.

.

Delapan

.

.

.

Jarum pendek arloji menunjukkan pukul sembilan saat Baekhyun berlari keluar dari kamar dorm-nya, menutup pintu dengan terburu dan menguncinya dengan terburu pula, ia berlari tergopoh sambil memakai jaket tebal yang baru membungkus satu lengan, bekerja keras untuk membuat tasnya tetap tergantung seimbang di punggung, membagi konsentrasi antara jalan dan isi tas yang ia harap tak satupun ada barang yang tertinggal.

Gerbang kampus tinggal sepuluh meter lagi, langkah kakinya sudah melemah sejak tiga menit lalu, berlarian di pagi hari sebenarnya adalah hal jarang atau bahkan tak mungkin Baekhyun lakukan, hanya saja semalam ia tak sempat menyalin satu materi penuh tugas, ia harus mengakui bahwa ini memang mutlak salahnya, menghabiskan waktu sampai jam dua pagi untuk bertelepon, dan menyalin tugas yang ternyata tak sesederhana perkiraannya, barulah jam tujuh pagi ia bisa menutup mata, dan sialnya kelas pertama dimulai jam sembilan pagi.

"Baek kau kemana saja?" Eunji tahu-tahu sudah berkacak pinggang di depan kelas, memang dosen belum datang, tapi tugas tetap dikumpulkan di jam sembilan lebih lima belas yang artinya Baekhyun terpaut hanya dua menit sebelum pintu ruang dosen ditutup, ia yang masih terengah itu terbatuk, Eunji dengan sigap menyodorkan minum. "Kau teleponan lagi sampai malam? Sudah ku bilang hari ini kau ada tugas numpuk—" omel di gadis yang kini berambut coklat itu.

Baekhyun hampir menjawab, namun ia urungkan segera, masih dengan kondisi terengah-engah dan berdebat dengan Eunji sama saja mencari mati, ia sebaiknya mendengarkan dulu, dan dengan sedikit terhuyung menuju tempat duduknya.

"Baekhyun-ah? Sudah bisa diajak bicara sekarang?" Eunji sambil menggunakan buku materi kuliah sebagai alat untuk mengipasi Baekhyun mulai duduk mendekat, memijit pundak lelaki kecil yang kini sudah bisa mulai bernafas normal. "Kau telponan lagi semalaman dengan Chanyeol?"

Baekhyun mengambil nafas sebelum mengangguk. "Ini bukan salahnya, aku yang memang lupa kalau ada tugas menyalin sampai puluhan halaman, kalau aku ingat aku pasti sudah memberitahunya agar tak menelepon…"

Eunji menggeleng-gelengkan kepalanya. Ini bukan kali pertama Baekhyun menjadi kesusahan karena menuruti permintaan Chanyeol, meskipun dalam kasus ini Eunji belum yakin benar siapa dari mereka yang memiliki ide untuk bertelepon sampai malam, namun tetap saja, kalau diantara Chanyeol atau Baekhyun jadi terlambat atau mengalami hal buruk lain itu tetap saja bukanlah hal yang benar.

"Beruntung sekali kali ini kau tidak benar-benar terlambat…" Eunji menggumam, mengubah area pijatannya menjadi di area lengan Baekhyun. "Soalnya nilai tugas ini menentukan kau bisa ikut ujian atau tidak." tambahnya.

.

.

Butuh waktu lima menit untuk Baekhyun memindah beberapa tumpuk buku dari dalam almari ke dalam dua kardus besar yang sebelumnya sudah ia siapkan. Ruang yang sempit membuatnya harus pandai-pandai mengatur barang miliknya, termasuk buku atau baju-baju yang sudah tidak terpakai. Ia terlihat berjalan bolak-balik, dengan earphone yang ternyata masih setia menyangkut di kedua sisi telinga, mendengar ocehan seseorang di seberang yang sejak satu jam lalu masih enggan mengakhiri sambungan teleponnya.

'Baek? Kau tidak istirahat? Sudah jam sebelas lebih..'

"Tidak, tinggal tiga buku saja dan selesai." jawab Baekhyun jujur, setelah mengelap kening ia lanjutkan kembali kegiatannya. "Kau tidak tidur?"

'Tidak sampai aku mendengar kau mendengkur duluan.'

"Dasar—"

'Baek?'

"Hm?"

'Kau tahu malam ini katanya ada supermoon?'

