Kirara967 :
Iya nih, padahal udah lama lho, nunggu jejak kaki eh… jejak jari-jarinya. :D
Emang benar, kakek yg di maksud Shion adalh Naru. Uhmmm… kalo Sasu dan Hikari ketemu, bukan lagi kaget, tapi berantem. Kenapa berantem? yah.. karena… di rahasiain dulu :v (masih dalam tahap konsep). Thx ya
Ohshyn76:
Sorry yak, agak telat, habis fight for future soalnya.
.
.
.
Konflik
…
…
…
Sekelompok orang berkuda terlihat sedang membawa barang rampasan yang mereka tempatkan di atas beberapa ekor kuda. Mereka seperti memaksa kudanya berlari di luar kemampuan dari kuda-kuda itu. Tidak hanya rampasan berupa harta. Hampir dari setiap pengendara kuda itu membawa gadis-gadis yang sempat mereka culik.
Mereka memang sengaja menculik, para pengendara kuda itu berencana akan menjual para gadis itu menjadi pelacur setelah mereka merenggut kehormatan mereka.
Para kuda itu sontak menghentikan larinya karena kaget. Bahkan karena saking kagetnya, kuda-kuda itu berhenti sambil mengangkat kaki depannya. Yang tidak sempat mejaga keseimbangan langsung terjatuh dari kudanya, namun ada juga beberapa yang masih bisa mengendalikan kudanya.
"Aku menyesal melepaskan kalian kemarin" nada Sasuke mendengus sambil menatap tajam pada orang-orang yang berada di depannya.
Para penunggang kuda itu tergetar melihat siapa yang telah berdiri dan menghadang mereka. Mereka sudah lihat sepak terjang Sasuke, dan mereka yakin kalau mereka akan di habisi oleh pemuda penghadang mereka.
Merasa sudah tidak mungkin lari, si pemimpin yang berpakaian hitam, memberanikan diri. Dia dan beberapa bawahannya yang memiliki kemampuan melebihi yang lain bergerak secara bersamaan mengeroyok Sasuke.
Salah satu di antaranya langsung mencerca Sasuke. Sasuke dengan mudah mengelak dan menangkap tangan penyerangnya. Sasuke membetot tangan lawannya hingga terhuyung ke depan. Dengan secepat kilat kakinya di angkat dan mengenai perut lawannya.
Dess!
"Ukh!"
Tubuh lawannya terangkat ke atas.
Trass!
Pedang tajam Sasuke sudah membelah pinggang lawannya menjadi dua bagian.
Pemimpin gerombolan itu melotot tidak percaya. Nyaris tidak kelihatan olehnya, dan tiba-tiba saja tubuh rekannya sudah terbelah dua.
Crass!
Mata pemimpin perampok itu mendelik, Sasuke sudah berdiri di belakangnya. Sedetik kemudian, kepala perampok itu sudah menggelinding. Darah kembali memancar dari potongan leher si pemimpin.
Sasuke menatap tajam pada perampok yang sudah kehilangan pemimpinnya.
"Kyaaa..." salah seorang gadis yang di culik menjerit histeris. Bagaimana tidak, kepala orang yang menyanderanya sudah menggelinding tanpa ia duga.
Tidak hanya si botak itu saja, yang lainnya juga mengalami hal yang kurang lebih hampir sama.
Ternyata Sasuke sudah menggunakan jutsu Gerak Kilatnya, untuk membantai para perampok. Memang kepandaian hebat yang mereka miliki, tentunya memiliki keterbatasan. Kecepatan Sasuke yang bergerak secepat kilat di antara mereka meruntuhkan kehebatan yang mereka miliki.
Breeet! Breet!
"Aaaah..."
Terdengarlah jerit kematian yang susul menyusul berbarengan dengan tubuh perampok yang belum sempat bertindak.
Darah segera bercipratan menyertai kilatan pedang yang tergenggam di tangan Sasuke.
Sasuke menarik nafas perlahan sambil mendekati para gadis yang masih terikat dan ketakutan.
"Sebaiknya kalian pulang. Kalian tahu jalan kan?" Ujar Sasuke setelah membuka ikatan dan menenangkan para gadis itu.
"Ta... tapi Tuan. Kami takut jika mereka datang lagi" sahut salah satunya.
"Apakah di antara mereka tadi, ada yang mengambil jurusan lain?"
Setelah berfikir, "Ku rasa memang tidak ada tuan" jawabnya jujur.
"Kalau begitu, tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan"
"Ta... tapi.."
"Aku tidak bisa mengantar kalian, ada yang harus ku lakukan" Sasuke menduga keinginan para gadis itu.
