.
.
.
Tiga
.
.
.
.
Ini kali pertama Baekhyun bepergian jauh, iya, jauh sekali, tanpa ditemani orang tua atau keluarga. Baekhyun jadi mengingat dua tahun lalu, saat ia pertama berangkat untuk masuk Universitas, jarak dari rumah menuju Universitas tempat dia kuliah adalah tiga jam, dan hari pertama ia pergi ia ingat sekali bagaimana Ibunya duduk dengan menggenggam tangannya sepanjang jalan, membuat berkotak-kotak bekal, dan tas super besar yang malam sebelumnya seluruh isinya ibunya yang kemaskan. Baekhyun tersenyum, sebenarnya sedikit merasa bersalah, ia akan bertemu seseorang yang ia idolakan selama ini, harusnya ia mengantarkan kabar baik ini kepada orang tuanya, sayang ia tak bisa, karena ia yakin orangtuanya tak mengizinkan, tapi Baekhyun sudah bertekad dalam hati, begitu ia pulang ia akan menceriakan semuanya, khususnya pada Ibunya.
Pemandangan di luar cukup indah, bukan pemandangan hijau seperti di kampung halamannya memang, banyak bangunan besar-besar, tapi indah, Baekhyun memandang takjub pusat perbelanjaan yang ramai di sana-sini. Ini masih setengah perjalanan, dan Baekhyun sudah berdecak kagum, apalagi kalau sudah sampai di Seoul? Baekhyun benar-benar sudah membayangkan banyak hal menyenangkan, ia tempelkan telapak tangannya di kaca jendela bis, tersenyum, ia memutuskan untuk menutup mata, kepalanya ia sandarkan ke belakang, dan ia menyusul dongsaeng terbaiknya yang duduk di sampingnya, yang ternyata sedari tadi sudah tertidur dengan cukup pulas.
Pemberhentian terakhir diumumkan, Baekhyun baru menyadari saat Mingyu menepuk bahunya pelan, iya, dia telah sampai, dan Baekhyun sempat menyesal kenapa justru ia tertidur saat bis mulai memasuki area Seoul, ia menguap sekali sebelum mengambil tas ransel besar yang ia simpan di bawah dekat kaki, menggendongnya kemudian menyusul Mingyu yang tengah beranjak hendak keluar.
"Ayay, kita sampai, di Seoul." Mingyu melihat sekeliling, banyak sekali orang naik turun, berjalan kesana kemari, dan yang sedikit mengejutkan Baekhyun, ternyata Mingyu sedikit banyak tahu jalan, ia menurut saja saat anak SMA itu menggandengnya ke suatu arah, melawan arus hingga menemukan pintu keluar yang ternyata menuju ke jalan besar dimana ada toko-toko di tepinya.
"Wah… Jadi ini Seoul?" Baekhyun mengutarakan apapun yang ada di otaknya.
"Iya, dan kita masih belum ke pusat kotanya, kita baru sampai tempat pemberhentian bis. Mau makan dulu?"
Baekhyun mengangguk, masih dengan mulut yang terbuka.
.
Mereka memutuskan makan di dekat area pasar tradisional, yah, karena budget yang dibawa juga tak terlalu banyak. Baekhyun terlihat menikmati bibimbab di hadapannya, sedangkan Mingyu yang sudah selesai terlebih dahulu berkutat dengan ponsel, nampaknya mencari-cari motel yang aksesnya paling gampang. Ia sesekali melirik jam tangan, sekarang sudah siang, dan untuk mengantasipasi agar tak telat datang ke atrium Mingyu memutuskan untuk mencari motel terdekat, Atrium masih berjarak sekitar sepuluh kilometer, jika mereka beruntung mendapat kamar dengan cepat mereka bisa istirahat sebentar, yah meskipun selama di bis tadi sudah dihitung tertidur, tapi Mingyu masih perlu merebahkan bahunya, rasanya tidur dengan duduk membuat sekujur tubuhnya kaku.
