Melted.
By: hopehobe
Pertemuan itu mungkin singkat, tapi kesan itu tak akan menguap.
Rasanya cuaca sedang cukup terik, cahaya surya menyorot dan menusuk tepat di ubun-ubun kepala, gerah, panas, memuakkan, dan Jeon Jungkook benci itu. Tapi nyatanya disinilah dia sekarang, terjebak bersama dengan sahabat bodohnya di hadapan sebuah gedung tinggi menjulang yang dengan terang-terangan tengah berdiri melawan gravitasi.
Jeon Jungkook menggeram kesal, manik hitam kecoklatannya terus bergerak gusar kesana kemari mengamati keadaan sekitar. Yang terlintas dibenaknya saat itu hanyalah kata penuh, kepenuhan yang sesak.
.
.
.
Tak tak tak
Suara sol sepatu yang memukul lantai terdengar saling bersahutan, entah dari mana dan milik siapa, Jungkook tak begitu memedulikannya. Diiringi dengan sebuah dengusan singkat Jungkook melangkahkan kedua kakinya menapaki jalanan keras dibawahnya, melewati gerbang bertuliskan 'Kampus XX' menuju ruang tata usaha dan mengabaikan teriakkan sang sahabat yang melengking memekakkan telinga.
Saat ini, Jeon Jungkook sedang berada di sebuah kampus tepatnya di depan ruang tata usaha kampus. Bukan sebuah kampus yang terkenal keren dan bergengsi tinggi melainkan sebuah kampus biasa yang dibatasi dengan kata 'hanya', karena bagaimanapun juga Jungkook sadar diri bahwa ia tak sepintar dan sebernyali itu untuk mendaftar di universitas bergengsi.
"Permisi?" Bibirnya terbuka menyuarakan isi kepalanya saat itu. "Aku ingin mengumpulkan ini". Sambungnya. Sedangkan sebelah tangannya terjulur kearah si pegawai tata usaha setelah Ia mengambil map hijau dari dalam tas ransel yang hanya ia sampirkan asal di satu sisi pundaknya.
"Jeon Jungkook, SMA Y?" Si petugas tersebut tersenyum dan berbicara dengan ramah sesaat setelah ia membaca halaman depan map yang baru saja beralih tangan itu, dibukanya halaman demi halaman kertas putih yang berisikan cetakan juga goresan tinta hitam, "ah". Wajahnya tampak serius dengan kedua alis menukik kedalam tanda ia sedang tidak bercanda, "Dari yang tertulis, adik dari Jeon Wonwoo bukan? tunggu sebentar". Merasa perlu si petugas membuka laptopnya dan mengetikkan sesuatu yang entah apa sebelum kembali melanjutkan ucapannya "Kakakmu sudah mengumpulakn formulir pendaftaran itu tiga minggu lalu, dan bahkan pihak universitas sudah memberitahukan perihal waktu wawancara dengan orang tua atau wali". Wajah seriusnya berangsur-angsur membaik seiring waktu. Tangannya bergerak mendorong map hijau itu kearah sang empunya berniat mengembalikannya.
"Hah?" Jungkook melongo saat itu, tanda tanya besar dan segala kebingungan menghempaskan kesadarannya. Heol. Jeon Wonwoo idiot itu benarkah berbuat begini padanya? Dengan langkah gegabah Ia bergerak mundur, tangannya menyambar map hijau itu dengan perasaan tak tentu. Ia kesal! Waktunya telah terbuang sia-sia sekarang ditambah lagi Park Jimin yang tak mengerti tata cara membaca suasana itu tengah tertawa sangat lebar disampingnya.
"Sumpah, demi Tuhan, Jeon! Ini lucu! Hahahahahahah".
Plak!
Map hijau itu telah mendarat dengan tidak mulusnya di kepala bersurai pink milik sang sahabat.
"Ugh. Sial kau jahat sekali padaku". Walau sebuah protes telah dilayangkan tapi Jimin dengan meng-atas-namakan solidaritas tetap saja mengambil map yang telah dilemparkan oleh Jungkook dengan kesal. "Sudahlah, santai saja, seperti akhir dunia saja kau ini". Jimin menepuk pundak Jungkook dengan keras, cukup keras untuk membuat Jeon Jungkook mendelik dan berdesis tak suka. Entah, tapi Jimin tak peduli, toh Jungkook juga tak pernah benar-benar marah padanya.
"Kau tahu Jim, mungkin ini bukan akhir dunia tapi sepertinya akan bagus kalau hari ini menjadi akhir hidupmu". Jungkook memberikan lirikan kesal kearah Park Jimin yang memuakkan.
"Hehe. Kau tega?" Pertanyaan itu dilontarkan bersama dengan kedipan sebelah mata milik Park Jimin yang sipit.
'Kenapa ti- AH!" Kalimat Jungkook terhenti digantikan dengan pekikan melengking darinya.
Saat ini, telapak tangan besar yang entah milik siapa itu tengah mendarat indah di sebelah pantatnya yang kemudian dilanjutkan dengan gerakan meremas. "Hei kemana saja?! Aku mencarimu bo... doh". Detik berikutnya sang pemilik tangan kurang ajar tadi telah menarik kembali tangannya.
