.

.

Dua

.

.

.

.

Jerit ratusan fangirls pecah. Belum satu bait yang Chanyeol alunkan dengan iringan petikan gitar akustiknya, namun studio acara musik yang muat sekitar dua ratus audience itu sudah seperti terserang gempa saja. Suara bassnya masih memenuhi ruang, terdengar sexy dan berat melalui gema audio, diiringi dengan piano suaranya makin terdengar begitu indah, dan suara histeris ratusan fansnya makin lama makin menjadi, memecah dan mengundang decakan kagum, hampir seluruh tim yang bekerja, termasuk para manajer bahkan coordi noona yang setiap hari selalu siap setia mengikutinya turut bertepuk tangan, bangga.

Jongshin hyung, manager sekaligus pengawal pribadi pemuda bernama Chanyeol itu segera bersiap saat artisnya sudah hampir menyelesaikan stage pertamanya. Yah, stage pertama, karena akan ada yang kedua, dan bahkan setelah ini akan ada pemotretan hingga sore kemudian fanmeet di malam harinya. Ia menyadari bahwa jadwal Chanyeol memang selalu sibuk, dari pagi ke pagi lagi, bahkan tak jarang harus tidur hanya ketika berada di dalam mobil saat perjalanan.

"Hya, jangan minum sembarangan, ambil dari backstage saja." gerutu sang manajer ketika artis bertubuh jangkungnya turun dari stage dan berpapasan dengan beberapa fans yang entah darimana bisa menelusup masuk, mungkin ada relasi dengan orang dalam acara broadcast, lelaki yang usianya terpaut lima tahun dengan Chanyeol itu memicingkan mata, memperhatikan goodie bag yang diberikan fans tadi, ternyata berisi minuman kaleng, dan Chanyeol dengan tanpa sungkan langsung membuka tutupnya.

"Hyung~ ini dari fansku, mana mungkin mereka melakukan hal buruk padaku~"

Dan perlu digarisbawahi bahwa sebenarnya dibalik keprofesionalannya sebenarnya lelaki berkharisma ini adalah seseorang berhati lembut, polos, dan sangat baik.

.

Sang manajer mengekor memastikan Chanyeol duduk di backstage dengan aman, setelah memanggil coordi ia kembali menjalankan tugas, membaca rundown acara dan turut mengecek persiapan stage selanjutnya, yah, Chanyeol ditempatkan di awal dan akhir acara, jeda waktu bisa ia manfaatkan untuk istirahat mungkin, dan sesaat kemudian manajer mendapati Chanyeol tengah merebahkan diri dengan selimut rilakuma menutupi setengah tubuh bawahnya.

"Yah… siapa sangka bayi bertubuh besar ini adalah artis profesional yang tadi membuat ratusan fangirl menjerit-jerit, eoh." kekeh si manajer sembari menaikkan selimut Chanyeol yang melorot, ia terkekeh lagi begitu Chanyeol membuat ekspresi tak nyaman, menarik selimutnya erat sebelum akhirnya coordi noona kembali menata poni bermodel komanya yang tak sengaja berubah bentuk.

.

.

.

Baekhyun mengusap layar ponsel dengan perasaan harap-harap cemas, yah, dua kali sudah ia membuka tutup password ponsel tanpa mendapati satu notifikasi pesan-pun. Sedari tadi ia menunggu respon dari Minseok, sahabat dari SMA nya tersebut kini berkuliah di satu Universitas dengannya, hanya saja beda jurusan, dan selain kepada Minseok ini jujur saja Baekhyun tak pernah merengek atau bercerita panjang lebar tentang Chanyeol. Minseok sosok yang baik dan penyabar, juga dewasa dan selalu mengerti isi hatinya, entahlah, berbicara dengan Minseok seperti berbicara dengan seorang noona yang akan selalu mendengarkan dengan telaten dan mengerti perasaannya, sepertinya Baekhyun menggambarkan Minseok terlalu berlebihan, tapi begitulah adanya.