"Kita harus segera menemukan motel, setidaknya untuk istirahat sebentar, kalau weekend begini sepertinya susah mencari kamar kosong." Mingyu berujar.
"Um, fanmeeting juga dimulai pukul tujuh malam, sepertinya tak apa-apa." Baekhyun menanggapi.
"Setidaknya kau harus sampai sana sebelum jam enam hyung, antisipasi, atau jam lima sore. Sekarang masih jam dua memang, tapi tiga jam bisa sangat cepat, ayo kita bergegas."
Baekhyun menurut saja, dia memang tak pernah bilang kalau mencari penginapan di Seoul itu mudah, tapi tak menyangka sesulit ini, ia sudah memulai dengan kesalahan, tidak memesan terlebih dulu, alhasil lima motel yang sudah didaftar Minseok di note yang dibawanya semuanya sudah penuh, Baekhyun menghela nafas kecewa saat motel terakhir yang ditulis juga sudah penuh.
"Apa weekend di Seoul memang selalu begini?" Baekhyun berkata sembari membuang nafas, ia pijit bahunya sendiri.
"Aku juga tidak tahu, dan ini sudah hampir pukul tiga. Bagaimana?" Mingyu menjawab, memutar pergelangan tangan untuk melihat arloji. "Apa sebaiknya kita langsung ke atrium? Baterai ponselku mulai habis."
"Oh, aku juga!" Baekhyun memekik. "Bagaimana ini?"
"Apakah di atrium ada semacam stop kontak?"
Baekhyun menggidikkan bahu.
.
Dua jam lewat dengan mereka berputar-putar menanyai setiap motel yang buka, dan sialnya belum ada kamar yang bisa mereka tempati. Mingyu mulai memasang ekspresi panik, ia terlalu sering menggunakan aplikasi ponsel, mencari arah, menelepon, hingga baterainya mulai melemah, ia pasang power bank yang sudah ia bawa, mencari kontak list seandainya dia ada teman dari Seoul yang mungkin bisa ditumpangi, namun pada akhirnya ia hanya bisa mendengus putus asa.
"Apa sebaiknya kita menuju atrium saja sekarang?" Mingyu berhenti, menekuk tubuh sembilan puluh derajat ke depan dan mengurut kakinya sebelum membiarkan Baekhyun duduk di sebuah kursi depan toko yang kebetulan sedang tutup.
"Tapi kita belum dapat motel? Apa kita coba pesan hotel saja?"
Mingyu sempat memberhentikan pergerakan, memikirkan pernyataan Baekhyun kemudian meluruskan badan kembali. "Ah, jangan dulu, hotel sangat mahal."
"Tidak apa, aku yang bayar, aku membawa tabunganku, rasanya cukup."
"Aku akan coba cari motel dulu." Mingyu bersikeras, ia keluarkan roti yang tadi sempat ia beli di area pasar, juga camilan dan sebotol air mineral, menyodorkannya pada Baekhyun. "Begini, ada dua bis yang harus dinaiki untuk menuju atrium, kita naik bis yang sama setelah ini, tapi setelahnya hyung akan naik bis yang langsung menuju atrium, aku naik bis yang lain, yang berbeda arah, aku akan mencari motel."
"Kenapa tidak cari motel dekat atrium saja?"
"Cuma ada dua motel, dan keduanya sudah penuh, sudah kutelepon tadi. Satu-satunya agar kita bisa tidur dengan baik ya harus mencari di area lain. Dan aku juga tak ingin kau terlambat, kau sebaiknya kesana lebih dulu, kita berpencar, selama kau pergi ke fanmeeting aku bisa berputar-putar."
"Lalu bagaimana kita bertemu lagi nanti?"
"Hubungi saja ponselku, atau kalau benar-benar ada sesuatu hal kutunggu kau di tempat pemberhentian bis di dekat atrium, aku akan disana, tak akan kemana-mana. Acara selesai pukul berapa?"
"Sembilan…"
"Baiklah sebelum pukul sembilan aku akan menunggu di tempat pemberhentian bis, aku tidak akan pergi kemana-mana sampai kita bertemu."
