.

.

Empat

.

.

.

.

Mungkin karena kakinya terlalu pegal, atau mungkin karena badannya yang terlalu letih, Baekhyun merasa ada sesuatu yang berat, dan dipikirnya itu wajar, itu wajar di saat tubuhnya yang memang dalam keadaan kurang fit seperti saat ini, Baekhyun rasa kalau perasaannya menjadi kacau seperti ini, itu adalah sepenuhnya karena salahnya sendiri, karena keadaanya sendiri.

Berhasil keluar dari atrium tak serta merta membuat Baekhyun bernafas lega, entah pintu apa yang ia lalui, yang jelas jauh berbeda dengan pintu yang tadi ia ia lewati saat masuk, Baekhyun rasa ia tersesat, jalan raya-pun tak terlihat dari seluruh penjuru arah, hanya area kosong dengan –mungkin- tempat parkir khusus mobil dan pepohonan yang diselimuti lelehan salju. Baekhyun putuskan untuk duduk, punggungnya yang menyentuh dinding dingin merosot jatuh, tak peduli lantai kotor dibawahnya, ia hanya terlampau lelah, dan lagi saat ia membuka ponsel, ia dapati ponselnya hanya menunjukkan layar gelap meski sudah diusap dan ketuk beberapa kali. "Bodoh." dengusnya.

Seandainya ia tak nekat pergi pasti ia sekarang sudah tertidur nyenyak di atas kasurnya yang empuk, atau mungkin menikmati menonton film dengan memasang earphone ditelinga sambil memakan chips kesukaannya, bisa istirahat dua hari penuh, menyalin tugas dan belajar untuk kuis hari senin, ia tak kedinginan seperti ini, kakinya tak pegal seperti ini, dan yang paling penting ia tak menyusahkan Mingyu yang ia tahu sendiri sudah terlalu sibuk dengan sekolah dan kerja sampingannya, Baekhyun rasa kalau sebelumnya ia belum pernah merasakan yang namanya penyesalan, akhirnya kali ini ia tahu bagaimana rasanya. Ia lilitkan kedua lengannya ke tubuhnya sendiri, tasnya yang sudah berat entah mengapa terasa lebih berat lagi, dari nafasnya keluar kepulan uap, malam ini dingin, dan Baekhyun, tersesat di kota Seoul yang sebelumnya tak pernah ia kunjungi, membuat hatinya luar biasa kesal dan lelah.

.

"Baekhyun hyung."

Baekhyun tak mengitung berapa lama ia menunggu, yang jelas ia yang dengan posisi menekuk kaki di depan dada dan memeluknya, kepala yang tertunduk dalam dengan kening bertumpu tempurung kaki, merasa seseorang menggoyang tubuhnya.

"Hyung?"

Baekhyun mendongak, dan tangan Mingyu yang pertama menyambutnya.

Tangis Baekhyun rasanya akan tumpah, dan ia bersyukur Mingyu yang berlutut dan menunduk hingga mencapai pundaknya menariknya ke dalam pelukan, mengusap bahunya naik turun, sehingga kalaupun ia menangis ia tak perlu malu, Mingyu berdiam sesaat, turut merasakan isaknya mungkin, namun Baekhyun tak peduli.

"Maaf, maaf, harusnya aku bisa menemukanmu lebih cepat—Aku…"

"Maafkan aku, baterai ponselku habis, dan tak bisa menemukan jalan keluar…" keluh Baekhyun, menarik kepalanya, melihat Mingyu, rasanya sedih mendapati sorot mata lelah dan khawatir dari dongsaengnya tersebut.

"Oh, pantas saja. Lalu, bagaimana? Setidaknya kau habis mendapatkan tanda tangannya kan?"

Merasa benda abstrak menancap ulu hatinya Baekhyun menarik nafas pendek, memandang arah lain. "Aku melewatkannya.. Bis yang kunaiki ada masalah, aku naik taksi, dan ternyata apa yang kau bilang benar, aku bertemu supir yang tidak baik, diajak berputar-putar, dan aku telat masuk."