"Baiklah, Terimakasih Tuan" sahut gadis itu menunduk. Dari nadanya jelas ia sangat kecewa karena keinginannya berjalan di temani Sasuke, tidak jadi.
"Aa! Pulanglah!"
Usai berkata demikian Sasuke meninggalkan para gadis itu.
Sasuke bukannya tidak ingin menemani para gadis itu, hanya saja ia tak ingin terlalu mencolok. Makanya ia mengambil arah lain. Menuju rumah tempat ia meninggalkan Sakura yang masih tertidur.
...
...
...
Hikari memeluk Tsunade dan mengulum bibir nya perlahan.
"Emmpp!"
Keduanya saling mengecup dann menghisap dalam gairah tinggi. Jemari Hikari meremas bongkahan pantat dan tangan lainnya meremas perlahan payudara Tsunade. Hingga akhirnya bibir keduanya terpisah.
"Kau pernah melakukan di hutan?" tanya Hikari.
Tsunade yang wajahnya sudah memerah cuma menggelengkan kepala.
Sebelum melanjutkan kegiatannya, keduanya di kagetkan oleh suara elang. Keduanya menatap ke atas langit, dan keduanya yakin kalau itu adalah Si Pembawa Pesan.
Elang itu perlahan dan hinggap di dahan rendah yang bisa di raih oleh Tsunade.
Hikari dan Tsunade saling tatap dan menganggukan kepala.
"Ayo!" Hikari menarik tangan Tsunade.
"Hikari, sebaiknya selesaikan dulu" Rupanya Birahi Tsunade belum reda. Tentu saja Hikari tidak tinggal diam, ia pasti menuruti keinginan yang akan mengantar mereka ke gerbang kenikmatan.
...
-SSS-
...
Sakura bangun, mendapati Sasuke tidak ada di sampingnya. Ia bangkit buru-buru memakai pakaian dan menanyakan pada pria tua pemilik rumah, namun di jawab dengan gelengan kepala.
"Maaf Nona, dari pagi-pagi aku harus meninggalkan rumah untuk mengetahui keadaan ternakku. Akhir-akhir ini hewan liar memangsa hewan ternak. Cobalah tanyakan pada isteriku" terang orang tua pemilik rumah.
Sakura mengangguk, ia hanya segera menemui perempuan tua yang di maksud. Dan perempuan isteri pemilik rumah menerangkan bahwa Sasuke baru saja mengejar pasukan berkuda yang datang mengacau di sepanjang jalan. Dan mereka menuju ke arah hutan.
Setelah mendengar keterangan si pemilik rumah, Sakura pun bergerak hendak menuju hutan, arah Sasuke mengejar para rombongan berkuda.
"Mau kemana Nona?"
Sakura menghentikan langkahnya, "Aku ingin menyusul kekasihku"
"Tapi, tadi kekasih anda minta supaya Nona menunggunya"
"Tidak apa-apa. Katakan padanya jika kembali agar menungguku" Sakura melenggang pergi, tanpa menghiraukan panggilan wanita tua tadi.
Sesuai petunjuk para penduduk, Sakura mengikuti kemana Sasuke mengejar para perampok.
Begitu memasuki pinggiran hutan, Sakura tiba-tiba saja seperti dikagetkan sesuatu. Ternyata ia baru sadar kalau ia baru saja bangun tidur. Pantas saja ada beberapa penduduk menatapnya heran. Sakura sempat menertawakan diri, setelahnya ia memerah karena rasa malu.
Ia merasa malu, selain karena penampilannya yang berantakan. Ia juga bangun kesiangan, di mana semua orang hendak istrahat dari bekerja, ia baru bangun.
Tidak jauh dari tempat itu, terdapat aliran sungai yang menjadi sumber air utama bagi para penduduk. Airnya sangat bersih dan bening.
Di tepi sungai itulah Sakura merapikan diri sekaligus juga membersihkan diri.
Sakura heran dengan suara aneh yang ia dengar dari balik rimbunan semak-semak yang tidak jauh dari tempatnya. Suara tersebut terdengar berasal dari dua orang beda gender.
Sakura cuma mengangkat bahu, ia memang tidak berniat mengganggu orang yang bersenang-senang di balik rimbunan semak itu.
Awalnya Sakura tidak menggubris. Tapi suara erangan yang terdengar adalah suara yang sangat ia kenal. Sakura makin menautkan alis, ia ingin memperjelas indera pendengarannya, memastikan suara desahan terkadang mengerang.
Ia makin penasaran, karena suara yang ia dengar memang adalah suara milik Sasuke. Dengan perlahan Sakura menuju sumber suara.
