Disclaimer : Bungou Stray Dogs bukan milik Riren. Friend of My Brother is my original story.

Rate: T

Pair : Dazai Osamu & Atsushi Nakajima

Genre : Romance, hurt/comfort, humor, drama, and school life.

Warning: AU School, OOC, typo, gaje, gak sesuai dengan EYD, shonen ai romance, and many more.

.

.

.

.

Waktu bergulir dengan cepat dan musim telah berubah. Cuaca kini terasa lebih sejuk menjurus ke dingin saat angin bertiup. Musim panas yang menyenangkan telah lewat dan saatnya para pelajar mulai masuk sekolah.

Dazai dan yang lainnya pun sudah masuk sekolah. Karena sudah masuk musim gugur, pakaian mereka mau tak mau harus lebih tebal dari biasanya serta syal yang melingkar di leher jika tidak ingin terkena flu atau menderita masuk angin.

Atsushi bersama sang kakak pun langsung menuju ruang OSIS setelah keduanya sampai di sekolah. Mereka langsung ke sana karena mendapat email dari sang ketua OSIS yang mengatakan jika ada rapat dadakan. Sesampainya di depan ruang OSIS, keduanya pun langsung membuka pintu dan keduanya di sambut oleh senyuman sang ketua OSIS yang kini sedang bersantai sambil meminum ocha hangat yang di buat Chuya.

"Ohayou, Atsushi kun, Ryuunosuke."

"Ohayou, Dazai senpai."

"Ohayou. Katanya ada rapat dadakan tapi kenapa kau malah bersantai seperti ini, hah ?"

"Calm down, Ryuunosuke. Aku tidak mau memulai rapat jika anggotanya belum lengkap. Sekarang kita semua sudah lengkap, mari kita mulai rapatnya."

"Ano... kita mau membahas tentang apa, Dazai senpai ?"

"Pertanyaan bagus, Atsushi kun. Rapat kali ini tentang acara prom yang akan di laksanakan 1 bulan lagi dan aku ingin kalian berempat membantu menyukseskan acara tersebut. Tema prom tahun ini adalah one night for fairytale. Untuk dress code tentu saja harus memakai pakaian formal. Dress for girl and suit for boy."

"Cepat katakan untuk tugasnya. Biar cepat ku kerjakan."

"Sabar, Chuya sayang. Baiklah, aku akan membagikan tugas kepada kalian semua. Chuya, kau ku tugaskan untuk mencari dan memesan hidangan serta minuman terbaik untuk prom. Jangan lupa untuk mencatat list makanan dan minumannya serta barang-barang lain yang di butuhkan untuk di masukkan ke dalam laporan nanti."

"Baiklah. Tapi, hanya itu saja?"

"Ya, hanya itu saja. Selanjutnya Kunikida, kau ku tugaskan untuk mencatat pengeluaran dan pemasukkan mulai dari hari ini hingga hari H. Usahakan jangan sampai salah, ya."

"Aku mengerti dan tenang saja soal keuangan."

"Ryuunosuke, kau ku tugaskan untuk mengatur perlengkapan acara dan bekerja sama dengan Chuya untuk memberitahu barang-barang apa saja yang di perlukan dan uangnya kau bisa minta pada Kunikida."

"Baiklah."

"Untuk Atsushi kun, ku tugaskan kau untuk menjagaku dari para perempuan dengan menjadi partner ku saat di prom."

"Menjaga senpai? Menjadi partner mu di prom?"

"Intinya kau akan selalu bersamaku saat prom dan tentu saja kau harus memakai gaun dan wig agar terlihat seperti perempuan. Aku tidak terima penolakan atau protes baik dari dirimu atau yang lain."

Dazai pun berbicara dengan nada yang terdengar serius dan terkesan angkuh. Tentu saja hal itu membuat keempat temannya hanya diam sambil menganggukan kepala meski dalam hati berkata sebaliknya.

"Khusus untuk Atsushi kun, setelah kelas selesai, segera temui aku di ruang OSIS untuk latihan dansa. Apa kau mengerti, Atsushi kun?"

"Aku mengerti, senpai."

"Anak pintar. Teman-teman untuk pekerjaan kalian bisa di mulai dari sekarang. Jangan lupa dengan laporannya. Sekian rapat kali ini dan mohon kerja samanya untuk membuat acara prom tahun ini sukses."

"Mohon kerja samanya juga."

