Si Gendut Lincah
...
...
...
Sasori dan Jiraiya berjalan beriringan, mereka memang sedang menjalankan tugas mereka memburu Sakura. Dan mereka menjalankan misi secara terpisah, sesuai kesepakatan mereka. Tapi tanpa sengaja mereka malah bertemu di sebuah kedai makan. Dan akhirnya pun mereka sepakat untuk kembali, karena di kedai itu mereka mendapat kabar penting.
"Wajahmu kelihatan kesal sekali, Sasori" Jiraiya dengan nada menggoda pada rekannya itu.
Sasori Cuma menatap sekilas pada Jiraiya.
"Aha,, aku tahu, kau pasti kesal karena tidak mendapat selangkang nya Tsunade lagi karena kehadiran Hikari" Jiraiya menertawakan Sasori.
Mendapat ucapan bernada ejekan dari Jiraiya membuat Sasori makin kesal.
"Kan sudah kubilang, kita akan membunuh Sakura, setelah itu kita menyingkirkan Hikari. Mudah kan?"
Sasori masih diam seribu bahasa. Dan membiarkan Jiraiya mengoceh.
"Atau kau ingin menyingkirkan, maksudku membunuh Hikari. Kalau aku, aku tidak akan melakukan itu" Jiraiya seperti tidak berhenti mengoceh sambil menggoda Sasori
"Jangan pasang wajah seperti itu, kawan. Aku juga sudah beberapa hari tidak mendapat jatah dari Tsunade. Tapi bagiku tidak ada masalah, para maidnya juga hebat seperti Tsunade"
Sepanjang perjalanan mereka kembali menemui Tsunade. Obrolan lebih di dominasi oleh Jiraiya. Bahkan Sasori tidak pernah bersuara atau menanggapi ocehan Jiraiya.
...
-SSS-
...
Sesekali Tsunade menyeruput teh hangatnya, untuk menghilangkan rasa kantuknya. Persetubuhan semalam dengan Hikari menyisakan keletihan.
Tsunade memilih untuk berbaring istrahat, meski ia baru saja bangun dari tidur, tapi rasa kantuknya menuntun kembali untuk memejamkan mata. Perlahan ia membayangkan, Pemuda itu selalu meminta persetubuhan setiap malamnya, ia tersenyum, dan membayangkan kalau malam-malam kedepan, ia akan melakukan persetubuhan hebat dengan pria pujaannya.
Tsunade juga mulai mengingat-ingat persetubuhannya dengan pria lain selain Hikari dan mulai membandingkan. Dengan pria lain, hasrat Tsunade mungkin tersalur tapi tidak pernah puas. Sangat berbeda dengan Hikari, tidak hanya hasratnya yang tersalur tapi ia juga sangat puas.
Tok! Tok! Tok!
Tidur Tsunade yang hampir terlelap, terganggu oleh suara ketukan. Dengan sedikit malas ia bangun dan menuju pintu.
Tsunade mendesah panjang setelah ia membuka pintu. Ia nampak malas-malasan melihat siapa yang berdiri di depan pintunya.
Sementara ketiga orang yang berdiri di depan pintu sedikit terperanjat melihat penampilan Tsunade. Biasanya wanita itu sudah tampil rapi, tapi kali ini mereka menemukan wanita itu masih dalam keadaan kusut menunjukan wajah keletihan.
"Kalau ada yang ingin kalian bicarakan, kalian menungguku di tempat pertemuan seperti biasa" tanpa menunggu jawaban dari ketiga pria yang ada di depannya. Tsunade segera menutup pintu.
Setelah merapikan diri, Tsunade datang menemui ketiga pria yang tadi menemuinya."Secepat ini kalian kembali, ku harap kalian membawa berita baik" Tsunade mulai pembicaraan.
Begitu ia di datangi oleh Sasori dan Jiraiya. Ia pun memanggil Hikari dan Nagato.
"Tampaknya kau begitu puas menghadapi Hikari, atau kau justeru kewalahan. Aku bisa lihat, kau begitu kelelahan" Jiraiya dengan cengirannya menatap Tsunade.
