Khoerun904 :
Ha..ha..ha.. bukan lagi gemesin, ngeselin malah. Masa masalah sepele aja berantem. Eh.. tapi kalo ane di posisi Saku, ane juga pasti nggak ragu nuduh. Kan Sasu nggak pernah cerita, kalo punya saudara kembar. Wajar dong.
Tenang, di chap ini udah selesai konflik SasuSakunya. Nggak suka juga sih bikin konflik berkepanjangan.
.
.
.
Sedetik Yang mengubah Segalanya
.
.
.
"Benar kan? dia yang bernama Sakura, Tsunade?" sontak Naruto dan Shion menoleh pada sumber suara yang yang menyebutkan nama Sakura.
Keduanya nampak terbelalak, sesorang yang mereka kenal atau lebih tepatnya Sasuke, datang dan bergandengan tangan dengan wanita lain.
"Diakah Sakura, Tsunade?" Hikari menatap Sakura yang masih duduk sambil memeluk kedua lututnya.
"Apakah ia memang harus di bunuh?" Hikari sebenarnya tidak sampai hati membunuh Sakura yang kelihatan dalam keterpurukan.
"Kenapa Hikari. Kau tidak mau?" Usai berkata demikian, detik itu juga Jiraiya melompat langsung menerjang Sakura yang sama sekali tidak dalam posisi siap tarung.
Wuuts!
Plakk!
Dan detik itu pula Naruto bergerak cepat menepis pukulan Jiraiya.
"Hebat" Jiraiya mau tidak mau memuji Naruto yang bergerak sangat cepat. Maka di tariknya pulang pukulan yang tadi di arahkan menuju Sakura. Jiraiya memutar tubuh, tangan kanannya menuju pelipis Naruto.
Plakk!
Lagi-lagi Jiraiya memuji, gerakannya yang mengagumkan dan kecepatan Naruto bisa mengimbangi dirinya. Kenyataan yang di hadapi ini membuat ia kagum.
"Hikari, kuharap kau tidak mengganggu pekerjaanku" serunya tanpa menoleh pada orang yang ia maksud.
Hikari cuma bisa mengangkat bahu, ia memang tidak berniat bertarung dengan siapa pun. Tujuannya adalah menangkap Sakura. Dalam hatinya ia tak ingin membunuh Sakura begitu saja, ia ingin memiliki alasan kenapa Sakura harus di bunuh.
"Shion, Mundurlah orang ini sangat kuat"
Usai berkata seperti itu, Naruto segera menggebrak menuju Jiraiya. Berikutnya kedua nya bertarung dengan menggunakan Taijutsu.
"Sasuke" Panggil Shion pada Hikari, "Lihat hasil perbuatanmu brengsek" Serunya sambil menunjuk pada Sakura yang masih nampak tidak peduli dengan suara-suara pertarungan.
Yang pasti, Sakura yang tadi mulai tenang, kini kembali terganggu. Bahunya kembali kelihatan terguncang.
"Aku bukan Sasuke" jawab Hikari masih tidak bergeming. Dan jelas sekali kalau ia menatap kasihan pada Sakura. Namun ia heran kenapa orang-orang itu memanggilnya Sasuke. Dan yang membuat ia makin heran, kenapa gadis blonde di depannya menyalahkan dirinya.
"Bajingan kau Sasuke" Shion menggeram, "Aku bersyukur tidak jatuh dalam pelukanmu. Karena kau manusia brengsek yang pernah kutemui"
Shion tidak mau basa-basi lagi. Ia langsung menerjang Hikari. Pukulan keras Shion langsung mengarah pada leher Hikari.
Pemuda tampan itu mendengus, telapak tangannya di angkat untuk memapaki serangan Shion.
Plakk!
"Uuuuh"
Kaget bukan main hati Shion. Pukulan kerasnya dengan mudah di papaki oleh lawannya hanya dengan satu tangan. Sadarlah gadis cantik itu kalau orang yang di lawan ini sangat kuat melebihi dirinya.
Wusst!
Usai memapaki serangan Shion. Tangan kiri Hikari meliuk sedikit, kemudian meluncur deras menuju bagian dada Shion.
Duk!
"Aaah"
Tubuh Shion terhuyung, dalam keadaan seperti itu, Hikari kembali menyusul serangan bertubi-tubi dan semuanya mengenai dengan tepat tubuh Shion.
Shion terlempar, tubuhnya terus berguling hingga terhenti ketika membentur tubuh Sakura yang masih tidak bergeming.
"Aku tidak berniat membunuhmu. Jadi minggirlah, urusanku dengan Sakura"
"Sasuke" ringisan Shion, "Kenapa kau menyakiti Sakura yang sangat mencintaimu" Rasa sakit di tubuhnya, membuat ia seperti memaksakan suaranya keluar dari kerongkongan.
