.
.
.
Enam
.
.
.
.
Suasana menjadi canggung. Baekhyun melirik jam saat Chanyeol duduk di kursi di hadapannya dengan terpisah oleh meja kayu berbentuk persegi, dan ahjumma yang masih berdiri di dekat pintu tak bisa mengelak kalau dia memang menatap Park Chanyeol kagum. Lelaki muda itu memang sangat tinggi, dan tampan? Rambut coklatnya terlihat lembut, dengan mantel panjang dan bau yang sangat wangi, tak heran jika dia adalah artis terkenal.
"U-um, kalau begitu ahjumma pulang dulu. Baek, jangan lupa nanti kunci pintu. Ah, dan, permisi, Chanyeol…" Ahjumma menggeser pintu di belakangnya, nada bicaranya yang gugup sedikit kentara.
Chanyeol menunduk sopan sambil setengah berdiri, kemudian kembali ia menatap Baekhyun di hadapannya. Baekhyun masih tampak sama, hanya saja kini ia terlihat lebih dewasa, kontur wajahnya terlihat tegas meski Chanyeol masih menemukan pipinya yang chubby, rambutnya kini memanjang, bahkan sekarang poninya sampai menutupi dahi, rambutnya masih hitam, namun terlihat sangat lembut.
"Jadi kau bekerja sampingan disini?"
Baekhyun tak langsung merespon, ia terdiam sesaat, matanya menelusur mencari kekurangan di wajah Chanyeol, betapa hatinya mencelos karena tak ia temukan.
Kalau dulu Chanyeol adalah lelaki tampan, berarti sekarang ia berubah menjadi sangat tampan.
"Iya." Baekhyun menjawab singkat.
"Baek, maaf."
"Untuk?"
Oh, benar, tak seharusnya Chanyeol lontarkan pertanyaan seperti macam itu, sama saja dia memberikan senapan beserta pelurunya kepada Baekhyun. Terlalu banyak hal yang seharusnya Chanyeol tak lakukan, terlalu banyak hal yang membuat Baekhyun bersedih karenanya, seandainya perandaiannya menjadi nyata, Chanyeol mungkin sudah mati dengan peluru yang ditembakkan bertubi-tubi.
"Aku sangat sibuk semenjak masuk agency." Chanyeol mencari topik paling aman yang bisa diutarakannya. "Aku tak ada waktu sedikitpun, bahkan empat jam waktu luangku hanya bisa kugunakan untuk tidur. Ponsel juga aku dilarang memegang sampai aku berhasil debut."
Baekhyun mendengarkan.
"Aku berusaha menghubungimu, tapi kau sudah berganti nomor. Aku juga tak bisa menemukan nomor teman-teman lain…" keluhnya. "Maaf, Baek…"
"Tidak apa. Aku tahu kau sibuk."
Chanyeol menatap sahabat lamanya, Baekhyun sangat kaku, dan ia harus mengakui bahwa janjinya yang tak ditepati tentu membuat Baekhyun kecewa, bukan soal kepergian saja, tentang janjinya tempo hari, saat Baekhyun terisak-isak di dadanya, harusnya Chanyeol tak sembarang berbicara, mungkin Baekhyun menunggunya, mungkin Baekhyun bersedih karena Chanyeol tak pernah lagi datang mengunjungi, setidaknya, mengabari.
"Sejujurnya aku merindukanmu." Chanyeol berujar dengan nada serendah mungkin.
"Aku tidak." pernyataan Baekhyun sama sekali tak pernah dibayangkan Chanyeol, membuat yang tinggi mematung. "Kau juga sepertinya tidak sungguh-sungguh merindukanku, kalau kau rindu mana sempat bermain-main dengan wanita di backstage seenakmu—"
"Yak, itu kau hanya salah paham Baek…"
Baekhyun memicingkan mata.
"Oke, oke, begini kujelaskan, jadi—"
"Jadi?"
"Dia hanya mengunjungiku." Chanyeol menurunkan volume suaranya. "Kami hanya berteman."
"Teman memang memeluk-meluk begitu?"
"Aku bahkan juga sering memelukmu!"
"Aku sudah lupa."
