Saat jam istirahat tiba, namja cantik dengan rambut hitam pekatnya itu terlihat berjalan di koridor sekolah seorang diri. Ia melangkah dengan pasti menuju suatu tempat. Terlihat sebuah ruangan yang terdapat banyak komputer di atas meja, ia mendaratkan pantat nya di kursi empuk yang dapat berputar-putar 180 derajat. Dia mengeluarkan ponsel canggihnya lalu membuka sebuah aplikasi yang sudah sering ia kunjungi setiap harinya.
Ya, itu adalah sebuah aplikasi yang di ciptakan oleh seseorang dimana tempat para hacker berkumpul dan saling memberikan info satu sama lain. Cracked, itu adalah nama aplikasi yang di gunakan oleh para hacker pembobol sistem seperti Baekhyun untuk saling berbagi info atau sekedar mengobrol. Sebuah postingan menarik perhatian pria mungil ini.
Buck-whisper – 23 hours ago
'Apakah kalian semua tau, zero-four kembali beraksi dalam pembobolan bank ternama di seoul!'
Postingan tersebut sudah banyak menuai komentar dari kalangan hacker hampir di seluruh dunia.
'Kau sangat hebat zefor, kau adalah panutanku. Kau harus mengajakku jika kau ingin membobol sebuah bank lagi. Ahhh mungkin aku akan lebih tertarik jika kau mengajak ku membobol sebuah lubang sempit milik jalang' – Kneecaps
'Jinjja jjang zefor!Aku melakukan standing applause untukmu' – Typhoon94
'Hey Zefor bagaimana jika kita menghabiskan uangnya bersama? Atau bagaimana jika berkencan? Hey aku benar-benar penasaran bagaimana wajah seorang yang berhasil membobol bank yang selama ini tidak bisa di tembus oleh hacker manapun' – Dynamo007
'Zefor kau luar biasaaaaaa~. Aku mencintaimuuuuu' – fghpoo
'Hey fghpoo, Zefor bahkan tidak mengenalmu bodoh!' – Srekillt
'Diamlah Jerk!' – fghpoo
Baekhyun terkekeh geli saat membaca komentar yang ada di postingan tersebut, namja mungil itu terus menggerakkan jemarinya di layar ponsel dan berhenti saat menemukan satu komentar yang menarik baginya.
'Wah. Zefor kau membuat pihak kepolisian uring-uringan saat ini. Mungkin mereka sedang menyewa seorang ahli untuk menangkapmu.' – Phoenixxxx
"Aku yakin mereka tidak akan bisa menangkapku."
Baekhyun men scroll up-down layar ponsel nya untuk melihat postingan yang ada di Cracked. Lalu ia menuliskan sebuah komentar di postingan Buck-whisper.
'Kau ingin bergabung denganku untuk menggandakan uang-uang ini? Aku sudah mengetahui bagaimana cara untuk menggandakan uang. Mungkin aku tidak akan membobol Bank lagi jika project penggandaan uang ku berhasil.' – zero-four
Namja mungil itu kembali menggerakkan jemarinya di layar ponsel itu, sesekali dirinya terkekeh kecil saat melihat beberapa orang yang ada disana saling melemparkan komentar lucu. Dia masih asyik dengan ponselnya tanpa menyadari jika seseorang melangkah mendekatinya.
"Baekhyun, apa yang kau lakukan disini?"
ZERO-FOUR
By baexepuy
.
.
Main Cast :
Byun Baekhyun - Park Chanyeol
Genre : Crime, Romance, School life
Rate : T (itu aja dulu)
Warning:
BoysxBoys/YAOI! – homophobic jangan baca
-oOo-
Chanbaek Sky
Presents
.
Summary:
Zero-four, hacker pintar incaran divisi kepolisian harus berurusan dengan namja tinggi yang menganggu hidupnya.
Maafkan aku – Chanyeol
Aku Menyerah – Baekhyun
Enjoy the story ^^
Chapter 2
.
.
"Kau?!" Baekhyun memutar kedua bola matanya dengan malas. Seorang namja tinggi dengan mata bulat yang berkedip seperti seorang anak kecil berdiri tegap di ambang pintu lab komputer.
"Apa yang kau lakukan disini, Baekhyun?" Namja tinggi itu mengedarkan matanya melihat kedalam lab komputer.
Baekhyun bangkit dari posisi duduknya dan beranjak pergi meninggalkan ruangan, tanpa memperdulikan namja tinggi yang menunggu jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan.
"Kau mau kemana?" Namja tinggi itu kembali mengeluarkan suara bass miliknya. Lagi-lagi ia tak kunjung mendapatkan jawaban, Baekhyun terus saja berlalu tanpa memperdulikan namja tiang listrik itu. "Baekhyun-ahh!" ia kembali memanggil namja mungil yang terus melangkah itu. "Baek.."
Baekhyun secepat kilat membalikkan tubuhnya dengan tiba-tiba, sehingga namja tinggi yang dari tadi mengikutinya membentur tubuh mungilnya. "Kau sungguh berisik, Park Chanyeol!"