"Hyung!" Baekhyun hampir memekik senang, sosok yang tak lebih tinggi darinya itu melambaikan tangan, sembari sedikit berlari, ia mengambil duduk tepat di samping Baekhyun setelah bertukar peluk dengan yang lebih muda. "Kukira kau tak akan datang…."

"Memang aku pernah mengingkari janjiku?" Minseok memicingkan mata, mengeluarkan sesuatu dari dalam tas berwarna biru tuanya, sebuah note. "Aku memberimu catatan penting yang mungkin saja bisa kau gunakan. Nomor-nomor telepon juga kucatat, jalan, rute, motel, dan yang paling penting peta, sudah kugambar atrium yang nanti akan digunakan fanmeet, mungkin saja kau bingung, aku menggambar kasar saja sih, tapi tidak buruk."

Baekhyun berdecak kagum, mulutnya terbuka, masih tidak percaya setengah dari note itu berisi macam-macam hal yang memang sangat ia butuhkan. "Wah… Haruskah aku memanggilmu detektif hyung? Darimana kau bisa tahu gambar dalam atrium? Wah… Apa Chanyeol akan beristirahat di ruang backstage sini?" Baekhyun menunjuk sebuah gambar berbentuk kotak yang digambar kecil di belakang kotak luas yang diberi tulisan 'main atrium', dilihat darimanapun dari cara Minseok menggambar ia terlihat lebih cocok masuk di jurusan arsitek daripada bisnis yang ia masuki sekarang ini.

"Haha, kau berlebihan. Jongdae memberitahuku semalam, dia memang tahu Seoul, saudaranya bahkan pernah bekerja disana, Atrium tempat Chanyeol menggelar fanmeeting, kugambar saja sesuai apa yang dia ceritakan."

"Hah? Saudaranya? Apakah aku bisa bertemu dengannya? Kumohon—"

"Tidak Baek, dia sudah lama keluar, dia sekarang bekerja di daerah district gangnam, dan itu agak jauh dari Atrium. Kalau dari sana kau bisa menginap di motel yang kutulis, sudah kutambah juga arah dan bis yang bisa kau naiki, beberapa ada yang bisa kau tempuh dengan berjalan kaki, pelajari saja petanya."

Baekhyun tersenyum, yah mungkin sedikit tersentuh dengan apa yang sahabatnya ini berikan, ia peluk note itu seakan barang itu adalah sesuatu paling berharga di hidupnya.

"Maaf yah tidak bisa menemanimu… Dan juga, aku tidak memberitahu orangtuamu, kalau ada apa-apa akan kucoba bantu mengurus." Minseok memberi tepukan pada bahu dongsaengnya itu. "Hey, kalau sudah bertemu Chanyeol jangan lupa ceritakan padaku bagaimana orangnya."

"Itu sih… Kan sudah sering kuperlihatkan video performnya." Jawab Baekhyun sedikit tersipu.

"Yah, bukan seperti itu, misalnya kalian membicarakan apa, kalau kau tanya dia menjawab apa…"

"Hyung… Aku nanti kan hanya meminta tanda tangannya, bisa menyapa saja sudah untung…"

"Pokoknya kau berhutang cerita padaku." sergah Minseok, menepuk lagi bahu Baekhyun, membuat yang lebih muda mengaduh, ia kemudian berdiri, menarik tangan Baekhyun. "Tahu-tahu sudah siang begini, kau tak ingin mengajakku makan siang?"

"Oh, iya hyung!"

.

Cafetaria jurusan bisnis agak lengang siang itu, mungkin karena memang besok adalah weekend, dan sudah tak banyak mahasiswa yang ada kuliah. Minseok memilih duduk di pojok ruangan, memesan semangkuk ramyeon sama dengan apa yang Baekhyun pesan, dua gelas minuman kopi panas ditaruh di tengah-tengah meja, Minseok beberapa kali mendapati Baekhyun terlalu fokus dengan note yang tadi diterimanya, senyumnya tak bisa disembunyikan, lucu sekali.

