Right Place

Sasuke dan Sakura membantu pemilik kedai membereskan kekacauan yang baru saja Gin dan Kin perbuat. Selain karena hari sudah cukup sore, jadi Sasuke memutuskan untuk menetap dan menginap di desa itu. Dan pemilik kedai menawarkan satu atau dua kamar untuk mereka tempati bermalam.

"Sakura, malam-malam begini, kenapa masih di luar?" Sasuke menemui Sakura yang dari tadi tidak nampak, bahkan ketika pemilik kedai mengajak untuk bersiap makan malam.

"Sasu.. besok kita berangkat dan tinggalkan mereka" jawab Sakura perlahan tanpa menoleh.

"Maksudmu" Sasuke segera memeluk Sakura dari belakang. Kedua tangannya melingkari bagian perut Sakura.

"Sen dan Fu" tanggapan Sakura sedikit ketus.

Sasuke tersenyum bukannya ia tidak tahu alasan Sakura ingin segera berpisah dengan dua orang gadis yang pernah mereka tolong.

"Kenapa?"

"Iishh! Dasar tidak peka atau kau pura-pura? Sen selalu mendekatimu, cari perhatian darimu, dan aku tidak suka" suara Sakura lirih tapi ketus.

"Cemburu? Dengar, aku tidak peduli apa yang dia lakukan. Sakura, aku mencintaimu" suara Sasuke perlahan dan berbisik.

"Dia juga cantik"

"Kau lebih cantik"

"jidadnya tidak lebar"

"Tapi tidak mengurangi kecantikanmu"

"Dadanya lebih besar"

"Aku lebih menyukai ukuranmu. Apa bagusnya dada yang besar"

Sakura diam.

"Ada lagi?"

"Jadi bagaimana" sepertinya Sakura belumlah tenang

"Hn, aku juga tidak bisa menjaga kalian sekaligus" ujar Sasuke kemudian. "Tapi kita juga tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja, kita harus bisa memastikan mereka berada tempat yang tepat" imbuh Sasuke.

Sakura mengangguk, membiarkan Sasuke tetap melingkarkan tangannya pada perutnya.

Agak lama keduanya mempertahankan posisi begitu. Tangan Sasuke mulai bergerak perlahan Sasuke meraba tangannya ke atas dada Sakura.

"Auuh.."

Sakura hanya melenguh, Sasuke tidak berhenti dengan memberikan remasan kecil pada dada Sakura. Nafas hangat dari Sasuke yang mengenai leher, menambah sensasi rangsangan Sakura. Pada tangannya juga telah menyingkap gaun bagian bawah. Selanjutnya tangan Sasuke meyusup masuk ke dalam celana Sakura.

"Sasu... aaaahnm" Sakura menggelinjang, Sasuke menyapukan lidah dan bibirnya pada leher dan tengkuk kekasihnya.

Sakura perlahan mengeluarkan desahannya. "Sasu... Ki..kita masih di luar. Jangan lakukan disini", Sakura menadahkan kepala saat tangan Sasuke sudah mulai memijat bagian klitoris.

Sasuke tertawa kecil, "Siapa yang minta. Ayo! Itama memintaku mencarimu untuk makan malam" Sasuke menghentikan kegiatnnya tiba-tiba.

"Haah..!" mata Sakura membulat, "Kenapa menggodaku, bodoh!" kesalnya, bagaimana tidak, birahinya yang sudah bangkit tidak jadi di teruskan.

Sasuke nyaris tertawa terbahak, melihat Sakura menatapnya jengkel, ia pun segera menuntun Sakura menuju ruang makan yang di peruntukan untuk mereka.

"Oh. Kenalkan, ini anakku, Shira, dia baru saja datang. Dia memang berguru kedaerah selatan. Dan seperti kebiasaan, setiap setahun sekali, ia datang mengunjungiku" Itama nampak sangat bangga memperkenalkan anaknya.

Sasuke dan Sakura menatap pada pria tampan berbadan kekar berambut biru terang itu. Selanjutnya Sasuke dan Sakura menganggukan kepala perlahan sambil memperkenalkan diri masing-masing.

Sepanjang makan malam, Sakura maupun Sen merasa risih dengan Shira yang selalu curi-curi pandang pada mereka berdua. Terutama Sakura, dialah yang paling sering mendapat pandangan dari Shira.

Sasuke bukannya tidak tahu, mungkin maklum jika ada yang curi pandang terhadap kekasihnya, mengingat Sakura memang cantik atau karena ia mempercayai Sakura tidak akan berpaling darinya. Hanya Sasuke yang memiliki alasannya.

Begitu pun dengan Sen, ia tidak keberatan, hanya saja, ia lebih berharap kalau pelakunya adalah Sasuke.

Sementara Shira merasa iri pada Sasuke, karena menurutnya, Sasuke bisa menggandeng tiga gadis sekaligus, yang dua di antaranya masih bisa dikatakan bau kencur. Tanpa ada pertengkaran.

Keesokan harinya, sebenarnya Sasuke dan Sakura hendak meninggalkan desa itu. Hanya saja mereka bingung tentang Sen dan Fu, mereka memang hendak meninggalkan mereka, karena memang tidak memungkinkan untuk di bawah kemana-mana. Meski kedua gadis itu menunjukan kalau tidak ada masalah, jika di bawah kemana-mana.

