Langit-langit yang tak kukenali terpapar dalam pandangan mataku.
Aku memilah-milah memoriku. Yang pertama terbayangkan adalah ekspresi Niko yang bersedih.
Seketika itu aku tersentak seakan-akan tubuhku baru saja ditarik, namun respon yang tubuhku dapatkan adalah rasa sakit nyeri yang tak terhankan.
Sakit sampai-sampai membuatku membuka mulutku seakan berteriak namun tak dapat bersuara. Hanya lenguhan kecil-kecil yang tersendat-sendat seperti sebuah suara seseorang tengah dicekik.
Ketika aku tersadar tentang itu, aku sedang terkapar di atas ranjang tak asing namun tak pernah kusentuh. Beralaskan sprei putih bersih dengan ukuran normal yang rata-rata dipergunakan untuk umum.
"Delsin, akhirnya kau tersadar."
Suara seseorang yang memancarkan kelegaan dalam setiap detil nadanya tersampaikan pada telingaku. Aku merasa seperti menanti suara itu, tapi bersamaannya dengan itu aku seperti merasa tak boleh membiarkan diriku mendengarnya.
"Niko."
Seakan-akan suaranya sudah memikatku, tanpa kuperintahkan aku secara langsung menoleh ke pada pemiliknya.
Yang duduk di sampingku adalah gadis yang selama delapan tahun lamanya kunanti untuk kutemui dan akhirnya dapat kucapai beberapa hari kemarin.
Dia benar-benar melakukannya dengan sangat baik. Senyum penuh syukurnya yang terhias indah dalam wajah manisnya. Benar-benar menyerangku secara langsung dalam dua arti berbeda.
"Syukurlah kau bangun!"
Tiga kata yang diucapkannya itu benar-benar terdengar tulus. Belum lagi ekspresinya yang terang-terangan mengatakan hal itu.
Oleh karenanya, tidak mungkin aku bisa menahan diriku untuk tidak tersenyum.
"Memangnya aku tertidur berapa hari."
"Tidak sampai sehari penuh."
Wah, aku tidak menyangka waktunya cukup singkat. Meningat apa yang telah terjadi, akan wajar bila lebih dari itu.
"Jadi aku benar-benar tertabrak ya."
Ketika aku mengingat Niko yang bersedih, itu juga memancing ingatanku bahwa aku telah di tabrak oleh bis besar.
"Tidak," Niko menggeleng lembut. "Untungnya kau cuma terserempet saja. Jika kau ditabrak kau benar-benar akan mati saat itu juga."
"Ngeri juga kau mengatakannya selancar itu."
Wajarnya seorang gadis tidak mungkin mengatakan hal-hal semacam 'mati' dengan begitu ringannya. Bagaimana pun itu tidak cocok bila kau mendengarnya dari seorang gadis yang dilihat dari kepala sampai ujung kaki benar-benar berkategori imut.
Semuanya jadi tidak sinkron, antara setiap ucapannya dan wujud fisiknya.
Itu tadi semua adalah awal percakapanku dengannya. Bisa dibilang itu masih sekedar pembukaan.
Topik utamanya baru ia buka setelah keadaan hening selama beberapa detik.
"Jadi bagaimana selanjutnya?"
Aku melirik melalui ekor mataku pada dirinya yang bertanya tanpa berani menatap langsung padaku.
"Tentang apa?"
Aku tahu apa yang sedang ia coba bicarakan, tapi aku bertanya seolah tidak tahu karena ada suatu hal yang harus kupastikan.
"Setelah apa yang terjadi, apa kau masih tidak mempercayai bahwa kau sedang ditimpa kesialan?"
"Belum tuh."
Niko meresap jawabanku dengan begitu serius. Dia baru menoleh padaku dengan wajah yang berkata bahwa dirinya belum menyerah terhadapku lalu berkata.
"Delsin, aku tahu ini benar-benar sulit untukmu. Walau pun jelas-jelas yang terjadi ini tidak bisa diterima oleh akal sehat, tapi seperti inilah faktanya. Kau hampir saja mati karena hal ini. Jika kau masih ingin kehidupanmu yang normal kembali, mungkin ini masih sempat."
"Maaf Niko, bagaimana pun kau bersih keras, aku masih tidak mempercayainya."
Itu adalah pendirian seseorang yang tidak pernah melewatkan remedial setiap kali ada tes. Dia harus ingat bahwa dia memang tidak pernah berpikir tentang akal sehat, jadi tak perlu membuat hal itu sebagai alasan.
Rasanya seperti dikatai gila oleh orang gila.
Itulah sebabnya, berapa kali pun dia berusaha meyakinkanku tentang hal itu, aku benar-benar tidak bisa percaya.
"Permisi, aku mengantarkan bubur pesanan anda."
Ditengah percakapan kami, suara bernada sopan menganggu.
"Yah, masuklah."
Ketika Niko mengkonfirmasinya, pintu ruangan ini terbuka. Kemudian aku melihat satu sosok wanita paruh baya berjalan kemari sambil membawa nampan yang di atasnya berisi semangkok bubur.
"Maafkan keterlambatan kami. Karyawan kami melakukan kesalahan pengiriman, jadi kami perlu menyediakannya kembali dan ini udah agak dingin. Kami benar-benar minta maaf."
"Tidak apa-apa."
Si bibi itu tersenyum menerima kebaikan hati Niko. Dia seperti merasa berterima kasih Niko mau mengerti.
"Ini."