Semakin dekat semakin jelaslah suara itu, dan jelas itu memang suara Sasuke.
Sakura berhenti sesaat. Hatinya terasa perih, dan ia berharap orang yang berada di balik semak itu cuma memiliki suara seperti Sasuke.
Sakura semakin berdegup kencang, ia makin berdoa semoga yang berada di balik semak itu bukan Sasuke.
Sakura menyibak semak tempat ia akan mengintip.
Deg.
Jantung Sakura terasa berhenti berdetak. Apa yang ia takutkan benar-benar terjadi.
Di balik semak itu, ia melihat Sasuke yang sedang menindih seorang wanita yang juga ia kenal, Tsunade.
"Sasuke!" bentak Sakura dan menampakan diri.
Kedua orang yang sedang meraih puncak kenikmatan itu, buru-buru menghentikan kegiatannya karena di kagetkan. Mungkin karena merasa terlanjur, mereka pun tidak berusaha menutupi area intim mereka. Keduanya cuma menatap Sakura dengan wajah kebingungan
Sakura menggeleng kepala, berharap kejadian di depannya hanyalah ilusi. Air matanya tidak bisa di bendung lagi. Sakura sekilas menatap sekujur tubuh si pria dari atas kebawah.
"Kau.. Bajingan kau Sasuke!" teriak Sakura.
Sakura memutar tubuh sambil berlari dan masih memperdengarkan tangisannya.
"Hikari..." Seru Tsunade seperti baru tersadar, "Dia Sakura"
...
-SSS-
...
Setelah membebaskan para gadis, Sasuke mengambil jurusan lain. Ia memang sengaja tidak ingin menyertai gadis-gadis itu pulang.
Sasuke menautkan alis, ia melihat Sakura dari jauh yang sedang berlari dan tampak mengusap air mata.
"Sakura" Panggil Sasuke saat Sakura mendekat. Ia pun segera berdiri di hadapannya.
"Apa lagi yang ingin kau katakan brengsek" makin meledaklah tangisan Sakura.
Sasuke yang bingung belum bisa melakukan apa-apa. Ia tetap berdiri di depan Sakura.
"Sakura, apa yang terjadi denganmu?" Sasuke bertambah heran dengan maksud perkataan Sakura
"Apa yang terjadi?! Kau ingin mengatakan kalau semua salah paham. Atau kau ingin pura-pura tidak melakukan tindakan bejatmu!" bentak Sakura.
Sasuke meraih tangan Sakura, dan ia makin kaget, Sakura bukannya menurut, tapi justeru menepis dengan kasar.
"Sakura, aku tidak..."
Plakk!
Tamparan keras mendarat di pipi Sasuke. Saking kerasnya tamparan Sakura, tubuh Sasuke juga ikut memutar.
"Isilah rahim wanita yang kau sukai sebanyak mungkin, brengsek!" Sakura berlari meninggalkan Sasuke yang masih berdiri terpaku.
Sasuke yang dilanda kebingungan, cuma terpana menyaksikan kepergian Sakura. Ia ingin mengejar Sakura, tapi kakinya seperti terpaku.
Otot-otot di tubuhnya seperti sudah kaku, melihat penampilan Sakura yang kelihatan hancur.
"Sakura..." Sasuke mendesis.
Sasuke menggeleng menyadarkan dirinya dari keterpanaan. Ia segera memanggil dan menyusul Sakura.
...
-SSS-
...
Seorang gadis bergaun qipao merah muda berlari-lari sambil terisak-isak sedih. Sepasang tangan yang ramping menutupi wajahnya. Dari sela-sela jari tangan mengalir butiran-butiran air
bening.
"Sasuke...," keluhnya dengan kedua bahu terguncang.
Perlahan-lahan jari-jemari tangannya turun ke bawah. Ternyata gadis itu adalah Sakura yang melarikan diri menjauh dari Sasuke. Wajahnya yang cantik itu agak pucat. Sepasang matanya membengkak karena terlalu banyak menangis.
Dalam Cinta
Ada Suka dan duka
Keduanya merupakan saudara.
Tangis dan tawa tak dapat dipisah.
Tertawalah selagi suka.
Menangislah jika kau berduka.
Meskipun tangis melegakan dada,
tapi... dapatkah ia memecahkan masalah?
Sakura menghentikan larinya ketika mendengar suara syair yang menyentuh hati. Dan dia pun tahu kalau nyanyian itu sengaja dituju kan kepadanya. Karena saat itu hanya dialah yang berada di tempat sepi ini. Dan hanya dia sendiri yang sedang menangis.