Inti dari OSIS pun mulai bergerak yang di ikuti oleh anggota OSIS lainnya. Nampaknya sebulan ke depan akan terasa sangat sibuk bagi para inti OSIS karena harus mengurus ini dan itu walaupun sudah di bagi tugasnya oleh sang ketua.

.

.

.

.

.

.

Waktu bergulir dengan cepat dan bel tanda berakhirnya pelajaran pun sudah berbunyi nyaring. Segera Atsushi mengemasi buku dan alat tulisnya. Setelah selesai, Atsushi segera bergegas menuju ruang OSIS untuk latihan dansa bersama Dazai.

Sebenarnya Atsushi tidak berminat untuk melakukan usulan Dazai tapi sang ketua telah bertitah untuk tidak boleh protes apalagi menolak. Atsushi yakin jika sang kakak ingin sekali memberi bogem mentah pada sang ketua saat itu tapi dia tahan demi menghormati Dazai.

Tak butuh waktu lama, Atsushi pun telah sampai di depan pintu ruang OSIS dan tanpa ragu dia masuk ke dalamnya. Tapi, tidak ada orang di dalam ruangan yang bisa dibilang cukup luas itu. Sosok yang seharusnya menunggu dirinya juga tak nampak dalam ruangan itu.

Tanpa Atsushi sadari, ada sesosok bayangan yang perlahan-lahan mendekatinya...

"Sudah siap untuk latihannya, Atsushi kun?"

"HUWAHHHHHH!"

Seketika Atsushi terjatuh duduk karena kaget ketika sepasang tangan menepuk bahunya dari arah belakang dan suara rendah menggelitik telinganya. Detak jantungnya langsung berdetak tak karuan setelah mendapat kejutan dari sosok tersebut. Ternyata sosok itu adalah...

"Dazai senpai, kau benar-benar mengejutkanku."

"Gomen, Atsushi kun. Sungguh aku tak berniat mengejutkanmu. Oh, ya, sebelum mulai latihan aku ingin bertanya sesuatu padamu. Apakah kau pernah belajar dansa sebelumnya? Minimal langkah dasar dari dansa waltz."

"Belum pernah, senpai. Kalau boleh jujur sebenarnya aku kurang menyukai hal seperti dansa. Aku lebih suka berolahraga. Senpai sendiri bagaimana?"

"Sejak usiaku masih 5 tahun, aku sudah ahli dalam berdansa karena sejak dari kecil aku sudah di latih oleh orang tuaku. Chuya juga sama denganku, sama-sama ahli dalam berdansa walau dari luar tidak kelihatan seperti itu."

"Begitu, ya. Kalau begitu, mohon bimbingannya, senpai."

"Baiklah. Tapi, sebelum itu, aku mau kau memakai yang ada di dalam paper bag ini."

"Ini isinya apa, senpai ?"

"Sebuah dress panjang yang sederhana dan sepasang heel."

Seketika Atsushi langsung membeku mendengar apa yang ada di dalam paper bag tersebut.

"Apakah harus memakai heel untuk berdansa, senpai?"

"Tentu saja harus memakai heel. Ayo, sekarang kau ganti baju dan cobalah berjalan menggunakan heel."

Dazai pun memberikan paper bag pada Atsushi dan Atsushi mau tak mau mengambil paper bag tersebut.

.

.

.

.

.

.

Setelah 15 menit kemudian Atsushi pun keluar dari kamar yang berada di dalam ruang OSIS. Atsushi merasa kesulitan berjalan karena dia tidak pernah memakai heel atau lebih tepatnya tidak akan pernah memakai ini lagi. Belum lagi dress berwarna baby blue yang mempunyai panjang selutut.

"Ku rasa aku tidak cocok memakai ini, senpai."

"Kau salah Atsushi kun. Kau cocok sekali memakainya. Aku bermaksud memujimu, bukan sebaliknya."

"Tapi aku bukan perempuan, senpai."

"I know but it suit with you. Kau sudah siap untuk latihannya, ohime-sama?"

"Aku bukan hime tapi aku sudah siap untuk latihan. Mohon bimbingannya."

"Baiklah. Mendekatlah padaku, Atsushi kun."

Atsushi pun berjalan mendekati Dazai. Kini Atsushi dan Dazai sambil berhadapan.

