Janjiku

Sasuke dan Sakura melangkah sambil menatap lurus kedepan. Keduanya melintasi jalan setapak yang tampak sepi, karena memang masih jauh dari pemukiman. Tangan masih bergandengan satu sama lain. Keduanya sama-sama menyipitkan mata ketika melihat kepulan debu di depannya.

"Sebaiknya kita menepi, Sakura. Sepertinya di depan kita ada sekelompok orang berkuda yang akan melintas" Sasuke masih menggenggam tangan Sakura sambil menepi.

Sakura tidak membantah, Gadis cantik itu mengikuti saja ketika Sasuke membawanya ke tepi.

"Heyaa..heyaaaa"

Teriakan rombongan kuda itu. Sebentar saja rombongan berkuda itu melewati sepasang kekasih ini.

Tapi sebelum debu-debu yang beterbangan hilang tersapu angin, anggota rombongan yang paling belakang menghentikan lari kudanya. Tentu saja Sasuke dan Sakura menoleh kebelakang, hendak mengetahui apa yang membuat rombongan berkuda itu berhenti.

Sakura mengerutkan kening ketika rombongan itu berbalik arah pada mereka. Karena sempat melirik wajah-wajah kasar mereka ketika melintas, gadis cantik ini, makin curiga kalau mereka bukanlah orang baik-baik.

"Mereka kembali, Sasu" kata Sakura seolah-olah hendak meminta pendapat pada kekasihnya.

"Mungkin mereka ingin menanyakan sesuatu" Jawab Sasuke melirik pada Sakura.

"Kurasa, tidak. Wajah mereka menunjukan bukanlah orang baik-baik. Mungkin mereka adalah perampok yang ingin mencari mangsa" bantah Sakura menyatakan dugaannya.

"Tidak baik menilai orang begitu saja, Sakura" nasihat Sasuke.

"Tapi..."

"Kalaupun memang begitu. Apa yang mereka rampok dari kita? Mereka salah alamat jika merampok pada orang seperti kita yang tidak punya apa-apa"

Usai berkata demikian, Sasuke menoleh pada Sakura. Dan terus terang, ada rasa haru muncul di dada Sasuke ketika meneliti sekujur tubuh Sakura. Jelas ucapannya barusan mengingatkan kalau kekasihnya itu tidak memakai perhiasan, seperti layaknya wanita pada umumnya.

Di dalam hatinya, ia merasa lelaki yang tidak berguna sama sekali, bahkan memberi perhiasan termurah untuk kekasihnya pun tidak ia lakukan.

Sakura sempat menangkap perasaan itu dari tatapan kekasihnya. Ia segera menggenggam tangan kekar itu sambil tersenyum.

"Jangan kau pikirkan hal seperti itu Sasuke. Aku sudah terbiasa dengan keadaanku sekarang. Aku tidak akan menuntut apapun darimu. Ku mohon jangan sampai mengganggu pikiranmu" Hibur Sakura sambil meremas jari-jari Sasuke, sebagai ungkapan kebahagiaannya.

Sasuke tidak sempat lagi menanggapi. Karena rombongan itu telah berhenti di depan mereka. Para penunggang itu terlihat melompat dari kuda. Wajah mereka di perlihatkan segarang mungkin. Sikapnya juga menunjukan keangkuhan. Jelas, mereka memang mencari gara-gara.

"Ada yang bisa kami bantu?" tanya Sasuke.

Sedangkan Sakura lebih memilih menundukan kepala. Ia memang tak ingin menunjukan kemarahannya gara-gara sikap para penunggang kuda tadi. Karena pasti akan mengundang keributan.

"Hm" salah seorang yang berwajah kasar yang sepertinya adalah pemimpin rombongan itu hanya mendengus tanpa mempedulikan pertanyaan Sasuke. Ia berjalan mengitari pasangan tersebut dengan mata tak lepas dari Sakura.

"Benarkah kau ingin membantu kami? Tuan!" terdengar seperti mengejek dari pada menghormati.

Sementara Sakura makin mengepalkan tangannya. Ia memang sudah kesal dengan sikap pria tadi. Dan sekarang makin kesal dengan ucapan pria itu, yang kedengaran mengejek kekasihnya. Di tambah lagi dengan nada ucapannya yang terdengar menyimpan maksud tertentu.

"Aku akan membantu, jika aku memang bisa" Jawab Sasuke dengan sikap dan raut yang tidak berubah.

Lelaki bercambang bermata redup itu menatap sekilas pada Sakura.

