Khoerun904 : mungkin nggak seseru itu kali ya :D.. soalnya ane nggak bisa sehebat Mr Masashi… :xD
Nurulita as Lita-san : Kita lihat aja nanti, akan di usahain kok, tapi mengingat musuhnya kali ini lebih banyak, kayaknya iya. Ikutin aja terus OK :D
Thasya Rafika Winata : Yeah, I'm Back… maaf ya, lama menunggu. Dan makasih karena mau sabar menunggu . Maklumlah baru merdeka dari kesibukan :D
Risnusaki : he… he.. he… iya nih, soalnya lebih banyak yang minta NP season 2 ketimbang Future Fict-nya Renegade. Ane sih nurutin permintaan pasar *plakk*… tapi tenang, akan tetap di usahain biar bisa cepat di publish :D
.
.
.
Si Kembar Bengis
...
...
...
"Darimana saja kau, Nagato?" sambutan dari Sasori begitu melihat Nagato sudah muncul.
"Melakukan pekerjaan yang biasa kulakukan" sahut Nagato.
Sasori diam dan membiarkan Nagato melewatinya. Bagi Sasori, Nagato termasuk sosok misterius. Ia tidak pernah tahu alasan Nagato selalu membantai para pemusik jalanan.
"Menurutmu, apa yang membuat Nagato menjadi sangat membenci para pemusik?" Jiraiya datang tiba-tiba. Melihat wajah Jiraiya yang nampak kelelahan, Sasori tahu si Bandot Tua itu habis menyergap maid.
Sasori hanya menatap sekilas, " Sebaiknya kau tanyakan saja pada Tsunade, dia lebih dahulu bekerja pada Tsunade"
Jiraiya hanya angkat bahu.
"Mau kemana lagi kau?" tanya Jiraiya, melihat Sasori meninggalkan rumah mewah milik Tsunade.
"Menurutmu? Kau pikir aku mau disini bersamamu, sementara si kembar liar itu mendahului ku" jawab Sasori, tetap melanjutkan langkah.
Jiraiya masih sempat melihat Sasori memanggil dan mencari sahabatnya, Chouji.
"Aku masih mau di sini. Sakura mungkin sudah menjauh. Sangat kecil kemungkinan dia masih berada di Konoha" teriak Jiraiya.
"Percuma bandot tua. Tsunade juga belum mencabut hukumanmu" jawab Sasori menjauh.
"Aku bisa memaksanya"
Kesal pada Jiraiya, "Iya, jika kau bisa lewati kecapi Nagato"
...
-SSS-
...
Semakin teranglah desas-desus yang beredar, bahwa pembantaian terhadap pemusik jalanan masih terus berlanjut. Dan lagi-lagi Sasuke dan Sakura mendapati mayat bergelimpangan dan besimbah darah. Bahkan sangat sesuai dengan kabar yang mereka dengar tempo hari di kedai.
Melihat luka yang di hasilkan pada tubuh korban, Sasuke dan Sakura mayakini kalau pelakunya adalah orang yang sama.
Setelah sekian lama meneliti mayat para korban, namun tidak juga mendapatkan petunjuk tentang pembunuh rombongan pemusik itu, Sasuke yang dibantu kekasihnya segera membuat sebuah lubang besar untuk mengubur belasan mayat itu.
Usai mengubur para mayat itu, Sasuke kembali mengajak Sakura melanjutkan langkah, sekaligus mencari tempat untuk membersihkan diri. Dan kebetulan, tidak jauh dari mereka terdapat sebuah aliran sungai.
"Kita harus menyelidikinya, Sasu. Pembunuh biadab itu tidak boleh bebas berkeliaran begitu saja.
Kita harus memberikan hukuman yang setimpal!" tegas gadis itu, usai membersihkan diri.
Sakura memang merasa marah, tapi tak tahu harus ke mana menyalurkannya. Jemarinya yang lentik terkepal erat.
"Sabarlah, Sakura. Masalah ini masih gelap bagi kita. Jadi kita tidak bisa melemparkan tuduhan sembarangan. Bisa saja rombongan pemusik itu yang bersalah," bujuk Sasuke menyabarkan kekasihnya.
Dibelainya jemari gadis itu untuk menenangkan kemarahan yang bergejolak dalam dada kekasihnya.