"Baek…"
"Dia wanita, dan dia memelukmu, kalau kusebarkan videonya pasti industri hiburan geger." Baekhyun mungkin tak bermaksud mengancam, namun ia terhenti, sadar sesuatu yang diutarakannya membuat Chanyeol terdiam. "A-aku sudah menghapusnya. Kau tak usah khawatir." tiba-tiba diambilnya ponsel di dalam tas, tanpa ragu Baekhyun menyodorkannya pada Chanyeol.
Chanyeol hanya bisa memandang ponsel dengan layar menyala di hadapannya, kemudian jemarinya mulai menyentuh layar, menelusuri tiap galeri foto. "Aku percaya padamu Baek."
"Makanya lain kali hati-hati, coba yang memergokimu orang lain."
Chanyeol mengangguk, tersenyum melihat Baekhyun yang selalu memberi perhatian dengan cara yang berbeda, meskipun tampak dingin dan tak jarang berkomentar pedas, tapi sebenarnya hatinya sangat lembut, dan dia begitu peduli. "Um, kau… Benar-benar ikut fanmeeting minggu lalu? Tapi aku rasa aku tak melihatmu…" setelah melihat foto-foto bagian atrium di ponsel Baekhyun akhirnya Chanyeol baru menyadarinya, bahwa Baekhyun memang datang minggu lalu.
"Iya. Aku dapat tiket tapi aku terlambat datang." akunya.
Entah mengapa sudut bibir Chanyeol membentuk senyum yang susah ditebak. "Kalau begitu mulai sekarang kau tak perlu tiket lagi untuk bertemu denganku." dengan semangat Chanyeol mengetik di layar ponsel temannya itu, kemudian sesuatu di dalam mantelnya terdengar berdering. "Dengan satu pencetan saja kau sudah bisa bertemu denganku. Aku akan langsung berangkat kalau kau memintaku datang, Baek."
Baekhyun tampak mencibir, mengernyitkan kening. "Huh, masih saja suka berbohong."
"Eh, aku serius…"
"Mana mungkin, jadwalmu padat sekali, lagipula kau sama sibuknya dengan seorang presiden bagaimana bisa kau datang kalau aku panggil, huh?"
"Kalau begitu kau yang harus datang."
Baekhyun hampir saja menyalak-nyalak, seandainya saja meja di depannya tidak berat mungkin dia ingin memukulkannya ke kepala Chanyeol sama seperti yang biasa ia lakukan dulu saat SMP, memukul Chanyeol dengan buku matematikanya.
"Kau bisa datang setiap weekend, dan kau bisa kapan saja datang ke apartemenku, atau kau mau menginap juga tak apa-apa."
"Huh?" Baekhyun benar-benar menyipitkan matanya. "Siapa juga yang mau bercapek-capek kesana kemari untuk menemuimu, huh?"
"Kau. Kau pasti mau melakukannya, kau menyukaiku kan?"
"Hah? Sejak kapan?"
Chanyeol terkikik, geli memang, namun ia mengalah pada akhirnya. "Baiklah… baiklah…" ia menengok jam dinding setelahnya. "Kau tidak pulang? Ini sudah larut…"
"Iya ini mau pulang."
"Aku boleh menginap di dorm-mu?" Chanyeol meringis, mendapati wajah ketus Baekhyun yang nampaknya tidak senang mendengar pernyataannya barusan. "Ayolah Baek, aku datang sendiri kesini, menyetir lima jam itu membuat punggungku seperti mau patah, aku tak sempat istirahat, dan lusa aku sudah ada jadwal lagi…"
"Kau menginap di hotel saja sana." gerutu Baekhyun. "Kamarku sempit, ranjangku juga muat cuma untuk satu orang."
"Wah, itu justru lebih bagus."
"Bagus apanya?"
"Dengan ranjang sempit kau bisa tidur saja di atasku."
"Dasar!"
.
.
.
'Bukankah itu Chanyeol? Park Chanyeol?'
'Oh, Chanyeol? Idol? Pacarku setiap hari membicarakan dia terus, galeri ponselnya saja lebih banyak fotonya daripada fotoku.'
'Ibuku bahkan meninggalkan ikan di atas wajan sampai gosong gara-gara dia muncul di tv.'