"Ah…" Mingyu tak lagi melanjutkan, nampaknya tanpa diceritakan secara lengkap ia sudah bisa menerka apa yang sebenarnya telah terjadi. "Mungkin kau hanya belum beruntung, hyung. Semoga setelah ini ada kesempatan lain yah." hibur Mingyu. "Kalau begitu, mau langsung pergi ke motel? Aku sudah mendapatkan kamar untuk bermalam, tak buruk, dan harganya murah."

Baekhyun menarik nafas, setidaknya senyuman Mingyu membuat hari ini menjadi lebih baik, bahkan di keadaan seperti inipun. Baekhyun tak lagi meneruskan cerita mengenai Park Chanyeol atau apapun setelah itu, membiarkan Mingyu berasumsi sesuai pemikirannya sendiri, dan Baekhyun juga tak ingin mengingat kekecewaan dan penyesalannya malam ini.

.

.

.

Chanyeol cukup terkejut, hingga mantel yang tengah tertata rapi di pundaknya nyaris merosot, ia yakin seseorang membuka pintu, dan ia yakin orang tersebut membawa ponsel yang tengah merekam. Nana yang berdiri di depannya sontak turut terkejut pula, belum sempat kedua tangan Nana melepaskan lilitan di pundak lebarnya, seseorang misterius yang membuka pintu itu berlari, pergi.

"Tunggu!" Chanyeol sempat mengejar, meninggalkan Nana yang nampaknya berujar sesuatu, lelaki jangkung itu melangkah lebar-lebar, namun koridor telah sepi begitu ia sampai keluar ruang backstage, ia yakin sosok yang dilihatnya, lelaki? Nampaknya demikian, rambut hitam pendek dan ransel serta jaket tebalnya. Apakah ia seorang fans? Kenapa memasang wajah seperti itu? Chanyeol terengah begitu sampai di pintu utama atrium, tak ada seorang-pun, bahkan setelah pandangannya menyapu seluruh area depan atrium, tak ia dapati sosok yang baru saja kabur tersebut.

.

"Seperti apa dia?" Jongshin bertanya keesokan harinya, tepat setelah Nana menelepon dan menceritakan apa yang terjadi sang manajer tersebut langsung menemui keduanya secara mendadak, wajah seriusnya tak bisa disembunyikan.

"Sepertinya tak terlalu tinggi, laki-laki, rambutnya hitam, memakai jaket tebal dan tas ransel." alih-alih Chanyeol, Nana justru yang menjawab.

"Begitu?" Jongshin hyung kembali menoleh ke arah Chanyeol setelah mendengarkan Nana.

"Aku yakin dia merekam, ponselnya terarah lurus ke ruangan begitu pintu terbuka, dan nampaknya dia sengaja, mungkin sesaeng, atau penguntit." Nana menambahi. "Oppa, sepertinya kita harus segera menemukannya, setidaknya memastikan saja…"

"Yah, begitu pula yang kupikirkan…"

"Aku juga akan memberitahu manajerku, pihak agency juga akan kuberitahu, akan kubantu sebisaku."

"Oke, baiklah Nana, terimakasih bantuannya…."

"Tak apa." Nana tersenyum menanggapi manajer Chanyeol tersebut, kemudian menepuk bahu Chanyeol. "Kau jangan terbebani, kalau ada apa-apa nanti akan segera kuhubungi."

Nana melengang pergi setelah mengusap bahu Chanyeol dan menunduk pada Jongshin, sedangkan si manajer hanya bisa mendengus memandang Chanyeol yang sedari tadi hanya menunjukkan tatapan kosong.

"Kau, apa yang ada di pikiranmu?"