"Hhh...," Sakura menghela napas panjang. Kemarahan gadis itu terlihat mulai reda.
"Tapi, Sasu. Seandainya hanya satu kelompok pemusik saja yang mengalami nasib demikian. Mungkin memang bisa dikatakan kalau pemusik itu yang salah. Tapi ini kan sudah beberapa. Masa iya, semua kelompok itu yang bersalah" Emosi Sakura kembali bangkit setelah mengemukakan pendapatnya.
"Tenanglah, Sakura" Sasuke bernada lembut, "Kita juga tidak tahu siapa pelakunya. Lalu kau mau menghukum siapa. Amarahmu tidak akan menyelesaikan masalah"
"Maaf, Sasu"
Memang, ucapan pemuda itu ada benarnya juga. Dan kemarahannya tidak boleh diumbar dalam menghadapi masalah yang sama sekali belum diketahuinya. Sasuke membelai rambut merah muda lembut milik kekasihnya. Dipandanginya wajah cantik yang sudah kembali seperti sediakala itu. Ia tahu kalau Sakura telah dapat menguasai perasaannya kembali. Sasuke pun tersenyum melihatnya.
Sasuke menarik kepala Sakura dalam pelukannya. Sakura mendesah sambil merebahkan kepalanya di dada bidang milik Sasuke..
Sasuke mengangkat dagu Sakura dengan perlahan. Sasuke menatap mata bening milik Sakura, perlahan Sasuke menundukan kepala mendekatkan bibirnya pada bibir Sakura.
Mata indah itu terpejam dengan pelan-pelan. Bibir ranum itu merekah sedikit, seakan siap menerima kehadiran bibir Sasuke.
Gerakan lidah menyapu bibir atau mulut yang mengulum bibir ranum itu dilakukan dengan sangat lembut.
Pergerakan tangan Sasuke perlahan bergerak menyusuri setiap lekuk bentukan tubuh Sakura. Mendapat perlakuan demikian, lutut Sakura serasa mau copot. Rasa nikmat akibat perlakuan Sasuke membuat jiwanya makin merasa melayang.
"Aaah… umm.."
Desahan Sakura makin mengalun, Sasuke mendudukan Sakura. Perlahan tangannya kembali mulai menyusup kebalik gaun Sakura.
Tiba-tiba Sasuke buru-buru menghentikan aktivitas mereka.
Sasuke segera memegang gagang pedangnya, sambil menatap tajam pada semak-semak yang tumbuh tinggi. Begitu juga dengan Sakura, ia mulai siaga dan memegang gagang belatinya.
"Tidak apa-apa Sakura" bisik Sasuke.
Sebelum Sakura bertanya, "Keluarlah, atau ku potong kau dengan Kagutsuchi" seru Sasuke.
"Sasu…" Sakura heran, Sasuke dalam posisi siap bertarung. Tapi nada ucapannya sama sekali tidak ada tanda kalau ia akan bertarung.
Sasuke menarik sudut bibirnya.
Wuutts!
Api hitam membentuk mata pedang memanjang meluncur deras ke semak-semak.
"Kau ingin membunuhku, Bocah" teriakan suara cempreng dari balik semak-semak tadi.
"Berhentilah main kucing-kucingan" jawab Sasuke datar.
"Sialan kau, Bocah. Ehem… hati-hati, ini kan sudah sore, bisa-bisa kalian jadi tontonan pencari kayu bakar atau pemburu yang ingin pulang"
Sakura menarik nafas panjang. Suara yang mengganggu barusan adalah suara cempreng yang tidak asing lagi.
Sakuralah yang paling kesal setelah mengetahui siapa yang datang mengganggu keasikan mereka.
"Mau apa lagi kau, Naruto. Kau punya misi lagi? Dan kau ingin melibatkan kami lagi?" ucap Sasuke perlahan dan datar.
"Ha..ha..ha.. aku ini sudah tua. Aku juga butuh istrahat, tidak seperti kalian berdua yang tidak pernah berhenti bercinta"
"Diam kau. Orang Tua" Sakura mulai menggeram marah. Tatapan matanya seolah akan menusuk jantung Naruto. Wajahnya makin merah, entah karena marah atau rasa malu gara-gara ucapan Naruto barusan.