"Berhentilah membicarakan yang tidak berguna" seru Tsunade merasa jengah dengan ucapan Jiraiya.
Jiraiya tertawa, untuk kali pertama, ia menyaksikan Tsunade dengan pipi merona merah. Beda dengan Sasori, ia malah menatap tajam bertendensi benci pada pemuda Hikari.
Nagato diam menatap Sasori dan Hikari bergantian. Ia bisa mengerti tentang Sasori. Tapi ia jauh lebih menghargai keinginan Tsunade yang lebih memilih Hikari.
"Iya.. Aku dan Sasori tidak sengaja bertemu di kedai makan. Dan kami mendengar berita, kalau beberapa hari yang lalu ada dua kembar yang mendatangi dan membuat kekacauan dengan menculik para gadis" Jiraiya mulai menerangkan maksud mereka kembali.
"Jika menurut keterangan penduduk, si kembar itu mungkin adalah Gin dan Kin" Jiraiya melanjutkan.
Tsunade menghembus nafas, "Hanya itu? Aku tidak peduli dengan kematian Si Kembar Bengis dari daerah selatan itu"
"Yah! Hanya sekedar memberitahumu. Kalau pembunuh kedua pria itu adalah kawan dari Sakura, Ah bukan, lebih tepatnya kekasih dari Sakura" lanjut Jiraiya. Bahkan terkesan bermasa bodoh.
Mata Tsunade membulat, "Lalu kenapa kalian tidak mengejarnya?"
"Mengejar Sakura perkara gampang, tapi kami mau memastikan sesuatu. Dan jika kami memberitahumu sekarang, sudah pasti kau tidak akan percaya, maka dari itu, aku akan membuktikan sesuatu padamu" Sasori akhirnya buka suara, tapi tatapan tajamnya tetap mengarah pada Hikari.
"Apa itu?"
"Sudah kubilang, aku akan mengatakan padamu kalau aku sudah menemukan bukti" sahut Sasori. Ia menatap sekilas pada Tsunade, setelahnya tatapannya kembali pada Hikari.
"Yah, terserahlah" jawab Tsunade mengabaikan kenapa Sasori selalu menatap tajam pada Hikari.
"Tsunade, apakah hukumanku sudah kau cabut?" seringai Jiraiya pada Tsunade.
"Tidak!" jawab Tsunade ketus.
Mendengar jawaban Tsunade, sangat jelas membuat Jiraiya begitu kecewa. Kalau ingin menuruti kehendak hati. Ia ingin memaksakan keinginannya. Tapi kini di sekitarnya masih ada Hikari dan Nagato. Dan Jiraiya yakin, kalau kedua pemuda itu tidak akan membiarkan.
"Aku tidak akan melayani kalian lagi atau siapa pun, kecuali Hikari" lanjut Tsunade, berdiri dan meninggalkan yang lain.
Tiba-tiba langkah Tsunade berhenti. Tsunade sendiri sudah berusaha mencoba menganngkat kakinya. Tapi masih tidak bisa, ia merasa seluruh tubuhnya telah terkunci.
Hikari jeli melihat ada keganjalan pada Tsunade, dan ia sudah tahu siapa dalangnya.
"Bebaskan dia" Hikari tiba-tiba muncul di belakang Sasori. Pedangnya yang di selimuti api hitam sudah siap menembus punggungnya.
"Sudah kuduga, kau akan seperti ini" Sasori malah tertawa, "Tusukanlah pedangmu jika kau bisa"
Hikari yang tidak main-main mencoba menusukan pedangnya tapi gagal. Ternyata ia juga sudah terikat string gaib milik Sasori untuk mengendalikan tubuhnya seperti boneka. Keinginan Hikari seperti tidak di ikuti oleh tubuhnya.
"Bagaimana jika kau sendiri yang menikam tubuhmu" ujar Sasori lagi.
Mata Hikari membulat, ia tidak bisa mengendalikan lagi tangannya yang memegang pedang. Tangannya sendiri justeru mengarahkan pedang ke perutnya.
"Sasori, hentikan!" bentak Tsunade, di wajahnya tampak kekhawatiran.
