Karena permintaan, ane takut juga di kutuk oleh sohib-sohib, ya udah deh, ini special buat sohib yang nge-request, mohon maaf yak, kalo masih ada yang kurang *ini emang udah pasti* :D.

Oh ya, ane juga mau ngasih tahu nih. Tolong yah, kalo ngeriview, kalo bisa pake akun lah. Kan nggak enak kalo ada yg ngasih saran dan masukan, authornya juga pengen diskusi ato tukar pikiran, jadi nggak bisa, karena review sebagai Guest.

Kalo misalkan lupa password ane saranin, buat akun baru lah. Setuju!?

Udah banyak nih, yang ngasih saran, tapi ia jadi guest, mau tukar pikiran? Dengan cara apa? Orang reviewnya sebagai guest

Nah inilah sepenggal curhatan ane.

Keep your reading.

Oh ya… tanggapan atas review sohib ada di bagian akhir.

Special Guest : Itachi. U

Good News

Di hutan yang bisa di katakan bukanlah hutan lebat. Sasuke dan Sakura istirahat di bawah pohon guna menghindari sinar matahari yang terasa membakar itu.

"Ne Sasuke. Aku ingin buah yang itu" tunjuknya pada buah dari pohon yang sedang mereka tempati untuk istirahat dari sengatan matahari.

Pohon yang tumbuh liar itu memang sedang berbuah lebat. Dan sudah banyak yang ranum, bahkan juga sudah banyak yang berjatuhan.

"Tapi Sakura. kan banyak yang berjatuhan, kenapa harus yang di atas sana" jawab Sasuke sedikit kurang semangat. Panasnya matahari membuat ia merasa malas untuk bergerak.

"Mou… pokoknya aku mau yang di atas" Sakura mulai menyentak-nyentakkan kakinya.

"Baiklah" Akhirnya Sasuke pasrah dan menurut. Ia mulai bersiap mengumpulkan kekuatan pada kedua kakinya untuk melompat ke atas buah yang di maksud Sakura.

"Sasuke, aku ingin kau manjat"

"Apa?" Sasuke menatap Sakura memastikan kalau ia salah mendengar apa yang ia dengar barusan.

Sakura mengangguk cepat.

"Tapi… ini kan panas"

"Jadi tidak mau…" Sakura memperlihatkan muka cemberut, "Sasuke jahat.." Sakura mulai menundukan kepala, bahunya sedikit terlihat tergetar.

"Baiklah… baik"

Sasuke menarik nafas panjang, ia bingung dengan sikap Sakura akhir-akhir ini. Makin manja, selalu meminta keinginan aneh-aneh.

Bahkan pernah Sasuke di minta untuk memakai pakaian Sakura yang kekecilan untuk ukuran tubuhnya. Maksudnya, Sasuke harus berpakaian ala Sakura. Dan hasilnya, gaun kipao milik Sakura yang ia paksa kenakan, jadi sobek sana-sini. Selain itu pakaian nya juga kependekan sehingga terlihatlah kelaminnya yang justeru mengacung keras. Menyaksikan kekonyolan itu, membuat Sakura tidak berhenti tertawa. Sasuke hanya bisa mendengus kesal membiarkan kekasihnya itu menertawainya.

Tidak hanya itu, setiap kali makan, Sakura makan lebih banyak dari biasanya, dan berakhir dengan kembali di tumpahkan. Setiap kali melihat Sakura menumpahkan isi perutnya, Sasuke selalu khawatir.

Dan kini keanehan lain muncul lagi. Sekarang Sakura minta buah yang ada di atas pohonnya. Dan harus di ambil dengan cara di panjat. Padahal ia bisa dengan cara mudah, yaitu melompatinya.

"Nih" Sasuke menyodorkan beberapa buah. Ia turun dengan peluh yang membanjiri tubuhnya. Sakura sangat antusias menerima pemberian Sasuke.

Sasuke menelan ludah, begitu melihat Sakura dengan lahap memakan buah yang ada di tangannya.

