Prompt:
I was trying to ask for direction and you accidentally pepper sprayed me 'cause you thought i was your stalker
.
-College AU-
A Gintama Fanfiction by AlcoholicOwl
Gintama by Sorachi Hideaki
Hijikata Toshirou/Sakata Gintoki
.
Hijikata melirik ke segala arah sambil menghembuskan asap rokok yang dihisapnya. Satu tangannya mengeluarkan ponsel dari sakunya, kembali mengecek perintah yang diberikan Kondo padanya.
'Toshi, tolong selidiki lebih lanjut kasus penguntitan di Universitas K. Tolong lakukan dengan baik, kepala asrama di Universitas itu kenalanku,'
Hijikata mendengus. Padahal ia sedang mengambil cuti. Mengapa dirinya yang diberikan perintah merepotkan seperti ini? Kemana perginya Shougo? Ah, jangan ditanya. Bocah itu pasti sedang kabur seenaknya lagi. Konso harus benar-benar mencoba menjadi tegas dan menghukum anak itu.
'Atau sekalian dipecat saja,' pikir Hijikata geram.
Hijikata sebenarnya malas sekali mengerjakan tugas ini. Bukannya Hijikata benci pekerjaannya. Hanya saja, kejadian seperti ini biasanya hanya masalah kecil yang dibesar-besarkan. Umumnya, ujung dari kasus ini adalah mahasiswi yang paranoid. Merasa dirinya terus diikuti dan diawasi. Penyebab utamanya adalah stress dan kesulitan dalam beradaptasi di lingkungan yang baru.
Kaki Hijikata memasuki lingkungan kampus dan menatap berkeliling. Memperkirakan kira-kira dimana ia bisa menemui kepala asrama Universitas ini. Mungkin sebaiknya ia bertanya pada mahasiswa Universitas ini. Mereka pasti bisa membantu.
Seolah dapat membaca pikiran Hijikata, seorang mahasiswa berlalu di sampingnya. Langkah pemuda itu terlihat tegas dan sedikit terburu. Tangannya dimasukkan ke saku depan hoodie baby blue yang ia kenakan. Tas menggantung malas di bahunya. Rambut pemuda itu berwarna perak. Dalam sekali lihat, langsung menarik perhatian Hijikata. Tentu saja. Siapa yang bisa mengabaikan warna unik seperti itu?
Hijikata melangkahkan kakinya mendekati mahasiswa berambut perak tersebut. Tangannya mengulur, siap menangkap bahu si perak.
"Hei, apa kau ta-"
Spray!
"AAAAAAAGHH! WHAT THE F*CK?!"
...dan Hijikata seketika tumbang.
"Rasakan itu!" pekik si perak penuh dendam.
"WHAT THE ACTUAL F*CK?!" seru Hijikata. Kedua tangannya menutup matanya yang baru saja terkena semprotan merica dari si perak. Pedih. Matanya pedih sekali. Sial, kenapa dia harus di semprot dengan semprotan merica begini? Apa salahnya?!
"Ini peringatan! Jangan berani-berani membuntutiku lagi, dasar mesum!" seru si perak entah kenapa terdengar puas.
"HUHHH?! SIAPA YANG KATAKAN MESUM?! DAN SIAPA JUGA YANG PENGUNTIT?!" seru Hijikata menegakkan badannya dan berusaha membuka matanya.
"Tentu saja kau, Oogushi-kun. Siapa lagi? Pokoknya, ini bentuk peringatan dariku. Jangan coba-coba meneropong kamarku! Jangan coba-coba menguntitku dan jangan coba-coba lagi mengintipku mandi! DASAR MESUM SIALAN!" seru si perak keras-keras membuat banyak orang menoleh pada mereka.
"MAKANYA KUBILANG SIAPA YANG KAU SEBUT MESUM?! AKU BUKAN PENGUNTIT! AKU INI POLI-"
Spray!
"GYAAAAAAHHH!"
"Dan berhenti bicara padaku! Aku tidak mau bicara pada penguntit mesum sepertimu!" seru si perak lagi.
Bahu Hijikata bergetar karena kesal. Tanpa membuka matanya, ia merogoh badge polisi miliknya dan melemparkan ke dada si perak.
"Aku polisis, sialan!" seru Hijikata berdiri tegap menghadap si perak meski matanya masih menutup.
Si perak menangkap badge itu dengan sigap. Wajahnya kehilangan warnanya dengan cepat. Pikirannya kalut. Bagaimana ini? Bisa-bisa, ia ditangkap karena telah berani menyerang polisi.
"Uhh..."
"Bagaimana, kau percaya sekarang? Masih berani menyemprotku lagi?" tantang Hijikata.