"Oh… Em… Jangan bilang kau menyuruhku membuka jendela lalu melihat bulan lalu memaksaku mendengarmu menggombal sepanjang dua belas halaman seperti yang biasa kau lakukan—"

'Sampai membuka jendela kamar sih benar. Tapi aku tak memintamu melihat bulan—'

"Lalu?"

'Aku ingin kau melihatku yang sedang berdiri di halaman depan dorm-mu.'

"Ha?" Seketika kardus yang hendak diangkatnya jatuh ke lantai, Baekhyun harus meringis nyeri ketika ujung jari kakinya harus menjadi korban. "Aw!"

'Baek—Kau tak apa?'

"Kalau bercanda jangan kelewatan begitu!"

'Aku serius…'

"Tidak lagi, aku tidak akan tertipu lagi, kemarin kau membuatku lari sampai terjungkal karena kau bilang ada di depan gerbang—Tidak, aku tidak akan tertipu lagi." umpat Baekhyun kesal.

Terdengar kekehan Chanyeol sebelum suara beratnya terdengar kembali. 'Maaf untuk yang kemarin… Tapi kali ini aku serius…'

Baekhyun belum menjawab, ia melihat jendela sekali, memang benar dalam hati ia berharap Chanyeol akan terlihat setelah ia membuka jendela itu, tapi bagaimana kalau Chanyeol hanya mengerjainya? Chanyeol memang tidak berubah sejak SMP dulu, masih hobi mengusili meskipun pada orang yang dia sukai. Ups? Apa Baekhyun terlalu percaya diri untuk berasumsi begitu?

Baekhyun akhirnya memutuskan berjalan pelan-pelan, tangannya hampir saja membuka gorden jendela saat tiba-tiba Chanyeol berujar 'Kau pasti sedang menuju jendela sekarang ini' yang membuat Baekhyun mendengus kesal dan memajukan bibirnya.

"Chan—Kau…" geraman Baekhyun tertunda saat tiba-tiba ada suara pintu diketuk, perhatiannya sontak tercuri ke arah pintu, dan dengan terburu ia berjalan lalu membuka kenop.

"Hey—" sapaan itu terdengar dari earphone sekaligus dari wujud manusia di hadapannya yang… Wajahnya tertutup sebuket bunga?

"Kau—Kenapa datang kemari? – Umm…" Baekhyun melepas earphone-nya segera, mengambil satu langkah maju lalu memastikan siapa yang dengan sok romantis menyembunyikan wajahnya dibalik rangkaian bunga mawar berwarna pink. "Chan?"

Tawa lebarnya memang lebih indah dari bunga, seharusnya Baekhyun mengakui itu, namun yang ia tunjukkan justru sebaliknya, wajah masam meskipun ada sedikit senyum di ujung bibir, ia menarik Chanyeol untuk memasuki kamarnya, kemudian menutup dan mengunci kamarnya rapat-rapat.

"Aku tidak dapat pelukan?"

Baekhyun meletakkan ponsel sekaligus earphone di meja, mendorong kardus terlebih dahulu sebelum menggapai tubuh tinggi temannya itu. Teman? Yah memang sebelumnya Chanyeol sudah beberapa kali menunjukkan dengan gamblang tentang perasaannya lewat chat yang selalu mereka lakukan tiap malam, tapi secara teknis, Baekhyun belum pernah mendengar langsung atau mendapat pernyataan langsung, dan menurut Baekhyun, selama Chanyeol belum mengatakan dengan jelas, maka ia tak mau berekspektasi lebih.

"Ummmh.. Aku kangen sekali padamu…" Chanyeol balas memeluk, melengkungkan tubuh ke bawah untuk menghirup rambut yang lebih pendek, bisa ia rasakan Baekhyun mengeratkan kedua tangan yang kini terlilit di lehernya, tubuh Baekhyun mengikuti gerak Chanyeol yang membawanya berjalan menuju ranjang—Eh? Ranjang?

"Yak! Aku bisa mati kehabisan oksigen—" tampik yang lebih kecil, membiarkan Chanyeol jatuh sendirian di tepi ranjang. Chanyeol hanya terkekeh, bunga yang masih ada di tangannya masih terlihat segar, segera ia sodorkan pada seseorang yang kini masih berdiri tak jauh darinya.

"Untukmu."

Baekhyun sekuat tenaga mempertahankan bibirnya yang dimajukan, namun gagal, Chanyeol bangkit duduk, kemudian memberikan buket bunga itu dengan kedua tangan layaknya pangeran. Tunggu dulu? Pangeran? Apa itu maksudnya Baekhyun disini adalah tuan putrinya? Baekhyun kembali melipat tangan dengan mata menyipit. "Kau pikir aku apa? Kenapa membawakan bunga? Pink pula."

