"Kali ini apa yang menjadi Trending topic." Guman Baekhyun.

Buck-whisper – 2 hours ago

'Aku mendengar ada seorang hacker baru yang akan bergabung dengan kita. Aku penasaran bagaimana keahliannya, apa setara dengan Zefor? Hmm'

Postingan tersebut berada di urutan pertama pada beranda Cracked.

"Dia seorang Hacker atau pembawa berita gosip?" Guman Baekhyun.

Ia menekan postingan tersebut untuk melihat komentar para hacker lainnya. Postingan tersebut baru dua jam, tetapi sudah banyak orang yang muncul untuk ikut berkomentar di akun milik Whisper.

'Aku harap dia benar-benar generasi yang setara dengan Zefor.' – Deathbird

'Aku yakin tidak ada yang bisa mengalahkan Zefor! #TeamZEFOR' –fghpoo

'Kenapa aku merasa Zefor akan tersingkir ckckck.' – Rawhide

'Aku ingin melihat nya bertanding dengan Zefor!' – Dynamo007

Baekhyun tidak melanjutkan membaca komentar yang terlalu banyak itu. ia kemudian menekan kolom komentar dan mengetikan sesuatu.

'Bisakah kalian tidak membawa namaku?' – Zero-Four

Baekhyun menekan ikon 'SEND'. Ia menghela napasnya lalu memijit pelan kepalanya.

"Ck, siapa hacker baru itu?" Guman Baekhyun.

ZERO-FOUR

By baexepuy

.

.

Main Cast :

Byun Baekhyun - Park Chanyeol

Genre : Crime, Romance, School life

Rate : T (itu aja dulu)

Warning:

BoysxBoys/YAOI! – homophobic jangan baca

-oOo-

Chanbaek Sky

Presents

.

Summary:

Zero-four, hacker pintar incaran divisi kepolisian harus berurusan dengan namja tinggi yang menganggu hidupnya.

Maafkan aku – Chanyeol

Aku Menyerah – Baekhyun

.

Enjoy the story ^^

Chapter 4

"Coffe?"

Chanyeol mengalihkan perhatiannya dari layar komputer di hadapannya saat Kyungsoo menggerakkan pelan cup coffe yang ada di tangannya. Namja tinggi itu tersenyum tipis dan mengambilnya.

"Thanks"

Kyungsoo mengangguk pelan lalu duduk di meja kerjanya tepat di sebelah Chanyeol.

"Ada perkembangan?"

Chanyeol menoleh sebentar kearah namja itu lalu kembali fokus pada komputer di hadapannya.

"Sedikit"

Kyungsoo meminum coffe miliknya lalu menoleh sebentar kearah Chanyeol.

"Kwajang-nim mempunyai ekspetasi penuh padamu, walaupun ya well aku tidak sepenuhnya setuju" Namja itu melirik Chanyeol sebentar lalu terkekeh geli. Bagaimana bisa ketua mereka mempercayai kasus yang sudah mereka tangani dalam satu tahun ini pada namja yang tidak tau aturan seperti Chanyeol. Dia bahkan tidak terlihat sebagai salah satu anggota kepolisian, lihatlah bagaimana cara dia berpakaian saat ini. Ripped jeans berwarna hitam, Hoodie hitam kebesaran serta sneakers berwarna putih.

Chanyeol hanya berdecih malas saat menyadari namja yang duduk di sebelahnya tersebut sedang memperhatikannya.

"Berhenti menatapku seperti itu Kyungsoo-ssi"

"Ah baiklah. Jangan perdulikan aku"

Chanyeol memutar bola matanya malas lalu kembali memusatkan perhatiannya pada layar komputer itu. Saat ini namja tinggi itu sedang mencari data seseorang yang mencuri perhatiannya beberapa hari ini.

[ Byun Baekhyun ]

Di layar komputer itu terlihat seluruh data yang ada di kepolisian mengenai namja mungil itu. Kedua bola matanya berhenti saat melihat data kedua orang tua Baekhyun.

"Byun JoonJae dan Byun Haerin meninggal tahun 20xx akibat…"

"Chanyeol!"

Namja tinggi itu langsung menoleh kearah suara yang memanggilnya tersebut. Junmyeon berdiri di depan ruangannya dan meminta Chanyeol untuk segera menemuinya.