Tubuh Shion tidak mampu lagi bergerak. Serangan Hikari yang mengenainya berkali-kali membuat tubuhnya terasa remuk.
Mendengar suara orang yang berbicara, Sakura segera mengangkat kepala.
Sakura menatap Tsunade dan Hikari yang Sakura kira adalah Sasuke, secara bergantian. Perlahan, dengan tangan yang gemetaran, ia mengambil pedang Shion yang terlepas dari genggaman.
"Kau!" geram Sakura, "Kembalikan Sasukeku, jalang" jeritnya tiba-tiba kalap.
Sakura menerjang menyabetkan pedangnya menuju leher Tsunade.
Beberapa senti sebelum pedang di tangan Sakura merobek leher Tsunade, Hikari bergerak cepat melebihi kecepatan Sakura.
Dess!
Hikari mengangkat lutut hingga mengenai perut Sakura.
"Uhk!"
Sakura mengeluh, tubuhnya terbungkuk mendapat sodoran kaki dari Hikari. Tidak cukup sampai di situ, hikari memutar tubuh sambil melayangkan tendangan dan mengenai dada Sakura.
Duak!
Sakura tidak sempat lagi mengeluh, dua serangan cepat mengenai tubuhnya. Sakura terlempar
"Kembalikan Sasuke-ku.. hiiks... apa yang kau lakukan padanya" Sakit hati Sakura melebihi sakit akibat tendangan padanya barusan. Anggapannya, begitu teganya Sasuke melukai, dan akan membunuhnya, hanya demi seorang Tsunade.
Sakura hanya bisa menangisi Sasuke. Bahkan Sasuke begitu gampang melupakan dirinya.
"Sakura..!" teriak Naruto yang masih sibuk bertarung dengan Jiraiya. Ia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menolong Sakura.
Wutt!
Sepakan Jiraiya hampir saja mengenai batang leher Naruto. Beruntung ia masih sempat menekuk lutut sehingga serangan Jiraiya lewat di atas kepalanya.
Wuss!
Naruto mendorong kedua tangannya kedepan sehingga terciptalah pusaran tornado meluncur menuju Jiraiya. Jiraiya tidak ingin kecolongan ia segera melompat menghindar.
Namun di saat bersamaan, Hikari, meskipun sempat tercekat dengan tangisan pilu Sakura yang nampak tidak berdaya. Tapi menyaksikan Sakura yang tadi hampir membunuh Tsunade, membuat Hikari yakin untuk membunuh Sakura.
Hikari mengusap pedangnya dari pangkal ke ujung, hingga pedang itu diselimuti api hitam.
Shion menyadari adanya aura membunuh dari pria itu, "Sasuke… kumohon hentikan, Sakura sangat mencintaimu", serunya panik. Suaranya lagi-lagi terdengar di paksakan.
Hikari pun bergerak cepat mengayunkan pedangnya yang sudah di selimuti api hitam menuju tubuh Sakura.
"Sakura.." teriak Naruto dan Shion secara bersamaan. Mereka sudah tidak sempat lagi menolong Sakura.
Sementara Sakura sudah pasrah untuk mati di tangan orang yang dia cintai tapi ingin membunuhnya. Ia memejamkan matanya. Akan tetapi...
Trang!
Suara benturan memekakkan telinga. Menandakan betapa kuatnya orang yang memegang kedua pedang yang berbenturan itu.
Sakura yang menunggu ajal membuka matanya. Dan betapa dia terkesima, setelah tahu siapa yang telah menolongnya.
Tidak hanya Sakura, semua orang yang ada di situ menjadi tercekat. Bagaimana tidak, di depan mereka saling berhadapan dua orang yang sangat mirip. Dan tidak ada bedanya sedikitpun. Pertarungan pun di hentikan sesaat.
"Siapa kau!" Sasuke dan Hikari hampir bersamaan. Keduanya saling tatap tajam.
Dari cara mereka saling tatap, jelas keduanya sama-sama menyembunyikan rasa kaget.
Sasukelah yang paling kaget, ia tidak pernah menduga kalau ada orang yang sangat mirip dengannya, bahkan ia tadi sempat melihat kalau pria di depannya itu memiliki Jutsu yang sama dengannya. Sesuatu yang sangat tidak masuk akal menurutnya. Di dalam klan Uchiha, masing-masing menggunakan api hitam dengan cara yang berbeda, seingat Sasuke tidak ada Uchiha yang mengendalikan api hitam dengan cara yang sama, bahkan jika andai mereka kembar sekalipun. Tapi untuk yang satu ini, sangat mirip caranya menggunakan api hitam.
Naruto segera berpindah tempat menuju Sakura dan membantunya berdiri.