'Hey, kau tahu Chanyeol sedang digosipkan dengan model cantik?'

'Huh? Berita darimana?'

'Percaya padaku, kali ini benar, aku tidak akan salah informasi tentang Chanyeol. Bahkan aku tahu apa projet yang akan dia lakukan, ah, dan tentang model itu, aku berani taruhan sebentar lagi media akan memuat berita tentang mereka.'

'Memang itu benar? Kudengar hanya gossip.'

'Aku mempunyai saudara yang bekerja di salah satu stasiun tv, Chanyeol beberapa kali menemui wanita itu di backstage, sayangnya saudaraku bukan orang yang tertarik dengan hal seperti itu, kebetulan saat itu dia menemui investor atau semacamnya jadi tak mengambil foto.'

'Tapi Chanyeol tidak terlihat seperti mempunyai pacar.'

'Dan kau percaya hal seperti itu? Ayolah, Chanyeol juga laki-laki normal dan dia tampan. Ohya, kau tahu, aku sudah empat kali bertemu dan berfoto dengannya, aku juga memberi kado untuknya setiap tahun, dan dia menyimpan semua kado dariku.'

'Ouh, kau seperti sesaeng.'

'Sesaeng mengejar-ngejar dan memburu berita seperti orang gila, aku tidak, aku melakukannya dengan cara berkelas, jangan samakan aku dengan mereka, lagipula aku punya cukup uang untuk melakukannya, ah, aku juga tahu kalau Chanyeol baru saja membeli jam tangan baru, dia membeli dari toko yang dikelola kakak sepupuku.'

'Ah, iya, dia kaya sekali omong-omong, jam tangannya yang berharga dua puluh juta won itu?'

'Huum.'

'Uh, bukankah dengan begitu justru dia terkesan pamer?'

'Pamer? Dia kaya dan tampan memang apa salahnya?'

'Yah, tampan dan kaya, lihat betapa sempurnanya dia, mau wanita manapun juga pasti dia bisa mendapatkannya.'

'Hey hey, ku dengar dia juga dekat dengan salah satu trainee dari agensinya?'

'Dia mungkin hanya seorang oppa yang baik dan mempunyai banyak teman.'

'Lelaki baik dan playboy tak jauh beda.'

'Memang kau tahu dia playboy?'

'Entahlah, siapa yang tahu?'

'Jangan sampai terdengar fangirls-nya, kau bisa diamuk.'

'Hey, dan aku juga fangirlnya, kalian bicara seakan aku tidak ada.'

'Fangirl? Kau bilang kau kelak akan menikah dengannya?'

'Oh, tentu saja, hanya saja mungkin belum waktunya.'

'Dengan pengetahuanmu yang luar biasa tentang Chanyeol itu mungkin kau bisa dinobatkan jadi fans nomer satu.'

'Oh, aku sih tidak sombong, kenyataannya begitu.'

'Iyah, tapi, aku sedikit heran, kenapa mereka mengelu-elukan Chanyeol sampai sebegitunya, kau tahu mereka sering fanwar dan saling mencakar karena masalah sepele?'

'Kurasa mereka hanya masih anak-anak, dan tidak semuanya seperti itu'

'Iya tidak semua memang. Tapi kurasa beberapa terlalu anarkis.'

.

Pembicaraan segerombol wanita yang duduk di seberang terpaksa Minseok dan Baekhyun dengarkan, Minseok hanya membuang nafas dari mulut dan bertukar pandang dengan Baekhyun yang sepertinya tak terlalu terganggu, masih sibuk melahap ramyeon-nya meskipun di awal dia terlihat sedikit menaruh perhatian.

"Yang satu itu sok tahu sekali tentang Chanyeol." Minseok berkomentar, sedikit berbisik, untung meja yang mereka tempati adalah meja kecil khusus dua orang sehingga kursi mereka tak terpaut jarak yang jauh, tidak seperti meja seberang yang memang berukuran besar dengan enam kursi mengitari sehingga satu sama lain harus berbicara keras agar terdengar.