Ketika ia hampir memberikannya, entah bagaimana terjadinya dia sampai terpeleset sesuatu pada kaki depannya. Sehingga kaki depannya meluncur seperti ski meningglkan kaki belakangnya yang berpijak sebagai tumpuan, hasil dari itu kaki-kakinya berposisi mengkangkang dan nampan berserta mangkok bubur di atasnya terbang ke atas.
"..."
Untuk sepersekian detik aku tidak paham apa yang sedang terjadi. Aku baru paham ketika kepalaku mengadakan kontak fisik dengan sesuatu yang hangat. Itu adalah kejatuhan mangkok berisi bubur yang tepat pada bagian atas kepalaku, membuatnya terlihat seperti mengenakan topi.
Aku baru bereaksi setelah tiga detik kemudian.
"Oh tidak! Aku tidak mau mati!"
Sekalem apapun aku biasanya, saat itu aku tak bisa menahan rasa panik yang tengah kurasakan.
"Aku benar-benar sial karena bertemu dengan yokai sialan itu yang sialnya memberikanku kesialan!"
Aku bahkan belum pernah menyentuh dada seorang gadis. Paling bagus Cuma bersenggolan. Itu belumlah cukup. Aku ingin menyentuhnya. Memegangnya. Meremas dan merasakan sensasinya. Memilin sampai ke putingnya dan menghisapnya.
"Delsin, entah kenapa didalam kepanikanmu aku merasa kau sedang menyisipkan sesuatu yang mesum di dalam pikiranmu."
Niko memandang rendah diriku selagi aku histeris.
"Mengabaikan bagaimana Niko bisa membaca pikiranku, aku mul—"
"Aku tidak membaca pikiranmu. Wajahmu dan nafasmu yang tengah-engah dengan tidak wajar itu sudah cukup menjelaskan. Tambahan, narasimu tadi baru saja terucap."
Dia mengutarakan rahasia kemampuan espernya begitu saja, tapi aku tidak peduli.
"Niko, bagaimana ini? Aku benar-benar ditimpa kesialan!"
Sementara aku meminta solusi akan masalah yang terjadi, bibi yang mengantarkan bubur begitu terbangun berulang kali menaik-turunkan kepalanya dan sambil terus mengucapkan maaf padaku.
Sepenuhnya aku mengabaikan tingkahnya, dan menaruh semua perhatianku pada Niko dengan ekspresi susah.
Raut muka Niko mengendur, dan namun dia sanggup menatapku dengan penuh tekad tanpa memalingkan pandangannya. Seolah-olah dia mencoba menerima semua kesusahanku.
"Jangan khawatir, aku akan segera menghubungi Nozomi."
.
O.o
.
Setelah itu, begitu aku selesai melakukan pemeriksaan aku meminta untuk dipulangkan meski pihak rumah sakit masih belum memberi ijin karena kondisiku yang katanya belum memungkinkan.
Cedera yang kudapatkan itu semua terletak di bagian kiri. Mulai dari tangan kiri yang tulangnya sedikit bergeser, dan pergelangan telapak kaki kiriku yang keseleo. Tapi semuanya sudah diberikan pertolongan yang cukup.
Tangan kiriku sudah diberikan gips sebagai pembantu. Begitu halnya di bagian kaki juga telah diberi pertolongan yang sesuai seperti salep dan lainnya.
Kurasa semua ini sudah lebih dari cukup. Lagian penyakit yang kualami ini bukanlah soal urusan medis, ini berkaitan dengan kekuatan gaib. Dan satu-satunya orang kutahu dapat membantu adalah Kak Toujou.
Begitulah aku akhirnya di rumah. Ada semacam ritual yang sedang kulakukan sekarang. Di pandu oleh Kak Toujou Toujou dengan pakaian mikonya, aku mengikuti proses sampai selesai.
"Bagaimana?"
Niko yang saat itu mendampingiku, setelah menunggu cukup lama bertanya pada Kak Toujou.
"Belum terangkat."
Dan begitulah akhirnya semuanya terdiam.
Kalimat yang sesingkat itu berarti sebuah berita buruk. Suara yang dilepaskan Kak Toujou terdengar lemah seakan tak tega untuk mengatakan ini.
Tapi menurutku itu lebih baik. Tidak mengatakannya malah akan membuatku semakin buruk. Aku lebih baik mendengar sesuatu yang pasti meski itu buruk, dari pada hal baik yang dibumbui kepalsuan.
"Prinsipnya sekarang begini. Jika kau masih sering mendapat kesialan itu berarti hidupmu tetap berjalan seperti biasa. Jika lama kau tidak mendapat kesialan, maka hanya sampai waktunya kesialan terbesar datang padamu dan mati."
"Tidak mungkin..."
Niko berkata tak percaya sebelum kemudian dia membekab mulutnya dengan kedua tangannya. Tampak seperti dia tak bisa menerimanya.
"Kau tak perlu khawatir," aku berkata demikian untuk menenangkannya.
Terlalu khawatir itu tidak baik untuknya maupun untukku. Biasanya lebih bijak untuk menghadapi suatu kenyataan yang tampaknya menakutkan dan langsung menerimanya, menempuh resiko menjadi lecet-lecet dan terkena benturan keras. Mungkin saja akan kita dapati bahwa hal itu tidak seberat yang dikatakan. Atau mungkin memang berat, tetapi kita juga akan tahu bahwa kita mampu mengatasinya.
Ya, lebih tepatnya pemikiran-pemikiran seperti itu tidak lain hanyalah penghibur diri. Tapi meski begitu, hanya hal-hal positv lah yang memang harus ada untuk setidaknya meringankan berita negativ seperti ini.
