.

.

Sembilan

.

.

.

Hanya suara mesin dan musik dari saluran radio yang terdengar memenuhi mobil hitam milik Chanyeol yang kini melaju benar-benar menuju kota Seoul. Baekhyun beberapa kali terdengar mendengus, sibuk berkutat dengan ponsel sambil sesekali membenahi mantel yang tertangkup di bahunya, yah mantel panjang hitam milik Chanyeol, yang sempat Chanyeol berikan karena saat ditarik keluar dari café tadi Baekhyun tanpa sengaja lupa membawa serta jaket tebal berbulunya.

"Kau kenapa tiba-tiba menarikku begitu? Kau tahu aku harus bekerja malam ini, juga besok pasti Ahjumma akan mencariku—" Protesan Baekhyun hanya ditanggapi dengan kekehan oleh Chanyeol, membuat yang lebih kecil mengeluarkan dengusan kesal.

"Aku sudah memintakan izin pada Ahjumma." Chanyeol kini menoleh. "Tenang saja…"

Banyak yang Baekhyun ingin tanyakan sebenarnya, tapi Chanyeol memasang tampang kelewat santai membuat Baekhyun memikirkan kembali apa memang sebaiknya ia tak perlu khawatir. Ia memilih tak meneruskan pada akhirnya, pemandangan luar lebih menarik untuk dilihat, juga lagu yang diputar adalah genre slow romantis yang membuat Baekhyun mungkin akan tertidur jika ia terlalu meresapi, maka ia memutuskan untuk menyandarkan kepala saja, menarik nafas panjang sebelum menoleh lagi ke arah Chanyeol yang dengan senyum puas masih berkonsentrasi pada jalan.

"Itu tadi seperti adegan di drama-drama." kalimat Baekhyun terdengar seperti berbisik. "Tapi tetap saja… Kau terlalu ceroboh, untung mereka semua terlalu kaget untuk mengambil foto, jadi kau aman… Kalau saja hal itu terjadi, bagaimana kalau besok kau jadi headline di situs pencarian?"

Chanyeol tersenyum miring sambil melihat ke samping. "Biarkan saja, memang sesekali aku tak boleh melakukan hal sesukaku? Dan tadi itu adalah hal yang memang sangat ingin kulakukan, aku sudah gemas dengan orang seperti Jiyeon, tapi pekerjaanku menuntutku untuk selalu tersenyum dan memasang wajah apapun sesuai keinginan produser, sutradara, agensi." ia kembali melihat ke depan. "Sesekali orang seperti itu memang butuh pelajaran."

"Dan membiarkan yang teraniaya seperti Eunji senang sesekali?" Baekhyun menambahi, disusul kekehan dari keduanya. "Oh, Eunji pasti tersangka dibalik semua ini."

"Bingo." Chanyeol mengangguk.

"Oh… Bagaimana bisa?"

"Ingat saat aku menelepon dan kau membiarkan Eunji berbicara?"

"Ah…" Baekhyun mengangguk dengan mulut terbuka. "Dasar sesaeng…"

"Haha, dia tipikal sesaeng yang sopan… Kau tahu bagaimana pesannya? 'Ini Eunji, aku meminta izin menyimpan nomormu, kalau kau tak keberatan bolehkah aku mengirimimu pesan sekali ini? Kalau tidak suka aku akan berhenti melakukannya tapi tolong izinkan aku tetap menyimpan nomormu'." Chanyeol terkekeh. "Jadi kubalas saja pesannya."

"Oh… Dan kemudian bersekongkol dengannya begitu?"

"Kalau itu menguntunganku kenapa tidak?"

"Dasar. Memang kau diuntungkan bagaimana? Apa saja yang sudah kalian bicarakan?"

Chanyeol tersenyum nakal sebelum menoleh. "Memang kau ingin tahu sekali? Kalau kuberitahu aku mendapat imbalan apa?"