Gadis cantik itu mengedarkan pandangan mencari-cari asal suara dengan hati geram. Sakura merasa sangat tersinggung dengan orang yang bersyair tadi.
"Siapa pun adanya kau. Keluarlah! Jangan hanya bisa menertawakan kesusahan orang lain!" teriak Sakura sengit.
Rasa duka yang dihadapi membuat Sakura mudah tersinggung. Tapi sampai sekian lama Sakura menunggu, tak seorang pun yang muncul. Tentu saja hal itu membuatnya semakin jengkel. Sakura yang sudah memaki-maki orang yang bernyanyi itu agar menutup mulut. Mata gadis cantik itu menatap tajam ke arah sosok yang berjalan kearahnya.
"Naruto...!"
Sepertinya Sakura makin kesal. Naruto berjalan ke arahnya sambil cengengesan.
"He he he... . Teruskanlah tangismu. Biar dadamu menjadi lega, dan pikiranmu terbuka," ucap sosok berambut kuning itu yang ternyata adalah Naruto.
Setelah berkali-kali didesak oleh Naruto.
"Sasuke..hiks... dia... dia...," Sakura tak mampu meneruskan ucapannya. Dadanya kembali terasa sesak begitu teringat pada Sasuke dan apa yang telah di lihatnya. Gadis jelita itu menarik napas dalam-dalam guna menghilangkan rasa sesak yang memenuhi dada.
"Apakah kalian berselisih?" tanya Naruto menduga.
Si pirang jabrik meraba-raba kesedihan yang dialami oleh wanita yang ada di depannya, pastilah
disebabkan perselisihan di antara mereka.
Sakura tidak langsung menjawab, ia kembali tetunduk menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tangisannya kembali di perdengarkan.
"Apa yang Sasuke telah lakukan?" tanya Naruto makin hati-hati.
"Sasuke..hiks..hik.. ternyata dia adalah laki-laki brengsek" lirih disela isak tangisnya yang tampak tidak mau berhenti.
Naruto makin menautkan alisnya, ia bisa saja menduga, tapi belum ia tanyakan.
"Cucumu benar, Sasuke adalah pria brengsek yang akan mencampakkan wanitanya jika sudah bosan.. hiks.."
"Sakura, jangan pernah mempercayai ucapan Ino"
"Tapi aku sudah menyaksikan perbuatan brengsek Sasuke.. hikss.. mungkin Ino juga adalah kekasih yang di campakan oleh si brengsek itu" Suara Sakura meninggi di sertai tangisan yang tidak berhenti.
Sakura berlutut, masih menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Cairan bening itu nampak belum berhenti mengalir.
Naruto segera berjongkok sejajar dengan Sakura. Ia memegang bahu Sakura. Dan alangkah tercekat hati Naruto. Ia memegang bahu yang terasa begitu lembut dan terasa sangat lemah.
"Sakura aku belum mengerti, hanya saja mungkin yang kau lihat adalah tiruan atau orang yang mirip Sasuke atau..."
Sakura mengangkat wajahnya dan menatap Naruto.
"Jika yang kulihat adalah tiruan. Bisakah ia meniru sampai sedetil itu. Jika hanya orang lain yang mirip, adakah orang yang memiliki kemiripan mempunyai tanda lahir yang sama" Sakura masih kukuh dalam menyalahkan Sasuke, detik berikutnya ia menundukan kepala. Tangisannya masih keras terdengar sendu.
Naruto makin tidak tahan membiarkan Sakura dalam keadaan seperti itu. Perlahan dan hati-hati sekali Naruto meraih tubuh Sakura. Seakan jika ia berbuat kasar sedikit saja, maka tubuh itu akan hancur.
"Saku...ra..." Sasuke dari tadi mengejar dan memanggil-manggil nama Sakura, terhenti begitu saja. Ia menyaksikan bagaimana Sakura di peluk Naruto.
Dada Sasuke tiba-tiba terasa sesak, ia memejamkan mata tidak sanggup menyaksikan adegan yang tidaklah terlalu jauh di depannya.
Slatchs!
Sasuke menggunakan gerak kilatnya untuk melarikan diri.
...
-SSS-
...
"Hikari, kenapa wanita itu memanggilmu Sasuke? Kau mengenal dia?" tanya Tsunade lirih. Tanpa ia bendung lagi, cairan bening telah menggenang di sudut matanya.
"Tsunade" Hikari segera memeluk dan menghibur Tsunade, "Aku tidak mengenal dia" Hikari mulai membelai Tsunade dengan lembut.