"Aku hanya harus menjalani hari-hariku seperti biasa. Jika itu mungkin, meskipun kesialan itu tetap berlanjut aku mungkin akan lupa atau bahkan tidak sadar bahwa aku sedang ditimpa kesialan. Ya, menikmati hari-hariku itu kelihatannya dapat diandalkan."
"Delsin..."
Niko menatapku dalam satu tatapan khawatir. Ah, jadi begini kah dia ketika memasang ekspresi itu. Aku harus segera jadi Hokage.
"Yap, karena beginilah Delsin Rowe menjalani hidupnya."
Delsin Rowe adalah anak yang mengaku dan diakui sebagai anak gaul. Dia sepenuhnya adalah berandalan yang selalu mencari luka. Bila dia takut terluka, dia jelas bukan lagi Delsin Rowe.
Niko tersenyum seolah-olah ikut merasakan optimismeku. Dan dalam satu dengusan kecilnya, kesedihannya menghilang.
"Untuk satu itu, aku merasa setuju. Baiklah, kalau begitu aku akan segera memperbarui kamus penghinaanku, jadi bersiaplah."
"Meski aku tidak mau mengakuinya, tapi memang itulah kebiasaanmu."
.
O.o
.
Jika kau berbicara tentang Jepang, satu hal yang pasti ditunggu-tunggu untuk menjadi topik hanyalah satu.
Itu semua tentu saja tentang JAV.
Untuk hal itu, pria sejati pasti akan buru-buru merogoh koceknya untuk membeli DVD-nya ketika sempat mampir Ke Jepang.
Aku pun begitu. Ketika aku tahu aku akan segera dipindahkan ke Jepang, aku sudah siap-siap dengan menambung uang sakuku agar saat aku sampai di Jepang aku bisa mengoleksi setiap best edition-nya.
Tapi sayangnya, nasibku tidak sebaik itu. Karena suatu sebab yang tak masuk akal, aku tiba-tiba berakhir dengan menghabiskan uang sakuku pada biaya uang rumah sakit.
Mau bagaimana lagi. Aku tak bisa mengatakan kalau aku telah masuk rumah sakit pada ayahku. Karena hal semacam itu sudah sangat sering terjadi saat aku berada di Amerika. Dan jika beliau tahu aku masuk rumah sakit, mungkin aku akan segera dipindahkan dalam asrama khusus yang mendiktaktori murid-muridnya untuk disiplin terhadap aturan.
Lalu karena uang tabungan remaja SMA ini tidaklah banyak, aku terpaksa harus keluar rumah sakit lebih awal agar masih ada uang yang tersisa untuk kebutuhanku ke depannya.
Juga sekarang ini seharusnya aku membutuhkan maid pribadi untuk mengurusku mengingat kondisiku yang tak memungkinkan.
Untung saja ada Niko yang memerankan itu. Tapi dia tidak benar-benar tahu statusnya. Dia melakukannya untuk membantuku, tapi dalam penglihatanku yang dia lakukan adalah sebagai seorang maid. Hahahaha! Orang pendek lebih baik ke laut aja!
Tapi tolong rahasiakan ini. Jika dia tahu kenyataan itu, aku pasti sudah dicekik olehnya.
Saaat ini gadis itu sedang berbicara dengan kawannya.
Ketika kawannya itu berkunjung ke rumahnya, ibu Niko berkata dia ada di apartemenku yang ada di sebelah apartemenya. Dan begitulah akhirnya dia sampai kemari.
Krieeet...
Pintu terbuka, dan Niko masuk ke dalam kamarku. Aku sedang berbaring di tempat tidurku.
"Kau sudah selesai dengan temanmu?" tanyaku.
"Iya. Dia kemari hanya ingin meminjam barangku untuk diperlihatkan pada junior-junior diklub-nya."
"Klub apa?"
"Klub penelitian idol. Itu adalah klub yang kubangun saat aku masih SMA. Dia adalah adik kelasku yang meneruskan kegiatan klub itu."
"Mmm... tak heran bila dia mendatangimu. Jadi dia itu adik kelasmu..."
"Bukan hanya itu, dia juga tergabung dengan school idol yang sama sepertiku bersama Nozomi dan Eri."
"Pantas dia lumayan cantik."
Aku ingat bagaimana rupanya. Dia memiliki mata biru dan rambut kecoklatan, dengan sedikit sisi ekor kuda di bagian kanannya. Hanya dengan sedikit memperhatikannya aku bisa tahu dia adalah gadis ceria.
"Kau mungkin akan terkejut. Tapi dia pernah membuat hujan berhenti hanya dengan menyuruhnya."
"Ya ampun, kenapa semua teman-teman baikmu itu memiliki kemampuan aneh-aneh? Memangnya ini Sky High?" [1] "Tapi apa boleh buat, kau sendiri juga sama anehny—"
Duagh!
Sambil memperlihatkan kepalan tangannya, Niko berujar menahan emosi, "apa kau ingin kupukul?"
"Jangan bertanya hal itu setelah memukulku!" aku membalas sementara diriku mengelus-ngelus belakang kepalaku.
Dia tidak mendengarkan perkataanku seperti sebuah perkataan yang layak. Dan malah menyilangkan kedua lengannya dengan tampang yang di dewasa-dewasa kan.
"Kau harus menjaga ucapanmu. Bagaimana pun aku lebih tua satu tahun dari mu," ujarnya dengan begitu angkuhnya.
"Aku tidak berpikir begitu. Dalam umur aku memang satu tahun dibawahmu, tapi soal tinggi badan kau sangat jauh lebih pendek dariku!"