Sasuke segera menggenggam erat tangan Sakura, agar kekasihnya itu tenang. Ia mengingatkan kalau Naruto memang berisik.
"Seperti biasa, kau sangat galak Sakura" sahut Naruto tanpa rasa bersalah.
"Jangan di tanggapi" Ujar Sasuke setengah berbisik.
"Kalau memang hanya sekedar libur dari pekerjaanmu. Lalu kenapa kau malah mengganggu kami?" kembali Sasuke berujar pada Naruto.
"Yaah… seperti biasa. kau juga selalu mencurigaiku. Ayolah Sasuke. Aku ini bukan penjahat" seru Naruto pada Sasuke.
"Terserahlah!" Sasuke menarik nafas panjang.
"Kalian sudah menikah?" Naruto menatap pasangan kekasih di depannya secara bergantian.
"Kenapa!" Sakura bertanya dengan nada ketus.
"Ini soal emas milik Ninja Kegelapan yang sempat ku sembunyikan dan di rampas oleh Sasuke. Maksudku, jika kalian sudah menikah, anggap itu adalah hadiah pernikahan buat kalian. Jika belum, kembalikan padaku" Naruto menunjukan cengirannya. Ia mengulurkan tangan seperti meminta.
"Kami belum menikah, dan emas itu sudah tidak ada. Kami memutuskan untuk memberikan pada panti asuhan" jawab Sasuke.
"Huh! Kalian keterlaluan sekali" Naruto kelihatan kalau ia mencari-cari sesuatu di sekitar situ. Ia mengamati sekeliling. Dan terakhir ia menatap perut Sakura.
Naruto mendekati Sasuke dan Sakura, bahkan sempat mencari-cari di belakang Sakura.
"Apa lagi yang kau cari" ketus Sakura.
"Anak kalian" sahut Naruto.
Sasuke dan Sakura saling tatap.
"Normalnya, kalian seharusnya memiliki bayi sekarang. Atau paling tidak, Sakura sedang hamil" jawab Naruto.
Sasuke cengoh mendengar pernyataan Naruto yang sebenarnya tidak penting, "Sakura bahkan tidak pernah hamil" jawab Sasuke malas-malasan.
Melihat cara Sasuke menjawab, malah membuat Naruto tertawa.
Tapi lain lagi dengan Sakura. Mendengar jawaban Sasuke, ia menundukan kepala.
"Sakura" gumam Sasuke ketika menoleh pada Sakura. Sadarlah Sasuke kalau ucapannya barusan yang begitu saja, menyakiti hati kekasihnya.
Sasuke melotot pada Naruto agar menghentikan tawanya.
"Sakura" panggil Sasuke lagi. Sakura masih diam menunduk. Bahunya kelihatan sedikit bergetar.
"Ini semua gara-gara kau"
Sasuke melayangkan tendangannya pada Naruto.
Buagh!
"Uwaah.."
Grossak!
Naruto terlempar ke arah semak-semak yang tumbuh tinggi, asal Naruto muncul tadi.
Sementara Sakura tidak peduli dengan kejadian di depannya, ia memutar tubuh kendak berlari menjauh.
Grep!
Sasuke segera menggenggam tangan Sakura. Sasuke kembali menarik Sakura dalam pelukannya.
Ia mengabaikan pelukan Sasuke. Sakura begitu sakit hati mendengarkan ucapan Sasuke yang seakan-akan menyalahkan dirinya. Sakura pun juga merasa bersalah. Ia membenarkan ucapan Naruto. Wanita normal memang seharusnya melahirkan sekarang, atau paling tidak dia hamil, mengingat lamanya hubungan dengan Sasuke sudah satu tahun. Pandangan Sakura mengabur.
Sasuke terpaksa membawa Sakura menjauh, setidaknya tempat untuk mereka berdua, mengingat si pengganggu Naruto harus di jauhkan.
"Sakura…" panggil Sasuke saat mereka sudah menjauh.
"Sasuke.. hiks..hikss kau pasti kecewa kan? Naruto benar, hiks..hiks"
Sasuke diam, ia malah makin erat memeluk Sakura, 'Brengsek kau, Naruto', Sasuke cuma bisa merutuki Naruto dalam hati. Tapi kalau mau jujur, Sasuke pun juga merasa bersalah atas ucapannya tadi yang asal-asalan.