"Kalau begitu layani aku"
"Brengsek!" Hikari menggeram. Tapi ia sudah tidak bisa berbuat satupun.
Jreeng!
Suara dawai kecapi Nagato di petik bersamaan.
Serangan tidak terlihat menuju Sasori.
Sasori terpaksa menghindar dengan berguling. String gaib Sasori lepas. Tapi hal itu membuat Hikari bebas maka...
Crass!
Pedang Hikari telah merobek bahunya. beruntung bagi Sasori, ia masih sempat menghindar, sehingga ia bisa lolos dari maut.
Kesempatan bagi Sasori, ia segera mennjauh dari tempatnya.
Slatchs!
Hikari mengejar dengan menggunakan gerak kilatnya. Dan hasilnya mata Sasori membelalak ketika pedang Hikari telah berada tepat di depan lehernya.
"Sayangnya Tsunade masih membutuhkan tenagamu. Kalau tidak, kau pikir pedangku ini tidak bisa menembus lehermu" sorot mata Hikari tajam menatap Sasori.
"Jangan coba-coba mengendalikan tubuhku lagi" ulang Hikari karena ia tahu Sasori akan mengendalikan tubuhnya, "Permainanmu sangat murahan, dan aku tahu cara mengatasinya. Atau kau mau coba, dengan resiko kau kehilangan nyawamu" tantang Hikari.
Mata Sasori melihat tatapan mata Hikari menjadi sayu. Entah takut atau tidak, yang pasti, Sasori menunjukan sikap kalau ia menyerah.
"Sasori!" Tsunade yang merasa sudah bisa mengendalikan tubuhnya, "Tugasmu sudah selesai. Kau akan kubayar atas kerjamu"
"Dengar, aku dan Tsunade sudah menjadi pasangan kekasih. Jika kau berani menyentuh dia lagi. Kau akan ku bunuh" Sasori masih diam dengan menghadapi tatapan tajam dari Hikari.
"Sekarang kau hanya memiliki dua pilihan. Kau tetap disini dan patuhi Tsunade tanpa menyentuhnya. Atau kau boleh pergi dan aku akan membunuhmu" Ancam Hikari sekali lagi.
"Aku akan menangkap Sakura dan aku menagih janjimu" ujar Sasori sambil melenggang pergi, "Dan jika saat itu tiba, jauhi Hikari, dan kau jadi milikku".
Tsunade tertohok mendengar ucapan Sasori. Sebenarnya ia ingin meminta agar perburuan terhadap Sakura di hentikan, tapi semua sudah terlanjur. Ia sudah tidak bisa menghentikan permainan yang ia buat.
"Kenapa kau masih ingin memaksa kehendakmu" tanya Tsunade pada Sasori sebelum menghilang di balik pintu.
"Sudah ku bilang" Sasori menatap tajam Hikari, "Aku akan menunjukan padamu kalau pilihanmu salah, dan pada saat itu kau akan menyesal" Sasori sudah menghilang di balik pintu.
Jiraiya malah tertawa terbahak-bahak, "Sangat mengagumkan, ternyata pola cinta dan kegilaan sama"
Orang yang masih tersisa di ruang itu, sontak menatap kesal pada Jiraiya. Sementara Jiraiya langsung menghentikan tawanya, "Maid-mu yang lain di mana, aku akan menemui mereka" jiraiya buru-buru meninggalkan tempatnya.
Chouji yang dari tadi diam di tempatnya, kini mulai berdiri. "Ingat janjimu, kau harus memberiku makan yang banyak".
Yang lain menjadi cengo, di tengah ketegangan barusan, Chouji justeru masih memikirkan makanan. Dan untuk yang satu ini bukanlah masalah bagi Tsunade.
...
-SSS-
...
Sepasang muda-mudi baru saja melintasi sebuah pedesaan setelah mereka singgah dan istirahat di sebuah kedai. Keduanya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan tanpa menginap di desa tersebut.
Keduanya tidak pernah berhenti bercanda ria, berpelukan saling mengecup, dan usai saling memberikan kecupan keduanya melanjutkan langkah.