'Iya, noona-ku juga. Tapi kenapa dia ada disini? Dia bersama Baekhyun?'
'Apa mungkin hanya mirip saja? Kurasa dia tak mungkin ke kesini, dia kan sibuk di Seoul.'
Baekhyun tentu saja mendengarnya, bisik-bisik antara teman-temannya yang kebetulan sedang berkumpul di teras depan dorm, beberapa juga memandang heran saat melewati koridor dimana Baekhyun menyeret Chanyeol dengan terburu menuju kamarnya.
"Lain kali kau pakai hoodie atau masker atau semacamnya kalau mau pergi kemana-mana, kalau begini kan bisa repot urusannya." Baekhyun langsung mengomel, menggantungkan tas dan jaket di gantungan yang terletak di balik pintu, menaruh sepatu di rak, sedangkan Chanyeol, yang sedari tadi diajak bicara nampaknya tak terlalu ambil pusing, ia justru sibuk melihat-lihat sekeliling, memandangi kamar sahabatnya itu, Baekhyun masih saja sama, sejak SMP tatanan kamarnya selalu seperti ini, rapi dan terkesan feminin, bahkan baunya-pun wangi strawberry. "Kau dengar tidak sih?"
Chanyeol menoleh, pergerakannya yang hendak duduk di tepi ranjang bahkan terhenti, membuat pantatnya mematung di udara. "Apa?"
Hampir saja Baekhyun melemparkan botol air minum yang tengah ia pegang.
"Maaf Baek, aku sedang tidak konsen mendengarkanmu, ada apa?"
"Tidak, tidak jadi." ujarnya ketus. "Aku hanya ada air mineral, belum sempat membeli makanan ringan, kau mau makan apa?"
"Ah, tidak usah, aku sudah makan tadi."
"Kalau mau makan aku ada ramyeon cup. Tapi harus masak dulu. Aku ada kompor dan panci di lemari paling bawah."
"Iya…" Chanyeol memberi satu anggukan. Ia melihat lagi sekeliling, hanya ada almari dan meja belajar, dan meja kecil di ujung ruangan yang sepertinya untuk menyimpan peralatan masak dan mangkuk, Chanyeol menelusuri meja belajar Baekhyun yang hanya dipenuhi buku dan peralatan belajar, satu lampu meja dan boneka Pikachu di ujung, Chanyeol sejujurnya menelan sedikit kekecawaan, ia masih ingat benar tentang penjelasan Wonwo, bagaimana Baekhyun membeli seluruh albumnya, paling tidak kan seharusnya album itu dipajang di meja.
Baekhyun berjalan kesana kemari, merapikan buku yang berserakan, membuka almari dan merapikan sekenanya, mengambil beberapa potong baju lalu berjalan menuju pintu yang nampaknya terhubung ke kamar mandi. "Aku mandi dulu ya?"
Chanyeol memberi anggukan, menatap pintu yang tertutup setelahnya.
Sudah berapa lama mereka tidak bertemu? Hampir tujuh tahun? Bukankah itu waktu yang lama? Dan Baekhyun belum sekalipun memberinya pelukan atau kata-kata yang membuatnya hangat sejak tiga jam lalu, Chanyeol menggeleng kepalanya sendiri, aneh memang, dan bagaimana juga ia masih bisa tahan dengan manusia itu? Chanyeol berjalan setelahnya, kakinya bermain-main dengan karpet bulu yang panjangnya hampir sama dengan panjang ranjang, lembut, warnanya coklat, ia duduk disana, bantal berbentuk rilakuma yang ada di ujung ranjang dia ambil, menyandarkannya di dinding, kemudian badannya yang panjang itu ia rebahkan, rasanya tak cukup buruk, dengan cepat ia bisa memejamkan mata.
.
"Chanyeol? Hey." badannya digoyangkan, Chanyeol menghirup udara dalam-dalam kemudian menggeliat, pandangannya disambut dengan wajah segar Baekhyun, dan bau sabun mandi yang menyeruak. "Tidurlah di atas."
Lelaki tinggi itu mengubah posisi duduk, masih bersandar di bantal rilakuma di belakang punggung. "Ah, tidak Baek, aku tidur disini saja, tak apa."
