Baru di bulan kelima Wonwoo hafal seluruh hal tentang Mingyu. Dari ujung rambut sampai ujung kuku kakinya yang panjang.
Tetapi ada yang baru ia ketahui saat ia berkunjung ke rumah Mingyu hari ini. Biasanya ia menyembunyikan hal ini tetapi entah kerasukan atau apa, Mingyu mulai blak-blakan.
Soal celana dalam.
Wonwoo sih tidak mempermasalahkan bagaimana bentuk atau warnanya. Tetapi jika Wonwoo bayangkan yang satu ini, rasanya ia tidak bisa berhenti terbahak seharian.
Gambar pororo dimana-mana, astaga.
Tidak tahu sih, Mingyu beli dimana. Ia belum pernah menemukan yang bergambar untuk ukuran lelaki dewasa. Warnanya sih tidak mencolok, hanya ada tiga warna gelap saja.
Ini adalah aib untuk Mingyu dan hanya Wonwoo yang mengetahuinya.
"Ya ampun, Gyu, darimana kamu dapat semua ini?"
"Ya aku sih hanya diberikan saudaraku. Maunya untuk Minseo, tetapi saudaraku terlalu polos sampai tidak tahu mana yang harusnya untuk perempuan. Aku jadi agak tersinggung nih."
"Kenapa begitu?"
"Bukan apa-apa, lupakan saja."
Wonwoo sebetulnya ingin bertanya, "Mengapa kamu buka-bukaan soal ini?"
Tetapi Mingyu sudah lebih dulu bicara tentang apa yang ada dikepalanya. "Aku buka-bukaan karena... Kupikir kamu itu yang paling cocok denganku, dibanding mantanku."
Lalu Wonwoo mengulas senyuman jahil, "Kamu yakin sekali kalau aku bakal jadi istrimu, begitu?"
Mingyu mengeryit, "Ya, kenapa tidak?"
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"
"Akan aku paksa."
"Tidak boleh memaksa kehendak orang."
"Terserah aku dong."
Pipi Wonwoo agak bersemu, senyum jahilnya berganti menjadi senyuman malu.
"Kamu ini lucu ya, Gyu."
"Lucu bagaimana? Aku tampan."
"Lucu jika hanya pakai celana dalam pororo-mu."
"Oh, kamu mau lihat aku begitu?"
"Boleh juga."
"Kamu liar juga ya."
Yah, dan Mingyu juga baru tahu kalau Wonwoo itu cukup liar. Setidaknya, Wonwoo liar hanya untuknya, bukan?
End.
Haha. Maaf pendek, aku gabisa nulis panjang-panjang. Makasih ya udah review/fav/follow aku cinta kalian