"Baiklah. Tolong bantu kami, dengan meninggalkan gadis itu bersama kami"

Alis Sasuke sedikit terangkat mendengar ucapan pria barusan.

"Kalau yang itu, aku tidak bisa. Mintalah yang lain" sebenarnya Sasuke mulai kesal. Tapi ia masih menahan karena itu memang sudah ia duga.

"Ternyata kau pendusta. Tadi kau bilang kau akan membantu kami. Tapi ternyata..." lelaki bermata sayu itu menatap tajam sambil menghardik pada Sasuke. Di wajahnya terlihat ancaman.

"Sudah kubilang aku akan bantu jika aku bisa. Tapi untuk yang ini, tidak.." tegas Sasuke

"Untuk apa berbasa-basi lagi. Gadis inilah orangnya. Habisi saja" gertak yang lain.

Usai berkata demikian, pria berhidung besar itu langsung mengayunkan pedangnya pada leher Sasuke.

Wuuut!

Ayunan pedang itu meluncur deras. Tapi bagi Sasuke yang sudah terbiasa dengan gerakan cepat, gerakan itu masih kelihatan lambat. Maka tanpa kesulitan, Sasuke sedikit menggeser tubuhnya, sehingga luput dari serangan lawan.

"Bangsat..."

Maki pria itu. Ia makin penasaran. Ia memutar pedang dan kembali mengancam Sasuke.

Tapi kali ini Sasuke tidak berusaha mengelak. Maka pada serangan kali ini, Sasuke hanya berdiri tegak menanti pedang itu memenggal lehernya.

Beuut!

Plakk!

Bukk!

Pedang di tangannya terlempar. Sementara di pemilik pedang itu terlempar dan terjerembab.

"Sudah cukup!" bentak Sakura. Kali ini ia sudah tidak sabar dengan ulah para penunggang kuda itu.

Sakura bergerak. Karena hanya menghadapi keroyokan para keroco. Maka Sekali bergerak, tangan dan kakinya mendarat telak di lambung dan dada pengeroyoknya.

Lain lagi dengan Sasuke, pemuda itu tampan itu membagi-bagi pukulan dan tendangannya ke arah empat orang lawan yang berada di dekatnya. Cepat sekali. Dalam waktu singkat, keempat pengeroyoknya dapat dirobohkan hanya dengan tangan kosong.

Akhirnya para pengeroyoknya itu tumbang. Erangan terdengar dari mulut masing-masing.

Si pria cambang terlebih dahulu bangkit dengan kaki gemetaran.

"Ayo, pergi" ajaknya pada yang lain. Anak buahnya pun bangun dengan kondisi yang sama dengan pemimpinnya. Bahkan ada di antara mereka yang harus di bantu untuk berdiri.

Sasuke dan Sakura membiarkan mereka.

Di atas kuda, pria itu menatap tajam penuh kebencian pada mereka, terutama pada Sakura.

Sasuke menatap Sakura yang masih berdiri di sampingnya. Ia merasa kasihan pada kekasihnya. Entah apa salahnya, sehingga sudah ada beberapa orang yang menginginkan kematiannya.

Ia sedikit maklum, bisa saja mereka adalah orang yang menaruh dendam karena keluarga atau kerabatnya terbunuh. Tapi sejak mengembara bersama, Sasukelah yang sering bertarung. Jadi seharusnya jika ada yang menyimpan dendam, seharusnya dendam itu di tujukan padanya, bukan pada Sakura.

Atau bisa saja, ada yang menaruh dendam pada Sakura ketika ia masih bekerja di bawah Dan Kato.

Sasuke menghela nafas perlahan. Di tariknya Sakura kedalam pelukannya. Ia hanya bisa berjanji dalam hati bahwa ia akan melindungi kekasihnya.

Sakura bukannya tidak mengerti kegalauan Sasuke, maka di biarkanlah Sasuke memeluknya dengan erat. Sakura memejamkan matanya merasai setiap belaian dari Sasuke.

"Ayo" setelah lama berdiri sambil berpelukan, Sasuke mengajak Sakura melanjutkan langkahnya.

-SSS-

"Sasu... itu desanya sudah kelihatan" nampak sekali kalau Sakura sangat antusias melihat gerbang desa. Ia ingin segera beristrahat di desa itu.

Maka ia pun mendahului dan menarik tangan Sasuke buru-buru agar mereka segera tiba.

Sasuke melihat pergelangan tangan Sakura yang menggenggam tangannya. Ia kembali teringat tentang tubuh Sakura yang polos tanpa perhiasan. Meski Sakura sudah mengatakan kalau ia sama sekali tidak mempermasalahkan. Tapi tetap saja, bagi Sasuke, itu adalah hal yang mengganjal.