Hikari bisa merasakan Tsunade dalam pelukannya sedikit memberontak.
Hikari seperti tersengat, "Kau ingat tuduhan Sasori padaku. Bisa saja, memang ada orang yang mirip denganku"
Tsunade mengangkat kepala, ia memperlihatkan wajah cantiknya yang telah basah oleh airmatanya.
"Tsunade, aku mencintaimu" Tatapnya sayu, " Baiklah! Kita akan menemukan Sakura, dan aku akan membunuhnya untukmu. Sebagai bukti kalau aku tidak mengenal dia" Ujar Hikari perlahan sambil mengusap air mata Tsunade.
Tsunade menganggukan kepala, ia segera merapatkan kepalanya di dada Hikari.
"Kalian masih bermesraan di sini? Bukannya kalian sedang mencari Sakura?"
Hikari dan Tsunade menoleh pada orang yang menegur mereka berdua.
"Jiraiya? Kenapa kau ada disini?" Hikari menautkan alis melihat kemunculan Jiraiya.
Jiraiya tidak langsung menjawab, ia malah menatap Tsunade yang tampak kalau ia baru saja menangis.
"Apa Hikari menyakitimu? Sudah kami bilang kalau dia itu..."
"Kau belum menjawab pertanyaanku!" bentak Hikari.
"Baik-baik... bawahanmu yang lain mengabariku kalau mereka telah bertemu Sakura. Kemungkinan Sakura dan kekasihnya menginap di salah satu desa yang terdekat di sekitar wilayah ini" jawab Jiraiya.
"Kami baru saja berjumpa dengan Sakura. Tapi yang aneh, dia memanggil Hikari dengan nama Sasuke" Tsunade menceritakan kejadian yang mereka alami ketika bertemu dengan Sakura.
"Lalu kenapa kalian tidak langsung menangkap mereka?" pertanyaan Jiraiya di tanggapi dengan pelototan Hikari.
"Oh, aku mengerti, kalian kedapatan sedang bercinta bukan?" Jiraiya tertawa keras yang hanya di tanggapi sekali lagi oleh Hikari dan Tsunade dengan diam.
"Tapi" Jiraiya menghentikan tawanya, "Merunut semua kejadian belakangan ini. Itu artinya Hikari bisa saja memiliki orang yang mirip dengannya. Nah! Kalau kalian bermasalah. Bisa saja mereka juga sedang konflik. Itu artinya, mereka kemungkinan sudah terpisah, dengan demikian, kita akan lebih mudah meringkus Sakura" Jiraiya menatap Tsunade.
Tsunade jadi kelihatan sedikit kelabakan, ia ingat janjinya pada Jiraiya jika berhasil membunuh Sakura.
Tsunade menatap Hikari. Ia yakin Hikari akan pergi jika ia masih di tiduri oleh pria lain. Tsunade memejamkan mata sambil menghirup udara dalam-dalam. Terasa dadanya kembali sesak.
"Tsunade"
"Oh. Tidak apa-apa, ayo!" Tsunade segera menarik tangan Hikari menjauh. Sekarang ia sedang mencari akal agar tidak sampai terjatuh dalam masalah yang ia buat.
Jiraiya menyeringai sambil mengikuti mereka.
...
-SSS-
...
Sasuke melangkah dengan gontai, nampak kalau ia sama sekali tidak memiliki semangat. Sesekali ia terlihat sedikit membungkukan badan sambil meremas kain yang ada di dadanya. Wajahnya pun tampak meringis seperti sedang menahan kesakitan.
"Sakura.. brengsek kau!" gerutunya dengan tubuh terlihat mengeras.
"Kau meninggalkanku dan menuduhku macam-macam demi pria tua itu" Sasuke mengambil nafas dalam-dalam melonggarkan dadanya.
Tubuh Sasuke tiba-tiba tersungkur, sangat beruntung di depannya terdapat batang pohon sehingga ia sempat berpegangan pada batang pohon.
"Sakura, apa yang telah kau lakukan. Sihir apa yang telah kau tanam. Rasanya sangat Sakit" ia duduk sambil meringis dan memegangi dadanya. Nampak kalau ia mengambil nafasnya yang seperti tinggal satu-satu.
Sasuke memang merasakan kepedihan karena melihat Sakura telah berpelukan dengan Naruto. Ia sendiri merasa kalau rasa sakit yang ia alami sekarang, rasa sakit karena merasa di hianati ternyata melebihi rasa sakit ketika melihat keluarganya yang di bantai atau Karin yang mati di depan matanya.