"Ma-maaf..." cicit si perak lemah.
"Apa? Aku tidak dengar?" ujar Hijikata.
"Kubilang maaf! Tapi! Itu salahmu sendiri tiba-tiba mendekati orang lain dari belakang," ujar si perak berusaha berargumen.
Hijikata menghela napas. Tidak akan ada habisnya bila ia harus beradu mulut dengan mahasiswa ini. Dia harus segera menyelesaikan kasus penguntitan di-
Eh...? Tunggu.
"Hei, kau bilang tadi ada orang yang menguntitmu, 'kan?" tanya Hijikata .
"Ah, iya,"
"Sebenarnya aku sedang dalam tugas menyelediki kasus penguntitan yang terjadi di Universitas ini," jelas Hijikata.
"Ah! Kau yang teman Baa-san?" tanya si perak tiba-tiba antusias.
"Baa-san? Ah, mungkin yang kau maksud atasanku. Dia tidak bisa menangani langsung kasus ini makanya diserahkan padaku," jawab Hijikata.
"Begitu ya? Jadi, kau ke sini untuk membantuku?" tanya si perak dengan suara penuh harap.
Meski mataya menutup karena perih, Hijikata bisa membayangkan bahwa si perak sedang menatap memohon padanya. Hijikata tersenyum menyombong. Selain tugas selesai, bisa kenalan dengan si manis ini. Boleh juga.
"Tentu saja! Serahkan padaku!" ujar Hijikata melipat kedua tangannya di dada menyombong.
Si perak sendiri hanya menatap Hijikata tidak yakin. Kelingkingnya sibuk ia gunakan mengupil dan matanya menatap mati pada Hijikata. Polisi yang bisa dengan mudah kena semprot merica darinya apa sungguh dapat menangkap penguntitnya? Ia jadi tidak yakin.
"Ehh... kalau begitu tolong, ya," ujar si perak dan berbalik meninggalkan Hijikata.
Greb!
Sebuah tangan menahan bahu si perak membuatnya kembali berbalik.
"Uh... bisa antar aku ke toilet? Mataku perih sekali,"
Tuh 'kan, tidak meyakinkan sama sekali.
Tangan si perak meraih tangan Hijikata dna menuntun polisi malang tersebut menuju toilet terdekat. Hijikata secara refelks menggenggam balik tangan si perak.
'Tangannya lembut...'
"Hei," panggil si perak.
"Ah, ya?"
"Berhenti meremas-remas tanganku, dasar mesum," geram si perak.
"A-aku tidak bermaksud!"
"Terserahlah. Ah, ngomong-ngomong aku Gintoki. Sakata Gintoki," ujar si perak tiba-tiba memperkenalkan diri. Bukannya Hijikata mau protes juga sih.
"Hijikata Toushiro," sahut Hijikata balas memperkenalkan dirinya.
Tangan Gintoki kemudian melepaskan tangannya dan mendorong bahunya pelan ke arah wastafel. Gintoki membuka keran dan mengeluarkan sapu tangan miliknya. Ia menyerahkan sapu tangan tersebut pada Hijikata.
"Sisanya bisa kau lakukan sendiri, 'kan? Kutunggu di luar, ya. Setelah ini kita akan pergi menemui Baa-san," ujar Gintoki.
"Ya, terima kasih,"
Hijikata menampung air dengan satu tangannya dan membasuh matanya. Sapu tangan Gintoki ia gunakan untuk menahan air agar tidak meleleh ke bajunya. Ia melakukan hal yang sama berulang kali hingga matanya terasa lebih baik. Hijikata membuka matanya dan menghadap cermin. Matanya merah karena semprotan merica itu. Hijikata menghela napas. Ia jadi terlihat seperti habis menangis saja.
Hijikata baru saja akan melangkah keluar saat tiba-tiba seseorang melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Bahu Hijikata dan bahu orang itu bertabrakan, menyebabkan ponsel yang digenggam orang itu terjatuh.
"Ah, maaf," ujar Hijikata dan berusaha meraih ponsel orang itu untuk dikembalikan.
Tangan Hijikata batal mengulur saat melihat gambar yang ditampilkan layar ponsel orang itu. Belum sempat Hijikata membuka mulutnya, orang tersebut segera menyambar ponselnya dan memasuki salah satu bilik toilet.
Hijikata tidak bergerak dari posisinya. Meski ia belum melihat jelas sosok Gintoki. Ia hapal warna rambut anak itu. Itu jelas-jelas foto Gintoki. Foto Gintoki yang hanya mengenakan celana boxer dari belakang. Melihat dari sudut pengambilan gambar dan beberapa benda yang menghalangi pengambilan gambar sempurna, jelas-jelas foto itu diambil secara diam-diam.