Chanyeol membulatkan matanya ketika tubuhnya berada dalam jarak yang sangat dekat dengan Baekhyun. Sedangkan Baekhyun, namja mungil itu hanya menatap jengah namja tinggi di hadapannya itu. Selama ini tidak ada seorangpun yang ingin berbicara padanya, tapi lihatnya namja ini. Sejak pertama kali Chanyeol menyapanya, Baekhyun sudah yakin jika hidupnya tidak akan tenang seperti sebelumnya.
"Ah.. um.. mian! Aku hanya bingung ingin kemana, tadi aku melihatmu berjalan ke arah Lab komputer, jadi aku mengikutimu. Aku tidak..."
Baekhyun kembali memutar tubuhnya dan berjalan tanpa menghiraukan Chanyeol yang terlalu banyak bicara menurutnya. "YA! Kau mau kemana? BAEK!" Baekhyun tak menghiraukan Chanyeol dan terus berlalu hingga tubuh mungilnya menghilang di ujung lorong. "Aishh! Dia sangat sulit untuk di dekati! Kenapa dia selalu menyendiri seperti itu? Apa dia tidak memiliki seorang temanpun disini? "Chanyeol mengernyitkan dahinya tidak mengerti "Ah.. tapi apa yang di lakukannya di dalam lab komputer seorang diri?"
.
.
Namja mungil itu melangkah dengan santai sambil mendengarkan lagu melalui earphone miliknya. Sekolah telah selesai satu jam yang lalu. Ia memasuki gedung apartement miliknya yang sudah ia tempati selama dua tahun terakhir ini. Setibanya di apartemen, Baekhyun meletakkan tasnya di atas sofa lalu melangkan menuju kearah dapur dan membuka kulkas untuk mengambil sekotak susu strawberry kesukaannya. Setelah itu dia memasuki salah satu ruangan khusus yang dia buat di dalam apartemen tersebut. Di dalam ruangan tersebut terdapat tiga buah komputer yang terhubung satu sama lain. Komputer- komputer inilah yang biasa digunakan olehnya untuk meretas. Setelah menghidupkan ketiga komputer tersebut, namja mungil itu membuka sebuah aplikasi di salah satu komputernya, layarnya memunculkan sesuatu yang sangat rumit yang mungkin hanyak di ketahui oleh para hacker atau sejenisnya.
"Oke let's do it" Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard. Sesekali namja mungil itu mengambil susu strawberry yang di ambilnya tadi lalu kembali mengetikkan angka dan huruf di layar komputer itu. Ya, namja itu sedang mencoba meretas kembali.
Ting!
Ponsel milik Baekhyun berbunyi dengan keras, ia lupa untuk memasang mode 'silent' pada ponselnya. Sehingga, seluruh pasang mata yang berada di dalam ruangan tersebut langsung menoleh ke arahnya.
"Baekhyun, sudah berapa kali aku mengatakan untuk selalu mematikan ponsel saat dalam proses belajar?" Ujar Ahn saem yang mengajar di kelasnya saat itu. Dia meletakkan kedua tangannya di pinggang sambil menatap kesal kearah namja mungil itu.
"Chwesonghamnida saem" Baekhyun berkata dengan datar tanpa menampakkan wajah menyesalnya.
"Baiklah, matikan ponselmu sekarang, Byun Baekhyun!"
"Ndee saem!"
Baekhyun tidak langsung mematikan ponselnya, ia membuka layar ponsel itu dan segera memeriksa e-mail masuk. Sesekali dirinya menghadap ke arah depan sedangkan tangannya bergerak untuk membuka e-mail tersebut.
"Baek, matikan poselmu. Kau akan di marah Ahn saem lagi." Seorang namja yang sudah menjadi teman sebangkunya memperingatinya dengan berbisik, nyaris bibirnya menyentuh telinga Baekhyun. Namja mungil itu dengan gesit menghindar dan menyembunyikan ponselnya.
"Diamlah Park! Perhatikan saja guru gemuk itu. Jangan menggangguku!"
"Wow, ini kalimat terpanjang yang kau ucapkan padaku.. woah daebak!" Chanyeol mengacungkan dua jempolnya ke arah Baekhyun seperti anak kecil.
Baekhyu hanya memutar malas kedua bola matanya dan memberikan tatapan penuh peringatan kepada namja yang memiliki tubuh lebih tinggi darinya itu. Chanyeol langsung mengalihkan pandangannya ke arah papan tulis dan tidak menghiraukan namja mungil itu lagi. Baekhyun kembali melirik ponselnya, ia mengangkat ponsel nya keatas meja dan menutupinya dengan sebuah buku tebal miliknya. Ia kembali membuka pesan tersebut.
'Hei ZERO-FOUR! Bisakah aku menyewa jasamu untuk meretas?. Aku sangat yakin kau bisa menangani nya, aku akan membayarmu tinggi kali ini zefor.'
Baekhyun tersenyum remeh 'bajingan ini lagi!' batin Baekhyun. Lalu ia membalas pesan tersebut sambil sesekali melirik kearah depan untuk memastikan keadaan.