"Namaku Hino Hikari" Hikari lah yang pertama kali memperkenalakn diri, "Dan Kau?"
"Uchiha Sasuke"
Jelaslah bagi Sakura, kalau orang yang pernah ia lihat sedang bercinta dengan Tsunade bukanlah Sasuke. Melainkan orang yang sangat mirip dengan Sasuke.
"Kenapa kau menghalangiku" tanya Hikari.
"Karena kau ingin membunuh Sakura. lalu bagaiman denganmu, dendam apa sehingga kau ingin membunuh Sakura" Sasuke balik bertanya.
"Tadinya aku tidak berminat membunuhnya, tapi dia hampir membunuh kekasihku" jawab Hikari, "Apa benar kau adalah kekasih Sakura?"
Sementara itu, Naruto yang tadi membantu Sakura berdiri, menjadi lupa melepaskan pegangannya karena masih terpana dengan apa yang di lihatnya.
Sasuke tidak langsung menjawab, ia menatap pada Sakura. wajahnya merah padam, begitu melihat Sakura dan Naruto berpegangan tangan.
Sadar dengan hal itu, Naruto buru-buru melepaskan pegangannya.
"Dia bukanlah lagi siapa-siapa. Tapi tidak akan kubiarkan kau membunuhnya sekarang, di depanku" jawab Sasuke yang sudah mengembalikan roman wajahnya semula.
Sakura yang mendengar ucapan Sasuke barusan membuat lututnya melemas. Bukan siapa-siapa? Apakah Sasuke sudah membencinya? Makin remuklah perasaannya. Hal yang ia takuti akhirnya terjadi juga. Sasuke akan meninggalkan dirinya. Ia pun menyesal telah menuduh Sasuke, tanpa mau mendengar penjelasan Sasuke tempo hari.
"Jadi kau ingin menghalangiku?" suara Hikari kembali terdengar, " Itu artinya, aku juga harus membunuhmu terlebih dahulu".
"Jiraiya mundurlah" perintah Hikari, "Tsunade, kau juga. Aku bisa mengatasinya"
"Hi..hikari.. hati-hati" nada Tsunade sangat khawatir.
Hikari mengangguk.
Sasuke dan Hikari sudah mulai menyiapkan serangan. Dan yang tambah aneh di antara mereka, kuda-kuda keduanya pun sama persis.
"Kagutsuchi" teriak keduanya.
Swuust!
Blarr!
Ledakan terjadi ketika dua energi di hasilkan dari api hitam saling berbenturan. Sasuke maupun Hikari sedikit oleng.
Menyadari kalau kemampuan mereka sama, maka kedua pria yang sangat mirip itu tidak mau tanggung-tanggung lagi.
Setelah memperbaiki posisi yang sempat oleng karena benturan tadi. Keduanya mulai saling serang dalam mode menggunakan Jutsu Gerak Kilat.
Masing-masing sudah saling menyadari kemampuan lawan. Maka serangan dari keduanya pun menghasilkan deru yang mencicit tajam.
Saling melancarkan serangan. Orang yang memiliki kesempatan menyerang terlebih dahulu, maka dialah yang menyerang bertubi-tubi seakan tidak ingin memberi kesempatan pada lawan.
Dan lawan yang di serang pun tidak mau kecolongan, yang di serang menahan sambil berfikir untuk menyerang balik.
Wuuut!
Wuuuss!
Blarrr!
Hebat dan mengerikan gelombang tenaga dahsyat Kagutsuchi yang berbenturan di udara. Akibat yang di derita oleh kedua petarung adalah sama-sama terlempar deras ke belakang.
"Hm!" kedua petarung yang mirip satu sama lain itu cuman bisa mendengus geram.
Sepasang mata mereka mencorong tajam menatap satu sama lain. Sambil mengeratkan genggaman pada pedang. Keduanya kembali saling serang.
Pertarungan keduanya makin hebat, kini tampaklah pertarungan mereka seperti dua bayangan putih yang saling tabrak. Tak jarang saling berkelit disertai dengan suara benturan pedang dan di sertai pula dengan percikan bunga api. Tidak jarang juga kedua bayangan itu seperti saling tumpang tindih.
Tempat di sekitar kedua petarung itu sudah berantakan seperti habis di landa badai. Bukan hanya itu, nyala api yang di awali dari Kagutsuchi yang tidak mengenai sasaran juga sudah bertebaran di berbagai tempat.
Bahkan petarung seperti Sakura, Naruto dan Jiraiya pun sulit mengikuti gerakan keduanya. Lain dengan Tsunade yang bukan petarung, bayangan putih yang saling bertubrukan itu membuat kepalanya malah pusing.
Dan pada satu ketika..
Trang! Tring!
Crass!