"Aku memang wanita yang tidak berguna untukmu Sasuke" tangisan Sakura makin keras dalam pelukan Sasuke.
"Sakura" hati-hati sekali Sasuke memanggil, "Jadi semua untukku, demi aku?" Sasuke menarik sakura dari pelukannya dan menatap wajah Sakura.
"Lalu siapa lagi.. hiks..hiks…"
Sasuke tersenyum lembut membelai wajah dan menyeka air mata Sakura, "Kalaulah memang demi aku. Dengar, aku sudah merasa cukup dan bahagia dengan memilikimu"
"Tapi semua akan sempurna jika aku memberimu anak. Aku takut Sasuke, aku takut kau kecewa dan meninggalkanku" bukannya berhenti, tangisan Sakura malah makin mengeras.
"Sakura, anak bagiku adalah menambah kebahagiaan. Karena kau sudah cukup bagiku. Keberadaanmu sudah sempurna bagi hidupku. Dengar, aku sekarang hanya memiliki dua pilihan" Sasuke masih membelai lembut surai Sakura.
Sementara Sakura menatap mata Sasuke yang masih memancarkan sinar kehangatan.
"Pilihan yang ku miliki sekarang adalah, aku ingin memiliki Uchiha-uchihaku lahir darimu. Atau aku akan menjadi Uchiha terakhir. Aku tidak akan menuntutmu lebih. Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu" tutur Sasuke perlahan dan tetap lembut, "Sakura, kita masih sehat. Dan Aku yakin, kau, maksudku kita akan memiliki uchiha-uchiha yang akan lahir kelak. Bersabarlah" imbuhnya lagi.
Sasuke kembali mengeratkan pelukannya, "Berhentilah menyalahkan dirimu"
...
...
...
"Sialan kau bocah!" maki Naruto keluar dari semak-semak tempat ia tersungkur tadi. Rasa sakit akibat tendangan Sasuke masih terasa olehnya.
Naruto segera melangkah kearah yang berlawanan dengan Sasuke. Sekilas ia menoleh ke sekeliling, ia sempat menautkan alis melihat adanya gundukan tanah.
Naruto mendesah nafas, "Aku belum menanyakan tentang ini" gumamnya lagi. Namun sedetik kemudian, ia mengabaikan lagi dan pergi dari tempatnya.
...
SSS
...
Dibawah cengkeraman sinar matahari dua pria yang besar memiliki wajah yang sangat mirip. Yang membedakan di antara keduanya adalah rambut mereka. Yang satu berwarna kuning keemasan dan yang satunya lagi berwarna putih keperakan.
Mereka berdua memasuki sebuah desa, yang terbilang cukup ramai. Kedua orang itu sama sekali tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang mengarah pada mereka berdua.
Dengan tenang mereka berdua singgah istirahat memasuki sebuah kedai.
Dengan tenang mereka berdua menatap ke sekeliling dan duduk dengan tenang.
Tidak lama kemudian, "Pesan apa tuan-tuan" datanglah pemilik kedai datang dan menawarkan pesanan makanan.
"Kami pesan yang paling enak" sahut pria berambut kuning.
"Tunggu!", panggil si rambut perak, "Kau pernah melihat gadis ini? Dia berambut merah muda" ujarnya sambil menyodorkan sketsa wajah.
Si pemilik kedai cuma bisa menggeleng, dan melanjutkan langkahnya, tapi..
"Brengsek!" seru pria berambut perak tadi sambil menggebrak meja, "Jadi kau tidak menganggapku hah!" rupanya pria itu sangat tersinggung dengan sikap orang tua pemilik kedai tadi.
"Maaf Tuan! Aku tidak pernah melihat gadis itu, saya hanya orang tua pemilik kedai. Saya jarang meninggalkan tempat ini Tuan. Jadi aku tidak tahu menahu soal gadis itu" jawab orang tua pemilik kedai dengan lutut gemetaran karena ketakutan.
Sementara kembaran berambut emasnya diam membiarkan saudara kembarnya bertingkah.