"Sasu.. aku ingin kau makan yang ini" pintanya pada Sasuke.

"Heh! Itu kan. Tidak!"

"Sasuke..." Sakura menunjukan wajahnya yang hendak menangis.

"Baiklah…" Sasuke lagi-lagi terpaksa mengalah. Ia mengambil buah yang di sodorkan Sakura padanya. Ia menelan ludah. Tidak mungkin ia akan menghabiskan buah yang rasanya sangat asam itu.

Dengan sangat terpaksa, Sasuke memakan buah asam itu.

Sakura justeru menatap Sasuke yang berusaha mengunyah buah yang rasanya sangat asam itu dengan tatapan aneh. Perlahan Sakura mendekatkan wajahnya. Sasuke makin kebingungan.

Sasuke makin kelabakan ketika Sakura tiba-tiba menempelkan mulutnya. Bahkan lidah Sakura sudah masuk kedalam mulut Sasuke sambil mengais-ngais hasil buah yang di kunyah oleh Sasuke. Sebentar saja, sebagian hasil kunyahan Sasuke sudah berpindah kedalam mulut Sakura.

Wajah Sakura kelihatan berbinar begitu ia memakan dan menelan kunyahan Sasuke.

"Aku ingin kamu makan ini untukku. Aku ingin makan dari mulutmu" ujar Sakura kembali menyodorkan buah lain.

Sasuke membelalakkan mata. Mengunyah buah itu sangat berat ia lakukan, selain karena rasanya, giginya juga sudah mulai terasa ngilu. Tapi menolak keinginan aneh Sakura jauh lebih berat.

Akhirnya Sasuke pasrah dan memenuhi keinginan kekasihnya. Mengunyah buah yang membuat giginya makin terasa ngilu.

Matahari sepertinya sudah bersiap-siap menuju peraduannya. Sang dewi malam pun siap-siap mengganti tugas sang Raja Siang.

Setelah menempuh perjalanan panjang Sasuke dan Sakura meninggalkan hutan dan memasuki gerbang tempat yang terlihat agak ramai.

"Ne, Sasuke, ini kan pinggiran kota Konoha. Aku sering kesini" seru Sakura dengan tangan masih tetap bergandengan.

Tidak ada jawaban melainkan tarikan sudut bibir dari Sasuke. Ia melanjutkan langkahnya menuju suatu kedai. Yang kelihatan sudah sepi pengunjung.

"Permisi" Sapa Sasuke pada pemilik kedai yang nampak sedang bersiap-siap menutup kedainya. Mungkin ia memang tidak berniat membuka kedainya sampai malam.

"Maaf tuan, kalau hendak makan, kami tidak membuka sampai malam…" orang yang hendak menutup kedai berbalik badan, dan berbicara dengan sopan

"Oh… apa ada kedai lain yang membuka pada malam hari?" Tanya Sasuke juga dengan sikap yang tak kalah sopan, "Kami sudah kelaparan"

Sebelum orang tadi menjawab, "… Sasuke…" seru pria berambut klimis nampak kaget ketika siapa yang di ajak oleh pekerjanya berbicara.

Sasuke menautkan alis begitu ada yang memanggil namanya, ia merasa tidak mengenal orang yang baru muncul.

Pria berambut klimis tersenyum, "Ah, mungkin kau sudah lupa, kau pernah menolongku dari perampok, ketika hendak mengantar dagangan. Tapi aku tidak pernah lupa jasamu Sasuke"

Sasuke berusaha mengingat-ingat siapa pedagang yang pernah ia tolong selama dalam pengembaraannya.

"Hidan?" agak ragu memang, Sedikit ingatan melintasi otaknya.

"Benar sekali" jawab Hidan dengan mata berbinar, "Kau masih suka mengembara?"

Sasuke dengan senyumannya mengangguk.

Hidan menoleh pada Sakura yang masih berdiri di samping Sasuke.