Baekhyun mencibir sebal, ia tolehkan kepala kembali arah jendela, pemandangan luar sangat indah, sekarang sudah mulai meninggalkan jauh kota kecilnya, sederetan bangunan tinggi-tinggi mulai terlihat. "Kita mau kemana?" tanya Baekhyun, meskipun baru sekali menuju Seoul tapi ingatannya tentang jalan tidaklah buruk, ia tahu bahwa jalan tol panjang-lah yang seharusnya diikuti, bukan jalanan belok yang sepi.

"Nanti kau akan tahu." Jawab Chanyeol santai.

.

.

Salah satu hotel bernuansa Eropa adalah ternyata yang Chanyeol tuju, dan karena langit luar telah menggelap maka bangunan yang penuh kaca itu mulai dipenuhi lampu-lampu yang membuat Baekhyun terpaksa mendongak dan melihat kanan kiri dengan kagum. Di ujung-ujung ruang terdapat aksen silver dan gold, terlihat mewah, Baekhyun menerima lengan Chanyeol yang tertekuk, mengikuti seseorang yang mengantar mereka sampai di depan lift, menekankan tombol dan menunduk sopan sampai pintu lift tertutup dan tinggal kedua lelaki itu yang tersisa berdiri berdampingan.

"Kukira kita akan ke apartemenmu, bukan hotel?" Baekhyun bertanya, melihat digit angka yang terus bertambah satu setiap dua detik.

"Ah, tentu, tapi perjalanan masih berjam-jam lagi, aku kesini untuk meregangkan otot dulu."

"Wah, kau pamer atau apa?" Baekhyun menoleh mendapati cengiran dari lelaki lebih tinggi. "Meregangkan otot saja ke hotel…"

"Dan makan, aku lapar."

Baekhyun menghentikan lanjutan kalimatnya, akhirnya memilih diam sampai angka dua puluh tiga tertera dan pintu lift terbuka.

Mereka berada di lantai teratas hotel, Baekhyun berasumsi, sebuah area luas dengan pintu-pintu yang nampaknya hanya orang tertentu saja yang boleh masuk. Salah satu pintu tertutup ditunggui oleh seseorang yang nampaknya pelayan, membungkuk sopan dan mempersilahkan mereka masuk, Baekhyun mengikuti saja langkah yang Chanyeol ambil, mengekor di belakang dengan langkah sedikit cepat.

Begitu pintu terbuka Baekhyun hanya bisa berkedip-kedip, ah pantas saja ruangannya dibagi-bagi dan terlihat eksklusif begitu, di dalamnya ada ruangan lagi, lebih kecil, berbentuk persegi, dari satu sisi yang berdinding kaca ia bisa melihat seluruh pemandangan luar kota yang luas, Baekhyun melihat juga ada satu meja dan dua kursi berhadapan yang sangat elegan, ini makan malam seperti di film-film rupanya.

"Duduklah." Chanyeol menarik satu kursi, mempersilahkan Baekhyun duduk terlebih dulu.

Meja, napkin, ornamen, vas beserta satu tangkai mawar di tengah, lilin, lampu yang tak begitu terang, Baekhyun akhirnya mengerti, ini merupakan candle light dinner, terlalu awal sepertinya, karena ini masih belum lewat jam tujuh, tapi apakah seharusnya ia memikirkan hal itu? Ada hal lebih penting yang seharusnya ia pikirkan, senyum penuh arti dan tatapan lembut Chanyeol, apa-apaan itu.

"E-eum… Apa kau ingin makan? Disini?"

Tawa renyah Chanyeol terdengar, dan memang, ia bukan tipe orang yang bisa berada di situasi serius lebih dari semenit. "T-tentu aku ingin makan…" Ia tertawa lagi. "Sial, harusnya ini makan malam romantis, bukannya membahas seperti ini…"

Pintu akhirnya terbuka, seorang pelayan membawa nampan berisi dua buah piring, seorang lagi membawa sebotol wine lengkap dengan dua buah gelas, Chanyeol dan Baekhyun memperhatikan saja kedua pelayan yang mengerjakan tugasnya tersebut, setelah dua gelas terisi wine dan dua piring steak terletak di meja mereka menunduk dan pergi setelah menutup pintu kembali.