"Brengsek! Kau beruntung orang tua! Karena aku kelaparan. Sediakan pesananku cepat!" teriaknya lagi
"Kak Gin, menurutmu apakah gadis itu bisa kita temukan?" tanya berambut perak lagi pada saudara tuanya.
"Entahlah Kin, sudahlah! Makan saja makananmu dan kalau sudah selesai, kita akan tanyakan pada penduduk" sahut berambut emas sambil mengambil duduk tenang.
Memang kelihatan kalau si Kakak dari Kin ini , sangat penyabar dan lembut. Tapi itu hanya luarnya saja, sebenarnya ia jauh lebih beringas dari pada sang adik.
Tidak lama kemudian pesanan mereka datang.
"Maaf, Tuan-tuan" panggil si pemilik kedai tadi ketika melihat si kembar itu meninggalkan kedainya.
"Ada apa" sahut Kin.
"Ampun Tuan, anda belum membayar" sahut pria tua pemilik kedai yang berusaha memberanikan diri.
Prak!
Suara tengkorak dari pria tua yang remuk akibat hantaman dari Gin, "Silakan minta bayaran di Neraka" ucapnya perlahan tapi penuh nada kesombongan.
"Ayaah!" terdengar jeritan dari dua suara gadis mendekat. Kedua gadis muda berusia sekitar 14 dan 16 tahun itu memeluk mayat pemilik kedai yang mereka panggil ayah. Mereka menangis keras melihat nasib ayah mereka sudah tergeletak dengan isi kepala sudah berhamburan.
"Kalian binatang!" maki salah satu gadis itu, jika dilihat dari keduanya, dia lebih muda dari yang satunya.
Kedua saudara kembar itu saling tatap sambil tersenyum. Muncul lagi satu pemikiran keji di kepala keduanya.
Sementara pengunjung lain merasa geram dengan sikap terlengas dari dua orang yang berwajah mirip itu.
"Kalian memang keterlaluan, bangsat!" maki salah satu pengunjung kedai.
"Lalu kau mau apa?" sahut Kin dengan nada meremehkan.
Srat!
Pria tadi mencabut pedangnya, di susul rekan pria itu. Mereka sadar pria kembar itu bukan orang sembarangan, terbukti, dengan hanya sekali pukul, kepala pria pemilik kedai sudah hancur dengan isi kepala berhamburan.
"Makan pedangku!" seru pengunjung yang geram tadi, ia langsung menerjang sambil membabat pedangnya.
Tep!
Kin menangkap pedang pria tersebut. Pria tadi terkesiap begitu melihat pedangnya di tangkap dengan mudah, bahkan tidak melukai sama sekali tangan yang menangkap itu.
"Kau saja yang makan pedangmu" sahut Kin tenang. Setelahnya ia menyentak pedang yang di pegang sehingga pedang kini berpindah tangan pada Gin.
Sebelum pemilik pedang bertindak,
Crass!
Pedang itu sudah menembus mulut sampai ke belakang kepala. Mata pria itu melotot dan akhirnya tumbang.
"Kyaaa…" kembali kedua anak pemilik kedai itu menjerit menyaksikan sekali lagi kengerian terjadi di depan mata mereka.
"Bangsat!" teriak rekan pria yang mati oleh Gin.
Mereka secara bersamaan melompat dan menerjang kedua pria kembar tadi.
Gin bergerak lebih cepat.
Cras! Crass!
"Aaakh"
Seperti petir yang menyambar, tubuh Gin bergerak sangat cepat sehingga hanya butuh waktu beberapa detik untuk menumbangkan semua pria penyerangnya tadi.
Tidak hanya gadis puteri pemilik kedai tadi, pengunjung yang lain pun berteriak berhamburan meninggalkan kedai karena ketakutan.
Kini tinggallah si kembar Kin dan Gin serta kedua puteri pemilik kedai tadi.
"Kak Gin, lihat para gadis-gadis itu. tubuh mereka bikin gairah ku jadi naik. kita cicipi dulu mereka. gimana Kak?'' ucap Kin.
Gin hanya meleletkan lidahnya karna tergiur kemolekan para gadis kampung itu.
Kedua gadis belia itu membelalak, meraka berdua bisa memahami maksud seringai dan tatapan si kembar itu.
Kalau sebelumnya keduanya sedih karena kematian ayah mereka kini berganti dengan rasa takut.