"Lalu?" Chanyeol memasang wajah tak mengerti. "Kau mau apa? Kau tak pernah bilang secara spesifik mau barang macam apa setiap aku tawari…"

Baekhyun perlahan menurunkan kedua tangannya, melangkah dan mengambil bunga yang Chanyeol genggam. "Kau bisa kesini saja sudah cukup, tak perlu membawa apa-apa."

Yak, dan seperti target yang terkena busur panah, Chanyeol memegangi dadanya dengan ekspresi terlampau berlebihan. "Uhhh Baek—Kau membuat jantung ini serasa tidak berdetak lagi…" erangnya.

Baekhyun hanya tertawa, ia simpan buket bunga di atas meja, tepatnya di vas yang memang sebelumnya kosong.

"Mendadak sekali datangnya, aku tak sempat belikan makanan atau—"

"Aku kesini bukan untuk makan." Chanyeol tiba-tiba saja sudah berdiri tepat di belakang Baekhyun. Memutar tubuh yang lebih kecil agar mereka berdua berhadapan, Baekhyun sedikit mendongak, ia cukup terkejut melihat dua bola mata Chanyeol yang sebening kristal menunjukkan keseriusan, tak ada cengiran bercanda ataupun yang lain. "Aku mau mendengar jawabanmu…"

"J-jawaban apa?" Baekhyun dibuat salah tingkah, terlebih dengan sepasang tangan yang membungkus pinggangnya.

"Maaf aku terlalu banyak bermain-main, tapi… Saat aku bilang sebaiknya kita pacaran saja, aku tidak bercanda."

Baekhyun menoleh ke arah lain, hari ini begitu melelahkan jujur saja, setelah seharian menghabiskan waktu di kampus karena banyak tugas menumpuk, dan di malam hari harus melayani pengunjung restoran…

"Baek, aku mencintaimu. Dari dulu." sebuah tangan menyentuh pipinya, memaksa Baekhyun memandang ke depan, tepat memandang wajah Chanyeol yang sudah tampan meski tak ber make-up. Baekhyun sempat mematung beberapa detik, ia merasakan wajah Chanyeol kian maju, menghilangkan jarak di antara mereka, membuat Baekhyun kesulitan bernafas. "Baekhyun… Jadilah kekasihku…"

Bibir mereka bertaut, itulah yang Baekhyun bisa rasakan terakhir sebelum matanya tertutup dan belakang kepalanya diusap pelan. Gerakan yang Chanyeol buat cukup sensual, membuat tubuh Baekhyun merinding, membuat jantungnya berdegup keras, ia mengikuti gerak kepala yang lebih tinggi yang kini kian memiring memaksa lilitan lidah mereka beradu lebih dalam, lebih intim, dan Baekhyun terpaksa mendesah kecewa saat bibir tebal itu ditarik kembali sang pemilik.

"Umh… Jadi? Bagaimana, Baek?" Chanyeol bertanya, dengan nafas yang memburu tentunya, memandang tajam seperti serigala, namun lembut seperti rusa, entahlah, Baekhyun dibuat bingung olehnya.

"A-apa?" entah apa yang ada di pikiran Baekhyun, telapak tangan Chanyeol yang membungkus kedua pipinya bisa ia rasakan, gerakannya, suhu hangatnya.

"Kau mau? Jadi kekasihku?"

Baekhyun tanpa sadar tersenyum, atau apalah itu yang membuat Chanyeol turut tersenyum, ia hendak menjawab saat bibirnya kembali diserang, kini hanya kecupan kecupan ringan yang Chanyeol lakukan berulang.

"Hentikan—" Baekhyun setengah berbisik, kedua tangannya menahan dada yang lebih tinggi, namun ia tak menolak saat Chanyeol menciumnya lagi, ia justru berjinjit, membuat Chanyeol lebih mudah menggapainya. "Aku… Mau."

"Hm?" Chanyeol berhenti sejenak, dilihatnya lamat-lamat seseorang yang kini dipenuhi rona merah di seluruh wajahnya. "Apa?"

