.

.

.

Lima

.

.

.

Gyeonggi, 4 April 2005…

.

"Sial!" umpatan ketiga yang diutarakan Baekhyun seharian ini, setelah yang pertama karena lembaran brosur terakhir yang ia incar berhasil direbut bocah berbadan gendut yang ia tak terlalu peduli datang dari kelas mana, kedua karena ia harus membayar hampir lima ribu won hanya untuk membeli selembar brosur yang sama dari anak perempuan kelas sebelah, dan ini berharap yang terakhir, karena lembaran yang sudah dipegangnya tertiup angin dan hampir melayang dari lantai dua sekolahnya. "Chanyeol!"

Yang dipanggil menengok, lelaki berpostur jangkung dengan lollipop di mulut, mata bulat yang dengan polos – Atau mungkin bodohnya – berkedip-kedip dengan memasang wajah tanpa ekspresi.

"Huh-kau-sial-kupanggil-kenapa…"

"Hey, bicara yang jelas… Aw!" Baekhyun yang terengah ternyata masih punya cukup tenaga untuk mengayun buku matematika SMP setebal dua ratus halaman ke kepala sahabatnya yang kini meringkuk dengan ekspresi sakit yang dilebih-lebihkan. "Kenapa kau memukulku?"

"Kau kupanggil dua kali lebih banyak daripada memanggil ibu kandungku!" Baekhyun melolong. "Ini!"

Selembar kertas seukuran A4 ditempelkan di dadanya, Chanyeol menunduk sesaat, menerimanya kemudian memandang Baekhyun. "Apa ini… AW!" Sekali lagi buku matematika menghantam kepalanya. "Aku bisa gegar otak Baek!"

"Memang apa bedanya kalau kau gegar otak?" Baekhyun menjawab, tak kalah nyaring. "Baca dulu sebelum bertanya!"

Chanyeol mengusap-usap kepalanya, satu tangan yang lain mendekatkan brosur yang ia dapat, membacanya pelan-pelan. "Brosur… Pertukaran… Pertukaran pelajar?!"

Baekhyun mengangkat dagu, mengangguk.

"Seoul?!"

Baekhyun mengangguk lagi.

"Baekhyun!"

"Hya!" Entah apa yang dilakukan Chanyeol, yang jelas Baekhyun merasa badannya melayang, berputar di udara, dan lehernya tercekat seperti dicekik.

.

.

Pohon besar belakang sekolah memang selalu menjadi tempat favorit Chanyeol dan Baekhyun, karena tempatnya strategis, tumbuh di antara kantin sekolah menengah tempat mereka menuntut ilmu, lapangan voli dimana banyak anak perempuan akan latihan dan apabila beruntung mereka bisa sedikit mendapat pemandangan rok-rok selutut tertiup angin, dan ruang guru di seberang, sehingga bisa digunakan untuk memantau siapa saja guru yang keluar-masuk seandainya jam pelajaran masih berlangsung, dan terlebih dari itu semua, angin sepoi yang tenang dan tempat duduk yang dibuat memang hanya untuk dua orang dan berjarak sangat dekat sehingga mereka bisa menyandarkan punggung di batang pohon besar di belakang mereka.

Dan untuk Baekhyun, kalau Chanyeol sudah membawa gitar dan memainkannya di sampingnya, Baekhyun rasa ia bisa duduk sepanjang hari di tempat itu.

"Ayo teruskan." ujar Baekhyun kalem, belum membuka matanya yang sedari tadi terpejam, belakang kepala ia ikut sandarkan ke belakang.

Chanyeol menanggapi dengan kikikan ringan.

"Ada yang lucu?" Baekhyun membuka mata pada akhirnya, menengok ke samping kemudian melihat ke bawah, baru sadar Chanyeol tidak lagi duduk di sampingnya, justru di tanah, beralaskan tas kosongnya, yah karena pelajaran memang sudah usai, dan mereka masih terlalu malas untuk pulang.

"Mau lagu apa lagi?"