"Ada yang harus ku bicarakan padamu"

Chanyeol langsung bangkit dari kursinya meninggalkan komputer yang masih menampilkan data kedua orang tua Baekhyun.

.

.

.

Dering ponsel menggema di dalam ruangan, terlihat sesosok namja mungil yang meringkuk di atas sofa menggeliat pelan karena mendengar suara deringan ponselnya. Tanpa membuka kedua matanya, ia meraba meja di sampingnya mengambil benda persegi tersebut. Setelah menemukan ponselnya, dia langsung menggeser tombol hijau tanpa melihat siapa yang menghubunginya lalu menempelkan ponsel tersebut ke salah satu telinga nya.

"Yeobseyo" Terdengar suara khas orang yang baru bangun tidur.

"Baekhyunnie.." Sapa seseorang di seberang sana.

"Huh?" Baekhyun menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap layar tersebut dengan mata yang masih sedikit berat. "Luhan Ahjussi?"

"Panggil aku hyung bodoh!"

"Ck. Kenapa menghubungiku hyung?" Baekhyun menekankan kata hyung dalam pembicaraannya.

"Apakah sudah ada perkembangan dengan kasus mu?"

Matanya terbuka sempurna, sesaat rasa kantuk nya telah hilang dan tergantikan oleh perasaan gelisah yang ia rasakan. Ia bangkit dari tidur nya ketika mendengar suara yang cukup serius di sebrang sana.

"Aku.. aku belum menemukan petunjuk apapun hyung." Ucapnya lirih

"Baekhyun, berhentilah main-main! Sungguh aku terlalu lelah melihat tingkah mu dari sini. Kau harus fokus dengan tujuan awalmu!" Suara Luhan meninggi, ia marah.

"Hyung.. aku seperti ini juga punya tujuan, aku tidak main-main. Hanya bersabarlah, beri aku waktu." Berbanding terbalik dengan suara Luhan, suara yang Baekhyun keluarkan terdengar sangat menyedihkan dan sedikit rapuh.

"Tetapi tidak dengan main-main seperti itu, kau tidak ada bedanya dengan mereka, Baek."

"Aku tau hyung. Aku tidak peduli dengan apapun, hanya saja aku yakin dengan cara seperti ini aku juga bisa melacak dia yang telah membuat keluarga ku hancur." Baekhyun mengepalkan tangannya sebelah kiri, ekspresi wajahnya meredup.

"Terserah padamu. Hanya saja kau harus ingat tujuan awalmu, waktu kita sudah terlalu banyak terbuang. Kau juga menolak bantuanku, Baek."

"Aku tahu itu, hyung. Aku hanya ingin melakukan nya sendiri."

"Baiklah, kabari aku jika kau mendapatkan petunjuk apapun itu"

"Ne hyung"

"Jaga dirimu. Hubungi aku jika terjadi apapun"

"Arraso. Kau sangat cerewet hyung"

Luhan terkekeh kecil lalu mengakhiri panggilan tersebut. Baekhyun menatap layar ponselnya lelah lalu menghela nafas pelan. Namja mungil itu mengusap wajahnya yang terlihat muram dengan kasar. Melirik jam yang tertempel di dinding, menunjukan pukul 10.15 KST. Baekhyun berjalan menuju kamarnya, bersiap menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya dan pikirannya. panggilan pagi yang merusak mood-nya.

Seperti biasa, kegiatan Baekhyun ketika weekend hanya mengurung diri di apartemen sederhana miliknya. Ia hanya akan duduk di depan deretan komputer pribadi miliknya, yang berada diruangan khusus itu. Kali ini tujuannya berada di depan deretan komputer itu, tidak untuk melakukan hacking. Ia membuka sebuah aplikasi permainan favourite-nya—League of Legends.

"Argh!.. apa yang harus ku lakukan!" Baekhyun tiba-tiba berteriak dan membanting mouse yang berada dalam genggamannya.