"Kenalkan, ini Sakura…"

"Kekasihmu? Atau… isterimu?" potong Hidan menebak.

"Calon Isteri" tegasnya.

"Aha…ha…ha.. maaf, aku terlalu cerewet mengajak kalian ngobrol. Aku yakin kalian butuh tempat istirahat malam ini. Bagaimana kalau kalian menginap di tempatku" imbuh Hidan dengan nada yang seerti sudah sangat akrab.

"Terima kasih, tapi…"

"Ayolah Sasuke, kita ini adalah kenalan lama. Kali ini aku memaksa" potong Hidan.

Sasuke menoleh sesaat pada Sakura.

"Aku lupa, kalian pasti lapar, ayolah, masih ada makanan. Ayo masuk, dan jangan malu, Sasuke, Sakura" hidan menarik tangan Sasuke.

Sasuke dengan terpaksa menurut, begitu juga dengan Sakura.

"Maaf. Hanya sisa dari penjualan hari ini. Dan aku harap ini cukup untuk kalian. Dan jangan kwatir, kalau memang masih kurang, saat makan malam, kalian juga boleh ikut"

"Kurasa ini cukup. Terimakasih" balas Sasuke.

Hidan sudah menghidangkan kedua tamunya makanan, dan selanjutnya Hidan meninggalkan dan membiarkan SasuSaku menikmati hidangannya.

Sakura sudah makan dengan lahap, sementara Sasuke tidak menyentuh makanannya sama sekali. Ia tahu makanan yang di hidangkan Hidan adalah makanan untuk porsi dua orang, sementara akhir-akhir ini Sakura sering memakan makanan untuk porsi dua orang.

Sebentar saja makanan sakura tandas. Ia menatap Sasuke, "Sasuke kamu belum makan?"

Sasuke tersenyum, "Makanlah. Aku tahu kamu masih lapar"

"Tapi kamu belum makan" sebenarnya Sakura sangat senang ketika Sasuke menawarkan jatahnya, hanya saja, ia juga tahu kalau Sasuke juga belum makan.

Sasuke mengacak-acak surai Sakura. "Tidak apa-apa Sakura. Aku masih kenyang. Makanlah lagi!" ujarnya lembut.

Sakura mengambil makanan yang disodorkan Sasuke. Tapi ia tidak langsung memakan, "Sasuke, menurutmu, kenapa porsi makanku akhir-akhir ini, makin banyak. Apakah aku akan gemuk?" suaranya lirih.

Sasuke masih tersenyum, "Memang kenapa?"

"Apakah kau masih menyukaiku jika aku tambah gemuk?" penyakit wanita, paranoid pada tubuh gemuk.

Sasuke malah tertawa mendengar ucapan Sakura, "Tentu saja. Aku ingin melihat kecantikanmu yang lain jika kamu bertambah gemuk"

"Mou… Sasu.."

"Sudahlah, teruskan makanmu, seperti apapun dirimu, aku akan tetap mencintaimu" ujarnya serius. Sebenarnya Sasuke sangat gemas jika Sakura sedang cemberut, karena godaannya. Hanya saja untuk kali ini, ia tidak dia lakukan karena Sakura sedang makan.

Sakura kembali melanjutkan makannya, tapi baru habis setengah dari makanan yang di berikan Sasuke, tiba-tiba saja Sakura menutup mulut dengan kedua tangan.

Sakura bangkit dari duduknya. Ia segera berlari keluar dan menuju samping kedai. Sakura mulai menumpahkan semua isi perutnya.

"Hoeeek"

"Sakura" dengan penuh kecemasan Sasuke segera menyusul Sakura. Meski sudah berulang kali menyaksikan Sakura seperti itu, Sasuke tetap menunjukan rasa khawatirnya.

"Tumpahkan, sampai kau lega" imbuh Sasuke sambil memijit tengkuk Sakura.

Seperti sebelumnya, usai menumpahkan isi perutnya, Sakura menjadi kelihatan lemah.