"Pertama-tama mari pelajari dan pahami gaya awal untuk berdansa. Untuk perempuan biasanya menaruh tangan di lengan atau bahu pasangannya dan tangan lainnya akan di genggam oleh tangan lain dari sang pasangan. Kalau untuk laki-laki biasanya tangan mereka akan ada di pinggang atau punggung pasangannya dan untuk tangan lainnya akan menggenggam erat tangan pasangannya. Akan ku tunjukkan caranya."

Dazai pun menarik pelan Atsushi ke arahnya. Tangan kanannya telah berada di pinggang Atsushi dan tangan kirinya menggenggam telapak tangan kanan Atsushi.

"Atsushi, tangan kirimu harap berada di atas bahu atau lengan atas ku."

"Baiklah, senpai."

Atsushi pun menaruh tangannya di lengan atas Dazai.

"Sekarang kita mulai belajar langkahnya, ya. Kau sudah siap?"

"Aku sudah siap."

"Ok. Ikuti musiknya dan jangan kaku kan badan dan bahumu. Di bawa santai saja supaya kau bisa mengikuti iramanya."

"Baiklah."

Keduanya mulai berdansa mengikuti irama dan tanpa mereka sadari ada beberapa pasang mata yang menatap mereka di balik pintu sambil tersenyum.

.

.

.

.

.

Setelah 1,5 jam berlalu, latihan pun berakhir. Atsushi terlihat sangat lelah dan pegal sementara Dazai hanya terlihat lelah sedikit. Kini keduanya sedang duduk di sofa yang biasa di pakai jika sedang berkumpul dengan yang lain.

"Tak ku sangka kau cepat menangkap apa yang ku ajarkan padamu. Mungkin 2 kali latihan lagi, kau pasti sudah lancar berdansanya."

"Benarkah itu, senpai?"

"Benar. Oh, ya, 3 hari sebelum hari H kau harus ikut bersamaku untuk mencari gaun dan hal lainnya yang di perlukan."

"Yokatta. Tapi, apa itu tidak merepotkanmu?"

"Tentu tidak."

"Ne, senpai kenapa kau memberi tugas ini padaku?"

"Kau sengaja ku pilih untuk mengerjakan tugas ini dengan alasan tertentu yang mungkin tak akan ku ceritakan padamu."

"Kenapa tidak mau menceritakannya padaku?"

"Karena itu rahasia. Berhubung sudah malam lebih baik kita segera beres-beres lalu pulang."

"Baiklah, senpai."

Atsushi langsung pergi ke kamar untuk mengganti bajunya. Tanpa Atsushi sadari, Dazai telah merencanakan sesuatu yang tak pernah dia duga sebelumnya...

.

.

.

.

.

Kini keduanya telah meninggalkan gedung sekolah dan mobil sport warna hitam milik Dazai telah melaju dengan tenang di jalan. Hanya ada sunyi yang mengisi hingga Dazai membelokkan mobilnya ke arah lain dan membuat Atsushi terkejut.

"Senpai, kita mau ke mana?"

"Menurutmu?"

"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga, senpai. Sebenarnya kita mau ke mana?"

"Nanti kau juga akan tahu dan aku tidak berniat jahat padamu. Jadi kau tak perlu takut."

"Dasar senpai pelit. Tapi, aku percaya padamu."

"Seriusan percaya padaku?"

"Seriusan tapi jika senpai berani berbuat jahat padaku maka aku akan melaporkannya pada onii chan dan Chuya senpai."

"Jika aku berkata tidak takut pada mereka berdua bagaimana?"

"Maka aku akan melaporkan senpai ke polisi."

"Atas tuduhan apa?"

"Penculikan seorang siswa SMA."

"Buktinya aku menculikmu bagaimana?"

"Soal itu..."

Atsushi terdiam karena tidak tahu harus menjawab apalagi. Tak lama suara tawa Dazai terdengar dan membuat Atsushi menoleh ke arah seniornya dengan tatapan bingung.

"Senpai kenapa kau tertawa? Memangnya ada yang lucu dengan ucapanku?"

"Ucapanmu tidak ada yang lucu hanya saja ekspresi wajahmu membuatku tertawa."

"Memangnya ada yang lucu dengan ekspresi wajahku?"

"Ada. Kau menunjukkan ekspresi ketakutan dan panik padahal aku hanya bercanda soal menculikmu itu."

"Terserah senpai aja deh. Tapi, aku penasaran kita mau ke mana."

"Aku kan sudah bilang tadi. Kau akan tahu kita akan ke mana."

Atsushi langsung memanyunkan bibirnya setelah mendengar perkataan Dazai tadi. Tapi, Atsushi percaya jika Dazai tak akan berbuat jahat padanya walapun Dazai itu orangnya sangat jahil.