Hijikata segera bangkit dan segera mendekati bilik toilet yang dimasuki pria itu, "BUKA PINTUNYA! INI POLISI!" serunya menggedor pintu bilik dengan keras.
Tidak ada sahutan membuat Hijikata makin naik pitam.
"KAU TIDAK DENGAR? BUKA PINTUNYA, INI POLISI!" seru Hijikata makin keras dan mulai menendang pintu bilik toilet.
Mendengar ribut-ribut dari arah dalam toilet membuat Gintoki penasaran. Ia pun memasuki toilet dan mendapati Hijikata tengah menendangi sebuah bilik toilet.
"Ada apa?" tanyanya pada Hijikata.
Hijikata tidak menoleh dan melanjutkan seruannya, "KAU SUDAH DIPERINGATI. PINTU INI AKAN SAYA DOBRAK,"
Hijikata pun mendobrak pintu bilik tersebut. Ia menabrakkan dirinya pada pintu tersebut, membuat pintu itu terlepas dari engselnya. Menampilkan seorang pria paruh baya gemuk yang tengah melakukan masturbasi sambil melirik sesuatu dari layar ponselnya. Wajah Hijikata segera berubah memandang jijik.
Gintoki yang penasaran ikut melirik. Wajahnya memucat dengan cepat. Pria paruh baya itu tengah masturbasi. Di toilet kampus. Menggunakan fotonya sebagai bahan fantasinya.
Hijikata melangkah maju mendekati sang pria dan mengeluarkan borgolnya. Pria tersebut memberontak, berusaha melarikan diri. Namun, Hijikata segera menghentikan usaha pria itu dengan satu tinjuan di rahang. Borgol terpasang ketat di pergelangan tangan pria itu. Hijikata merebut ponsel pria tersebut dan memeriksa lebih lanjut apa saja yang telah pria itu lakukan.
Foto Gintoki ternyata tidak hanya beberapa. Ada ratusan. Dari berbagai sudut. Melibatkan pakaian maupun tidak. Hijikata memandang jijik pada pria tersebut dan memasukkan ponsel pria itu pada kantung bening untuk menempatkan bukti penyelidikan dari sakunya.
Bruk! Suara orang terjatuh membuat Hijikata menoleh.
Gintoki jatuh terduduk. Satu tangannya menutupi mulutnya dan tubuhnya bergetar. Ia pasti shock mendapati penguntitnya sedang melakukan masturbasi menggunakan foto dirinya yang diambil diam-diam.
Hijikata segera mengeluarkan ponselnya, "Yamazaki, cepat kemari. Aku sudah menangkap penguntit itu. Selebihnya kuserahkan padamu,"
Perlahan Hijikata mendekati Gintoki dan menyentuh bahu si perak lembut. Tubuh Gintoki mengejang kaget.
"Hei... sudah, tidak apa-apa. Aku sudah menahan orang itu," ujar Hijikata lembut berusaha menenangkan Gintoki.
Tubuh Gintoki justru semakin bergetar. Hijikata pun membawa tubuh mahasiswa itu ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap rambut perak Gintoki perlahan.
"Sebaiknya kita keluar dari sini," ujar Hijikata menarik bangkit tubuh Gintoki bersamanya.
Keduanya berjalan keluar toilet tersebut dan duduk di kursi taman terdekat.
"Aku menyesal ini harus terjadi padamu," ujar Hijikata.
"Sudahlah, yang penting makhluk menjijikkan itu sudah tertangkap," ujar Gintoki menyandar lemah pada bahu Hijikata.
Hijikata merasakan wajahnya memanas.
'Ugh... kalau bertingkah manis begini, aku yang jadi tidak bisa menahan diri!'
"Arigatou, omamori-san," bisik Gintoki.
Hijikata tertawa kecil dan meraih bahu Gintoki, membawa mahasiswa itu mendekat padanya.
"Aku hanya dapat ucapan terima kasih?" goda Hijikata.
"Huh? Memangnya kau ingin apa? Aku tidak punya uang," sahut Gintoki jujur.
"Bukan uang. Bagaimana kalau kecupan? Seperti di film-film," goda Hijikata lagi.
Gintoki menyikut Hijikata, "Kecupan itu untuk kencan ke tiga. Kau bahkan belum mengajakku kencan sama sekali, bodoh,"
Hijikata melirik Gintoki yang menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Kalau begitu... Hari Sabtu ini, mau pergi menonton?"
Dan anggukan malu-malu diterima Hijikata sebagai jawaban dari ajakan kencannya. Ahh... si perak ini memang manis sekali seperti anak kucing.