'Kali ini apa? Kau selalu saja mengatakan untuk membayar tinggi, tuan Choi. Aku tidak akan tertipu kali ini.'
Dia langsung mengirim balasan pesan nya, satu menit kemudian ia mendapat sebuah pesan e-mail baru. 'cepat juga ia membalas.' Baekhyun langsung membuka e-mail barunya, ternyata e-mail tersebut bukan dari clientnya tetapi pesan ini dari akun bank miliknya.Ia tersenyum miring ketika melihat angka yang tertera pada layar ponselnya. Dengan cepat ia mengirim pesan ke Tuan Choi yang meminta jasanya.
'Aku menerima tawaranmu, Choi. Apa yang harus ku lakukan?' SEND!
'Retas sistem keamanan dari salah satu perusahaan di New York –Belagio Corp-, dan jangan lupa untuk menyalin data perusahaan lalu berikan kepadaku. Jika kau berhasil aku akan membayar sisanya padamu. Aku mendengar jika perusahaan ini di berikan keamanan yang sangat tinggi oleh seorang yang ahli di bidang IT. Aku memberimu waktu empat puluh delapan jam untuk memberikan dokumen itu kepadaku.'
Baekhyun tidak membalas pesan itu lagi, ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya dan tersenyum miring. Dia mendapatkan pekerjaan hari ini.
Jemari indah milik namja mungil itu terus saja bergerak lincah diatas keyboard, layar komputer miliknya menampilkan sesuatu yang sungguh rumit. Deretan angka dan huruf terus muncul di layar tersebut seirama dengan gerakan jemari itu di atas keyboard.
"Sial. Ini cukup rumit. Ck!" Celetuk Baekhyun.
Ia mencoba memasuki kembali sistem keamanan dari Belagio Corp, percobaan pertamanya gagal.
"Oke, anggap saja yang tadi cuma latihan, baek!"
.
.
.
"Shit! Siapa yang mencoba mengganggu Phoenix ku." Seorang namja tinggi mengumpat kesal di depan layar tablet nya. "Kau tidak akan berhasil, phoenix sangat kuat. Ck"
Namja tinggi itu meraih ponsel milik nya yang berdering sedari tadi.
"Ya?" Suara bass miliknya menjawab telepon dari nomer asing itu.
'Phoenix dalam bahaya, seseorang mencoba meretas phoenix, Richard! Dia mengirimkan virus kepada komputer kita.' Seseorang di seberang sana berkata dengan nada keras yang terlihat sedikit frustasi.
"Hei, calm down dude! Phoenix tak semudah itu untuk di masuki oleh virus lemah seperti itu, aku sudah mengetahuinya." Ia menarik bibir atasnya, tersenyum remeh
'Richard! Kau tau siapa yang mencoba merusak sistem keamanan kita?'
"Tidak. Maksud ku aku belum mengetahuinya." Namja bermata bulat itu kembali melirik tablet nya dan menyentuh layar tablet itu. "Stevan, sinyalnya mengarah ke negara.. Korea Selatan." Chanyeol semakin melebarkan mata bulatnya ketika mengetahui sinyal si peretas.
'Bukankah kolega kita yang baru ini berasal dari Korea? Aku bersama Sam sedang mencoba menggagalkan virus sialan itu.'
"Ya, aku membantu kalian dari sini. Berikan aku data kolega baru kita, aku akan mencari tau tentangnya."
'Aku sudah mengirimkannya padamu, Richard. Kabari aku jika kau mendapat informasi. Aku tutup.'
Telepon ditutup begitu saja, Chanyeol membuka laptop miliknya. Membaca data yang dikirim oleh Stevan.
"Mr. Choi.." Guman namja tinggi itu. Ia kembali memfokuskan matanya ke layar laptop itu, membaca profil dari perusahaan Mr. Choi. Tapi lagi-lagi ponsel miliknya berdering dengan keras.
"Hal.." Belum sempat iya menjawab, seseorang di seberang sana sudah memotong bicaranya.
'Richard! Hacker itu berhasil, Richard!'
"What the fuck!" Ia meraih tablet miliknya, mecoba mengetikkan sesuatu yang mungkin dapat menggagalkan virus tersebut menyebar ke seluruh sistem keamanan. "Stev, dia sangat kuat." Ujar Chanyeol dengan nada yang sedikit frustasi. Ia melirik layar tabletnya yang hanya menampilkan tulisan –error 04-.
'Richard, apa itu kode miliknya?'
"Kode? Apa maksud mu?"
'Oh shit Richard! Dia zero-four?'
"AP..APA?"
.
.
.
Didalam ruangan khusus miliknya, namja mungil itu menaikkan kedua kakinya di atas meja sambil meminum susu strawberry. Dia tersenyum remeh dan sesekali terkekeh geli.
"Tidak sekuat yang aku kira."
Ia segera mengirimkan pesan kepada dan meminta sisa bayaran miliknya.
'Choi, berikan sisa bayaranku. Aku akan mengirim data ini kepadamu.'
