Tittle : How Can Be Like This?

Cast : Kim Jongin

Byun Baekhyun

Do Kyungsoo

Oh Sehun

Park Chanyeol as Byun Chanyeol

Wu Yifan

Xi Luhan

Other

Pairing : Kaibaek! Kaihun! Chanbaek! Other

Genre : Drama, Hurt/Comfort

Rate : T

Summary : Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau meninggalkanku tanpa sebab? Kenapa dia begitu mirip dengamu? Apa aku jatuh cinta lagi? Bagaimana bisa semua ini terjadi?

Warning : This is GenderSwtch! Typo everywhere! Out of Summary! Alur Gaje.

How Can Be Like This?

.

.

.

.

.

Jam pulang sekolah tiba. Baekhyun memutuskan untuk pergi berkunjung ke makam Sehun sebelum pulang ke rumahnya. Dia tak pernah datang lagi sejak hari pemakaman Sehun dan dia benar-benar merasa bersalah karena hal itu. Baekhyun meletakkan buket lili putih yang dibawanya, dan diapun berjongkok disebelah nisan Sehun. Dia melihat ada sebuah lili putih yang sepertinya baru diletakkan disana kemarin. Baekhyun tersenyum senang.

"Hallo Sehun!"

"Apa kau bahagia disana?"

"Maaf karena aku baru mengunjungimu lagi"

"Sehun, aku masih benar-benar penasaran, siapa namjachingumu itu"

"Bisakah kau beri aku petunjuk?"

"Aku benar-benar ingin tahu siapa dia, supaya aku bisa lebih cepat menemukan siapa orang yang telah tega membunuhmu"

"Apa yang ingin kau tahu?" suara seorang namja membuat Baekhyun berhenti bermonolog dan mendongakkan kepalanya.

"J-Jongin? Sedang apa kau disini?"

"Seharusnya aku yang bertanya nona, sedang apa kau disini? Di makam pacarku" bukan menjawab, namja itu, Jongin, malah bertanya balik pada Baekhyun.

"K-kau? Kau namjachingu Sehun? Kau? Kau kkamjong?" Baekhyun menutup mulutnya. Dia segera berdiri dan melangkah pergi dari situ tanpa menunggu jawaban dari Jongin. Jongin segera menyusul Baekhyun dan dan menahan lengannya. Baekhyun menghentakkan tangan Jongin dan meneruskan langkahnya.

GREP! Jongin memeluk Baekhyun dari belakang.

"Siapa kau sebenarnya Byun Baekhyun?" tanya Jongin lirih.

"Lepaskan aku!" Baekhyun menghentakkan tangan Jongin yang melingkar diperutnya dengan sekuat tenaga, ia segera berlari kencang meninggalkan Jongin sendirian disana.

"Dia benar-benar gadis itu" Jongin menghela nafasnya. "Apa dia gadis yang kau maksud Sehun? Apa Byun Baekhyun adalah gadis itu?"

.

.

.

Baekhyun tidak mau keluar dari kamarnya sejak dia sampai di rumah. Kris benar-benar tak tahu mengapa Baekhyun seperti itu. Tapi dia yakin telah terjadi sesuatu yang tak Baekhyun inginkan, Kris tidak bisa membujuk Baekhyun, dia benar-benar khawatir. Chanyeol, kakak laki-laki Baekhyun juga belum pulang sampai sekarang. Suara bel dari pintu depan membuat Kris menghela nafasnya lega, dia yakin itu pasti Chanyeol. Dan tebakannya tepat sasaran.

"Adikmu tak mau keluar kamar sejak pulang sekolah" Kris mengikuti Chanyeol menuju kamar Baekhyun.

"Baekkie" panggil Chanyeol lembut.

"Baekkie, bisakah kita berbicara sebentar saja?" Chanyeol mencoba memutar kenop pintu kamar Baekhyun, namun pintunya terkunci.

"Apa telah terjadi sesuatu?" Baekhyun tak menjawab sama sekali. Chanyeol menyerah.

"Biarkan saja, tak apa Kris. Tidurlah" ucap Chanyeol pada Kris. Krispun pergi meninggalkan Chanyeol menuju kamar tamu.

.

.

.

Baekhyun masuk ke kamar Chanyeol yang berada di seberang kamarnya sambil membawa guling tidurnya tanpa permisi. Dia segera naik keatas ranjang dan memeluk Chanyeol yang sedang duduk bersandar di ranjangnya.