Sesuai kesepakatan mereka semalam, Sasuke dan Sakura juga tidak ingin meninggalkan Sen dan Fu begitu saja, tapi bagaimana caranya.

Sasuke juga tidak ingin menyinggung perasaan kedua gadis itu dengan meninggalkan mereka begitu saja.

Tapi kembali mereka di ajak sarapan oleh, Itama pemilik kedai. Untuk hari ini Itama memang sengaja tidak membuka kedainya. Dan kini mereka sedang duduk berhadapan sambil menikmati teh hangat.

"Sasuke, ku dengar dari cerita ayah, kau telah mengalahkan si kembar Gin dan Kin" Shira menoleh pada Sasuke.

"Kau mengenal mereka?" Sakura balik nanya.

"Di daerah selatan, daerah tempatku berguru, mereka sangat terkenal sebagai penjahat besar. Beberapa bangsawan dan klan kuat di daerah sana, memburu mereka" Shira menarik nafas, "Beberapa orang terbaik dari perguruan kami telah mencoba untuk membantu dan memburu mereka. Tapi hasilnya, mereka kembali tinggal nama" nampak wajah duka di wajah tampan milik Shira.

Sakura dan Sasuke saling tatap, keduanya memang belum mau menanggapi ucapan Shira.

"Sebenarnya itu juga salah satu tugas yang di berikan padaku, dan begitu aku mendengar kalau mereka sudah menjelajahi daerah utara ini. Aku langsung menuju kemari, sekaligus mengunjungi ayahku"

"Begini Sasuke. Aku ingin meraih kehormatanku untuk mengalahkanmu yang telah mengalahkan penjahat besar itu"

"Jaga ucapanmu Shira. Kalau bukan karena bantuan Sasuke, kau pikir berapa banyak lagi gadis yang menanggung malu oleh ulah mereka. Bahkan kau juga sama sekali tidak menaruh hormat pada mereka" Itama naik pitam, "Bukan hanya para gadis itu, nyawaku juga terancam"

"Tapi ayah, banyak dari teman-temaku yang menjadi korban. Bahkan para wanitanya juga banyak yang bunuh diri karena tidak sanggup lagi menanggung malu"

"Dasar tidak tahu diri… Bukankah itu bagus, kau tidak perlu lagi repot dan mengantar nyawamu"

"Aku harus membalas mereka, tapi karena sudah di bunuh oleh Sasuke. Aku ingin meraih kehormatan itu. Atau kau takut Sasuke" Shira menatap Sasuke dengan tatapan menantang.

Sebelum Sasuke menanggapi, "Aku yang menjadi lawanmu" Sakura yang tadinya tidak peduli dengan bahasa kehormatan yang di maksudkan Shira, bagi nya konyol. Sakura menjadi tersinggung karena ia merasa kekasihnya telah di remehkan.

"Sakura, tahan!" Sasuke mencegah ulah kekasihnya itu.

"Tidak Sasu, "Suara Sakura meninggi, "aku ingin mengajarkan padanya, bahasa 'kehormatan' yang dia maksudkan adalah konyol dan kosong" kali ini Sakura tidak mau mengalah, ia tetap merasa sangat tersinggung dengan Shira.

"Maafkan dia, Nona Sakura..." Itama berusaha mendinginkan suasana panas yang di timbulkan oleh puteranya, "Dia baru mengenal beladiri, belum tahu seperti apa dunia luar".

"Aku tidak bermaksud membunuhnya" jawab Sakura ketus.

"Sakura tidak perlu! Sebaiknya kita.."

"Ku mohon Sasu. Kalau kita pergi, ia akan terus merendahkanmu. Dan aku tidak suka" Sasuke menarik nafas panjang akibat kekeras-kepalaan kekasihnya itu. Ia juga menatap mata kekasihnya dan yang ia temukan adalah kesungguhan.

Sasuke juga tidak ingin mengecewakan kekasihnya, "Baiklah hati-hati" Sasuke juga mengerti kalau apa yang di inginkan kekasihnya harus di penuhi. Dan sebenarnya, ia juga sangat tersinggung dengan tantangan dari Shira.

"Tapi tuan" Itama berusaha melerai, meski ia tidak tahu tentang taijutsu, ninjutsu atau aliran beladiri lain. Tapi ia bisa menilai kelihaian Sakura.

"Biarkan saja. Mereka juga tidak berniat saling membunuh" Sasuke menanggapi.

Sakura mendahului Shira dan yang lainnya untuk keluar.

"Tuan, mungkin mereka memang tidak berniat untuk saling membunuh. Tapi bisa saja terjadi kecelakaan" Itama malah bertambah kekhawatirannya.

"Biarkan saja mereka saling membenturkan kekeras-kepalaan mereka" Sasuke menyusul kedua orang yang akan bertarung itu.

Itama menarik nafas, ia membayangkan jika terjadi kecelakaan. Jika puteranya yang celaka, maka ia akan kehilangan putera. Tapi jika itu terjadi pada Sakura, sudah tentu Sasuke tidak akan tinggal diam. Dan itu artinya kesialan lagi bagi puteranya. Intinya, jika terjadi kecelakaan, yang pasti ia akan kehilangan puteranya.