'Kau sudah selesai? Bagaimana mungkin kau selesai hanya dalam 8 jam'
"Ck! Bodoh sekali ahjussi tua ini, dia meremehkan ku ternyata." Guman Baekhyun.
'Kau meremehkan ku? Sudahlah, aku akan mengirimkan data perusahaannya ketika kau sudah melunasi utang milikmu, Choi.'
'Ya, aku segera mengirimkannya padamu. Langsung kau kirim saja file nya kepada ku jika kau sudah sudah menerima uangmu.'
Baekhyun menurunkan kedua kakinya dari atas meja lalu keluar dari ruangan itu dan melangkah menuju kamarnya. Namja mungil itu merebahkan dirinya di atas ranjang sambil menggerakkan tubuhnya yang lelah. Ponsel miliknya bergetar, ia membuka ponsel nya dan mendapatkan notifikasi dari aplikasi cracker. Seseorang mengirimi nya pesan.
From: Phoenixxxx
'Jangan melampaui batasmu.'
"Wh.. what?" Namja mungil itu mengerutkan dahi nya ketika membaca pesan milik phoenix.
Ia tidak mempedulikan pesan itu dan kembali bersiap menutup kembali ponsel nya ketika notifikasi dari e-mail nya muncul. Ya, itu pemberitahuan dari akun bank miliknya.
"Cepat juga ahjussi ini." Baekhyun tersenyum puas setelah melihat nominal angka yang sudah masuk kedalam rekening miliknya.
Namja mungil itu segera mengirim draft yang ia simpan di e-mail nya dan mengirim file tersebut kepada . ia meletakkan ponsel nya di atas nakas dan menatap lagit-langit kamarnya dalam diam. Sekilas bayangan wajah seseorang terpampang di pikiran Baekhyun. Seseorang yang beberapa hari ini terus mengusik hidupnya.
"Chanyeol..." Celetuk Baekhyun
"Aish.. kenapa aku memikirkan dia!" Baekhyun mengacak-acak rambut nya frustasi. Namja mungil itu mencoba memejamkan matanya untuk menghilangkan pikirannya mengenai namja tinggi itu dan akhirnya dia jatuh tertidur.
.
.
.
Pagi ini Oushin Highschool terlihat sangat ramai, namja mungil yang sedang melangkah di koridor utama terlihat tidak peduli akan keadaan sekitarnya, tapi langkahnya tiba-tiba terhenti ketika mendengar suara jeritan seorang wanita di dalam ruang dewan guru. Ia menolehkan kepalanya ke arah ruangan tersebut dan mendengar beberapa percakapan dari dalam ruangan tersebut.
"KAU YANG MELAKUKAN HAL TERSEBUT KEPADA ANAK KU!" Setiap kata yang ia keluarkan penuh dengan penekanan dan suara tinggi.
"Apa maksudmu nyonya? Apa kau mempunyai bukti?" Suara seorang yang Baekhyun kenal itu adalah salah satu guru dari Oushin Highschool –Nam Sonsaengnim-
"Aku tau kau yang melakukan pelecehan ini terhadap anakku tuan! Kau sungguh bejat."
"Apa maksudnya ini?" Kepala sekolah turut bertanya kepada salah seorang ibu dari murid Oushin.
"Dia.." Menunjuk ke arah Nam-saem. "Telah melakukan pelecehan seksual terhadap anak ku, sudah tiga hari ini anak ku tidak mau keluar dari dalam kamarnya, semalam ia muncul di ruang keluarga dan menceritakan semua apa yang terjadi." Wanita itu menghentikan ceritanya ketika dia mulai menangis. "Dia mengatkan kan bahwa guru ini yang melakukannya!"
"Tapi kita tidak mempunyai bukti, nyonya. Hal seperti ini di butuhkan bukti yang kuat. Atau barangkali anak mu memiliki bukti bahwa Nam sonsaengnim pelakunya?" Kepala sekolah bertanya dengan suara yang terdengar khawatir.
Wanita tersebut hanya diam lalu menggelengkan kepala nya ketika mendapat pertanyaan mengenai bukti. Dia hanya bisa meneteskan air matanya frustasi memikirkan bagaimana nasib putrinya setelah ini.
"Lihat, bahkan kau tidak mempunyai bukti bahwa aku yang melakukannya. Kau sudah mencemarkan nama baikku, nyonya." Nam Saem berjalan meninggalkan kantor guru.
"Maafkan atas kelalaian kami para guru. Kami akan membantumu untuk mencari siapa pelaku sebenarnya dan mencari bukti yang kuat." Kepala sekolah membungkuk di depan wanita tersebut.
Seorang siswi masuk langsung masuk kedalam ruangan itu dan memegang tangan wanita untuk membawanya keluar.
"Ahjumma, mari aku antar ke depan."
"Terimakasih somi-ah."
