.
.
Satu
.
.
.
.
Bungkusan besar yang dibawanya hampir oleng, tubuh kecilnya mencari sela di tengah hiruk pikuk manusia yang tengah berkerumun menanti puluhan batang kembang api yang siap luncur, nafasnya sedikit terengah, dililitkannya syal tebal di leher yang sedari tadi hampir jatuh merosot – " TIGA… DUA…. HAPPY NEW YEAR!"
Satu demi satu kembang api meluncur, meledak di langit luas yang semula gelap menjadi terang karena jutaan percikan warna-warni yang begitu terang, terlihat indah, dan orang-orang yang berkerumun itupun bersorak sorai, penuh tawa, bahagia. "Hey, nak, ini." sebuah hot pack terjulur, si lelaki bertubuh mungil yang masih sibuk dengan syal dan bungkusannya yang kini mendarat di dekat kaki kanannya mendongak, mendapati seorang lelaki dengan senyum kebapakannya, memberinya sebungkus hot pack. "Jaga tubuhmu tetap hangat selama bekerja." tambahnya lagi. "Siapa namamu?" Lelaki yang ditanya mendongak lagi setelah berujar terimakasih dan menyimpan hot pack di dalam saku mantelnya, ia merasa hangat, kemudian dengan senyum dan nafas yang mengepul karena hawa dingin ia menjawab. "Baekhyun."
Si lelaki yang bertanya mengangguk, memandang Baekhyun untuk terakhir kali lalu menepuk pundaknya. "Istirahatlah dulu, kembang api yang paling besar akan dinyalakan sebentar lagi." ujarnya sebelum melangkah pergi.
Baekhyun mengedipkan mata kecilnya, yah, tentu saja seseorang akan menyuruhnya beristirahat, dia bolak balik hampir tiga kali untuk mengambil barang dan membawanya ke restoran ramyeon tempat ia bekerja. Tak banyak toko atau restoran yang buka di malam tahun baru, dan Baekhyun beruntung karena tempatnya bekerja memilih untuk buka dan itu berarti ia akan dapat upah lebih. Jujur saja untuk seorang pelajar yang jauh dari rumah asal dan harus bekerja keras untuk mendapat uang saku lebih banyak, kesempatan seperti ini sungguh jarang didapat. Baekhyun memilih mendengarkan lelaki tua tadi setelah menimbang-nimbang beberapa menit, ia menyandarkan punggungnya yang – Jujur saja – Seperti hampir patah, di pagar besi pembatas taman dengan pinggiran jalan di belakangnya, dilihatnya beberapa orang tengah menyalakan kembang api yang ukurannya memang luar biasa besar, Baekhyun melihat ujung bawah kembang api tersulut, apinya mengikuti ikatan simpul yang terletak di pangkal dan merambat ke atas sampai suara luncuran benda berwarna merah itu terdengar jelas, butuh waktu hanya sekitar lima detik, sampai kembang api sampai di langit, ledakannya keras, dan Baekhyun seketika terkagum sampai bibirnya terbuka sedikit agak lebar saat percikan-percikan api warna-warni memenuhi langit dengan begitu indahnya, ia menengadah, beberapa detik namun cahayanya masih terang, masih berkerlip-kerlip di langit, Baekhyun memandang takjub, bibirnya tertutup saat ia mengatupkan kedua tangan, membuat permohonan yang mungkin hanya ia yang tahu.
.
.
.
"Baekhyun-ah, kau melihat kembang api dulu tadi?" ahjumma yang memakai celemek dan sedang sibuk mengiris daun bawang segera menanyai begitu melihat Baekhyun dengan bungkusan besarnya memasuki pintu belakang restoran.
"Uh, hanya sebentar ahjumma…" jawab Baekhyun dengan suara serendah mungkin, ia tahu ahjumma yang merupakan boss-nya ini adalah orang yang baik, namun tak jarang pula menjadi galak disaat tertentu.