Jeon Jungkook mendidih dan siap meluap kapan saja, didepannya Jimin tengah mengangkat kedua tangannya dengan ekspresi kosong menyatakan ketidak-bersalahannya melalui gestur tubuh.
Kepalanya bergerak cepat, matanya menyorot nyalang menyuarakan perang. Lelaki bersurai cokelat keemasan disampingnya menjadi tersangka utama tindak pelecehan yang baru saja menimpa Jungkook. "Sial". Desis lelaki tersebut dengan pelan.
"KAU!" Teriakan seorang Jeon Jungkook yang sedang marah itu bukan main. Mendebarkan dan sungguh memacu kerja jantung. Menakutkan. Ia memutar tubuhnya menghadap si lelaki dan tangannya telah terkepal diudara hendak melayangkan pukulan kearah lelaki bejat dihadapannya.
"Ya-yah!" Taehyung, si tersangka utama mengambil loncatan ringan guna menjauhkan diri dari Jungkook yang sedang menggertaknya. "Maaf! Maaf! Aku tak sengaja!" Protesnya tak terima, "Aku berani bersumpah-", tangannya terangkat tinggi menirukan gerakan Jimin berusaha mengklaim kebenaran situasi dan ketidak-bersalahannya. "Kukira kau adalah temanku tadi!" Lanjutnya.
Saat itu mata mereka bertemu dan bersitatap selama beberapa saat sebelum Jeon Jungkook benar-benar melayangkan kepalan tangannya dengan cepat, menghantarkan rasa perih bukan main dan membiarkan rasa itu tertinggal di pipi seorang Taehyung.
Taehyung menangkup sebelah pipinya dan matanya membola, keterkejutan telah membangunkan dirinya. Tunggu sebentar, baru saja tadi, ia ditonjok oleh seorang pemuda berseragam SMA? Sialan. Habislah sudah. Harga dirinya baru saja diolok, Taehyung tak bisa menerimanya.
"KAU!-", Taehyung berteriak lantang dengan kobaran api menyala terang di matanya, "APA HAH?!" namun teriakkan itu segera terpotong oleh teriakan lainnya yang berasal dari Jeon Jungkook. Keduanya kembali bersitatap untuk kedua kalinya, dengan situasi yang berkali-kali lipat lebih menegangkan dari sebelumnya.
"KENAPA MEMUKULKU?!"
"KENAPA MEMEGANG PANTATKU?!"
"AKUKAN SUDAH MINTA MAAF!"
"ITU PELECEHAN! SIALAN!"
"APANYA YANG PELECEHAN?! KAU KAN PRIA-" Taehyung tak melanjutkan ucapannya. Matanya bergelut dengan kegiatan lain sibuk menelisik dan menganalisis penampilan pemuda didepannya dengan seksama; kemeja putih yang tenggelam didalam sweater berwarna krim hingga menyisakan kerah yang menyembul keluar, tas ransel yang tersimpan di sebelah bahunya, serta celana seragam yang kelihatan sekali bahwa telah diubah mengikuti bentuk kaki layaknya skinny jeans. Wow, Siswa SMA yang memukau.
"APA YANG KAU LIHAT BAJINGAN?!" Teriakkan geram kembali mengudara menarik Taehyung untuk kembali berpijak pada dunianya.
"Aku melihatmu, dan menemukan kemanisan disana". Menaik turunkan alisnya, taehyung berniat menggoda Jeon Jungkook. Berhasil. Beberapa saat kemudian teriakan kembali terdengar sangat nyaring.
"BANGSAT!"
Tanpa menghiraukan teriakan kesal Jungkook, Taehyung menolehkan kepalanya ke arah lelaki bersurai pink di dekat mereka "Hey, dia ini namanya siapa?", dan selanjutnya sebuah jawaban lengkap terlontar dari bibir ember Park Jimin. "Dia Jeon Jungkook, aku Park Jimin, siswa SMA Y, dia kesini untuk mengumpulkan formulir pendaftaran dan aku menemaninya".
"Oh. Jeon Jungkook?" Taehyung mengulang nama yang telah disebutkan oleh Jimin.
"Diam. Jangan sebut namaku!"
"Aku Kim Taehyung, ingat namaku. Siapa tau kau ingin mendesahkannya suatu saat nanti. Sial! Aku hampir telat!" dengan itu Taehyung berlalu dari hadapan Jungkook dan Jimin meninggalkan sebuah perempatan imajiner di dahi Jungkook.
"SIALAN KAU! MATI SAJA!"
Terkutuklah Jeon Jungkook dan Kim Taehyung yang peduli setan tentang adanya sopan santun, mereka telah menjadi tontonan gratis bagi para mahasiswa dan mahasiswi dan bahkan tak sedikitpun merasa malu.
Park Jimin menghela nafas seraya menatap jengah kearah Taehyung yang semakin menjauh, sebelum sesosok putih pucat melintas dihadapannya berjalan dengan tergesa memasuki gedung fakultas seni. Perhatiannya telah dicuri dan keputusannyatelah telah bulat bahwa kampus ini akan segera menjadi tempatnya belajar dihari esok.
.
.
.
.
Hai, saya muncul dengan bagian pertama dari fanfic ini. Mohon maafkan typo(s) dan kesalahan EYD :( saya penulis baru disini jadi mohon dimaafkan. Terima kasih. :)