Tidak, Baekhyun berteriak bukan di sebabkan oleh game kesukaannya itu, pikiran Baekhyun kembali bercabang-cabang. Meskipun begitu terlihat sedari tadi ia terus memenangkan game yang ia mainkan, itulah kelebihan Baekhyun, seorang multitasking. Pikiran Baekhyun kembali melayang, memikirkan sesuatu. Suatu hal yang mengganggu nya semenjak tadi, pembicaraan yang ia lakukan bersama Luhan masih saja menghantui pikirannya, walaupun ia sudah berusaha untuk mengabaikannya dan menghiburnya dengan bermain game.

"Aku akan segera membuat mereka mendekam di penjara, aku berjanji." Baekhyun menggeram.

.

.

.

"Good morning, uri Baekhyunnee." Chanyeol berdiri di samping mejanya dengan senyum lebar yang selalu di benci oleh namja mungil itu.

"Tsk." Baekhyun berdecih pelan memilih mengabaikan namja tinggi itu.

"YA! Kau tidak membalas sapaan ku, huh?"

Namja tinggi itu mendudukan dirinya di kursi kosong tepat di samping namja mungil tersebut, tentu saja itu kursinya sendiri, yang sudah ia tempati sejak hari pertama ia menjadi siswa kembali di Oushin Highschool.

"Baekhyun-ahh... Baekhyun-ahh... Baekhyun-ahh..." Chanyeol terus menerus memanggil nama Baekhyun.

Namja mungil itu tidak memperdulikan tingkah kekanakan yang dilakukan Chanyeol, ia terus saja membaca buku yang berada dalam genggamannya. Chanyeol yang merasa kesal karena terus diabaikan pun menarik buku yang berada pada tangan mulus milik Baekhyun.

"Chanyeol!" Baekhyun meninggikan suaranya.

"Mwo?"

Baekhyun hanya melemparkan tatapan menusuk ke arah Chanyeol tanpa mengeluarkan suara, ia merogoh saku nya dan mengambil ponsel nya. Ia memainkan game yang berada pada ponselnya. Sedangkan Chanyeol, ia hanya memandang Baekhyun dengan mata bulat miliknya yang melebar.

"Ayolah, Baekhyun. Kenapa kau hanya diam, aku tidak suka melihat mu diam seperti ini."

Baekhyun mengernyit. "Kalau begitu, tidak perlu melihatku jika kau tidak suka."

"Nah! Aku menyukaimu yang seperti ini!"

Namja mungil itu menghentikan aktivitas nya, melirik sekilas ke arah Chanyeol, lalu kembali berkutat dengan ponsel sialan nya itu.

"Baekhyun-ahh... Baekhyunniee...Baekieee..." Chanyeol menoel-noel lengan Baekhyun.

"Diamlah, bodoh!" Baekhyun menggeram.

"Aish.. kau ini kenapa? Aku tidak suka diabaikan." Namja bertelinga lebar itu menjambak rambutnya dengan kasar.

"Lebih baik kau diam, idiot!"

"Tapi aku tidak bisa diam, ajak aku bicara, Baekie-ahh."

Baekhyun memutar matanya dengan malas ketika mendengar julukan dari namja tinggi itu.

"Aku sedang dalam mood yang tidak baik hari ini, Chanyeol."

"Aku bosan, Baekhyun. Lagi pula kelas kita kosong hari ini."

"Lalu?"

Chanyeol menolehkan kepalanya ke samping dan mendapati sepasang mata yang kini tengah menatapnya.

"Ayo sedikit bermain." Senyum lebar langsung tercetak di wajah pria bertelinga lebar tersebut.

"Chan, aku sudah bi—"

"Tidak ada penolakan, Baekhyun." Chanyeol melipat kedua tangannya di depan dada dan menggelengkan kepalanya.

"Tidak." Tolaknya.

"Ayolah, Baek. Kenapa kau susah sekali, sih?"

"Berhentilah bertingkah seperti anak kecil, Park Chanyeol!"

"Aish.. Baekhyun, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Tidak."

"Kenapa kau tinggal sendiri?"

"Karena aku hanya sendirian."

"Dimana kedua orangtua mu?"

.

.

.

"Ibu! Baekhyun mendapatkan juara pertama lomba bernyanyi!" Baekhyun berteriak ketika ia tiba di rumahnya.

"Aigoo.. uri Baekhyunee mendapat penghargaan eoh?" Ibu Baekhyun muncul dari dapur, masih mengenakan apron.

