Khoerun904 :

Ide dari mana tuh, ide bagus, tapi nantilah kita bahas untuk tokoh yg satu ini :D. Jujur, sampai sekarang ane belum mutuskan tentang siapa dan asal-usulnya Hikari. Masih bertapa nyari ide *plak*

.

.

Ini Dunia Kita

Udara pagi masih berkabut tipis, matahari masih seperti malu-malu menampakan wajah di semesta persada.

Hikari nampak sudah siap-siap.

"Tsunade, bukankah kau mau ikut?" teriaknya.

Wanita cantik berambut pirang segera muncul begitu pria tampan ini memanggil.

"Tentu saja. Aku akan ikut denganmu, lagi pula aku juga jarang pergi keluar"

"Tapi, kita tidak tahu sampai mana kita mencari Sakura. Kau yakin?" Hikari berusaha memperingatkan kalau pencarian mereka ini ada kemungkinan akan melelahkan.

Tsunade menganggukan kepala mantap.

"Sekarang rencanamu apa?" tanya Hikari kemudian.

"Aku hanya mengutus semua bawahan kita. Dan tetap berusaha saling memberi informasi"

"Bawahan Kita? Aku tidak memiliki bawahan, Tsunade" Sahut Hikari sambil tersenyum.

Tsunade menggeram manja, "Tentu saja bawahanku adalah bawahanmu juga"

Hikari cuma bisa tersenyum simpul. Memang sejak Tsunade mengumumkan kalau mereka adalah sepasang kekasih, para bawahan Tsunade juga sudah menganggap Hikari sebagai atasan. Namun pun demikian, Hikari sama sekali tidak tertarik, baginya, memiliki Tsunade jauh lebih penting.

"Kau tidak menaiki kendaraan?"

"Lalu kamu?" Tsunade balik bertanya.

"Aku lebih menyukai jalan kaki" sahut Hikari.

"Kalau begitu aku juga jalan kaki saja bersamamu" Tsunade segera berdiri dan menggaet lengan Hikari.

"Tapi kau akan kelelahan" Hikari menahan langkahnya sehingga langkah Tsunade pun juga terhenti, "Sebaiknya kamu menggunakan kuda atau pedati"

"Pokoknya aku tidak mau, jika hanya aku yang berkendara" Sahut Tsunade sambil menundukan kepala.

Hikari angkat bahu, ia segera melumat bibir Tsunade sesaat, "Akhir-akhir ini kau semakin manja"

"Kau tidak suka?"

Hikari tertawa perlahan, "Justeru malah tambah suka", Hikari kembali memberikan kecupan, "Ayo!" ia segera menarik tangan Tsunade.

...

-SSS-

...

Di tempat lain.

Kicau riang burung hutan menyambut datangnya sang pagi. Matahari bersinar hangat menyinari bumi. Angin bertiup semilir membawa angin sejuk saat dua sosok tubuh melangkah perlahan-lahan memasuki mulut hutan.

Dua sosok tubuh itu ternyata adalah sepasang muda-mudi. Yang satu adalah seorang pemuda berambut model emo dan berkemeja putih dengan bagian dada yang sengaja di buka. Sementara yang satunya lagi seorang wanita cantik bergaun qipao dan berambut merah muda.

Muda-mudi ini melangkahkan kakinya perlahan-lahan. Sesekali keduanya menarik napas dalam dalam sambil mengembangkan dada, menghirup udara pagi yang bersih sebanyak-banyaknya.

Keduanya tetap melangkah dengan tangan saling bertautan.

"Mudah-mudahan sebentar lagi kita bisa menemui desa di depan" pria berwajah tampan itulah yang pertama kali membuka pembicaraan.

"Kau tidak asal menduga kan?" wajah yang tadinya ceria berganti cemberut.

Pemuda berambut emo menolehkan kepala, memandang wajah gadis di sebelahnya sambil tersenyum, "Kan ku bilang mudah-mudahan. Mungkin setelah tikungan yang di depan. Ku harap" imbuhnya lagi sambil menunjuk ke depan.

Gadis cantik yang di sebelahnya tidak menjawab.