Umurnya di atasku, tapi semenjak kelas dua SMP aku dengar tubuh Niko sudah berhenti tumbuh.
Sementara aku? Aku tumbuh dan semakin mempesona.
"Apa katamu?!" Niko spontan berseru. "Dengar? Mungkin aku pendek,"
"Sebenarnya kau tidak perlu menambahkan kata 'mungkin.'"
"Diam kau! Aku belum selesai berbicara!"
"..."
"Aku akui, aku ini pendek. Tapi justru disitulah daya tarikku sebagai seorang gadis terlihat. Maksudku, jika aku tinggi aku tidak akan cukup pantas untuk memeragakan Niko-Niko Nii, benar kan?"
"Kurasa itu bukanlah daya tarik."
Aku sangsi akan hal itu. Memang apa bagusnya trade mark norak itu?
"Komentarmu itu tidak berpengaruh. Dunia tidak akan bisa mendustai pesona yang didapat dari Niko-Niko Nii."
Aku agak khawatir padanya tentang rasa percaya dirinya yang benar-benar abnormal itu. Namun sifat angkuh dari lahir yang selalu jadi pembawaan Niko itu mungkin bisa membuat orang-orang betah berhubungan dengan dirinya. Karena memang kenyataannya sekarang begitu.
"Harus kuakui, fakta bahwa kau ini pendek memang menjadi salah satu pesonamu," yah, itu benar. Hal tersebut memang sudah kuakui sejak dahulu. "Tapi pesona yang kau dapatkan itu bukanlah pesona seorang gadis. Kau ini hanya imut, segitu doang. Lebih jelasnya kau itu lucu ketika dipandang, dan hanya sebatas itu. Dari pada di apa-apakan, orang hanya akan suka melihatmu diam. Bisa kubilang kau itu sama dengan boneka pajangan yang dipasang di jendela di depan toko."
Orang normal yang mendengarnya akan menganggap apa yang kuutarakan tadi itu adalah pujian yang hebat. Tapi sayangnya Niko bukan bagian dari golongan orang tersebut.
"Hah? Apa maksudmu? Jadi naluri gadisku itu tidak ada?"
"Ya, seperti itulah."
Aku mengangguk dengan mata tertutup seolah-olah begitu yakin akan fakta yang kubeberkan.
Semua yang kusampaikan itu sangatlah akurat. Apalagi jika semua itu dapat didukung dengan adanya kaca yang dapat membuatku menunjukannya langsung pada gadis ini.
"Fuuu..."
Suatu hawa berdesir yang tiba-tiba leherku rasakan membuat raga dan pikiranku terlonjak. Aku dengan seketika membuka mataku, dan bidang penglihatanku langsung penuh oleh wajah imut seorang gadis. Dalam arti, wajah itu begitu dekat sedekat-dekatnya.
Kuyakin saat itu wajahku memerah dengan sangat. Dan rautnya menjadi kaku dan begitu tegang.
"Fffafaljaljfal—waa!"
"Tuh kan, kau sendiri jadi bergairah hanya karena aku meniup lehermu. Mulutmu boleh berbohong, tapi tubuhmu tidaklah munafik dan benar-benar tidak berdaya oleh naluri gadisku."
"Berhentilah membuatku serangan jantung!"
Memiringkan lehernya, meletakan tangannya di dagu, dan tersenyum begitu manis. aksi seperti itu memang terlihat sangat menggemaskan. Akan tetapi itu benar-benar tidak baik memeragakannya dihadapan seorang pria.
Jika aku tidak bisa mentoleransi hubungan baikku dengannya, aku pasti sudah akan menciumnya dan mengatakan cintaku padanya.
Niko membuat tawa yang memperlihatkan dirinya merasa puas akan reaksiku yang berhasil ia dapatkan.
Karenanya aku jadi terpancing, "kurang ajar, kemari kau!"
Dan begitulah akhirnya aku tanpa sadar menjalani kehidupan sehari-hariku dengan biasa.
.
O.o
.
Saat aku sedang membaca manga di kasurku. Aku berpikir seperti ini.
Sejak kapan aku berhenti percaya bangau yang mengantarkan bayi? Sejujurnya, pertanyaan bodoh semacam ini benar-benar tak ada artinya buatku. Namun, jika yang dimaksud itu kapan aku berhenti percaya cara bagaimana para pasangan bisa memiliki anak mereka, maka, dengan penuh percaya diri aku bilang. "Satu kali pun aku nggak pernah pernah percaya sama bangau yang mengantarkan bayi."
Kemudian hal itu diperkuat ketika aku menemukan kitab kamasutra di kamar ayahku, dan beberapa koleksi video bokepnya.
Mungkin ada yang penasaran kenapa ketika aku membaca manga pikiranku bisa sampai tiba-tiba melayang pada hal-hal mesum itu. penjelasannya adalah karena manga yang kubaca juga mesum.
Re: Marina, manga satu ini menceritakan tentang sepasang suami istri yang istrinya merupakan istrinya yang datang dari masa depannya. Suaminya sendiri baru berusia enam belas tahun, yang artinya dia masih AbG. Dan itulah sebabnya kejantanannya malah diporak-porandakan istrinya mengingat dia sudah sangat berpengalaman. Terlebih lagi ukuran dadanya sungguh abnormal. H-Cup itu mungkin bisa dibandingkan dengan gunung Kilimanjoro.
Sekarang, seperti di hari-hari sebelumnya aku sedang menunggu kedatangan Niko untuk mampir. Dan agar tidak bosan, makanya saat ini manga berperan cukup baik untuk itu.