"Ya, ibu. Baekhyun sangat senang, Baekhyun memenangkannya lagi." Baekhyun memeluk ibunya dengan erat.

"Kau memang yang terbaik, Baekie kecil ku." Ibu nya mengusap lembut kepala sang anak.

Baekhyun melepaskan pelukannya dari sang ibu. "Aku bukan anak kecil ibu, Baekhyun sudah besar!" Namja mungil itu mempoutkan bibirnya.

"Tapi dimata ibu, kau masih seorang Baekie kecil nya ibu..." Ibu nya memberikan senyum tulus nya.

"Yayaya, arraseo. Terserah ibu saja, saat Baekhyun sudah berada di sekolah tingkat akhir, Baekhyun akan tumbuh menjadi seorang namja yang tinggi dan juga tampan, ibu."

"Ibu tahu itu sayang, kau akan menjadi namja yang manis." Ibunya terkekeh kecil.

"Ibuuuuu~." lagi-lagi mempoutkan bibir mungilnya.

"Aku pulang.."

Suara berat yang berasal dari arah pintu masuk menginterupsi perdebatan antara Baekhyun dengan ibunya.

"Ayah!" Baekhyun berteriak kencang setelah mendengar suara ayahnya.

"Wah, kau terlihat gembira sekali hari ini, ada apa?" Sang ayah menghampiri putra nya.

"Baekhyun memenangkan kompetisi menyanyi antar sekolah, ayah. Baekhyun mendapat juara satuuuuuu" Pekiknya.

"Selamat uri Baekhyun!" Ucap sang ayah dengan bangga.

"Hanya itu?" Tanya Baekhyun dengan lirih.

"Huh? Ayah bangga padamu, nak. Kau selalu saja membanggakan kedua orangtua mu dengan bakat yang kau punya." Ucap sang ayah dengan tulus.

"Baiklah! Bagaimana jika kita makan di luar saja hari ini?" Sahut sang Ibu.

"Bukan ide yang buruk. Kita akan pergi ke restaurant favorit Baekhyun."

"Jinjja? Jinjja?"

Kedua orang tua Baekhyun langsung tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

"YEAAAYY Aku sayang kalian" Pekik Baekhyun lalu memeluk kedua orang tuanya itu.

"Nah sekarang Baekkie bersiap"

"Siap kapten!" Namja mungil langsung berlari kearah kamarnya sambil bersenandung karena perasaan bahagianya.

Baekhyun yang keluar pertama kali setelah mengganti bajunya.

"Ibu~ kenapa lama sekaliiii"

"Sebentar sayang. Kau bisa menunggu di mobil, ayah dan ibu akan menyusulmu"

"Arraso!" Baekhyun tersenyum manis lalu keluar dari rumahnya, namja mungil itu melirik kesekeliling rumahnya lalu kedua mata kecilnya menangkap sosok namja yang terlihat baru saja pulang dari supermarket.

"Luhan hyung!"

"AH Baek! Astaga, kau mengangetkanku"

Baekhyun hanya terkekeh kecil lalu menghampiri namja itu.

"Lulu hyung dari mana?"

"Hanya membeli beberapa keperluan dapur. Kau tau kan bagaimana ibuku"

Bocah mungil itu hanya menganggukkan kepalanya lalu terkekeh manis.

"Baekhyunee ingin pergi?"

"Ne hyung. Aku memenangkan lomba bernyanyi hari ini lalu ibu dan ayah akan mengajakku makan di restaurant favoritku hehe"

"Aigooo kau menang lagi? Chukkae~. Tapi hyung tidak memiliki hadiah apapun untukmu"

"Gwencahana hyung"

"Baekhyunee? Ah kau bersama Luhan"

"Annyeonghaseyo bibi byun" Namja itu menundukkan sedikit kepalanya kearah ibu Baekhyun.

"Ayo sayang, ayahmu sudah menunggu"

"Ne, bye bye lulu hyung" Baekhyun langsung berlari kearah mobilnya meninggalkan Luhan dan ibunya.

"Kau ingin bergabung Luhan?"

