Prompt

I'm a little drunk and i tried to call my ex back but, i typed your number instead. You had to hear my long emotional rant. OH MY GOD, i'm mortified. But, you left me a really sweet voicemail.

And i think i just fall in love with you.

.

-Modern AU-

A Gintama Fanfiction by AlcoholicOwl

Gintama by Sorachi Hideaki

Hijikata Toshirou/Sakata Gintoki

.

"Gintoki, hei. Kau harus berhenti minum," ujar Zura menarik gelas yang hampir menyentuh bibirku.

"Berisik, Zura! Biarkan aku minum!" sahutku berusaha merebut gelas dari tangan Zura.

Zura memandangku dengan mata yang menyatakan ketidaksetujuan. Aku benci dipandang seperti itu. Mengingatkanku pada Takasugi. Yeah, Takasugi. Si tukang selingkuh brengsek. Sial, mataku mulai panas lagi.

"Gintoki, aku mengerti kau sakit hati dan kecewa. Tapi, bukan berarti kau bisa menenggelamkan dirimu dengan alkohol," bujuk Zura.

"Tentu saja aku bisa! Aku sudah 21 tahun! Aku bisa minum semauku!" bentakku.

Zura menggeleng dan menarikku menuju kamarku. Aku hanya mengikuti langkahnya dengan langkah goyah. Aku tidak melawan lagi. Aku sudah lelah. Aku sakit. Aku ingin menangis. Takasugi brengsek. Brengsek tukang selingkuh.

Zura membaringkanku di ranjang dan meninggalku untuk beristirahat. Aku mencoba memejamkan mataku tapi yang kulihat hanya rekaman ulang Takasugi yang mencium Matako. Mataku memanas dan air mataku kembali mengalir. Brengsek! Dasar brengsek! Sialan! Ini semua salahmu, Takasugi!

Dengan emosi, aku mengambil ponselku, mengetik nomor mantan pacarku itu. Nada tunggu berbunyi beberapa kali sebelum akhirnya teleponku diangkat.

"Ha-"

"DASAR BRENGSEK!" pekikku.

"Bisa-bisanya kau berselingkuh dengan Matako! Beraninya kau terang-terangan mencium Matako di depanku?! A-aku pikir kita baik-baik saja... kenapa kau tiba-tba melakukan ini, Takasugi? Apa salahku?" lirihku terisak. Ini pasti pengaruh alkohol.

"..."

"KENAPA KAU DIAM SAJA, BRENGSEK! Dasar Sial... SIALAN! Harusnya... harusnya aku tidak mempercayaimu saat kau berkata bahwa aku ini menarik di matamu. Harusnya aku tidak mendengarkan semua pujianmu tentang rambutku yang keriting natural ini. Seharusnya... seharusnya aku mengatakan tidak saat kau mengajakku kencan. Apa... apa saat itu hanya sebuah candaan? Hanya karena tantangan teman-temanmu itu?! KAU MEMPERMAINKAN KELEMAHAN DAN PERASAANKU?!" aku berteriak, aku menangis. Aku tidak bisa berhenti. Aku sakit.

"Kenapa kau membuangku begitu saja, Takasugi? Apa aku sudah tidak menarik lagi bagimu? Apa aku sudah tidak berarti apa-apa untukmu?"

"..."

"Heh, ahahahaha! Kau pasti tertawa di ujung sana, 'kan? Apa kau menaruhku pada loud speaker? Membiarkanku mempermalukan diriku di depanmu? Di depan teman-temanmu?"

"..."

"Halo, semua! Ini Gintoki. Ya, Gintoki yang siang tadi baru saja hancur hatinya dan masih merangkak pada kaki yang terhormat Takasugi Shinsuke. Memintanya untuk berbelas kasih dan kembali padaku,"

Setelahnya aku menangis. Menangis tersedu. Aku tidak perduli apapun lagi. Aku hanya ingin bahagia. Kenapa... rasanya kebahagiaan terus menjauh dariku? Apa kesalahanku?