"Oh.. Jadi kita akan makan steak?" Baekhyun memandangi isi piring di hadapannya. "Memang menunya ini? Kau memesan sebelumnya?"

Chanyeol terkekeh. "Tentu. Aku harus pesan setidaknya seminggu sebelum datang, kau tahu, candle light dinner exclusive disini selalu padat apalagi pada saat weekend." Chanyeol meraih garpu dan pisau yang terletak di sisi kanan kiri piringnya, menunjuk tangan kanannya yang membawa garpu ke arah piring Baekhyun. "Sudah makan saja, jangan cerewet…"

Baekhyun akhirnya menuruti keinginan lelaki tinggi di hadapannya, memandang pemandangan luar sekali sebelum mengiris steak dan memasukannya ke mulut. "Ini pasti mahal." gumamnya, yang ternyata memancing respon dari Chanyeol.

"Hm?"

"Berapa kau menghabiskan uang untuk makan disini?"

"Kenapa? Kau mau patungan? Sudahlah makan saja."

"Seratus ribu won?"

Chanyeol tidak merespon, hanya mendengus, mungkin kepalanya penuh dengan keheranan kenapa pula Baekhyun membahas masalah harga makanan ini bukan membahas soal mereka saja. "Iya iya, sekitar itu.

"Bohong."

"Hm?"

"Salah satu temanku mengajak kekasihnya dan dia menghabiskan sekitar lima ratus ribu won hanya untuk makan mie, ah, spaghetti maksudku."

"Itu kau tahu."

Baekhyun terbatuk, menaikkan kepala melihat Chanyeol benar-benar. "Serius? Wah…" Ia memandang kagum sekitar. "Kau tahu kedai dekat kampusku menjual bibimbab satu porsi hanya tiga ribu won? Ada daging dan gratis minuman, kalau kesana kau bisa membeli sekitar seratus lima puluh bibimbab."

Chanyeol benar-benar tak bisa berkata apa-apa, rasanya ia seperti kena tendang tepat di kepala, ia menegakkan kepala dan memandang Baekhyun sebal. "Kau, kau harusnya peka aku melakukan ini untukmu, aku berusaha keras agar kau bisa melihat usahaku, malah daritadi bercanda terus."

"Aku tidak bercanda, soal bibimbab itu benar—" Baekhyun terdiam, tengah mencerna perkataan Chanyeol sebelumnya. "Apa maksudnya tadi…"

"Aku menyukaimu, dan… Seharusnya ini romantis, tapi dari awal kau membuatnya tidak romantis sama sekali." Chanyeol berujar, meskipun dengan dua tangan mengiris steak yang ada dihadapannya.

"O-oh…" semburat pink terlihat di kedua pipi Baekhyun, meskipun kondisinya tak terang Chanyeol tetap bisa melihatnya.

"Lalu? Bagaimana? Kau menerimaku?"

Baekhyun menarik nafas, sedikit berat, kemudian melihat sekeliling sebelum melihat Chanyeol lagi. "Kau memang cerdas, membawaku ke situasi sulit begini, kau sudah menyiapkan makan malam yang mahal, membuatku tak enak, lagipula kau membawaku dengan mobilmu, kalau aku menolak bagaimana aku bisa pulang?"

Chanyeol benar-benar mendengus frustasi, ia taruh pisau dan garpunya lalu mengeluarkan dompet meskipun ia harus berdiri. "Yasudah ini kuberi uang kau pulang naik taksi saja sana!"

Baekhyun akhirnya tak tahan untuk tak tertawa, ia sampai mengusap ujung matanya yang mulai berair, melihat Chanyeol yang frustasi sungguh merupakan hiburan tersendiri untuknya. "Maaf-maaf… Aku menerimanya kok…" ia jawab dengan nada masih bercanda, ia lihat Chanyeol yang tengah mengambil posisi duduk kemudian memandangnya. "Aku… Kau sih tidak mengatakannya denan jelas—"

"Aku mencintaimu sebagai teman sejak dulu, kukira aku memang menyayangimu karena kau adalah teman yang baik, karena menurutku kau sangat manis dan perlu untuk dijaga, dilindungi, tapi perasaanku menjadi seperti ini, rasanya aku ingin menjagamu lebih lagi, aku, mencintaimu lebih dari seorang teman."

