(Try to read this fanfic while playing #One Ok Rock - Etcetera)

.

.

Berikanlah aku sebuah kesempatan.

Maka akan ku-ubah seluruh hal buruk yang pernah terjadi.

Aku berjanji demi apapun yang ada, apabila aku bisa memeluk bulan kembali, tak akan kubiarkan sinarnya redup.

Jadi walau untuk terakhir kalinya, aku harap, bulan itu tak akan pernah redup.

Jangan hiraukan sebuah bintang yang hampir mati.

Karena di antara kerumunan bintang,

Bulanlah yang paling indah.

Maka izinkan aku, kepada siapapun yang memerintah waktu.

Izinkan ia, sang bulan, memperoleh kebahagiaan yang tak bisa aku berikan padannya.


LAST (ING)

Gintama And all the character belong to ©Hideaki Sorachi

This Fanfiction belong to me

WARNING

Typo, OOC, M-rated (for safe)

RnR ~


"Begitu...sudah kuduga kau pasti akan mengatakan ini."

.

.

"Kalau kau memang ingin berpisah dariku, aku tidak keberatan"

.

.

"Justru aku memang menunggumu mengatakan hal itu."

Begitu katanya.

Begitulah saat semuanya berakhir. Tiga kata itu sudah cukup untuk mengakhiri semuanya. Bukankah kata-kata itu secara tidak langsung mengatakan bahwa dari awal memang ia menghendaki hubungan pernikahan ini pupus?

Cukup.

"Kalau begitu segera ceraikan aku Gintoki ! kau pikir kau beebas mempermainkan perasaanku?!"

Ia tak membuka mulutnya. Hanya memandangiku dengan tatapan nanar yang aneh.

"Harusnya aku tidak mempercayaimu ! harusnya aku tahu ini akan terjadi! Betapa bodohnya!"

Muak melihat wajahnya, dengan cepat aku berdiri hendak meninggalkan ruangan itu. tapi tangan besar itu menggenggam pergelangan tanganku dan seketika mengehentikan langkahku.

"Tsukky... apa kau akan meninggalkan rumah? Ini sudah malam, mari selesaikan ini besok pagi." Wajahnya menyorotkan ekspresi yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata.

Cengkramannya begitu kuat hingga aku tak bisa melepaskannya dengan tenagaku.

"Lepaskan aku Gintoki! " aku berteriak, "Apa pedulimu kalau sesuatu terjadi padaku?!"

"Bicara apa kau Tsukky, tentu kalau kalau sesuatu terjadi padamu aku ─ "

"Berisik !"Aku berteriak.

Kacau, aku benar-benar kacau. Apapun yang kupikirkan hanya betapa marahhnya aku pada Gintoki. Empati saat itu bagai tidak disisakan ruang lagi oleh amarahku.

"Tsukky... mari kita bicarakan ini." Gintoki masih menggenggam pergelangan tanganku. Suaranya bergetar dan aku tahu ia ingin mengatakan sesuatu.

Tapi aku terlalu muak.

Aku muak dengan penjelasan.

Penjelasan tidak lain dari sekedar alasan yang dibumbui empati dan kemakluman. Dan kali ini, aku tak menerima lagi penjelasan apapun.

"Gintoki..." suara melemah tapi amarahku tidak sedikitpun menyurut. "Carilah kebahagianmu yang tak bisa aku berikan padamu. Karena aku tidak akan kembali lagi ke sini."

Setelah itu yang kutahu adalah genggaman suamiku itu lepas, lalu kakiku telah membawaku pergi, keluar dari rumah itu. Meninggalkan bangunan itu beserta seluruh kenangan di dalammnya.

Satu yang mungkin pasti. Aku tidak akan kembali lagi ke rumah itu.

.

.

.

.

.

.


Aku benar-benar mencintaimu Tsukuyo.

Apakah itu yang akan kukatakan kini, saat kau bahkan tak disini lagi.

Sial.

Aku bahkan tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan.

Pria brengsek ini sudah kehilangan jiwa peraknya. Sekarang ia benar-benar kehilangan tujuan.

Aku melepaskanmu pergi karena kupikir, kau akan lebih bahagia setelahnya. Tapi aku mengabaikan fakta bahwa aku menyakiti diriku sendiri.

Perlu kau ketahui, Tsukky. Tidak ada gunanya aku melakukan sesuatu yang kau benci. Dan semua yang kulakukan adalah untukmu.

Sudah tidak adakah kesempatan lagi untuk aku menjelaskan?

Tsukky..., obat yang dimaksud sensei itu,

.

.

.

"Harganya hampir 100.000 yen."

Aku mengatakannya. Berharap entah bagaimana caranya, istriku yang entah ada di mana sekarang bisa mendengarnya.

Pekerjaanku hanya sebagai Yorozuya. Aku bukan pengusaha yang dengan mudahnya mendapat uang yang jumlahnya sebanyak itu.