Kini Sakura dan Shira mulai saling berhadapan.

"Bersiaplah Sakura... hiaat!" tanpa menunggu lama, teriakan Shira mengawali serangannya.

"Haaat...!"

Bettt, bettt, bettt...!

Hebat dan cepat bukan main serangan pemuda itu. Sakura terlihat agak kewalahan. Satu dua pukulan dapat dielakkan. Tapi pada pukulan berikutnya...

Wuttt..., desss...!

"Uhhh...!"

Sakura terjajar mundur beberapa langkah. Wajah cantiknya itu berkerut menahan sakit pada dada kanannya.

Ia tak menyangka kalau tindakannya yang setengah-tengah menanggapi serangan Shira, justeru, mendapat akibat yang demikian. Untunglah pukulan itu tidak terlalu telak.

Sakura memasang kuda-kuda untuk balas menyerang.

"Apakah kau ahli dalam Taijutsu Sakura?" tanya Shira.

"Semua, aku bisa" jawab Sakura singkat.

"Majulah" pinta Shira. "Jangan ragu, aku salah satu murid terbaik. Tidak hanya itu, sebentar lagi aku akan di promosikan menjadi pembimbing" imbuhnya lagi dengan nada bangga

Sakura langsung menyerang dengan tendangan putar dengan posisi tubuh sedikit miring. Serangan yang cepat itu di hindari shira dengan memiringkan tubuh, mengikuti alur tendangan Sakura. Begitu Sakura menjejakan kaki, kembali dengan cepat Sakura menyapukan kakinya menuju pelipis Shira.

Shira juga tak mau rugi, ia mengayunkan pukulannya, namun, gerakan Sakura sedikit lebih cepat. Pukulan Sakura terlebih dahulu mendarat di perutnya.

Duak!

"Uh"

Shira terjajar kebelakang lalu bersalto untuk mengembalikan keseimbangan tubuhnya.

Pertarungan kedua anak muda yang beda gender itu berlangsung cepat. Benturan lengan dan atau anggota tubuh lainnya sering terdengar.

Sementara Sasuke yang jeli menatap pertarungan kekasihnya dengan Shira. Memang dalam hal kekuatan, Sakura sedikit kalah. Tapi Sakura di untungkan dengan kelenturan tubuhnya, sehingga ia kelihatan lebih lincah dari pada Shira. Dalam hal kecepatan gerak pun Sakura lebih unggul dari Shira.

Melihat hal itu Sasuke sedikit tenang, ia yakin Sakura akan memenangkan pertarungan.

Shira memekik kaget. Saat serangan datang bagai gelombang air laut yang susul-menyusul tak pernah henti. Shira bertindak nekat. Sepasang tangannya diangkat ke atas memapaki sepasang lengan Sakura.

Dan...

Plakkk, Plakkk...!

"Uhhh...?!"

Tangkisan itu justru mendatangkan kerugian bagi Shira. Gerakannya yang tadi memapaki serangan Sakura sambil bergerak mundur membuat pertahanannya goyah.

Hal ini sangat di manfaatkan Sakura. Dengan cepat tanpa memberi waktu buat Shira. Kembali Sakura menerjang sambil memutar tubuh melayangkan tendangan. Sebagai ahli taijutsu, Shira tentu masih bisa mengelak dari serangan Sakura yang seperti itu. Karena meleset, maka Sakura mendaratkan kaki dalam posisi membelakangi Shira.

Hal itu sangat di manfaatkan betul oleh Shira, maka ia segera melayangkan pukulannya mengarah ke tengkuk Sakura. Tapi sebenarnya itu sudah di perhitungkan Sakura. Begitu kaki Sakura mendarat dan mendapat serangan Shira. Sakura tinggal memiringkan tubuh dan membirakan pukulan Shira meleset. Dan dengan sigap tangan Sakura menangkap tangan Shira sambil menyodokan sikunya berkali-kali ke perut Shira.

Bukkk...! bukh!

"Aiiih...!"

Sekali lagi Shira terhuyung.

Tidak sampai di situ Sakura melanjutkan serangannya, ia kembali melayangkan tendangannya.

Plak!

Bisa di katakan hebat, dalam keadaan hilang keseimbangan, Shira berhasil menahan serangan susulan Sakura

Begitu Shira berhasil memapaki serangan Sakura, ia segera memperkuat pijakan kakinya sehingga kuda-kudanya kembali stabil.

"Haaat...!"

Bettt...!

Giliran Shira melepaskan sebuah pukulan keras. Cepat Sakura menundukkan kepala. Kemudian menggeser kaki kanannya ke belakang. Dan mengirimkan sikunya ke iga kiri Shira.

Duggg!

"Hikh...!"

Sakura menyusul dengan serangan, ia melayangkan pukulan kanan dan shira masih sempat menahan dengan mengangkat sikut.

Dess!

Sakura kembali melakukan serangan bertubi, saat Shira menahan serangan pertamanya. Sakura menyusul pukulannya bertubi, Shira yang sudah terdesak cuma bisa menahan dan melindungi wajahnya denga sikut.

Sakura melompat dan mengarahkan sikutnya pada Shira.

Buak!

Shira terjajar limbung dan jatuh berlutut karena kehilangan keseimbangan. Melihat Shira sudah limbung, Sakura menyusul tendangannya tepat mengenai dada Shira.