Tok tok tok
Pintu kamarku diketuk. Akhirnya dia datang. Tapi tidak biasanya dia mengetuk pintu?
"Masuklah, pintunya tidak dikunci."
Mendengar konfirmasiku, seseorang di balik pintu itu pun memutar kenopnya lalu membukanya.
Seorang perempuan melangkah masuk ke dalam kamarku.
Dia bukanlah perempuan yang kutunggu.
Rambut kuning cerah panjangnya yang diikat ekor kuda bergoyang-goyang di antara udara.
Dia menatap padaku dengan mata biru nya yang jelas.
Kulitnya yang putih seperti berbedak salju, dan bibirnya yang terlihat berkilau seperti ceri.
Dengan darah orang asing bercampur, kecantikan seperti peri. Jika Niko dianggap lucu dan imut, maka orang ini bisa dibilang sangat indah. Putri yang memonopoli banyak harta karun yang banyak perempuan tidak akan bisa meletakkan tangannya, tidak peduli berapa banyak mereka memohon untuk mereka.
Gadis yang beberapa waktu lalu itu kuselamatkan, Ayase Eri.
"Huuuh," dia mengeluarkan nafas sambil memiringkan kepalanya. "Maafkan aku masuk begitu saja. Tapi aku tahu kau tidak mungkin membukakan pintunya karena kondisimu."
"Tidak apa. Kenapa kau kemari?"
"Kenapa kau tanya itu? Tentu saja menjengukmu."
Untuk sesaat itu aku tak tahu kenapa Eri memayunkan bibirnya. Aku baru tahu dia bisa berlaku seperti itu!
Mengetahui hal itu entah kenapa membuatku merasa gugup. "Be-begitu ya. Kalau begitu silahkan masuk."
Aku menyambutnya dengan senang hati, dan membiarkannya duduk di dekat kasurku.
Pertama dia menanyakan tentang keadaanku, dan aku menjawabnya selepas bagaimana yang kutahu.
Kami mengobrol selagi waktu berjalan dan terus berjalan. Tampak seperti topik yang kami bahas tak pernah habis. Mulai dari ini dan itu, sampai begini dan begitu. Semua melalui waktu yang panjang. Bahkan hanya karena obrolan sepele, kami bisa sahut bersahut sampai pada kami lupa apa yang sedang kami bicarakan.
Eri datang kemari bukan hanya Cuma ingin mengobrol. Dia juga membawakanku oleh-oleh berupa makanan dan buah-buahan.
Dengan perhatian dia melakukan hal-hal seperti mengupasi dan menyuapiku dengan beberapa dari itu semua.
Dan tak terasa tiga jam itu berlalu begitu cepat.
"Sudah saatnya aku harus pergi. Kalau begitu, aku akan kemari lagi nanti."
"Ya. Terima kasih sudah datang berkunjung."
Aku membalas dengan tersenyum. Aku memberikannya senyuman terbaik yang benar-benar bisa kubuat.
Begitu pula dengannya yang membalas tersenyum padaku. Lalu akhirnya benar-benar pergi.
Waktu pada jam bakerku itu menunjukkan sudah jam 2:23 sore. Aku bersandar pada bantalan yang telah kupastikan berposisi di belakang punggungku.
Ada yang aneh, ini sudah sore dan Niko belum terlihat mulai dari pagi sampai sekarang.
Ketika aku berpikir begitu, itulah saatnya pintu kembali terbuka.
Panjang umur. Yang datang adalah dia yang kucari-cari.
"Niko, kenapa kau baru datang?" adalah kalimat pertama yang kukatakan ketika dia datang.
"Memangnya kenapa?"
"Yah, itu.. yang seperti itu..." kalau dipikir sebenarnya aku tak begitu tahu kenapa aku menunggunya. Soal makan dia sudah menyiap-nyiapkan roti isi di kulkas bila aku merasa ingin makan ketika ia tiada, dan lagi pula aku juga sudah makan oleh-oleh yang diberikan Eri. Merawat cederaku? Tak ada lagi hal yang bisa ditambahkan bagi Niko untuk membantu mengobati apa yang telah dokter lakukan.
"Oh, iya. Tadi Eri datang."
Aku memutuskan untuk mengatakan itu ketika kepalaku akhirnya menemukan topik untuk dibicarakan dengannya.
Alis Niko naik satu tahta.
"Jadi kau sekarang memanggilnya Eri?"
"Hah? Apa yang kau bicarakan? Kenapa kau baru sadar hal itu sekarang?"
Aku merasa sejak awal aku memang sudah memanggil gadis separuh keturunan Rusia itu dengan nama itu. Itu tidak seperti aku memanggilnya seperti itu baru-baru ini.
Niko membuat tatapan dingin yang lebih dingin dari biasanya. Aku tidak begitu mengerti, tapi sepertinya sesuatu telah membuatnya marah.
"Kau marah ya?"
"Tidak seperti itu... Kau kelihatannya sangat akrab dengan Eri."
Dia mengalihkan topik yang kubawa dengan begitu mudahnya.
"Kau berpikir seperti itu?
Aku tak tahu apa yang sebenarnya sedang coba ia bahas, tapi apapun itu sepertinya itulah yang membuatnya marah.
"Kau tahu, kelihatannya Eri menyukaimu."
Tiba-tiba saja Niko mengatakan hal tak terduga yang tak mungkin aku mendengar itu darinya. Kenapa dia bisa mengurusi hal-hal semacam suka atau cinta. Apa dia baru saja terkena demam drama korea?
"Kenapa kau tiba-tiba mengatakan ini?"
