Train Station

Author: rainy_hearT

.

.

Main cast: Jeon Wonwoo , Kim Mingyu, Hong Jisoo, Yoon Jeonghan, Boo Sengkwan, S Coups, any other

Pairing : Meanie, JiWon, JiHan,

Rate : T to M

Summarry : Love just like any other train station. Where you want to go... You'll absolutely go to your destination. But when you just want to stop, you'll have to stop at the right station...

Part 4: Train Station
.

.

Start!

.

.

Jarak mereka sangat dekat. Tapi entah mengapa setelah memaksakan diripun, Wonwoo merasa aneh. Ada satu sisi dalam dirinya yang tak ingin melakukan itu. Tiba-tiba saja perasaan bersalah seperti memburunya. Bayangan kekasihnya yang sangat ia cintai. Wonwoo mematung. Pikirannya sudah pergi pulang ke tempat asalnya.

Sebuah dimana Hong Jisoo mungkin saja menunggunya. Dan mungkin juga namja itu tengah bersama dengan Jeonghan diruangannya. Hati Wonwoo mengerang sakit, tapi ia tak bisa juga melakukan apapun. Semua hal yang mungkin saja menjadi kenyataan, atau mungkin juga hanya terjadi dalam khayalannya.

Perasaan tertekan, karena mencintai dan perasaan tiba-tiba saja merasa bersalah karena ia menghianati kepercayaan Jisoo. Namja itu selalu menjadikan kata-kata itu sebagai satu pembenaran. Wonwoo bahkan lupa kapan terakhir kali Jisoo cemburu.

Pikirannya entah kemana. Disaat Mingyu sibuk mencumbunya, ia sama sekali tak merasakannya. Ia yang memulainya, tapi ia tak bisa meneruskannya. Ia ingin berteriak dan menyumpahi Hong Jisoo,tapi saat melihat wajah teduh itu semua sumpah serapahnya seperti hilang tertiup angin. Semua memang salahnya, atau salah takdir yang terlambat mempertemukannya dengan Mingyu.

Bukan tak berusaha, Wonwoo sudah berusaha memusatkan pikirannya. Pada bibir namja berkulit tan yang begitu indah di depan matanya. Bahkan lebih baik dari seorang Hong Jisoo, tapi ia tetap saja tak bisa.

Mingyu menghentikan lumatannya saat menyadari tak ada balasan dari Wonwoo. Ia tersenyum, bukan dalam hati. Tapi, bibirnya benar- benar mengulas sebuah senyuman. Ia menjauhkan wajahnya agar ia bisa melihat wajah Wonwoo meski di dalam cahaya yang remang.

Ia melepaskan tangan Wonwoo yang masih berada dipundaknya. Mengusap bibir tipis itu dan mengulas senyumannya kembali. Wonwoo sendiri tak habis pikir.

Mingyu seperti pangeran Ingris yang tampan dan penyelamat baginya. Tapi mengapa ia tak bisa melihatnya? Mungkin hanya orang bodoh yang percaya jika Mingyu benar- benar jatuh cinta padanya, pada pertemuan pertama mereka, pada pandangan pertama.

Tapi sungguh, Wonwoo melihat kejujuran di mata Mingyu. Tak hanya itu, ia juga melihat setitik kemarahan, kekecewaan, kesedihan. Mingyu terlalu baik untuknya, seorang namja yang pemarah yang tak bisa menentukan hidupnya sendiri.

"Mungkin cahaya redup kamar ini sedikit membuatmu gila. Dan kurasa sekarang kau sudah mulai sadar dengan apa yang terjadi tadi."

"Ani, aku hanya..."

Mingyu menjauh dan meninggalkan Wonwoo. Lebih memilih menepi ke jendela dan melihat pemandangan malam. "Jika kau ingin tidur maka lakukan sekarang. Masih ada 2 jam lagi sebelum kita pergi menuju stasiun."

Jika boleh jujur,Wonwoo merasa sangat jahat. Kesedihan dan kekecewaan di mata Mingyu jelas terlihat. Ini adalah kesalahannya. Ia sudah memancing namja itu, dan sekarang dengan seenaknya menghentikan permainan mereka. Drama macam apa ini?

"Ani...shireo."

Wonwoo ikut berdiri. Ia bergegas melangkah dan kemudian mendekati Mingyu. Bahu tan Mingyu sedikit terekspose. Namja dihadapannya ini benar-benar sempurna. Ada satu sisi dalam dirinya ingin memeluknya, tapi ada pemikiran lain yang menghentikannya. Ia berusaha menutup mata.