"Banyak fans seperti itu sih, ada yang suka pamer dan, ada yang cuek, entahlah" Baekhyun menyimpan kembali note yang ia pegang ke dalam tas coklat miliknya, meneguk kopi latte-nya, ia mengusap perut tanda kenyang.

"Memang ada gossip seperti itu yah?" Minseok bertanya, kali ini memandang Baekhyun yang menatapnya tanda tak mengerti. "Chanyeol dekat dengan seseorang?"

Baekhyun menggidikkan bahu. "Kalaupun dia punya pacar juga… Memang apa yang bisa kulakukan?"

Minseok yakin mendengar kekehan Baekhyun yang sedikit dipaksakan, ia meraih gelasnya kemudian mendapati Baekhyun memandang ke arah lain, mempermainkan tissue yang baru saja dipakainya untuk mengelap sekitar bibirnya. "Sepertinya tidak rela begitu… Memang model yang digosipkan dengan Chanyeol bukan orang baik?"

Baekhyun menghela nafas, pertanyaan Minseok seperti pancingan untuknya agar membahas hal ini lebih jauh, Minseok tahu benar bagaimana menurun-naikkan mood, Baekhyun mendengus sedikit berat. "Aku hanya mendengar mereka dekat, banyak yang membicarakannya."

"Kau tidak cemburu?"

Baekhyun mencibir. "Memang kenapa aku harus cemburu? Yang penting dia terus bermusik dan membuat lagu."

"Kau yakin hanya suka lagunya?"

"Um… dia juga baik, aku yakin dia tak mungkin mengecewakan fans, Chanyeol juga tak mungkin melakukan hal buruk."

"Tapi terkadang artis melakukan banyak hal untuk menjaga perasaan fans-nya…"

"Kuharap dia jujur saja…"

"Nah…" Minseok hendak menjawab, namun suara teriakan dari meja samping membuatnya terpaksa menoleh.

'Memang apa hak kalian membicarakan jam tangan mahal Chanyeol eoh!'

'Dan memang apa urusanmu?'

'Tentu saja itu menjadi urusanku! Dia Chanyeol! dan kau salah karena menggosipkan nama orang yang sangat kusukai kedua setelah orang tuaku!'

'Lihat .. Lihat… Fans gilanya mulai lagi.'

'Terserah mau bilang aku gila atau apa! Kalian tak berhak mengedarkan berita tidak benar tentangnya! Siapa juga yang playboy, siapa juga yang suka pamer? Dia membeli jam mahal dengan uangnya sendiri bukan dengan uang kalian! Kalian tidak berhak mengatainya! Dan hya! Jiyeon-ah! Berhenti terus-terusan sok tahu tentang Chanyeol dan bilang kau akan menikahinya! Aku muak tau!'

Minseok memasang ekspresi wajah sama terkejutnya dengan Baekhyun, melongo melihat gadis berkuncir yang dengan tangan kuatnya menggebrak meja. Enam orang yang sebelumnya menggerombol langsung bergegas pergi, dengan ekspresi kesal dan sebagian takut.

"Kau juga! Diam-diam saja mendengar mereka menggosipkan Chanyeol!" kali ini gadis itu menyatroni meja yang ditempati Minseok dan Baekhyun.

"Yah, Eunji-yah, turunkan suaramu, kau pikir ini jalanan untuk berdemo?" Minseok berujar dengan sedikit terkekeh.

"Kalau untuk Chanyeol aku tak keberatan harus membawa pengeras suara dan berdemo!" sergah Eunji, memicingkan mata ke arah Baekhyun kemudian. "Hya! Kau bahkan diam saja disini! Aku yang lewat depan pintu saja bisa dengar mereka mengatai Chanyeol, begitu kau bilang kau ini fans-nya?"

"Aku fans, bukan ketua preman sepertimu." jawab Baekhyun. "Dan kalau kau kesini cuma mau teriak-teriak kau akan diusir oleh ahjumma."