"Aku setuju kata mu Kin. Kita nikmati dulu tubuh mereka sebelum kita kembali ke mencari gadis itu. ayo cepat Kin.'' ucap Gin setuju dengan Gin.
Dengan gerakan cepat mereka melompat ke arah kedua gadis itu yang mulai beringsut menjauh. Kontan saja kedua gadis desa itu terkejut. Kedua gadis desa itu berteriak ketakutan dan berusaha lari tapi mereka terlambat karna kedua bersaudara itu telah lebih cepat menangkap mereka.
"Kyaaa… tolooong…" teriakan dua gadi belia tadi meminta pertolongan.
Sementara Gin dan Kin, cuma bisa tertawa terbahak-bahak membayangkan tubuh mungil itu akan menjadi 'santapan' mereka.
Keduanya segera berlari meninggalkan kedai dan membiarkan begitu saja mayat pemilik kedai dan mayat yang hendak melawan kedua bersaudara itu.
Teriakan minta tolong kedua gadis yang dalam ketakutan itu hanya menjadi tontonan orang yang ada di sekitar situ. Mereka sudah menyaksikan kebengisan kedua kembar itu. Dan mereka masih sayang nyawa sehingga mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa.
Kedua bersaudara itu cuma di hantar oleh tatapan prihatin orang-orang yang sudah mengetahui nasib yang akan menimpa kedua gadis belia itu.
Gin dan Kin tiba di hutan pinggiran desa yang mereka singgahi. Mereka menaruh dengan kasar tubuh-tubuh mungil yang tadi ada di atas bahu mereka.
Karena di hantui oleh rasa takut yang amat sangat, kedua gadis belia itu seperti sudah terpaku, tubuh keduanya menggigil.
Melihat kedua calon mangsanya yang sudah tidak berdaya, Kedua orang itu tertawa keras penuh kegirangan meliat kedua gadis belia yang juga kakak beradik. Gin segera mendekati seorang gadis kecil yg berumur kurang lebih 14 tahun. Dengan agak kasar Gin merobek kain yg menutupi tubuh gadis kecil itu. si gadis malang itu cuma bisa teriak dan menangis karna insting kewanitaannya merasakan bahaya bakal menimpa dirinya.
Adiknya, Kin juga tidak ketinggalan, ia mulai mendekati gadis yang satunya yang kini makin ketakutan melihat adiknya sudah mulai di gagahi.
Sama halnya seperti yang dilakukan Gin, Kin juga mulai merobek kasar pakaian yang dimiliki oleh gadis korbannya.
Sementara itu, Gin melepas pakaiannya satu persatu dengan perlahan membuat gadis belia makin ketakutan.
Gin dengan kasar menarik kedua kaki gadis itu. Dengan kasar ia memasukan kemaluannya kedalam lubang sempit dan kecil.
Sret!
Si gadis kecil itu cuma bisa melolong merasakan perih dan sakit di area kewanitaan nya yang dimasuki dengan paksa. Jangan gadis kecil sepertinya. Yang dewasa pun pasti akan merasakan kesakitan jika di masuki dengan paksa dan cara kasar seperti itu.
Dengan penuh nafsu Gin terus menggagahi gadis belia itu. Payudaranya yang baru tumbuh tak luput dari remasan kasar tangan Gin.
Gin sambil tertawa terbahak-bahak, ia terus menggenjot dengan kasar gadis kecil itu. Tidak lama setelah merasakan sakit akibat genjotan Gin, karena rasa sakit, perih dan terhina yang tidak tertahankan lagi, gadis itu pingsan.
Tak ubahnya dengan gadis yang satunya. Sang Kakak mengalami nasib yg sama dengan si gadis kecil adiknya. Kin memperkosa dengan sangat brutal dan tanpa ampun lagi.
Kalau yang di perkosa mengerang kesakitan justeru yang memperkosa mengerang kenikmatan.
Setelah beberapa saat Gin dan Kin memperkosa korbannya.
"Aaarggh"
Gin dan Kin menggeram kenikmatan hampir bersamaan. Kemudian keduanya saling tatap dan menunjukan kelegaan.
Ternyata Gin tidak puas hanya dengan sekali, kenikamatan menggaghi tubuh mungil itu membuat ia ketagihan.