.
Bis yang Baekhyun naiki bisa dibilang cukup ramai, yah Baekhyun menduga-duga mungkin diantara penumpang ada pula seseorang yang sama seperti dirinya, hendak menuju atrium dan mengikuti fanmeeting, mungkin, Baekhyun menaikinya dengan semangat, memandang Mingyu yang masih berdiri di halte untuk menunggu bis lain dari kaca jendela, anak yang lebih tinggi itu melambaikan tangannya, seperti menggumam sesuatu yang diasumsikan mungkun 'fighting!' oleh Baekhyun.
"Fighting!" balas Baekhyun dengan mengepalkan tangan meniru pergerakan Mingyu.
.
Lelaki kecil itu duduk di pojokan, mengeluarkan ponsel, kalau lancar perjalanan memakan waktu empat puluh menit, dan Baekhyun tak berharap ada sesuatu buruk yang terjadi, ia buka-buka isi tasnya, memeriksa apapun yang mungkin ia perlukan, tiket free pass fanmeet ia siapkan, ia simpan ke dalam dompet, ia sendirikan di bagian yang tak tercampur lembaran uang, karena takut terambil dan sebagainya, ia pastikan dompetnya tertutup rapat, menyimpan di bagian yang aman, lalu ia memasang headset, perjalanan tanpa teman ternyata agak membosankan, ia putar lagu-lagu Chanyeol, matanya ia pastikan tetap tebuka, karena berbahaya kalau sampai ia tertidur, bisa-bisa ia melewatkan atrium, tersasar, itu adalah skenario terburuk yang pernah ada.
Mungkin tiga puluh menit berlalu, Baekhyun tak hentinya memeriksa ponsel dan melihat waktu, yah, agak sial memang karena baterainya tinggal sedikit pula, ia matikan musik, memandang keluar jendela, saat tiba-tiba bis berjalan aneh, sesuatu mungkin terjadi, orang-orang mulai berbisik-bisik, beberapa ada yang mulai menanyai sopir dan…
"Maaf. Diberitahukan bahwa terjadi sedikit kesalahan teknis pada mesin, semua penumpang harap jangan cemas, kalau ada yang terburu bisa menggunakan transportasi lain tetapi armada kami sudah meluncurkan satu bis kesini. Dimohon jangan panik."
Dan saat itulah Baekhyun mulai panik, mungkin jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, dan buruknya, Mingyu tak juga mengangkat teleponnya.
.
.
.
Mobil SUV hitam memasuki area atrium, terdengar jelas teriakan beratus-ratus fans yang sudah siap menunggu di luar area parkir yang sudah dibatasi. Sosok tinggi jangkung bermantel hitam keluar dari mobil dan teriakan makin menjadi, lelaki itu melambaikan tangannya, dan sekali lagi, manager mengira tim nasional Korea baru saja membuat gol karena gema atrium menyerupai gema stadion dengan lima puluh ribu supporter di dalamnya.
"Kau mau ganti pakaian dulu? Atau pakai itu saja?"
"Ini saja…" jawab Chanyeol santai, ia tinggalkan mantelnya di salah satu kursi yang terletak di ruang backstage. "Hyung, bisa ambilkan minumku?"
"Ini. Yak, coordi!" seseorang wanita dari arah pintu berlari, menaruh tasnya dan siap memoleskan brush di wajah tampan sang artis, Chanyeol meneguk minumnya, memandang pantulannya dari cermin, ia memainkan ponsel saat rambutnya mulai ditata, hair stylist di belakang, make up artist di kiri, sedangkan sang manajer sibuk di bagian kanannya, Chanyeol tersenyum geli, ia nampak mulai melanjutkan game di ponselnya.
"Chanyeol?"
"Hm?" Chanyeol menoleh, melihat manajernya, sang make up artist otomatis terpaksa mengikuti arah geraknya. "Apa hyung?"
"Ada telepon untukmu."
"Dari?"
"Nana."