Ini masih masuk musim dingin, tapi entah mengapa hati Baekhyun jadi hangat mendengarnya, ia mengigit bibir bawah begitu Chanyeol selesai dengan ucapannya, melihat ke arah manapun asal bukan Chanyeol objeknya.

"Sial, aku malu sekali setelah mengatakannya." mengikuti gerak Baekhyun, kini Chanyeol juga menunduk, menutup wajahnya malu.

"Kupikir kau akan sekeren peranmu di drama saat mengutarakan perasaan.." goda Baekhyun.

"Huh? jadi maksudmu aku tidak keren? Aku terlihat bodoh begitu?"

"Terlihat bodoh itu justru membuatmu manis…"

Chanyeol tak meneruskan menjawab, hanya senyum yang bisa ia sunggingkan. "Jadi?"

"Jadi apa?"

"Bagaimana keputusanmu?"

"Ya… Aku menerimamu."

"Bukan itu, kau masih bersabar sampai menuju apartemenku atau disini saja? Dibawah pasti banyak kamar yang kosong…"

Candaan Chanyeol tentu membuat mata Baekhyun membulat. "Dasar mesum!"

.

.

.

Setelah membeli makanan ringan dan minuman di supermarket dekat hotel keduanya memutuskan melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan sebenarnya mereka berkutat dengan lelehan salju, namun entah mengapa auranya seperti sudah musim semi. Baekhyun dengan senyum manisnya, dan Chanyeol yang tak jauh berbeda seperti Baekhyun, yang lebih tinggi menggenggam tangan kekasih cantiknya sesekali, biasanya Baekhyun memang tak menolak, namun kini ia mengeratkan jemarinya, perasaan yang tersampaikan ternyata begini rasanya, semua terasa indah dan menyenangkan, Baekhyun bahkan bisa tersenyum hanya dengan mendengar Chanyeol bernafas, sungguh manis sekali.

Dua jam yang mereka tempuh mereka habiskan dengan topik pembicaraan mengenai kehidupan masing-masing selama tak bertemu, sebenarnya mereka sering membahas ini di chat dan telepon, namun Baekhyun tak keberatan untuk menceritakan kembali kepada kekasih barunya tersebut, ya kekasih baru, begitu pula dengan Chanyeol yang dengan semangat menceritakan kehidupannya semenjak trainee, juga saat ia sebelum dan sesudah debut, keduanya memang sangat aktif dalam berbicara, hingga sebuah apartemen besar seakan tak terlihat oleh Baekhyun, ia baru menyadari begitu mesin mobil dihentikan.

"Kita sudah sampai?"

"Eum." satu anggukan Chanyeol berikan, setelah membuka pintu kemudian menutupnya ia seakan tak lelah untuk berlari memutar kemudian membukakan pintu untuk Baekhyun.

"Terimakasih." jawab Baekhyun singkat, kemudian membawa serta dua kantong plastik besar yang ia beli sebelumnya. "Apartemennya besar sekali…"

Chanyeol terkekeh, ia menunggu langkah Baekhyun, mengalungkan satu lengan di bahu yang lebih kecil, dan dengan otomatis Baekhyun mendekatkan tubuhnya, mantel Chanyeol yang kebesaran dan terlalu panjang membuatnya terlihat tenggelam, seperti anak-anak yang memakai baju ayahnya, namun itu justru membuat Chanyeol lebih suka, ia bersemangat ketika memasukkan kode dan membuka pintu. Seluruh ruangan berubah terang benderang begitu Chanyeol menekan satu tombol, Baekhyun menganga melihat interior ruangan yang sangat keren seperti apartemen yang biasa dihuni pemeran utama di drama-drama yang sering ia tonton.

