Chapter 4
Hutan Konoha
Disebuah hutan terlihat Lettu Pein sedang memberikan tugas terhadap tujuh orang tentara
"ketujuh jendral itu akan melancarkan perebutan kekuasaan atas pemimpin besar revolusi, panglima tertinggi, presiden seumur hidup Presiden Hashirama Senju. Sebagai prajurit kita berkewajiban menggagalkan rencana tidak benar itu"tegas Lettu Pein "untuk sasaran Jendral Hiruzen dipimpin oleh Pelda Jirobo" "SIAP" "sasaran Letjen Minato dipimpin oleh Peltu Kimimaro" "SIAP" "pasukan yang harus menculik Mayjen Kizashi dipimpin oleh Serka Sakon" "SIAP" "untuk Mayjen Fugaku dipimpin oleh Serka Juugo" "SIAP" "pasukan dengan sasaran Mayjen Ibiki oleh Serma Iruka" "SIAP" "untuk sasaran Brigjen Hiashi dipimpin oleh Serda Kotetsu" "SIAP" "pasukan yang harus menculik Brigjen Shikaku dipimpin oleh Serma Kankuro" "SIAP" "ada pertanyaan?"Tanya Pein. Namun semua diam paham dan mengerti apa yang sudah disampaikan oleh Lettu Pein.
Gedung Pernas Tempat para Komandan Operasi Militer
"saya kira langsung cek dan temui panglima, laksanakan"tegas Obito kepada seorang prajurit "siap laksanakan"ucap prajurit tersebut meninggalkan Obito.
"kita harap segala sesuatunya berjalan sesuai rencana"ucap Kakuzu
"Kakuzu sepertinya kau kelihatan ragu-ragu"balas Hanzo
"saya punya naluri militer yang kuat"ucap Kakuzu berdiri "ada satu hal dasar yang kita lupakan dalam menyusun rencana ini"tambah Kakuzu. Mendengar hal tersebut Obito yang sedang tidak tertarik dengan pembicaraan menjadi tertarik sehingga ia menatap Kakuzu begitu pula Hanzo dan Kabuto "kita selalu memperkirakan sesuatunya berdasarkan angka-angka dan perkiraan kita dan tak sekalipun kita mencoba memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain"tambah Kakuzu
"organisasi kita adalah suatu budaya fikiran"ucap Hanzo "dan fikiran yang konsekuen segala sesuatu sudah diperhitungkan masak-masak"tambah Hanzo
"dan kita bukan hanya organisasi terbesar di Konoha melainkan di Negara lainnya"tambah lagi Kabuto
Sedangkan Obito sedang mondar-mandir lalu melihat jam tangannya menunjukan jam 03.04
"sekarang jam 03.04"ucap Pein kepada anak buahnya yang sudah ditugaskan tadi
"pasukan siap" "pasukan naik semua" terlihat pasukan penculikan mulai menaiki kendaraan mereka seperti truk, bis, lalu jeep dan mereka mulai bergerak melaksanakan tugas yang sudah mereka dapat dan banyak dari mereka prajurit yang berpangkat dibawah Lettu Pein tidak tahu bahwa gerakan ini didalangi oleh Akatsuki, yang mereka tahu bahwa gerakan ini murni pengambil kekuasaan presiden oleh Dewan Jendral.
Gedung Pernas
Disebuah ruangan terlihat Obito dan Kakuzu sedang mondar mandir sedangkan Hanzo dan Kabuto sedang duduk dan ekspresi Obito terlihat ketakutan, tegang bahkan ragu.
"pagi-pagi nanti jangan sampai telat Kakuzu, untuk menghadap Presiden sebagai wakil pimpinan ditemani oleh Letnan Kolonel Toneri, Kolonel Laut Setsuna dan Ajun Komisaris Besar Polisi Indra"ucap Hanzo
"saya kira itu bukan soal yang terlalu penting, sebelum itu saya sedang memikirkan Operasi yang dipimpin oleh Letnan Satu Pein"balas Kakuzu
"jangan risau saat ini sejarah sedang bergerak"ucap Hanzo.