"Tidak bi, aku harus membantu ibuku. Jika tidak, dia akan cerewet sepanjang malam"

"Haha baiklah. Kami pergi dulu ne"

Luhan menganggukkan kepalanya sebelum ibu Baekhyun pergi menemui suami dan anaknya itu. Setelah mobil keluarga byun menghilang dari penglihatannya kedua mata namja itu seperti melihat ada mobil lain yang mengikuti mobil yang dinaiki tetangganya tersebut.

"Ah sepertinya hanya firasatku saja" Lalu Luhan masuk kedalam rumahnya.

.

.

.

"Ibu, Baekhyun ingin ice cream strawberry jumbo dengan topping strawberry yang banyaaakk~" Yeoja barupaya itu menolehkan kepalanya kebelakang melihat putra mungilnya yang masih tersenyum dengan lebar.

"Baiklah, tapi Baekhyun harus mencium ibu terlebih dahulu"

"Eiiii~ ayah juga mau"

Baekhyun tertawa kecil lalu bergantian mencium pipi kedua orang tuanya itu.

Keluarga kecil itu terus tertawa selama perjalanan menuju restaurant tersebut. Baekhyun sesekali bernyanyi sambil menggerakkan tubuhnya dengan riang sedangkan ibu dan ayahnya hanya tertawa melihat tingkah anak laki-lakinya itu. Mereka terlihat sangat bahagia sebelum…

Tuan Byun melirik kaca spion mobilnya dan menemukan seseorang yang mengikuti mereka. Namja parubaya itu melirik istrinya dan sepertinya nyonya Byun menangkap maksud suaminya itu.

"Baekhyun"

"Ne?"

"kemari sayang"

"Wae~? Baekhyun disini saja. Baekhyun sudah besar ibuuu"

"Sayang.."

Bocah mungil itu lalu berpindah kedepan tepat di pangkuan ibunya.

"Ada apa bu? Kenapa Baekhyun harus duduk disini?"

"Baekhyun.. sayang dengarkan ibu" Bocah mungil itu mengerjapkan matanya menatap mata indah ibunya itu "Apapun yang terjadi ingatlah jika ayah dan ibu sangat menyayangimu"

"Aku tau. Baekhyun juga sangaaatt menyayangi ayah dan ibu"

"Kami tau sayang, jadi Baekhyun jangan nakal ya atau ibu dan ayah akan marah"

Baekhyun menatap wajah ayah–yang hanya diam– dan ibunya secara bergantian lalu tersenyum dengan manis.

"Baekhyun tidak akan nakal. Baekhyun kan selalu jadi anak baik"

"Itu baru putra kesayangan ibu"

"Tentu saja"

"Kami menyayangimu uri Baekhyunee"

Nyonya byun memeluk putranya erat, Baekhyun yang awalnya bingung akhirnya membalas pelukan ibunya itu tapi sedetik kemudian terdengar suara hantaman kuat di sertai dengan mobil yang berguling kesisi jalan lalu..

.

.

.

"Baek.. Baekhyun?" Chanyeol melambaikan tangan nya didepan wajah Baekhyun yang sedang melamun.

"Huh?"

"Kau kenapa melamun?"

"Ah, tidak."

Baekhyun memalingkan wajahnya kedepan, menghindari tatapan Chanyeol padanya. Dia kembali teringat masa lalu nya yang sangat kelam. Dia tidak akan menangis, dia tidak boleh menangis lagi.

Namja mungil itu beranjak dari kursinya, tak lupa membawa tasnya juga dan pergi meninggalkan Chanyeol yang kini hanya memandanginya dengan pandangan bingung. Namja tinggi itu akhirnya memutuskan untuk menyusul kemana Baekhyun pergi.

"Kau mau kemana?" Tanya Chanyeol ketika ia berhasil mensejajarkan dirinya dengan si mungil itu.

"Pulang.."

"Tapi ini belum jam pulang, Baek."

Baekhyun tak menjawab, ia terus saja melangkahkan kaki nya tanpa peduli dengan semua ucapan Chanyeol. Begitupun dengan namja tinggi itu, ia terus saja mengikuti Baekhyun dari belakang.

Sedikit menggeram, namja mungil itu menghentikan langkahnya, secara spontan membalikkan tubuhnya ke arah namja tinggi yang sedari tadi mengekorinya.

"Park Chanyeol, berhenti untuk mengganggu hidupku!" Teriak Baekhyun kesal.