"Eoteohkke oppa?" gumam Baekhyun.

"Ada apa heum?" tanya Chaneyol sambil mengelus surai lembut Baekhyun.

"Oppa, aku sudah menemukannya"

"Siapa yang kau maksud?"

"Namjachingu Sehun"

"Lalu?"

"Sehun selalu datang dalam mimpiku dan meminta padaku untuk mencari namjachingunya, apa yang harus kulakukan oppa?"

"Ikutilah kata hatimu Baek. Jika kau benar-benar ingin membahagiakan Sehun, cobalah untuk mengikuti apa yang dia minta"

"Tapi aku ragu oppa, dia milik Sehun, aku tak mungkin mengambilnya menjadi milikku"

"Jika nanti malam kau masih memimpikan hal yang sama, maka kau harus percaya dan memenuhi apa kata Sehun" Baekhyun mengangguk.

"Ah! Oppa! Kau harus mendengar sesuatu" Baekhyun melepaskan pelukannya pada Chanyeol lalu merogoh saku piyamanya, dia mengeluarkan sebuah pulpen dari sana dan memberikannya pada Chanyeol. Chanyeol memencet ujung pulpen itu.

"Kemarin kau berkata padaku bahwa aku mirip dengan seseorang bernama Sehun"

"Nona Oh sialan itu sudah mati Byun!"

"Kau seperti membencinya"

"Memang. Sangat"

"Jika aku boleh tahu, apa yang menyebabkannya meninggal?"

"Dia dibunuh Itu pantas untuknya"

"Kau tahu siapa yang membunuhnya? Dan mengapa dia membunuhnya?"

"DIAMLAH BRENGSEK! KENAPA KAU HARUS MENANYAKAN ITU PADAKU! AKU TAK TAHU! LAGIPULA APA-APAAN KAU MENANYAKAN HAL ITU!"

Suara dari pulpen itu berhenti.

"Dia berteriak seperti itu sambil menodongkan garpu padaku" adu Baekhyun.

"Kurasa ia adalah seorang psycho Baek. Dan kurasa tebakanmu benar. Tapi kita harus benar-benar memiliki bukti kuat untuk memastikannya. Maka dari itu segeralah dapatkan sidik jarinya. Hasilnya sudah keluar. Dan sidik jari itu adalah milik seorang yeoja. Melihat ukuran pisau itu, kami rasa tingginya tak lebih dari 175cm"

"Aku sedang mencobanya oppa. Itu akan sulit"

"Ingat! Selalu berhati-hati! Oppa tak ingin kau kenapa-napa"

"Ne arrasseo Byun Chanyeol yang menyebalkan" Chanyeol memukul Baekhyun pelan menggunakan bantal.

"Ya! Oppa! Aku lapar~" Chanyeol terkekeh. Adiknya benar-benar menyebalkan. Dia segera turun dari ranjangnya dan menarik tangan Baekhyun menuju dapur.

.

.

.

Baekhyun bangun dan segera menuju kamarnya untuk bersiap-siap pergi ke sekolah. Gadis cantik itu menghela nafasnya. Dia memimpikan mimpi yang sama. Dia melihat sekeliling kamarnya dan melihat kotak hitam milik Sehun yang diberikan Chanyeol tempo hari. Dia berjalan dan mengambil kotak itu lalu duduk diatas ranjangnya. Dia membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya satu persatu. Disana terdapat sebuah foto Sehun dan Baekhyun saat ulangtahun Baekhyun tahun lalu, sebuah boneka cony, dan sebuah amplop. Baekhyun tersenyum sedih melihat foto itu. Dia tak akan bisa lagi merayakan ulangtahunnya bersama Sehun. Dia mengambil amplop itu, ada 3 buah surat dengan 3 warna berbeda pula. Di surat yang berwarna biru muda tertera angka 1, Baekhyun pun mengambil surat itu dan membukanya.

Hello Byun Baekhyun!

Kuharap kau selalu bahagia dan tersenyum seperti biasanya. Sebelumnya aku meminta maaf yang sebesar-besarnya padamu. Baekhyun, maaf karena saat kau membaca surat ini aku mungkin sudah benar-benar tidak ada disampingmu. Kau pasti bertanya kenapa? Maaf Baekhyun, aku telah membohongimu. Aku telah menyembunyikannya dengan sangat baik. Aku benar-benar minta maaf. Baekhyun, dokter memvonis bahwa aku terkena kanker darah.