"Aku mau…" ujar Baekhyun malu-malu. "Aku mau jadi kekasihmu. Aku juga mencintaimu—Ah!" Tubuhnya ditarik keras, dan Baekhyun tak sadar sejak kapan ia sampai di gendongan Chanyeol, seperti koala saja, dan Chanyeol dengan mudahnya membawanya kesana kemari, kini ia dijatuhkan di atas ranjang, cukup keras, sampai tubuhnya memantul, namun sedetik kemudian beban berat menimpanya.

"Ughh—Chanyeol…"

"…"

"Baek?"

"Baekhyun?"

Baekhyun membuka kedua mata.

Kenapa langit-langit atap berbeda dengan yang biasa ia lihat setiap malam?

Baekhyun mengedipkan matanya berkali-kali, yah, dan ia baru sadar bahwa ia berada di ruang kesehatan, bukan kamar atau…

"Hya!" Ia terlonjak kaget bahkan sampai merangkak mundur saat wajah Eunji tepat berada di atas wajahnya. "Kau? Kenapa? Aku? Dimana?"

"Wah…" Eunji menggeleng-geleng kepala, melipat tangan di depan dada. "Kau bisa-bisanya ya, membuatku dan Minseok oppa khawatir setengah mati, ternyata tidur selama jam istirahat disini sambil mimpi basah karena Chanyeol begitu hah?" pernyataan frontal Eunji jelas membuat Baekhyun membulatkan mata. "Kau mimpi apa? Sampai keluar tidak?"

"Hya!" Baekhyun nyaris berteriak seperti gadis yang tengah mendapat pelecehan seksual, bagaimana tidak, Eunji dengan senyum aneh dan wajah mesumnya, dengan sigap mencoba menarik celananya. "Kau apa-apaan sih! Eunji-yah! Hya!"

"Kau mimpi apaaa? Melakukannya dengan Chanyeol? Kau mendesah dan memanggil-manggil namanya~" goda Eunji, yang kini sudah mendapat ujung celana kiri Baekhyun di genggamannya. "Coba lihat sini kau basah tidak?"

"Eunji! Lepaskan!"

"Hya! Kalian—" Minseok datang dengan terburu, berusaha melerai namun terlihat bingung memulai darimana.

"Hyung tolong akuuu! Eunji sudah gila dan mau memperkosaku!" jerit Baekhyun asal.

"Hya! Enak saja! Siapa yang mau memperkosamu? Justru bukannya kau yang mimpi basah sambil memanggil nama Chan—mpffth!" dengan sisa kekuatan Baekhyun membungkam Eunji, adu gulat tak terelakkan.

"Kalian…" Minseok memandang tak percaya, melerai keduanya sama saja cari mati, ia pilih aman, membiarkan saja sambil menunggu keduanya kelelahan.

.

.

Sedari tadi Baekhyun cemberut, moodnya buruk. Ia tau Eunji hanya berniat menggodanya, tak lebih, namun entah mengapa sampai malam bahkan saat ia bekerja rasa kesal itu masih terbawa, ia tak seharusnya pula kesal pada saat nama Chanyeol muncul di notif layar ponsel, namun entah mengapa pipinya menjadi memerah, mungkin memorinya terbawa kembali pada semua ejekan Eunji, meskipun itu semua tak ada sangkut pautnya dengan Chanyeol, namun entah mengapa Baekhyun menjadi terbawa perasaan sendiri.

Chat yang muncul beberapa baris tak di hiraukan, mungkin enam atau tujuh, Baekhyun biasanya membalas meskipun hanya memberi kode bahwa ia masih bekerja, namun tak ia lakukan, mengingat apa yang terjadi tadi siang di kampus membuatnya kesal lagi, ia pilih meninggalkan ponsel di dalam tas, tubuhnya ia sibukkan di dapur untuk bersih-bersih.

"Masih marah ya?" Senggolan lembut ia terima di lengan, Baekhyun menoleh, Eunji ternyata sudah memasang wajah nyengir dengan alis turun naik, entahlah apa maksudnya, tapi Baekhyun menjadi makin badmood dibuatnya.

"Kalau mau makan seharusnya kau berada di kursi depan sana, kenapa mengikutiku terus sih?" Baekhyun mempertahankan wajah memberenggut, membalikkan tubuh, sengaja menampakkan punggung kesalnya pada si wanita yang kini justru tersenyum-senyum aneh.

Celotehannya tak dihiraukan, jadi Baekhyun pilih meneruskan pekerjaannya saja, untung ada beberapa gelas dan piring yang kotor, jadi ia bisa memilih mencuci dan kemudian mengeringkannya, paling tidak ia akan sibuk sekitar sepuluh menit, sekaligus dengan membersihkan wastafel jadi bisa sekitar dua puluh menit.