"Aku hanya… Kalau dia memang salah satu fans, dan… Melihat aku dan nana di backstage kurasa akan ada sedikit kesalahpahaman." penyanyi itu berujar. "Kurasa dia akan mengira aku dan Nana ada hubungan khusus atau sedang melakukan sesuatu hal… Aku khawatir dia akan salah mengartikan ini…"

"Yah, kau ini, khawatirkan dirimu dulu sebelum kau khawatirkan orang yang tak kau ketahui namanya itu. Bisa saja dia memang sesaeng, atau orang yang mengambil untung dengan mengancam artis atau semacamnya. Dan satu hal lagi dia tengah membawa ponsel, dia punya cukup bukti otentik untuk membuat headline di sosial media besok, atau entah kapan, nasibmu itu bisa berakhir hanya dengan satu klik tahu."

Chanyeol bernafas berat, iya memang kenyataannya seperti itu, tapi entah mengapa perasaannya mengatakan lain. "Kita lihat sampai besok apakah ada sesuatu hal di internet."

"Sementara kita lihat situasinya dulu, tapi setidaknya kita harus bertemu Wonwo." Sang manajer berujar mantab. "Kita harus mentracking siapapun yang sudah merekammu dan menemukannya, pastikan dia menghapus videomu."

Chanyeol kali ini mengangkat kepala, memandang manajernya sedikit antusias, tatapan kosongnya sirna. "Ah, iya, kalau itu kita memang perlu." dia menyetujui. "Aku ingin tahu siapa dia." tambahnya.

.

.

.

Lima hari berlalu semenjak terakhir kali Chanyeol menggelar acara fanmeeting di Atrium dan lima hari pula sejak peristiwa yang diluar dugaannya itu terjadi. Chanyeol sebenarnya sudah membuat janji dengan Wonwo, ahli IT yang memang agency-nya perkerjakan. Selain bertugas mengurusi media sosial dan apapun yang mengenai IT untuk agency Wonwo dikenal memang sebagai hacker handal, segala macam software dia menguasai, bahkan yang orang belum tahu sekalipun. Dengan bantuan manajer hyung Chanyeol akhirnya bisa bertatap muka dengannya, setelah berkonsultasi dan menceritakan apa yang terjadi mereka bertemu di ruang meeting agency, yang biasanya digunakan Wonwo untuk bekerja, terlebih menggugah video atau melakukan editing.

"Kau sudah mencari tahu tentangnya?" Jongshin memulai, menaruh tiga cup kopi, menyodorkan yang bertanda berbeda untuk Chanyeol.

Wonwo mengangguk singkat, menyesap kopi hitamnya kemudian menunjukkan layar laptop yang nampaknya berisi file, dan data. "Namanya Byun Baekhyun. Dari email yang dicantumkan di fancafe aku sudah bisa mentracking kampus dan sosial medianya. Dia berkuliah di Universitas di Daegu, dia seusia dengan Chanyeol, sudah aktif semenjak Chanyeol debut. Dia menggunakan nama ByunB di fancafe, selalu aktif namun tak banyak mengobrol di chat, dia online 24 jam, kurasa untuk bisa melakukannya dia mengunduh aplikasi tertentu, dan… mungkin hanya hari raya dia terlihhat off." Lelaki muda itu memberi jeda. "Namun dia tak terlihat on sejak lima hari lalu, sepertinya hanya pada pukul sepuluh malam sampai satu pagi, selebihnya tidak lagi. Dia juga sering memberi dukungan setiap kali ada penghargaan atau apapun mengenai voting, setiap tahun ketika menjelang daesang dia menggunakan seluruh media sosialnya, tiga akunnya untuk melakukan vote, dia tercatat merupakan akun pemberi vote terbanyak tahun lalu dan tahun ini, dia juga tercatat membeli seluruh album, dia aktif di media sosial dan selalu mengikuti perkembangan Chanyeol, dari radio atau situs-situs legal lainnya."

Wonwo mengakhiri penjelasannya, menunjukkan seluruh analisanya dengan memberikan bukti, akun yang ditrackingnya terpampang dengan rapi, Chanyeol dan Jongshin hanya bisa menanggapi dengan anggukan. "Kau bilang dia tidak terlihat aktif sejak lima hari lalu?" Chanyeol bertanya, kali ini menoleh melihat Wonwo.