Ia sedikit menyesal, kenapa emas milik para Ninja Kegelapan tidak ia jual dan sebagian ia belikan perhiasan untuk Sakura.

Sasuke kembali menggeleng, ia ingin memberi sesuatu untuk kekasihnya dari hasilnya sendiri.

Kali ini, apa yang di pikirkan Sasuke, tidak sampai tertebak oleh Sakura yang berjalan mendahului, ingin segera sampai di desa yang sudah kelihatan gerbangnya dan berencana akan mereka tempati untuk menginap.

Kedua pasangan SasuSaku melangkah biasa memasuki pintu gerbang sebuah desa, agar tidak terlalu menarik perhatian penduduk desa.

Meski bersikap wajar, tapi tetap saja orang-orang yang mereka lewati tetap berbisik sambil menoleh pada mereka.

"Mereka pasangan serasi kan?" bisik salah seorang ibu-ibu yang mereka lewati tadi.

"Iya, yang lelakinya sangat tampan, yang wanita juga sangat cantik" balas ibu-ibu yang lain.

"Kalau di lihat, mereka sepertinya sepasang pengantin baru. Lihat saja mereka, sangat kelihatan mesra"

Bisik-bisikan itu masih terdengar oleh pasangan yang sedang di bicarakan. Pasangan yang di bicarakan itu cuma bisa tersenyum. Lagi pula apa yang mereka bicarakan tidaklah menyinggung.

"Alaaaah! Paling mesranya cuma sebulan dua bulan, setelah itu pasti akan sering ribut, seperti anjing dan kucing" sela salah seorang pria di antara ibu-ibu tadi.

Pria itu nampak syak, karena menurutnya mereka itu masih terlalu muda. Emosi dan ego lebih mendominasi

"Kau iri kan, karena isterimu yang gembrot dan galak itu"sahut yang lain seperti menampik anggapan pria itu, dan disambut dengan gelak tawa oleh yang lain pula.

"Huh!" si pria cuma bisa bersungut di tempat.

"Lihat kan Sasu, mereka kira kita ini pengantin baru" bisik Sakura sambil terkikik geli. Sasuke cuma tersenyum tanpa melepaskan gandengan tangannya.

"Tapi ada anggapan mereka yang salah" jawab Sasuke.

"Apa itu"

"Kalau kemesraan kita hanya bertahan sebulan atau dua bulan. Padahal kita ini kan, sudah berhubungan selama setahun. Dan tidak pernah bertengkar seperti anjing dan kucing seperti anggapan mereka"

"Hm, benar... eh! Sasu..." Sakura merona sambil menundukan kepala, sementara genggaman tangannya makin di kuatkan.

Sasuke menyunggingkan sudut bibirnya begitu melihat wajah Sakura yang sedang merona. Tangannya memberikan cubitan kecil pada pipi yang merona merah itu. Selanjutnya Sasuke merangkul Sakura sambil melanjutkan langkahnya.

"Mudah-mudahan saja di desa ini ada penginapan?" ujar Sakura, berharap.

Gadis itu terus melangkah mengikuti Sasuke. Tidak dipedulikannya pandangan beberapa orang pemuda yang menatapnya penuh kagum. Bahkan seperti terpesona. Dan memang, kecantikan Sakura sangat menyolok. Sehingga, hampir setiap lelaki yang berpapasan dengannya selalu melempar pandangan meskipun sembunyi-sembunyi. Sepertinya mereka merasa rugi kalau melewatkannya begitu saja.

"Kalaupun tidak ada, kita bisa menginap di sebuah rumah penduduk dengan memberikan bayaran yang cukup. Mereka pasti akan menerimanya dengan senang hati," usul Sasuke menyahuti kata-kata kekasihnya. Setelah berkata demikian, Sasuke membelokkan langkahnya ke arah sebuah rumah. Dihampirinya seorang wanita setengah baya yang nampak tengah menyapu halaman.

"Maaf. Apakah di desa ini ada sebuah penginapan?" tanya Sasuke, sopan.

Awalnya ia agak kaget saat pertama kali melihat gagang pedang yang muncul keluar dari belakang pria itu. Tapi setelah wanita setengah baya itu mengangkat wajahnya meneliti pemuda tampan berkemeja putih yang berdiri di depannya. Kemudian wanita itu menunjukkan apa yang diinginkan Sasuke.
Setelah memperoleh petunjuk, Sasuke dan Sakura kembali melangkah menyusuri jalan utama desa.
Menurut keterangan wanita setengah baya tadi, penginapan yang dimaksud terletak hampir di tengah
desa.