Eunji memilih berdiri mendekati loker yang biasa Baekhyun gunakan untuk menyimpan tas, ia berdiri menyandarkan punggung di pintu loker, dan saat ia hendak melengang pergi ia yakin merasa getaran disana, seperti getar ponsel pikirnya.

"Baek, ponselmu?" Eunji mencoba memanggil Baekhyun yang nampaknya masih sibuk, si lelaki tidak memberi isyarat tertarik justru membalas dengan jawaban 'biarkan' yang membuat Eunji jadi penasaran. "Kuambilkan ya?" Eunji melanjutkan, dan 'terserah' adalah jawaban terakhir yang Baekhyun utarakan.

Nama Chanyeol yang tertera di layar tentu saja membuat Eunji sempat menganga, tapi tidak terkejut juga sih, karena memang Baekhyun dan Chanyeol ada hubungan, ia mengambil nafas pendek dua kali, diliriknya Baekhyun yang masih sibuk di wastafel dengan keran yang menyala.

"Baek... Chanyeol menelepon?" Eunji terdengar memelankan suara, kini sudah berada tak lebih dari satu meter dari tempat Baekhyun berdiri, Baekhyun membalikkan tubuh, tengah menarik nafas malas namun seketika merubah ekspresi saat melihat Eunji yang memandang kagum layar ponsel di tangannya, yah, Baekhyun hampir lupa, bagi Eunji, mungkin panggilan telepon sederhana itu setara dengan tiket konser ratusan ribu won harganya.

"Um... Kau mau bicara dengan Chaneyol?"

Eunji membuka mata lebar, juga mulut, mungkin jantung dan paru-parunya menyempit atau bagaimana, yang jelas genggamannya melemah, dan anggukannya yang dengan ekspresi hampir menangis membuat Baekhyun tak bisa menyembunyikan tawanya.

"Aku tanyakan dulu ya..." Baekhyun akhirnya meraih ponselnya, mengusap layar dan menerima panggilan yang sedari tadi menunggunya. "Halo?"

Eunji memasang wajah harap-harap cemas, ekspresi Baekhyun berubah sekali kalau sedang menerima telepon dari Chanyeol, dan bahkan bisa setenang itu, seperti teman saja, ah apa pula yang Eunji pikirkan, mereka kan memang teman, Dibuangnya semua pemikiran tidak pentingnya, ia bisa melihat Baekhyun menyodorkan ponsel sambil tersenyum ke arahnya. "Ini, bicaralah." Katanya lalu kembali membalik badan untuk meneruskan pekerjaan yang sempat tertunda.

Eunji menerima ponsel dengan gugup, yah, ini pertama kalinya ia bertelepon langsung dengan Chanyeol, Chanyeol? Iya, yang selama ini ia teriaki setiap kali muncul di televisi, ia berjalan sedikit menjauh, mendekati loker, dengan satu tarikan nafas ia dekatkan ponsel pintar itu ke telinganya. "Halo?"

'Halo... Eunji?'

Tuhan... itu suara Chanyeol, benar-benar Chanyeol yang setiap malam playlist lagunya selalu menemani Eunji sampai tidur.

Eunji bersorak sorai dalam hati.

"I-iya... ini Eunji... eum... teman Baekhyun."

Suara gelak tawa Chanyeol bisa terdengar, Eunji ikut tersenyum.

'Haha... iya... Baekhyun pernah bercerita... berarti kau sekarang ada di restoran?'

"I-iya... Ini... Baekhyun masih bekerja... jadi... apa tidak apa Chanyeol-ssi bertelepon denganku? Tidak mengganggu?"

'Tidak... dan panggil aku jangan terlalu formal begitu... kalau kita seumuran panggil Chanyeol saja...'

"Ah... iya Chan... Hehe." Eunji tidak bisa tidak terkekeh, ia bungkam mulutnya dengan tangannya sendiri, buru-buru ia lanjutkan sebelum kepalanya beruap karena saking senangnya. "Eum... Chanyeol... sedang sibuk apa? Apa tidak ada syuting?"

'Oh tidak... aku sedang free... hari ini syuting pulang cepat, aku sedang beristirahat di apartemen...'

"Oh..." Eunji bernafas lega, diluar dugaan ternyata berbicara dengan Chanyeol tak semendebarkan yang ia bayangkan. "Um... apa Chanyeol... ingin berbicara lagi dengan Baekhyun?"