Mencoba meyakinkan dirinya, setidaknya ia harus menebus kesalahannya. Ia berhenti tepat dibelakang Mingyu dan memeluknya. "Aku ingin seseorang untuk bersandar kali ini. Hari ini aku hanya memilikimu. Jadi biarkan seperti ini."

Tinggi badan mereka tak berbeda terlalu jauh, meski tetap saja Mingyu lebih tinggi darinya. Wonwoo menyesap leher belakang Mingyu. Namja itu terlalu maskulin dan juga hangat. Tak jarang pula pikirannya liar entah kemana. Tapi ia tetap berusaha mengendalikan diri.

"Aku tak tahu apakah aku dan Jisoo hyung memang sepasang kekasih. Kami akan bertunangan besok dan malam ini aku bersamamu. Dan Jisoo hyung..."

Wonwoo tak berdaya untuk meneruskan perkataannya meski imajinasinya telah liar terbang entah kemana. Ia menelan pahit imajinasinya. Terasa menyakitkan saat membayangkannya kembali. "Jika kau menjadi aku, apa yang mungkin kau rasakan?"

Mingyu memutar tubuhnya dan menjauhkan tubuh Wonwoo. "Aku tak tahu, perasaan orang lain sama sekali berbeda denganku." Mingyu mengusap lembut pipi Wonwoo. "Yang tahu hanya kau sendiri."

Meski jawaban Mingyu terkesan menyebalkan, tapi itulah kenyataan. Wonwoo sendiri tak tahu apa yang ia rasakan. Ingin marah tapi tidak bisa melakukannya. Yeon Jeonghan adalah orang berharga bagi Jisoo. Dia seperti aset yang tak ada habisnya untuk Jisoo. Tapi perlakuannya pada namja cantik itu, bagi Wonwoo sudah berlebihan.

Wonwoo hanya bisa berusaha menahan diri dan memakluminya. Ia menghela nafasnya yang terasa sangat berat. Wonwoo mengangguk. "Kau benar..."

"Dari dulu selalu ada Yoon Jeonghan diantara kami. Terlebih saat Seungcheol hyung tiba-tiba menghilang entah kemana. Jisoo hyung lebih memperhatikannya. Aku tahu, aku tak bisa berbicara lembut atau bahkan bermanja. Bagiku itu konyol. Tapi aku tak tahu jika Jisoo hyung menyukai yang seperti itu."

Wonwoo memegang bathrobe Minggyu dan menatap kedua matanya. "Apa aku salah?"

Mingyu hanya bisa menggeleng. "Jika kau memang harus bertanya maka bertanyalah pada kekasihmu. Jangan lakukan padaku. Aku hanya orang asing yang tiba-tiba saja mencintaimu dan ingin memilikimu."

Wonwoo mengangguk pelan. "Kau benar, sangat benar." Ia kemudian memeluk Mingyu. Melampiaskan semua perasaan kesalnya. Rasanya sangat tenang. Ia mengulas senyuman saat merasakan jemari Mingyu mengusap lembut punggungnya.

"Kau tahu, aku merasa aneh dengan diriku sendiri."

Mingyu hanya bisa tersenyum saat mendengar ucapan Wonwoo. Ia membalas pelukan Wonwoo dan menciumi aroma rambut hitam namja itu. "Kau terlalu indah untuk terluka..."

Lama Mingyu mengusap puncak kepala Wonwoo hingga akhirnya ia bisa merasakan pelukan Wonwoo melemah. Namja itu tertidur. Mingyu mengubah posisinya dengan sangat pelan dan kemudian membaringkan Wonwoo di tempat tidur mereka. mengusap pipi halusnya.

Ia sangat mengagumi ukiran Tuhan yang satu ini. "Kumohon, kembalilah kesini dan pilihlah aku..."

Mingyu mendekatkan wajahnya kewajah Wonwoo. Memberikan kecupan kecil di dahi namja itu. Ia kemudian memutuskan untuk tak terlelap. Lebih memilih menghabiskan waktunya untu mengagumi wajah Wonwoo. Menyimpannya baik- baik karena mungkin ia tak akan bisa melihatnya lagi.

.

.

"Ireonna..."

