.
.
Tujuh
.
.
.
Jujur saja ketika Chanyeol berjalan menjauh sambil berpamitan pulang Baekhyun merasa cukup sedih. Waktu yang mereka habiskan bersama tak lebih dari tujuh jam, dan bahkan lima jam-nya Baekhyun sia-siakan hanya untuk tidur. Baekhyun mengangguk dengan mengerucutkan bibir saat lelaki di depannya berujar terimakasih, meskipun terlihat tenang saat mengingatkan Chanyeol agar berhati-hati, sebenarnya hati Baekhyun merasa tak rela, bisa jadi Chanyeol akan sibuk selama berhari-hari ke depan, iapun bahkan tak tahu kapan Chanyeol bisa mendapat waktu luang lagi.
"Aku akan mengabari kalau sudah sampai." Chanyeol berujar.
"Um. Okay."
"Jaga dirimu."
"Kau juga."
"Um, Chan- Terimakasih." Baekhyun menjawab, suaranya terdengar mencicit.
"Hm?"
"Kukira aku tidur dibawah semalam, tidak tahu ceritanya bagaimana bisa aku bangun di atas…"
"Jadi kau pikir aku yang memindahmu?" Chanyeol berujar dengan nada bercanda. "Pede sekali." sambungnya yang membuat Baekhyun kembali memanyunkan bibir. "Omong-omong apa kau tidak makan? Berat badanmu terasa sama saja dari SMP."
Baekhyun hampir saja melolongkan sumpah serapah, tapi pergerakan Chanyeol yang cepat untuk melingkarkan kedua lengan di bahu Baekhyun yang lebih sempit membuat Baekhyun seketika mematung sesaat. Ia tak tahu pasti apa yang Chanyeol lakukan, memeluk? Tapi kenapa ada deru nafas di ujung rambutnya? Chanyeol mengendus kepalanya? Baekhyun tak bisa berfikir jernih, entahlah, ia tak cukup daya, di saat seperti ini, selalu saja otaknya tiba-tiba kosong, dan saat Chanyeol menarik kembali tubuhnya Baekhyun mungkin baru sadar kembali.
"Terimakasih tumpangan tidurnya."
Baekhyun hanya mengangguk, membiarkan sosok tinggi itu melangkah maju lalu menghilang ke dalam mobil, beberapa saat setelahnya suara mesin menyala bisa terdengar dan mobil hitam mengkilat itu bergerak maju, kaca jendela bergerak turun kemudian terlihat mobil berhenti lagi, Chanyeol tersenyum manis sekali dari kursi kemudinya.
"Anyeong, Baek…" Chanyeol melambaikan tangannya.
"Bye…" Baekhyun membalas.
Mobil itu melaju, menjauh, Baekhyun melihatnya dengan menarik nafas panjang, nampaknya ia berdiri di tempatnya terlalu lama hingga ada seseorang yang berdiri di belakangnyapun tak ia sadari.
"O-oh, ahjumma?"
"Chanyeol pamit pulang?"
"I-iya…" Baekhyun mengangguk lucu, membuat boss-nya itu terkekeh. "Ahjumma, kenapa tertawa begitu?"
"Tidak, kau itu lucu sekali, kau bilang kau sangat menyukainya, kenapa waktu dia muncul kau jadi kaku begitu?"
"Tidak, aku tidak kaku, aku biasa saja…" Baekhyun mengelak.
"Haha, dasar kau ini… Omong-omong bagaimana bisa artis terkenal seperti dia datang kesini? Kau mengenalnya?"
"Um… Dia dulu temanku…"
"Ooh… Teman sekolah?"
"Iya…"
"Wah… Eunji tahu?"
"Ahjumma jangan beritahu dia!" Baekhyun tak sengaja menaikkan suara, ia segera menunduk. "Ma-maaf ahjumma, bukannya bermaksud apa-apa. Tapi… Kurasa Eunji akan membalik restoran kalau dia tahu ini dengan tiba-tiba."
"Iya, kurasa dia juga akan membakar seluruh Seoul kalau tahu berita ini…"
"Maka dari itu…"
.
.
.
"Yak seseorang tolong akuuu!"
Entah dari kapan Baekhyun jatuh terjungkal, tubuh bagian depan rata mencium lantai porselen, kedua tangan dikunci di belakang, dan ada seseorang yang tengah duduk menindih bahunya, jangan tanyakan siapa yang hobi menyiksa teman sesama manusia seperti ini.