"Apa saja…"

Chanyeol tersenyum, dipetiknya senar gitar sesuka hatinya, tangan Chanyeol memang ajaib, dia jenius kalau urusan musik, darah seninya tinggi, dan Baekhyun tahu itu, meskipun pertemanan mereka dimulai saat Chanyeol pindah ke kota kecil ini karena ayahnya yang mempunyai urusan bisnis, dan belum setahun pula mereka menjadi sahabat dan teman sebangku, namun Baekhyun sudah tahu bahwa musik adalah potensi terbesar yang Chanyeol miliki, dan saat Chanyeol bercerita ia ingin menjadi pemusik sukses Baekhyun adalah orang pertama yang mengangguk menyetujui.

'Aku ingin suatu saat tampil di gedung besar dengan banyak penggemar yang datang menontonku' Chanyeol pernah berujar suatu hari, ketika mereka pulang sekolah bersama, dengan mangayuh sepedanya, dan Baekhyun yang berdiri di belakangnya dengan menumpukan tangan di bahu yang lebih tinggi menanggapi 'Dan nanti aku akan jadi salah satu dari penontonmu itu' mereka tertawa setelah itu, Baekhyun mengusap kepala Chanyeol, membuat yang lebih muda terkekeh, yah, Chanyeol memang lebih muda, hanya terpaut enam bulan memang, namun tubuh bongsornya sering membuat orang salah sangka bahwa Chanyeol lebih dewasa, juga karena Baekhyun memiliki tubuh mungil dan wajah yang terlalu lucu dan cantik – Yah itu menurut pemikiran Chanyeol saja – Perkataan Chanyeol mungkin seperti kata pengandaian saja, hanya salah satu contoh mimpi di siang bolongnya, tapi Baekhyun, dengan senyum yang seperti menanggapi anak kecil yang berandai menjadi astronot dan bisa berjalan-jalan di bulan, dalam hati meyakini bahwa suatu hari, entah kapan, mungkin Chanyeol akan bisa mewujudkan mimpinya itu, Chanyeol berada di tengah panggung dengan lampu sorot dan ribuan penggemar meneriakkan namanya, Baekhyun bisa membayangkan hal itu.

"Hey, brosurku, tidak kau buang kan?" Baekhyun tiba-tiba bertanya, menegakkan badan, ia pandang sahabatnya dengan serius, dan Chanyeol yang seperti biasa tak terlampau peduli dengan sesuatu apalagi yang dinamakan kertas atau sebangsanya, langsung melompat dari duduknya dan merogoh isi dalam tasnya. "Ada?"

Chanyeol meringis, ditariknya kertas yang sudah lusuh.

"Sial, tau begini kusimpan saja." Baekhyun mengomel. "Sini, biar kutuliskan, terakhir dikumpulkan satu minggu lagi."

Chanyeol menurut saja, diberikannya secarik kertas yang dipegangnya, menatap Baekhyun yang dengan serius mengeluarkan alat tulis dari dalam tasnya, dengan hati-hati mengeluarkan buku matematika untuk alasnya menulis.

"Baek, kau yakin aku bisa mendaftar?"

"Kenapa tidak?"

"Kalau aku terpilih bagaimana?"

"Kan memang itu tujuannya."

"Kalau aku pergi ke Seoul…"

Baekhyun menghela nafas, tangannya berhenti bergerak, memandang sahabatnya yang juga menatap kedua bola matanya. "Kenapa?" Chanyeol masih menatapnya, intens, kali ini memegang pergelangan kaki kanan Baekhyun. "Apa?"

"Siapa yang akan mengurus Elizabeth?"

Baekhyun memutar bola mata malas, Elizabeth, kucing angora berwarna putih milik Chanyeol, haruskah Baekhyun menendang Chanyeol untuk rengekan tak masuk akalnya itu.

"Kau bisa menitipkannya padaku." ujar lelaki mungil itu. "Di rumah banyak sekali makanan sisa dan aku juga bisa meminta ikan yang tak habis terjual dari tetangga."