Mereka berjalan meninggalkan kantor dewan guru. Ibu Gayoung melewati Baekhyun, namja mungil itu hanya tersenyum kecil sambil menundukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan tempat itu. Ia segera berbalik kearah kelasnya. Ia menuju bangku yang sudah hampir selama dua tahun ini menjadi lokasi tempat duduknya, semenjak ia menginjak kaki di Oushin Highschool ia selalu memilih duduk di pojok, sendirian. Sebelum akhirnya, di tingkat ketiga ini datang seorang namja tinggi yang –err sedikit tampan, menurut Baekhyun- menjadi teman sebangku nya.
.
.
.
"Hai, Baek!" Chanyeol menyapa Baekhyun duluan dengan senyum lebar yang terpatri di wajah tampan nya. Baekhyun tertegun melihat senyum Chanyeol.
"Ah..yeah. Pagi" Dengan cepat namja mungil itu duduk di bangku nya dan mencoba sibuk dengan memainkan ponsel miliknya.
"Baek, apakah kau sakit?" Chanyeol bertanya dengan hati-hati.
Baekhyun menatap ke arah Chanyeol dengan kerutan di dahi nya. "Apa maksudmu?" Bukannya menjawab, namja mungil itu malah bertanya balik dengan nada sengit.
"Ah.. ti-tidak, maksud ku. Ah bukan. Eung.." Chanyeol menarik napas dalam sebelum melanjutkan bicara nya. "Tadi kau membalas sapaan dari ku, biasanya kau kan.." Chanyeol menggantung kalimatnya.
"Terserah" Baekhyun memutar malas kedua bola matanya dan kembali mengabaikan sosok namja tinggi di sebelahnya itu.
"Baek.." Namja bertelinga lebar itu memanggil pelan namanya.
"Hmm"
"Apa kau mau ke kantin bersama ku nanti?" Chanyeol melemparkan tatapan memohon kepada Baekhyun.
"Tidak bisa, aku sibuk." Ia menjawab tanpa menoleh karah Chanyeol.
"Ah, begitu. Baiklah." Chanyeol memutar kepala nya lurus kedepan dan sesekali melihat buku yang berada di atas mejanya.
Nam-saem memasuki kelas dengan senyum yang merekah di wajahnya, Baekhyun yang melihat wajah Nam-saem hanya berdecih pelan. Di tengah pelajaran, namja mungil itu mengernyitkan dahinya saat melihat guru tersebut dengan sangat kurang ajar mengelus tangan salah satu siswi yang duduk di barisan depan. Yeoja tersebut terlihat kaget sekaligus takut dan mencoba menarik tangannya. Baekhyun menghela nafas pelan lalu berdiri dari bangkunya, ia berjalan kearah Nam-saem.
"Saem, aku izin ketoilet"
"Baiklah, Baek." Nam-saem memberika izin kepada Baekhyun. Namja mungil itu melangkah keluar kelas tanpa menyadari jika guru tersebut terus menatap kearah bokong sintal miliknya.
"Baekhyun!" Ah tidak.. sepertinya ada seseorang yang menyadari hal tersebut membuat namja mungil itu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap namja yang memanggilnya tersebut. Nam-saem yang terkejut langsung mengalihkan pandangannya lalu mengambil salah satu buku di atas meja miliknya.
"Wae?" Tanya Baekhyun kearah Chanyeol tanpa suara. Namja tinggi itu hanya menggelengkan kepalanya dengan senyuman lebar di wajahnya.
Namja mungil itu mengernyit bingung tapi dia tidak terlalu memikirkannya lalu kembali melangkah keluar dari ruang kelas. Tapi bukannya menuju arah toilet, ia malah berbalik arah ke perpustakaan. Ia mengambil tempat duduk yang berada paling sudut di dalam perpustakaan itu. Dia mengeluarkan ponsel nya, dan mengernyit saat melihat ada satu pesan yang masuk.
From : Jongdae
'Nam-saem terus menatap bokongmu. Untung saja Chanyeol memanggilmu tadi. Guru itu benar-benar sialan!'
"Shit! Ingin bermain-main denganku pak tua?!" Baekhyun menyeringai kecil lalu mengetikkan sesuatu d layar ponselnya. Namja mungil itu sedang mencoba untuk memasuki sebuah situs. Kali ini ia mencoba untuk membobol sistem keamanan sekolahnya. Setelah tertulis 'SUCCESS' ia tersenyum miring. Namja mungil itu mencoba melihat-lihat beberapa data yang berada di dalam komputer keamanan milik sekolah.
"Tanggal berapa itu terjadi.." Baekhyun bertanya pada dirinya sendiri, mengingat-ingat sesuatu. "Ah.. tiga hari yang lalu ia tidak keluar dari kamar. Berarti, kejadian itu sekitar empat hari yang lalu." Ujar Baekhyun dengan suara sepelan mungkin.
Namja mungil itu mencari data yang terdapat tanggal pada empat hari yang lalu. Ia membuka satu-satu folder di dalam data tersebut.
"Ruang yang akan digunakan pasti... ah, ini dia. Aku yakin pasti ruangan ini." Baekhyun membuka salah satu folder itu dan menyentuhnya, sehingga muncul sebuah rekaman video cctv di layar ponsel miliknya.