"Apa lagi yang kau pikirkan, hm?" si pria atau Sasuke memencet hidung kecil tapi mancung milik Sakura.

"Tapi Sasu, aku lebih mendengar suara pertarungan yang samar-samar" jawab Sakura.

Sasuke juga memasang pendengarannya tajam-tajam, dan seperti yang di katakan kekasihnya, ia mendengar suara suara pertarungan.

"Kau benar", membenarkan dugaan kekasihnya.

"Arahnya dari sebelah sana, Sasu" ucap Sakura lagi. Telunjuk tangan kanannya menuding ke kanan.

"Kalau begitu mari kita ke sana," ajak Sasuke ke arah yang ditunjukkan gadis bergaun qipao tadi. Tanpa diberi tahu oleh Sakura pun sebenarnya Sasuke sudah mengetahui asal suara itu.

Sesaat kemudian sepasang muda-mudi ini telah melesat cepat meninggalkan tempat itu. Sasuke dan Sakura seperti saling berlomba menuju ke arah asal suara yang tadi mereka dengar.

Sesaat kemudian, asal suara yang mereka dengar telah terlihat. Tampak di kejauhan, dalam jarak seratusan meter, seorang wanita blonde tanpa bersenjata dengan empat orang bersenjata golok.

Keduanya berhenti sesaat sambil mengamati pertarungan yang tidak seimbang. Sasuke segara memegang tangan kekasihnya yang sudah siap turun tangan

"Jangan turun tangan dulu sebelum kita tahu jelas masalahnya," bisik Sasuke menasihati.

"Mengapa, Sasuke?" tanya Sakura , pelan dan lembut. Tapi jelas ada nada penasaran
dalam suaranya.

Sasuke geli mendengar ucapan Sakura, meski kedengaran lembut, tapi tampak adanya tuntutan dalam suara gadis itu. Pemuda itu tahu betul sifat keras Sakura. Justru sikap keras Sakura itulah yang membuatnya gembira.

"Uhhuk...!" Sasuke berpura-pura batuk untuk menghilangkan perasaan gelinya.

"Kita tidak tahu siapa yang salah, Sakura"

Sakura pun terdiam, Dan dengan sendirinya suasana pun jadi hening karena Sasuke tidak melanjutkan ucapannya lagi. Tanpa bercakap-cakap lagi, kaki mereka dilangkahkan mendekati tempat pertarungan. Kini mereka memperhatikan jalannya pertempuran dari balik sebatang pohon.

"Para pengeroyok gadis itu..., sepertinya bukan orang baik-baik, Sasu," ucap Sakura lagi setelah mulai dapat melihat jelas wajah empat orang itu.

Tidak ada sahutan sama sekali dari mulut Sasuke yang berada di sampingnya. Sakura jadi heran. Kepalanya ditolehkan dan seketika wajah gadis bergaun qipao ini menyemburat merah.

Sasuke seperti orang tersihir. Menatap tanpa berkedip ke depan. Rupanya Sasuke begitu tenggelam dalam kesibukannya memandang hingga tidak mendengar ucapannya.

Tanpa menoleh pun Sakura telah tahu apa yang telah membuat Sasuke sampai terkesima. Apa lagi kalau bukan wanita blonde itu? Kontan perasaan cemburu Sakura bergolak

"Dasar laki-laki mata keranjang...!" desis gadis bergaun qipao itu. Tentu saja ucapan Sakura yang mendesis dan penuh hawa cemburu membuat Sasuke tersadar dari terkesimanya. Dengan gugup pandangannya dialihkan ke arah kekasihnya.

"A... apa katamu tadi, Sakura?" tanya Sasuke agak tersendat-sendat. Memang, meskipun kata-kata yang diucapkan gadis itu tertangkap oleh telinganya, tapi Sasuke ingin memastikan kebenarannya dengan mendengarnya satu kali lagi. Apalagi ditambah dengan kata-kata makian Sakura.

"Kau... laki-laki mata keranjang...!" ucap Sakura lagi dengan berani. Gadis ini memang mempunyai watak aneh. Mudah marah. Tapi mudah pula baik kembali.