"Iya. Aku yang mengurus fancafe, sebagai admin dan pengatur semuanya, aku bisa lihat siapa yang on atau tidak, dia memang biasanya on namun tak mengetik chat atau apapun, tapi lima hari ini memang dia tidak on. Juga soal streaming, dia tak lagi sering melakukannya, sejak lima hari lalu."

Chanyeol menyandarkan punggungnya ke kursi, membuang nafas. "Dia terus mengikuti perkembanganku semenjak debut, membeli semua album, memberi vote dengan tiga akun…"

"Dan membuat acara donasi atas namamu." tambah Wonwo, yang nampaknya baru menemukan sesuatu lagi dari laptopnya. "Kalau kau ingin mengetahui lebih jauh aku bisa membobol email dan… Banyak hal yang harus dilakukan untuk mengetahui selengkapnya…"

"Hei, kurasa sudah cukup klarifikasi kalau dia memang fans, dan yang penting, apa kau lihat dia menggugah video atau semacamnya yang membahayakan Chanyeol?" kali ini Jongshin menyambung.

Wonwo mengerutkan kening, ditelusurinya file dan membacanya sekali lagi. "Nampaknya tidak. Lima hari ini dia sama sekali tidak terlihat aktif di media sosial. Tak ada postingan tak berarti dia tak online memang, tapi dari sini grafik menunjukkan nol." lagi Wonwo mengarahkan laptopnya ke arah Chanyeol dan Jongshin hyung. "Dia sama sekali tak terlihat di media sosial sejak lima hari lalu. Di fancafe atau dimanapun."

.

Jongshin dan Chanyeol meninggalkan ruang meeting saat jam menunjukkan pukul sembilan malam. Saatnya Chanyeol bersiap karena pukul sebelas ia harus sampai di bandara. Jongshin seperti biasa sudah mempersiapkan semuanya, dan bersiap di kursi kemudi, namun pandangannya teralih melihat artisnya belum mengatakan sesuatu apapun padahal biasanya dia adalah orang yang bisa dikategorikan hiperaktif.

"Kenapa gelisah begitu? Harusnya kau lega karena dia tak menggugah videomu—"

Chanyeol menghela nafas panjang menanggapi perkataan manajernya. "Dia pemberi vote terbesar untukku, dia… Fansku."

"Lalu?" sang manajer melirik spion, memastikan laju mobil terarah dengan benar. "Kau mengkhawatirkan karena dia tidak aktif lima hari ini? Kau tak akan tenggelam hanya karena kehilangan satu fans. Bukan aku tak menghiraukannya, tapi kau masih punya jutaan fans lain—"

"Coba bayangkan di posisinya hyung." entah mengapa nada bicara Chanyeol kali ini berubah, menatap ke depan lalu memijit kelopak matanya dengan telunjuk dan ibu jari. "Kalau kau melakukan segalanya untuk seseorang lalu orang itu mengecewakanmu…"

Ketika Chanyeol membuang nafas kasar Jongshin tak bisa membantu apa-apa kecuali menepuk kemudian mengusap bahunya. Baginya mungkin fans adalah seseorang yang mendukungnya saja, di luar dari keluarga, bahkan ada pula yang memandang fans adalah sumber pundi-pundi uang, dan Jongshin mengerti kalau untuk Chanyeol mungkin fans memiliki arti lain, orang yang mendukungmu, orang yang mencintaimu, orang yang melakukan apapun untukmu, dan Chanyeol, adalah tipikal orang yang selalu ingin memberi cintanya pada orang yang disebut fans tersebut.

.

.

.