"Oh… Kalau begitu bantu potongkan ini, ada dua puluh porsi ramyeon yang harus dibuat, setelah ini kau lihat dalam oven, pastikan kentangnya matang, buat juga sepuluh gelas kopi, lima menit lagi yang pesan akan datang."
"Baik ahjumma…"
Sudah terhitung enam bulan semenjak Baekhyun bekerja paruh waktu di restoran ramyeon tempatnya sekarang bekerja, awalnya Baekhyun hanya berniat membantu, namun sang pemilik memberi upah dan Baekhyun yang memang seorang pelajar di salah satu Universitas itu merasa tak ada salahnya pula jika ia menerima tawaran sang pemilik untuk membantu di restoran setelah ia selesai dengan kuliahnya, sekalian menambah uang saku, pikirnya. Maka dari itu setiap senin sampai jumat, sepulang kuliah Baekhyun akan menuju langsung ke restoran ramyeon yang lokasinya tak jauh dari Universitasnya, di dekat pusat kota Daegu yang meskipun kecil namun tak jarang pula Baekhyun merasa kewalahan jika begitu banyak pelanggan yang datang.
Mungkin banyak yang bertanya apakah Baekhyun memang sangat butuh uang sampai-sampai harus bekerja keras begini? Sebenarnya jawabannya tidak, kalau untuk biaya kuliah dan hidupnya selama di kota kecil itu tentu saja kiriman dari orangtuanya sudah cukup, namun ia memiliki banyak keinginan yang mungkin saja tak cukup bila ia hanya menunggu kiriman dana dari orangtuanya, maka dengan tekat yang bulat Baekhyun berniat bekerja.
Di tengah kepulan panci besar berisi ramen Baekhyun menuang bumbu, memasukkan potongan daun bawang yang ia kerjakan sedari tadi, menutupnya kembali lalu dengan gerakan professional menuju oven untuk mengeluarkan kentang panggang yang juga merupakan menu andalan restoran, ia rapikan di atas nampan, kemudian dengan cekatan ia menaruh gelas plastik sejumlah sepuluh buah, ditata dengan rapi, dituangnya cairan panas yang ia ambil dari dalam panci besar di atas kompor yang berada di dekat rebusan ramyeon, Baekhyun menyelesaikan pekerjaannya dengan menutup gelas terakhir, ia bawa dengan hati-hati, berjalan dengan cepat namun seimbang hingga pesanan sampai di meja dengan tanpa menumpahkan sedikitpun, setelahnya ia kembali berlari ke dapur, membersihkan meja dapur yang kotor, peluh yang turun di pelipisnya ia usap berkali-kali, tubuhnya yang mungil sudah cukup familiar dengan kondisi seperti ini, dengan kepulan asap dan belasan menu pesanan yang berderet di meja— Baekhyun menghela nafas dan menengadah, menatap letupan kembang api terakhir yang menyembur di langit, samar-samar meredup, Baekhyun melirik jam dinding dan mendapati jarum jam pendek hampir menunjuk ke angka satu.
.
"Ini." setelah menutup pintu utama restoran Baekhyun dibuat terkejut saat ahjumma menjulurkan amplop, Baekhyun menerimanya dan dibuat terkejut lagi saat isinya lima lembar uang bernominal sepuluh ribu won.
"Ahjumma?"
"Ambillah, kau bilang membutuhkannya? Di awal tahun bukan?"
"Tapi tidak seawal ini." Baekhyun berujar, mengikuti langkah sang ahjumma yang sedang tengah mengambil mantel dan mengeluarkan kunci dari dalam tasnya.
"Tidak apa-apa, kau bekerja sangat keras hari ini." ahjumma tersenyum ramah, ditepuknya bahu sempit yang kini tengah terduduk di salah satu meja yang biasa digunakan pelanggan, senyumnya kian lebar melihat lelaki manis di depannya juga tersenyum "Kau mau buat apa sih gajimu? Liburan? Menraktir pacarmu?"
Baekhyun menghela nafas dengan pertanyaan ahjumma, yah, usia sembilan belas memang saatnya berkencan, Baekhyun mendengus melewatkan kenyataan tersebut. "Tidak ahjumma…"
"Lalu buat apa? Membeli kaset? DVD lagi?"