"Waaaah~" Baekhyun masih terperangah, ruang tamu saja selebar lahan di belakang rumah neneknya, oke, ini sebenarnya agak berlebihan, tapi Baekhyun tidak ragu bahwa Chanyeol sudah benar-benar menjadi artis besar, sofanya saja mungkin setara dengan harga sepeda motor yang pernah ia gunakan untuk mengantar pesanan dari restoran tempat ia bekerja, Baekhyun tak henti-hentinya berdecak kagum.

"Sudah-sudah, nanti lalat akan masuk mulutmu." Chanyeol terkekeh, tangannya membekap mulut Baekhyun.

"Mana ada lalat di rumahmu?" pekik Baekhyun begitu tangan Chanyeol telah menyingkir.

"Barangkali saja…" Chanyeol terkekeh lagi, ia mendudukkan diri di sofa, meregangkan tangan yang membuat tubuhnya terlihat makin memanjang, ia tersenyum geli melihat Baekhyun masih berdiri dengan dua kantong plastik sambil menengok kanan kiri seperti anak yang kehilangan induk. "Sini…"

Langkah yang Baekhyun buat pendek-pendek dan setengah berlari, nampak imut, membuat Chanyeol makin gemas, ia tarik tangan Baekhyun setelah kekasihnya itu menaruh dua bawaannya di meja, membiarkannya duduk menempel di sampingnya.

"Hey, aku tak bisa bernafas." protes Baekhyun, memanyunkan bibir karena tangan kanan Chanyeol membungkus pinggangnya terlalu erat, Chanyeol setengah menunduk, menumpukan keningnya di bahu kanan Baekhyun yang jauh lebih rendah, Baekhyun balas memeluknya, tangan kirinya membalut bahu tinggi Chanyeol, jemarinya membuat gerakan memijit yang membuat Chanyeol menghirup-menghembus nafasnya perlahan.

"Iya, disitu Baek…" erang Chanyeol dengan suara rendahnya, nyaris berbisik.

"Kebiasaanmu masih sama saja…" kikik Baekhyun, meneruskan apa yang ia kerjakan, memposisikan tubuhnya agar Chanyeol merasa lebih nyaman di pelukannya.

.

Kalau dibilang kasmaran sebenarnya mereka berdua sudah lama merasakannya, namun setelah klarifikasi yang baru mereka buat beberapa jam lalu entah mengapa menunjukkan perasaan masing-masing jauh lebih mudah. Baekhyun yang awalnya bermaksud memberikan pijatan-pijatan ringan agar otot Chanyeol tak kaku karena empat jam menyetir tak malu lagi saat menerima perlakuan Chanyeol yang sudah bisa ditebak akan seperti apa, memeluk dan mencium, mengusap-usap kepala hingga menyentuh lembut bagian-bagian yang sebelumnya belum terjamah, sudah mengenal selama beberapa tahun membuat mereka tak asing lagi tentang apapun termasuk bentuk tubuh, dan Baekhyun harus mengalah ketika Chanyeol yang dibandingkan dengan tubuhnya jauh lebih besar mulai semakin mendominasi, tubuhnya direbahkan di sofa, keningnya dicium, Chanyeol begitu telaten mengusap kepalanya membuat Baekhyun makin merasa nyaman, sejujurnya menjadi mengantuk tentu saja, dan ia harus lagi bernafas berat saat Chanyeol setengah menindihnya, kaki mereka terlilit, tubuh mereka memiring dan saling berhadapan, ciuman merekapun tertaut.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas, yang berarti mereka menghabiskan waktu dua jam hanya untuk saling bercumbu. Chanyeol melepaskan sesapannya yang tak berjeda dari bibir Baekhyun, membuka matanya saat yang kecil juga mulai membuka kedua kelopak mata kecilnya, bibir keduanya memerah, agak kacau sebenarnya, dan keduanya hanya bisa tersenyum malu-malu, telinga Baekhyun bahkan sampai memerah, ia menurut saat Chanyeol malepaskan dekapannya yang dari berjam-jam lalu tak terlepas.