"Eunji eunji eunji kumohon lepaskan yaaaah!"
"Kau berani-beraninyaaaa!"
"Tidak tidak aku bisa jelaskan!"
"Mereka kenapa?" Bisik-bisik lelaki yang tengah keluar masuk toilet, dan kini dengan antusias berkerumun. Ya, singkat kata Baekhyun tengah berjalan menuju toilet saat ia tiba-tiba diserang dari belakang oleh orang tidak dikenal yang ia baru sadar teriakannya mirip sekali dengan teriakan murka Eunji.
"Eunji-yah…" rengek Baekhyun, sial, bahkan menggerakkan jari saja dia tak sanggup, sial lagi pasti ada seseorang yang menceritakan pertemuannya dengan Chanyeol kepada Eunji, kalau bukan tentang Chanyeol mana mungkin Eunji akan ambil tindakan seperti ini. "A-aku bisa jelaskan tapi tolong lepaskan tolong lepaskan. Minseok hyuuung!"
Sadar bahwa yang tengah dikerumuni mahasiswa lain adalah Baekhyun dan Eunji, Minseok yang tengah lewat-pun langsung berlari tergopoh.
"Eunji-yah! Kau ini apa-apaan."
"Hyung tolong akuuu!"
"Oppa, dia harus diberi pelajaran! Aku sakit hati tahu! Sakit hati! Aku tidak terima!"
"Oke… oke…" Minseok berusaha melerai, meraih bahu Eunji dan berusaha menariknya. "Lepaskan Baekhyun dulu…"
"Kau berhutang cerita dan berhutang penjelasan padaku! Awas saja kau berani lari lagi!" ancam Eunji.
"Iyaaaa/iyaaa." sahut Minseok dan Baekhyun bersamaan.
.
Meja paling pojok cafeteria lagi-lagi menjadi tempat ketiga sahabat itu berkumpul. Baekhyun masih dengan mengusap-usap pergelangan tangannya, Eunji memicingkan mata dengan dua tangan dilipat di depan dada, Minseok yang bergantian menatap keduanya dengan ekspresi was-was.
"Oke, bagaimana kita memulai meluruskan ini semua?" Minseok membuka obrolan.
"Kupikir kita bersahabat." Eunji langsung melolongkan apapun yang ada di otaknya. "Kupikir sahabat tidak akan saling merahasiakan apapun."
"Kalau sekarang tiba-tiba saja aku bilang aku berteman dengan Kim Woobin, memang kau akan percaya begitu saja?" sergah Baekhyun.
Eunji bungkam, yah, memang benar juga, setidaknya Baekhyun mendapat poin terpenting dalam masalah kali ini. "Tapi kita kan bersahabat, tidak mungkin aku sepenuhnya tak percaya padamu. Juga selama ini kau mengidolakan Chanyeol sama seperti aku, setidaknya kan kau bisa bilang padaku."
"Kami hanya berteman di SMP, dan kami sudah lama sekali tidak bertemu. Mungkin saja dia tidak ingat lagi padaku, dia sudah jadi artis besar sekarang. Makanya aku tidak berani bilang, lagipula tak ada faedahnya kalau aku mengatakan aku pernah mengenalnya." Baekhyun sedikit merendahkan suaranya. "Juga aku takut kau akan marah kalau kuberitahu kalau aku sempat berteman dengannya."
"Siapa yang marah Baekhyuuuun?" Hampir saja Eunji berteriak. "Aku lebih marah dan tak terima lagi karena kau tak cerita pada kita semua."
"Oh… Jadi, masalah ini bisa terselesaikan kan?" Minseok menengahi, keduanya, Baekhyun dan Eunji langsung menoleh bersamaan.
"Tidak/Belum." Keduanya menjawab bersamaan.
.
.
.
Sudah Wonwo duga begitu sampai Seoul Chanyeol akan memasang wajah senyum seperti orang idiot, setidaknya dengan kekehan kecil dan sapaan menyenangkan yang memang selalu ia lontarkan kapanpun ia bertemu dengan orang sekitar. Chanyeol masih menyunggingkan senyum, meskipun si make up artist sudah selesai menunduk dan berjalan lima langkah jauhnya, senyumnya belum juga memudar.