"Di depanku saja kau berani bersikap seperti itu. Apalagi kalau di belakangku!" Suara sakura semakin bertambah, ia menghentakkan kakinya berkali-kali karena sebal.

"Sabar dulu, Sakura," ucap Sasuke menenangkan, tahu mengapa gadis bergaun qipao ini marah padanya.

"Iissh!" Sakura sudah tidak berminat lagi pada pertarungan. Kepalanya di tolehkan ke arah lain. Perasaannya tergetar seolah ingin mendorong airmatanya keluar. Sakura menggigit bibirnya. Hati Sakura seperti teriris membayangkan Sasuke tertarik pada gadis lain.

Sasuke menarik nafas, segera Sasuke menarik Sakura kedalam pelukannya, "Sakura aku bukan tertarik pada gadis itu. Aku hanya mengamati pertarungan mereka"

Sakura masih diam dan merapatkan kepalanya tanpa menolak maksud Sasuke.

Sasuke menciumi pucuk kepala kekasihnya. Dari kecupan itu, ia menggambarkan rasa permintaan maaf.

Keduanya menjadi lupa kalau tadi mereka berdua ingin menolong si gadis blonde yang sedang di keroyok

Teriakan dari arena pertarungan menyadarkan keduanya. Kembali Sasuke dan Sakura menatap pertarungan. Tapi bagi Sakura, ia nampak malas-malasan melihat lagi.

Sementara itu, pertarungan antara gadis pirang dengan empat orang pengeroyok berlangsung semakin seru. Gadis blonde itu ternyata memiliki kepandaian yang cukup tinggi, sehingga empat pengeroyok yang terdiri dari orang-orang kasar mengalami kesulitan meringkusnya.

Tapi, pandang mata Sasuke yang tajam segera mengetahui kalau tak lama lagi gadis itu akan kalah oleh para pengeroyoknya..

"Haaat...!"

Salah seorang pengeroyok yang bertubuh tinggi kurus berteriak nyaring. Berbareng dengan itu, pedang di tangannya berkelebat cepat, membabat leher gadis blonde.

"Hih...!"

Gadis pirang menarik kaki kanan ke belakang seraya mencondongkan tubuh. Sehingga sambaran pedang, lewat setengah jengkal di depan lehernya.

Namun sebelum gadis itu melancarkan serangan balasan, pengeroyok yang berambut abu-abu menusukkan pedang ke arah pelipis dari samping kanan. Sementara dari arah lain seorang lainnya membabatkan pedang ke arah tengkuk.

Kecepatan gerak gadis blonde memang patut dipuji. Mendapat serangan susulan yang datang berbarengan itu dia tidak menjadi gugup. Tubuhnya cepat dirundukkan sehingga kedua serangan lewat di atas kepala. Dan pada saat yang bersamaan, pengeroyok yang bertubuh tinggi besar sudah menerjang sambil menggulingkan tubuhnya. Dan dari bawah, kaki kanannya yang besar dan kokoh melakukan sapuan ke arah kaki gadis itu

Bukkk..!

Telak dan keras sekali sapuan si tinggi besar mengenai sasaran. Dan seketika itu juga gadis pirang terpelanting jatuh. Melihat keadaan yang sudah menguntungkan, para pengeroyok tidak mau menyia-nyiakannya. Bagai berlomba mereka melesat saling mendahului mengirimkan serangan.

Gadis blonde tentu saja tahu bahaya besar yang mengancam keselamatannya. Maka gadis ini segera bergulingan di tanah mengelakkan hujan serangan para pengeroyok. Sehingga serangan lawan-lawannya mengenai tempat kosong.

Para penyeroyok menjadi geram melihat gadis blonde masih mampu menyelamatkan diri. Maka sambil menggertakkan gigi, mereka bergerak mengejar sambil terus menghujani dengan serangan-serangan mematikan sebelum gadis itu berhasil memperbaiki posisi.

Wuuk! Wuss...!

Suara senjata yang berkelebatan cepat ke arah berbagai bagian tubuh gadis blonde terdengar merobek udara.