Pada akhirnya Atsushi hanya bisa memandang lampu-lampu jalanan yang berwarna-warni.

.

.

.

.

Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di suatu tempat. Ya... lebih tepatnya di depan sebuah gerbang rumah.

Gerbang besar dan kokoh yang terbuat dari kayu itu pun terbuka dan segera Dazai melajukan mobilnya kembali. Tak lama mereka pun berhenti di depan sebuah pintu yang bisa di bilang cukup besar.

"Saatnya turun, Atsushi."

"Eh?"

"Kita sudah sampai di rumahku."

"Eh? Rumah senpai?"

"Lebih tepatnya rumah orang tuaku sih. Ayo, masuk."

Dazai pun menarik tangan Atsushi dan keduanya melangkah menuju dalam rumah.

.

.

.

.

.

Sesampainya di dalam Atsushi kembali terkejut karena barisan maid dan butler menyambut kedatangan dirinya dan juga Dazai.

"Okaerinasaimase, goshujin sama."

Secara kompak barisan maid dan butler itu mengucapkan salam pada sang tuang muda.

"Tadaima."

Tak lama seorang laki-laki paruh baya datang menghampiri mereka.

"Selamat datang di kediaman keluarga Dazai. Maaf jika baru memperkenalkan diri. Nama saya Tanaka. Saya bekerja di sini sebagai kepala pelayan di kediaman keluarga Dazai. Senang bertemu dengan anda, Atsushi sama."

"Anda tahu nama saya dari mana?"

"Goshujin sama selalu bercerita tentang anda kepada tuan dan nyonya serta saya."

"Begitu, ya. Senang berkenalan dengan anda juga, Tanaka san."

"Jiji nanti tolong suruh pelayan untuk menyiapkan kamar dan yang lainnya untuk Atsushi. Satu lagi tolong bawakan camilan dan teh untukku dan juga Atsushi."

"Saya mengerti, goshujin sama."

"Terima kasih, jiji. Ne, Atsushi kun sekarang kita temui kedua orang tuaku."

Dazai kembali menggandeng tangan Atsushi menuju lantai 2. Atsushi pun pasrah saat Dazai menggandeng tangannya menuju lantai 2. Selama perjalanan menuju ke lantai 2, diam-diam Atsushi sangat kagum akan interior rumah seniornya yang satu ini. Benar-benar terkesan klasik sekaligus mewah.

Tak lama keduanya telah sampai di depan sebuah beranda. Atsushi dapat melihat 2 orang yang sedang menikmati langit malam bersama.

"Otou sama, okaa sama, tadaima."

Kedua orang itu menoleh dan tersenyum saat melihat sosok Dazai dan Atsushi. Keduanya pun menghampiri dua pemuda yang usianya tak begitu jauh itu.

"Okaeri, Osamu kun."

"Okaeri, dear."

Atsushi hanya bisa terdiam saat melihat betapa hangatnya pemandangan di depannya.

"Dear, apakah dia yang bernama Atsushi?"

"Ya. Dia Atsushi yang sering ku ceritakan itu, okaa sama. Dia imut, bukan?"

"Imut sekali, dear."

Atsushi hanya bisa tersenyum tipis mendengar ucapan ibunda Dazai. Walau dalam hati Atsushi merasa kurang senang dipanggil imut.

"Okaa sama, otou sama, Osamu mau antar Atsushi dulu ke kamarnya. Oh, ya, makan malam hari ini apa?"

"Makanan favoritmu, dear."

"Asyik."

Dazai pun meloncat kegirangan hingga membuat sang kouhai terkejut karena tingkah lakunya mirip jet coaster.

"Maaf kalau boleh tahu makanan favorit senpai apa?"

"Menurutmu?"

"Sungguh aku tidak tahu, senpai."

"Dear, jangan menjahili Atsushi."

"Aku tidak menjahilinya, okaa sama. Aku hanya memberi kuis kecil padanya sebagai calonku."

"Calon apa, senpai?"

"Himitsu. Otou sama dan okaa sama tidak keberatan kan?"

"Otou sama dan okaa sama setuju saja asalkan kamu mau berjanji untuk selalu setia padanya dan bisa membahagiakannya serta membuatnya merasa nyaman saat bersamamu."

"Soal itu Osamu bisa memenuhinya, otou sama."

"Itu baru namanya putraku."