"Senang sekali sepertinya." oceh Wonwo, yang langsung mendapat lirikan tajam dari sang artis. "Memang emote apa yang kau dapatkan dari Baekhyun, huh? Kiss? Hug? Atau jangan-jangan…"
"Enyah kau dasar mesum." Chanyeol meneyeletuk. "Aku bahkan belum mengiriminya pesan… Aku rasa aku gila. Bagaimana aku harus memulai obrolan?"
"Aku sampai."
"Mesum."
"Maksudku sampai Seoul. Memang kau pikir sampai apa? Kau sendiri yang mesum."
"Oh."
Wonwo menggeleng, memang Chanyeol tak banyak berkencan selama ini, hubungan terbaiknya dengan wanita bisa dibilang hanya dengan Nana, itupun karena Nana yang selalu mambuat inisiatif. Tak aneh bila sekarang Chanyeol menjadi kikuk. Tapi tunggu dulu, bukannya Baekhyun lelaki?
"Bilang kau sampai dengan selamat di Seoul, sekarang sedang di ruang make up, lalu tanyakan bagaimana dia disana." Wonwo mengarahkan. "Dan juga jangan lupa memberi emote senyum di akhir, Baekhyun pasti suka."
"Kau sok tahu sekali. Aku yang pernah menjadi temannya selama tiga tahun."
"Tapi kau tak cukup peka, sembilan tahun-pun tidak menjadi jaminan kau tahu apa kesukaannya."
Chanyeol hendak memrotes, namun ia urungkan, omongan Wonwo ada benarnya. "Kau benar-benar membuat mood-ku turun."
"Supaya kau terlihat normal. Kalau kau terus menerus meringis seperti itu apa kata sutradara. Scene hari ini banyak adegan sedih. Tak mungkin kau haha-hehe begitu kan?"
"Oh…" Chanyeol menoleh cepat, melirik Wonwo penuh selidik. "Kau, kenapa kau tiba-tiba tahu scene-ku? Sejak kapan kau peduli padaku hah? Lagipula kau seharusnya di ruang IT."
"Pekerjaanku sudah selesai, dan aku sedang menunggu upgrade game-ku sekarang."
Chanyeol mencibir tidak suka, namun kemudian tersenyum.
"Sudah dapat balasan?"
Ia melirik tajam lagi. "Sejak kapan kau mau tahu urusanku, huh?"
"Sejak nama Baekhyun muncul."
"Yah!"
"Tenang… tenang…. Aku tidak akan mengambil jatah teman…"
"Siapa juga yang temanmu?" Chanyeol menyalak kesal. Ia memandang chat lagi, senyumnya muncul, namun setelah jawaban Baekhyun yang mengatakan kalau dia baik dan sedang berada di kampus, Chanyeol terpaksa harus memelankan suaranya dan lagi menoleh ke arah Wonwo yang hendak pergi. "T-tunggu…"
"Bilang setelah ini kau ada scene untuk drama barumu." Wonwo berujar tanpa menoleh. "Dan bilang juga terimakasih untuk yang kemarin, bilang sebenarnya belum cukup atau apa, atau kau masih ingin mencicipi menu lain di tempatnya dia bekerja."
"O-ok…" Chanyeol menjawab.
"Sial, seharusnya aku lebih cepat, kau bahkan sangat payah untuk membalas pesan dari orang yang kau suka."
"Kau—"
Pintu telah tertutup sebelum Chanyeol sempat mengambil benda apapun di sekitarnya yang bisa dilempar, sedikit mendengus kesal, ia kembali memandang layar ponsel.
.
.
.
Eunji tak henti-hentinya mengikuti dan mengekor saja di belakang Baekhyun. Mengintip seandainya Baekhyun memegang ponsel, memasangkan jaket ketika lelaki mungil itu hendak meninggalkan kelas, bahkan mengambilkannya minum dan membukakan bungkus snack. Saking berlebihannya sampai membuat Baekhyun memutar bola mata malas, juga sedikit rasa malu karena teman-teman sekelas turut meliriknya dengan pandangan aneh.
"Kau apa-apaan sih?" Baekhyun memutuskan untuk keluar kelas, pergantian mata kuliah biasanya ia memilih diam di kelas, tapi sudah menebak kalau Eunji akan datang dan mengekor terus di belakangnya membuat Baekhyun memilih cari aman dan menyendiri saja di taman belakang kampus. "Mau apa lagi ini?"
"Kudengar kau berhubungan juga dengan Chanyeol?" Eunji berujar kalem. "Chat? Telepon?" Baekhyun menghela nafas, dan Eunji buru-buru meneruskan. "Tidak aku tidak minta nomor atau apapun, aku hanya… Kau tidak mengatakan yang tak perlu dikatakan kan? Apa saja obrolanmu dengannya?"