"Kalau saja wanita itu masih muda, kau tentu akan berlama-lama berbicara dengannya. Sayang sekali, wanita itu sudah tua. Tadi sempat kulihat, bagaimana ia memandangi wajahmu dengan sinar mata berseri-seri, tapi, kurasa ia masih cukup menarik untuk wanita seusianya" goda Sakura dengan senyum dikulum.

"Yahhh, sayang sudah tua. Coba kalau masih muda sepertimu, mungkin akan kutanyakan, apakah ia sudah bersuami? Dan kalau dijawab belum, pasti aku akan melamarnya untuk menjadi istriku yang
kedua," balas Sasuke dengan wajah sungguh-sungguh.

"Istri yang kedua? Memangnya kau sudah mempunyai istri pertama?"

"Oh, iya. Apakah aku belum melamarmu?" Sasuke balik bertanya hingga membuat selebar wajah Sakura kembali menjadi merah karena jengah.

"Sudah, semakin ngaco!" sergah gadis cantik itu, seraya menundukkan wajahnya yang tersipu.

"Sayang keluargamu sudah tiada. Kalau andai masih ada, tentu hari ini juga aku akan menghadap mereka untuk melamarmu. Kira-kira, diterima apa tidak ya?" goda Sasuke lagi.

Kali ini Sasuke tersenyum sambil memandang wajah kekasihnya yang tertunduk itu. Sasuke semakin senang melihat sepasang pipi yang kemerahan bagai buah tomat masak.

"Tidak tahu, ah...," ujar Sakura sambil menepiskan tangan Sasuke yang hendak menggenggam tangannya.

"Kita sudah sampai, Sasu. Jadi tidak, kita menginap?"Sakura memang sengaja mengalihkan pembicaraan untuk mengurangi rasa jengahnya. Bukan saja jengah. Bahkan wajahnya semakin memerah.

"Ya..., jadilah," sahut Sasuke.

Kemudian, mereka bergegas memasuki rumah penginapan itu. Sakura mengetahuinya setelah membaca papan yang tergantung di atas pintu rumah itu.

"Maaf tuan, penginapan penuh. Dan tidak ada ruang yang kosong sama sekali" pemilik penginapan dengan wajah menyesal memberitahu.

"Tapi apakah tidak ada lagi ruang yang kosong? Maksudku, tidak perlu kamar sewa. Kami akan tetap membayar penuh" Sakura mulai mendesak, tak mungkin ia kembali dan bermalam lagi di hutan yang mereka sudah lewati. Ini juga sudah malam. Lagi pula ia sudah terlalu letih.

"Maaf, Nona. Tidak ada" ia masih sopan berbicara dengan Sakura. di wajahnya tampak penyesalan karena tidak bisa membantu tamunya.

Sakura cuma mendesah panjang. Ia menoleh pada Sasuke.

"Terima kasih. Maaf memaksamu" hanya itu tanggapan Sasuke. Ia segera pamit dan menarik tangan Sakura keluar dari penginapan.

"Sasu.." panggil Sakura lirih dan terdengar malas bergerak.

"Seperti yang kukatakan tadi, kita terpaksa mencari rumah penduduk yang bersedia kita tempati dan mau di bayar" sahut Sasuke masih menggandeng tangan Sakura menjauh.

Sasuke membiarkan Sakura yang masih bersungut karena kekecewaannya, "Kenapa penginapannya bisa penuh begitu?"

"Kau bisa lihat. Desa ini cukup ramai dilalui oleh para pejalan kaki dan pedagang. Kalau di lihat, sepertinya desa ini adalah pertemuan para pedagang" Sahut Sasuke sambil menatap sekeliling.

"Bahkan hari sudah malam begini, masih terlihat kesibukan", Imbuh Sasuke.

"Sasu, sepertinya aku pernah ke tempat ini" ujar Sakura yang juga ikut menatap sekeliling.

"Kapan?"

Sakura nampak berfikir, "Sudah lama, ketika aku masih menjadi bawahan Dan Kato"

Sasuke tersenyum pada Sakura, "Tentu saja, kau kan Ninja Mata-mata. Tentu kau sudah banyak menjelajahi banyak tempat"

Sasuke merangkul Sakura, menuju halaman rumah kecil, yang tampak sangat sederhana.

"Si..siapa kalian!" orang tua pemilik rumah, menjadi seperti ketakutan karena kedatangan tamu yang datang di malam hari dan tak di kenalnya.