"Ano... maaf memotong pembicaraan kalian. Dari tadi kalian membicarakan apa?"

"Tentang masa depan, nak Atsushi."

"Masa depan?"

"Iya, masa depanmu dengan-"

"Please stop it, otou sama. Biar saja Osamu yang sampaikan saat menemukan waktu yang tepat."

"If you wish, i can't say no. Otou sama hope you always happy with him."

"Thank you, otou sama. I hope so."

Walau tidak terlalu buruk dalam pelajaran bahasa Inggris, Atsushi tetap saja belum begitu mengerti apa yang dibicarakan oleh senior dan ayah dari seniornya itu.

"Atsushi kun, mari ikut aku menuju kamarmu."

"Baiklah, senpai. Oji sama, oba sama, saya permisi dulu."

"Jangan terlalu kaku dengan kami, nak Atsushi. Mulai sekarang kau harus memanggilku dan istriku dengan panggilan otou san dan okaa san. Apa kau mengerti, nak?"

"Aku mengerti."

"Anak baik. Osamu pastikan nak Atsushi merasa nyaman dan tenang di rumah kita."

"Tenang saja, otou sama."

Tak lama Atsushi merasa tangannya ditarik lembut oleh seseorang yang kini berjalan di depannya. Rasa hangat kembali menyelimuti Atsushi saat tangannya bertaut dengan tangan Dazai.

.

.

.

.

.

.

Sepasang manik bergradasi ungu kuning membulat sempurna saat melihat kamar tidurnya untuk malam ini. Sebuah ruangan luas dengan fasilitas yang bisa dibilang cukup mewah. Rasa dingin dan harum ruangannya membuat Atsushi merasa nyaman dan tenang. Walaupun Atsushi dari keluarga yang berkecukupan tetap saja kamar tidurnya malam ini berukuran 2 kali lebih besar dari kamarnya di rumah.

"Apa kau menyukai kamar ini?"

"Jika boleh jujur, aku cukup menyukai kamar ini."

"Syukurlah kalau begitu. Lebih baik sekarang kau mandi dan setelah itu kita makan malam bersama dengan kedua orang tuaku."

"Baiklah. Tapi..."

"Tapi apa?"

"Tapi... aku merasa tidak enak jika harus makan malam bersama dengan keluarga senpai. Aku kan orang luar."

Tanpa Atsushi duga sebuah tangan memegang dagunya dan mau tak mau manik milik Atsushi bertemu dengan manik milik Dazai yang kini menatapnya dengan tatapan yang sangat serius.

"Atsushi sayang, bisakah kau membuang jauh-jauh rasa tidak enakmu itu?. Otou sama ku sudah bilang kalau kau tidak perlu bersikap kaku. Satu lagi, aku ingin kau makan malam bersamaku dan juga kedua orang tuaku. Ini adalah perintah dan aku tidak menerima penolakan."

Mau tak mau Atsushi menganggukan kepalanya, tanda menyetujui ucapan Dazai. Selain itu Atsushi mulai merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya saat matanya bertemu dengan mata milik Dazai.

Dazai pun tersenyum saat melihat respon Atsushi yang akhirnya mau menerima ucapannya.

"Maaf senpai, bisakah kau melepaskan tanganmu dari daguku?"

"Wah... maaf. Oh, ya, baju gantinya ada di lemari dan kau boleh pakai yang mana saja. Aku ingin kembali ke kamarku. Tunggu aku disini biar bisa ke ruang makan sama-sama."

"Baiklah, senpai."

Tak lama Dazai melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Atsushi dan Atsushi pun segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar tersebut.

.

.

.

.

.

Setelah 30 menit, Dazai dan Atsushi pun pergi ke ruang makan untuk makan malam dan makan malam tersebut berjalan dengan tenang dan hikmat hingga hidangan yang mereka makan habis.

"Osamu, bagaimana sekolahmu?"

"Seperti biasa, lancar dan tak ada halangan."

"Otou sama mendapat kabar dari bawahan otou sama jika tak lama lagi akan diadakan prom night di sekolahmu. Apa itu benar?"

"Benar, otou sama. Osamu yang menjadi penanggung jawabnya."

"Begitu, ya. Apakah nak Atsushi juga ikut dalam acara tersebut?"

"Tentu saja, otou sama. Atsushi akan menjadi pasanganku saat prom night nanti."

Atsushi hanya bisa menundukan wajahnya. Tentu saja karena malu pada kedua orang tua Dazai.