Ia mulai merubah posisi korbannya, ia membalik tubuh korbannya dan ia mulai menusuk dari belakang. Belum puas dengan posisi itu, ia melanjukan berdiri dengan tetap memegang pinggang korbannya yang masih pingsan. Karena badannya yang tinngi besar melebihi gadis kecil tadi, sehingga tubuh gadis itu terkulai menggantung dengan posisi kepala di bawah.
Sambil bediri ia tetap menggenjot keluar masuk penisnya.
"Oi, Gin. Hati-hati dengan posisi seperti itu" seru Kin yang juga sudah mulai ronde keduanya.
"Cobalah dengan posisi seperti ini, Kin. Kau tahu rasanya lebih enak" balas Gin sambil tetap menggenjot penisnya.
Kin ikut-ikutan mengikuti gaya kakaknya, sementara korbannya juga sama dengan korban Gin, bedanya korban Kin ini masih memiliki kesadaran. Ia tak mampu lagi berteriak seperti di awal. Suara dan tenaganya sudah habis. Hati gadis itu makin miris melihat adiknya seperti mainan.
Mereka memperkosa, mendorong pinggul mereka, sambil tetap ngobrol santai.
"Kau tahu Kin.. oh.. aaah… ternyata rasa vagina gadis belia sangat nikmat. Mulai saat ini aku akan mencari gadis seusia gadis ini. Rasanya benar-benar.. aaahh.. nikmaaat.. oh" ujar Gin dengan racauannya.
"Bagiku semua vagina sama saja. Aku lebih menikmati wajah aaah…yang cantik oh.. seperti iii..ni.." balas Kin sambil meracau sama dengan Gin.
"Kau benar-benar adik yang payah, kau hanya memburu orgasme, tanpa mau mempedulikan sensasi vagina sempit"
"Yang penting adalah orgasme, tidak peduli sempit atau tidak" jawab Kin mulai membalik tubuh korbannya. Kini ia tetap berdiri dan memeluk korbannya sambil menyodok penisnya keluar masuk.
Keduanya masih belum selesai. Bahkan Kin iseng berjalan-jalan sesaat. Ulah Kin hanya mendapat tanggapan senyuman dari Gin.
"Sakura nama gadis yang kita cari itu kan, juga sangat cantik, Kin"
"Kurasa demikian. Aku tidak akan langsung membunuhnya tapi memperkosanya terlebih dahulu. Tapi sebelumnya, aku ingin mencoba vagina Tsunade" jawab kin.
"Kau.. benar… aaaargggh!" Gin sepertinya tidak mampu lagi menahan letupan kenikmatan dari dalam kelaminnya ia mengerang sambil menengadahkan kepalanya.
Tak berselang berapa lama, Kin juga ikut menggeram dengan ekspresi meringis menahan kenikmatan yang berada di ujung penisnya.
Keduanya mengambil istrahat sebentar.
"Ayo lakukan sekali lagi dan kita pulang menikmati Tsunade. Kau mau pilih yang mana. Depan atau belakang. Kalau aku sama saja, yang penting orgasme" Kin kembali melanjutkan permainannya terhadap korbannya yang tampak juga sudah pingsan.
"Hah! Repot memiliki adik sepertimu. Sudahah kita bertukar, setelah vagina lalu anus" jawab Gin.
"Jangan lupa, bibir seksinya juga"
Keduanya melanjutkan perbuatan bejatnya sambil tertawa. Kini mereka melanjutkan permainan, tapi tidak lagi pada vagina, melainkan anus.
Benar-benar suatu perbuatan yang keji dan kejam sekali apa yang di lakukan dua saudara kembar tersebut. Keduanya begitu beringas seolah-olah ingin menghancurkan vagina dan anus kedua gadis tersebut.
Bahkan setelah puas menggagahi vagina dan anus kedua gadis desa yang malang itu, Mereka dengan santai pergi begitu saja tanpa memandang nasib kedua kakak beradik yang menjadi korbannya.
…
-SSS-
…
Dua pemilik surai merah muda dan hitam pekat berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Keduanya selalu menunjukan tawa riang, terutama yang si gadis, tidak jarang ia bergelayut pada leher si pemuda yang berambut hitam.
Siapa lagi mereka kalau bukan Sasuke dan Sakura.