Shira tidak bisa lagi bertahan ia jatuh terlentang dengan wajah meringis menahan sakit. Saat itu Sakura melenting ke udara. Dari atas, tubuh Sakura meluncur turun mengarahkan lututnya, yang kemungkinan akan mengenai dan meremukkan dada Shira. Shira sudah tidak sempat lagi menghindar. Dan...

Bettt, desss...!

"Aaakh...!"

Itama lah yang menjerit tertahan,ia bisa saksikan serangan seperti itu bisa meremukan dada puteranya.

"Cukup Sakura. Dia akan mati jika seranganmu ini mengenai dirinya" Suara Sasuke tiba-tiba muncul dan menahan serangan lutut Sakura yang hampir mendarat di dada Shira dengan satu tangan.

Sementara Shira yang tadi sempat memejamkan mata. Ia juga memastikan serangan dari udara yang akan menghantam dadanya bisa membuat nyawanya melayang.

Shira kaget setelah ia tahu siapa penolongnya. Ia sungguh tidak habis pikir, secepat apa gerakan Sasuke sampai masih sempat menyelamatkan dan menahan serangan Sakura. padahal kalau di pikir itu tidak akan sempat di lakukan, mengingat tempat Sasuke yang tadi cuma menonton, cukup jauh.

Tidak hanya itu, serangan Sakura yang begitu kuat, hanya di tahan dengan satu tangan. Shira makin tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kecepatan dan kekuatan, terpadu pada diri Sasuke.

"Bagaimana Shira" Sasuke mengalihkan pandangannya pada Shira yang sudah berdiri.

"Hhh.. ternyata aku harus banyak belajar" jawab Shira.

Sakura mendecih, "Kalau tadi kekasihku tidak menahan seranganku, kau pasti sudah mati. Dasar tidak tahu terimakasih" suara Sakura menggerutu.

"Oh.. terima kasih, Sasuke" ucapan yang terdengar tidak ikhlas itu membuat Sakura makin jengkel.

"Bukan masalah. Aku lah yang minta maaf atas sikap kekasihku" balas Sasuke.

"Iya.. sebaiknya kita istrahat sekarang" ucap Shira mendahului Sasuke dan Sakura.

Makin jengkellah Sakura, seolah-olah kalau ia dan Sasuke memang bersalah. Padahal Shira lah yang memulai.

"Sakura" panggil Sasuke sambil menoleh pada Sakura.

"Aku tidak mau minta maaf" jawab Sakura ketus.

"Kau ingin ku cium di hadapan mereka" goda Sasuke.

"Bahkan jika kau ingin meniduriku, lakukan saja!" jawab Sakura makin ketus.

Sasuke menarik nafas, kali ini Sakura benar-benar jengkel. Biasanya jika di goda seperti tadi, Sakura akan diam dan merona. Tapi kali ini tidak mempan. Sasuke mengerti. Sasuke segera menggandeng tangan Sakura sambil tersenyum pada Sakura, dan kemudian menyusul Shira.

Awalnya Shira sangat tertarik pada Sakura, tapi melihat hubungannya dengan Sasuke, membuat Shira beralih pada Sen. Lagi pula kalau ingin memiliki Sakura, mungkin ia harus bertarung dengan Sasuke. Masalahnya, bertarung dengan Sakura saja ia sudah takluk, apa lagi jika bertarung dengan Sasuke.

Shira juga yakin kalau Sen bukanlah kekasih Sasuke, mengingat Sakura yang sedikit galak, mana mau Sakura di duakan. Dan memang tidak ada satupun wanita di dunia ini yang mau di duakan.

Di satu malam, bahkan Shira berani meminta Sen agar ikut bersamanya setelah tahu siapa Sen dan Fu yang sebenarnya. Ia sama sekali tidak keberatan dengan masa lalu Sen. Awalnya Sen ragu, tapi melihat kesungguhan Shira, maka Sen pun mengiyakan.

...

-SSS-

...

Pagi hari berikutnya Sasuke dan Sakura memohon pamit, untuk melanjutkan perjalanan.

"Sekali lagi terima kasih kami ucapkan anak muda" ujar pemilik kedai bernama Itama. "Kalau bukan karena kalian, mungkin akan makin banyak saja yang akan menjadi korban kebengisan mereka"

"Selama dua hari mereka datang menebar teror, tampaknya mereka sangat eerrrm gila dalam sex. Mereka selalu datang dan menculik gadis-gadis. Apa lagi di desa kami ini bisa di katakan banyak gadis-gadis muda dan cantik. Tidak ada di antara kami yang mampu menghalangi. Para pemuda yang memiliki kepandaian pun kalah dalam sekali gebrak" Itama mengimbuhkan

"Bukan apa-apa Itama-san" kali ini Sakura yang menyahut sementara Sasuke cuma mengangguk.

"Bagaimana dengan korban Gin dan Kin. Apakah mereka sudah di temukan" Sasuke yang bertanya.

"Masih dalam pencarian, dan belum ada yang di kabarkan sudah di temukan"

"Sudah berapa yang menjadi korban mereka?" Sakura bertanya.