Jam menunjukkan pukul empat sore saat Baekhyun hendak bersiap untuk berangkat bekerja. Ia sedang mencari syal saat matanya tak sengaja tertuju pada mini poster yang tertempel di dinding dekat meja belajarnya. Masih potret sosok yang sama. Baekhyun menarik nafas, dia berpikir sejenak mengapa ia melakukan ini, yah, mengorbankan waktunya yang seharusnya ia pergunakan untuk istirahat, mengerjakan tugas, merebahkan diri di atas ranjang, untuk bekerja keras hanya untuk mendapatkan uang tambahan. Baekhyun secara tak sadar mengingat bagaimana ia mengumpulkan uang yang didapatnya hanya untuk membeli album, apapun yang berhubungan dengan orang yang ia kagumi, ia seakan melakukannya dengan tanpa sadar, tubuhnya bergerak otomatis dan otak yang memerintah seakan mempunyai keinginan sendiri.

Ia mendudukkan dirinya, memandangi poster itu sebelum menariknya perlahan.

Kemarin ia sudah membersihkan meja belajarnya, menyimpan seluruh album dan apapun mengenai Park Chanyeol bahkan boneka miniatur-nya ke dalam sebuah kardus berukuran sedang, kali ini Baekhyun menambahi isi kardus itu, dengan mini poster yang meskipun sudah berbekas double tip di sisi belakangnya namun masih ia perlakukan dengan hati-hati. Ia lipat poster itu kemudian menaruhnya di bagian paling atas di dalam kardus, setelahnya ia simpan di dalam lemari di bagian paling bawah.

Ponselnya berdering, dan Baekhyun dengan segera mengangkatnya.

"Oh gyu-yah?"

'Kau sudah mau masuk kerja, hyung? Perlu tumpangan?'

"Tidak, tidak usah, aku bisa berangkat sendiri…"

'Ah, baiklah… Tapi benar hari ini kau akan masuk kerja? Kalau kau masih terlalu lelah sebaiknya masuk besok saja.'

"Aku tidak apa-apa Gyu-yah. Aku akan masuk hari ini."

'Baiklah kalau begitu… Kalau kau perlu apa-apa telepon saja aku.'

"Oke…"

Sambungan telepon terputus, Baekhyun melihat layar ponsel sekian detik sebelum memasukannya ke dalam tas, bergegas memakai sepatunya dan memastikan pintu kamarnya terkunci sebelum pergi.

.

"Apa dia tak apa-apa?" Minseok hyung bertanya, menatap Mingyu yang baru saja mengakhiri telepon.

"Kurasa. Tapi Baekhyun tidak mau cerita apa-apa lagi setelah kejadian itu, kurasa dia benar-benar sedih."

"Biarkan saja dia begitu. Mungkin dia hanya butuh waktu. Dia terlampau lelah, dan tidak berhasil menemui Chanyeol tentu membuat mood-nya berubah buruk." Minseok membuat kesimpulan.

"Tapi kurasa ada hal lain terjadi." Mingyu berujar. "Aku sedikit banyak tahu Baekhyun hyung, kalau belum bisa bertemu Chanyeol mungkin memang benar dia akan sedih, tapi kurasa ada hal lain terjadi."

"Maksudmu?"

"Dia sedikit… Berubah? Kurasa."

Minseok memasang wajah belum mengerti.

"Entahlah, semoga itu hanya perasaanku saja." Mingyu mengakhiri percakapannya.

.

.

.

Berita menyebar seperti jamur di musim hujan, itulah yang nampaknya membedakan antara kota besar dan kecil, terlebih mengenai Baekhyun yang orang-orang di sekitarnya sudah saling mengenal satu sama lain. Ahjumma sang pemilik restoran sudah tau apa yang terjadi, Mingyu telah memberitahunya terlebih dahulu, juga Eunji yang beberapa hari lalu mampir di restorannya, membawa topik yang sama, yakni Baekhyun yang berhasil mendapat tiket fanmeet Chanyeol namun tak berhasil bertemu pada akhirnya, oleh karena itu saat melihat Baekhyun mengelap area yang sama selama bermenit-menit ahjumma sengaja membiarkannya, memandangnya dengan iba sesekali.

"Baek, sebelum mengelap piring bisakah kau rapikan isi kulkas terlebih dahulu?"