"Gotcha! Kau tertangkap saem!" Baekhyun tersenyum puas dan menyimpan video tersebut di dalam ponselnya lalu segera melangkah meninggalkan perpustakaan sebelum seseorang mencurigainya.
.
.
Baekhyun memasuki lab komputer pada saat jam istirahat, lab komputer selalu dalam keadaan kosong dan ini adalah tempat terbaik menurutnya untuk menghabiskan waktu senggang sebelum memasuki pelajaran berikutnya. Ia menghidupkan salah satu komputer yang berada dalam ruangan tersebut. Namja mungil itu mulai memainkan sebuah game yang sering ia mainkan disana. Selain seorang hacker ia adalah seorang pencandu Games.
"Baekhyun, kau sedang apa?"
Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya setelah mendengar suara seseorang di balik punggungnya.
"KAU!" Baekhyun melebarkan kedua bola matanya terkejut.
"Jadi ini kesibukanmu?" Namja bertelinga lebar itu kembali bertanya tetapi matanya terfokus pada layar komputer di depannya.
"Sedang apa kau disini?" Baekhyun bertanya dengan dingin.
Chanyeol mencondongkan tubuhnya kedepan, dagunya berada di pundak Baekhyun. Pipi mereka nyaris bersentuhan, jika baekhyun sedikit saja menggerakkan kepalanya, Pipi mereka akan tersentuh satu sama lain. Wajah baekhyun seketika merona melihat posisi mereka yang sangat dekat seperti ini. Seolah-olah namja tinggi itu sedang memeluk nya dari belakang.
"Chan.." Baekhyun memanggil pelan namja tinggi yang berada dibelakangnya.
"Ya Baek?" Namja tinggi itu menolehkan kepalanya kesamping.
Setengah dari bibir namja tinggi itu sedikit menempel pada pipi gembil milik Baekhyun. Mereka berdua sama-sama mematung, masih dalam keadaan setengah dari bibir chanyeol menempel di pipinya. Mata Chanyeol semakin melebar dan pipi Baekhyun mengeluarkan rona merah. Namja cantik yang memaksakan diri untuk sadar dari keadaan ini, segera menjauhkan kepala nya dari kepala Chanyeol dan namja tinggi itu segera menegakkan tubuhnya.
"Ah, hmmm. Maaf Baek, aku tidak sengaja. Sungguh!" Chanyeol mengusap tengkuknya dengan canggung.
"Lupakan." Jawab Baekhyun dengan sengit.
"Baek, kau seorang gamers? Waw! Level mu sudah sangat tinggi, Baek."
"Y-ya. Aku sudah bermain ini setahun belakangan ini"
"Ah, begitu rupanya." Chanyeol menangguk-anggukan kepala nya.
"Ya. Lalu, untuk apa kau berada disini?"
"Aku mencarimu, lalu aku mengingat kemarin kau berada disini. Dan aku kemari dan yeah.. kau berada disini." Ia menampilkan senyum lebarnya.
Baekhyun hanya memutar malas kedua bola matanya, lalu ia meatap kembali ke layar komputer dan mematikan komputer.
"Ayo ke kantin, aku lapar." Namja mungil itu berjalan mendahului Chanyeol.
"Ap-apa Baek?"
"Kau tuli? Bukankah tadi kau mau mengajak ku ke kantin? Yasudah kalau tidak jadi." Ia melambaikan tangan kirinya dan berjalan lurus kearah pintu.
"Tunggu, Baek!"
.
.
.
Baekhyun sedang fokus terhadap buku bacaan nya pagi ini, ini sudah hari ketiga dimana ia duduk bersama seorang namja yang menurutnya masih asing tapi dia juga mulai terbiasa dengan keberadaannya. Namja di sampingnya terus saja berceloteh, sedangkan Baekhyun, ia sama sekali tidak peduli dengan namja disamping nya itu. Ia lebih tertarik pada buku tebal yang ia baca sekarang.
"Baek, apa buku tebal sialan itu lebih menarik dariku?" Kali ini Baekhyun mendongak dan menatap ke arah Chanyeol.
"Tentu saja, Park!" Baekhyun mendengus.
"Yaya, terserah kau saja, cantik." Ucap Chanyeol sambil memutar tubuhnya yang tadinya kesamping menghadap Baekhyun sekarang menghadap ke depan.
"Apa?!" Baekhyun melebarkan kedua mata sipit nya.
Chanyeol tak mengubris pertanyaan Baekhyun, ia hanya memalingkan wajahnya ke arah berlawanan dengan Baekhyun. Ia berpura-pura untuk tidak memperdulikan namja cantik itu.
"YA! Park Chan.."
"Good morning, Haksaeng!"
Nam-saem memasuki kelas Baekhyun pagi ini, ia menggantikan Jung-saem yang tidak dapat hadir kesekolah hari ini. Baekhyun langsung mengalihkan pandangannya kearah depan dan menyeringai kecil.
'ini kesempatan bagus!' batin Baekhyun.