Sasuke tersenyum, "Maaf Pak Tua, kami hanya pengelana yang kebetulan lewat. Kami tadinya ingin menyewa penginapan, tapi sudah terlalu penuh" Sasuke lembut berusaha meyakinkan kalau mereka adalah orang baik-baik.

Orang tua pemilik rumah mentap tamunya dengan penuh selidik. Ia menatap penampilan pasangan itu dan ia bisa melihat kalau kedua tamunya itu adalah orang baik-baik.

"Kami akan bayar" ujar Sakura tidak sabar dan merasa tidak enak, karena di curigai dari awal.

Setelah memastikan kalau kedua pasangan itu adalah orang baik-baik, maka akhirnya orang tua itu mengizinkan, "Tapi kamar dan tempat tidur kami sudah reot.."

"Tidak mengapa, yang penting untuk malam ini kami memiliki tempat untuk bernaung" Imbuh Sasuke lembut, memotong ucapan orang tua tadi.

Orang tua pemilik rumah mengangguk, ia pun mempersilakan tamunya masuk. Selain itu ia juga langsung mengantar Sasuke dan Sakura menuju kamar yang ia maksudkan.

"Jika tuan butuh sesuatu, aku berada di ruangan lain" ujar pemilik rumah dengan sopan dan di sambut oleh Sasuke dengan anggukan dan ucapan terimakasih.

Sakura menatap kamar yang akan mereka tempati. Ia menarik nafas panjang.

"Bukankah ini lebih baik dari pada kita tidur di hutan. Lagi pula kamar ini cukup rapi kok" Sasuke menarik tangan Sakura dan mendudukan di dipan yang terbuat dari kayu.

Sakura masih diam dengan muka lusuh.

Sasuke menggeleng kepala, ia tahu Sakura mulai cemberut. Sasuke segera merebahkan tubuh Sakura perlahan. Sementara ia sendiri juga sudah berbaring di samping Sakura. satu tangannya memeluk tubuh Sakura dengan hangat.

"Aku iri pada orang tua ini" Sasuke setengah berbisik.

"Kenapa?"

"Setidaknya ia memiliki rumah, sementara kita tidak"

Sasuke membelai kepala Sakura dengan perlahan, " Kau ingin ku buatkan rumah juga?"

"Tau ah!" Sakura membalik tubuh dan membelakangi Sasuke.

Sasuke tertawa dan memeluk tubuh kekasihnya dengan erat. Sakura juga bukannya diam, ia malah membimbing tangan Sasuke yang melingkari perutnya menuju payudaranya.

Sasuke perlahan meremas bukit kembar milik Sakura. memilin putingnya yang terasa perlahan mengeras.

"Sakura, kau yakin?" Sasuke tahu kalau Sakura sedang kelelahan.

"Satu kali, Sasuke" ujar Sakura di selah desahan perlahannya.

Sasuke pun langsung melucuti pakaian Sakura.

Tidak seperti biasanya, Sasuke selalu memberikan Foreplay sampai Sakura berorgasme. Kali ini Sasuke hanya melakukan Foreplay secukupnya. Ia memang tak ingin Sakura makin dilanda kelelahan.

Setelah Sasuke meraba vagina Sakura dan sudah terasa basah. Ia segera meminta Sakura agar berdiri disamping dipan yang mereka tempati.

Sasuke membasahi penisnya dengan ludahnya sendiri. Setelah itu ia mengarahkan penisnya keliang Sakura dari arah belakang.

"Aakh!" Sakura mendesah ketika batangan Sasuke membela vaginanya menembus sampai rahimnya.

"Sssst! Jangan berisik, atau kita ketahuan" Bisik Sasuke disela dorongan perlahan pinggulnya.

Sakura menganngguk, "Cepat selesaikan Sasu... aaakh!"

Sasuke menuruti ia menambah kecepatan dorongan pinggulnya.

"Hmn..emm.." Berkali-kali Sasuke menutup mulut Sakura jika Sakura akan mendesah, sehingga Sakura cuma bisa terdengar menggumam. Dan terus Sasuke memeluk Sakura dari belakang.

"Aakhh!" Sakura menadahkan kepala petanda ia telah meraih klimaksnya.

Sasuke yang merasa penisnya makin di cengkram dan menambah kecepatannya. Ia juga merasa kalau sebentar lagi ia akan menyusul Sakura.

"Ah... Sakura..." Tidak menunggu lama, Sakura akhirnya merasa kalau Sasuke telah menyemburkan jutaan benihnya kedalam rahimnya.