Wonwoo menggeliat geli saat merasakan ada hembusan angin hangat ditelinganya. Mingyu tengah membangunkannya. Tapi saat melihat Wonwoo hanya bergerak sedikit sekali, maka Mingyu akhirnya memutuskannya. Ia akan benar – benar membangunkan namja manis itu sampai ia bangun dengan segala cara.

Tak lagi memanggil Wonwoo dengan kata-kata. Mingyu lebih memilih menciumi telinga Wonwoo dan sedikit menjilatnya. Ugh... rasanya Mingyu sudah gila. Wonwoo terasa sangat manis, bahkan saat ia tertidur.

"Eungh..." Wonwoo melenguh pelan dan memegang bahu Mingyu. "Jisoo hyung, jebal..."

Mendengar nama itu Mingyu menghentikan kagiatannya. Awalnya mengasikkan tapi sekarang ia menyesalinya. "YA...! Ppalli Ireonna!"

Teriakan Mingyu sungguh keras hingga bisa membuat khayalan Wonwoo menghilang begitu saja. Wonwoo segera membuka kedua matanya lebar- lebar. Wajah Mingyu yang ada dihadapannya membuatnya kembali merasa bersalah. Ia tak lupa dengan apa yang ia teriakkan tadi.

"Mianhe Mingyu ya..."

"Ah, sudahlah. Jangan dipikirkan. Kau siap-siap. Aku akan menunggumu. Kita harus sudah sampai di stasiun sebelum kereta pagi berangkat."

Wonwoo mengangguk. Ia segera beranjak dan membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Jujur, ia tak tahu harus bersikap bagaimana jika sampai Jisoo menjemputnya nanti. Ia merasa sangat canggung.

"Ayo berangkat..."

.

.

Disepanjang perjalanan, mereka hanya berdiam saja. Sesekali terdengar suara Wonwoo yang mengeluh kedinginan. Mingyu menanggapinya dengan meraih jemari Wonwoo dan memasukannya ke sakunya. Memaksa namja itu untuk berjalan dalam rengkuhan rangkulannya.

"Aku memaksa, jadi jangan menolak. Hari ini adalah hari yang penting untukmu. Jadi jangan sakit, atau terlambat. Jika kau benar- benar mencintai kekasihmu, sebaiknya jangan kembali lagi kesini. Atau aku tidak akan mengantarkanmu kembali lagi seperti sekarang ini."

Wonwoo mengangkat wajahnya untuk melihat Mingyu. Ia merasa terpenjara dengan apa yang Mingyu katakan. Apakah mungkin aku bisa melupakanmu?

Mereka sampai di stasiun. Mingyu segera menemui penjaga dan berbicara dengannya. Sedangkan Wonwoo lebih memilih menunggu di luar.

"Otte?"

"Kau bisa pergi. Ini suratnya. Tunjukkan ini jika ada yang menanyaimu. Dan juga ini tiketmu." Mingyu kemudian merogoh kantongnya. "Ini aku ada sedikit uang. Tadi tidak sempat sarapan, setidaknya makanlah sedikit sebelum acaramu dimulai. Kau bisa memesan roti dan susu di kereta nanti."

Wonwoo ingin menangis. Ia merasa sedih dan juga lucu. Sedih karena keadaannya, karena Mingyu dan karena perasannya. Lucu karen ia seperti gembel sekarang ini. "Aku sangat tidak cantik saat ini, tapi kenapa kau bisa jatuh cinta padaku. Kau tahu, kau konyol sekali..."

Wonwoo tertawa. Ia merasa sangat lucu, meski tak begitu jelas apa yang sebenarnya ia tertawakan. Mingyu yang tak bisa menahan dirinya, adalah Mingyu yang sesungguhnya. Ia melumat bibir Wonwoo.

Meski terkejut tapi Wonwoo menyambutnya dengan senang hati. Mungkin saja ini yang terakhir kalinya...

Kereta Wonwoo telah sampai dan menunggunya. "Aku akan pergi dulu. Kau tahu aku sangat berterima kasih karena kau sangat baik padaku dan..."

"Sudahlah, pergi saja. Sebelum aku tak bisa melepaskanmu."

Wonwoo memeluk Mingyu dengan sangat erat. Ia kemudian mencium kedua pipi Mingyu. "Aku akan mencium bibirmu, jika aku berfikir untuk kembali nanti."