Baekhyun menyipitkan mata, jujur saja sedikit kesal. "Kau ingin tahu sekali sih urusan orang."
"Bukan begitu Baek—Aku kan… Yah, jagalah hubungan baik dengannya, kumohon."
"Itu sih tidak usah kau suruh." Gumam Baekhyun kesal.
"Hey. Omong-omong, Chanyeol dulu di sekolah seperti apa?" Eunji mengambil tempat di sisi Baekhyun, membuat bahunya dan Baekhyun berhimpitan hampir tak ada jarak. Matanya seperti berkilauan entah karena ia terlalu senang atau perasaan Baekhyun saja.
"Um... dia baik. Agak cuek sih. Yang jelas dia populer. Dia ikut band sekolah dan suka game, suka pelajaran olahraga juga, suka otomotif juga.."
"ooow~" Eunji menyimak. "Lalu lalu?"
"apa ya, ya seperti itulah. Tinggi dan keren, banyak anak-anak perempuan yang suka padanya, yang ku tahu seperti itu."
"Uwahhhh~" ekspresi kagum Eunji tunjukkan, lalu dengan wajah datar menoleh Baekhyun lagi. "Kalau dia populer bagaimana dia bisa berteman denganmu?"
"Sial." Umpat Baekhyun, hampir saja dia beranjak bangkit, namun tangan Eunji meraihnya.
"maaf maaf maaf, kau sensitif sekali sih Baek... aku kan hanya bercanda." Eunji memamerkan gigi-giginya, meringis lebar. "Dia pernah punya pacar tidak waktu di sekolah?"
"umm... selama SMP sih setauku tidak. Dia terlalu sibuk bermain musik, latihan, semacam itu. Pergi jalan-jalan saja juga mungkin hanya seminggu sekali."
"Ooohh~ dengan siapa? Kau?"
"Iya..."
"Kemana?"
"Kemana saja... nonton, berenang, main bola, main game..."
"Tuhan... bahkan seorang Park Chanyeol juga bermain bola?"
"Tentu saja dia kan anak laki-laki! Memang kau pikir dia apa? Bermain boneka?"
"Haha, itu kan kau."
"huh?"
"Maaf maaf maaf, duh kau ini, aku hanya bercanda sedikit langsung marah... omong-omong dia mengajakmu bermain bola juga? Tidak salah? Memang kau bisa?"
"Tidak sih, aku hanya menonton saja."
"Ooohh... Dia bermain bola dan kau menunggunya begitu?"
"Iyah."
"Lalu membawakannya minum dan handuk begitu?"
"Kadang-kadang."
"Tuhaaaaaannnn" Eunji mencengkeram bahu sahabat karibnya itu, menggoyangkannya ke kanan kiri, seandainya Baekhyun adalah sebotol cola mungkin dia sudah berbusa sekarang. "Manis sekaliiiiii! Ya Tuhan Baek kau beruntung sekaliiii! Tahu tidak apa yang ku pikirkan?" Eunji membuat jeda, menghentikan Baekhyun agar terduduk diam memandangnya, lalu memandang Baekhyun yang memicingkan mata ke arahnya. "Mungkin di kehidupan sebelumnya kau adalah panglima perang yang berjuang untuk negara makanya kau diberi berkah sebesar ini Baek~~"
Baekhyun hanya bisa mendengus, lebih kesal. "Kau bisa tidak sih, tidak berlebihan seperti itu?"
"Dan kau kenapa bisa kalem begitu hah? Ini Park Chanyeol tauuuu, Park Chanyeoooll! Memang kau sudah tidak suka lagi dengannya ? Kau bahkan Fanboy nya! Oh iya, apa dia berubah?"
"Maksudnya?"
"Dulu di sekolah, apa sudah tampan seperti itu? Kau tidak ada fotonya ?"
"Tidak ada... ada juga cuma di buku tahunan sekolah. Jaman dulu juga belum ada media sosial seperti sekarang ini."
"Iya benar juga. Tapi apa dia sudah tampan?"
"Um.. ya seperti itu. Iya sih."
"Ah Baekhyuuuuuun~" seperti kebanyakan fangirl, Eunji heboh sendiri, dengan menggenggam tangan Baek ia melompat-lompat, Baekhyun sampai harus menahan tubuhnya sekuat tenaga agar tak terlempar.