Apa yang terjadi pada pasangan itu, tak lepas dari pengamatan seorang pria gendut. Pria gendut itu memang sudah mengawasi mereka sejak di kedai tempat mereka singgah sebelumnya.
"Sakura!" suara berat terdengar mengunyah penuh makanan, terdengar dari belakang mereka.
Kedua pasangan itu segera menoleh, keduanya menautkan alis menatap si pemanggil tadi. Pria gemuk membawa buntalan di belakangnya. Sebuah golok tersampir di pinggang.
"Sakura kau mengenal dia?" Sakura cuma menggeleng. Tatapannya tetap di tujukan pada pria gendut yang sedang mengunyah makanan.
"Aku tidak mengenalmu, atau kita pernah bertemu sebelumnya?" Sakura bertanya.
"Tidak pernah, namaku Chouji. Dan aku di perintahkan untuk membunuhmu", Chouji menatap pada Sasuke, "Hey,, Hikari, kenapa kau malah bersamanya? Bukan membunuhnya"
Sasuke dan Sakura lagi-lagi saling tatap. Keduanya bingung, kenapa si gendut atau chouji itu ingin membunuh Sakura. Dan siapa pula yang di panggil Hikari. Yang kini ada dalam pikiran mereka berdua adalah, pria gendut ini aneh atau gila.
"Sudahlah, aku ingin membunuh si jalang itu" Chouji yang memang suka bermasa bodoh, tidak mengambil pusing dengan keberadaan Sasuke yang ia sangka Hikari.
Sasuke menatap wajah Sakura. Kelihatan sekali kalau kekasihnya itu sangat tersinggung dengan ucapan si gendut di depannya. Dan Sasuke bisa mengerti dengan ketersinggungan Sakura. Memang, wanita manapun jika di katai jalang, sudah pasti akan meradang.
"Kurang ajar kau gendut! Tukang makan, tidak berotak" Sakura memaki-maki, kekesalannya di keluarkan juga.
"Apa kau bilang?" Chouji akhirnya marah juga.
"Hiaaat..!"
Sakura yang terlebih dahulu menyerang, sosok tubuh mungil Sakura, langsung mengibaskan pukulannya.
Chouji memapaki serangan Sakura dengan tangannya juga.
Plak!
Meski demikian, sambaran anginnya terasa sangat kuat, Chouji agak kaget juga. Chouji pun membalas.
Bettt..!
Cengkeraman tangan kanan lelaki gemuk itu meluncur ke arah kepala Sakura. Dari angin pukulan yang ditumbulkannya, rasanya sambaran itu mampu menghancurkan sebongkah batu karang. Serangan itu sangat berbahaya.
"Haiiit..!"
Sakura agak keget juga, ia pikir gerakan manusia gendut lamban, tapi ternyata tidak berlaku bagi lawannya ini. Meski demikian, Tangan kirinya segera diangkat untuk memapaki seperti hendak mengukur kekuatan lawan. Sehingga...
Dukkk!
Sakura tersentak ketika merasakan lengan yang di kiranya lembek penuh lemak itu ternyata kuat dan keras. Untung ia tidak gegabah dan mengerahkan seluruh tenaganya. Kalau tidak, kuda-kudanya pasti akan tergempur.
"Heaaah...!"
Tangkisan itu masih disusul Sakura dengan sebuah hantaman telapak tangan kanannya ke tubuh lawan.
Buggg!
Tanpa ampun lagi, tubuh gendut itu terjengkang dan terjajar ke belakang. Kendati demikian, tidak sedikit pun terdengar keluhan dari mulut lawan. Bahkan begitu jatuh, lelaki gendut itu langsung bergerak bangkit. Seolah pukulan telapak tangan Sakura tidak berarti apa-apa baginya.
"Hebat..!" desis Sasuke kagum melihat lawan Sakura kembali siap bertarung.
Sasuke sudah tahu kemampuan Sakura, tapi melihat pria gendut yang cepat, ia tahu Sakura bisa menang. Mungkin agak kesusahan.