"Sekitar enam mungkin. Dan tidak ada yang mengetahui nasib para gadis itu. Mungkin keparat itu sudah membunuh korbannya setelah puas"

"Mungkin tidak. Mereka tidak membunuh para korbannya" Sakura menjawab.

"Dari mana Nona Sakura tahu?"

Sakura diam, ia sedikit melirik pada Sen dan Fu. Sakura bisa menilai dengan berdasar pada kedua gadis itu, bukankah mereka tidak sampai di bunuh oleh Gin dan Kin.

"Seperti yang anda bilang tadi, mereka gila. Tentu saja mereka senang, ketika tahu korbannya menderita. Membunuh korban justeru akan mengakhiri penderitaan bukan?" Sakura kembali menyahut mendahului Sasuke.

"Begitu yah" mungkin cukup masuk akal bagi Itama.

"Oh ya, mungkin kalian sudah ingin sekali berangkat. Maaf mengganggu kalian. Sekali lagi aku mewakili yang lain dan mengucapkan terima kasih pada kalian"

Sebenarnya Sen masih ingin mengikuti kemana Sasuke pergi, tapi sebagai seorang wanita, ia juga merasa tidak enak pada Sakura karena kehadirannya dan adiknya di antara Sasuke dan Sakura pasti sedikit mengganggu. Sen juga tahu kalau Sakura sering cemburu padanya, ketika ia berusaha mendekati Sasuke. Maka di putuskanlah untuk ikut bersama Shira sekaligus belajar beladiri Taijutsu. Lagipula ia juga sudah jatuh hati pada Shira.

"Kak Sasuke, Kak Sakura, terima kasih sudah menyelamatkan dan menjaga kami. Seperti yang Kak Sasuke pernah katakan, kami memang harus melanjutkan hidup kami, sebagai bukti kalau Sarutobi pernah ada. Sekali lagi terima kasih" ucap Sen, saat pasangan itu pamit.

Sen segera memeluk Sakura dengan hangat. Sakura tidak bisa menahan harunya, meski sering di buat cemburu, tapi biar bagaimanapun Sen dan Fu sudah di anggap sahabat. Dan kini mereka akan terpisah.

Sakura tersenyum, "Suatu saat kita akan bertemu lagi, jaga diri kalian"

"Terima kasih Kak" giliran Fu yang memang sedikit pendiam itu juga ikut berbicara.

...

-SSS-

...

Saat itu matahari sudah mulai berjalan menuju peraduannya. Cahayanya sudah tidak merata lagi menyapu bumi. Namun sinarnya yang hangat cukup menyegarkan seluruh badan.

Pria tampan berkemeja putih, berambut raven, tampak memasuki sebuah pekarangan rumah yang mewah. Langkahnya terhenti karena tiba-tiba saja seseorang telah berdiri didepannya. Lantas ia tersenyum, begitu tahu siapa yang berdiri dan menjemputnya.

"Hikari, kau dari mana" yang tadi berdiri di depan Hikari langsung memeluknya.

"Tsu...tsunade?" sedikit kelabakan dari pria yang di panggil Hikari.

"Aku menunggu kesempatan ini, bukankah tinggal kamu yang belum mendapatkan tubuhku" sahut wanita blonde cantik bernama Tsunade. Wajahnya begitu berbinar.

"Aku baru saja bergabung dengan kalian" sahut Hikari kembali tenang, nadanya kembali agak datar seperti biasanya, "Sasori, Jiraiya dan Nagato bagaimana?"

Wajah Tsunade sedikit berubah, "Sasori melulu... " Suaranya sedikit menggerutu, "Jiraiya aku hukum, Nagato begitu hormat padaku, sehingga Nagato menjadi enggan meniduriku. Dan Si kembar itu, belum kembali"

Hikari tidak banyak bertanya, termasuk hukuman jiraiya yang Tsunade maksudkan. Belum lagi Si kembar. Hikari makin menatap Tsunade, wanita yang diam-diam ia kagumi. Apakah Tsunade adalah pemuas nafsu bagi bawahannya? Benak Hikari.

"Apa lagi yang kau pikirkan! Ayo!" Tsunade segera menarik Hikari, "Kau tidak keberatan kan?"

"Uh..iya"

Hikari pun mengikuti Tsunade.

Pedang diletakkan di meja dekat ranjang. Hikari naik ke atas ranjang, duduk dengan kaki melonjor di samping tubuh Tsunade yang berbaring. Yang pertama di lakukan Hikari adalah memberi pijatan agar Tsunade lebih relaks. Jari-jari tangannya memijat dengan lembut, membuat wanita itu setengah terpejam merasakan nikmat-nya pijatan di kaki.

"Jangan telapak kaki terus, naik sedikit, Hikari!" pinta wanita itu. Hikari melakukan apa yang diinginkan wanita itu.

Tsunade semakin meresapi setiap sentuhan tangan Hikari yang mirip orang mengusap dalam kelembutan.

Pemuda tampan itu pun semakin berdebar-debar. Bertambah tinggi bagian yang dipijat, bertambah berdebar hati Hikari. Bahkan hembusan nafasnya mulai terasa tersendat-sendat tak beraturan. Hambatan pernapasan itu terjadi karena gairah Hino Hikari mulai dibakar oleh rasa hangat dari sentuhan tangan di sekitar betis Tsunade.