'Oh, tidak apa... santai saja... lagipula dari tadi dia tidak membalas chatku, sepertinya dia memang sibuk...'

"Oh, iya, dia memang sibuk... dan... Oh," entah mengapa insting membawa Eunji untuk berbalik, mengambil dua langkah menjauh dari area dapur, menuju loker. "Hari ini mood Baekhyun juga sedang buruk."

'Oh, iya? Kenapa?'

Senyum Eunji entah sejak kapan menjadi seringaian, ia memutar tubuh lagi, semakin memunggungi seseorang yang masih sibuk di wastafel sana.

"Karena aku terus menggodanya- Tadi siang Baekhyun sempat menghilang .. kukira dia kemana tapi ternyata dia ada di ruang kesehatan..."

'Oh... lalu?'

"Kutemukan dia sedang tertidur..."

'Ah...dia masih saja, kebiasaannya memang suka tidur di sembarang tempat...'

"Ah... aku bingung apa harus menceritakannya..."

'Apa? Katakan saja...'

"Alasan dia badmood seharian ini..."

'Iya?'

"Soalnya aku memergokinya sedang tidur sambil memanggil-manggil namamuu... dan sampai sekarang dia masih marah karena aku terus menggodanya karena itu."

Chanyeol terdengar tertawa di sambungan telepon sana, Eunji ikut tertawa, entah mengapa ia menjadi gemas sendiri, sekali ia putar kepala untuk melihat Baekhyun yang nampaknya masih sibuk dengan cucian piring kotornya.

"Chanyeol?"

'I-iya?'

"M-maaf, aku berbicara yang tidak-tidak..."

'Tidak apa-apa... aku justru senang...'

"Oh... begitukah? Kau tidak keberatan?"

'Tidak... kalau itu semua berhubungan dengan Baekhyun tentu saja aku tidak keberatan.'

Eunji lagi-lagi membungkam mulutnya sendiri, teriakannya tertahan, ia hampir saja melompat kegirangan, ia mengatur nafas sebelum melanjutkan.

"Um... wah... begitukahhh? Kurasa Baekhyun benar-benar sangat beruntung... mungkin benar di kehidupan sebelumnya Baekhyun benar-benar adalah seorang panglima perang yang berjasa untuk negara..."

Terdengar suara Chanyeol terkekeh lagi.

'Kalau begitu aku yang belum beruntung... apa mungkin di kehidupan sebelumnya aku adalah anak nakal dan malas?'

"Belum beruntung bagaimana?"

'Bertemu kembali dengannya aku butuh beberapa tahun, sudah bertemu tapi ternyata terpaut jarak tinggal yang jauh pula...'

"Oh... kalau begitu biar Baekhyun kuantar saja kesana kalau weekend... atau... Kau benar-benar tak bisa kemari? Dia tak begitu besar dan kuat.. aku bisa membantumu mencilknya kok..."

Chanyeol tertawa, mungkin kali ini sedikit lebih keras.

"Aku sendiri bahkan bisa memasukkannya ke dalam karung, jadi kau nanti bisa langsung bawa... hehe."

'Ah... itu ide bagus...'

"Apa yang kau bicarakan?" Suara Baekhyun tahu-tahu terdengar keras, Eunji terpaksa menoleh, ia mendesis sambil memicingkan mata, tapi Baekhyun membalasnya dengan mata memicing pula, dua kali lebih garang, membuat Eunji tak ada pilihan lain selain menunduk meminta maaf.

"E-eum... Terimakasih Chanyeol.. sudah mau bicara denganku... ini karena aku akan dilempar piring oleh Baekhyun jadi lebih baik ku tutup dulu teleponnya... maaf mengganggumu..."

'Ah... iya... Ok... sama-sama...'

Sambungan terputus, dan sebelum Eunji kembalikan ponsel yang ada di tangannya ia lihat betul angka yang tertera di layar, di sepanjang kehidupannya, mungkin baru kali ini Eunji memaksa otaknya untuk bekerja super keras, mengingat sederet angka itu ternyata sama rumitnya dengan mengingat seluruh nama lengkap mahasiswa satu kelas yang dari setahun lalu Eunji belum pernah bisa mengingatnya.

.

.

.

Cuaca dingin di awal-awal tahun memang merupakan saat yang paling tepat untuk secangkir kopi panas di jam pulang kampus, sambil bergosip menyantap waffle hangat dan juga kudapan manis pendampingnya, pemandangan itulah yang terlihat di sederet Cafe tak jauh dari kampus tempat Baekhyun belajar, muda mudi dengan mantel hangat berbulu dan sweater-sweater hangat pembungkus badan,

Baekhyun jujur saja sangat menikmati hal-hal seperti itu.