Di tambah lagi dengan kekahawatirannya pada Sakura. Sasuke pun mulai memegang gagang pedangnya. Ia memang tidak ingin menyinggung Sakura dengan ikut membantu. Tapi ia siap jika Sakura dalam bahaya.
Lelaki gendut itu tampaknya mulai sadar akan ketangguhan Sakura. Gerakannya segera diubah. Kali ini langkahnya lebih cepat. Demikian pula dengan sepasang lengannya. Dengan tetap membentuk cakar, jari-jari tangan lelaki tambun itu digerakkan susul-menyusul dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Bettt, bettt! .
Sakura berkelit ke kiri dan kanan dengan menggunakan kelincahan tubuhnya. Sehingga, serangan lawan selalu mengenai tempat kosong. Kemudian melontarkan serangan balasan dengan tenaga tinggi. Pertahanan lawan yang sangat lemah, membuat dua pukulan Sakura telak bersarang di tubuh lelaki tambun itu.
"Hahhh?!"
Chouji cukup kaget juga, ternyata gadis mungil itu juga memiliki kecepatan dan kekuatan yang bisa mengimbangi dirinya.
Merasa sedikit di atas angin, Sakura mulai melontarkan ejekan dengan sebutan gendut.
Sebenarnya ini adalah strategi dari Sakura, ia tahu, jika lawan bertarung dan di landa amarah. Pasti serangannya tidak beraturan, dan mudah di patahkan.
"Bangsat! Rasakan pembalasanku...!" teriak Chouji makin kesal dengan ejekan Sakura. Sehingga kemarahannya kian meluap-luap. Kemudian, tubuhnya langsung melompat disertai sambaran goloknya.
Wuuut...!
Terdengar suara mendesing tajam ketika golok di tangan lelaki gemuk itu membabat dengan kecepatan tinggi.
Belum lagi sambaran pedang itu tiba, sebilah pedang pendek milik Sakura menghadang
Trang!
Serangan Chouji tidak berhenti hanya karena Sakura berhasil memapaki serangan pertamanya.
Wuuut..! Wuuut...!
Golok yang tergenggam di tangan Chouji bergulung-gulung membentuk bulatan-bulatan. Melihat dari gerakannya, jelas kalau Chouji memiliki kepandaian bermain pedang yang tinggi.
Tranggg... Tranggg!
Terdengar benturan nyaring yang disertai pijaran bunga api ketika golok milik Chouji dan pedang pendek di tangan Sakura bertumbukan sebanyak dua kali.
"Uhhh...!"
Dari gebrakan pertama menggunakan pedang, jelas terlihat kalau tenaga keduanya berimbang. Ternyata kenyataan ini membuat kedua belah pihak sama-sama terkejut. Sehingga untuk beberapa saat lamanya mereka hanya saling pandang penuh selidik.
Tapi ketegangan itu tidak berlangsung lama, karena Sakura telah melompat disertai teriakan lantang dan mengejutkan.
"Haaat..!"
Wunggg... Wunggg..!
Gerakan yang dilancarkan Sakura lebih hebat lagi. Putaran pedangnya yang bergulung-gulung bagaikan
angin puting beliung, bergerak turun naik dengan kecepatan menggetarkan. Sehingga, lelaki gendut itu sempat menjadi gugup dibuatnya.
"Haaat..!"
Chouji menjadi geram sekali. Cepat pedangnya diputar pada saat senjata lawan hampir menyentuh bagian lambungnya.
Tranggg... Tranggg...!
Bunga api berpijar menandakan kerasnya bentura dua batang pedang yang sama-sama digerakkan tenaga dahsyat itu. Rupanya, Chouji yang merasa tidak tahan oleh gempuran-gempuran lawan, nekat memapak sambaran ujung pedang yang mengincar lambungnya. Namun demikian Chouji, bisa selamat. Ia segera menjauhi Sakura. Dan bersiap kembali memulai serangannya
Wuuut..! Wuuut..!
Dua kali tusukan pedang Chouji yang mengancam lambung dan lehernya berhasil dielakkan Sakura. Setelah menggeser tubuh dengan kuda-kuda rendah, pedang di tangannya dikibaskan secara mendatar.
Beuuut..!