"Um.. Em… Kau mengantuk?" Nafas hangat Chanyeol berhembus menyapu seluruh permukaan bibir hingga dagu Baekhyun, membuat yang kecil tersenyum, kemudian mengangguk.

"Sepertinya aku tadi sempat tertidur…" Baekhyun membalas, sengaja tidak membuat jeda yang berarti bibirnya sesekali bersentuhan dengan bibir di hadapannya, Chanyeol tersenyum saja, mempertahankan jarak wajah mereka yang terpaut tak lebih dari sesenti, menarik lagi pinggang ramping Baekhyun yang sedari awal menempel lekat dari tubuhnya.

"Um? Lalu kenapa tak tidur saja?" kali ini arah pandang Chanyeol berfokus pada bibir merah tipis bertanda lahir cantik yang masih mempertahankan senyum. "Aku akan melakukannya terus bahkan saat kau tertidur."

"Melakukan apa?" Baekhyun bertanya lagi dengan nada menggoda, bibir bawahnya kini menyentuh bagian dagu Chanyeol, yang tak Chanyeol sia-siakan untuk kemudian ia kecup sekali sebelum ia memandang mata Baekhyun kali ini.

"Menciummu. Oh, Baek, bibirmu manis sekali."

Baekhyun tersenyum makin lebar mendengarnya. "Iyakah?"

"Iya. Aku jadi menyesal kenapa tak menciumnya dari dulu." Chanyeol mengecupnya sekali lagi. "Aku melewatkan bibirmu lebih dari tiga tahun, bagaimana bisa."

Baekhyun menghembus nafas kemudian mengubah sedikit posisi kepalanya yang ada di bantal yang terletak di ujung sofa, ia menikmati saja saat Chanyeol makin menghimpitnya, punggungnya sudah sangat menempel di sandaran sofa, dan rasanya sofa yang sebenarnya besar itu terasa semakin sempit saja, ia menghentikan gerak Chanyeol yang masih mengecupnya dengan bertubi, menahan dada kekasihnya dengan telapak tangan kiri. "Mau ke kamar?" tawarnya. "Aku mengantuk…"

"Oke, tapi kubereskan dulu." Akhirnya Chanyeol bangkit duduk, memandang ke satu-satunya bantal hitam yang ia gunakan bersama Baekhyun, kemudian memandang kekasihnya. "Tunggu sebentar ya, sayang."

Wajah Baekhyun seketika memerah, telinganya, lehernya, seperti sirkulasi ruangan apartemen Chanyeol berubah drastis, Baekhyun bahkan bisa merasakan organ dalam tubuhnya benar-benar terbakar.

Ia meleleh.

.

.

.

Baekhyun tak pernah merasa sabtu pagi akan terasa seindah ini, memang hari libur adalah hari favoritnya, tapi bangun dari dekapan lengan yang membungkusnya semalaman dan bau hangat selimut asing namun menenangkan itu membuat kepalanya menjadi ringan. Ia merentangkan kedua tangan ke atas, meregangkan otot dan ia sempat takjub meski badannya sudah diulur sepanjang mungkin namun ruang kosong di sekitarnya masih terasa luas, memang pada dasarnya ranjang kekasihnya ini berukuran king size, dan saat ia terbangun kemudian melihat gorden panjang yang menutup kaca layaknya di hotel-hotel mahal, ia tak bisa untuk tak memandang takjub, seharusnya sejak tadi malam ia bisa menikmati indahnya ruangan ini, salahkan saja Chanyeol yang sibuk mengerayangi tubuhnya, mengajaknya melakukan hal yang tidak-tidak, ups, seharusnya ia menyalahkan diri sendiri juga, mungkin ia juga yang terlalu menikmati, telinganya mendadak memerah lagi, rasanya ada yang aneh, mengingatnya membuat ia tersenyum sendiri.

Udaranyapun nyaman, Baekhyun memutuskan menuruni ranjang, menuju jendela dan menyibak gorden, pemandangan jalan-jalan dan bangunan terlihat jelas, juga taman, Chanyeol begitu pandai memilih tempat tinggal, selain mewah juga pemandangan luarnya Baekhyun suka.