Aku benar-benar sedih. Aku sedih karena aku harus meninggalkanmu, Chanyeol oppa, Kris oppa, Jongin(namjachinguku, haha), dan juga orangtuamu cepat atau lambat. Kau dan keluargamu adalah keluarga yang kupunya sejak kecelakaan 10 tahun lalu. Aku benar-benar berterimakasih banyak Baek. Maaf lagi karena aku tak bisa berterimakasih secara langsung pada kalian.

Aku benar-benar menyayangimu, adik kecil. Bolehkah meminta sesuatu padamu? Mau tak mau kau harus memperbolehkannya!:p Saat aku pergi nanti aku minta kau untuk menjaga Jonginku Baek. Jadikanlah ia sebagai Jonginmu. Aku ingin kau menjadi motivasinya supaya ia benar-benar bisa menggapai cita-citanya menjadi seorang atlet basket. Dia adalah anak yang mudah putus harapan. Aku yakin kau pasti bisa Baek. Aku yakin saat ia bertemu denganmu ia akan menyukaimu. Tak ada yang bisa menolak pesona seorang Byun Baekhyun. Ckck. Kumohon Baek, aku benar-benar memohon padamu. Setelah kau berhasil, aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku tak akan lagi meminta apa-apa padamu.

Baek, jangan malas lagi ya! Jangan suka menangis lagi! Kau ini sudah besar. Jangan terus bermanja pada oppamu. Dia takkan selamanya ada disampingmu. Tapi tenang, kumohon, jangan menangis lagi. Aku janji aku akan selalu ada disampingmu kapanpun. Aku menyayangimu! Sampaikan salamku pada yang lain!

Seoul, 7 Mei 2014

-Oh Sehun

Baekhyun sudah tak kuasa lagi menahan air matanya.

"Kau adalah gadis baik Sehun. Kenapa begitu banyak beban yang tanggung?" Baekhyun mengambil foto yang ada di dalam kotak itu.

"Kau terkena kanker darah dan kau tak bercerita sama sekali? Apa kau gila yeoja bodoh?" Baekhyun mengusap wajah Sehun di foto itu.

"Kau sudah menderita sendirian seperti itu dan seseorang tega membunuhmu dengan cara yang begitu kejam?" Baekhyun mengambil 2 buah surat yang tersisa. Dia membuka surat yang berwarna putih, surat itu adalah surat vonis dari rumah sakit. Air mata Baekhyun semakin deras mengalir. Dia mengambil surat terakhir yang berwarna merah muda dan hendak membukanya namun dia batalkan karena di surat itu terdapat tulisan 'JUST FOR KIM JONGIN'. Baekhyunpun menaruh surat itu kedalam tasnya. Dia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

.

.

.

Jongin membuka pintu ruang kelasnya. Dia melihat Baekhyun sudah duduk dibangkunya sambil menelungkupkan kepalanya diatas meja. Dia segera melangkahkan kakinya menuju bangkunya yang berada disebelah Baekhyun. Baekhyun tak menyapa Jongin. Dia hanya terus diam dalam posisinya.

"Maafkan aku tentang kejadian kemarin" ucap Jongin. Baekhyun diam tak menjawab.

"Baek-"

"Bisakah kau diam?" Baekhyun menatap Jongin tajam. Dia menghela nafasnya.

"Maafkan aku" bisik Baekhyun pelan namun masih bisa didengar oleh Jongin. Baekhyun merogoh tasnya dan memberikan surat berwarna merah muda dari kotak itu dan memberikannya pada Jongin.

"Ini untukmu Jongin" ucap Baekhyun.

"Apa?" Jongin mengambil surat itu.

"Kau bisa lihat bahwa itu adalah sebuah surat bukan?" Baekhyun berucap sinis lalu pergi meninggalkan kelas.

TBC

.

.

.

.

.

Akhirnya update lagi! Yuhu!~~ Maaf kelamaan! Maaf juga ya kalo ceritanya makin nyeleneh dari jalan setapak/? Tapi aku bener-bener ngarep kalian masih sayang sama ff ini. Jangan lupa tinggalkan review sepatah dua patah katanya. JEONGMAL GOMAWOYO. SARANGHAEYO!