Prompt:

Person A drops their wallet at a store. Person B sees and is too awkward to try to tell person A so they try sliding it back into person A back pocket (accidental butt touching).

Person A: Sakata Gintoki

Person B: Hijikata Toushiro

.

-Modern AU-

A Gintama Fanfiction by AlcoholicOwl

Gintama by Sorachi Hideaki

Hijikata Toushiro/Sakata Gintoki

.

Hijikata tidak bermaksud menguntit! Sungguh! Tubuhnya dengan seenaknya bergerak sendiri. Awalnya ia hanya tertarik pada warna rambut laki-laki itu. Warnanya perak. Unik. Apalagi matanya. Warnanya merah, seperti batu Ruby. Cantik.

Hijikata hanya penasaran. Apa itu yang disebut albino? Apakah kasus albino pada manusia sama seperti pada kelinci? Menyebabkan iris mereka merah, sesuai warna darah mereka.

Hijikata boleh beralasan. Tapi, gerak-geriknya berkata lain di mata para pengunjung supermarket di malam itu. Lihat saja, kini Hijikata tengah berusaha bersembunyi di balik rak berbagai selai sambil terus memperhatikan laki-laki berambut perak itu.

'Ah, ekspresinya imut,'

Bibir laki-laki perak itu mengerucut begitu melirik label harga daging di tangannya. Laki-laki itu merogoh saku belakang celananya. Mengeluarkan dompet dan mengecek berapa banyak uang di sana. Wajah itu kemudian menjadi cerah tiba-tiba. Sepertinya laki-laki itu memiliki cukup uang untuk membeli daging tadi.

Buru-buru, laki-laki itu memasukkan daging tersebut ke keranjang belanjanya. Dompet ia jejalkan asal ke dalam saku celananya dan terjatuh. Laki-laki itu kemudian berjalan menuju arah kasir. Sepertinya tidak sadar dompetnya terjatuh.

Hijikata perlahan keluar dari tempat persembunyiannya dan memungut dompet laki-laki bersurai perak tadi. Ia membuka dompet itu dan menemukan kartu identitas milik laki-laki itu.

"Sakata... Gintoki, ya?" gummam Hijikata tersenyum menatap foto di kartu identitas milik Gintoki.

Hijikata mengangkat wajahnya, berniat mengembalikan dompet milik laki-laki albino itu.

"Mama, kakak itu sejak tadi memperhatikan kakak berambut putih," ujar seorang anak membuat Hijikata membeku di tempatnya.

Jangan bilang anak ini...

"Hush! Jangan ditunjuk. Itu namanya stalking, sayang. Jangan ditiru, ya!" ujar Ibu dari anak itu dan menarik anaknya menjauh dari Hijikata.

Hijikata rasanya mau menangis saja saat mata si Ibu memandang galak padanya. Menyalahkan Hijikata karena anaknya harus belajar hal-hal seperti itu di umur yang begitu belia.

Hijikata berusaha mengabaikan ucapan dan pandangan Ibu tadi dan berjalan mendekati Gintoki yang tengah mengantre di kasir. Hijikata baru akan membuka mulutnya dan memanggil Gintoki saat ia teringat kesalahpahaman dari Ibu tadi. Bisa jadi Gintoki juga akan menyangka dirinya penguntit. Tidak bisa dibiarkan terjadi. Mungkin sebaiknya ia tidak melakukan kontak dengan Gintoki.

Membulatkan keputusan, Hijikata memutuskan untuk mengembalikan dompet Gintoki dengan menyelipkan kembali dompet itu ke saku belakang celana Gintoki. Perlahan, Hijikata mendekat dan berusaha menyelipkan dompet itu kembali. Namun, hal itu bukan hal yang mudah mengingat celana yang dikenakan Gintoki cukup ketat.

'Enak dipandang tapi menyusahkan,' gerutu Hijikata dalam batin.

Hijikata baru akan berhasil menyelipkan dompet tersebut saat tiba-tiba Gintoki melangkan ke depan. Menyebabkan dompet itu terjatuh dari tangan Hijikata. Tangan Hijikata sendiri pun tanpa sengaja menyentuh bokong Gintoki.

'Kenyal,' pikir Hijikata tanpa sadar.

"Kyah!" pekik Gintoki seperti perempuan.

Mendengar pekikan Gintoki, Hijikata segera menjauh.