Ada dua waffle coklat di meja, satu mocca cream panas dan satu latte hangat, satu lagi kopi americano yang asapnya mengepul, pemiliknya ternyata adalah satu-satunya gadis yang kini duduk di antara dua lelaki yang berada di kanan kirinya.

"Sial." Umpatan khas Eunji sekali, dan Baekhyun akhirnya baru sadar mengapa Eunji berujar demikian karena pandangan tidak sukanya terarah ke satu titik, segerombol cewek yang duduk di ujung kanan dekat pintu, salah seorangnya wajahnya memang tak asing, Jiyeon yang sepanjang sejarah di kampusnya hanya melakukan hal-hal kurang berfaedah yang tak pernah menguntungkan orang lain.

"Senyaman-nyamannya tempat kalau ada mereka entah mereka aku ingin muntah." Desis Eunji, yang kemudian ditepuk bahunya oleh Minseok.

"Sudah-sudah... kita kesini untuk bersantai jadi tidak usah mengurusi mereka..."

"Bagaimana tidak? Lihat kerjaannya kalau tidak pamer, sok tahu, ya membully orang." Eunji membalas lagi, kini menyipitkan mata, memandang barang apalagi yang gadis berambut coklat terang itu pamerkan, nampaknya sesuatu yang berhubungan dengan Chanyeol lagi. "Kalau dia memamerkan mobil atau sebangsanya aku sih tidak peduli, sialnya dia sama area denganku, kita sama-sama fans Chanyeol dan itu rasanya menjengkelkan saat dia pamer atau sok tahu dengan sesuatu yang sebenarnya belum tentu jelas kebenarannya, dia itu aish..."

'-Ayah Nana memiliki saham di beberapa agensi artis, juga tiga saluran TV, kudengar dia akan melakukan merger untuk dua agensi tapi aku belum yakin yang mana, aku tahu dari sepupuku yang menjadi manajer pemasaran disana-"

"Tuh lihat, apa semua orang di TV adalah sepupunya? Kau ingat dia bilang paman atau kakak dari pamannya adalah orang penting di salah satu saluran TV. Aku benar-benar mual, memang di dunia ini hanya dia yang tahu segalanya?"

"Sudahlah..." Baekhyun akhirnya mengangkat kepala, menoleh ke kiri melihat Eunji yang berwajah sebal sampai memerah. "Justru orang yang tau banyak biasanya tak membeberkan seperti itu..."

Eunji dan Minseok sempat menghentikan segala aktivitas, bahkan Eunji sempat berkedip beberapa kali. "Ouh, iya yang curhat..." ledeknya.

Baekhyun merubah ekspresi menjadi sebal.

"Sesekali orang seperti mereka harus diberi pelajaran, kau jalan saja kesana dan bilang bahkan kau mengobrol dengan Chanyeol setiap malam-" Eunji membuka suara.

"Iya benar, mereka butuh hal seperti itu sesekali." Lain dari biasanya, Minseok justru berpihak pada Eunji.

"Tapi kenapa aku..." Baekhyun mencoba protes, menoleh ke kanan sebelum menurunkan suara. "Sudahlah aku tak mau ikut campur urusan mereka."

"Tapi dengar, kalau Jiyeon terus membicarakan hal-hal aneh tak jelas begitu, ada orang nanti akan termakan omongannya, kan lebih baik tidak seperti itu Baek..."

"Iya tapi... Apa yang kau ingin dariku?"

Eunji tersenyum licik, sedikit menurunkan kepala yang membuat dua lelaki di sampingnya meniru geraknya. "Pergi kesana, bilang berhenti sok tahu tentang Chanyeol karena sebenarnya dia tak tahu apa-apa, dan kau, pamerkan saja bahwa kau adalah teman sekolah Chanyeol dulu."

Baekhyun sontak menarik kepala. "Kau gila?"

Eunji menarik nafas. "Kan... begini yang kau bilang berjuang? Sesekali jadilah petarung Baek.." seperti biasa akhirnya Eunji yang bangkit berdiri, langkahnya mantap, derap sepatunya terdengar keras saat beradu lantai, berjalan menuju meja dimana enam gadis berkumpul dan salah satunya masih dengan angkuh memamerkan layar ponsel yang entah dipenuhi gambar apa.