"Karena memang begitulah aku melihatnya."
"Itu bukanlah suatu alasan yang kredibel."
"Sudahlah. Jadi kau menyukai Eri atau tidak?"
"Niko kau tidak seperti biasanya."
Mendengar aku yang berusaha mengelak. Niko merasa muak, dan terang-terangan menampakkan hal itu di ekspresi dan juga kata-katanya.
"Sudahlah, dan jawab saja pertanyaanku."
"Memang kau mau apa setelah tahu hal itu?"
"..."
Dia menjadi diam seketika oleh satu kalimat tanya konfrontatif yang keberikan.
Aku menatap dan menunggu reaksinya. Tapi saat itu juga dia memalingkan wajahnya dan menetapkan dirinya untuk tidak bereaksi apapun.
"Kau..."
Sepatah kata yang belum keselesaikan tak sempat di dengarnya ketika dia memutuskan untuk berpaling, dan dari sana dia mengambil satu langkah, dua langkah dan seterusnya membuat jaraknya dariku hingga benar-benar pergi meninggalkanku.
Tanpa bisa aku untuk mengikutinya atau bahkan memanggilnya kembali.
.
O.o
.
Aku bertanya dalam batinku akan sampai kapan Niko marah tanpa sebab padaku? Tapi ternyata esoknya dia datang dengan begitu ringannya ke rumahku.
Dia datang tak begitu pagi. Itulah mengapa aku langsung tahu dia datang karena aku sudah terbangun sebelumnya.
Aku menyeret kakiku untuk menemuinya yang sedang memasak di dapur.
"Kau sedang masak apa?"
"Tunggu saja disitu," katanya singkat.
Mendengarnya aku memutuskan untuk menunggu sampai saatnya dia datang kemari dengan makanan yang ia bawa berupa nasi goreng dan telur omlet.
Dia membawa dua porsi makanan yang terlihat sama seperti itu, dan membaginya di meja.
"Jadi kau juga ikut makan?"
"Tentu saja. Kau pikir aku mau repot-rept kemari hanya untuk membuatkanmu makanan yang semuanya akan kau makan sendiri? Aku sendiri juga belum makan."
Haah, akhirnya dia kembali normal.
"Apartemen kita bersebelah. Jangan membuatnya terdengar seolah kita terpisah jarak dan waktu. Aku tidak mau sampai terjadi fenomena supranatural yang membuat tubuhku bertukar dengan tubuhmu." [2]
"Aku juga tidak mau kau meremas dadaku sambil ditatap oleh adikku!" [2]
"Tolong mengertilah, bahwa aspal yang datar itu tidak bisa diremas."
"Jangan mengejekku!"
Aku tertawa ketika dia terbawa emosi. Aku lebih suka dia yang biasa seperti ini dari pada semua kebribadian lain yang bisa dimilikinya.
Lalu saat kami makan, tiba-tiba meja yang kami gunakan di invansi oleh makluk-makluk merayap berwarna cokelat.
"Kyaaa!"
Niko menjerit dengan begitu manisnya hanya karena dia begitu ketakutan. Dia dengan laju memutari meja dan menuju ke wilayahku hanya untuk bersembunyi di balik punggungku.
"Delsin, kecoaknya! Ada kecoak! Cepat singkirkan!"
"Iya, iya. Ini Cuma ada tiga."
Melihatnya seperti ini sebenarnya cukup menyenangkan, tapi selain aku tidak bisa menambah scen lagi karena deadlinenya kurang tiga puluh menit lagi dan aku tidak ingin kena timpuknya karena mempermainkannya aku buru-buru menangkap hewan-hewan itu dan membuangnya.
"Huh, ternyata orang keras kepala sepertimu itu takut pada kecoak." Aku menertawakannya dan balasannya adalah dia melotot padaku.
"Orang Jepang tidak punya rasa takut!"
Itu adalah alasan yang sungguh buruk ketika jelas-jelas aku sudah melihatnya ketakutan.
"Oh ya, kalau begitu kenapa kalian orang-orang Jepang berteriak "Gyaaa! Gyaaa!" saat kota diserang Godzila?! Aku yakin ini bukanlah sesuatu yang berkaitan dengan humor."
"Itu benar."
"Mana mungkin aku percaya!"
Memangnya siapa orang yang berteriak "Gyaa! Gyaaa!" ketika dirinya sedang merasa tergelitik?
"Hallo, semuanya!"
Seseorang tiba-tiba masuk ke dalam apartemenku sambil memberikan sapaan seperti itu pada kami.
Dan ketika aku melihat, aku menemukan seorang wanita dewasa berjalan ke arah kami bersama tiga anak kecil.
"Mama?!" kata Niko dengan ceria dan langsung menghampiri wanita tersebut dan memeluknya.
Wanita yang terlihat masih berumur awal akhir dua puluhan meski kenyataannya lebih dari itu, yang bagaikan sosok Niko yang telah tumbuh dewasa ini adalah ibu kandung Niko.
Dia mengenakan mak-up minimalis yang menghiasi kulit putih indahnya. Rambutnya yang yang cukup panjang seperti Niko diikat ke belakang. Dia mengenakan pakaian kasual berupa kaos putih dan denim yang membuatnya terlihat awet muda. Sosok dan kulitnya yang seolah tidak terlihat pudar, membangkitkan ilusi seolah-olah aku terdampar ke masa delapan tahun lalu.
Setelah membalas pelukan anak pertamanya, ibu Niko menatap ke arahku dan tersenyum ramah.
"A-anu tante, selamat siaaaaAAAARRRGHH!"