"Hiks... ka-katakan sesuatu... kumohon... apapun... Takasugi..." isakku memohon. Aku tidak perduli apabila ia mengejekku ataupun menertawakanku. Aku hanya ingin-

"Uhm... hey?"

OH MY GOD. Itu bukan suara Takasugi.

Segera aku mengecek nomor yang kupanggil.

Shit. Itu bukan nomor Takasugi.

Aku segera menutup panggilanku. Wajahku memerah. Kali ini bukan karena menangis ataupun alkohol tapi karena malu. Bisa-bisanya aku menelepon orang asing dan bicara tentang perasaanku? Ukh... memalukan sekali.

Ponselku bergetar. Nomor yang barusan kupanggil menelepon balik. Aku mengabaikannya. Terlalu malu untuk meminta maaf. Namun, sepertinya orang itu tidak menyerah. Ia meninggalkan sebuah pesan suara.

Aku ingin menghapusnya dan menganggap semua hal tadi hanya mimpi. Namun, entah kenapa pesan suara itu begitu menarik perhatianku. Mungkin... aku bisa mendengarkannya sedikit?

"Hey, uh... maaf tidak mengatakan sejak awal kalau aku bukan mantan brengsekmu"

Aku tertawa kecil mendengarnya. Kau menyebut Takasugi dengan mantan brengsek. Mungkin aku bisa mendengarkan semua pesan suaramu.

"Aku juga tidak bisa memutuskan sambungan begitu saja karena... kupikir kau butuh didengarkan."

Eh?

"Uhh, aku tidak ingin menyampaikan simpati palsu dan mengatakan bahwa aku menyesal kau mengalami hal itu. Aku sendiri tidak tahu rasanya karena aku tidak pernah mengalami hal seperti itu."

Straight forward sekali?

"Tapi, entah kenapa aku merasa marah sekali. Bu-bukan marah padamu. Maksudkku, aku marah pada mantanmu itu. Ukh, maksudku... kau terdengar sangat serius dengan hubunganmu dengan mantanmu itu. Kau menyerahkan seluruh dirimu padanya. Kau terdengar sangat mencintainya. Dan... mendengar dia melakukan hal brengsek seperti berselingkuh di belakangmu setelah ia membuatmu sangat mencintainya itu... sangat kejam,"

Mataku kembali memanas. Suaranya terdengar tulus. Dan terlebih, ia marah untukku. Ia marah karena aku diperlakukan semena-mena. Dirinya, yang hanya orang asing.

"I want to knock some sense into him, seriously. Aku memang tidak mengenalmu tapi, meski kau adalah seorang berandal, seorang playboy, seorang womanizer, atau apapun yang terdengar brengsek... mantanmu itu... harusnya bisa melihat betapa tulus perasaanmu padanya itu lewat matamu. Dan aku yakin saat semua hal sial ini terjadi semua perasaanmu yang hancur tergambar di matamu,"

Suaranya menjadi lirih seolah ia sungguh tulus mengatakan semuanya.

"Uh, okay –sepertinya tidak banyak yang tersisa banyak waktu untuk voicemail ini. Intinya, kau tidak salah dalam apapun. Kau tidak salah untuk jatuh cinta. Orang yang memanfaatkan cintamu itu yang salah. Jangan merendahkan dirimu sendiri. Biarkan mereka menemukan kenyataan yang sesungguhnya. Dan hey, kau terdengar mabuk. Sebaiknya kau banyak istirahat dan jangan lupa untuk meminum banyak air. Uh, okay. So... good night?"

Pesan suara itu berakhir dan entah sejak kapan aku merasa lebih baik. Aku tidak lagi merasakan sesak. Entah sejak kapan pula terbentuk senyuman kecil di bibirku. Tanpa bisa kutahan, jemariku mengirimkan pesan untukmu.

'can i talk to you again?'

Dan tak lama sebuah pesan sampai padaku.

'Sure. Whenever you want it,'

Dan setelahnya aku tertidur pulas dengan senyuman di bibirku. Sepertinya... aku jatuh cinta pada suaramu dan... ketulusanmu.