Nafas keduanya masih memburu, dan terasa lega.

Sasuke mencabut penisnya yang masih setengah tegang dari liang Sakura. ia pun membersihkan pangkal penisnya yang kini sudah terdapat cairan mereka yang membusa.

"Saku..." Sasuke tidak jadi melanjutkan kata-katanya.

Tadinya ia ingin membersihkan area vagina Sakura dari cairan pekat mereka. Tapi sayangnya Sakura keburu tertidur dengan posisi tertelungkup.

'Dia benar-benar kelelahan' Batin Sasuke sambil tersenyum.

Ia segera mengambil kain yang biasa dia jadikan sabuk, ia segera menutupi tubuh telanjang Sakura. selanjutnya ia ikut berbaring dan memeluk Sakura

...

-SSS-

...

"Hooop...!"

Seorang laki-laki berpakaian hitam, serta berwajah kasar mengangkat tangan kirinya ke atas seraya menarik tali kekang kuda dengan tangan kanan. Seketika itu juga langkah binatang tunggangannya berhenti. Begitu pula belasan ekor kuda yang berada di belakangnya. Rupanya laki-laki berpakaian hitam itu bertindak sebagai pemimpin rombongan.

Menilik dari wajah belasan orang itu yang agak kasar, dan sikap yang rata-rata liar, bisa diperkirakan kalau mereka bukan rombongan orang baik-baik.

Laki-laki berpakaian hitam itu lalu menatap belasan wajah yang berada di sekitarnya.

"Dengar aku sudah mengirim pesan pada Nona Tsunade. Dan dia telah mengizinkan kita untuk bertindak apa saja" suranya tegas di hadapan anak buahnya.

"Lalu bagaiman dengan Sakura?" tanya pria berhidung besar, dari caranya berbicara, nampak kalau ia adalah orang terdekat dengan pemimpin rombongan.

"Kita tidak bisa mengalahkannya begitu saja. Ia terlalu tangguh, apa lagi dengan pria yang bersamanya" Sahut pria pemimpin rombongan. "Hal ini juga sudah kulaporkan, kalau kita bertemu kemarin dengannya. Olehnya karena itu ia mengizinkan kita untuk berbuat keonaran dan memancing Sakura bersama kekasihnya"

Tentu saja ucapan pemimpin rombongan itu membuat anak buahnya sangat kegirangan. Karena pada dasarnya mereka memanglah bukan orang baik-baik.

"Tapi, aku merasa kalau aku pernah melihat pria yang bersama Sakura" potong seorang pria berkepala botak.

"Di mana?"

Setelah agak lama, pria botak tadi berkata, "Ah iya, aku pernah melihatnya bersama Tsunade saat mengumumkan kekasihnya yang harus kita patuhi juga, kalau tidak salah dia bernama Hikari. Benar! Dia Hikari kekasih Nona Tsunade"

"Jangan Bicara sembarangan!" Bentak pemimpin mereka, "Kau tahu apa yang terjadi pada kita jika Tuan Hikari tahu kita memfitnahnya. Aku memang belum berjumpa dengan Hikari. Tapi aku sudah dengar kalau dia sangat hebat. Bahkan Sasori tewas saat bertarung dengannya. Soal Sasori, aku pernah bersamanya, dan aku sudah lihat kehebatannya. Lagi pula apakah kau sudah melihat rupa Tuan Hikari dengan jelas. Jangan-jangan kau cuma... "

"Eh.. iya.. memang benar, aku cuma melihat dari kejauhan" Jawab si botak malaj cengengesan.

"Haaah...! Itu urusan Nona Tsunade, tugas kita adalah melacak Sakura dan melaporkan pada Nona Tsunade dan Tuan Hikari" imbuh pemimpi rombongan.

"Masa bodoh dengan itu semua, yang pasti kita harus bersenang-senang" Sahut pria berhidung besar.

Sebentar saja sorak sorai terdengar saling bersahutan.

Sambil meringkik keras, kuda tunggangan laki-laki berpakaian hitam itu segera melangkah ke depan. Melihat pemimpinnya telah memacu kuda, belasan orang kasar itu segera menggebah kudanya. Maka, kuda-kuda itu pun bergerak menyusul

...

-SSS-

...

"Kau dengar itu, Minazuki" tanya salah seorang pria yang sedang duduk di depan kedai dango. Tampak kalau mereka adalah sejenis pasukan pengaman.

Seorang pemuda bertubuh sedang berambut coklat agak panjang dan di kucir menoleh. Bisa di duga kalau dialah yang bernama Minazuki.