"Yah Baek… Jangan beri makanan sisa padanya~ Elizabeth tidak bisa makan ikan mentah juga… Dia bisa terkena alergi."

"Aku yang urus, jadi terserah padaku."

"Baek…."

.

.

Awal mula mereka bertemu adalah di tepi jalan menuju sekolah, mungkin saat itu musim gugur, daun-daun berwarna oranye banyak berjatuhan dan berserakan di sebagian jalan kota. Baekhyun menggunakan jaket hangat berwarna biru tua, tas ranselnya berwarna hitam, dan sepatunya berwarna putih. Rambutnya masih sangat pendek karena peraturan sekolah, tidak berani memakai apapun yang melanggar peraturan, begitulah Baekhyun, dengan dasi yang rapi dan seragam yang lengkap, tasnya yang berat berisi buku pelajaran sesuai jadwal hari itu.

"Hey, butuh tumpangan?"

Saat itulah ia bertemu Chanyeol, lelaki dengan tinggi di atas rata-rata, murid pindahan yang baru dua hari masuk sekolah, ia terlihat menjulang dengan sepeda gunung merahnya, tas yang terlihat sangat tipis dan Baekhyun tak yakin apakah ia membawa buku atau tidak, seragam tak berdasi yang kancing paling atas terbuka, dan celana yang ia lipat sampai lutut.

"Kau mau bersekolah?" Satu kalimat Baekhyun membuat Chanyeol menghentikan apapun aktivitasnya, juga senyum yang tadinya ia umbar.

"Yah. Aku pakai seragam, memang kau pikir aku mau tanding bola?"

"Kupikir iya. Mana dasimu? Kalau mau sekolah pakai dasi, dan juga ikat pinggang."

Chanyeol rasa takdir telah membawanya ke dimensi berbeda, tepat di saat itu pula, ia mematung, tak bisa berkata apa-apa.

.

Pertemuan pertama yang ganjil, dan Chanyeol merasa ada yang aneh saat ia mau saja ditarik Baekhyun kembali ke rumah yang untungnya berjarak tak terlalu jauh dari sekolah. Memperlakukannya seperti boneka dengan Baekhyun yang menyuruhnya ini itu. Baekhyun terus mengomel, membeberkan tentang peraturan sekolah nomer sekian, dan Chanyeol dengan sukarela menurut saja, ia mengambil dasi dari kolong ranjang, ikat pinggang yang tertendang hingga bawah meja, sampai saat dia duduk di tepi ranjang Baekhyun dengan tanpa sungkan menyisir dan menata rambutnya.

"Hya! Jangan seenaknya menyentuh-nyentuh kepala orang!" pekik Chanyeol, sayang ia sedang sibuk memakai kaus kaki, jadi tak ada cukup daya untuk berontak.

"Setidaknya sisir dulu rambutmu."

"Aku sudah menyisirnya, dan HEY! Jangan disisir seperti itu aku kelihatan culun tau!"

Pekikan Chanyeol tak pernah digubris, Baekhyun bergerak sesuai kemauannya, apapun yang Baekhyun lakukan, Chanyeol hanya bisa pasrah, ia mendengus kesal saat Baekhyun juga menarik dasinya sampai lehernya serasa dicekik.

"Chanyeol, cepatlah, kita akan telat pergi ke sekolah."

"Memang menurutmu ini salah siapa?!" Chanyeol berteriak di antara lemari berisi buku-bukunya, masih bingung ini hari apa dan buku apa saja yang harus dibawa.

"Kalau kau terlalu lama aku pergi dulu."

"Enak saja kau!"

.