Mata si wanita setengah terpejam. Sesekali melirik Hikari dan memandang ke langit -langit kamar meresapi sentuhan nikmat. Rupanya wanita itu pun diguncang oleh debar-debar gairah yang menggelitik, sehingga sesekali ia terpaksa menggigit bibirnya sendiri.

"Ke atas lagi...," kali ini ucapan itu bernada merengek. Mau tak mau Hikari pun merayapkan tangannya ke atas. Padahal tangan itu berada di balik kain gaun penutup bagian bawah Tsunade. Tentu saja yang diraba adalah sebentuk kehangatan di atas kulit paha yang mulus tanpa luka. Tangan Hikari pun akhirnya bukan memijat tapi mengelus dengan lembut. Dan elusan itu diresapi betul oleh Tsunade, sehingga tangan wanita blonde dikepang itu melakukan remasan di atas seprai ranjang.

Maka kesempatan itu tak mungkin disia-siakan lagi oleh Hikari. Bibir ranum itu segera di kecupnya pelan-pelan.

Cup...!

"Hhmm...," Tsunade mendesah dalam keadaan bibirnya di lumat Hikari. ia pun kini memberi lumatan balasan. Lidahnya menelusup di antara kedua bibir Hikari. Ujung lidah itu pun segera dipagut lembut oleh Hikari sambil tangan Hikari bekerja kembali seperti semula, bahkan lebih berani lagi. Tsunade tak bisa menolak.

"Hikari, Hikari...," desahnya lirih sekali Hikari menjalarkan lidahnya ke bagian leher. Tsunade justru menengadah memberi kesempatan kepada lidah

Hikari yang nakalnya mirip lidah ular itu.

"Uuuh!... Hikari, nikmat sekali. Nikmat sekali, Sayang... oouh...," Ia pun merengek manja. Rengekan manja menambah daya rangsang Hikari dan akhirnya Tsunade tak kuasa menolak hadirnya mulut Hikari di permukaan dadanya yang montok.

Tangannya meremas rambut model pantat ayam Hikari dengan gemetar, karena pada saat itu Tsunade merasa dilambungkan.

Hikari makin tidak tahan mendengar erangan dari Tsunade, maka ia pun melepaskan semua kain yang melekat pada tubuh Tsunade dan juga pakaiannya.

Tiba-tiba wanita itu bangkit dan terduduk. Matanya menjadi sayu, wajahnya merah jambu seperti menahan malu. Tapi sebenarnya menahan gejolak kemesraan yang dituntut oleh batinnya.

"Hikari..." MataTsunade membelalak saat melihat batangan Hikari yang sudah mengacung hebat tepat didepan matanya.

Tangannya gemetaran, saat mencoba menyentuh benda yang sudah membesar.

"Aaoooh.." Hikari mendesah panjang, saat Tsunade sudah memulai membelai lembut benda kembanggaan miliknya itu.

Hikari makin tidak sabar, ia membaringkan Tsunade perlahan.

Hikari dengan batangan yang sudah mengeras, di arahkan begitu saja pada liang kenikmatan milik Tsunade.

Ssreett...! lep!

"Aaahh.." Sehingga Tsunade mendesah panjang di tikam seribu kenikmatan.

"Aoouh... Hikari… aa...!"

Mata Tsunade nyaris membelalak saat penis yang terasa sesak dalam liang vaginanya itu. Tsunade kagum dengan kekerasan milik pria yang baru datang kemarin itu.

Hikari mengocok penisnya secara perlahan selembut mungkin, agar liang rapat itu bisa beradaptasi dengan baik. Kemaluan Hikari seperti membongkar liang kewanitaan milik Tsunade.

"Ouughhh... Hikariii..."

Tsunade menggeliat sambil melingkarkan kakinya di pinggang Hikari dan membiarkan penis itu tertanam dalam-dalam. Penis itu mampu menjamah tempat yang tak mampu di jamah oleh milik Sasori maupun Jiraiya. Ujung nya mampu menekan mulut rahim milik Tsunade. Dan tak menunggu lama bagi Tsunade, Vaginanya kembali berkedut cepat, Tsunade kembali berorgasme.

Waktu terus belalu, peluh keduanya sudah membasahi tubuh.

"Aakkh..."

Kembali Tsunade mengalami kedutan di selangkangnya. Hikari benar-benar pria yang tangguh dalam berhubungan badan. Tsunade sendiri sudah tampak kewalahan.

Sementara Hikari makin mempercepat genjotannya, ia mulai kelihatan meringis. Pertanda kalau dia juga akan kembali Orgasme..

Pinggul Hikari terus bergerak cepat, scrotum miliknya membentur pantat milik Tsunade.

"Tsu.. Aaaarghh.. akh"

Sedetik kemudian Hikari juga menyusul Tsunade untuk mencapi puncak persetubuhan. Genjotannya makin di percepat lalu perlahan berkurang kecepatannya dan berhenti sama sekali.

Tsunade dan Hikari saling berpelukan.

Hikari menarik nafas lega bersamaan dengan Tsunade. Persetubuhan panjang mereka di akui oleh Tsunade adalah persetubuhan yang paling hebat yang pernah di lakukan oleh Tsunade.