Tubuhnya kembali tergetar, "Bebaskan aku pelacur!" teriaknya terdengar tercekik sambil memaki-maki.
Ia memang sengaja mengumpat menggunakan kata kotor, dengan harapan kalau umpatannya yang di tujukan pada Sakura, bisa mengurangi rasa perihnya. Tapi hasil yang ia dapat sama sekali tidak berpengaruh. Malah dadanya semakin sesak.
Sasuke akhirnya hanya bisa meluruskan kedua lututnya sambil menundukan kepala. Tubuhnya seakan tidak bisa lagi ia gerakan. Kedua tangannya seperti terkulai tak bertenaga.
"Ikh!" sekali lagi Sasuke hanya bisa mengeluh.
"Lepaskan aku dari sihirmu, pelacur brengsek!" ia memaki dengan suara seperti tercekik. Ia berusaha membangkitkan kebenciannya. Namun kenangan bersama Sakura seakan menghalangi kebenciannya, yang ada malah kerinduannya yang makin membuncah. Lagi-lagi Sasuke meremas dadanya menahan keperihannya.
"Sepertinya kau sedang kesakitan, Sasuke" Suara yang tampaknya pernah ia dengarkan sebelumnya, menyapanya.
Sasuke mengangkat kepala. Ia sedikit terkejut melihat siapa yang telah berdiri didepannya.
"Shion" desisnya.
"Sasuke. Kau sendirian? Sakura mana?"
Sasuke diam tidak menanggapi pertanyaan Shion yang bertubi-tubi.
"Kalian berpisah? Kenapa? Bukannya kalian adalah sepasang kekasih" Shion yang tidak tahu masalah malah menambah pertanyaan.
"Dia pergi. Dia bukan siapa-siapa, selain seorang pelacur" suaranya pelan dan terdengar serak.
Iris Shion membulat mendengar pernyataan Sasuke, "Tapi, waktu itu kan... Ah! Sudahlah. Dia memang cantik, pasti sangat laku"
Ucapan Shion seperti mengiris batin Sasuke. Entah itu pujian atau hinaan. Tapi yang pasti Sasuke seperti marah mendengar ucapan Shion. Hampir-hampir ia membentak Shion yang menyinggung soal Sakura.
"Kau kelihatan sakit" Shion mengamati Sasuke yang masih tertunduk lesuh di depannya.
Sasuke kembali diam.
Shion berjongkok di depan Sasuke, "Tuh kan, badanmu sedikit panas" sambil memegangi dahi Sasuke, "Kau pasti demam"
Shion baru ingat kalau ia memakai dua lapis pakaian, maka ia pun membuka pakaiannya.
"Nah. Istrahatlah" ia segera menutupi tubuh Sasuke dengan pakaiannya yang masih bersandar di pohon.
Sasuke tidak menolak. Badannya memang sudah terasa lemah tidak bertenaga. Ia malah menatap Shion yang berusaha agar semua badan Sasuke tertutupi oleh pakaiannya agar Sasuke menjadi hangat.
Melihat perhatian Shion, Sasuke mencoba untuk membangkitkan rasa sukanya pada Shion, agar rasa perihnya berkurang ataupun hilang. Namun tidak membuahkan hasil. Yang ada, bayangan Sakura malah muncul dan membangkitkan kerinduannya. Dan sekali lagi, rasa sakit kembali menghujam dadanya.
"Shion. Kau sudah berjumpa dengan kakekmu?"
"Belum"
"Seperti apa orangnya?" Sasuke berusaha mengalihkan ingatannya pada Sakura dengan mengobrol.
"Ha..ha..ha.." Shion malah tertawa mendengar pertanyaan Sasuke.
Sasuke menatap Shion.
"Jangan tersinggung, hanya saja jika ku beri tahu soal kakekku, kau pasti tidak percaya" Sasuke makin menautkan alisnya.
"Eumm.. oh iya. Kurasa kau pasti bisa percaya, kau kan seorang Ninja, kau pasti tahu banyak soal jenis-jenis Jutsu. Emm.. Kakekku itu masih kelihatan sangat muda karena jutsu anehnya, yah kelihatan seperti kita-kita ini" lanjut Shion dengan Santai.
Seharusnya Sasuke kaget mendengar pernyataan Shion. Tapi kali ini dia tidak menunjukan kekagetannya.
"Apakah dia benama Naruto?"
"Benar. Eh! Kau mengenal Kakekku?"
"Hn. Dia ada di sebelah sana" Sasuke menunjuk ke arah sebelah kirinya, " Sebaiknya kau menemui dia sekarang. Mungkin dia belum pergi jauh karena..." Sasuke tidak mampu lagi meneruskan ucapannya.