Ditatapnya wajah rekannya sejenak, "Aku tidak mendengar apa-apa, Tenma" Minazuki menatap pada pria berambut coklat keabu-abuan tadi.

"Tidak mungkin. Jelas aku mendengarnya, cobalah pasang pendengaranmu baik-baik."

Minazuki hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawaban laki-laki bertubuh sedang itu. Dia pun tidak mempersoalkannya lagi.

"Ah...!"

Minazuki sampai terjingkat kaget tatkala mendengar seru keterkejutan Tenma. Secepat kilat kepalanya menoleh. Pada saat yang bersamaan, laki-laki bertubuh sedang ini melonjak bangkit.

"Kau lihat apa yang berada di depan, Tenma?" tanya Minazuki sambil menudingkan telunjuk tangan kanannya ke depan.

Tenma menolehkan kepala ke arah yang ditunjuk rekannya. Dan seketika dia terkejut ketika melihat sekelompok sosok bayangan hitam di kejauhan sana.

Meskipun tidak jelas bentuknya karena jauh dan juga karena adanya kepulan debu, tapi keduanya dapat menduga kalau sekelompok sosok bayangan hitam itu adalah manusia. Dan menilik derap kaki kuda yang terdengar, bisa diperkirakan kalau itu adalah rombongan orang berkuda.

"Serombongan orang berkuda...," desis Tenma dengan suara tegang.

"Rombongan berkuda mau siang begini? Dugaanmu, siapa mereka, Tenma?"

Belum juga gema suara Minazuki itu lenyap,

Di depan gerbang sudah terdengar teriakan minta tolong. Rombongan itu sudah memulai aksinya. Tubuh Tenma sudah berlari cepat memperingatkan penduduk. Hanya dalam waktu sekejap saja. Para penduduk yang baru hendak istrahat siang, segera disambut rombongan perampok. Maka pertarungan sengit dan mati-matian pun berlangsung.

Tapi karena sebagian besar para penduduk tidak menguasai ilmu beladiri atau taijutsu, rombongan perampok itu tidak mengalami kesulitan untuk membinasakan mereka satu persatu. Padahal, satu orang perampok menghadapi dua orang lawan.

Memang ada sebagian kecil penduduk yang menguasai ilmu beladiri. Tapi, itu pun hanya sekadarnya saja. Andaikan kepandaian yang dimiliki menyamai para anggota perampok pun, mereka tetap saja tidak mampu menang. Sebab, jelas mereka kalah pengalaman dalam pertempuran.

Jadi tidak heran kalau satu persatu para penduduk Desa yang melakukan perlawanan, berguguran. Tapi ternyata tidak semua orang di pihak di desa itu yang mudah dikalahkan. Ada dua orang di antara mereka yang mampu mengadakan perlawanan itu pula para penduduk berserabutan keluar dari rumah masing-masing sambil membawa senjata di tangan.

Singgg...! Cappp...!

"Akh...!"

Terdengar keluhan tertahan dari mulut Tenma, disusul oleh tubuhnya yang terhuyung-huyung. Tangan kanannya mendekap bahu kirinya yang tertembus sebuah logam berbentuk bintang bersegi empat. Seketika cairan merah kental mengalir deras dari bahu yang terluka, menerobos lewat celah jari-jemari tangannya.

"Tenma...!"

Minazuki berseru keras seraya berlari. Dia tadi juga sempat mendengar adanya suara berdesing, sebelum rekannya menjerit. Dan begitu .

Tampak beberapa sosok tubuh berlompatan dari punggung belasan ekor kuda yang larinya dihentikan secara mendadak. Begitu hinggap di tanah, sosok-sosok tubuh itu segera menyerbu ke arah Tenma dan Minazuki.

Tentu saja kedua orang itu tidak tinggal diam. Minazuki cepat mencabut pedangnya, langsung memapak datangnya serangan yang menuju ke arahnya. Begitu pula Tenma. Tanpa menghiraukan darah yang mengalir dari bahu kirinya, tubuhnya melesat membantu Minazuki itu.

Baik Tenma maupun Minazuki memang tidak asing lagi dengan ilmu bela diri. Karena kedua orang itu memang memiliki tingkat kepandaian lumayan. Tapi lawan yang dihadapi bukan orang lemah. Kali ini yang mereka hadapi adalah rombongan perampok anak buah Tsunade yang memang sudah pilihan. Dalam mempertahankan selembar nyawa, mereka sangat gigih.

Pekerjaan yang dijalani membuat mereka harus memilih dua kemungkinan.