Dan memang, gadis blonde ini tidak sempat memperbaiki posisinya yang sudah mengkhawatirkan. Sambil terus bergulingan di tanah, pedangnya diputar menghalau setiap serangan yang datang.

Tranggg, tranggg...!

Suara benturan terdengar, ketika gadis blonde berhasil menangkis dua buah serangan lawan yang meluruk deras ke arahnya. Namun sebelum dia sempat menarik napas lega, tahu-tahu serangan dari lawan lainnya kembali menyambar tiba.

Desss!

"Ah...!"

Gadis blonde itu memekik kesakitan ketika tendangan lawan menghantamnya. Telak dan keras sekali tendangan itu mengenai pergelangan tangan kanannya. Seketika itu juga pedangnya terlepas dari pegangan dan terlempar jauh. Dan di saat itulah serangan dari pengeroyok yang terakhir datang menyusul. Menusuk deras ke arah dada.

Kini, sudah tidak ada kesempatan lagi bagi gadis blonde untuk berbuat sesuatu. Mengelak sudah tidak ada waktu, sedangkan menangkis pun sudah tidak mungkin. Posisi kedua kaki dan tangan kirinya tidak memungkinkan lagi untuk menangkis serangan. Tambahan lagi tangan kanannya masih terasa lumpuh. Kini yang dapat dia lakukan hanya berdiam din menanti datangnya maut

Di saat gawat itulah, Sasuke yang memang sudah sejak tadi bersiap siaga untuk menolong, melesat cepat ke depan.

Trang!

Heh!

Para pengeroyok itu sangat kaget. Bukan hanya serangan mereka yang terhalang, tapi juga merasakan ada yang mendorong sehingga keempatnya kehilangan keseimbangan.

Para pengeroyok itu menggertakan gigi. Setelah melihat sosok yang berdiri didepannya.

Mereka menatap Sasuke penuh selidik. Tapi, Sasuke sama sekali tidak ambil pusing.

"Kau tidak apa-apa?" sapanya pada gadis blonde tadi. Sasuke segera mengulurkan tangan hendak membantu gadis itu untuk berdiri.

Melihat wajah penolongnya, gadis itu dengan senang hati mengulurkan tangan, menyambut bantuan Sasuke.

"Tidak" jawabnya sambil berdiri, "Terima kasih telah menolongku"

"Keparat. Siapa kau. Berani-beraninya mencampuri urusanku!" suara gertakan tadi berasal dari salah seorang pengeroyok yang berbadan kekar.

"Aku..."

"Kau harus mati" sebelum Sasuke menyelesaikan ucapannya pria kekar dan yang lainnya langsung menerjang. Pedang di tangannya terayun dari atas kepala ke bawah, hendak membela Sasuke jadi dua.

Tidak hanya pria kekar tadi, kawanya yang lain juga ikut menerjang Sasuke, sehingga Sasuke mendapat empat serangan sekaligus. Tapi, sebelum maksud itu terlaksana, sebuah bayangan lain datang dan menyambar keempat oranng yang hendak mengeroyok Sasuke.

Hanya dalam hitungan detik saja, keempat orang itu sudah tumbang, dengan luka yang menganga di bagian dada. Pedang mereka sudah terlepas dari genggaman.

Kembali sosok penyerang tadi yang ternyata adalah Sakura, berdiri di samping Sasuke. Keduanya menatap ke empat orang kasar didepannya yang sudah tidak berdaya sambil memegangi luka masing-masing.

Sakura memang sengaja hanya memberi pelajaran. Sehingga keempat orang itu tidak sampai meregang nyawa seketika.

Empat orang kasar itu akhirnya sadar kalau mereka tidak mungkin menghadapi penolong gadis blonde tadi. Mereka segera bangkit meninggalkan tempat itu sambil tertatatih-tatih.

Sasuke maupun Sakura menatap gadis yang mereka tolong.

"Apakah kau penduduk sekitar sini?" Sakura yang pertama kali bertanya.

Mata Sakura makin membesar, pertanyaannya tidak langsung di tanggapi. Sementara yang di tanya, justeru seperti terpaku pada Sasuke.