Cepat dan tak terduga sama sekali serangan balasan yang dilancarkan Sakura. Sehingga, Chouji sempat terperanjat dibuatnya. Namun tubuh gendut yang bisa bergerak dengan ringan dan gesit itu bergerak ke kiri sambil memutar pedangnya untuk melakukan tangkisan.
Tapi serangan yang dilancarkan Sakura ternyata hanya gerak tipu. Pada saat pedang lawan bergerak hendak memapak, tahu-tahu saja pedang di tangan Sakura bergerak berputar setengah lingkaran.
Kemudian dengan gerakan menyamping, pedang gadis cantik itu menusuk cepat mengincar lambung Chouji.
"Haiitt..!"
Sadar kalau tusukan pedang gadis cantik itu sangat berbahaya dan sulit dihindari, Chouji membentak keras dan langsung melempar tubuhnya berjumpalitan ke belakang. Barulah ia dapat menyelamatkan diri dari tusukan pedang yang demikian cepatnya
"Hiaaat..!"
Begitu kakinya menjejak tanah, secepat itu pula tubuh Chouji meluncur cepat disertai putaran goloknya. Tersentak hati Sakura melihat kedahsyatan serangan lawan.
"Haiiit..!"
Melihat serangan bahaya yang dilancarkan lawan, Sakura pun memekik nyaring disertai lompatan tubuhnya ke kanan. Lalu, dia membarenginya dengan tusukan kilat yang mengancam lambung kiri lawan.
Wueeet..!
Tranggg... Tranggg...!
Desss...!
"Ughhk..!"
Bunga api memercik menandai hebatnya benturan kedua bilah itu. Dan sesaat setelah benturan itu terjadi, Sakura bertindak cepat begitu melihat bagian tubuh lawan yang lowong. Sebuah tendangan kilat yang keras, sehingga membuat tubuh Chouji terjengkan ke belakang.
"Huaaakh...!"
Tubuhnya yang hampir terbanting cukup keras di atas tanah berumput kering. Chouji bangkit dan berusaha dengan susah payah mengembalikan keseimbangannya yang sedikit goyah. Sakura tidak tinggal diam, ia segera menyabetkan pedang berkali-kali.
Bwet! Bwet!
Crass! Crass!
"Akh!"
Chouji diam melotot. Bagian depan tubuhnya tersayat, dan yang terakhir, pedang Sakura sudah menembus perutnya. Sedetik kemudian Chouji tumbang, Mati!
"Kemampuan bertarungmu makin hebat, Sakura" puji Sasuke segera mendekati Sakura
Sasuke segera memeluk pinggang Sakura langsung memberi kecupan lembut, "Tidak lama lagi, mungkin aku akan kalah darimu".
Sakura yang di puji kekasihnya tentu saja sangat senang, Sakura segera melingkarkan tangan di leher Sasuke,
"Aku belajar kemana lagi untuk mengalahkanmu" balasnya sambil terkikik, meski nafasnya masih tersengal karena habis bertarung. Ia tidak tinggal diam, ia membalas kecupan Sasuke, bahkan lebih lama dari kecupan Sasuke sebelumnya.
Sasori mengamati pertarungan Sakura dan Chouji dari tadi. Ia sengaja mengikuti langkah Chouji karena ia tahu, insting chouji begitu kuat dalam menemukan apa yang di carinya. Termasuk yang satu ini.
Awalnya ia memang tidak memperhatikan sosok Sasuke yang berdiri tidak jauh dari arena pertarungan Sakura. Tapi setelah Chouji takluk, barulah Sasori memperhatikan orrang yang mendekati Sakura.
Ia makin geram, karena dalam pikirannya, Sasuke yang ia anggap Hikari, seharusnya membunuh Sakura. Tapi malah memberi kecupan pada Sakura
Ia semakin geram saat melihat Sasuke, makin kuatlah kebenciannya pada sosok tampan berambut model pantat ayam itu. "Sudah ku duga kau memang keparat Hikari!" geramnya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia menjulurkan jari-jarinya mengarah pada Sasuke.
...
...
...
TO BE CONTINUE