Dibunuh atau membunuh!

"Haaat..!"

Seraya berteriak keras, Minazuki menebaskan pedangnya ke arah leher perampok yang berkepala botak.

"Hmh...!"

Laki-laki berkepala botak itu hanya mendengus. Tubuhnya didoyongkan ke belakang sambil menarik kepalanya. Maka, serangan pedang itu hanya mengenai tempat kosong. Lewat sejengkal dari sasaran.

Bukan hanya itu saja yang dilakukan laki-laki berkepala botak. Begitu serangan Minazuki lewat, pedang besar di tangannya dibabatkan ke arah tangan laki-laki itu. Cepat dan tak terduga gerakan laki-laki berkepala botak, sehingga Minazuki hanya mampu berkelit sedikit.

Wuttt! Crasss...!

"Aaargh!"

Minazuki memekik keras. Tangan kanannya buntung sebatas sikut terbabat pedang besar laki-laki berkepala botak itu. Darah segar seketika berhamburan keluar dari tangan yang putus. Belum lagi laki-laki berkucir itu sempat berbuat sesuatu, kaki kanan laki-laki berkepala botak melayang cepat ke arah perutnya.

Bukkk...!

"Hugk...!"

Suara keluhan tertahan terdengar dari mulut Minazuki. Tubuhnya seketika terbungkuk. Dan di saat itulah, pedang besar lawan kembali menyambar. Maka...

Crasss...!

Tanpa sempat mengeluarkan suara lagi, tubuh Minazuki terkulai roboh. Dia tewas seketika dengan seluruh kepala terpisah dari badan.

Dan pada pertarungan lain, Tenma mengalami nasib yang sama. Dia tewas dengan perut tertancap pedang hingga tembus ke punggung.

Tanpa menghiraukan mayat korbannya, kedua orang perampok itu bergegas menyusul rekan-rekannya yang telah menyebar maut di sepanjang jalan desa.

Gerombolan perampok anak buah Tsunade bertindak tak kepalang tanggung. Mereka merampok dan melakukan penculikan

Penduduk yang dilanda ketakutan tidak bisa berbuat lebih. Hanya suara ibu-ibu yang berteriak karena wanita-wanita juga diseret ke luar. Mereka akan dibawa ke tempat tinggal para perampok untuk dijadikan pemuas nafsu mereka.

...

-SSS-

...

Sasuke bangun dan menatap Sakura yang nyaman tidur dalam pelukannyar, padahal matahari sudah menghangat mengintip di balik celah dinding. Namun itu tidak mengganggu Sakura yang masih tidur dengan nyenyak. Sasuke menggeleng kepala, hampir seharian kemarin mereka melakukan perjalanan, belum lagi yang sebelumnya sempat bertarung dengan beberapa pria yang menginginkan kematiannya.

Sasuke seperti tersentak, suara keributan di luar terdengar ramai. Maka perlahan Sasuke melepaskan pelukannya agar tidak menganggu tidur Sakura.

Segera ia menuju sumber keributan tadi. Sasuke heran mendapati pemandangan hampir di sepanjang jalan desa itu.

Tempat Sasuke menginap memang tidak terkena imbasnya karena ia berada jauh dari jalan utama.

"Toloong!... tolonglah tuan?" seru salah seorang saat Sasuke yang baru tiba di tempat sumber keributan.

"Apa yang terjadi?" Sasuke melihat sekeliling, banyak orang terutama kaum ibu tampak sedang menangis sambil memanggil-manggil nama seseorang.

Tampak pula di sampiing ibu-ibu itu terdapat lelaki yang nampak sedang menenangkan para ibu. Ini bisa di tebak kalau para lelaki itu adalah suami mereka masing-masing.

"Mereka perampok, membunuh dan merampas barang-barang kami. Mereka juga membawa beberapa gadis" suara sesorang lainnya, jika di lihat pria itu mungkin seorang pedagang.

"Mereka berlari kearah sana, Tuan!" potong pedagang itu lagi. Ia menunjukan tangan ke jalan keluar dari desa.

Mengertilah Sasuke, kenapa orang-orang terutama ibu-ibu itu menangis histeris, karena mereka adalah orang tua yang di culik anaknya.

Di tambah lagi, dengan ringkihan orang yang terluka. Atau orang-orang, yang menangis di samping mayat yang tergeletak.

Tanpa menunggu lebih lama, Sasuke langsung mencelat dan menyusul para penunggang kuda yang yang di maksud oleh penduduk sebagai perampok.

...

...

...

TO BE CONTINUE