Tampak Sakura berlari mendahului Sasuke.
"Sasuke, kejar aku. Sini...sini..." teriak Sakura sambil tertawa riang, ia berlari makin menjauh. Sementara Sasuke cuma menarik sudut bibir dan,
Slatchs!
"Kyaaa..."
Sasuke tiba-tiba muncul di depan dan memeluk Sakura.
"Hey..aku bilang kejar aku.. iisshh!" gerutu Sakura. ia ingin main kejar-kejaran dengan Sasuke. Dan yang ada, Sasuke malah menggunakan Gerak Kilatnya dan menangkap Sakura.
Sasuke tertawa kecil, "Dari pada mengejarmu, lebih baik memelukmu".
Sasuke menghentikan tawanya dan menatap kembali wajah Sakura yang mulai merona merah.
Sesaat kemudian setelah tawa keduanya terhenti, keduanya saling tatap. Mulut Sakura sedikit terbuka, perlahan Sasuke mendekatkan bibirnya. Sakura memejamkan mata menikmati sentuhan bibir Sasuke yang lembut. Lidah Sasuke perlahan menyusup masuk dan menjejali setiap ruang dalam mulut Sakura.
Sasuke tiba-tiba melepaskan ciumannya, ia nampak serius dan menajamkan pendengarannya.
"Sasu, ada apa?" Sakura heran dengan perubahan mimik kekasihnya.
"Kau tidak dengar? Sepertinya ada yang merintih" kembali Sasuke meyakinkan dirinya dengan memfokuskan pendengarannya.
Sakura pun ikut-ikutan menajamkan pendengarannya, namun ia tak mendengarkan apa-apa seperti yang di katakan Sasuke.
"Sepertinya sebelah sini" ia menggandeng tangan Sakura, menuju ke tempat asal suara yang di dengar oleh Sasuke.
"Sasu!" Sakura mengentikan langkah sambil tetap menggenggam tangan Sasuke.
"Hn?" Sasuke mengangkat alisnya.
"Apakah itu bukannya.. eumm.. mereka lagi..." Sakura bingung bagaimana mengucapkan kata-katanya.
"Itu kedengaran rintihan kesakitan. Ayo!" Sasuke kembali menarik tangan Sakura.
Sakura juga sudah mulai mendengar adanya rintihan di balik rimbunan pepohonan. Sasuke dan Sakura mempercepat langkahnya.
"Ya Tuhan!" seru Sakura.
Mereka mendapati dua orang gadis yang masih sangat belia tanpa busana. Keduanya terlentang dengan posisi kaki terbuka. Tampak pula lelehan darah yang sudah mulai mengering di sekitar kemaluan kedua gadis itu.
Bahkan terlihat jelas lelehan sisa sperma pada vagina dan anus. Kedua payudara mereka bengkak memerah dan lecet-lecet, puting susu yang mungil sobek. Darah dan sperma berceceran dimana-mana.
Sangat jelas bagi keduanya kalau gadis itu adalah korban pemerkosaan secara brutal.
Sasuke segera membuka pakaiannya untuk menutupi tubuh telanjang yang tampak mengenaskan. Kemudian Sasuke juga membuka kain biru yang biasa ia gunakan sebagai sabuk, lalu di berikan pada Sakura untuk menutupi korban satunya yang nampak bertubuh lebih kecil dari pada yang ada di depan Sasuke.
Sakura menatap gadis dengan tatapan sendu. Nasib yang menimpa kedua gadis itu membuat hatinya begitu miris.
"Sasu..." suaranya serak, "Kejam!"
Sasuke tidak menanggapi, ia tahu Sakura tengah prihatin dan berempati pada kondisi kedua gadis itu.
Sasuke segera beringsut mendekati Sakura. Ia segera memeluk untuk menenangkan perasaan kekasihnya yang tengah bergemuruh.
"Sebaiknya kita tolong mereka, pindahkan mereka ketempat lain. Lalu tanyai ciri-ciri pelaku biadab itu" Bisik Sasuke sambil mengelus surai kekasihnya perlahan.
Sakura mengangguk.
Sasuke segera mengangkat dan melingkarkan salah satu tangan gadis itu ke lehernya. .
...
...
...
TO BE CONTINUE