"Ehemm..." Sakura berdehem keras. Ia menatap kesal pada gadis blonde di depannya

"Hay.. namaku Shion, dan aku sedang mencari kakek bandelku" Shion tersentak, ia menjawab asal-asalan, ia memang tidak memperhatikan pertanyaan Sakura.

Shion masih belum melepaskan pandangannya pada Sasuke. Sementara Sakura makin panas dingin. Di tambah lagi dengan jawaban yang ia dapat, sama sekali tidak nyambung dengan pertanyaan yang ia ajukan

Belum lagi, tadi, anggapan Sakura kalau Sasuke menatap terkesima pada Shion saat bertarung. Makin kesallah Sakura.

"Cih!" Sakura makin mendecih kesal.

"Namaku Sasuke dan ini calon isteriku, Sakura" Sasuke memperkenalakn diri.

Ia memang sengaja mempertegas status mereka, dengan demikian agar Sakura bisa tenang.

Sebagai seorang wanita, Shion juga mengerti Sakura yang tadi sempat mendecih kesal. Tanpa Sasuke mengenalkan siapa sakura bagi Sasuke pun, ia sudah menduga kalau Sakura adalah kekasih Sasuke. Dan ia juga tahu kalau Sakura sedang cemburu.

"Ah.. iya. Terimakasih sekali lagi atas bantuan kalian" meski sudah tahu siapa mereka, Shion masih tidak ingin rugi memandang wajah Sasuke.

"Lupakan!" Nada Sakura masih ketus.

Senyum Shion mulai berusaha bersikap wajar. Ia mulai mencoba mengalihkan perhatiannya yang dari tadi tertuju pada Sasuke.

"Oh ya. Kau belum menjawab pertanyaan kekasihku, apakah kau penduduk di sekitar sini?" Sasuke menatap lurus pada Shion, "Dan siapa pengeroyokmu tadi" Sasuke menambahkan pertanyaan.

Shion bersemu, barulah ia sadar, ternyata jawabannya tadi pada Sakura, tidaklah nyambung.

"Eumm.. Bukan, aku bukan penduduk sini. Dan aku tidak mengenal mereka. Mungkin mereka cuma penyamun. Aku datang dari ibu kota Konoha. Tadi ketika aku melintas tiba-tiba mereka muncul dan menghadangku. Mereka juga bilang mereka ingin memperkosaku" Sasuke dan Sakura menatap gadis yang sedikit aneh. Dia hampir di perkosa tapi malah terlihat santai. Mengingatkan mereka berdua kalau sifat dan tingkah gadis ini sangat mirip dengan seseorang yang mereka kenal.

"Baiklah aku akan kedesa yang tak jauh dari sini. Kalian juga mau kesana kan? Bagaimana kalau kita bersama-sama" imbuh Shion kemudian

"Humm.. Kurasa kami akan menyusul. Silakan duluan saja" balas Sasuke.

Shion mengangguk dan berkelebat pergi.

"Kenapa kau tolak?" jelas sekali nada kesal dari bibir mungil Sakura.

"Memang seharusnya"

"Bukannya kau tertarik padanya, dia juga tertarik padamu" Sakura yang bernada sedikit ketus.

"Sakura, aku tidak punya alasan untuk tertarik pada wanita lain. Percayalah" Sasuke jadi serba salah. Ini yang kesekian kali bagi Sasuke mendapati Sakura cemburu. Dan sebenarnya dalam hati Sasuke, ia begitu bahagia mendapati Sakura yang cemburu. Itu artinya Sakura tidak ingin kehilangan dirinya.

Sakura membalik badan dan membelakangi Sasuke. Kepalanya di tundukan.

"Sasu, aku tidak tahu kenapa aku cemburu. Aku percaya padamu, hanya saja aku tetap cemburu" jawab Sakura lirih dan sedikit serak.

Sasuke segera memeluk kekasihnya dari belakang.

"Iya aku mengerti" sela Sasuke perlahan, "Cemburu adalah hal yang sangat wajar Sakura. Aku juga sama, ingin sekali rasanya membunuh para pria yang melirik dengan rasa suka padamu" Bisik Sasuke.