"Baik, ahjumma." jawabnya tekun, dan ahjumma dengan tak tega memandang lelaki kecil itu berjalan tanpa tenaga menuju dapur. Di pikiran wanita yang usianya hampir separuh abad itu hanya terlintas bagaimana Tuhan begitu berlaku kurang adil pada Baekhyun, hanya untuk bertatap muka dengan orang disukainya selama ini, apakah sesukar itu? Baekhyun tak menggumamkan alunan nada yang ia suka seharian ini, tak menggunakan waktu istirahatnya untuk streaming video yang ia favoritkan, ia berubah menjadi manusia yang kehilangan separuh jiwanya, begitu yang bisa ahjumma tangkap dari semua ini.

Mungkin Baekhyun hanya merasa sedih.

"Baekhyun, ada sesuatu yang barangkali ingin kau ceritakan pada ahjumma?" sang wanita membuka pembicaraan, menoleh melihat jam dinding yang menunjukkan angka sepuluh, sepertinya mengulur waktu setengah jam saja untuk mendengarkan keluh kesah lelaki yang sudah ia anggap sebagai putranya itu tidak ada salahnya juga.

Baekhyun tampak sedikit heran, ia hanya mengulum senyum, mengira wajah kusutnya pasti membuat Ahjumma berpikiran yang tidak-tidak. "Ah, tidak ahjumma, tidak ada… Kenapa ahjumma bertanya begitu?" Baekhyun tersenyum, mengelap tangannya kemudian melepas celemek, menaruhnya ke dalam loker di ruang belakang lalu berjalan kembali ke depan, kali ini ia duduk di salah satu meja pengunjung. "Ahjumma yang bagaimana? Kutinggal beberapa hari ini, tidak ada masalah kan?"

"Tentu tidak masalah…" wanita itu tersenyum, dipandangnya Baekhyun yang dengan bibir membentuk senyum namun matanya yang tak secerah biasanya. "Kau… Begitu menyukai Chanyeol yah?"

Senyum Baekhyun memudar, mengingat Chanyeol tentu bukan hal yang baik saat ini, namun ia mengangguk, kenyataan terkadang memang diluar kemauannya.

"Kenapa?" tanya ahjumma lagi.

"Entahlah…" Baekhyun memberi jawaban sejujurnya. "Kadang juga aku tak tahu kenapa, ahjumma."

"Um…" ahjumma mengangguk mengerti, ia menghela nafas memandang Baekhyun yang bisa ceria dan bisa berubah sedih hanya karena orang yang ia sukai begini, dari situ bisa ahjumma lihat betapa lembut dan hangatnya hati lelaki itu, juga kepolosan dan ketulusannya. "Lain kali kalau ada acara bertemu dengan Chanyeol atau hal semacamnya ahjumma akan membantumu, jadi jangan putus asa begitu." wanita itu bangkit berdiri, mengusap bahu Baekhyun yang masih dalam posisi terduduk, Baekhyun mendongak dan tersenyum.

"Terimakasih… Tapi sepertinya aku belum ingin lagi ahjumma, terlalu jauh, dan terlalu melelahkan." jawaban lelaki muda itu membuat kening ahjumma mengernyit.

"Mengapa begitu? Apa ada sesuatu hal terjadi?" Baekhyun menunduk, hanya memilih bungkam, bisa ia rasakan pula ahjumma berhenti mengusap punggungnya. "Huff… kuharap siapapun yang bernama Chanyeol itu muncul disini dan menenangkanmu."

Gelak tawa Baekhyun bisa terdengar saat ahjumma mengutarakan kalimatnya dengan acuh sembari berjalan menjauh.

"Ahjumma, biar aku saja yang kunci." Baekhyun berujar, bersiap pulang dengan menyabet tas kemudian berdiri.

"Baekhyun. Sepertinya tadi ada malaikat lewat ketika ahjumma mengucapkan permohonan."

Baekhyun menghentikan pergerakan, memandang Ahjumma penuh tanya. "Hm?"

Pintu restoran digeser agar terbuka lebih lebar.

"Baekhyun?"

Suara bass Park Chanyeol memenuhi ruang.

.

.

.

.