"Hah?"
"Haha, kau ini, ya sudah, sudah jam tiga lebih, kau pulanglah, dan istirahat."
Baekhyun merengut lucu, dimasukkannya amplop ke dalam tas selempangnya, ia mendengus lagi ketika si ahjumma masih saja tertawa, menikmati sekali menertawai lelaki polos bernama Baekhyun.
.
.
.
"Kusimpankan satu untukmu hyung. Kali ini kau beruntung karena tiga ratus album lainnya sudah terjual melalui pre-order." si penjaga toko dvd bernama Mingyu menjulurkan tangan, sedikit mencibir saat Baekhyun lagi-lagi menunjukkan senyum meringisnya, memamerkan gigi, dengan senyum bahagia dia melihat cover album yang memang sudah lama ia pesan, tangan bersarungnya mengusap bagian depannya, album kali ini berjudul 'One more time' dengan potret sang penyanyi yang juga merupakan pencipta lagu, membawa gitar dengan latar hitam-putih dan pandangan hangat namun misterius…
"Berapa, Gyu-yah?" tanya Baekhyun sembari membuka tas selempangnya.
"Dua puluh lima ribu won." Gyu–yah, sapaan Baekhyun pada remaja tinggi yang sebenarnya masih pelajar SMA itu membuat si pemilik nama jengkel pada awalnya, mengingat Baekhyun hanya setinggi pundaknya, namun Mingyu tak keberatan pada akhirnya, nama itu terdengar lucu, apalagi kalau Baekhyun yang mengucapakannya, dengan aegyo dan senyum yang dibuat-buat seandainya toko masih tutup namun ia ingin segera membeli album yang ia inginkan. "Baek-hyung."
"Eum?"
"Bukalah dengan hati-hati, kalau kau beruntung…"
"Yah?"
"Kau bisa mendapat tiket free pass untuk fanmeet dengan Park Chanyeol."
Mata Baekhyun berbinar, tawanya bahkan tak mengeluarkan suara saking senangnya, ia menepuk bahu Mingyu sebelum melesat keluar toko.
.
.
.
Kamar berukuran tiga kali tiga meter adalah saksi bisu perjalanan Baekhyun dalam segala aktifitas kampusnya, kegiatan sehari-harinya, juga hobinya mengoleksi album beserta segala hal yang ada sangkut pautnya dengan Park Chanyeol. Musisi, penyanyi, gitaris, rapper, artis multitalenta yang sekarang memang sedang naik daun. Empat album yang keluar selama dua tahun terakhir, semuanya Baekhyun punya, juga majalah serta, ehm, mini poster yang ia simpan baik-baik, belakangan lelaki yang seumuran dengan Baekhyun itu membintangi iklan produk kosmetik, dan Baekhyun dengan rela hati membeli sepaket meskipun pada akhirnya jarang digunakan. Isi ponselnya juga adalah semua list lagu dari Park Chanyeol, fancafe pun ia ikuti, yah meskipun dia tak banyak membawa topik itu ke dalam sebuah pembicaraan, namun sudah banyak orang yang tahu bahwa ia sangat mengagumi Park Chanyeol sama seperti jutaan fangirls di luar sana. Dan Park Chanyeol adalah satu-satunya alasan mengapa ia harus mencari uang lebih, bekerja ekstra selama ia masih belum mendapat pekerjaan tetap seperti ini.
Selain wajahnya tampan, akting yang bagus, lagu yang enak didengar, tak ada kata lain selain sempurna yang bisa disematkan pada artis bernama Park Chanyeol ini, memang sih penggemarnya rata-rata wanita, namun apa salahnya untuk Baekhyun, toh ia juga tak menyusahkan orang lain dengan kegiatannya itu. Ia memilih merebahkan tubuh kecilnya, memasang headset dan mendengarkan isi album yang sudah dipindah ke ponsel, kemudian mendengarkan track list lagu satu persatu. Sebenarnya mengunduh lewat internet juga Baekhyun bisa, namun untuk mendukung sepenuhnya artis idolanya ini Baekhyun rela jauh-jauh pergi ke toko, membeli secara legal karya yang telah Chanyeol ciptakan.