"Karena apa?"
"Bukan apa-apa" tergetarlah hati Sasuke, "Sebaiknya kau menemuinya sekarang"
"Dan meninggalkanmu yang sedang dalam sakit begini?" Sahion nampak keberatan jika meninggalkan Sasuke. Kalau saja Sasuke melihat tatapan Shion. Ia pasti bisa mengetahui kalau Shion menyukainya. Bagi Shion ini adalah kesempatan untuk mendapat perhatian Sasuke, karena tidak lagi mendapat tatapan cemburu dari Sakura.
"Aku tidak apa-apa Shion. Pergilah. Aku hanya kelelahan" Sasuke setengah mengusir.
Biar bagaimana pun, perhatian Shion padanya justeru semakin mengingatkan dia pada Sakura.
"Baiklah kalau kau memaksa. Tapi ini kan sudah sore. Kalau boleh, aku ingin menemanimu untuk malam ini saja. Sambil merawatmu, dan kuharap besok kau bisa sembuh" ujar Shion perlahan penuh kekecewaan.
...
-SSS-
...
Di tempat Naruto dan Sakura berada.
Sakura memang sudah mulai berhenti menangis, dan ia kini hanya menyisakan isaknya. Hanya saja tatapannya mulai kosong di balik kelopak matanya yang membengkak. Sakura terlihat sudah tidak memiliki gairah hidup lagi.
Sampai malam menjelang begini, Sakura dan Naruto belum berpindah dari tempat mereka bertemu siang tadi.
"Sakura" panggil Naruto hati-hati, "Makanlah sedikit" ia menyodorkan makanan pada Sakura.
"Sasuke... hiks..." Sakura malah melipat kakinya dan mengeratkan pelukannya pada kedua lututnya, "Kenapa kau lakukan ini padaku... hiks..hiks"
Naruto hanya menghela nafas panjang melihat Sakura berderai air mata. Ia tak habis pikir, sebesar apa cinta Sakura sampai ia terlihat sehancur itu.
Naruto yang biasanya doyan makan pun tidak menyentuh makanannya. Ia hanya menatap sedih pada Sakura.
Naruto akhirnya memutuskan untuk tidak mengajak Sakura untuk berbicara. Ia hanya memilih diam, meski kadang Sakura terdengar seperti meringis sambil menyebut nama Sasuke.
Naruto makin heran melihat Sakura, ia makin menyatukan alisnya ketika tangan Sakura perlahan dan gemetaran mencabut pedang pendeknya. Dengan tangan yang masih gemetaran, pedang itu ia arahkan pada jantungnya sendiri.
"Gila!" desis Naruto, "Sakura apa yang kau... Bodoh!" bentaknya ketika Naruto sudah menyadari kalau Sakura akan mengakhiri hidupnya sendiri.
Ia segera meraih benda tajam itu dari Sakura yang kelihatan sudah pasrah.
"Kembalikan padaku" Sakura kembali menangis, ia sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk meraih pedangnya yang di rampas oleh Naruto.
"Tidak!" Naruto membentak.
"Sakit..hikss..hikss" Sakura kembali meringis.
Sementara Naruto makin kebingungan, ia seperti sudah kehabisan kata untuk menenangkan Sakura.
"Aku tahu Sakura. tapi kumohon gunakanlah sedikit akalmu tentang hubungan kalian. Aku tidak ingin jika nantinya salah satu dari kalian menemui penyesalan"
Naruto kini cuma bisa menjaga dan mengawasi Sakura yang dari tadi menangis.
Naruto sendiri tidak tahu kenapa sekarang ia menjadi begitu perhatian pada Sakura. Padahal, pertemuan pertama mereka, Naruto sama sekali tidak peduli pada Sakura maupun Sasuke.
...
-SSS-
...
Di tengah malam, Sasuke menatap Shion yang sedang terlelap tidur. Ia memang memilih untuk meninggalkan Shion, karena keberadaan Shion justeru selalu mengingatkan dirinya pada Sakura.
Dengan langkah lunglai karena sudah merasa tidak memiliki tenaga, ia segera meninggalkan Shion.
Pagi Hari Shion sudah bangun tanpa menemukan Sasuke yang semalam masih bersandar di bawah pohon. Ia sendiri mengutuki dirinya, kenapa ia malah tertidur, pada hal ia memang sudah berencana untuk tetap mengamati Sasuke.
Shion menghembuskan nafas kuat-kuat, membuang kekecewaan dan rasa kesalnya.
Akhirnya Shion memilih untuk mengikuti petunjuk Sasuke mengenai keberadaan Naruto, kakeknya.