Ibu Niko meremas erat lengan kiriku yang terluka sambil tersenyum mengancam begitu aku hendak mengucapkan salam. Jari-jari yang ramping itu terbenam dalam kulitku bagai alat penjepit.
"Sudah delapan tahun sih ya. Pasti kamu sudah lupa. Bukan tante tapi Yazawa-san, kan? Oke, repeat after me. Ya-za-wa-san ."
"Ya-Yazawa-san..."
"Yes yes. Del-kun memang anak yang baik."
Yazawa-san tersenyum lalu melepaskan cengkramannya. Bukan Cuma penampilan, sifatnya juga mengingatkanku bahwa dia dalah ibu dari Niko.
"Anu, ada apa datang kemari?"
"Aku hanya ingin menjengukmu. Kudengar kau terluka. Karena Niko yang merawatmu, dia jadi tidak bisa mengurusi adik-adiknya, jadi akulah yang harus mengurus mereka. Dan karena mengurus mereka, maafkan aku karena aku belum sempat menjengukmu sampai saat ini."
"Begitu ya. Terima kasih atas perhatiannya."
Aku merasa tersentuh mendengarnya. Biar bagaimana pun kata-kata wanita ini sudah seperti kata-kata ibuku sendiri.
Sementara itu Niko menyambut kedatangan adik-adiknya. Yang paling besar itu adalah Kokoro. Lalu yang agak kecil dengan potongan rambut ekor kuda yang di tempatkan di bagian kanannya itu adalah Cocoa. Mereka beruda sangat manis dan begitu imut. Mereka hampir mirip dengan Niko, mereka sudah seperti versi kecilnya. Dan yang terakhir sekaligus yang paling kecil itu satu-satunya laki-laki, dia adalah si bungsu Koutarou.
Bocah-bocah itu mendekati Niko dengan begitu riangnya seperti kurcaci-kurcaci kecil. Niko menerima mereka semua dengan begitu lembut. Kelihatan bahwa dia telah memanjakan mereka semua.
Jika dipikir-pikir lagi, Niko hanya akan bersikap seperti itu hanya pada keluargakanya. Bersama ibunya dia akan menampakkan sisi kekanak-kanakkannya dan ibunya akan memanjakannya karena tingkahnya. Lalu saat bersama adik-adiknya, dia akan bertindak seperti kakak yang sangat baik yang begitu menyayangi mereka semua.
Aku terus menatap kebersamaan mereka yang begitu menghangatkan. Niko mengirimi suatu ucapan singkat.
"Kalian tidak nakal kan saat mama mengurus kalian?"
Secara bersamaan mereka menggeleng dengan begitu menggemaskan.
"Bagus. Kalau kalian baik, kakak nanti akan memberikan kalian tiket gratis pada konser kakak yang selanjutnya."
Begitulah mereka merasa begitu senangnya. Dan meledak oleh kegembiraan.
"Niko, mama ingin pergi mengajak mereka ke teman mama. Teman mama juga punya anak kecil disana, jadi kupikir mereka bisa bermain bersama disana.
"Iya. Silahkan bersenang-senang."
"Rawatlah Del-kun dengan baik."
Setelah mengucapkan itu, Yazawa-san meninggalkan kami dengan mengajak Kokoro beserta Cocoa dan Koutarou.
Sekarang yang ada disini hanya tinggal kami berdua.
Keheningan jatuh saat itu juga.
Baik aku maupun Niko yang tadinya dalam acara makan sama sekali tak berinisiatif untuk kembali menyentuh makanan kami. Bahkan Niko masih di tempatnya terakhir kali bersama adik-adiknya.
Aku melirik pada tempatnya beberapa kali dan beberapa kali kembali tidak meliriknya.
Hanya sampai aku yakin, aku baru memangggilnya. "Nee..."
Panggilanku mungkin begitu lirih, tapi hanya gara-gara suaraku merupakan satu-satunya berjalan pada udara di ruangan ini kuyakin telah tersampaikan padanya. Terbukti ketika aku melihatnya menoleh.
Ada jeda waktu untukku mengatakan ini tapi pada akhirnya aku benar-benar mengatakannya.
"Apa kau juga akan bersikap seperti itu kalau kita menjadi sebuah keluarga?"
Itu perlahan pipinya memerah seolah-olah dia memiliki proses sadar yang tersendat-sendat. Dan begitu sepenuhnya sadar dia membeku.
Dengan sia-sia berusaha menimbun keheningan yang lagi-lagi datang seperti perkataannya itu sudah di ujung mulutnya namun tak bisa ia muntahkan.
Dia benar-benar ingin mengatakan sesuatu dalam keheningan itu tapi dia juga benar-benar tidak bisa menyampaikannya.
Niko adalah gadis baik. Bukannya aku tidak cukup dengan dirinya yang seperti biasanya padaku. Tapi dia benar-benar terlihat sangat berbeda saat bersama keluarganya. Seorang kakak yang penyayang, sekaligus Anak baik dan manja.
Dalam lubuk hatiku aku juga meninginkan hal itu. Kalau begitu hanya satu arti untuk semua itu.
"Mungkin lucu mendengarnya sekarang, tapi aku menyukaimu. Bukan Eri atau siapa pun, tapi hanya kau yang kucinta."
Manusia adalah makluk yang tidak bisa mengatasi kekosongan, setiap hilangnya hidup mewah yang sudah terbiasa dijalaninya. Kemewahan itu adalah aku telah kehilangan kenormalan kehidupanku, dari hal itu seberapa kuat pun aku ternyata aku benar-benar membutuhkan sesuatu untuk mengobatinya atau setidaknya menjadi penggantinya meski itu tidak benar-benar disebut mengganti.