"Bagus…" ujar Baekhyun setelah track pertama usai, ia menikmati lagu selanjutnya, matanya terpejam, petikan gitar Chanyeol selalu berhasil membuat Baekhyun seperti terbawa ke dunia lain, yang tentram, yang nyaman, namun seperti tersetrum, ia bangkit terduduk, seperti teringat sesuatu, headset ia lepas, dan seperti tupai ia melompat, yah, ia baru ingat perkataan Mingyu si penjaga toko DVD, meneliti kembali bungkus album yang ia tak sengaja lupakan.
Tangan Baekhyun menelusuri tiap jengkal bungkus album, meskipun tak tahu bagaimana bentuk tiket free pass untuk fanmeet itu seperti apa, namun Baekhyun rasa ia harus tetap mencoba, meskipun tiga album sebelumnya ia tidak ada hal semacam itu, Baekhyun berekspektasi tinggi, dan entah mengapa keinginan bertemu langsung tumbuh di otaknya, iya, sudah dua tahun semenjak Chanyeol mengisi layar televisi juga memenuhi saluran radio, bukankah seharusnya ini saatnya Baekhyun pergi dan bertemu dengannya? Seoul memang cukup jauh, dan ia harua pandai-pandai mengatur waktu, namun jikalau kali ini ia beruntung dan mendapat tiket free pass…
Sesuatu seperti lembaran kartu tak sengaja merosot jatuh saat Baekhyun membuka salah satu ujung bungkus album, ternyata masih ada lapisan yang Baekhyun lewatkan, dan
'Congrats you get one free pass ticket for fanmeeting'
Baekhyun menahan nafasnya.
"I-ini…"
Lagi Baekhyun memeriksanya.
"Ini?"
Baekhyun tak ingat apa yang terjadi setelahnya, yang jelas, suara tubuhnya yang terbanting di kasur sempat membuat teman se-dorm nya mengetuk pintu, menanyakan keadaan dengan nada yang cukup khawatir.
.
.
.
.
'Hyung, Minseok hyung? Kau tahu, aku mendapatkan tiket free pas untuk bertemu Chanyeol!'
'Hah? Serius? Wah, selamat-selamat! Ah, tunggu, itu berarti, kau akan berangkat ke Seoul?'
'Iya, akan aku usahakan, tapi Hyung, aku bahkan belum pernah kesana, aku tak tahu arah, bagaimana menurutmu?'
'Uh, sama denganku… Aku juga belum pernah kesana. Apa kau tidak ada saudara atau teman disana?'
'Kurasa aku kenal beberapa orang, tapi aku tak yakin apa bisa menghubungi mereka atau tidak…'
'Aku benar-benar ingin membantu… Tapi…'
'Kau tidak bisa?'
'Memang kapan kau kesana?'
'Mungkin sepulang kuliah, karena acaranya akhir pekan.'
'Dan kapan kau kembali?'
'Minggu?'
'Um… Kau kesana menggunakan kereta?'
'Sepertinya… Tapi kalau harus menginap, aku tak tahu menginap dimana…'
'Baek, kita sebaiknya mencari teman yang bisa dipercaya, kudengar Seoul sangat ramai dan berbahaya jika kita tak tahu jalan.'
'Yah, aku tahu… Lalu? Ayolah hyung, bantu aku.'
'Iya, ini aku sedang berpikir… Bagaimana kalau kita minta bantuan Jongdae? Kurasa ayah ibunya tahu tentang Seoul, nanti kutelepon lagi.'
'Terimakasih hyung… Tapi hyung, kalau tahu aku pergi Seoul nanti apa kata orangtuaku…'
'Iya aku mengerti… Besok aku ke tempatmu, oke?'
'Iya hyung, terimakasih… Terimakasih banyak….'
.
.
.
.