Kedua bayangan putih saling menjauh. Dan hasilnya, Sasuke maupun Hikari saling tatap dengan berlutut dengan salah satunya di tegakan. Nampak kalau keduanya memegangi dada masing-masing. Tapi meskipun demikian, keduanya menunjukan kalau masih siap bertarung.
Dan yang membingungkan sekarang adalah yang mana Sasuke dan yang mana Hikari.
"Hikari.. hentikan" teriak Tsunade panik begitu melihat darah dari luka yang tutup oleh kedua petarung dengan telapak tangan.
Tsunade bingung yang mana Hikari, tapi yang jelas ia panik karena, kedua petarung sudah sama-sama terluka
"Aku masih bisa, Tsunade" sahut salah satu di antaranya.
Tsunade menoleh pada yang bersuara tadi. Dan ia yakin kalau yang menjawab adalah Hikari.
"Ku mohon Hikari... cukup.. hentikan"
Melihat Tsunade yang menunjukan wajah kekhawatiran, Hikari berdiri tegak. Ia lalu bergerak cepat dan berdiri di samping Tsunade.
"Lain kali kita akan bertarung lagi, Sasuke" Hikari memeluk pinggang Tsunade, ia melirik Sakura sesaat dan berkelabat pergi.
Tinggallah Sasuke yang masih berada di tempatnya. Ia menatap pada Sakura dan Naruto penuh amarah.
"Sasuke..." Sakura mencoba mengatakan sesuatu, tapi Sasuke sudah menghilang dengan menggunakan gerak kilatnya.
"Jangan Sasuke.. maaf..." Sakura menutup mulutnya, ia benar-benar merasa bersalah pada Sasuke. Cairan bening asin tumpah dari pelupuk matanya. Bahunya tergetar melihat ke tempat Sasuke berdiri tadi.
"Sasuke.. maaf kan aku hiks..hiks.." tekanan yang ia rasakan membuat ia makin terguncang, ia tidak ragu lagi untuk menangis sendu. Sementara Naruto dan Shion tidak berkutik, ia bingung apa yang harus di perbuat.
...
-SSS-
...
Sasuke berjalan gontai, kedua kakinya tampak sudah tidak bisa di langkahkan lagi. Ia memutuskan untuk duduk dan bersandar di bawah pohon rindang. Rasa sepi, sesak dan rindunya pada Sakura. Pemuda tampan itu hanya bisa berusaha menekan kesedihannya dalam-dalam. Setiap kali ia mengingat merah muda pujaannya, hatinya seperti ditusuk-tusuk. Tapi di sisi lain, ia juga diliputi kebencian pada Sakura.
Semenjak merasa kehilangan Sakura, semangat pemuda itu nampak sudah tidak ada.
Datang dari jauh membawa duka.
Merambah hutan belantara
Dekat menebarkan luka.
Mencerca tanpa bersuara
Meski di hati dendam membara.
Mencari sang durjana penyebab sengsara.
Suara orang yang terdengar di seberang pohon tempat ia bersandar. Sasuke tercekat, ia merasa kalau tadi ia hanya sendirian di tempat itu.
Sasuke tampak merah padam, seolah syair yang di lantunkan orang tadi menyinggungnya. Tapi ia juga merasa nada dari orang yang melantunkan syair tadi, juga menyimpan duka yang mendalam.
Orang yang didengarkan tadi kembali melanjutkan syairnya sampai selesai.
"Semalam, aku tidur dengan bidadari. Dan begitu pagi hari dia pergi. 'CINTAKU', bisikku, saat kami berpelukan. 'PELACUR!' teriakku saat ia pergi meninggalkanku. Berapa banyak yang lain yang harus dia pilih selain aku. Dia menghibur yang lain, sementara aku berkorban dan hampa tanpanya" balas Sasuke dengan bersyair pula.
Terdengarlah dengusan dari orang yang pertama tadi melantunkan syair. Orang yang melantunkan syair tadi ternyata adalah Nagato. Bagi Nagato syair Sasuke sangat menyimpan cita rasa seni yang tinggi.
"Biasanya orang yang mendengar syairku, mereka akan memintaku untuk merubah syairku. Tapi beda denganmu, kau malah menambah 'seni' sedihku" Nagato berujar sambil memetik satu persatu dawai kecapinya dengan lembut.
"Hm, suaramu terdengar tidak asing, apakah kau…", Terdengar lah tawa kecil dari Nagato, "Ternyata kau baru menunjukan senimu yang selama ini kau sembunyikan. Tapi kuharap kau bukan dia. Sudikah kau mengatakan siapa namamu?", Nagato menoleh kebelakang, dan ia tahu ia tidak akan melihat orang yang di ajak bicara karena terhalang oleh batang pohon tempat ia bersandar pula.