Wonwoo tersenyum. Ia melambaikan tangannya pada Mingyu. Perasaannya lebih baik saat ini. Meski belum tahu apa yang akan ia putuskan nanti, setidaknya ia punya tempat untuk kembali jika ia merasa lemah nanti.

"Annyeong, Mingyu ya!"

Kereta itu pergi. Meninggalkan Mingyu yang harus bersender pada salah satu tiang penyangga agar tak jatuh.

"Jika kau menyukainya, kenapa membiarkannya pergi?"

Mingyu menoleh. Petugas stasiun yang kemarin malam, ia berada disisi Mingyu dengan secangkir kopi. "Untukmu, supaya kau masih tetap bisa memainkan musikmu meski kau tidak tidur sama sekali."

"Dia memiliki kekasih yang harus ia tinggalkan..."

.

.

Wonwoo sampai di Seoul. Ia melihat ke sekelilingnya. Tersenyum saat melihat Hong Jisoo menjemputnya. "Hyung!" Wonwoo sedikit berlari dari kerumunan begitu banyak orang yang turun di Seoul. Ia seidkit lega saat tahu Jisoo masih peduli dengannya.

Tapi...

"Wonu ya..."

Langkah Wonwoo terhenti. "Oh... Kau ikut juga hyung."

Bagus sekali. Disaat suasana hatinya sedikit membaik, Yoon Jeonghan muncul dengan tiba-tiba dari mobil kekasihnya. Wonwoo sungguh tak habis pikir. "Bagaimana bisa?"

"Ne, semalam kami bekerja terlalu larut. Aku khawatir Josh akan menabrak orang karena mengantuk. Jadi lebih baik aku temani saja. Tidak apa- apa kan? Sekalian pergi ke rumah kalian, bukankah acaranya akan dimulai sebentar lagi?"

Wonwoo menangguk canggung.

"Kajja" Jisoo meraih tangan Wonwoo dan menariknya dari kerumunan orang- orang yang ramai di stasiun. "Kau sudah makan? Kita bisa mencari sarapan dulu sebelum pergi ke rumah. Pastinya nanti akan sangat sibuk sampai kau tak akan sempat untuk sarapan."

Meski Jisoo mengajaknya bicara, rasanya ia tuli mendadak. Sama sekali tak ingin mendengar apapun. Pikiran Wonwoo sudah terbng entah kemana.

"Hey..."

Jisoo menepuk bahu Wonwoo. Membuat namja itu sadar dari tatapan maut yang ia layangkan kepada Jeonghan. "Ah iya, aku sudah makan sandwich tadi, dan juga kopi."

"Ah... lebih baik kita makan dulu. Sandwich itu tak membuatmu kenyang Wonu-ya..."

Suara Jeonghan terdengar sangat menyebalkan di telinganya. Rasanya ia ingin lari saja.

"Kajja baby..."

Meski Jisoo meraih tangannya dan menggenggamnya erat, tapi mengapa hatinya tetap saja tak tenang. Seandainya ada Mingyu...

Ups... kenapa tiba- tiba memikirkan Mingyu?

"Hyung..." Wonwoo menoleh pada Joshua yang sedang mengaitkan sabuk pengaman di kursi setirnya. "Bisakah kau memelukku? Aku sedikit merindukanmu."

Jisoo tersenyum lembut dan kemudian melepaskan kaitan sabuk pengamannya. Ia mengusap pipi Wonwoo dan kemudian mencium kecil bibirnya. "Apa yang tidak kulakukan untukmu?"

Ia kemudian memeluk Wonwoo. Memeluknya erat dan mengusap rambut hitam namja itu.

"Aku minta maaf atas harimu yang begitu berat di Changwon. Jika saja bisa, aku ingin menjemputmu. Tapi pekerjaanku dan Jeonghan tak bisa ditunda baby."

"Ani, tidak apa – apa."

Wonwoo menggeleng lemah. Ia merasa takut. Mengapa tak ada apa- apa?

.

.

.

.

Otte?

Akhirnya bisa update juga dan kayaknya belum bisa end di chap ini. Chap depan aja deh.

Maafkeun juga udah nistain Eomma tercintah. Kalau ada yang protes gegara nih couple muncul momentnya, udah deh di nikmatin aja. Soalnya author juga rada- rada Jiwon Shipper. Maafin... hehehehe

Tapi tetep, MEANIe pokoknya ini endingnya. Tenang ajah.

Thanks buat yang udah nyempetin baca, apalagi nyempetin review. Kalian de best pokokna mah... Sankyu...