"Aku tidak menganggumu." Ucapnnya polos.

Baekhyun memejamkan matanya dan mengepalkan kedua tangannya. "Lalu apa yang kau lakukan sekarang?"

"Aku hanya mengikutimu, apa itu salah?" Chanyeol mengerjapkan matanya dengan polos.

Baekhyun melangkahkan kaki nya ke arah Chanyeol dan namja tinggi itu memundurkan langkahnya ketika melihat Baekhyun yang mendekat ke arahnya.

"Ya! Itu salah, sangat salah. Aku kesal melihatmu yang selalu saja menganggu ku!"

Baekhyun terlalu banyak bicara, pertanda ia sudah mulai kesal dengan tingkah namja tinggi idiot yang selalu saja mengganggunya.

"Eiyy, aku tidak menganggumu, Baek. Kau saja yang merasa seperti itu." Chanyeol terkekeh pelan.

"Berhenti untuk menjadi orang yang idiot, Park Chanyeol! Dan jangan ikuti aku lagi."

Namja manis itu kembali melangkahkan kakinya dengan sedikit santai, ia memasukan tangannya sebelah kanan kedalam saku celana nya. Berjalan menjauh dari Park Chanyeol, seorang namja yang menganggu hidup nya akhir-akhir ini.

Dia menghempaskan tubuhnya di kursi halte di depan sekolahnya, untuk keluar dari gerbang tinggi milik Oushin Highschool, ia meyakinkan Kim Ahjussi yang kebetulan sedang berjaga saat itu. ia memberikan sedikit alasan, mengenai dirinya yang merasa kelelahan dan sedikit pusing. Kim Ahjussi biasanya tidak akan percaya dengan alasan yang sudah terlalu sering digunakan oleh siswa lainnya untuk bisa pulang. Tapi kali ini berbeda, Baekhyun lah yang meminta izin kepadanya, seorang siswa teladan yang beprestasi dan ia juga lumayan dekat dengan Baekhyun. Dengan mudah Baekhyun mendapat izin dan keluar dari gerbang tersebut dengan sedikit menyeringai.

"Apakah tidak ada seseorang yang datang untuk menawari pekerjaan padaku?" Ujar Baekhyun sambil memperhatikan layar ponselnya.

Namja mungil yang sedari itu hanyut dalam pemikirannya sendiri. Benar apa yang Luhan katakan, dia sudah terlalu lama bermain-main. Sepertinya dia harus segera menyelesaikan semua ini. sudah terlalu lama, dia harus bisa mengungkapkan semuanya.

Namja mungil itu menatap langit biru yang di atasnya lalu tersenyum tipis.

'Aku merindukan kalian'

Karena terlalu hanyut dengan pemikirannya, namja mungil itu tidak menyadari jika seseorang sudah duduk di sebelahnya lalu dengan lancangnya ikut menatap kearah langit seperti yang di lakukan namja mungil itu.

"Kau sedang melihat apa? Apa ada sesuatu yang menarik di atas sana?"

Baekhyun tersentak kecil karena terkejut mendengar suara dari sebelahnya langsung menolehkan kepalanya.

"Kau?!" Pekik Baekhyun.

To be Continue...

Hallo reader-nim...

Maaf banget udah anggurin FF ini selama sebulan lebih T_T Mianheeeeeeeeeee, Saranghaeeeee, Gomawooooooo

Semoga masih ingat dengan FF satu ini hehe, kalau lupa silahkan baca ulang dari awal (?)

Ah iya, aku ada lihat beberapa review dari chap sebelumnya, banyak yang mengira hacker baru yang akan hadir dalam cerita ini Chanyeol, tapi... itu bukan. Kalau kalian bener-bener teliti baca dari awal chap, kalian pasti sudah tau Chanyeol juga bergabung menjadi anggota Cracked jauh sebelum hacker baru ini datang hehehe.

Jadi, terimakasih banyak buat yang sudah menunggu FF ini untuk update, maaf uda bikin kalian nunggu selama ini T_T

And Then, aku mau ucapkan banyak terimakasih buat Maarshmallow (Wattpad) buat beta FF ini dan juga kasih banyak masukan buat aku kkkkkk maaf ngerepotin mulu T_T