Untuk ukuran laki-laki Baekhyun memang tergolong kecil, tubuhnya pendek dan suara cempreng adalah salah satu khasnya. Chanyeol sebenarnya tak ada niatan untuk bersahabat dengannya, tapi entahlah, mungkin sudah menjadi takdir bahwa orang yang pertama ia temui dari sekolah adalah Byun Baekhyun, siswa yang ternyata juga menjadi teman sebangkunya. Mereka ternyata memiliki kesukaan yang hampir sama, tentang film atau musik, meskipun Baekhyun suka film genre romantis dan Chanyeol yang lebih ke action, juga aliran musik yang Chanyeol suka slow rock dan Baekhyun penikmat ballad, namun pada intinya yang mereka sukai adalah hal yang sama. Perbedaan yang mereka miliki mungkin Chanyeol yang lebih suka pelajaran olahraga, Baekhyun tak terlalu suka bergerak, ia lebih baik membaca daripada harus bercapek-capek menguras tenaga.

Kalau masalah pergaulan Chanyeol lebih memilih berkerumun dengan laki-laki yang mungkin hobi membicarakan mekanik atau sesama pemain musik. Sekolah memiliki grup band ternama dan Chanyeol seringkali bertukar pikiran dengan anggota lain, sedangkan Baekhyun mungkin banyak menghabiskan waktu di perpustakaan, sesekali mengikuti ekstra paduan suara dan berbincang dengan grup seni suara yang rata-rata adalah wanita, tak aneh bila Baekhyun mempunyai banyak teman wanita, yang berisik dan membicarakan mode atau gossip terbaru, hal tersebut tak aneh karena Baekhyun juga bisa dibilang modis, ia tak jarang memikirkan fashion apa yang sedang tren.

Semua orang mungkin sudah tahu jalan apa yang ingin diambil Chanyeol, bermusik. Selain hobi dan passion, kemampuan luar biasa yang ia miliki patut diacungi jempol, dan Baekhyun yang saat itu merupakan sahabat dekatnya tak ada keinginan lain kecuali mendukung temannya tersebut. Meskipun ia sendiri belum tahu jalan apa yang ingin diambilnya kelak, namun ada satu hal yang ia yakini, ia ingin mendukung Chanyeol menggapai cita-citanya, apapun, asalkan ia bisa melakukannya, ia akan berusaha. Aneh memang, namun begitulah Baekhyun, terkadang ia tak perlu makan makanan enak, melihat sahabatnya makan dengan lahap saja sudah membuatnya kenyang, begitu perumpamaannya.

.

Dan hari itupun datang. Saat Baekhyun mengumpulkan brosur pertukaran pelajar milik Chanyeol ada perasaan aneh yang muncul. Kalau benar Chanyeol mendapat kesempatan maka ia akan berpisah dengan sahabatnya itu. Meskipun itu adalah hal bagus, bagi Chanyeol untuk mewujudkan mimpinya, tapi untuk Baekhyun? Ia membuang jauh pikiran anehnya, apapun yang terjadi Chanyeol harus ke Seoul dan sukses disana, Baekhyun memantapkan hati, maka saat pengumuman dipasang dan Baekhyun melihat nama Chanyeol disana, dialah yang pertama tersenyum, dia yang membeli banyak makanan, dia yang membuat pesta dengan mengundang teman sekelas dan dia pula yang membelikan Chanyeol apapun yang mungkin ia butuhkan sebelum pindah, termasuk koper besar dan syal hangat yang ia tak pernah cerita bahwa itu adalah hasil rajutannya sendiri.

"Baek?" Chanyeol sudah memanggil mungkin ketiga kalinya, namun Baekhyun tak kunjung menoleh, entah kenapa, saat itu Chanyeol merasa sedikit, ah tidak, cukup banyak merasa bersalah. Baekhyun yang mendaftarkannya, Baekhyun yang mendukungnya, Baekhyun yang membuatkan pesta untuknya, dan sekarang Baekhyun pula yang mengemaskan seluruh perlengkapan ke dalam koper yang bahkan Baekhyun yang belikan. "Aku bisa sendiri…"

"Tidak. Kau tidak bisa." jawab Baekhyun, masih dengan memunggungi sahabatnya. "Kau tidak bisa melipat pakaian, kau tidak bisa membuatnya rapi seperti ini."