Mata Tsunade menatap mata Hikari, "Hikari, Terimakasih" Hikarilah membuat Tsunade mengucapkan terima kasih pada pria yang menidurinya. Bahkan pada kekasih pertamanya Dan Kato pun, tidak pernah ia ucapkan.

Tsunade memeluk erat Hikari. Ia sudah mulai merasa tidak ingin kehilangan pria itu.

Hikari membelai perlahan rambut pirang itu dengan lembut. Mendapat perlakuan demikian, membuat Tsunade merasa semakin nyaman. Perlahan matanya terpejam.

...

Hikari menatap wajah cantik Tsunade yang sedang tertidur pulas. Ia tersenyum, meski dalam tidurnya yang terlena, tapi Hikari masih bisa melihat raut kepuasan dan kelegaan di wajah Tsunade.

Hikari menarik nafas panjang, wanita itu benar-benar hebat bercinta.

Hikari bangun dari tidurnya dan keluar hendak mencari angin, ia ingin meyegarkan tubuh akibat dari permainan panasnya tadi. Mereka melakukan persetubuhan cukup lama, dari sore sampai sekarang sudah menjelang malam.

Hikari kaget, ketika membuka pintu, di depannya kini berdiri sosok pria tinggi berbadan kurus berambut merah.

"Nagato... malam-malam begini kenapa kau belum tidur?" Hikari mengernyitkan dahi begitu tahu siapa yang berdiri dan sepertinya menanti dirinya di depan pintu.

"Boleh, kita bicara?"

Hikari mengangguk, ia belum mengantuk, jadi tidak ada salahnya jika ia menemani Nagato mengobrol.

Nagato segera mengambil tempat duduk di teras depan, sambil menatap kedepan, "Aku lihat, Tsunade menyukaimu, ah! Tidak, maksudku dia mencintaimu"

Hikari mulai duduk di samping Nagato. Sama seperti Nagato, pria menawan itu menatap lurus kedepan.

"Kenapa kau menanyakan hal itu?"

"Aku hanya senang jika kau membalas perasaan Tsunade. Jadi yang aku tanyakan sekarang, bagaimana denganmu? Apakah kau juga sama seperti Sasori dan yang lain, yang hanya ingin menikmati tubuh Tsunade? Meski aku bisa melihat kalau Sasori juga sedikit menyukai Tsunade. Tapi itu sama sekali tidak di anggap" Nagato mengalihkan pandangannya pada Hikari.

"Kau yakin, kalau Tsunade suka padaku" Hikari balik bertanya.

"Aku bisa melihat dari sikapnya dan cara dia memandangmu"

"Menurutku, sikapnya padaku sama saja pada yang lain" jawab Hikari datar.

"Aku tidak terlalu tahu latar belakang Tsunade, tapi sejak pertama kali ia menemukanku dan mempekerjakanku. Aku selalu melihat dia di rundung kedukaan. Tapi sejak kedatanganmu, aku melihat kemurungannya sudah berkurang. Dan mungkin sekarang sudah tidak ada, dan aku senang karena hal tersebut"

Hikari menarik nafas, "Jujur aku juga menyukainya. Dan jika kau tanyakan alasan kenapa, maka jawabku, tidak tahu. Aku cukup menyukainya"

Nagato tersenyum menatap Hikari.

"Kau memang baru datang kemarin, tapi ku harap kau tidak mempermainkan Tsunade. Tapi aku percaya padamu dan mendukungmu"

"Tapi.. bagaimana dengan.."

"Bicarakanlah dengan Tsunade" Nagato memotong ucapan Hikari, "Kalau kau tidak ingin yang lain meniduri Tsunade, lagi pula dia adalah atasan kita, dia bisa melarang yang lain untuk menyentuhnya. Lalu kau juga cukup kuat untuk menghajar yang lain jika ada yang keras kepala tetap ingin meniduri Tsunade. Dan aku pun akan membantumu"

Hikari mengangguk meyetujui. Sekali lagi Nagato tersenyum.

"Ku dengar, kau sangat menghormati Tsunade. Bahkan kaulah satu-satunya yang belum pernah meniduri Tsunade, kenapa?"

"Bukan menghormati, lebih tepatnya menyayangi. Aku sebenarnya datang dari selatan, mencari orang-orang yang menyebabkan kesengsaraan bagiku. Hingga akhirnya aku bertemu Tsunade. Kau tahu, aku memiliki seorang adik, dan aku begitu menyayanginya, kami begitu dekat. Aku kehilangan keluargaku karena di bantai oleh sekelompok pemusik jalanan, yang di bawahi oleh seorang bajingan. Dan alasanku menyayangi Tsunade adalah karena aku melihat sosok adikku, ada pada dirinya"

"Begitu ya.. aku mengerti kenapa kau sangat tidak menyukai Jiraiya yang sering berkata senonoh padanya"

"Iya.. Bahkan aku juga tidak menyukai, para pria yang menidurinya sebagai pelampiasan. Tapi aku sadar dia bukan adikku"

"Menurutmu kenapa ia begitu menginginkan kematian gadis yang bernama Sakura itu. Apakah ia penyebabTsunade dirundung kedukaan? Kalau benar, apa?" tanya Hikari kemudian.