"Kau yakin kau tidak akan muntah lagi?" Sakura menggeleng lemah.

Sakura segera melingkarkan lengannya di leher Sasuke, sementara Sasuke segera menggendong tubuh Sakura masuk kembali kedalam kedai.

"Maaf Hidan, boleh kami meminjam kamarmu" suara Sasuke penuh permohonan.

"Oh tentu" tanpa banyak bertanya, Hidan segera menunjukan kamar yang di maksud.

Sasuke pamit meninggalkan dan membiarkan Sakura istirahat.

Sasuke segera kembali ke meja makan berniat menghabiskan sisa makanan dari Sakura, karena sebenarnya ia juga lapar.

"Tunggulah sebentar Sasuke, aku akan mengambilkanmu makanan yang baru. Tadi aku melihat kau belum makan"

"Tidak perlu, Hidan. Aku akan memakan sisa dari Sakura" sahut Sasuke merasa tidak enak, karena terlalu merepotkan Hidan.

"Jangan Sungkan Sasuke…"

"Tidak usah, terima kasih. Sayang kan, Jika harus di buang, lagi pula ini sudah cukup" jawab Sasuke sambil duduk di kursi meja tempat ia dan Sakura makan tadi.

"Apa yang terjadi dengan Sakura?" tanya Hidan setelah Sasuke menyelesaikan makanannya. Hidan segera dudukdi kursi yang ada di depan Sasuke.

"Entahlah, akhir-akhir ini, ia selalu seperti itu. Aku selalu khawatir. Di tambah lagi makannya tambah banyak dan permintaannya terkadang aneh-aneh" Sahut Sasuke perlahan tapi memperlihatkan wajah kekhawatirannya.

Mendengar ucapan Sasuke, Hidan tersenyum.

Sasuke menautkan alis, "Kenapa?" Ujarnya sambil menatap Hidan.

"Selamat Sasuke" ujar Hidan dengan senyum makin lebar.

Sasuke makin kebingungan menatap Hidan.

"Sakura hamil" ucap Hidan masih dengan senyum lebar.

"Apa?!" Sasuke masih belum percaya dengan apa yang didengarnya, "bagaimana bisa kau begitu yakin?" bahagia, tapi takut juga jika apa yang di katakan Hidan tidak sesuai dengan kenyataan.

Hidan tersenyum, ia mengerti, memang wajar jika kabar tentang kehamilan pasangan masih sukar di percaya. Apa lagi jika itu kehamilan pertama.

"Aku sudah menikah, Sasuke. Dulu isteriku juga sama, sering muntah dan juga dengan permintaan yang aneh-aneh" Jawab Hidan meyakinkan.

Sasuke melihat sekeliling, ia menjadi kurang yakin, karena dari tadi, ia tidak melihat ada orang lain selain Hidan dan pelayannya yang bernama Kakuzu.

Hidan tentu saja mengerti, "Ini bukan rumah tempat tinggalku Sasuke. Rumah kami yang di sebelah. Dan adapun kamar tempat Sakura istirahat sekarang, itu adalah tempat yang biasa ku pakai jika istirahat siang"

Sasuke diam, perasaannya masih bercampur aduk. Tapi yang pasti perasaannya di dominasi oleh kebahagiaan, dan sangat berharap, kalau Sakura benar-benar hamil.

"Eumm.. begini Sasuke, bagaimana kalau kau bermalam saja di tempat kami. Ini juga sudah malam" Hidan menawarkan bantuannya.

"Apakah kau memiliki penginapan?"

Hidan tersenyum, "Tentu saja tidak, tapi kalian boleh bermalam di rumah kami"

"Dan kalau malam, adakah yang tinggal di kedaimu ini?"

Hidan kali ini menggeleng.

"Kalau kau tidak keberatan, aku ingin bermalam di kedaimu ini. Lagi pula, mungkin Sakura sudah tertidur. Ia memang sudah kelelahan"

Hidan mengangguk mengerti.

