"Di dunia ini, Kyungsoo dan Jongin tidak seharusnya bertemu."
Aku mengingatnya pernah mencintaiku suatu hari di awal musim panas—namun aku tak sebodoh itu untuk percaya bahwa aku adalah cinta sejatinya. Bagaimanapun juga, ia tak pernah sungguh-sungguh mencintaiku.
(Sayup-sayup aku mendengar dokter dan suster bertukar informasi mengenai waktu kepergian satu malaikat Tuhan yang ia letakkan di bumi.
"Waktu kematian, 18.45. Penyebab kematian, kanker otak.)
Maka tak heran bila aku melihatnya menangis meraung-raung seperti orang kesetanan di atas lantai dingin rumah sakit, di samping ranjang kecil itu. Di atasnya, aku melihatnya mayat orang yang ia cintai membeku seolah nyawa di ujung jemari kelingkingnya telah pergi dari dunia ini. Bibirnya yang selalu menyunggingkan senyum padaku seraya berkata, "Halo, Soojung-ah!" itu kini berubah membiru seakan tak ada lagi rona merah yang selalu merekah. Mata yang selalu bersinar ekspresif itu kini tertutup rapat, seolah ia tak ingin melihat dunia yang selalu bertindak kejam padanya.
Raga yang selalu membuatku iri, jantung yang selalu berdetak seirama dengan jantung milik suamiku, hati yang dimiliki oleh seorang Jongin, dan kehidupan yang hanya akan datang sekali di dunia ini tersebut telah hilang.
Aku selalu bilang pada suamiku bahwa Do Kyungsoo dan Kim Jongin tak seharusnya bertemu di dunia ini, namun lihatlah ia. Melolong seperti pengemis menyedihkan di depan mayat kekasihnya yang membeku.
Aku tertawa, membalikkan badanku dan bergegas pergi—suara heels mewahku yang mengeluarkan suara tok tok tok menyentuh lantai adalah salah satu suara yang menemani kesedihan suamiku, mengantar jiwa kekasihnya pergi menuju gerbang menuju surga yang mereka anggap ada.
Aku selalu bilang pada suamiku bahwa Do Kyungsoo dan Kim Jongin tak seharusnya bertemu di dunia ini, namun ia selalu percaya bahwa cinta sejati mereka akan menang melawan apapun yang akan menerjang mereka.
Aku mencengkeram secarik surat di tangan kananku, dan rasanya sungguh panas—seakan kumpulan kata-kata yang tertulis rapi di dalamnya membakarku perlahan.
Dan naasnya, aku tak bisa berbuat apa-apa, karena nyala api tersebut adalah hal yang akan membantuku bernapas lebih lama di samping Jongin.
Di ujung koridor, aku masih mendengar bagaimana suamiku menangis seperti hidupnya telah berakhir di sini, dan hati istri mana yang tak merasa pilu mendengarnya?
Namun lagi-lagi, aku terus melangkah pergi sambil mencengkeram secarik kertas di tangan kananku.
Dengan surat ini, saya, Do Kyungsoo, telah memberikan paru-paru saya untuk pasien dengan nama lengkap Jung Soojung, beserta dengan beberapa organ saya yang masih bisa disumbangkan, untuk didonorkan kepada pasien-pasien di rumah sakit ini yang membutuhkan donor.
Aku selalu bilang pada suamiku bahwa Do Kyungsoo dan Kim Jongin tak seharusnya bertemu di dunia ini, namun aku berharap jika dunia paralel itu memang ada, biarkan aku memberikan kebahagiaanku untuk Kyungsoo agar bisa bersama dengan suamiku.
"Dasar pasangan yang bodoh," kataku lirih di sela-sela air mata yang ikut turun bersama salju pertama di tahun ini; bersama ribuan air mata suamiku yang menetes membasahi gaun biru rumah sakit ini; bersama malaikat pencabut nyawa yang turun ke bumi untuk menjemput malaikat Tuhan yang akhirnya berpulang.
end