Nagato menghembuskan nafas, "Dugaanku juga begitu. Kenapa tidak kau coba tanyakan"

"Hn", Hikari tersenyum sambil memejamkan mata, ia perlahan berbaring, "Kalau ucapanmu tadi semua benar, aku akan berusaha membahagiakan dia"

"Terima kasih, Hikari. Nama yang Tsunade berikan padamu cukup bagus. Dan jika kau benar-benar amnesia, kuharap ingatanmu tidak pernah kembali"

Hikari tertawa. "Ingatanku dan perasaanku tidak ada hubungannya. Kalaupun ingatanku kembali, aku yakin aku akan tetap mencintai Tsunade"

Tanpa mereka ketahui, sepasang mata berbulu lentik sedang mengawasi mereka. Dan nampak kalau air mata itu mengalir.

...

...

...

Hari bisa dikatakan masih pagi, matahari yang baru melakukan seperempat perjalanan, memancarkan sinar hangat.

Pemuda Hikari masih duduk dengan santai sambil mengamati pedangnya. Lalu ia mengambil sebuah batu asahan dan mengasah pedangnya yang sepertinya sudah kelihatan tumpul baginya.

Hikari menoleh ketika dia mendengar adanya suara langkah kaki yang mendekat. Setelah tahu siapa yang mendekatinya, ia pun melanjutkan pekerjaannya.

"Kau tahu, kemana perginya Nagato?" tanya sosok yang tadi mendekat, dia Tsunade.

Hikari mengangkat kepala dan tersenyum melihat Tsunade duduk sambil meregangkan tubuhnya yang kelihatan keletihan.

"Tadi pagi-pagi dia pamit, dia bilang dia ingin melakukan sesuatu" jawab Hikari kembali pokus pada pekerjaannya.

"Hikari" panggil Tsunade setelah agak lama terdiam, "Mengenai obrolan kalian semalam, apakah kau benar-benar serius dengan ucapanmu?"

Hikari menghentikan pekerjaannya ia menatap sosok cantik berdada besar didepannya, "Kau dengar" ucapnya datar.

Tsunade mengangguk perlahan.

Hikari menarik nafas, "Aku bersungguh-sungguh dengan apa yang kukatakan semalam. Dan kuharap kau juga tidak menanyakan kenapa. Karena jawabanku hanya satu, aku mencintaimu"

Perasaan Tsunade menghangat mendengar ucapan Hikari, setitik cairan bening keluar dari sudut matanya.

"Hikari" suaranya terdengar agak parau, "Kau tidak akan meninggalkanku, kan"

"Kau tidak mempercayaiku?"

"Tentu saja aku percaya, tapi..."

"Aku tidak butuh kata 'tapi', Katakan 'iya'..."

"Eh!.. kau memaksa? tentu saja iya" jawab Tsunade menundukan kepala. Ini pertama kalinya ia merasakan debaran jantungnya bedegup kencang.

"Tsunade, satu lagi, aku tidak ingin kau melayani pria lain, selain aku"

Mata Tsunade membulat, "Kau egois juga" ia tersenyum senang, karena ada nada cemburu dari ucapan Hikari. Dan setidaknya, itulah sedikit bukti cinta dari Hikari.

"Karena aku mencintaimu, dan aku tidak suka berbagi"

Tsunade tertawa, "Dasar bodoh, aku sudah menjadi milikmu"

"Uh..hmm.. Istrahatlah, kau kelihatan masih lelah. Atau... kau mau lagi.." seringai Hikari di tunjukan pada Tsunade.

Tsunade menghentikan tawanya, mukanya bersemu merah, "Kau mesum..."

"Kau yang mengajariku" ujar Hikari mendekat ada Tsunade.

"Hikari, apa yang kau lakukan" Tsunade malah kelabakan.

"Tadi aku memintamu untuk istrahat, tapi karena kau belum beranjak dari sini, ku rasa kau mau..." perlahan tangan Hikari merayapi kaki menuju paha Tsunade.

"Hikari.. tubuhku masih pegal.. aaaah..." Tangan Hikari sudah sampai pada bagian intimnya. Hikari tersenyum melihat Tsunade yang mulai memejamkan dan sedikit menggeliat.

"Kau memang sudah siap. Buktinya kau tidak memakai celana dalam" tangan Hikari makin iseng bermain keluar masuk menusuk-nusuk lubang peranakan Tsunade.

Tsunade makin memerah dengan godaan Hikari, malahan pahanya makin di buka makin melebar. Sementara tangan Hikari yang lain sudah mulai bermain-main.

Tsunade jadi terpaku melihat Hikari sudah membebaskan miliknya.

"Hikari jangan lakukan di sini" Nafas Tsunade memburu, menandakan birahinya juga sudah bangkit, apa lagi melihat benda yang telah memuaskan 'dahaga'nya. "Nanti ada yang lihat"

"Aku melakukan dengan kekasihku, biar saja..."

"Tapi... aaaakhh!" Tsunade mendesak panjang sambil mendongakan kepala ketika Hikari sudah memasuki liangnya yang sudah basah akibat permainan tangan Hikari sebelumnya.

Tsunade hanya bisa mendesah, Hikari menggerakan pinggulnya, bahkan sesekali terdengar jeritan kecil, ketika Hikari mengantarnya menuju puncak orgasmenya.

...

...

...

TO BE CONTINUE