"Dan kau juga ingin memberi tahukan kekasihmu soal kabar gembira ini".

Sasuke mengangguk.

"Seperti apa reaksinya kira-kira"

Sasuke tersenyum, "Mungkin ia akan bertingkah seperti anak kecil yang baru mendapat mainan"

"Mungkin, dulu isteriku juga seperti itu" Sahut Hidan, "Baiklah Sasuke, aku akan pulang. Mungkin sebaiknya kau mulai memikirkan untuk memiliki tempat tetap. Kasihan kalau kau membawa kekasihmu kemana-mana dalam keadaan hamil. Belum lagi kalau di pengembaraan kalian, kalian akan di hadapkan pada satu pertarungan. Itu kan berbahaya"

"Benar. Dan aku memang sudah mempertimbangkan"

"Baiklah, selamat istrahat Sasuke, permisi" pamit Hidan dan meninggalkan Sasuke.

"Oh ya, Sasuke, mulai sekarang mungkin kau akan sedikit di repotkan. Wajarlah, orang ngidam" imbuh hidan mengingatkan sambil tersenyum, ia meninggalkan Sasuke.

"Sakura yang merepotkan justeru membuatku tambah bahagia" balas Sasuke dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.

Hidan juga balas senyum sambil mengangguk.

Sepeninggal Hidan, Sasuke dengan senyum kebahagiaannya segera menuju Sakura.

-SSS-

Hari masih pagi, cakrawala di ufuk timur, masih berwarna jingga.

"Sasu, kenapa pagi-pagi sekali kau mengajakku jalan-jalan?" Akhirnya Sakura mengungkap juga kebingungannya.

Sejak tadi Sasuke mengajaknya berkeliling. Tanpa bermaksud meninggalkan desa tersebut untuk melanjutkan perjalanan.

"Aku hanya ingin tahu pendapatmu. Bagaimana menurutmu tempat ini?" tanya Sasuke.

Sakura menatap sekeliling, "Tempat ini belum terlalu padat penduduk. Dan lagi pula tempat ini kan pinggiran Kota. Tempat belanjanya juga tidak jauh" Sakura memberikan pendapatnya.

"Kau suka?"

"Aku tidak peduli aku tinggal di mana, yang penting aku bersamamu" balas Sakura.

"Karena itulah aku bertanya padamu" Sasuke menghadapkan badan Sakura padanya, "Kau suka tempat ini?"

Sakura mengiyakan sambil menganggukan kepala.

"Kita akan tinggal di sini. Dan selamat, ya!"

"Eh!" Sakura merasa heran, untuk apa Sasuke mengucapkan selamat padanya.

"Kau ingat tentang kejadian yang menimpamu beberapa hari terakhir?. Uhm.. tentang makanmu yang tambah banyak dan…" Sasuke sengaja tidak melanjutkan ucapannya. Tak mungkin ia mengatakan kalau prilaku Sakura juga ada yang aneh.

Sakura mengangguk.

"Menurut Hidan, itu karena… kau… hamil"

"Hamil?!" Sakura kali ini menggeleng tidak percaya, "Kau yakin? Darimana Hidan bisa yakin mengatakan seperti itu?".

"Benar, dia sudah menikah dan apa yang kau alami juga pernah di alami isterinya" pandangan Sasuke meyakinkan, "Oh ya. bukankah kau Ninja medis, seharusnya kau lebih tahu kan?"

"Anak kita?" Sakura menutup mulut, air mata harunya mulai menetes.

"Hn" Sasuke mengangguk sekali lagi.

Sakura segera menghambur kedalam pelukan Sasuke, air mata harunya sudah tidak bisa ia bendung. Ia sangat bahagia, impiannya menjadi seorang ibu benar-benar akan segera terwujud.

Sasuke juga tidak henti-hentinya membelai Sakura yang ada dalam pelukannya. Ia menyampaikan kebahagiaannya dalam setiap belaiannya.