"Eunji-yah... sakiiiitt~"
"Aaaaaaiii~ dan kau manis sekali begituuuuu!" Bergerak meraih pipi Baekhyun kini Eunji malah mencubit-cicitnya gemas. "Baekhyun?"
"Hmpp?" Baekhyun yang kedua pipinya tengah ditekan keras oleh Eunji hanya bisa menggeram.
"Kemarin waktu dia datang ke dorm mu, apa saja yang kalian lakukan hah?" Setelah tertawa-tawa riang kini Eunji menatap lelaki kecil itu antusias, tangannya sudah tak lagi meremas pipi Baekhyun.
"Ngobrol, tidur, begitu saja, memang apa yang kau pikirkan?"
"Hooo! Kalian sudah lama tidak bertemu, setidaknya apa, bernostalgia, kangen-kangenan. Lalu? Apalagiii?"
"Kau ini.. lagian kau tahu darimana sih kalau Chanyeol datang kemarin ?"
"Kau meremehkanku? Apapun tentang Chanyeol termasuk jadwalnya bulan depan saja aku sudah hafal tau!"
"oke..." Baekhyun lagi-lagi mendengus pasrah.
"ah, iya maaf deh, kau tak marah kan? Jangan begitu dong..." Eunji mengelus kepala Baekhyun seperti mengusap kepala anak kucing. "Ceritakan lagi, kalian berdua melakukan apa saja?"
"Kau ingin tahu atau ingin apa sih ?" Baekhyun memicingkan mata penuh selidik. "Kau ingin aku menyambungkan telepon ke Chanyeol? Ingin mengobrol? Tapi aku tak janji, aku takut mengganggu, dia-"
"Tidak tidak, bukan begitu, aku benar-benar hanya ingin tahu, aku penasaran saja."
"Bagaimana aku harus menjawabnya? Huft..."
"soalnya ahjumma bilang bahkan sebelum pulang Chanyeol memelukmu. Kurasa aneh saja kalau, katakan Baek, benar Chanyeol memelukmu?"
Baekhyun mendengus kesal sebelum mengangguk, ia hampir saja terkejut saat merasa badannya dipeluk erat kemudian Eunji meremat tubuh kecilnya seperti boneka saja. "L-lepaskannn!"
"Kyaaaa! Manis sekali ya ampun ya ampun!" Setelah puas akhirnya Eunji melepaskan Baekhyun yang entah mengapa lebih mirip korban pengeroyokan kali ini.
Baekhyun memandang Eunji heran. "Tidak marah?"
"Huh?"
"Kau tau Chanyeol datang menemuiku dan memelukku, kau tak marah?"
"Buat apa marahh? Aku justru senang!"
"Mwo?"
"Ya! Aku bangga Padamu Baekhyun! Aku bangga!" Ujar wanita itu penuh kemenangan, dan Baekhyun, hanya bisa menunduk pasrah ketika Eunji dengan cekatan merapikan bahkan menunduk di tanah menawarkan punggungnya agar Baekhyun bisa naik.
"Jung Eunji, kau-"
"Naiklah, yang mulia."
Baekhyun, untuk kesekian kalinya, hanya bisa mendengus.
.
.
.
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam saat Chanyeol baru memasuki apartemennya. Syuting hari ini lebih cepat selesai dibanding biasanya yang selesai pada dini atau pagi hari. Direbahkannya badan tingginya di ranjang bernuanasa abu-abu di kamarnya. Penghangat ruangan rasanya tak berfungsi dengan baik saat ia masih bisa merasakan dinginnya cuaca, ia menyingkap selimut hitamnya, menyusup masuk dengan ponsel yang sudah dipegang dan berjarak hanya sepuluh centi dari wajahnya.
'sudah tidur?'
Isi pesan yang sangat singkat, namun membuat Chanyeol tersenyum seperti orang idiot, kalau bukan Baekhyun mana mungkin pesan sesederhana itu bisa membuat senyum Chanyeol merekah dari telinga kiri sampai ke telinga kanannya?
Tanpa pikir panjang Chanyeol menekan layar, membuat panggilan.
"Aku belum tidur. Ada apa?"
'Oh... mm... tidak. Maaf, a-aku tidak menyangka kau menelepon jadi aku sedikit terkejut.' Jawab Baekhyun, suara seraknya membuat Chanyeol terkikik.
"Oh... kau sedang apa?"
'Mau makan.'
"Selarut ini?"