Datanglah Kolonel Hidan keruangan tersebut
"bagaimana Kolonel Hidan lancar?"Tanya Hanzo
"ya mudah-mudahan lancar"jawab Hidan
"saya harap ibukota malam ini tidurnya pulas"ucap Kakuzu
"optimis saja kita bergerak tepat saat maling-maling bergerak"ucap Hanzo
Pusat Ibukota Menara Daun Tersembunyi
BRUMMM……. CKIIIIIITTTTTT
Disebuah jalan berhentilah sebuah truk yang membawa 2 kompi pasukan mulai turun dari truk tersebut dan mulai menduduki daerah tersebut tidak hanya itu mereka juga mulai memasuki kantor Radio Konoha dan Gedung Telekomunikasi tidak hanya menduduki tapi juga menjaga tempat tersebut sedangkan Kapten Shisui sudah datang dan mulai mengawasi pekerjaan anak buahnya didampingi oleh Kapten Shino.
Sedangkan jalan menuju kediaman Jendral Hiruzen sudah dilewati oleh truk penculik dan menuju kediamannya begitu sampai pasukan tersebut mulai turun dari truk dan memasuki kediaman Hiruzen.
"jangan bergerak, angkat tangan"tegas seorang prajurit dan menodongkan senjata kepada empat prajurit penjaga kediaman Hiruzen pasukan tersebut menyebar mengelilingi kediaman Hiruzen bahkan sampai belakang rumah.
CEKLEK
Seorang prajurit masuk kedalam rumah disusul beberapa prajurit dibelakangnya dan mulai mencari kamar Hiruzen namun mereka tidak menemukannya. Sedangkan dikamar Hiruzen Biwako terbangun karena suara berisik sepatu disusul Hiruzen yang duduk di Kasur dan Biwako mengintip dari pintu "Anbu" bisik Biwako kepada Hiruzen "Anbu?"heran Hiruzen lalu bangun mengintip dari pintu.
DOR DOR DOR
Biwako mendengar suara tembakan terlihat kaget, bangunlah Shion dan langsung tiarap dibawah dilindungi Hiruzen "KELUAR JENDRAL"teriak dari luar kamar dan menggedor-gedor pintu sedangkan Biwako langsung menahan pintu saat terdengar teriakan dari luar agar tentara tersebut tidak bisa masuk "CEPAT JENDRAL BUKA PINTUNYA"teriak dari luar "pergilah ke ruangan sebelah dan panjatlah dinding samping rumah"bisik Biwako diiringi suara tembakan lalu datanglah ibu dari Hiruzen "ayo kamu lari sekarang" "Anko gendong Shion" Biwako menyusul Hiruzen saat Anko mau menyusul tapi pintu sedikit terbuka dan tentara tersebut kembali menembak ke pintu tersebut sehingga pelurunya mengenai Shion "Shion kena"bisik Anko lalu menyerahkan Shion kepada Biwako
Sedangkan diluar banyak sekali tentara berkeliaran dirumah Hiruzen "cepat pergi"bisik Biwako sambil menggendong Shion, Hiruzen terlihat bimbang tampak dari wajahnya mulai menangis dan menunjukkan air matanya lalu Hiruzen berjalan dan memanjat dinding sebelah rumah saat sudah diatas Hiruzen menatap Shion yang sudah tertembak dipunggungnya dan menitikkan air mata DOR karena kaget mendengar tembakan Hiruzen jatuh ke rumah samping dan membuat kakinya cedera.
"paman Asuma"sedih Shizune melihat Asuma pergi membawa senapan.
"kalian tunggu saja disini"tegas Asuma keluar kamar.
"jangan bergerak" seketika Asuma berhenti "jatuhkan senjata" "mana Hiruzen?" "saya ajudan Hiruzen"tegas Asuma menjatuhkan senjata. Karena prajurit tersebut hanya mendengar kata Hiruzen akhirnya mereka membawanya.
Sedangkan diruang tamu Biwako mencoba menelfon, empat prajurit mendatanginya "jangan bergerak, telfon sudah diputus"Biwako langsung menaruh gagang telfon "mana Hiruzen?" "Hiruzen sudang tiga hari diluar kota, kalian kesini hanya untuk membunuh anak saya"ucap Biwako marah pakainnya kini sudah berwarna merah karena darah dari Shion lalu prajurit tersebut pergi meninggalkannya.
Bersambung…
jangan Lupa like and reviews.