"Ehem" satu dehaman Baekhyun dengar, dan Chanyeol tahu-tahu sudah di belakangnya, hanya dengan menggunakan kaus tanpa lengan dan celana pendek yang membuat Baekhyun merinding karena kulit mereka bersentuhan saat Chanyeol membungkus tubuhnya.

"Pagi sekali bangunmu." gumam Chanyeol di ceruk leher kekasihnya, membuat Baekhyun kegelian.

"Um… kau masih mengantuk?" tanyanya, sambil menolehkan kepala sedikit ke kiri, dan satu ciuman di bibir didapatkannya selama beberapa detik, Baekhyun refleks memejamkan mata, membuka bibir hingga tekstur lunak yang basah masuk dan bertemu dengan miliknya, semalam Chanyeol juga melakukannya, beberapa kali, hingga Baekhyun hafal harus bagaimana memposisikan kepala agar Chanyeol bisa dengan nyaman memonopli mulutnya.

"Mph.." Ciuman mereka tersudahi dengan helaan nafas Baekhyun karena kekurangan pasokan oksigen, ia memundurkan kepala sedikit, membuat Chanyeol memajukan kepala secepat kilat untuk mengecupnya sekali sebelum suara getar ponsel membuat keduanya menoleh ke arah ranjang hampir bersamaan. "Ponselmu."

Chanyeol berdecak kesal, tapi harus tetap beranjak menuju ponsel yang letaknya tak jauh dari bantal yang ia gunakan semalam – Juga menjadi bantal yang Baekhyun gunakan karena mereka memutuskan untuk berbagi saja karena ukurannya cukup besar – memungutnya dan mengambil ponsel untuk menjawabnya. "Halo?"

Baekhyun tentu tak tahu siapa dan apa yang dibicarakan orang dari seberang sana, tapi dari ekspresi Chanyeol yang mengerutkan kening tentu itu bukan kabar yang menggembirakan, Baekhyun pilih diam saja, ia mengikuti ke arah Chanyeol yang masih berdiri, ia dudukkan dirinya di tepi ranjang yang berjarak tak lebih dari semeter dari kekasihnya itu.

"Iya hyung, kututup dulu telponnya, okey." Chanyeol akhirnya memilih duduk pula, menaruh ponsel di sisinya kembali, sebelum memandang Baekhyun yang ternyata menyibukkan diri merapikan bantal dan selimut. "Manajer hyung akan kesini satu jam lagi untuk menjemputku, aku ada jadwal tapi tidak akan lama."

"Oh… Baiklah." Baekhyun menyahut, belum juga mereka menghabiskan waktu benar-benar untuk bersama dalam kondisi tidak tidur, dan Chanyeol sudah harus pergi, Baekhyun dalam hati memberenggut kesal tentunya. "Aku bisa membuatkanmu sarapan kalau mau, tapi aku tidak pandai."

Chanyeol terkekeh, ia bergerak maju untuk mengecup sekali kening Baekhyun, lalu mengusap kepalanya. "Jangan memaksakan diri, aku sudah biasa sarapan dengan roti dan susu, jadi, terimakasih banyak."

"Aku bahkan belum membuatkanmu apa-apa." Baekhyun menyela, ia bangkit berdiri dan melipat kaus lengan panjangnya sampai ke atas siku. "Aku akan bekerja sangat keras."

Chanyeol terkekeh.

.

Untuk menghemat waktu Chanyeol memutuskan untuk mandi terlebih dahulu di saat Baekhyun berkutat dengan bahan makanan yang ia temukan di dapur. Dari cara Baekhyun mengiris dan memotong ia terlihat ahli, namun saat menuangkan bumbu atau semacamnya dia tak begitu pandai, ia menghabiskan waktu lima belas menit untuk menu sederhana telur dadarnya, susu hangat dan roti panggang yang sengaja ia siapkan dengan isi selai strawberry.

"Sudah?" Suara berat Chanyeol akhirnya menyapa, Baekhyun memutar tubuh dan tersenyum, menunjuk ke meja dengan dagu yang diangkat, ia bisa mendapati Chanyeol membulatkan bibir, kemudian mengangguk dua kali.