Sasuke membalik tubuh Sakura. "Tapi aku mempercayaimu"

"Sakura, lihatlah aku! Aku tidak memiliki sedikit keinginan untuk berpaling darimu", Mata mereka beradu, selanjutnya Sakura menganggukan kepala, sungguh pun ia juga sangat mempercayai kekasihnya.

Sasuke memeluk pinggang Sakura, perlahan wajah mereka mendekat. Bibir Sasuke pun menyentuh bibir mungil milik Sakura.

Meresapi sentuhan bibir masing-masing membuat nafas keduanya malah makin memburu.

Ciuman Sasuke mulai merayap menuju bagian dada Sakura yang juga sudah mulai melenguh. Gaun bagian dada Sakura mulai di sibak oleh Sasuke.

"Aoouh... Sasuuuu...!"

Tangannya meremas rambut kepala Sasuke dengan gemetar, karena pada saat itu si gadis merasa dilambungkan Sasuke ke langit tingkat tujuh dan melayang layang di ketinggian puncak keindahan itu.

Rengekan manja menambah daya rangsang Sasuke dan akhirnya si gadis tak kuasa menolak hadirnya mulut Sasuke di permukaan dadanya yang tidak montok namun sekal dan berbentuk indah. Keranuman ujung bukit menjadi santapan hangat mulut Sasuke, sehingga si gadis merah muda akhirnya memekik ditikam seribu kenikmatan.

"Mau lagi?" Sasuke pura-pura menawarkan diri. Padahal, andai Sakura menolak pun, pasti Sasuke akan tetap melanjutkan aksinya.

Tangannya semakin nakal, sementara Sakura yang berdiri bersandar pohon itu hanya menerima ciuman Sasuke dengan pasrah. Bahkan Sakura itu tak meronta sedikit pun ketika Sasuke melepasi apa yang melekat di tubuhnya. Menyadari keadaan Sakura sudah seperti bayi baru lahir, Sasuke semakin menggelora dibakar gairah bercinta.

Ciumannya perlahan mengitari leher Sakura. Ciuman yang memagut -magut itu akhirnya turun di sekitar dada, melahap dengan perlahan daging sekal tersebut. Tentu saja empunya menggelinjang hebat.

Permainan Sasuke belum selesai hanya pada bagian dada, Sasuke melanjutkan perlahan ke perut, lalu ke mana lagi kalau bukan gerbang menuju ke alam keindahan bagi kaum wanita.

"Oh.. akh!" Sakura tidak kuasa menahan ketika lidah Sasuke sudah bermain di gerbang kenikmatannya.

Sasuke itu tak pedulikan erangan dan desahan kenikmatan Sakura, mulutnya tetap sibuk menaburkan sentuhan-sentuhan indah di tempat yang mudah terbakar oleh kehangatan itu. Malahan salah satu paha Sakura ia naikan ke bahunya.

"Oh, Sasu.. Aku... aku, eouuh... tak kuat berdiri terus, hentikan!" celoteh Sakura dalam keadaan berdiri bersandar pohon.

Tangannya meremas rambut Sasuke yang masih nekat berkeliaran dengan lidahnya di tempat yang terpeka itu.

"Aakh.." Sakura melenguh panjang.

Sasuke tidak hanya menghisap bagian klitorisnya. Jari tengah dan jari manisnya telah melesak masuk kedalam liangnya.

Sasuke mulai menggoyangkan jari-jarinya dalam liang vagina milik Sakura. sementara Sakura yang di perlakukan demikian tak henti-hentinya menggelinjang.

"Sasuke..hentikaaan.. aakh!" Tubuh Sakura menegang hebat. Cairan orgasmenya akhirnya meluber keluar melewati jari Sasuke yang tadi mengaduk-aduk liangnya.

"Aaah.." Sakura akhirnya terkapar dengan dengus napas memburu dan suara rintihan yang membakar gairah Sasuke semakin menggila. Gadis cantik itu jatuh dalam pelukan Sasuke, namun akhirnya menyapu habis sekujur tubuh tersebut.