Chanyeol tak melanjutkan, ia berpikir kalau mungkin ada sesuatu yang Baekhyun pendam, tapi apa? Chanyeol tak cukup mendapatkan petunjuk, ia juga bukan termasuk lelaki peka, ia bertanya-tanya sendiri apa mungkin Baekhyun terlalu bekerja keras begini karena mimpi yang sering diceritakannya pada Baekhyun? Ingin sukses dan ingin bermusik di Seoul? Lalu dimana letak kesalahannya? Apa Baekhyun sebenarnya tak setuju dengannya? Apa yang harus Chanyeol lakukan—

"Sudah." monolog dalam kepalanya terhenti saat Baekhyun berdiri setelah menutup rapat koper hitam di hadapannya, Chanyeol hanya bisa mengerjap dan berkedip beberapa kali. "Aku akan membawa Elizabeth, kalau ada apa-apa jangan lupa kabari aku. Aku pamit pulang."

Dingin. Saat pintu kamarnya terbuka kemudian punggung sempit Baekhyun menjauh dari pandangannya yang bisa Chanyeol rasakan hanyalah dingin.

Dingin yang ia tak sadar menyerang sampai hatinya.

.

Pertukaran pelajar berujung pada perpindahan. Chanyeol mengira ia akan berada di Seoul hanya sampai beberapa bulan, untuk dirinya belajar lebih banyak tentang musik. Namun ternyata semua itu salah. Ia mendapat beasiswa penuh setelahnya, sampai universitas terkenal di Seoul memberikannya jalur masuk dengan undangan, juga beberapa agency yang mulai melirik kemampuannya dan memintanya untuk menjadi trainee. Ini adalah hal luar biasa, hal yang pantas ia dapatkan setelah perjuangannya selama ini. Ia segera memberitahukan kabar baik tersebut pada keluarga, membuat sang orang tua memutuskan untuk pindah ke Seoul pula. Chanyeol mengambil libur ketika ia harus menjemput orangtuanya, dan itu berarti ia harus kembali ke kota kecil dimana ia menghabiskan waktu sekolah menengah, ia luar biasa senang, ia tak berhenti tersenyum saat perjalanan menuju rumah lamanya, tiga tahun yang ia lewati membuatnya berubah seperti lelaki dewasa, masa SMA di Seoul membuat style dan nada bicaranya berubah, namun tidak dengan hatinya yang masih senang selama melihat jalan sempit kota yang selalu indah kalau musim gugur.

"Ouw!" supir taksi mengerem mendadak, membuat Chanyeol sedikit tersentak, sang supir mengomel tentang anak muda yang menyeberang sembarangan, membuat Chanyeol memandang keluar lewat jendela. "Baekhyun?"

.

.

Jalan ini selalu menjadi landscape pemandangan dimana mata Baekhyun mendongak mendapati mata Chanyeol yang letaknya lebih tinggi. Kini bola mata itu berubah warna, Chanyeol memakai soft lens abu-abu tua membuat wajahnya semakin fresh dan pandangannya tajam. Rambutnya wangi hair spray dan parfumnya tak lagi seperti dulu. Baekhyun sempat mematung, ia mundur selangkah ketika Chanyeol memajukan badan, namun dengan cepat Baekhyun mendapat kesadarannya kembali. "Wah! Lihat siapa yang datang." ujarnya dengan tawa riang.

Baekhyun melompat maju, memeluk tubuh tinggi Chanyeol cepat kemudian melepasnya, tak memberi Chanyeol kesempatan untuk balas memeluknya. "Hey." suara Chanyeol semakin berat, suara SMP nya yang berat dan kekanakan dulu telah hilang, yah tentu saja, dia sudah dewasa sekarang.

"Kudengar kau akan masuk univesitas di Seoul? Juga masuk agency terkenal?" celoteh Baekhyun.

"Iya…"

"Selamat yah!"

"Terimakasih… Kau? Kau akan masuk universitas juga kan?"

"Mungkin… Kalaupun iya mungkin aku akan masuk universitas yang terdekat saja…"

"Oh… Bagaimana orangtuamu? Dan… Bagaimana keadaanmu? Ada yang berubah selama kutinggal?"