"Tidak-tidak, kau tidur di atas, aku akan tidur di kamar lain, kamar yang memiliki dua ranjang—"
"Tidak Baek, jangan pergi, temani aku disini."
Tangannya ditarik, Baekhyun hanya bisa menatap wajah memohon Chanyeol, masih seperti anak kecil yang meminta permen, padahal sudah sedewasa ini. "Lalu bagaimana? Aku tidak bisa membiarkanmu tidur di bawah—"
"Kalau begitu tidur di atas sama-sama."
Sesuatu, apapun itu, serasa mencekat leher Baekhyun.
"Kan sudah kubilang, kau bisa tidur di atasku."
"Mati saja kau Park Chan—"
"Aku serius. Kalau begitu tidur disini? Karpet ini sepertinya lebih luas, untuk berdua bisa."
Baekhyun menghela nafas, ia menggantung handuk yang semula melingkar di leher, kemudian mengambil bantal, ia letakkan di samping bantal rilakuma yang sebelumnya Chanyeol gunakan. "Ayo tidur." ujarnya.
.
Tidur bersebelahan dengan Baekhyun ternyata tak semudah yang Chanyeol bayangkan, mungkin karena ia terbawa perasaan saja, atau, ada alasan lain? Entahlah, ada saja yang melintas di pikirannya, meski Chanyeol belum bisa menjelaskan apa itu. Ia memutuskan untuk bangun, memandang jam yang menunjukkan pukul satu dini hari, tak terasa sudah pagi lagi, dan tak terasa pula perutnya mulai keroncongan.
Teringat apa yang dikatakan Baekhyun, Chanyeol memutuskan untuk membuka almari, ia melihat memang ada ramyeon cup disana, Chanyeol mengambil satu dari empat yang ditumpuk rapi, kemudian ia melihat kompor, ia tengah menariknya keluar saat sebuah kardus turut terbawa beberapa centi, membuat suara, Chanyeol menoleh memastikan Baekhyun masih tertidur, kemudian ia segera menujukan perhatian kembali ke kardus di hadapannya, ia buka perlahan.
Apapun yang berada di dalam kardus sangatlah tak asing, mulai dari mini poster, dvd, kaset, miniatur boneka, apapun yang Chanyeol pernah endorse, bahkan tanda tangan limitednya, dan… Kartu fanmeeting yang masih tersimpan rapi? Chanyeol membolak-baliknya, dari bagaimana Baekhyun menyimpan dan melipat Chanyeol tahu bagaimana dengan hati-hati Baekhyun memperlakukannya, hatinya menjadi tersenyuh, rasanya sungguh aneh, dan sedikit merasa bersalah? Chanyeol tiba-tiba teringat saat Baekhyun membuka pintu backstage, bagaimana Baekhyun berlari… Chanyeol kembali menaruh ramyeon cup dan kompor, ditutupnya pintu almari kembali.
.
'Hey.. Kau sudah bertemu dengannya?' suara Wonwo di seberang sana.
"Hum."
'Oh… Lalu dimana kalian? Benar dia bekerja di restoran ramyeon?'
"Iya, benar, kau memang tak pernah salah, Wonwo, informasimu selalu akurat."
'Begitulah… Lalu? Bagaimana? Masih disana?'
"Aku menginap di dorm Baekhyun sekarang…"
'Oh… Lalu? Apa yang kalian lakukan? Bernostalgia?'
"Tidak… Belum sempat… Dia terlihat lelah, jadi dia langsung tertidur…"
'Ohh… Di lenganmu?'
"Tidak, dia tidur sendiri."
'Hah? Lalu kau?'
"Aku duduk di antara dinding dan rak sepatu."
Kekehan wonwo terdengar sampai di telinganya, jarang sekali memang lelaki pendiam itu terbahak sekeras itu, membuat Chanyeol hampir mengumpat kesal.
'Kenapa bisa begitu? Kalian bertengkar?'