"Aku tidak mengerti maksudmu dengan 'dia' yang kau sebut. Apakah nama begitu penting bagimu" jawab Sasuke.
"Tentu"
"Sasuke"
Nagato sedikit tertawa, "Ku pikir kau adalah dia, ternyata nasib kita sama sobat, kita telah kehilangan cinta"
Nagato mengambil jedah, ia menunggu tanggapan Sasuke.
Tapi karena tidak ada tanggapan dari Sasuke, maka Nagato melanjutkan, "Bedanya, cintaku di rampas dengan paksa. Sementara kau di rampas dengan sukarela, aneh kan. Tapi bagaimanapun kejadiannya, keduanya sangatlah menyakitkan"
"Biasanya jika aku tidak mengenal orang yang pertama kali mengajakku bicara, maka aku akan membunuhnya" Nagato kembali berbicara, "Tapi untuk mu, aku tidak akan melakukan, karena kutahu, orang yang terluka karena cinta akan sangat mengerikan. Dan aku tidak ingin kengerian itu di tujukan padaku" Nagato kembali melanjutkan ucapnanya sambil tertawa, lalu tiba-tiba terdengar terhenti
Tanpa melihat pun Sauke sudah tahu kalau orang yang baru saja di ajak bicara sudah berkelebat pergi.
"Brengsek kau, Sakura, hngk!" Sasuke meremaskan tangannya di depan dada. Nafasnya terasa sesak, mengingat kembali perbuatan Sakura. "Sial!" Ia menarik nafas panjang untuk melonggarkan rongga dadanya yang terasa kian sesak mana kala mengingat sosok surai merah muda.
...
-SSS-
...
Dati tadi Naruto harus berpura-pura tuli mendengar omelan dari cucunya. Naruto yang biasanya berisik kini kena imbasnya, ia harus diam mendengar celoteh Shion yang berkepanjangan.
"Shion…!" Naruto berusaha membela.
"Diam Kakek! Aku belum selesai" Potong Shion
"Ini semua gara kakek" keluh Shion pada Naruto.
"Kenapa kau menyalahkanku?" Naruto mendelik menatap cucunya.
"Tentu saja. Karena Sasuke melihatmu menggandeng tangan Sakura. Sasuke jadi cemburu dan mengatakan kalau Sakura bukan apa-apanya" omelan Shion di tambah.
"Waktu itu..."
"Kenapa tidak langsung di lepaskan?" Shion memotong, "Aku kasihan pada Sakura, Kek. Juga pada Sasuke. Yang pasti sekarang mereka berdua di landa patah hati yang menyakitkan"
"Dasar bocah! Lalu menurutmu, apa yang harus aku lakukan?"
"Temukan Sasuke dan seret dia kesini, hanya dengan cara itu, bisa mengobati Sakura. Soal Sakura biar aku yang merawatnya sementara" jawab Shion sambil menyusun kayu bakar yang ada di depannya.
"Apa?!"
"Jangan ribut, Kek, mumpung Sakura sudah bisa istrahat" jawab Shion mengisyaratkan agar Naruto memelankan suaranya.
"Kau kurang ajar sekali memerintah seenaknya pada kakekmu.." Suara Naruto di tekankan karena berusaha memelankan suaranya.
"Sasuke.. hikss"
"Tuh kan, Sakura mengigau lagi. Cepat Kek, cepat..cepat" Shion mengibas-ngibas tangannya pada Naruto.
Naruto menggerutu dan mengalah pada cucunya, biar bagaimana pun ia tahu sekali tentang tabiat cucu nya yang satu ini.
"Dasar Sasuke.. kau benar-benar bocah sialan... kenapa harus aku yang mengurusi drama kalian" Gerutu Naruto mulai mejauh dari pandangan Shion.
Sedikit menguntungkan bagi Naruto yang melakukan pencarian di malam hari. Ia bisa mencurigai keberadaan Sasuke dengan mengetahui nyala api yang ia lihat. Ia yakin kalau Sasuke pasti menyalakan api. Setiap nyala api yang ia lihat dari jauh, maka di datanginya tempat itu
Meski sering salah orang, kadang para pemburu yang kemalaman, ada juga para pengembara lain yang ia temui.
Meski demikian, Naruto tetap berharap agar Sasuke belumlah terlalu jauh keberadaannya.
Pencarian Naruto tidaklah sia-sia. Menjelang tengah malam, ia melihat sosok Sasuke yang sedang bersandar dan menatap kosong pada nyala api. Naruto juga menyaksikan Sasuke yang tampak sedang meringis memegangi dadanya.
Naruto tersenyum, ternyata Shion benar, kedaan kedua pasangan itu memang tidak jauh berbeda.
"Mau apa kau?! Kau ingin kesini menertawakanku!" Naruto kaget. Sasuke yang tadi ia lihat kini muncul di belakangnya.