"Oh?" Chanyeol menerima ponsel milik manajernya itu. "Kenapa tidak langsung hubungi nomorku saja?"
"Katanya ponselmu tak bisa dihubungi."
"Ah~" Chanyeol memandangi ponselnya, yah, dan benar, terlalu asyik memainkan game dia sampai lupa baterainya sudah habis. "Oh, ya? Halo?"
Sang manajer meninggalkannya setelah memberi cibiran sekaligus senyuman, menyabet ponsel milik artis asuhannya itu, seperti biasa kalau tidak diurus ponsel anak itu pasti tidak akan menyala sampai esok harinya.
"Ya, Nan- Oh, iya, belum, aku masih di Backstage atrium – Oh, mungkin setelah fanmeeting?"
Sang manajer kembali lagi, memastikan tatanan rambut dan make up Chanyeol sudah rapi, ia mengangguk, mengisyaratkan tugas para coordi sudah selesai, membiarkan dua wanita itu beranjak pergi.
"Ada apa Nana menelepon?"
"Menanyakan apa aku ada waktu setelah ini, kubilang aku akan langsung pulang."
"Hey, wanita begitu karena dia ingin mengajak keluar… Kau kenapa tidak peka begitu?"
"Tapi sudah larut? Dan aku sudah merasa lelah? Dia juga ada jadwal besok pagi."
"Oh…" sang manajer memasang wajah sok acuh setelahnya, mengambil kembali ponsel berwarna hitamnya, smartphone keluaran terbaru. "Kau berbaiklah dengannya, setidaknya dia membantu banyak untuk karirmu."
Chanyeol mengambil nafasnya panjang, mendengus kemudian. "Huff, jadi aku harus berhubungan baik dengan orang yang membantuku saja begitu?"
"Bukan begitu… Dan aku tidak pernah menyuruhmu untuk mengencaninya, kau jangan salah sangka."
"Yah, tapi itu sih sama saja."
Manajernya tak menyambung setelahnya, hanya membiarkan Chanyeol menikmati waktunya sebelum ia harus memasang wajah senyum dan meladeni ratusan fansnya setelah ini.
.
.
.
Banyak hal berkecamuk di pikiran Baekhyun, meniru beberapa penumpang lain, menuruni bis dan memutuskan menunggu di tepi jalan. Ia lihat beberapa gadis muda mulai menelepon, dan kemudian mobil taksi datang beberapa kali. Baekhyun mulai menghitung-hitung apakah dengan naik taksi dia akan sampai tepat waktu, dan apakah tidak apa-apa dia keluarkan uang lebih banyak? Baekhyun sempat mengingat apa yang Mingyu katakan, sebisa mungkin jangan menggunakan taksi, karena biaya yang lebih besar, dan juga, kalau bertemu sopir yang tidak baik dia bisa saja diajak berputar-putar.
"Per-misi." Baekhyun memberanikan diri bertanya lagi pada sang sopir, setelah melihat waktu yang ditunjukkan ponsel ia yakin ia akan terlambat. "Apa bisnya masih lama?"
"Sekarang masih terkena macet, mungkin lima belas menit lagi."
Baekhyun beranjak pergi setelah berujar terimakasih, ia memandang ponsel, menyimpan ponsel sekaligus dua tangannya ke dalam mantel setelah mengetahui waktu sudah menujukkan pukul tujuh lewat lima menit. "Ah, bagaimana ini…" rengeknya frustasi, ia memutuskan untuk menelepon pada akhirnya, ia mempertaruhkan nasibnya pada panggilan yang dibuatnya pada sebuah nomor telepon taksi.
.
Taksi kuning yang ia naiki melaju, Baekhyun tak yakin ia mendapat sopir yang baik atau tidak, sikapnya sedikit acuh, juga saat Baekhyun mengatakan nama atrium yang hendak ditujunya, si sopir bertanya mau lewat mana, dan Baekhyun hanya bisa menjawab mana saja asal yang tercepat. Perasaan Baekhyun menjadi kian tidak enak saat jalan yang dilalui seperti jalan tol besar, apakah yang seharusnya hanya ditempuh selama sepuluh menit akan lewat tol begini? Awalnya Baekhyun diam saja, namun akhirnya ia menanyakan. "Apa Atrium memang ke arah sini?" Baekhyun bersuara, ia menyalakan aplikasi peta, mendapati dirinya yang justru menjauhi atrium yang ia maksudkan.