Chanyeol diam sesaat, yah, tepatnya berpikir. "Aku… Masih tidak percaya kalau dia benar-benar menjadi salah seorang fansku." Chanyeol membuat jeda, bernafas berat, pandangannya kembali jatuh pada sosok kecil yang seandainya saja mungkin sekarang tidak tidur mendengkur dengan mulut terbuka mungkin akan sedikit lebih romantis. "Dia mempunyai semua koleksi DVD, poster, sign, pollaroid, miniatur boneka… Semuanya tentangku. Aku jadi merasa bersalah kalau mengingat dia pula yang memergoki di backstage saat itu."
'Hm… Mungkin takdir memang dituliskan begitu. Kalau kejadian kemarin tidak ada, kau tak akan pernah bertemu lagi dengannya bukan?'
"Iya juga…"
'Hm, okelah, omong-omong, kenapa pula kau malah meneleponku? Istirahat sana, tidur, eh, tapi jangan kelepasan meniduri anak orang.'
"Sial!"
'Aku hanya mengingatkan, barangkali kau lupa, kau menyukainya dari SMP, melihatnya kembali apalagi sudah jadi secantik itu.. Uh…'
"Dasar cabul! Jangan bayangkan Baekhyun kalau mau mendesah begitu."
'Tenang, bung.'
"Awas saja kupotong-potong besok tablet dan laptopmu nanti."
'Akan kuberitahu Baekhyun kalau sejak SMP kau tergila-gila padanya.'
"Sial."
'Kau ini, tak cocok sekali dengan tampangmu yang playboy begitu.'
"Sudah sudah, kututup teleponnya!"
'Ok… Ciumkan pipi Baekhyun untukku.'
"Dasar!—"
.
.
.
Sepertinya pagi datang terlalu awal, Baekhyun baru saja mematikan alrm yang berbunyi setiap pukul enam setiap paginya, menggeliatkan tubuh dan meregangkan otot, menjulurkan tangan jauh-jauh sampai jemarinya menyentuh headboard ranjang.
Tunggu, headboard ranjang? Baekhyun sontak bangkit duduk, terkejut tubuhnya berada di atas ranjang, ia menatap sekeliling, kamar yang sepi, dan posisinya yang tidur seperti biasanya. Tidak, seingatnya semalam ada sesuatu hal yang membuatnya jujur saja terkejut, sesuatu hal yang memang mungkin seperti mimpi, tapi, apa iya Baekhyun hanya mimpi? Baekhyun mendengus, tak ada tanda-tanda kehidupan, kamarnya hening, kalau memang semalam itu hanya mimpi, Baekhyun menyesal kenapa ia harus bangun seawal ini.
Langkahnya dibawa ke arah kamar mandi, seperti rutinitas biasanya, bangun pagi, bersiap, meskipun ini minggu, tapi justru di hari minggu ia harus kerja full time, Baekhyun menyabet handuknya, memutar kenop pintu kamar mandi.
"Baek—!"
"Whoa!"
Baekhyun refleks menutup pintu kembali, melompat mundur seperti melihat pencuri, jantungnya seperti mau copot, yah, bagaimana bisa Chanyeol ada di dalam kamar mandinya? Terlebih tanpa pakaian seperti itu?
"Yah! Kau kenapa disitu?"
"Tentu saja mandi! Memang mau apa?" balas yang di dalam, berteriak dengan suara beratnya. "Kau bisa tidak sih, tidak membuka pintu tiba-tiba begitu?!"
Baekhyun mendengus, nampaknya ada yang salah disini. "Hya! Ini salahmu! Kalau mandi kunci pintunya!"
"Kau kan tahu aku tak pernah mengunci pintu kalau mandi!"
"Huh?" Baekhyun meraup nafas dalam-dalam melalui mulut, rasanya emosinya sudah sampai ujung rambut. "Tetap saja, ini kan kamar mandiku! Kau tidak bisa melakukan sesukamu di kamar mandi orang!" Baekhyun berteriak keras, tapi sepertinya yang di dalam tak lagi merespon, entah sibuk dengan sikat gigi atau apa. "Chanyeol-ah! Cepat! Aku juga mau mandi!"
"Masuk kalau begitu!"
"Dasar!"
Baekhyun menggebrak pintu sekali, rasanya sangat jengkel kalau Chanyeol sudah mulai bermain-main seperti itu, tapi rasanya ada juga kelegaan, yah, lega, setidaknya yang semalam itu bukan mimpi, batinnya.
.
.