"Kamu sudah mempersiapkan perlengkapan untuk Atsushi, dear?"

"Perlengkapan untuk Atsushi sudah Osamu persiapkan, okaa sama."

"Syukurlah kalau begitu. Osamu, Atsushi, lebih baik sekarang kalian beristirahat karena hari ini pastinya melelahkan dan besok kalian harus masuk sekolah."

"Baiklah, okaa sama. Osamu dan Atsushi kembali ke kamar duluan. Oyasuminasai."

.

.

.

.

.

Selam perjalanan menuju kamar masing-masing hanya ada sepi karena keduanya tak berniat untuk berbicara hingga mereka sampai di depan kamar pintu masing-masing.

"Terima kasih banyak untuk hari ini, senpai."

"Sama-sama, Atsushi kun."

"Selamat beristirahat, senpai."

Saat hendak meraih pegangan pintu kamar, tiba-tiba sebuah tangan menarik lengan Atsushi dan hal tersebut sukses membuat Atsushi terkejut.

Sebuah sensasi lembut, kenyal, dan sedikit basah di rasakan oleh Atsushi bagian dahinya. Ya... Dazai memberi sebuah kecupan di dahinya. Sebuah kecupan yang lembut dan penuh kasih sayang.

Secara spontan detak jantung Atsushi serasa habis lari marathon berpuluh-puluh kilometer dan semburat berwarna merah muda mulai menghiasi pipinya yang putih. Atsushi merasa ingin pingsan karena terlalu terkejut dan mungkin sedikit senang.

Setelah 5 detik, Dazai menjauhi wajahnya dari Atsushi. Sebuah senyum simpul tercetak jelas di wajahnya yang membuat kaum hawa berlutut padanya. Secara reflek, sebelah tangan Atsushi menyentuh dahi yang dicium oleh Dazai tadi.

"Kenapa..."

"Hm?"

"Kenapa senpai mencium keningku?"

"Menurutmu kenapa?"

"Entah kenapa hari ini senpai selalu saja menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan juga. Rasanya menyebalkan tahu."

"Don't be so angry, Atsushi. Mungkin yang satu ini akan ku jawab. Alasanku mencium dahimu yaitu..."

"Yaitu?"

"Ya... karena aku ingin memberikan ciuman selamat tidur untuk kouhai ku yang manis ini."

"Aku ini laki-laki dan aku tidak suka di bilang manis, senpai."

"Bagiku kau itu manis seperti permen kapas."

"Please jangan samakan aku dengan makanan. Lebih baik aku segera tidur daripada harus mendapat gombalan lagi darimu, senpai. Oyasuminasai."

"Kau tidak asyik, Atsushi. Oyasuminasai mo. Have a nice dream."

Keduanya pun masuk ke dalam kamar masing-masing. Sepertinya malam ini mereka berdua akan mimpi indah.

Cerita keduanya masih berlanjut di chapter depan...

.

.

.

.

.

.

つづく

.

.

.

.

.

Author Note:

Halo minna san ^_^

Akhirnya selesai juga ini chapter *ngelap keringet*

Riren balik lagi nih bawa chapter baru hohoho XD

Maaf Riren baru bisa publish ceritanya setelah sekian lama *ojigi ke Kissui san dan para reader*. UTS, tugas yang menumpuk, cari bahan untuk proposal skripsi, dan jadi panitia acara di kampus membuat Riren jadi agak sulit untuk menemukan waktu untuk menulis dan belum lagi inspirasi jarang muncul akibat stress yang kian meningkat *ok jadi curhatkan* . Tapi, untung aja chapter ini udah di cicil dari jauh-jauh hari dan pada akhirnya bisa selesai juga.

Khusus di fall Riren bagi dua soalnya bakal panjang pake banget kalau di jadiin satu chapter. Jadi buat bagian prom nya ada di chapter depan ya. Tapi Riren gak janji bakal update cepet soalnya belum ada waktu luang yang banyak.

Semoga chapter ketiga ini bisa membuat Kissui san dan para reader yang lain bisa terpuaskan dan Riren mohon maaf apabila masih ada banyak kekurangan dalam chapter ini, maklum ngerjainnya dengan mata yang tinggal 5 watt *jadi curhat kan*

Mungkin hanya itu yang ingin Riren sampaikan karena Riren udah ngantuk pake banget.

Sampai ketemu di chapter selanjutnya ya hehehehe ^_^

RIREN