Baekhyun masih diam di tempatnya selama Nam-saem menjelaskan materi. Namja mungil itu mengikuti seluruh gerak-gerik guru itu tanpa melewatkannya sedetikpun.
"Ada yang ingin bertanya?" Nam-saem menatap seluruh kelas yang hening. Dia melangkah mendekat kesalah satu meja seorang siswi dan mendekatkan wajahnya kearah yeoja itu "Apa kau memiliki pertanyaan?"
"A..Anio Saem" Yeoja itu memundurkan wajahnya tapi guru itu tersenyum mesum dan semakin mendekatkan wajahnya.
Baekhyun yang melihat hal itu menggigit bibir bawahnya kesal. Guru ini harus di beri pelajaran. Selama guru itu masih sibuk merayu siswi tersebut, kedua jemari Baekhyun yang berada di bawah meja sedang bergerak lincah di atas layar ponselnya. Sesekali ia melirik ke arah ponsel nya untuk memastikan rencana nya berjalan mulus.
'Tenanglah Gayoung. Aku akan membantumu juga kali ini. Pak tua itu harus menerima ganjarannya' Batin Baekhyun dengan mengulaskan senyum tulus nya di wajah manis miliknya.
.
.
.
Terlihat segerombol siswa yang sedang berkerumun di belakang sekolah. Disana terlihat beberapa siswa sedang memukuli seseorang. Terdengar suara erangan kesakitan dari bibir namja yang sedang tergeletak tidak berdaya di antara segerombolan siswa itu. Di balik sebuah pohon besar yang terletak tidak jauh dari tempat itu, terlihat seorang yeoja menatap sedih seseorang yang sedang di pukuli tersebut. Dia sangat ketakutan melihat kejadian tersebut, tapi dia juga tidak mungkin bisa menghentikan segerombolan siswa tersebut seorang diri. Dia berpikir keras untuk menghentikan aksi pengeroyokan tersebut.
"SAEM! Di sini ada yang sedang berkelahi! Tolong Saem, seseorang di pukuli." Setelah berpikir beberapa menit, dia langsung berteriak dengan keras supaya para siswa sekolah itu menghentikan aksi memukul nya.
Pemukulan itupun berhenti, satu-persatu dari mereka segera melarikan diri dengan cepat tidak ingin mendapat masalah dengan pihak sekolah. Yeoja itu berlari menghampiri seseorang yang menjadi korban pemukulan dari preman sekolah itu.
"Kau baik-baik saja?" ia mengulurkan tangan nya untuk membantu seorang namja yang tersungkur di atas rumput belakang sekolah. Namja itu meraih tangan yeoja tersebut.
"Terimakasih" ucap namja itu.
"Aku akan membawa mu ke ruang kesehatan, aku akan membantu mengobati luka mu."
Yeoja itu membantu namja tersebut berjalan menuju ke ruang kesehatan yang lumayan jauh dari lokasi ini. Ia tidak merasa kesulitan, karena tubuh namja itu tidak terlalu besar, ia sangat mungil dan manis menurut yeoja itu. Bahkan wajah nya sangat cantikdalam keadaan babak belur saja, wajah cantiknya tetap melekat. Sesampai mereka di ruang kesehatan, Yeoja tersebut terlihat sibuk mencari peralatan untuk mengobati namja yang ditolongnya. Ia dengan hati-hati mengobati luka namja itu.
"AH!" Namja itu meringis ketika mendapat sedikit tekanan di daerah luka nya.
"Mi-mianhe, aku akan hati-hati."
"N-Ne" Ucap namja itu sambil menahan rasa perih nya.
"Selesai, kau terlihat lebih baik sekarang." Yeoja itu tersenyum manis ke arah namja mungil itu.
"Terimakasih.. umm"
"Gayoung, namaku Moon Gayoung." Ia mengulurkan tangan nya ke arah namja itu.
"Ah.." ia membalas uluran tangan dari yeoja yang telah menolongnya. "Baekhyun, Byun Baekhyun."
"Senang bertemu denganmu, Baekhyun-ssi. Baiklah, kau bisa berjalan ke kelas mu sendiri kan? Aku ada sedikit urusan mendesak." Gayoung memperlihatkan wajah sungkan nya terhadap Baekhyun.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih" Yeoja itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis.
"Ingat, jangan mencoba untuk mencari masalah dengan mereka lagi, Baekhyun-ssi. Baiklah aku pergi sekarang, semoga kau cepat sembuh. Annyeong!" ia bergegas keluar dari ruang kesehatan meninggalkan Baekhyun sendirian.
.
.
.
Baekhyun kembali memfokuskan pikirannya pada rencana yang akan ia jalankan. Dia masih melihat Nam-saem yang sedang menggoda siswi lainnya yang ada di dalam kelas tersebut. Dengan cepat ia menekan sesuatu dalam layar ponselnya lalu melirik ke arah ponsel itu.
'Tinggal menunggu prosesnya' Batin Baekhyun.
"Apa yang kau lakukan Baekhyun?" Tanya Chanyeol yang sejak tadi menatap gerak-gerik Baekhyun. Namja mungil itu menggeleng pelan lalu kembali menatap papan tulis di depan kelas, mengabaikan tatapan bingung dan penasaran namja di sebelahnya tersebut.