Dan benar saja seperti kata Sasuke. Tidak terlalu lama mencari kakeknya, Shion menjumpai Naruto sedang duduk. Di sampingnya terdapat seseorang yang sedang duduk meringkuk sambil memeluk kedua lututnya.
Shion memperhatikan orang itu lekat-lekat, jelas kalau warna rambut itu pernah ia jumpai sebelumnya.
"Kakek" panggil Shion sambil berlari menuju Naruto. Untuk sementara ia mengabaikan orang yang berada di depan Naruto.
"Shion, Kenapa kau bisa berada di sini?" Naruto malah bertanya.
Shion cuma cengengesan mendapat pertanyaan dari Naruto.
Naruto menggerutu kesal pada cucunya yang tidak menjawab pertanyaannya.
Shion menatap rambut merah muda yang duduk memeluk lutut dengan kepala di tundukan. Ia yakin kalau it adalah Sakura, dan ia heran karena Sakura justeru bersama Kakeknya. Dan ketika hendak berbicara.
"Ssst!" Naruto menaruh telunjuknya di depan bibir, ketika Shion hendak berbicara pada Sakura.
Shion menatap Naruto mempertanyakan maksud kakeknya melarangnya berbicara pada Sakura.
"Jika kau berbicara padanya, dia akan menangis lagi. Berisik tahu" bisik Naruto pada Shion.
"Kenapa? Ada yang ingin aku bicarakan padanya" Shion balas berbisik.
Shion tetap ngotot ingin menyampaikan sesuatu pada Sakura, "Sakura kemarin Sasuke..."
"Hiks..hiks.." mendengar nama Sasuke, meledaklah kembali tangisan Sakura.
Bletak!
Naruto menjitak kepala cucunya ini, " Sudah kubilang jangan mengajak berbicara. Dasar bodoh" bisiknya lagi pada cucunya.
"Kalau begini, kapan dia berhenti? Atau ada cara menghentikan tangisnya?" Shion kembali balas berbisik.
"Kita harus menunggu sampai dia tertidur"
"Kapan?"
"Kalau dia lelah menangis"
Shion menatap Sakura, ia mulai menarik benang merah sejak pertemuannya dengan Sasuke. Shion tampak mengangguk.
"Kenapa lagi, Bocah!" tanya Naruto sambil berbisik.
"Aku mengerti" jawab Shion.
Memang, Shion mulai mengerti kejadian yang menimpa Sasuke maupun Sakura.
"Kau mengerti apa?"
"Kalau sesuatu telah terjadi pada mereka yang sebenarnya sepasang kekasih", Shion tidak lagi berbisik. Ia sengaja memperdengarkan suaranya pada Sakura.
Mata Naruto malah membelalak, mempertanyakan maksudnya menyinggung hubungan Sasuke dan Sakura.
"Aku bertemu dengan Sasuke yang sedang sendirian, dan ia juga tampak seperti seorang pesakitan" Imbuh Shion.
"Dia seperti itu karena tidak mendapat wanita lagi.. hiks.." suara Sakura terdengar merintih sambil menangis.
Bletak!
"Dasar bodoh!" geram Naruto.
"Maaf. Aku memang tidak tahu apa yang terjadi. Tapi aku yakin di antara mereka hanya terjadi salah paham" balas Shion.
...
-SSS-
...
Tiga sosok tubuh nampak berjalan biasa, menembus tengah hutan di siang hari yang redup itu. Tiga sosok tubuh itu ternyata adalah Tsunade, Hikari dan Jiraiya yang kali ini memilih berjalan dengan sepasang kekasih itu.
"Tentang Sakura ini, sebenarnya apa yang membuatmu begitu dendam padannya?" pertanyaan Hikari di tujukan pada Tsunade yang masih menggenggam tangannya.
Tsunade tidak langsung menjawab. Ia malah menatap pada Jiraiya yang berjalan sedikit di depannya. Sebenarnya Tsunade sudah tidak berminat lagi memburu Sakura.
"Itu.." Katanya sedikit tersendat, "Karena..."
"Lihat!" potong Jiraiya, "Lihat gadis yang di sana" telunjuknya mengarah kedepan.
Tidak jauh di depan mereka memang terdapat juga tiga orang yang sedang duduk. Dua di antaranya menghadap pada sosok surai merah mudah yang duduk meringkuk menundukan kepala.
"Sepertinya itu Sakura..." tanpa menunggu tanggapan dari Tsunade ataupun Hikari ia melesat mendahului keduanya.
...
...
...
TO BE CONTINUE