"Ah…. Ada dua atrium yang bernama sama… Aku kira kau menuju yang satunya." suara berat sopir itu memenuhi mobil, Baekhyun memicingkan mata sedikit kesal.
"Atrium yang kumaksud yang ini. Bisakah tolong diantar kesini ahjussi."
"Baik, tapi kita akan memutar."
.
Pukul setengah sembilan. Baekhyun berlari sekuat tenaga setelah menutup pintu taksi, sial! umpatnya, keputusan menaiki taksi bukanlah hal baik, ia menghabiskan uang banyak, terlambat, juga baterai ponselnya yang habis karena selama perjalanan harus memastikan aplikasi peta menyala. Ia bermarathon menuju pintu masuk atrium, sudah sepi, dan Baekhyun rasa ia adalah manusia terakhir yang masuk, selain penjaga pintu dan juga beberapa orang yang sepertinya lembur untuk bekerja membersihkan beberapa kaca.
"Permisi, apa main atrium masih buka? Main atrium untuk fanmeeting Park Chanyeol?" tanyanya dengan nafas memburu, memberhentikan sipapaun yang lewat.
"Sepertinya… Sudah ditutup. Beberapa saat yang lalu." lelaki yang ia berhentikan menimpali, dan Baekhyun tahu ia memasang wajah yang terlampau kecewa.
"O-oh, terimakasih…" Baekhyun meneruskan, ia pegangi dadanya yang naik turun, terang saja berlarian dari pintu depan kesini benar-benar menguras tenaga, keringatnya masih bercucuran, ia terpaksa mengambil duduk, di pojok ruangan lobby, ia melihat sekitar, apakah benar ia melewatkan fanmeeting ini? Baekhyun rasa Baekhyun ingin menangis.
Tas beratnya ia taruh lantai, perlahan mengatur nafas, iya, mungkin ia harus menerima bahwa ia sedang sial kali ini, keberuntungan hanya sampai pada saat ia mendapat tiket free pass, bukan sampai ia berhasil bertemu Park Chanyeol. Baekhyun mengambil nafas dalam-dalam, rasanya sedih, tapi ia mencoba berpikir positif, setidaknya, bisa sampai disini adalah hal menyenangkan bukan? Baekhyun kembali meraih tasnya, ia keluarkan note yang dari Minseok hyung, tak ada salahnya mengelilingi atrium ini, barangkali saja keberuntungan masih sedikit berpihak padanya? Baekhyun memutuskan untuk kembali bangkit berdiri.
.
.
Chanyeol mengakhiri acara fanmeeting dengan lancar, seperti biasa, dan ia sedikit tak menyangka kalau fanmeeting kali ini bisa selesai dengan cepat dibandingkan biasanya, mungkin tiket free pass tak banyak didapat oleh fans yang bisa datang, Chanyeol memang sedih berpisah dengan fansnya yang berharga, namun ia juga tak munafik kalau dia bisa bernafas lega karena itu menandai dia bisa pulang dan istirahat.
Manajer sudah menunggu di backstage, ia sudah hampir bersiap pulang saat tiba-tiba saja pintu belakang terbuka dan sosok tinggi semampai dengan rambut coklat lurus sepinggang menghampiri.
"Oh, Nana-yah?" sang manajer terlihat sedikit terkejut, tak jauh beda dengan Chanyeol.
"Yap, tenang, aku memastikan lewat pintu belakang. Manajerku memarkir mobil di ruang parkir khusus." ujar Nana riang. Terang saja, model tinggi dan cantik itu mempunyai beberapa akses dimanapun, mungkin karena memang ayahnya menduduki posisi penting di dunia hiburan saat ini, tapi terlebih dari itu memang dia memiliki bakat yang cukup baik, akting dan menyanyinya lumayan, tidak benar kalau ada yang bilang apa yang dia dapat sepenuhnya adalah sokongan ayahnya.