Beberapa menit kemudian, layar Televisi yang berada di depan tepat samping papan tulis menyala membuat seluruh pasang mata di kelas tersebut beralih menatap kearah layar televisi tersebut termasuk Nam-saem.
"Yak! Siapa itu"
"Bukankah itu Gayoung? Dan itu.." Seluruh pasang mata menatap kearah Nam-saem yang membatu di tempatnya. "Nam-saem?"
Dilayar televisi tersebut menampilkan seorang namja yang di kenal sebagai Nam-saem sedang menarik salah satu siswi yang berseragam Oushin Highschool menuju ke ruang kosong yang tak terpakai di area sekolah. Terlihat di layar Nam-saem sedang memaksa siswi tersebut dan mencoba untuk mendekatkan tubuhnya kearah siswi itu. Ia mencoba untuk melepaskan kancing atas dari baju seragam siswi itu, tetapi siswi itu telihat menolak. Seketika kelas menjadi riuh ketika TV di depan kelas menampilkan rekaman video tersebut. Nam-Saem terlihat sangat panik dan mencoba untuk mematikan TV tersebut, tetapi ia tidak bisa.
Tiba-tiba segerombol guru memasuki kelas dimana Nam-saem sedang mengajar. Ia di bawa paksa oleh para guru. Namja mungil yang sedari tadi tersenyum tipis itu segera menghentikan penayangan video tersebut. Ia menampilkan video ini disetiap layar yang terdapat di seluruh sekolah ini, baik itu komputer ataupun TV yang berada di tiap-tiap kelas.
"Heol! Jadi Nam-saem benar-benar melakukannya?"
"Guru sialan itu! Dia bahkan selalu mengelus tanganku! Benar-benar menjijikan!"
"Kenapa kalian tidak pernah mengatakannya pada kepala sekolah?" Tanya Chanyeol.
"Yak! Bagaimana kami bisa mengatakannya jika dia terus mengancam dengan nilai? Kami tidak bisa berbuat apa-apa Park"
"Tapi kita harus berterima kasih pada orang yang menayangkan video itu"
"Menurutmu siapa yang melakukannya?"
"Molla"
Seketika kelas menjauh riuh, beberapa siswa dan siswi terus menebak siapa yang melakukan semua itu dan sebagian lagi hanya tidak terlalu perduli tapi cukup berterima kasih.
Baekhyun meletakkan ponsel nya di atas meja, ia merentangkan kedua tangannya yang sedikit pegal. Kemudian ia bangkit dari tempat duduk nya.
"Kau mau kemana?" tanya Chanyeol.
"Toilet." Jawabnya singkat lalu berjalan meninggalkan ruang kelas.
Drrttt...drrrtt!
Sebuah ponsel yang berada di atas meja bergetar.
"Huh? Ponsel milik Baekhyun?"
Chanyeol kemudian meraih ponsel milik Baekhyun yang tertinggal di dalam kelas. Ia mencoba untuk membuka nya.
"Crac.."
Sebelum Chanyeol selesai membacanya, sebuah tangan sudah merampas ponsel tersebut dari tangannya. Namja tinggi itu menatap Baekhyun yang berdiri di hadapannya.
"Baek, itu.."
"Bukan urusanmu Park" Baekhyun segera melangkah meninggalkan Chanyeol yang kebingungan di kursinya.
'Apa aku salah membacanya? Tidak mungkin Baekhyun…'
To be continued..
Hallo! aku kembali dengan membawa Chapter 2 dari kisah seorang hacker cantik (?)
Maaf agak telat untuk update, aku usahain ke depan buat fast update. But, i'm not promise, babe!
Terimakasih buat uda review di chapter sebelum nya atau sekedar baca tanpa review wkwkw aku tetep berterimakasih karena udah meluangkan waktu untuk melihat FF yang menurut ku terlalu gak jelas ini. Tapi, aku bener-bener butuh kritik dan saran kalian supaya bisa lebih semangat buat lanjutin FF ini ^^
Ini balasan buat yang rewvie kemarin:
Eka915: Uda aku lanjut, maaf gak fast wkwkw
Lepetitbyun: Makasih ^^ Itu ada di awal cerita siapa yang dateng wkwk
Shenshey27: Sudah aku next ^^
Memaybob: uda di lanjut ^^
Yeolloaddedbaek: Pedo... iya kali wkwk ikuti aja kisah mereka^^
RedCherry Yeoliie: Makasi^^ sudah di next
Love654: Lanjut mang..
Ricon65: Uda di lanjut, makasih ^^
Guest(fwxing): Di penjara tidak ya? Hmmm
Innocent Vee: Dia murid dimas kanjeng ini sudah di next hehe
Guest(Byunie12): Anime kaito kid yang mana .-. ga pernah nonton anime wkwk kaito kid yang ada di conan itu?
Okey, aku tunggu review dari yang lain buat Chapter 2 ini. Saranghae...