'Eum. Ada yang salah?'
"Tidak.. kalau kau suka makan malam seharusnya tubuhmu tak sekecil itu."
'Oh... jadi tubuhku kecil? Kau mau meledekku?'
"Tidak Baek..."
'Lalu?'
"Kau imut. kyeopta."
Hening.
"Kau... diam karena marah atau tersipu karena kata-kata manisku?"
'Aku benar-benar ingin melemparmu dengan piringku.'
Chanyeol terkekeh.
"Bagaimana harimu?" Chanyeol bertanya lagi, memiringkan tubuh, sedikit memijat punggungnya yang agak kaku.
'Seperti biasa. Kuliah. Bekerja. Aku pulang awal hari ini. Pengunjung restoran sangat banyak dan persediaan kebetulan habis.'
"Oh... bagus kalau begitu." Senyumnya tak Chanyeol sembunyikan.
'Lalu kau? Apa yang kau lakukan sekarang?'
"Kedinginan, di ranjang, dan bahuku pegal, banyak adegan action, aku harus mengulang adegan memukul sampai dua puluh kali."
'Ha? Apa sakit sekali? Kau tidak punya alat massage?'
"Sedang rusak... dan manajer hyung sedang sibuk mengurusi sesuatu."
'Oh...' Baekhyun terdengar membuat jeda. 'Kau ada obat oles untuk memijat? Coba pakai itu dulu...'
"Obat olesnya ada... beberapa jenis dan aku tak tahu harus pakai yang mana."
'Merah untuk yang pereda nyeri, biasanya yang biru meregangkan otot... Kau masih saja tidak tahu?'
"Dari dulu kan aku tak tahu hal seperti itu Baekhyun."
'Ish... kau ini.'
"Kalau kau bisa kesini dan merawat ku pasti akan sangat menyenangkan."
'Huh? Apa maksudmu?'
"Datanglah kesini Baek.."
'Lalu bagaimana kuliahku...'
"Jadi kalau tidak kuliah kau bisa kan?"
Yah, jawaban yang salah, dan Baekhyun hanya bisa mendesis sendiri.
'Apa aku harus benar-benar kesana? Kalau sakit kau bisa meminta bantu manajer atau temanmu kan.'
"Mereka tidak ada yang pandai memijat..."
'Memang aku pandai?'
Jawaban Baekhyun membuat Chanyeol terkekeh lagi, ia mendengus pelan kemudian, memandang langit-langit kamarnya.
"Baiklah, kau sebaiknya istirahat saja."
'Um... kau yakin tak apa-apa? Kalau masih sakit sebaiknya telepon manajer...'
"Iya... Baek?"
'Eum?'
"Tidak bisakah kau datang kesini? Atau.. haruskah aku pergi dan menculikmu?"
'Apa-apaan kau ini.' Baekhyun mencoba menyergah, meskipun dari nadanya bicara siapapun akan tahu bahwa ia benar-benar tak keberatan dengan apa yang Chanyeol tawarkan barusan. 'Nanti deh kalau aku dapat libur. Atau saat weekend.'
"Janji?"
'Tidak.'
"Baek..."
'Apa? Aku memang benar-benar tidak janji.' chanyeol terdengar membuang nafas dengan kecewa, namun dengan cepat Baekhyun meneruskan. 'Weekend ini memang kau tidak ada jadwal? Kau kan sibuk sekali...'
"Kalau untukmu aku bisa mengatur agar tak sibuk."
Baekhyun serasa dihempas diatas matras bertabur jutaan bunga, seperti iklan-iklan pewangi pakaian atau semacamnya, gombalan Chanyeol memang manis, semoga saja gula darah Baekhyun tidak naik setelah ini.
"Baiklah kalau begitu, kau istirahat ya, malam, Baek..."
'Um, iya... Kau juga. Chan.'
Sambungan terputus, Baekhyun memandang layar ponsel beberapa saat, pipinya bersemu merah, apakah ini berarti dia memang jatuh cinta? Atau apa? Baekhyun memilih menggulingkan badannya di kasur, tubuhnya berguling ke kanan kiri, seperti gadis SMA yang kegirangan setelah ditelepon senior yang dia idolakan, yah, memang nyatanya begitu, Baekhyun tak bisa memungkiri, dan setelahnya, yang Baekhyun tahu, dia sudah tak sabar menunggu, kapan weekend yang ia nanti-nantikan, akan tiba.
.
.
.
.
.
.