"Biarkan saja, memang apa peduliku."

"Yah… Dia memang hanya peduli dengan isi perut dan Chanyeol, bahkan ujian terakhir saja dia tidak ingin mengulangi padahal nilainya buruk sekali." Minseok menambahi, menggelengkan kepala.

"Kalau begitu aku pergi—Ah, kau sudah membeli album yang baru?" tanya Eunji, menurunkan suaranya, kini memandang Baekhyun.

"Sudah…"

"Kau dapat photocardnya? Versi black atau white?" Eunji kali ini sudah mengganti nada bicaranya. "Aku mendapat White, kau?"

"Black."

"Oh… Aku beli empat kali dan semuanya white, bolehkah kutukar denganmu? Kumohon…" dengan cepat gadis itu menyabet tangan Baekhyun, meremasnya. "Yah?"

"Um… Tapi aku tidak membawanya, bagaimana kalau minggu depan?"

"Yak, terimakasiiiih!" Baekhyun merasa badannya tercekat, yah, pelukan Eunji masih sangat kuat, sejak SMA gadis yang rajin Taekwondo ini memang sahabat dekat Baekhyun, dan anehnya ketertarikan mereka akan suatu hal hampir selalu sama. "Minggu depan apa aku harus ke dorm-mu? Nanti kubelikan sepaket pizza deh…"

"Call." Baekhyun mengangguk setuju.

.

.

.

Baekhyun sedang menikmati waffle pagi itu, bersiap memenuhi perutnya sebelum menempuh perjalanan yang ia rasa akan cukup panjang. Ia terduduk di depan minimart yang buka 24 jam yang berada tak jauh dari dormnya, semuanya sudah siap di dalam tas ranselnya, hampir hal kecil seperti pasta gigi dan sebagainya, sampai tiket fanmeet yang ia tak berhenti memeriksanya dua jam sekali. Ia memastikan semuanya lengkap, jaket tebalnya juga sudah dipasang, ia hanya tinggal menunggu jam menunjukkan pukul delapan, karena ia tak ingin menunggu di terminal terlalu lama.

Ponsel ia nyalakan, hendak melihat jam saat sesuatu seperti sosok manusia menghampirinya dari belakang, ia sempat terkaget, memandang dua lembar tiket bis yang tiba-tiba jatuh di atas meja tepat di hadapannya, Baekhyun sempat berpikir sekian detik, kemudian memandang wajah si pemberi. "Gyu-yah?"

"Um, aku ambil libur, kudengar dari Minseok hyung hari ini kau akan pergi ke Seoul, jadi, ayo." Mingyu membuang muka, yah, dengan jaket tebal dan ransel yang sudah tersangkut di pundak.

"Hah? Kau mau ikut?"

"Tidak boleh? Kalau begitu aku pulang—"

"Hya!" Baekhyun menyabet ujung jaketnya, membuat Mingyu terseret kembali, Baekhyun berdiri kemudian tersenyum lebar. "Aku senang sekali kau bisa menemani!" kemudian dipeluknya tubuh Mingyu seperti seorang anak yang dipertemukan dengan ibunya kembali. "Kau yakin tidak apa-apa? Kau benar mau ikut ke Seoul?"

Mingyu mengangguk, yah, tentu saja, melihat Baekhyun yang berputar-putar di lengannya membuatnya tersenyum. "Ayo kalau begitu, nanti ketinggalan bis. Kau tahu berapa lama kita akan di perjalanan?"

"Berapa?"

"Lima jam. Dan aku sudah bawa banyak buku bacaan." Mingyu tersenyum, gigi rapinya ia pamerkan.

"Gyu-yaah! Kau tahu aku bena-benar menyukaimu lebih dari aku menyukai apapun di dunia ini!"

Lelaki tinggi yang mebih muda empat tahun itu terkekeh. "Serius? Lebih dari Chanyeol?" sambungnya, membuat yang ditanyai mematung sesaat sembari menyipitkan mata, kesal.

.

.

.