"Kalau begitu aku permisi dulu, nanti hubungi saja kalau sudah siap pulang." Jongshin menepuk bahu Chanyeol, kemudian melesat pergi, meninggalkan dua orang itu di backstage, Chanyeol hanya mengangguk, mengambil mantel dan menghampiri Nana.
"Kau benar-benar kesini?"
"Tentu saja." Nana tersenyum, memberikan bungkusan, Chanyeol memang selalu suka makanan manis, semacam pudding dan cake, Nana tak pernah absen membawakan setiap kali mereka akan bertemu. "Aku belikan yang rendah gula. Tidak baik makan makanan manis terus menerus, kau harus menjaga gula darahmu." Nana meneruskan, tersenyum lagi melihat Chanyeol membuka paper bag kecil yang dibawanya hanya untuk mencium aroma dalamnya.
"Gumawo." Chanyeol tersenyum, menaruh paper bag dari Nana di meja rias, kemudian memasang mantelnya.
"Oh, sini kubantu."
.
Atrium yang digambar Minseok memang seratus persen sesuai dengan apa yang Baekhyun lihat, ia menengadah, sambil berjalan, melihat dinding luas dengan kaca dimana-mana dan pintu-pintu dan menurut Baekhyun sangat modern. Tak ada satupun yang cacat, Baekhyun melihat sekeliling masih dengan mode takjub, ia angkat ponsel dan merekam sekeliling, meskipun melewatkan fanmeeting setidaknya ia masih ada sesuatu yang bisa dipamerkan saat kembali nanti, begitu pikirnya, ia berjalan sesuai kemana ia ingin melangkah, sesekali melirik note yang ia bawa, kakinya mengajaknya mengikuti arah menuju ruang backstage, saat itu sudah sepi, dan Baekhyun merasa leluasa untuk menelusuri koridor semau dirinya, ia berjalan pelan-pelan memastikan sekelilingnya terekam, hingga ia menuju pintu yang ia asumsikan adalah pintu dari ruang backstage, ia menjulurkan tangannya.
'Apakah ini tidak apa-apa?' Baekhyun bertanya dalam hati. Oh, seandainya tidak boleh dimasuki pastinya pintu ini akan terkunci bukan? Baekhyun berasumsi, dengan santai akhirnya Baekhyun memutar kenop, tangan kirinya masih setia memegang ponsel, ia arahkan tepat lurus ke depan.
Suara pintu terbuka mungkin terdengar agak keras, dan Baekhyun mematung, dengan apa yang ia lihat di dalam ruangan lima kali lima meter itu ia mematung, mungkin memang ia belum pernah melihat sosok idolanya, namun ia yakin, seseorang yang tengah berdiri itu adalah Park Chanyeol, dengan rambut yang kini berwara hitam dengan memakai mantel, dan… Seorang wanita tinggi yang berdiri cukup dekat di depan dadanya, dengan tangan yang keduanya melilit lehernya.
"Ma-maaf…" hanya itu mungkin yang Baekhyun ingat sempat ia cicitkan, sebelum ia memutar tubuh dan bergegas pergi dengan terburu, langkahnya cepat, semakin cepat dan menjadi sebuah gerakan berlari. Otaknya mungkin tak berjalan dengan baik, tapi entah mengapa sesuatu mencekat perasannya, sakit, aneh sekali, Baekhyun tak percaya kalau ia memergoki Chanyeol, dengan wanita? Baekhyun rasa Baekhyun belum bisa berpikir jernih sampai ia keluar atrium, tapi entah, berlari tanpa arah dan tak segera menemukan pintu keluar membuat nafas Baekhyun makin susah diatur, ia tak sadar kalau mungkin sesuatu menetes dari wajahnya tak lagi hanya dari keringat… Tapi sudah bercampur…
dengan air mata.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