Baekhyun menelan apapun di tenggorokannya, membuang pandangan dari lelaki di hadapannya. "Ibu dan ayah baik. Aku masih seperti ini saja. Mungkin hanya sedikit tumbuh tinggi?"

"Mana? Sepertinya sama saja." ledek Chanyeol, tangannya terjulur mengusap pucuk kepala yang lebih pendek, dan ia mungkin baru menyadari bahwa Baekhyun membiarkannya menyentuh rambutnya hanya untuk tiga detik saja.

"Hey, jangan sembarangan menyentuh kepala orang." ujar Baekhyun sinis, mengusap rambut seakan menghilangkan bekas sentuhan Chanyeol disana, kemudian mengambil nafas. "Kau akan menjemput orangtuamu hari ini?"

Chanyeol berhenti terkekeh, ia menunduk, kemudian mengangguk, senyumnya tak bisa diartikan, entahlah, sepertinya sedih namun… Jujur saja ia rindu, dengan semua yang ada di kota kecil ini, jalan, toko, pepohonan, rumah, orang-orang, sekolah lamanya… Baekhyun…

"Tolong jangan bawa Elizabeth."

Baekhyun berujar.

Matanya terlihat sedih.

"Baiklah." Chanyeol mengangguk, ia lengkungkan bibirnya menjadi senyuman, namun tak bisa ia pasang lama saat melihat sahabatnya itu mengusap ujung matanya dengan punggung tangan. "Hey… Baek…"

Chanyeol akhirnya merengkuh tubuh mungil di hadapannya, tubuh itu bergetar, tubuh yang hangat yang wanginya masih sama, yang seharusnya selalu ceria, kini menangis seperti anak kecil yang akan dipisahkan dengan kucing peliharaannya.

Ya, mungkin memang karena hampir saja Chanyeol melakukannya.

Diusapnya kepala itu lembut, jujur saja Chanyeol merasa sedih, sangat sedih, apakah untuk mencapai mimpi, ia harus dihadapkan dengan kesedihan seperti ini?

"Nanti kalau aku ada waktu aku akan kesini lagi. Kita akan bertemu lagi." hiburnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hello ALL ^^

Fiuh, ga kerasa uda sampe chaps 5 (~'')~

makasih banget yah yang udah follow, fav, review, semuanya diterima dengan baik dan yang udah pm juga nanya ini itu ini itu bla bla, author seneng banget (serasa kek dihargai) *nangis di kolong ranjang chanbaek*

Actually ga nyangka sih ternyata banyak yg minat dan suka *ehem, ff ini kan secara seperti biasanya idenya mengalir pas author lagi bertapa di ruang 2mx2m (jangan tanya detailnya), dengan cerita yang biasa, latar yang biasa, tulisan yang biasa T,T *fyi cuman chanbaeknya yang luar biasa aja

jadi terimakasih banyak jinjja gumawo hehehe

seperti biasanya ucapan terimakasih author ucapin buat yang usernamenya keliatan di review

Park Beichan, reviewer pertama, hoho, jinjaa gumawo

oh sany7, flashMrB, , ricon65, kim614 (yang reviewnya panjang bgt, gumwooooo) ,strawbaekk,icecream30,putrinurdianingsih,byunbaek15,n3208007,ohqueenb,anonime, mamimomame, auliaMRQ, yeolovebaek, debaektaeluve, angilee, yoon745, lavenderCB, puji hkhs, winter par park chan, eisha tami, cb046194, vinna614

.

Maaf banget kalo ada salah penulisan nama dan gelar(?)

dan maaf banget juga kalo ada yang ga kesebut(?) heheee

okey sampai sini aja dulu sih ya, paling ga ff ini update 2x ato ga seminggu sekali (kalo ga ada rintangan menghadang)

siapa yang penasaran mau lanjut(?)

next week maybe ^^

please keep your support and keep reviewing (^^)

With sincerely love

chu~ San ^^