"Ya. aku kesini menertawakan kebodohanmu" sindir Naruto, "Bagaimana bisa kau meninggalkan Sakura dalam keadaan terancam. Bukankah kau harusnya menjaganya"
"Bukannya itu adalah tugasmu" jawab Sasuke dingin dan ketus, ia mulai melangkah meninggalkan Naruto, "Lagipula dia tinggal membuka segel racunnya dan ia akan aman".
"Iya, apalah artinya segel itu di buka ketika kepalanya sudah terpenggal, atau tubuhnya terpotong oleh api Kagutsuchi dari orang yang mirip denganmu" bentak Naruto dengan nada makin meninggi.
"Kau tahu. Dia itu…"
"Berhentilah membohongiku keparat, kau pikir aku tidak melihat perbuatan kalian" giliran Sasuke yang membentak.
"Tidak ada yang istimewa Sasuke, kami tidak pernah melakukan apa yang kau pikirkan" Naruto mulai menduga-duga berbagai macam hal yang menyangkut tentang perselingkuhan.
"Oh ya?! Berpelukan. Berpegangan tangan. Apa lagi? Apa itu belum cukup? Dan sebaiknya kau juga mengaku sekarang, kalau kau sudah menidurinya" gertak Sasuke.
Naruto mendengus dan memperdengarkan tawa mengejek.
"Cemburumu sangat keterlaluan dan bodoh Sasuke"
Sasuke diam.
"Sasuke, kami atau lebih tepatnya akulah yang memeluknya. Aku jauh lebih tua dari kalian. Sepanjang hidupku, aku sudah sering menyaksikan keterpurukan orang lain. Keterpurukan karena cinta, di tinggalkan atau di hianati. Keterpurukan karena kehilangan keluarga dan hal-hal lain. Tapi untuk kali pertama, aku tidak pernah menyaksikan keterpurukan yang sangat parah seperti yang di tunjukan Sakura. Bahkan aku yang sudah berpengalaman ini, tidak mampu lagi menggambarkan keterpurukan seorang Sakura karena cinta. Aku memeluknya, untuk menghiburnya, karena aku tidak sanggup melihat Sakura" Naruto menatap Sasuke yang mulai berhenti melangkah, "Aku ingin tanya, berapa lama kau melihatku memeluknya?"
"Sedetik. Dan itu sudah cukup bagiku menilai, kalau Sakura hanyalah pelacur" hati Sasuke miris, bagaiman bisa Sakura membiarkan dirinya di peluk oleh orang lain.
"Penilaian yang buruk. Kalau kau mau sudi bertahan sedetik lagi, kau akan melihat dia mendorong dan menamparku. Sasuke, dia jatuh sakit karena memikirkanmu. Luangkanlah waktumu sedetik untuk melihatnya"
"Aku tidak tertarik pada wanita yang hanya menanggapi pertanyaan dan ucapanku dengan menyebut namamu" Naruto mengimbuhkan.
"Sasuke, kau butuh sedetik lagi, untuk merubah semuanya. Karena sedetiklah yang merubah perasaan kalian. Berhentilah saling menyiksa, atau aku beri saran, kau bunuhlah dia. Itu jauh lebih baik dari pada kau menyiksa batinnya"
"Menyiksa dia katamu. Dia pergi begitu saja dariku tanpa sebab. Ia menyalahkanku tanpa kutahu apa kesalahanku. Jadi siapa yang menyiksa" balas Sasuke meninggi,
"Dan aku tahu kenapa dia pergi" Sasuke memutarn badan, "Untukmu". .
"Sasuke dengarlah ceritaku, dan setelah itu, jenguklah Sakura. Dan setelahnya, tinggalkanlah dia setelah kau membunuhnya"
Sasuke menarik nafas panjang untuk melonggarkan kembali rongga dadanya.
Naruto juga menghembuskan nafas kuat-kuat, "Dia hampir bunuh diri, Tahu!".
Naruto menceritakan kembali awal kejadian tanpa ia kurangi sedikitpun. Ia pun juga menerangkan agar Sasuke bisa membuang kesalahpahamannya. Ia juga menjelaskan tentang kondisi Sakura yang sedang sakit saat ini.
"Ku pikir kau cerdas Sasuke. Seharusnya kau mengerti pokok permasalahannya sekarang. Biasakanlah dirimu untuk membuang jauh-jauh rasa cemburumu yang berlebihan"
Sasuke masih diam. Ia mulai melangkah meninggalkan Naruto dan mengabaikan panggilan Naruto.
Perasaan Sasuke kembali berkecamuk. Sungguh pun dalam hati Sasuke, ia mempercayai apa yang di ucapkan Naruto. Dan ada rasa menyesal telah mengatai Sakura adalah pelacur.