"Oouh, Sasu...ke ... ooauuuuh... hentikan..!" pekik Sakura dengan mata sayu menatap Sasuke.

Sasuke mengerti, ia segera mendudukan dan menyandarkan Sakura di batang pohon.

Kedua tangan Sakura tidak tinggal diam, ia mulai membantu membebaskan penis Sasuke yang kelihatan sudah menyempit dalam celananya. Sakura menarik celana Sasuke hingga tampaklah sebentuk benda bulat panjang menngacung tepat didepannya

Perlahan Sakura menggunakan kedua tangannya untuk mengelus benda yang selalu memuaskan dirinya.

Beberapa kali Sakura ingin mencoba mengulum kepala botak itu tapi selalu di larang Sasuke. Entah apa alasannya, Sasuke juga tidak pernah memberi tahu Sakura.

Batasan permainan Sakura adalah memegang benda yang tidak muat dalam satu genggaman tangannya.

"Uhmm.." kini giliran Sasuke yang menggeram. Mendapat perlakuan demikian Sasuke mendongakan kepala, jari lentik yang halus itu serasa menyebarkan aliran listrik ke seluruh tubuhnya. Apa lagi saat Sakura meminkan jari-jarinya di kepala penisnya. Sasuke makin tergetar.

Sasuke yang sudah tidak tahan dengan perlakuan Sakura pada kelaminnya, ia kembali mengangkat dagu dan menciumi bibiir Sakura.

Namun di saat yang bersamaan pula, Sakura menggenggam penis Sasuke dan mengarahkan tepat kelubang kenikmatannya yang dari tadi sudah kebanjiran.

Sreet!

Bless..!

"Aaakh oh.." Mata Sakura membelalak ketika seluruh batang Sasuke amblas sepenuhnya. Bibir vagina terbelah saat kepala penis Sasuke masuk menembus labina mayor milik Sakura.

Kenikmatan yang di berikan ketika batangan Sasuke memenuhi seluruh ruangannya tidak pernah berkurang. Sakura makin mengeratkan pelukannya. Kedua kakinya di lingkarkan di pinggang Sasuke.

Sasuke memulai dengan memaju mundurkan pinggulnya dengan perlahan. Dengan tetap menjaga irama permainan maju-mundur dengan perlahan, menikmati setiap gesekan demi gesekan.

Liang milik Sakura yang masih terasa sempit sekali hingga setiap berdenyut, mencengkram miliknya. Denyutan demi denyutan membuatnya semakin tak mampu lagi menahan gerakannya. Terasa beberapa kali Sakura mengejankan dinding-dinding vaginanya, menahan rasa nikmat dari serbuan benda asing yang bergerak keluar masuk itu, tapi bagi Sasuke malah memabukkan karena bagian dalam itu jadi semakin keras menjepit penisnya.

Sasuke sendiri tanpa sadar juga mendesah nikmat.

"Aaaa ... ughh ... " Erangan, rintihan, dan jeritan Sakura terus menggema, seakan berpacu liar dengan deru nafas.

Sakura melawan rasa nikmatnya dan melihat kebawahnya, ternyata keadaan selalu sama. Sakura bisa melihat bagian klitorisnya seperti terbelah dan meregang dengan penis Sasuke yang memompa keluar masuk.

Sakuura melihat tidak lama. Kenikmatan yangdi berikan Sasuke mamaksa ia kembali melingkarkan tangannya di leher Sasuke.

Beberapa saat kemudian, kembali Sakura mendapatkan titik puncak asmaranya.

"Aaahh ... oooohhh ... " Sasuke merasakan air hangat menyembur keluar dari dalam istana kenikmatan yang langsung saja mengguyur batang keras yang terus bergerak keluar-masuk.

Sasuke membalik tubuh Sakura yang sudah kelihatan mulai lemas dengan mata sayu. Sasuke ingin memompa Sakura dari belakang.

Dalam keadaan posisi nungging, Sasuke memompa lebih cepat, dengan Sakura yang terus mendesah lirih. Hingga akhirnya..