Jujur saja, waktu itu ada seorang wanita yang datang ke Yorozuya untuk menyewa jasa. Jasa yang konyol sebenarnya.

Kekasih sewaan. Lebih kasarnya bisa saja dibilang selingkuhan.

Wanita ini sudah bersuami. Ia memiliki masalah dengan suaminya, dan ia ingin bercerai. Namun suaminya sangat mencintainya sehingga tidak ingin menceraikan wanita ini. Tapi wanita ini terlihat amat membenci suaminya hingga ia benar-benar ingin bercerai. Jadi ia menyewaku untuk menjadi selingkuhannya selama seminggu, sengaja agar suaminya mendapati ia berselingkuh dan pada akhirnya mungkiin akan menceraikan wanita ini.

Wanita itu menawarkan 150.000 yen sebagai bayaran.

Dan jumlah uang inilah yang membuatku langsung menerima tawarannya.

.

.

Hanya menjadi selingkuhan sementara saja, tapi dengan uang ini, ...

Tsukky tidak akan lagi menyalahkan dirinya karena tidak bisa mengandung.

.

.

Itu yang kupikirkan.

Padahal Pattsuan saat itu sudah menasihatiku.

.

.

"Gin-san! aku mengerti kalau harus profesional ketika bekerja, tapi kau tidak takut karma? Kau kan sudah menikah, tapi kau sengaja menjadi selingkuhan seorang wanita yang sudah bersuami untuk membantunya bercerai, waspadalah terhadap karma, Gin-san !"

Begitu katanya, tapi aku tidak menanggapinya. Toh, dia juga tidak tahu mengapa aku melakukan ini.

Pada akhirnya, kulakukan ini untuk istriku juga.

Lalu si gadis China dengan daya tarik nol juga mengatakan sesuatu padaku.

"Oi, Gin-chan, kalau sampai Tsukki membunuhmu dengan kunai karena melakukan hal ini, aku tidak akan membantumu-aru!"

Ya, pada kenyataannya, dia tidak hanya membunuhku. Ia benar-benar menghancurkanku.

.

.

Aku baru sadar, omongan keduanya itu memang benar. Aku mengutuki diriku sendiri. Memang aku yang salah, dan hal ini pantas terjadi padaku.

.

Tsukky, dimanapun kau berada saat ini, aku harap kau tetap hidup dan bahagia.

Aku harap kau tetap bersinar terang seperti bulan purnama.

Aku harap suatu saat nanti kau bisa memaafkan pria berengsek ini.

.

Malam itu, di dalam rumah yang sepi dan sunyi,

Cahaya bulan tidak menyinari.

Pria itu menangis dalam diam.

Menahan rengekkannya walau sebenarnya ia ingin beteriak.

Aku mencintaimu, Tsukuyo.

.

.

.

.


Dan di sisi lain, wanita yang telah meninggalkan suaminya itu berjalan terhuyung di tengah ramainya Yoshiwara.

Baru kemudian ia mendapati sebuah bungkusan yang di selipkan di balik Obi-nya.

Perlahan Ia membukanya dan mendapati beberapa pil obat yang ia tidak tahu untuk apa.

Bukan hanya itu, di sisi lain bungkusan itu ternyata ada beberapa kalimat yang kelihatannya ditulis secara terburu-buru.

Setelah membacanya,Tubuh wanita itu bergetar, air matanya menyeruak dan ia jatuh berjongkok .

Tsukuyo tahu. Suaminya yang menyelipkan bungkusan obat ini beberapa saat yang lalu saat mereka bertengkar dan saat ia mencium Tsukuyo.

Gejolak perasaan pedih menguasainya.

.

.

"Dari Tuan Gin !, asal tahu saja aku seorang pekerja keras! Dan inilah hasilnya, ini obat mahal, resepnya ada di dalam. kau tidak perlu lagi menyalahkan dirimu karena tidak bisa punya anak. suatu saat kau bisa menggendong anakmu, anak kita. Semangatlah!"

.

.


THE END.

A/N : gak tau rated M nya di mana, hahahaha,... ini lanjutan dari Over. Last(ing) itu maksudnya, 'last' artinya terakhir, tapi kalau di tambah 'ing' itu jadinya 'lasting' yang artinya abadi.

Endingnya cukup menyebalkan ya, tapi akhirnyaa cerita GinTsu ini pun selesaaiii,, mohon maaf apabila banyak Typo dan Mas Gin di sini OOC banget banget... haha.. gak kebayang sih klo Mas Gin nangis dalam diam kayak gimana. Kyknya terlalu pedih buat dibayangkan :""(. Oiya,Maaf jugaaa kalau misanya 'feel-nya' kurang dapett...

Terima Kasih sudah Meluangkan waktu untuk membaca FF saayyyaaa..., have a nice dayy !

Regards, Kuron3ko.