Bisikan terima kasih dan kata cinta juga sering keluar dari mulut mereka kadang secara bergantian.

Pengembaraan Sang Ninja Pengembara berhenti disini dengan awal hidup yang baru.

Udahan yah, kalau masih ada yang kurang, mohon maaf lah.

Kurang greget ya, he..he..he.. gomen (-_-"))

..

Nah ini tanggapan atas review sohib, seperti biasa, ane copi point yg perlu ane tanggapi. Moga2 nggak merubah substansi.

ohshyn76 :

[bikin squel nya dong]

Kalo minta sequel lagi, tema yg bagus apa ya, kamu punya saran?

Risnusaki :

[mereka tu ngga deket secara emosianal gitu] ada, secara kan, Sakura pernah menjadi orang kepercayaan Dan Kato, Sakura juga pernah menjadi semacam dokter keluarga bagi Dan Kato dan Tsunade, masa sih di situ nggak terbentuk hubungan emosional.

[malah klo difikir2 kesan sunade ama hikari tu buruk] sebenarnya Tsunade itu baik, hanya saja karena termakan oleh emosinya sendiri, makanya jadi dendam. Mungkin ini pelajaran juga buat kita, kalo jangan terlalu cepat termakan emosi, entar nasibnya kayak Tsunade lagi :v. Dan Hikari ane kira udah ada pemaparannya, bagaimana saat Hikari menaruh empati melihat Sakura yang sedang terpuruk. Bahkan ada juga kan percakapan kalau Hikari meminta Tsunade agar berhenti memburu Sakura. Bahkan selalu menanyakan alasan kenapa Sakura harus jadi buruan. Tapi lagi-lagi Hikari juga termakan oleh emosi, tapi bertendensi LOVE. Demi si dia gitu…

Inti dari intinya, Tsunade dan Hikari sebenarnya orang baik :D.

[masa mau namain anaknya sunade ama hikari] alasannya karena Sakura begitu terkesan pada Tsunade, bagaimana Tsunade rela mengakhiri hidupnya karena kecintaan pada sang kekasih. Pada hal sama Dan Kato aja Tsunade sampai nggak segitunya.

Ada kok di text chap 12 … enggaklah :v emang baru di tambahin, karena review kamu ini.

Tapi ane juga mikir kalo Sakura lebih baik lagi, ia melupakan kalau Tsunade ingin membunuhnya dan justeru memberi apresiasi dengan berniat menggunakan nama mereka untuk anaknya, mulia nggak tuh

[klo menurut aq ce haruznya sasusaku itu ky menetap di suatu tmpat punya rumahminimal pas sakunya hamil lahbaru and gitu] nah karena reviewmu ini, ane publish nih epilog. Anggap aja this's special for you. Jadi ane minta ya lain kali jangan review sebagai guest lagi, biar enak, bisa tukar pikiran

Oh ya ada lagi, Renegade sayyy.., bukan Rinnegan atau rinegane.

Dan untuk sequel kedua renegade, jadilah… mudah-mudahan bisa publish bulan depan, ato paling tidak akhir bulan ini. Soalnya Renegade adalah Fict pertama dan karya tulis pertama ku juga dan jujur ini favoritku juga. Pengennya renegede sequel yg rencananya mau di kasih judul New Generation vs New Akatsuki, harus di susun scara apik. Sebenarya konsep udah ada, tinggal pengembangan saja, dan ini yang agak susah. Mengingat banyak apresiasi bagus pada fict renegade. Ane pikir sequelnya musti sebagus renegade ato paling nggak, jeleknya dikit lah :v. Yah, mungkin nggak sepanjang renegade sih, karena ceritanya… bocorannya nggak jadi ya… :D

Satu lagi, thx ya atas apresiasinya. Dan jujur, ane emang lebih berpokus pada adegan berantem dan lemon ketimbang kisah lain. Oh ya, ane juga pokus kok sama kisah cinta ato interaksi SasuSaku.