"Jiyeon!"

Helaan nafas terdengar, paling keras tentu dari Jiyeon, gadis itu tak mau kalah, gerakannya untuk bangkit berdiri diperlambat, tangannya yang halus dengan aksen kuku bercat merah mengepal di tepi meja. "Kau... tak bisa untuk sehari saja tak menggangguku?"

"Mengganggu? Apa untungnya aku menganggumu? Aku disini karena justru merasa terganggu. Dengar ya, sudah kuperingatkan beberapa kali, bahkan kalau kau mau membawa helikopter ke kampus aku sama sekali tak peduli, tapi kalau sudah masalah Chanyeol-"

"Apa? Kau tak terima? Kau tentu iri padaku karena aku yang sudah lima kali datang fanmeeting, menonton showcase, katakan saja kalau kau memang iri, dasar fans tidak bermodal!"

"Lebih baik aku yang tak tak tahu apa-apa ini tapi diam daripada kau, sok kaya, sok tahu segalanya, kau pikir kau hebat begitu? Kau sebenarnya tak tahu apa-apa, kau itu nol besar, kau itu tong kosong yang nyaring karena banyak orang yang menendangimu!"

"Kau ini, apa masalahmu sih?"

"Berhenti membeberkan berita bohong dan ke-soktahu-anmu itu tentang Chanyeol!-" Eunji sudah bergerak maju, andai saja lengannya tidak ditahan mungkin ia akan menggebrak, bahkan membalik meja dan melempar apa saja ke arah Jiyeon sampai make up gadis itu luntur kalau perlu sampai bulu mata palsunya itu lepas. "Baek, lepas."

"Sudah-sudah..." Baekhyun mempertahankan agar Eunji tidak maju lagi, menahan sekuat tenaga bersama dengan Minseok yang tengah melerai pula.

"Hoh, dan segerombol orang tak tahu malu ini tengah berkumpul, lucunya." Cibir Jiyeon dengan nada meremehkan, membuat Eunji makin naik pitam.

"Kau benar-benar harus meminta maaf pada kami, kau tahu, kau memamerkan kalau kau pernah berfoto dengan Chanyeol seperti kau orang terkaya di Asia, kalau begitu Baekhyun adalah orang terkaya di dunia. Kau harus tahu ya, Baekhyun ini adalah teman sekolah Chanyeol! Dan berbeda denganmu yang sok tahu itu, Baekhyun adalah contoh orang yang benar dan normal!"

Jiyeon memang memasang wajah terkejut, namun segera ia menyeringai, memandang Baekhyun tidak suka, seperti jijik. "Dia? Ewh." Lidahnya ia julurkan. "Oke, sekarang aku berurusan dengan orang delusi, baiklah, entah apa itu, kau mau menunjukkan bukti seperti apa ya agar aku percaya, nampaknya ini susah..."

"Sudah, maaf, memang kami yang salah, sebaiknya kita pulang saja-" Baekhyun hendak melangkah, ia berusaha menarik Eunji tapi si wanita itu bertahan. "Ayolah-"

"Lihat, bahkan Baekhyun saja malu dengan tingkahmu, kau harusnya malu dengan dirimu sendiri-" Jiyeon mengubah objek pandangnya, dilihatnya Baekhyun diselingi cibiran. "Aku... uh... ingin percaya... tapi... kalau Chanyeol memang teman sekolahmu, itu berarti apa dia bersekolah di pulau terpencil?"

"Iya, memang aku bersekolah di desa, tapi bukan pulau terpencil." Di luar dugaan, Chanyeol datang, dengan mantel hitam panjang selutut hitam dan celana jeans hitam, berdiri tepat di belakang Baekhyun. "Maaf tapi aku harus membawa teman sekolahku ini pergi ke apartemenku." Imbuhnya, yang tentu membuat Baekhyun mematung, Jiyeon cs menganga, Minseok terdiam,

dan Eunji yang menyeringai penuh kemenangan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mianheeeeeee T^T

fyi author lagi sakit beberapa hari ini...

jadi mohon maklum kalo telaaaaat bgt ya update nya

ini author update agak panjangin teheeee

terus komen yaaaa

favs and follow are welcomed ^^

Ini mulai chap depan Chan uda ajakin Baek aja ke apartemen hihiiii

Penasaran? Aseekkk

tungguin yaaak...

ps: masih kobam hastag jacketmerahChanyeol nih wkwk

ciaooi

with love,

Chu