Dalam hal ini, sesuatu itu mungkin bisa diwujudkan pada sesuatu yang benar-benar kuinginkan. Sesuatu yang benar-benar ingin kuterima sejak dulu. Yang ingin kudapatkan. Kurasakan.
Niko tampak seperti begitu tertegun mendengar ucapanku, tapi dia juga tampak begitu menyesal.
"Aku..."
Mulutnya bergerak dengan depresi. Itu hampir seperti air mata akan berlinang dari sudut matanya. Itulah kenapa dari tadi aku merasa aku harus berbicara dengan selembut mungkin.
"Kau tidak perlu menjawabnya jika itu sulit."
Orang-orang hanya mendengar apa yang ingin mereka dengar serta orang-orang menginginkan hanya pada apa yang mereka harapkan. Aku juga tidak ada bedanya.
Pada kenyataannya aku menginkan jawaban baiknya segera.
Niko menggosok matanya dan kemudian mengangkat kepalanya dengan kuat.
"Aku juga menyukaimu. Aku sangat mencintaimu, Delsin."
Aku dengan lembut tersenyum padanya.
Selagi aku memasang ekspresi seperti itu dan saling bertatapan dengannya, aku dapat meresakan tubuhku sedikit bergetar.
Niko mengisak dan mengusap matanya. Dia kemudian berbicara dengan nada berkaca-kaca.
"Aku sudah menyukaimu sejak dulu. Meski kita telah terpisah selama delapan tahun, sampai saat ini kau tidak bisa berubah selain sebagai orang istimewa untukku."
"Niko..."
Aku dengan cepat menggerayai ucapannya, tapi hanya sebatas memanggil namanya.
Ada hal yang ingin kusampaikan. Tentang semua perasaan yang saat ini sedang kurasakan. Tapi kata-kata yang mewakili perasaan itu tidak terbentuk.
Aku mencari kata-kata yang kuinginkan untuk menyampaikan padanya, pandanganku tak berpaling hanya tertuju pada Niko. Tapi itu tidak terasa seperti aku sedang melihatnya.
Pandanganku sedang mencari-cari kata-kata.
Dan pandangan itu tiba-tiba kabur.
"Niko aku..."
Meski aku memulainya lagi, aku masih tidak bisa menemukan kata-kata itu.
Apa yang harus kukatakan? Aku sudah mengatakan perasaanku padanya. Perasaan yang terpendam dan kata-kata ungkapan yang telah berada dalam pikiranku itu telah kuucapkan. Yang sakarang, seharusnya aku sudah memikirkan kata-kata untuk apa yang tengah kuinginkan saat ini.
—ahh, aku paham. Pada akhirnya, hal-hal yang coba kukatakan, tidak peduli di mana aku dan tidak peduli seberapa banyak pun aku memikirkannya, hanya ada satu pemikiran dan satu perasaan yang sama.
Mengenai yang telah terjadi
"... Aku tidak ingin mati!"
Dalam seketika aku berada dalam rangkuhan.
"Aku juga tak mau kau pergi meninggalkanku."
Aku tengah di dekam. Sensasinya begitu menghangatkanku. Dan membiarkan perasaanku mencelos pada satu kali serangan.
Aku membalas pelukan yang diberikan Niko padaku. Aku yang tengah duduk dan Niko yang berdiri, saling menyilangkan tangan pada tubuh satu sama lain.
Pelukan yang dibalas pelukan. Baik aku atau dia seperti betah untuk terus seperti ini.
Aku menginkan untuk waktu berhenti dalam moment ini. Mengunci kebersamaanku dengannya. Hanya saja itu tidak dapat terjadi.
Kami meregangkan jara diantara kami dengan tangan masih saling menaut pada tubuh satu sama lain.
Yang mengisi bidang penglihatanku adalah wajah Niko. Dan Yang mengisi bidang penglihatannya adalah wajahku. Lalu begitulah kami mengikis jarak diantara wajah kami.
Bibir bertemu dengan bibir.
Itu menjadi pengalaman tak terlupakan. Karena ya ampun, bibirnya lembut sekali.
Dan itu menjadi satu-satunya, yang pertama, sekaligus yang terakhir karena semuanya pun berakhir pada titik di ujung hidupku.
.
.
.
Fin
[1] Sekolah mengambang yang semua siswanya memiliki kekuatan supernatural
[2] Parodi Kimi no Nawa, yakni bercerita tentang dua karakter yang jiwanya saling bertukar
A/N :
Yah, dan akhirnya ini selesai.
Maafkan aku, aku baru ingat saat itu aku telah membuat jadwal penyelesaian fic ini adalah seminggu setelah prolog ini di publish. Tapi aku baru menyelesaikannya sekarang.
Itu karena jadwal deadlinenya di undur yang sebelumnya adalah tanggal 30 November menjadi 20 desember dan itu membantuku untuk membiarkan fic ini terlantar.
Hanya karena deadline mundur. Aku jadi benar-benar meremehkan ini semua. Dan kau tahu, aku baru benar-benar menulis itu dimulai senin kemari dengan chapter dua baru mendapat separuhnya yakni sekitar 6k word.
Itu semua sangatlah ngebut, dan aku belum tidur sampai sekarang.
Niatnya adalah untuk setelah ini aku akan hidup di surga mimpiku untuk beberapa waktu selagi kalian membaca apa yang aku tinggalkan.
Yah, tolong bagaimana tentang kritiknya. Itu aja, dan terima kasih sudah mau membacanya.