Gintoki berbalik. Wajahnya memerah antara marah dan malu.

"Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau menyentuh bokong ku?! Kau orang mesum, ya?!" seru Gintoki menunjuk-nujuk wajah Hijikata.

Hijikata yang kaget dituduh orang mesum oleh Gintoki segera menggeleng keras.

"Bukan! Bukan! Aku bukan orang mesum! Kau salah paham!" ujarnya berusaha meyakinkan.

"Lalu kenapa kau menyentuh bokongku?!" tuntut Gintoki.

"Bukan begitu! Aku hanya berusaha mengembalikan dompetmu saja, Sakata-san!" sahut Hijikata berusaha menjelaskan keadaan.

"Kalau begitu kau tidak perlu meremas bokongku, 'kan?! Dan kenapa kau bisa tahu namaku?! Kau penguntit, ya!" ujar Gintoki menatap Hijikata curiga.

"Sudah kukatakan, aku hanya berusaha mengembalikan dompetmu!" seru Hijikata lelah dituduh yang tidak-tidak.

"Kelakuanmu mencurigakan! Polisi! Siapapun, tolong panggil polisi ke sini!" seru Gintoki pada siapapun yang mendengarnya.

"Aku polisi," sahut Hijikata menghela napas.

"Ap-! Dunia ini tamat! Polisi kini melakukan pelecehan seksual pada penduduk sipil!" teriak Gintoki heboh.

Hijikata mendengus kesal. Ia menarik keranjang belanja Gintoki, meletakkannya di lantai seraya memungut dompet Gintoki. Ia kemudian menarik tangan Gintoki bersamanya keluar dari supermarket itu.

"Lepaskan! Aku mau dibawa kemana?! Aku mau diapakan?! Tolong! Ada orang mesum!" seru Gintoki membuat Hijikata menghentikan langkahnya.

"Sudah kukatakan aku tidak ada niat melakukan hal mesum padamu!" seru Hijikata balik.

"Tidak ada niat-! Tidak sopan! Kau menghina tubuh seksi Gin-san!" pekik Gintoki penuh dendam.

"Hah?"

"Dengar, ya! Tidak ada yang tidak tergoda tubuh seksi Gin-san ini! Kau pasti berbohong, Oogushi-kun," ujar Gintoki menunjuk-nunjuk wajah Hijikata.

"Sudah kukatakan aku tidak ada niat mesum padamu. Dan siapa yang kau panggil Oogushi-kun? Namaku Hijikata Toushiro," sahut Hijikata memperkenalkan diri tanpa diminta.

"Heh! Itu hanya karena kau belum melihat keindahan tubuh Gin-san seutuhnya saja. Kalau sudah melihatnya, kau pasti akan tergila-gila pada Gin-san!" ujar Gintoki melanjutkan argumennya.

"Makanya kubilang aku tidak-" Hijikata menghentikan ucapannya sendiri.

"Jadi kau percaya diri bisa membuatku tergila-gila dengan tubuhmu itu?" ujar Hijikata mengulang ucapannya.

"Eh? Ah, ya! Tentu saja!" sahut Gintoki berbangga.

"Kalau begitu, coba kita buktikan saja," ujar Hijikata dan menarik pergelangan Gintoki bersamanya.

"Ah! Hey! Kita mau kemana?" tanya Gintoki dengan pasrah mengikuti Hijikata.

"Love hotel,"

"APA?!"

"Kita buktikan aku yang tergila-gila padamu atau justru kau yang jadi tergila-gila padaku," ujar Hijikata dengan senyuman setan.

"Tu-tunggu! Ja-jangan terburu-buru begitu. Ne, Oogushi-kun?" bujuk Gintoki.

Hijikata tak membalas dan dengan santainya melakukan check in masih dengan satu tangan menahan Gintoki.

"Oogushi-kun, kau bercanda, 'kan?" tanya Gintoki namun diabaikan Hijikata.

"Kamar Anda ada di lantai 14, tuan. Silahkan ini kuncinya,"

Hijikata menerima kunci kamar hotel dan menarik Gintoki menuju lift bersamanya.

"Ayo kita bersenang-senang malam ini, sayang," ujar Hijikata seraya menarik tubuh Gintoki mendekat padanya.

"Ehhh?! Tunggu! Tunggu! Oogushi-kun...?!"