"Aku hanya memasak itu… Karena tidak banyak bahan di kulkas."

"Oh… Ini sudah lebih dari cukup." Chanyeol tersenyum cerah, matanya berbinar, Baekhyun turut senang melihatnya, ia berjalan dan mengambil duduk di samping Chanyeol, menantikan bagaimana kekasihnya meresepon masakan yang ia buatkan pertama kali.

Potongan telur dadar pertama Chanyeol tusuk dengan garpu, kemudian melahapnya segera, senyumnya mengembang setelah beberapa kali kunyahan, Baekhyun turut tersenyum dibuatnya, Chanyeol memberikannya dua jempol, dan Baekhyun merasa senang karena Chanyeol menghabiskan seluruh isi piring dan gelasnya.

"Itu, roti panggangnya habiskan juga."

"Hm? Lalu kau?"

"Aku bisa buat lagi nanti."

"Baiklah akan kumakan satu, satunya kau yang makan yah." Chanyeol mengambil, mengunyah sambil terus memperhatikan Baekhyun, ia baru sadar bahwa baru bangun tidur tanpa mandi-pun Baekhyun sudah terlihat cantik. "Kau tahu, kau jauh terlihat lebih cantik setelah membuatkanku sarapan."

Baekhyun berdecih, ia bangkit untuk menuju wastafel. "Dasar tukang gombal."

"Itu bukan gombalan, itu serius." Chanyeol menyahut dengan mulut masih mengunyah roti, kemudian ia putar kursinya agar bisa melihat Baekhyun yang memunggunginya. "Sebentar lagi kutinggal, kau jangan nakal ya."

"Memang aku mau nakal bagaimana?" Baekhyun menjawab. "Oh, apa di dekat sini ada supermarket? Apa sebaiknya aku belanja saja?" kali ini Baekhyun memandang Chanyeol yang masih duduk melihatnya.

"Oh, tidak apa? Nanti kau tersasar?"

"Um… Lalu apa yang harus kulakukan?"

"Aku punya banyak film yang bisa kau tonton, atau bermain game?"

"Baiklah…"

"Lakukan apa saja di rumah sambil menungguku pulang, seperti istri yang baik." goda Chanyeol.

"Huh?" seketika Baekhyun memandangnya tajam, membuat Chanyeol meringis kikuk, namun belum sempat ia meneruskan suara bel mencuri perhatian mereka.

"Oh, itu manajer hyung, ayo kukenalkan." Chanyeol bangkit berdiri, menunggu Baekhyun yang masih membuka celemek dan merapikan pakaiannya.

"Aku belum mandi…" ujar Baekhyun yang nampaknya tak dihiraukan oleh Chanyeol.

"Kau?" Chanyeol berpura-pura kaget. "Belum mandi saja sudah kelihatan lebih cantik dari aktris-aktris yang pernah kutemui." satu cubitan Chanyeol terima di pinggang karena kalimatnya, dan Chanyeol hanya bisa terkekeh karena Baekhyun berusaha merapikan rambut sambil berjalan menuju ke ruang depan beriringan dengannya.

Chanyeol tak sempat melihat ke monitor yang terhubung dengan kamera di depan pintunya, ia sesegera mungkin membuka gagang pintu, sambil masih menggandeng tangan Baekhyun, gerakannya sedikit terhenti saat pintu belum sepenuhnya terbuka, dan saat Baekhyun dapat melihat seseorang yang muncul dihadapannya ia yakin ada sedikit memori tak asing melesat di otaknya.

"Nana?" Matanya membulat.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

I knoooooow it's pretty long timeeeee .

miaaanheee

oke naena nya belum yaaa? Aduuuh tapi Nana udah dateng ajaaaa

*kaborrrrr

terimakasih banget yang uda mau komen sama follow sama favorite semoga and rejekinyaaaaa tambaaaaahhhh

amiiiiiiiiin!

ohyah yang mau hub author bole banget via line: Ika Wahyu

gumawooooo .