"Saku...raaa.." Sasuke menggeram, kepalanya di tadahkan merasakan klimaksnya. Pelukan di pinggang Sakura makin erat.

Sedetik kemudian Sakura juga menjerit tertahan, ia menyusul Sasuke mencapai orgasmenya.

Sasuke dan Sakura masih mempertahankan posisi.

"Sakura berdirilah" pinta Sasukekemudian.

Sakura yang masih dengan nafas terengah berdiri dan berpegangan pada pohon. Sakura berdiri degan posisi kaki ngangkang. Dan tampaklah sperma Sasuke mengalir keluar dari dalam vagina Sakura membentuk benang panjang menjulur ke bawah.

"Sasuke bersihkan dulu" rengek Sakura saat Sasuke kembali mengarahkan batang kemaluannya menuju vagina Sakura..

"Tidak perlu"

"Aaakh!" jerit Sakura, tiba-tiba saja Sasuke menghentak memasukan penisnya.

Sasuke seperti tidak kehabisan tenaga memaju mundurkan pinggulnya. Sakura yang pasrah dan memeluk batang pohon serta membiarkan liangnya di sesaki oleh batangan milik kekasihnya.

Rupanya dengan posisi berdiri seperti ini, Sakura pun lebih menikmati setiap gerakan maju-mundur pinggul Sasuke. Rintihannya mengeras setiap kali penis Sasuke melaju cepat mencapai rahimnya dan mengerang lirih ketika si pemuda menarik batangannya. Karena memang sudah terasa licin, Sasuke melakukannya dengan kadang cepat, kadang lambat. Cepat-lambat silih berganti!

"Sas...aaghh!" terpaan orgasme Sakura tidak tertahankan lagi.

Fenomena seperti terkencing-kencing karena ejakulasi kembali di alami oleh Sakura. Lututnya gemetaran, dan hampir saja terjatuh jika saja Sasuke tidak memeluk erat pinggangnya.

Sasuke nampak semakin beringas dan tanpa ampun menggenjot sesekali terdengar desahannya. Begitu seterusnya.

"Sasu.."

"Sakuraaa..."

Keduanya menjerit hampir bersamaan. Letupan denyutan nikmat di kelamin masing-masing terasa oleh satu sama lain.

Satu tangan Sasuke makin mengeratkan pelukannya di pinggang. Dan tangan lain melingkar di dada sambil menggenggam payudara Sakura. punggung Sakura di rapatkan pada dadanya. Sementara penisnya terus-terusan keluar masuk dengan cepat.

Hingga mendesah panjang mengakhiri permainan melelahkan namun melegakan.

Nafas keduanya masih memburu pasca memetik keindahan surga duniawi.

Sasuke dan Sakura menggelosor, sementara Sasuke masih memeluk Sakura dari belakang.

Penis Sasuke nampak menggantung begitu ia mencabut dari sarangnya. Kemudian Sasuke mulai memakai pakaiannya sendiri.

"Istrahatlah dan kita akan melanjutkan perjalanan" ujar Sasuke sambil memakaikan pakaian Sakura yang kelihatan kelelahan.

"Aku tidak mau kedesa itu, di sana ada Shion. Atau kau ingin membantunya lagi, mencari kakeknya" lirih tapi agak ketus suara Sakura. ia menundukan kepala.

Sasuke tidak menanggapi, ia masih sibuk melanjutkan menyelesaikan pekerjaannya yang tersisa, yakni memakaikan celana Sakura.

"Hhh..." Sasuke mendesah. Baru saja di tenangkan dengan rayuan sex, sekarang bergemuruh lagi gara-gara cemburu, Sasuke menggeleng kepala menghadapi kekasihnya yang kembali mulai merajuk, "Sakura, desa itu luas kurasa, belum tentu kita bertemu Shion. Lagi pula..." Sasuke tidak melanjutkan ucapannya karena melihat Sakura tambah cemberut

"Baiklah, kita akan mengambil jurusan lain. Nah! Istrahatlah" Sasuke mengalah dan memeluk Sakura agar tenang dan istrahat.

...

...

...

TO BE CONTINUE