Terbesit dalam pikiran Sasuke karena ia mengingat Sakura sedang terancam, untuk kali ini, ia terpanggil dan merasa harus melindungi Sakura dari orang-orang yang ingin membunuhnya.
"Di mana dia"
"Dia kutinggalkan bersama cucuku"
Sasuke menatap Naruto.
Naruto tersenyum, "Lewat sini" ia melangkah mendahului Sasuke. Setidaknya ia bisa memenuhi keinginan Shion untuk membawa Sasuke bertemu dengan Sakura.
"Kenapa kau berubah pikiran untuk menemui Sakura?" tanya Naruto mempercepat langkahnya. Naruto tahu sifat keras kepala Sasuke. Naruto yakin kalau Sasuke tidak mungkin terpengaruh begitu saja hanya karena mendengarkan ceritanya barusan. Ataukah Sasuke ingin menemui Sakura dan akan membunuhnya. Naruto cuma memajukan bibir, masa bodoh.
Sasuke mendengus tidak jelas.
"Aku hanya ingin melindunginya, itu janjiku padanya. Sekarang aku tidak peduli apakah ia masih mau hidup bersama denganku atau tidak"
Naruto mendengus tertawa, "Anggapanmu akan berubah setelah melihatnya. Bagaimana bisa aku hidup bersama dengan seorang wanita yang kerjanya cuma tidur dan menangis"
Langkah Sasuke berhenti. Sasuke mengerutkan dahi menatap Naruto, "Apa maksudmu"
"Dia terus menangis dan menyebut namamu. Ketika lelah dengan tangisannya, ia tertidur. Tapi setelah bangun dari tidurnya ia kembali menangis. Sangat menyedihkan jika aku harus hidup dengan wanita seperti itu" Naruto juga menghentikan langkahnya sambil sedikit menggerutu.
"Kau tidak berbohong, kan" Sasuke sangat berharap kalau apa yang di ucapkan Naruto tidak benar. Sasuke jauh lebih berharap Sakura baik-baik saja dan hidup dengan pria lain, dari pada mendengar berita menyedihkan tentang Sakura.
"Jadi berita seperti apa yang kau inginkan. Apa kau ingin aku mengatakan kalau kami akan menikah?"
"Mungkin lebih baik"
Naruto mendesah dan memperdengarkan tawanya, "Ternyata kau masih peduli. Syukurlah. Sayang sekali, berita itu tidak ada"
"Bisakah kita cepat kesana?"
Tapi sebelum Naruto menambah kecepatan larinya, lagi-lagi Sasuke berhenti dan membuat Naruto juga ikut berhenti.
Sebelum Naruto bertanya, Sasuke sudah berkata, "Aku berubah pikiran. Apa pun yang terjadi di antara kalian,aku tidak peduli, aku akan mendapatkan milikku kembali. Termasuk jika aku harus menghabisimu"
Naruto tersenyum, "Seperti itulah Sasuke yang ku kenal", dengan nada tanpa menunjukan adanya ketersinggungan, dan mempercepat larinya mengikuti permintaan Sasuke.
Sasuke menghentikan larinya begitu ia melihat Shion duduk di depan api unggun. Ia berdiri dan menatap tubuh Sakura dari tempat agak jauh. Begitu miris perasaan Sasuke melihat Sakura yang terbaring lemah dan hanya di selimuti dengan kain sederhana.
"Ternyata, selain licik, kau juga sangat pelit" gerutu Sasuke. Perlahan Sasuke mendekati tempat di mana Shion sedang menunggui Sakura.
Shion menoleh begitu ia mengetahui ada yang mendekat ke arahnya.
"Hhaah! Syukurlah kalau kalian sudah datang", Sambut Shion tampak bernafas lega.
Sasuke dan Naruto berjalan makin mendekat.
"Hey bocah apa maksud ucapanmu tadi?" gerutu Naruto menuntut.
"Dia sedang sakit dan kau hanya menutupi dengan kain sederhana?" Sasuke membalas gerutuan Naruto
Ia kemudian berjalan menuju tempat Sakura berbaring di atas tumpukan jerami kering. Ia lalu duduk di samping Sakura.
"Tadinya aku ingin membawa dia ke desa terdekat. Tapi Desa yang terdekat, menolak kehadiran orang asing gara-gara kekacauan yang di sebabkan oleh sekelompok orang berkuda" Naruto menerangkan
Sasuke mulai mengabaikan ucapan Naruto, tangannya menjulur dan menyentuh kening Sakura. Ia begitu tercekat, badan Sakura sangat panas untuk ukuran orang yang sedang demam tinggi.
Sasuke menundukan kepala, "Apa yang telah aku lakukan? Karena kecemburuan konyolku, dia…" bisiknya perlahan.
