tuanya belasan tahun lalu. Ketika ibunya Uzumaki Kushina diselamatkan oleh ayahnya Namikaze Minato dalam pembantaian klan Uzumaki. Ayahnya berhasil menyelamatkan salah satu keturunan klan Uzumaki itu dan membawanya pergi di bawah cahaya bulan, persis seperti apa yang dilakukannya pada Hinata saat ini.
.
.
To Be Continue
A/N : Thanks banget ya untuk yang udah berkenan review apresiasi kalian sungguh bernilai. Berhubung fict ini pairingnya banyak, sedangkan nama tokoh yang bisa ditag cuma 4, maka fict ini gak akan stay dengan tag yang sama setiap saat. Karena sekarang adalah gilirannya NaruHina yang jadi artisnya, makanya tag untuk sekarang ini di NaruHina, tapi chapter selanjutnya akan ganti lagi dengan tokoh yang giliran jadi artisnya :)
Druella Wood