"Syukurlah kau sudah datang, aku di hantui oleh suaranya yang selalu memanggil namamu. Aku sudah bosan tahu" Sasuke menoleh pada Shion sesaat. Kemudian pandangannya kembali di arahkan pada Sakura.
"Sakura" Bisik Sasuke sambil membelai lembut Sakura.
"Sasuke.. hiks..hiks" Igauan Sakura, di sudut matanya terlihat setitik cairan bening yang mengalir.
Naruto menepuk pundak cucunya agar mereka menjauh dan membiarkan Sasuke dan Sakura.
Sasuke segera membuka pakaiannya. Ia segera menutupi tubuh Sakura dengan bajunya. Tidak hanya itu ia pun menggunakan kain yang biasa ia jadikan sabuk untuk menyelimuti tubuh Sakura agar lebih hangat.
Ia merebahkan diri di samping Sakura sambil memeluk agar tubuh yang tampak agak menggigil.
Lengan atasnya juga ia gunakan sebagai bantal untuk Sakura.
"Sakura, maaf" Bisiknya perlahan sambil mengeratkan pelukannya.
Bisikan Sasuke justeru di balas dengan igauan Sakura yang memanggil namanya.
...
-SSS-
...
Sakura terbangun setelah semalam ia merasa tidur sangat nyenyak. Ia merasa heran karena ternyata ia sedang di peluk oleh seseorang yang bertelanjang dada. Ia hampir saja memberontak, jika saja ia tidak mencium aroma dari tubuh yang begitu ia kenal.
"Sasuke" Desis Sakura. Tadinya ia ingin membuka mata tapi ia batalkan.
Ia berharap jika ini adalah mimpi. Ia tidak ingin bangun, ia lebih memilih untuk terjebak di alam mimpi selamanya, dari pada bangun dan mendapati kenyataan Sasuke yang tidak ada di sisinya.
"Sakura, kau sudah bangun" Suara yang Sakura begitu kenal menyapanya. Ia makin menguatkan tutupan matanya.
"Ku mohon, jangan ada yang bagunkan aku. Biarkan seperti ini" Suara Sakura lirih, bahkan terdengar ia ingin menangis. Ia makin merapatkan kepalanya di dada Sasuke.
Sasuke mendengus sambil merapatkan kepala Sakura. Bahkan dengusan nafasnya terasa menghembus di kepala Sakura.
"Sakura. ini aku, kau tidak bermimpi" Bisik Sasuke.
Sakura seolah-olah mengumpulkan keberaniannya untuk membuka matanya. Dan tampaklah senyum Sasuke yang menyambutnya.
"Sasuke" desis Sakura tidak percaya.
"Hn"
"Sasuke.. hikss.. hwaa..kmmm…" Sakura gelagapan. Sasuke membungkam mulut Sakura dengan mulutnya.
Sasuke baru melepaskan bungkamannya ketika ia merasa Sakura sudah tenang, "Sakura, ku mohon jangan menangis. Maafkan aku" Ujar Sasuke dengan bibir mereka yang masih saling merapat.
"Tapi Sasuke, akulah…", Nafas Sakura terengah-engah mendapat serangan mendadak .
"Tidak Sakura!" potong Sasuke, "Akulah yang salah, seharusnya aku meyakinkanmu, bukan menuduhmu" Sasuke mengeratkan pelukannya. Ia merapatkan wajah Sakura pada dadanya. Dagunya ia letakan di puncak kepala Sakura.
"Cukup Sakura. Aku mengerti semuanya, akulah yang meminta maaf. Kau sama sekali tidak bersalah" Sasuke kembali berujar saat ia tahu kalau Sakura akan mengatakan sesuatu.
"Tapi.."
"Aku juga akan melakukan hal yang sama. Yang kau lakukan tidak salah"
"Sasu, aku juga ingin meminta maaf" Balas Sakurah melirih.
"Hn" Sasuke kembali mencium pucuk kepala itu. Sasuke kemudian menciumi seluruh wajah wanita yang sangat ia rindukan. Berikut bibirnya kembali melumat bibir Sakura, wanita yang membuat Sasuke merasa sepi tanpanya.
…
…
…
TO BE CONTINUE
.
.
Aduh! Kurang nge-feel ya, pertemuan Hikari dan Sasu. Gome ne… waktu nulis nih chap, ane lebih pokus ke penyelesaian konflik SasuSaku.
Jihaaa… inilah alasannya kenapa ane membuat chara Hino Hikari, ane pengen membuat konflik SasuSaku. Tapi karena nggak tahu buat momen bagaimana caranya mereka konflik, maka ane cuma dapat ide, ini cara satu-satunya. Sekalian menggambarkan kondisi SasuSaku jika mereka terpisah… konyol nggak tuh.
